Ketika membaca artikel 'Moralitas Gie dan Wahib' buah rasa Ismatillah A Nua'ad pada rubrik Tifa, Media Indonesia Minggu 17 Juli 2005, saya sedapat mungkin menjauhkan hasrat emosional.Namun, niatan awal, libido intelektual, kalah mencuat dalam diri. Atas dasar itu, akhirnya saya menyadari posisi diri sesungguhnya. Saya, mahluk biologis. Mengikut pendekatan Darwinisme, atau setidaknya masih dalam kerangka 'ke-purba-an' abad pencerahan, saya menempatkan emosi-biologis di peringkat perdana. Dalam tataran bahasa akademik, bolehlah disebut: subjektif. Bukan dalam paham 'suka atau tidak suka'--mungkin dengan menggunakan idiom asing bahasa Inggris lebih mumpuni merasuk nalar, yaitu like or dislike--tapi berpijak gumaman tanya, "Kok gitu sih judulnya?"
Menurut saya, pijakan yang diletakkan Ismatillah A Nua'ad--adalah baik untuk mendekatnya unsur kejiwaan antara saya dengan penulis artikel, saya menggunakan sebutan Is saja yang merujuk pada panggilan akrab penulis yang muncul di alam imajinasi saya--adalah interpretasi. Pemaknaan ini muncul dari tulisan Is yang menjabarkan barang bukti yang menjadi dasar perilaku termaktub di atas.
Sesuai dengan judul artikel, Is mengambil bahan baku dari tiga sumber, dua berkaitan dengan sosok Soe Hok Gie, sisanya tentu saja merujuk Ahmad Wahib. Sumber itu adalah buku 'Catatan Seorang Demonstran' yang merupakan kumpulan tulisan Soe Hok Gie yang merasa cukup dengan sapaan Soe, dilafalkan menjadi Su, serupa dengan pembunyian nama dua mantan Presiden Indonesia, Soekarno dan Soeharto; atau Gie yang dalam aksara bunyi menjadi Gi; serta referen dari film Gie karya sutradara Riri Riza yang telah ditayangkan perdana pada 14 Juli lalu. Untuk Wahib, Is mengambil satu bahan, yakni sekumpulan tulisan Ahmad Wahib yang bertajuk 'Pergolakan Pemikiran Islam'.
Berbicara mengenai pembacaan, tepatnya pembandingan dua sosok tersebut, terasa Is telah melakukan tindak ketidakadilan. Setidaknya, itulah yang terjadi dalam nalar saya. Is mengelola tafsir Gie berdasarkan satu buku dan satu film, sedangkan Wahib bersandar pada satu buku. Mengikut nalar awam penarikan kesimpulan--tentunya bisa saja isi nalar saya diperdebatkan, tetapi apakah dan apalah saya, seorang reaktif yang mencoba mengenal istilah 'kritis'--menghasilkan kesimpulan: Gie lebih mendalam, Wahib ala kadar. Dan, sudah seharusnya demikian. Pasalnya, Is mendapat bahan yang lebih untuk mengenal Gie. (Walaupun begitu, masih ada peluang untuk menyatakan bahwa bahan baku penulisan itu sebenarnya satu-satu untuk kedua sosok. Bukankah film Gie merupakan adaptasi dari buku 'Catatan Seorang Demonstran'?)
Nalar Is bermula dari penanyangan perdana film Gie. Ia mengulas, dalam tutur saya yang mencoba menafsir paragraph dua tulisan Is, mahasiswa--saya membayangkan Is sebagai perempuan--jurusan Teologi dan Filsafat ini mencoba menjadi kritikus film. Tapi, sayang! Is jatuh pada pendekatan dangkal. Is hanya mampu menerangkan, dalam paragraph dua, film Gie mengalami pembesaran belaka. Dan, Is tidak menyebut secara detil apa sebab ia berkesimpulan film Gie hanya mengalami pembesaran. Tidak ada satupun fakta dari film yang diangkat untuk memperkuat kesimpulan ataupun penyelasan Is atas film tersebut.
Pembacaan atas tujuh paragraph selanjutnya semakin menegaskan alam pikir saya, Is ceroboh. Is seakan-akan menujukan tulisannya kepada pembaca berkeahlian tingkat purna. Bukan bagi saya! Jika memang demikian, maka saya berhak untuk mendapat sebutan tak cerdas, pandir hingga ke tingkat dungu paling dasar. Saya tidak mengerti batasan Is ketika mengangkat permasalah moral, atau moralitas. Memang, di paragraph dua pun Is melabelkan kunci pembantu menguak apa itu moralitas. Sayang, tidak jelas. Moralitas dimaklumi dalam pengertian kritis dan idealis. Pengertian seperti itu membaca saya mencoba memahami idiom moralitas dalam kerangka prinsip dan intelektualitas, tepatnya hasrat mempertanyakan segala sesuatu.
Hebat! Is mampu menuliskan rangkaian penalaran yang bermula dari isi buku, lalu mencerna moralitas keduanya. Pendekatan yang Is gunakanlah yang membuat saya tertarik. Apalagi Is hanya mempergunakan isi buku 'Catatan Harian Seorang Demonstran' dan 'Pergulatan Pemikiran Islam'. Akhirnya, Is menggunakan semacam teori-lah, yang menurut saya memampukan Is menafsir apa yang terjadi secara kejiwaan-emosional dua tokoh 'abstrak' Gie dan Wahib. Maaf, bila saya labelkan kata 'abstrak' untuk dua tokoh yang sudah memberi inspirasi pencerahan rohani bagi Is. Kata itu merupakan pertanggungjawaban saya atas tingkah laku saya, malas membaca.
(Ya, saya belum membaca kedua buku itu, Is. Tapi, aku pun punya pembelaan. Apakah tulisan Is harus dibaca oleh orang yang telah membaca dua buku tersebut? Jika memang jawabnya ya, apakah hasrat keingintahuan saya harus terbendung atas dasar alasan tersebut? Jika memang jawabnya ya, buat apa tulisan itu ditampilkan sampai memenuhi setengah halaman? Dan, inilah muara akhir dari pertanyaan di awal paragraph awal penyebab saya berkomentar. 'Kok gitu sih judulnya?' 'Buat apa judul begitu?')
Saya tak tahan berlama-lama lagi Is. Ingin rasanya kuhisap sebatang kretek dari pada menulis panjang lebar ulasan yang tak berakar ini. (Maaf, bila terasa emosional. Saya akan mencoba mengurangi kadar, mengambil jarak.)
Sang penulis, Is, memahami pemikiran, sikap dan tindakan dua tokoh itu sebagai citraan moralitas. Ada sifat kritis, bermuara untuk mempertanyakan status kekuasaan. Entah bersifat politis atau wewenang kiai. Ada kisah romantis, percintaan ala platonik hingga aristotelian. Ada kisah kesendirian, pencarian jati diri. Akhirnya, tentu saja: kematian!
Namun Is terlupa satu hal. Ketika Is membawakan judul 'Moralitas Gie dan Wahib', premis hipotesis yang beranak di benak berada antara ukuran lebih besar, lebih kecil, atau sama. Hasilnya, secara implisit termaktub dalam tulisan Is. Ada kecenderungan 'mempersamakan' moralitas antara Gie dan Wahib. (Bagi saya, hal itu tidak bermasalah. Bukankah saya tidak mengetahui apa yang Is maksud dengan moralitas. Saya hanya menggunakan pijakan nalar logis berpikir, serta intuisi. Lebihnya didominasi perasaan. Mohon dicatat!)
Melihat kecenderungan Is 'mempersamakan' hal itu, saya terpikat menggunakan 'penalaran' Is untuk menelaah maksud artikel tersebut. Dasarnya, tiap tulisan memiliki tujuan. Ada tingkat kepentingan. Artikel (yang entah keberapa karya rasa Is ini, saya tidak mengetahui pasti) bersimpul di titik moralitas Gie dan Wahib, 'sama'. Sampai di sini, hanya satu pertanyaan nyeleneh yang mencuat loncat. 'So what gethouhw lho..?'
Tulisan Is hanya berperan sebagai pemberita bahwa ada satu tokoh lagi yang sebenarnya setara dengan Gie yang beragama Katolik, yaitu Ahmad Wahib. Dan, muncul pula bayang tulisan paragraph dua, kutipan mendekati lengkap: '....Hanya saja, dalam banyak hal, film ini memiliki titik lemah yang mendasar. Gie mengalami pembesaran informasi yang tak seimbang dengan produk yang dilahirkan dari film Gie. Tak ada yang terlalu istimewa.' Dan, atas dasar inilah saya menyebut artikel Is adalah buah rasa dalam kalimat pertama. Ujar-ujar lepas ini pun juga merupakan buah rasa saya juga. Saya menyebutnya dengan subjektifitas; emosional.
Dalam perasaan saya, Is tidak seharusnya memperbandingkan hal itu, apalagi bila ingin menyatakan Wahib sebangun dengan Gie. Bagi saya, Is mengagungkan Wahib, hingga berusaha memopulerkan tokoh tersebut. Saya memang kagum dengan kerajinan Is membaca buku. Tapi, bila Is sudah membaca buku tersebut--entah 'Catatan Harian Seorang Demonstran' dan 'Pergolakan Pemikiran Islam'--apakah Is sudah dapat menjawab satu hal yang kerap muncul di kalangan aktivis, popularitas! Apakah Wahib ataupun Gie butuh popularitas? Jika tidak, maka hanya satu alasan mengapa Is menulis artikel ini; atau Riri Riza membesut film seharga miliaran bertajuk 'Gie', yaitu: emosional! Riri baca buku 'Catatan Harian Demonstran', lalu tertarik me-film-kan; Is nonton film 'Gie' lalu tertarik memperbandingkan. Keduanya berdasar masalah: 'like or dislike' saja. Dan, ujar-ujar lepas tak beraturan ini lebih baik anda lupakan. Sumpah, ga' menarik. Tabik!!!
CATATAN: Menyimak tulisan Is, saya tersadar. Pesan tersirat yang mungkin saja ingin ia sampaikan. Ada sosok lain selain Gie. Itu benar. Tapi, yang menjadi beban tak lain: cara penyampaian! Sosok Gie, tidak butuh popularitas. Gie menulis, bukan dalam tataran ingin terkenal, tapi merubah keadaan. Begitupun dengan Wahib. Semua tindak tanduk menulis itu merupakan bagian dari upaya penegasan diri sebagai homo sapiens beradab! Posisi pembaca lebih kepada mengetahui, mengenal hingga memahami. Muara akhir hasrat emosional ini hanyalah sebuah bentuk pemaparan betapa popularitas ditentukan oleh media. Nyaris seraut dengan lirik lagu 'American Idiot', sejudul dengan tajuk album terbaru Green Day.
Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
seperti alif beta dan eureka. mawar melati dan segala yang mabuk cuaca. seperti kulkas, semua indah dan selamat membahasa.
Harian De' Mello
Untuk tulisan selanjutnya, anda akan banyak berjumpa dengan saya. Tentulah, santun tata krama masih mengingatkan saya untuk memperkenal diri. Dari dalam sanubari, saya berharap memperoleh perkenaan batin dari anda, agar kita menjadi lebih dapat saling mengenal, kalau pun tidak baku-tahu atau saling mengetahui.
Namun, sebelum melangkah teramat jauh, layaklah kita mengambil jeda untuk berjaga. Saya harap, anda jangan menaruh keterpesonaan berlebih pada saya; mungkin karena tutur kalimat ranum tulisan saya terasa bersahaja. Saya hanya bisa berpesan, "Dugaan anda memiliki kemungkinan meleset, entah dekat atau tidak, itu perihal ujian waktu." Jadi, tidak perlu ada kecewa bersimaharajalela didalam nurani anda, bila kenyataan bertentangan dengan harapan. Maaf, mungkin saya orang yang terlalu berperasaan. Tapi, sekali lagi, saya hanya mengingat santun tata krama pergaulan yang diajarkan oleh ibu dan bapak sewaktu saya berumur belum kepala dua.
Rasanya, sedikit misteri yang anda imajikan tentang siapa saya lumayan menguak. Setidaknya, testimoni ini berasal dari nurani; tentulah tanpa bermaksud melebih-lebihkan, baik menambah ataupun mengurang. Jika anda masih berpikiran cerdas, atau dalam bahasa yang agak kasar menaruh syak-wasangka curiga, saya rela. Lagi pula, itu adalah hak anda, sebab saya hanya berposisi untuk memperkenalkan diri, tegasnya mencoba meyakinkan anda.
Baiklah, langsung saja saya berpindah dari bayangan abstrak menjadi nyata. Utamanya, nama. Orang tua saya memberi nama, Arif. Hanya empat huruf itu saja. Jadi, bila ada yang bertanya, "Lengkapnya?", saya hanya bisa membalas jawab dengan mengernyitkan alis mata, menyusul pelafalan jelas dan kental-perlahan, "A..rif.."
Berbicara umur, saya sudah menginjak usia 27 tahun. Bisa terbilang tua, bisa terbilang muda, bisa terbilang belum apa-apa. Yang pasti, saya sudah beristri, anak dua, masih kecil-kecil pula. Yang pertama baru berumur tiga tahun, adiknya sudah menginjak enam bulan lima hari. Ibunya, istri saya, Ismi. Hanya terpaut tiga tahun dengan saya. Ismi lebih muda.
Kami tinggal mengontrak. Sebulan harganya mencapai dua ratus lima puluh ribu rupiah. Rumah kecil untuk ukuran orang seperti saya yang berpenghasilan tidak tetap. Biaya penghidupan empat lambung saya peroleh dari pekerjaan mengojek. Sesekali, bantuan kiriman datang dari mertua, ibu dan ayah Ismi. Sampai disini, saya malu. Saya tidak ingin melanjutkan apapun perihal keluarga saya, meski sekali waktu pasti akan tersua sedikit ulasan keluarga di harian mendatang.
Ya, begitulah pengantar singkat perkenalan saya. Jika sekali saat kita bertemu, anda bisa menegur saya dengan sapaan, "Rif..." saja. Atau "Arif," pun bolehlah. Kalau perlu, saya beritahu penamaan saya yang lain. Dikalangan teman yang serupa mengojek, saya mendapat tambahan pengenal. Mereka biasa menyebut nama saya, tepatnya mengubah nama saya dari Arif yang hanya empat aksara menjadi enam abjad plus satu tanda baca, De' Mello.
Jika anda bertanya mengapa, saya harus mengutarakan malu untuk perdana. Betapa tidak, cerita dibalik pelabelan itu memalukan. Tapi, setidaknya agar kita saling mengenal, baku-tahu, ada baiknya saya berkisah. Nama itu terberi karena dua hal. Pertama, ini biasa, tak perlulah saya malu cerita. Sebabnya, perawakan saya menyerupai orang yang berasal dari timur Indonesia. Berkulit lumayan gelap, serta rahang yang bergaris keras. Padahal, saya asli keturunan Jawa Tengah, kota Semarang. Alasan kedua, hal memualkan, akibatnya memalukan. Mereka, teman-teman sesama pengojeg, memirip-miripkan saya dengan salah seorang pemeran film porno yang pernah mereka tonton di VCD. Sayangnya, pemeran yang mereka saksikan itu bukan saya. Kalau benar itu saya, tidak masalah. Tapi, ada sudahlah, ini hanya masalah tampang dan perawakan, tanpa memperhitungkan tabiat. Bagi saya tak memiliki arti lebih. Saya paham, ini hanya kecelakaan sejarah sajalah. Profesilah yang menentukan prestasi, sisi positif yang saya ambil, lalu menyebutnya sebagai hikmah. Bagaimana tidak, pelanggan ojeg saya malah bertambah dan akrab dengan nama De' Mello daripada Arif. Menurut mereka, nama itu asyik, keren dan entah mengapa ada yang bilang bersahabat. Apakah memang, saya sendiri masih kebingungan. Tapi, apa pun itu, saya hanya menjalankan diri sebagai mahluk yang bertabiat, berusaha untuk tidak mengecewakan karena santun tata krama. Sedikit emosional, meskipun saya berlatar tak sempurna, tabiat masih bisa dipertontonkan. Minimal tidak menyerupai mereka, maksud saya bukan teman-teman sesama pengojeg di perempatan jalan di dekat jembatan Sungai Belang, tapi mereka yang tentunya anda pun paham. Selalu bersuara demikian baik, padahal, lagi-lagi anda sudah paham. Terakhir, saya harap anda paham siapa itu De' Mello dan harian De' Mello.
Namun, sebelum melangkah teramat jauh, layaklah kita mengambil jeda untuk berjaga. Saya harap, anda jangan menaruh keterpesonaan berlebih pada saya; mungkin karena tutur kalimat ranum tulisan saya terasa bersahaja. Saya hanya bisa berpesan, "Dugaan anda memiliki kemungkinan meleset, entah dekat atau tidak, itu perihal ujian waktu." Jadi, tidak perlu ada kecewa bersimaharajalela didalam nurani anda, bila kenyataan bertentangan dengan harapan. Maaf, mungkin saya orang yang terlalu berperasaan. Tapi, sekali lagi, saya hanya mengingat santun tata krama pergaulan yang diajarkan oleh ibu dan bapak sewaktu saya berumur belum kepala dua.
Rasanya, sedikit misteri yang anda imajikan tentang siapa saya lumayan menguak. Setidaknya, testimoni ini berasal dari nurani; tentulah tanpa bermaksud melebih-lebihkan, baik menambah ataupun mengurang. Jika anda masih berpikiran cerdas, atau dalam bahasa yang agak kasar menaruh syak-wasangka curiga, saya rela. Lagi pula, itu adalah hak anda, sebab saya hanya berposisi untuk memperkenalkan diri, tegasnya mencoba meyakinkan anda.
Baiklah, langsung saja saya berpindah dari bayangan abstrak menjadi nyata. Utamanya, nama. Orang tua saya memberi nama, Arif. Hanya empat huruf itu saja. Jadi, bila ada yang bertanya, "Lengkapnya?", saya hanya bisa membalas jawab dengan mengernyitkan alis mata, menyusul pelafalan jelas dan kental-perlahan, "A..rif.."
Berbicara umur, saya sudah menginjak usia 27 tahun. Bisa terbilang tua, bisa terbilang muda, bisa terbilang belum apa-apa. Yang pasti, saya sudah beristri, anak dua, masih kecil-kecil pula. Yang pertama baru berumur tiga tahun, adiknya sudah menginjak enam bulan lima hari. Ibunya, istri saya, Ismi. Hanya terpaut tiga tahun dengan saya. Ismi lebih muda.
Kami tinggal mengontrak. Sebulan harganya mencapai dua ratus lima puluh ribu rupiah. Rumah kecil untuk ukuran orang seperti saya yang berpenghasilan tidak tetap. Biaya penghidupan empat lambung saya peroleh dari pekerjaan mengojek. Sesekali, bantuan kiriman datang dari mertua, ibu dan ayah Ismi. Sampai disini, saya malu. Saya tidak ingin melanjutkan apapun perihal keluarga saya, meski sekali waktu pasti akan tersua sedikit ulasan keluarga di harian mendatang.
Ya, begitulah pengantar singkat perkenalan saya. Jika sekali saat kita bertemu, anda bisa menegur saya dengan sapaan, "Rif..." saja. Atau "Arif," pun bolehlah. Kalau perlu, saya beritahu penamaan saya yang lain. Dikalangan teman yang serupa mengojek, saya mendapat tambahan pengenal. Mereka biasa menyebut nama saya, tepatnya mengubah nama saya dari Arif yang hanya empat aksara menjadi enam abjad plus satu tanda baca, De' Mello.
Jika anda bertanya mengapa, saya harus mengutarakan malu untuk perdana. Betapa tidak, cerita dibalik pelabelan itu memalukan. Tapi, setidaknya agar kita saling mengenal, baku-tahu, ada baiknya saya berkisah. Nama itu terberi karena dua hal. Pertama, ini biasa, tak perlulah saya malu cerita. Sebabnya, perawakan saya menyerupai orang yang berasal dari timur Indonesia. Berkulit lumayan gelap, serta rahang yang bergaris keras. Padahal, saya asli keturunan Jawa Tengah, kota Semarang. Alasan kedua, hal memualkan, akibatnya memalukan. Mereka, teman-teman sesama pengojeg, memirip-miripkan saya dengan salah seorang pemeran film porno yang pernah mereka tonton di VCD. Sayangnya, pemeran yang mereka saksikan itu bukan saya. Kalau benar itu saya, tidak masalah. Tapi, ada sudahlah, ini hanya masalah tampang dan perawakan, tanpa memperhitungkan tabiat. Bagi saya tak memiliki arti lebih. Saya paham, ini hanya kecelakaan sejarah sajalah. Profesilah yang menentukan prestasi, sisi positif yang saya ambil, lalu menyebutnya sebagai hikmah. Bagaimana tidak, pelanggan ojeg saya malah bertambah dan akrab dengan nama De' Mello daripada Arif. Menurut mereka, nama itu asyik, keren dan entah mengapa ada yang bilang bersahabat. Apakah memang, saya sendiri masih kebingungan. Tapi, apa pun itu, saya hanya menjalankan diri sebagai mahluk yang bertabiat, berusaha untuk tidak mengecewakan karena santun tata krama. Sedikit emosional, meskipun saya berlatar tak sempurna, tabiat masih bisa dipertontonkan. Minimal tidak menyerupai mereka, maksud saya bukan teman-teman sesama pengojeg di perempatan jalan di dekat jembatan Sungai Belang, tapi mereka yang tentunya anda pun paham. Selalu bersuara demikian baik, padahal, lagi-lagi anda sudah paham. Terakhir, saya harap anda paham siapa itu De' Mello dan harian De' Mello.
A-F-D-O-L
Didalam bus Patas AC berbiaya Rp3.500, jurusan Cikarang-Senen, saya membaca artikel 'Ulasan Bahasa'. Judulnya, sungguh sangat menyedihkan. 'Bahasa Gaul dalam Judul Berita'. Penulisnya, Abdul Gaffar Ruskhan. Entah siapa dia, saya tidak mengetahui, apalagi mengenal; meski dibawah tulisan namanya terdapat pengejawantahan tentang siapa dia, 'Pusat Bahasa'. Mungkin begitu juga pemikiran dia tentang siapa saya. Terakhir, ulasan itu ada di harian MEDIA INDONESIA edisi Sabtu, 9 Juli 2005.
Sampai sejauh ini, saya mohon maaf, karena hanya mengganggu pikiran anda dengan kalimat kedua paragraph pertama. Apa sebab, saya belum jelaskan. Tapi, bila anda berkenan, silahkanlah anda membaca dahulu artikel tersebut. Saya takut, jangan-jangan tulisan ini malah memengaruhi anda untuk berpikiran dan berperasaan seperti saya.
Lebih baik saya tidak melanjutkan apologia di paragraph dua. Eloknya, langsung saja saya jelaskan apa yang terkandung dalam barisan kata 'sungguh sangat menyedihkan', sebagai penutup prolog tulisan ini.
***
Ah, sekarang saya sudah menghisap sebatang rokok, pertanda ekstase bermula. 'Bahasa Gaul dalam Judul Berita', layak mendapat predikat tambahan dalam gaya tutur kosmopolitan--kosmopolit mengacu pada dampak globalisasi pada yang terjadi di Indonesia, menggunakan bahasa Remy Sylado, bahasa tinutuan, gado-gado, campur aduk-- So what gitu lho?
Mengikut alur pikiran manusia bernama Abdul yang tertuang dalam artikel sebanyak delapan paragraph itu, bermuara pada analisa empat judul berita yang tidak jelas berasal dari mana. (Bah, bagaimana ini harian MEDIA INDONESIA, artikel tanpa kejelasan fakta kok bisa-bisanya lolos seleksi. Ini menambah keyakinan saya, bahwa Abdul setara dengan ide yang ia tuliskan; simpulan akhir saya tentang siapa dia akan tersirat di akhir sajadah kata yang tak panjang ini.) Idealnya, penulis yang memiliki nama tak sedap didengar ini--coba anda lafalkan perlahan dan rasakan, apakah nama itu nikmat dicerna akal (?); untuk mudahnya, bandingkan nama Abdul Gaffar Ruskhan dengan nama kekasih anda, misalnya Sri Dewi Larasati atau Dewa Brata Kusuma--menyebutkan dari mana ia kutip judul tersebut. Fungsinya hanya satu. Membuktikan bahwa judul tersebut memang nyata dan ada. (Bayangkan saya sampai menambalkan dua kata yang dalam tataran pemikiran filsafat memiliki pengertian berbeda dan tentunya didahului dengan perdebatan panjang. Kalau saya tak salah, 'nyata' itu berdampingan dengan asal kata dalam bahasa Inggris, real; sedangkan 'ada', masih dalam tataran 'kalau saya tidak salah', be. Tapi, sebelum tertinggal, semua ini hanya gagahan belaka, biar anda mengira saya ini luar biasa, cerdas dan berwawasan luas. Padahal, imajinasi anda itu memiliki keterbatasan menilai bila tidak bertemu dengan objeknya secara langsung, yakni saya. Sebagai apologia berikutnya, izinkan saya mengganti sebutan orang pertama tunggal saya menjadi aku. Alasannya, agar 'saya' ini tampil lebih agresif, lebih menerabas, tentunya dengan bumbu yang tak kalah lezat: lebih emosional.)
Jadi, tanpa adanya pustaka yang menyebutkan dari mana asal judul tersebut, aku berpikir Abdul Gaffar Ruskhan--bagaimana kalau aku mengganti sebutan panjang penulis artikel dahsyat, dalam pengertian mampu menghajarkan aku untuk menuliskan tanggapan, dengan nama Afdol, akronim Abdul Gaffar Ruskhan plus akhiran yang baru saja aku temukan, yakni dol. Dan, rasanya nama itu akan jadi lebih lezat tampil di mata--hanya menulis fiksi. Empat judul berita yang ia tempelkan dalam artikelnya hanyalah karangan imaji semata, dan--mengutip pelabelan yang kerap terjadi di sebuah sinetron, umumnya diawal sajian--'kalau pun benar, itu hanya sebuah kebetulan semata'. Itulah salah satu kesedihan ku.
Tapi, aku tidak percaya Afdol melakukan hal itu. Ia mengorbankan emblem 'Pusat Bahasa' yang merekat di boks nama penulis artikel. Ya, terpaksa harus bersusah-susahlah aku untuk mencari fakta. Dan, tentunya sebagai wujud penghormatan ku atas jerih susah nalar Afdol mengembangkan ide hingga menjadi tulisan, lalu artikel koran yang pastinya dia sudah menerima imbalan setimpal, uang.
Dengan mengerahkan segenap kemampuan, khususnya ingatan ketika aku berjalan-jalan di lapak loper koran, entah di Terminal Kampung Melayu, Teminal Blok M, Terminal Senen, juga melihat loper-loper koran di dalam bus Mayasari Bakti jurusan Kampung Melayu-Pulogadung, atau yang berada di perempatan serta pertigaan lampu merah sepanjang Jalan Matraman hingga Salemba, aku menemukan fakta itu. Fakta dalam pengertian keserupaan gaya berbahasa, antara kutipan Afdol dengan judul berita yang kubaca. Akupun mengetahui, media apa yang dia maksud. Tanpa berniat memojokkan media tersebut, aku akan memberitahu anda, sebab itu adalah fakta. (Mungkin ini kebijaksanaan Afdol, untuk tidak mengatakan kedunguan atau kecerobohan dirinya yang aku pikir merupakan seorang ilmuwan, memperhitungkan aspek tertentu yang berdampak menghilangkan fakta. Bayangkan, aku ulang sekali lagi, menghilangkan fakta! Padahal, faktalah yang menjadikan Afdol berbicara. Atau, bisa saja artikel itu diperiksa kembali susunan kata, dan sebagainya oleh redaksi harian berlogo kepala elang.)
Faktanya, judul-judul serupa tampil di harian semisal, Lampu Merah, Rakyat Merdeka dan Non-Stop. Sebagai contoh, harian Rakyat Merdeka terbitan Sabtu, 9 Juli 2005, memuat berita utama bertajuk Berani Bener Hamid Loloskan Koruptor, atau berita lainnya, Janjinya, Tanto Nyikat 3 Mafioso (Aku memutuskan untuk memilih yang pertama sebagai sampel perbandingan dengan ulasan Afdol). Atau harian Lampu Merah, edisi Sabtu 9 Juli 2005, memuat ... berita Duduk Ngongkong Ngobrol Ama Dua Cowok 'CD-nya' Keliatan Warnanya Putih Gambarnya Bunga-bunga Merah Jambu Diperkosa. (Jika anda merevisi 'Ngongkong' menjadi 'Nongkrong' itu hak anda. Tapi, yang utama jangan menyatakan aku salah ketik. Itu saja. Sebab, aku pun berpikir demikian; namun aku tetap memilih menggunakan kata itu atas dua dasar. Pertama, itu fakta. Kedua, keanehan kata yang mengajak pikiran untuk berpikir apa makna kata tersebut diluar penulisan yang benar, seakan menyimpan misteri.) Dan, untuk contoh berita dari harian Non-Stop, aku tak punya. Bisa saja sidang pembaca tidak memercayaiku kerna itu, tapi tak apalah, itu hak anda. Tapi, ingat jangan menyuruhku untuk menghentikan kegiatan yang berlandaskan emosi ini; meski batin ini bersuara: "Semoga Puan dan Tuan masih sedia membaca hingga tuntas semua?"
Sebelum tertinggal, aku ingin mengingatkan diri tentang satu hal. Yakni perihal judul yang terambil dari harian sampel Lampu Merah. Sebenarnya, dalam hati kecil aku bertanya, sedikit menambahkan, bila anda teliti tentu mengerti mengapa aku tidak membubuhkan kata 'judul' pada isian diantara potongan kalimat 'memuat ... berita'. Alasannya, sederhana. Aku tidak merasa apa yang tertulis ada judul. Kalaupun itu judul, kenapa sangat panjang? Memang tidak ada penjelasan mengenai batasan karakter judul, meski bentuk baku untuk media massa, kerana permasalahan ruang menghasilkan kesimpulan bahwa judul harus singkat, lugas dan tentunya tepat dengan isi yang hendak diutarakan. Sedikit menyimpang, Afdol mengartikan judul dalam teminologi yang sangat susah aku mengerti. Ia menyebut judul sebagai 'roh' berita. (Sedikit mengumbar kedunguan--entahlah kalau ada khalayak yang menyebutku cerdas, bahkan berwawasan luas--aku menyebut 'roh' berita berada didalam berita keseluruhan; bukan didalam judul. Ia adalah makna dari berita itu sendiri, bukan gambaran yang kita peroleh dari sebuah judul. Ingat saja adagium yang berbunyi, 'Don't judge a book from the cover'. Sayangnya, Afdol yang berasal dari 'Pusar Bahasa' ini mereduksi 'roh' hingga terbatas pada judul berita saja. Maka dengan membaca harian-surat kabar-koran-newspapper, muncullah 'roh'-'roh' bergentayangan yang menghajar mata anda, juga nalar anda.) Beralaskan alasan perasaan, maka aku pun menyoreng berita dari Lampu Merah sebagai sampel contoh judul berita, meski ia menggoda, soalnya artikel Afdol erat bertemali hal itu.
Jadi, aku cuma punya dua judul berita yang menjadi fakta, 'Berani Bener Hamid Loloskan Koruptor' dan 'Janjinya, Tanto Nyikat 3 Mafioso'. Kalau mengikuti alur berpikir Afdol, niscaya berita ini akan berubah penampilan. Untuk judul pertama, masalah, ada dua. Pertama, kata 'bener' bukan merupakan bahasa baku Indonesia, tapi bahasa 'gaul' Indonesia, aku lebih mendekatkan hal itu dengan bahasa 'aktual' Indonesia. (Mohon, pembaca yang mengerti bahasa baku membantu saya, aktual atau aktuil yang merupakan bentuk baku. Lalu kabari saya. Mengenai soal mengubah kata ganti orang pertama tunggal dari 'aku' menjadi 'saya', mudah-mudahan anda mengerti kenapa sebab itu memang mudah.) Hingga, kata 'bener' harus direvitalisasi menjadi 'benar'. Perubahan sementara menjadi 'Berani Benar Hamid Loloskan Koruptor'. Kedua, judul berita itu memojokkan subjek kalimat judul berita itu, Hamid--entah siapa ini tidak penting. Padahal, menurut Afdol judul adalah 'roh', maka sebenarnya siapa itu Hamid sudah seharusnya juga diketahui secara pasti, bukan menebak-nebak seperti yang anda lakukan saat ini, mengasosiasikan Hamid dengan sosok pejabat menteri di Indonesia. Padahal, itu tidak bisa. Sebab kita hanya mengambil judul berita, bukan berita. Dan, mengapa pula Afdol harus berpikiran itu memojokkan. Atas dasar apa ia mampu menyimpulkan? Bagaimana kalau ternyata fakta yang benar adalah pernyataan judul berita tersebut? Menyiasati hal ini, Afdol berlindung dibalik bahasan santun dan tidak, berbicara kesan pembaca. Dalam kalimat itu, si Hamid terkesan melakukan tindakan negatif. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan, bertujuan memositifkan kesan itu; tanpa bermaksud merubah fakta memojokkanlah sesungguhnya niatan revisi, hanya memperhalus. Jadinya, sebagai umpama 'Hamid Campur Tangan Meloloskan Koruptor'. Mungkin anda lebih tepat membandingkannya dengan isi tulisan Afdol. Ia mengutip judul berita, entah fiksi atau fakta, mungkin juga gosip yang telah beralih nama menjadi istilah berderajat maha: Infotainment, yakni bertajuk 'Menteri Hatta Nyalahin Masinis' menjadi 'Menteri Hatta: Itu Kelalaian Masinis'. Sekali lagi ini berdasarkan kesan, dan ingat batasannya adalah judul. Dan, lagi pula Afdol dengan tegas menyatakan judul adalah 'roh', berarti sudah termaktub didalamnya isi berita sebenarnya. Padahal, ia hanya menggariskan judul, bahasan dia bukan mengurai berita, mulai dari judul, isi berita yang biasa disebut bentuk tulisan piramida terbalik. (Inilah kesedihan berikut yang kualami. Sudah tidak menyebut fakta dimana berita itu, Afdol malah berani-beraninya mengganti judul berita Menteri Hatta menjadi--berdasarkan pengalamanku menjadi jurnalis selama sembilan bulan--kutipan perkataan Menteri Hatta.) Lebih ironis lagi, bila melihat dari empat contoh yang dibahas, Afdol hanya mendalami tiga contoh saja. Bisa jadi ini merupakan bagian dari kerja redaksi yang mengatur ulang tulisan Afdol. Entahlah, ini hanya dugaanku saja.
Memang, judul berita diatas memberikan masalah bagi perasaanku. Disatu sisi, aku menilai apakah memang itu yang terjadi. Kalau memang itu yang terjadi, fakta sebenarnya, bukan manipulasi pewarta, itu sah-sah saja, tergantung kebijakan redaksi. Perihal kebijakan inilah yang menimbulkan sisi lainnya, yakni aku mencoba memahaminya sebagai gaya penulisan. Adakah yang salah dengan gaya penulisan itu? Merunut pola pikir Afdol, judul tersebut hanya menyalahi tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi, apakah itu menyalahi gaya bahasa Indonesia tanpa menggunakan embel-embel 'baik dan benar', masih tanda tanya besar. Sebab gaya berbahasa itu dinamis sekali. Sekadar umpama, kalau dulu perkataan top di jaman Soekarno adalah Bung, dijaman Soeharto adalah Pak, dijaman Abdurrahman Wahid adalah Gus, dijaman Megawati Soekarnoputri adalah Mbak dan dijaman Susilo Bambang Yudhoyono adalah akronim SBY atau JK. Bukankah ini pertanda dinamika gaya bahasa, antara kultur feodal dan faham kesetaraan?
Lebih parah lagi, mengapa Afdol tidak menyoroti berbagai spanduk milik Pemerintah DKI Jakarta yang nyata-nyata menulis, 'Nyok Bareng-Bareng Kite Bangun Kote Jakarte', semisal spanduk yang berada di dekat halte Universitas Tarumanegara di Grogol, Jakarta Barat. Bukankah itu lebih tepat. Pasalnya, pemerintahlah yang lebih berkewajiban menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Menggunakan bayangan itu, aku mengerti mengapa Afdol memilih media massa sebagai sampel. Ia mungkin sudah tidak memperdulikan apa yang dilakukan pemerintah, atau ia melihat sisi strategis media massa untuk mencerahkan, mendidik bahkan membangun bangsa. Untuk itu, ia pun ikut andil dalam membangun cara berbahasa yang seragam, tanpa memperdulikan gaya. Inilah kesedihan itu, ketika gaya berbahasa diberangus sistem tata bahasa baku, 'baik dan benar', yang belum diketahui kedahsyatannya; sepengetahuanku belum ada penelitian yang mengulas mendalam soal dampak penggunaan bahasa Indonesia yang 'baik dan benar', bahkan hanya sekadar imaji pun tak terdengar. Apakah dengan menggunakannya, bangsa kita menjadi besar, digdaya? Yang jelas, ide besar penggunaan bahasa Indonesia yang 'baik dan benar' kerap mendapat ganjalan dari seorang munsyi bernama asli Yappi Tambayong.
Inilah kesedihan berikut. Afdol tidak mempelajari hubungan antara bisnis dengan media. Di kepala Afdol kadung ngelotok bahwa media itu wadah pencerahan. Tapi, jaman sudah berubah, Afdol. Kuingatkan, media massa tidak lagi berperan sebagai wadah pencerahan, tapi bisa saja menjadi wadah pembodohan; dan tidak muskil itu dilakukan media massa terhormat. Penyebabnya tentu tidak jauh dari kekuasaan, bisnis utamanya. Apa penjelasan tentang ini tentu dapat disaksikan pada masa terdahulu. Betapa di jaman Pemilu Capres-Cawapres 2004, kenetralan media massa mendapat sentilan hebat. Kenetralan disentil, alhasil keberpihakkan terhadap salah satu calon Capres dan Cawapres. Bahkan, melalui foto pun, seorang ahli komunikasi asal Universitas Indonesia, aku lupa namanya, berujar perbedaan sudut pengambilan gambar ketika deklarasi Koalisi Kebangsaan yang dipelopori Mega-Akbar, menyiratkan keberpihakkan media massa, meskipun ada peluang bersifat bawah sadar, bahkan sama sekali tidak sadar. Walahu allam. Afdol tentunya memahami segi bisnis manajerial dalam perihal penerbitan media massa, yang merupakan masalah tak sepele. Jawabannya pun sederhana. Mengapa Afdol tidak menerbitkan harian-surat kabar-koran untuk memopulerkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ia tidak memiliki modal, mengapa tidak meminjam saja. Atau ia melakukan riset betapa dampak dari penggunaan bahasa yang baik dan benar itu, biar media massa yang tidak mengikuti pedoman menjadi tersadar dan segera mengubah langkah. Bila tidak, segeralah Afdol membuka blog pribadi yang berisi opininya atas berbagai macam hal, utamanya bahasa Indonesia. (Aih, bila saja ia membuka blog, khususnya warga negara Indonesia, tentunya ia harus berpikir ulang, betapa sulitnya--maaf, sekadar perhalusan bentuk kata 'gagal'-nya--membangun budaya berbahasa yang baik dan benar.)
***
Kepedihan ini merupakan yang terakhir. Dibagian permulaan hingga paragraph ketiga, Afdol berbicara masalah kesan dari judul berita berbahasa gaul. Antara santun atau tidak. Hal itu berimbas pada posisi harian-surat kabar-koran, 'berkelas' atau 'murahan'. Standardnya, subjektifitas pembaca. Dan, penilaian ini pun tidak jelas berasal dari mana. Lagi-lagi berbincang fakta. Jangan-jangan hanya ia seorang saja, dugaan kasarku. Soalnya, harian-surat kabar-koran yang bergaya bahasa seperti itu laku, meski aku tidak tahu apakah perusahaannya untung. Minimal, ada yang beli. Dan, hingga sekarang belum gulung tikar, padahal seingat saya, ini sudah memasuki bahkan melewati lima tahun pertama harian-surat kabar-koran sejenis begitu beredar.
Jadi, ada baiknya Afdol tidak usah membawa-bawa kesan pembaca, untuk memersuasi redaksi harian 'nyeleneh' kembali ke rel yang 'baik dan benar' atas dasar perhitungan emosional pembaca yang berwawasan brilian, cerdas bahkan cendekia; singkatnya kelas menengah hingga atas. Ia cukup mengutarakan fenomena yang terjadi, bagaimana menyiasati, tanpa membawa perhitungan bisnis atas dasar kesan pembaca. Sebab, redaksi yang berupaya menerbitkan bukan orang bodoh yang hanya mau membuang uang tanpa memberi keuntungan.
Di akhir tulisan ini, aku hendak menyimpulkan, artikel Afdol seharusnya dikeluarkan dua atau tiga tahun yang lalu. Fenomena yang dia tuliskan bukan terjadi baru-baru ini. Aku sedih. Padahal ia berasal dari Pusat Bahasa, bagaimana tidak responsif membaca keadaan. Memang bisa saja, tulisan ini sudah yang ke- berapa kali. Dan, hanya membuktikan kekurang uletan Afdol menulis, atau lagi-lagi ketidak populeran isu yang ia bawakan, atau dalam bahasa sakit-nyelekit, gagal.
Tapi, bagaimanapun aku kagum dengan keberanian Afdol menyuarakan ide lama. Ia perwujudan orang yang sadar akan pentingnya berbahasa yang baik dan benar. Ia juga jelas-jelas orang yang berperasaan, santun.
Sayangnya, artikel dia terbaca olehku. Dan, kebetulan usai membaca artikel di Sabtu siang, emosiku meradang. "Ini orang maksudnya piye toh?"
Sampai sejauh ini, saya mohon maaf, karena hanya mengganggu pikiran anda dengan kalimat kedua paragraph pertama. Apa sebab, saya belum jelaskan. Tapi, bila anda berkenan, silahkanlah anda membaca dahulu artikel tersebut. Saya takut, jangan-jangan tulisan ini malah memengaruhi anda untuk berpikiran dan berperasaan seperti saya.
Lebih baik saya tidak melanjutkan apologia di paragraph dua. Eloknya, langsung saja saya jelaskan apa yang terkandung dalam barisan kata 'sungguh sangat menyedihkan', sebagai penutup prolog tulisan ini.
***
Ah, sekarang saya sudah menghisap sebatang rokok, pertanda ekstase bermula. 'Bahasa Gaul dalam Judul Berita', layak mendapat predikat tambahan dalam gaya tutur kosmopolitan--kosmopolit mengacu pada dampak globalisasi pada yang terjadi di Indonesia, menggunakan bahasa Remy Sylado, bahasa tinutuan, gado-gado, campur aduk-- So what gitu lho?
Mengikut alur pikiran manusia bernama Abdul yang tertuang dalam artikel sebanyak delapan paragraph itu, bermuara pada analisa empat judul berita yang tidak jelas berasal dari mana. (Bah, bagaimana ini harian MEDIA INDONESIA, artikel tanpa kejelasan fakta kok bisa-bisanya lolos seleksi. Ini menambah keyakinan saya, bahwa Abdul setara dengan ide yang ia tuliskan; simpulan akhir saya tentang siapa dia akan tersirat di akhir sajadah kata yang tak panjang ini.) Idealnya, penulis yang memiliki nama tak sedap didengar ini--coba anda lafalkan perlahan dan rasakan, apakah nama itu nikmat dicerna akal (?); untuk mudahnya, bandingkan nama Abdul Gaffar Ruskhan dengan nama kekasih anda, misalnya Sri Dewi Larasati atau Dewa Brata Kusuma--menyebutkan dari mana ia kutip judul tersebut. Fungsinya hanya satu. Membuktikan bahwa judul tersebut memang nyata dan ada. (Bayangkan saya sampai menambalkan dua kata yang dalam tataran pemikiran filsafat memiliki pengertian berbeda dan tentunya didahului dengan perdebatan panjang. Kalau saya tak salah, 'nyata' itu berdampingan dengan asal kata dalam bahasa Inggris, real; sedangkan 'ada', masih dalam tataran 'kalau saya tidak salah', be. Tapi, sebelum tertinggal, semua ini hanya gagahan belaka, biar anda mengira saya ini luar biasa, cerdas dan berwawasan luas. Padahal, imajinasi anda itu memiliki keterbatasan menilai bila tidak bertemu dengan objeknya secara langsung, yakni saya. Sebagai apologia berikutnya, izinkan saya mengganti sebutan orang pertama tunggal saya menjadi aku. Alasannya, agar 'saya' ini tampil lebih agresif, lebih menerabas, tentunya dengan bumbu yang tak kalah lezat: lebih emosional.)
Jadi, tanpa adanya pustaka yang menyebutkan dari mana asal judul tersebut, aku berpikir Abdul Gaffar Ruskhan--bagaimana kalau aku mengganti sebutan panjang penulis artikel dahsyat, dalam pengertian mampu menghajarkan aku untuk menuliskan tanggapan, dengan nama Afdol, akronim Abdul Gaffar Ruskhan plus akhiran yang baru saja aku temukan, yakni dol. Dan, rasanya nama itu akan jadi lebih lezat tampil di mata--hanya menulis fiksi. Empat judul berita yang ia tempelkan dalam artikelnya hanyalah karangan imaji semata, dan--mengutip pelabelan yang kerap terjadi di sebuah sinetron, umumnya diawal sajian--'kalau pun benar, itu hanya sebuah kebetulan semata'. Itulah salah satu kesedihan ku.
Tapi, aku tidak percaya Afdol melakukan hal itu. Ia mengorbankan emblem 'Pusat Bahasa' yang merekat di boks nama penulis artikel. Ya, terpaksa harus bersusah-susahlah aku untuk mencari fakta. Dan, tentunya sebagai wujud penghormatan ku atas jerih susah nalar Afdol mengembangkan ide hingga menjadi tulisan, lalu artikel koran yang pastinya dia sudah menerima imbalan setimpal, uang.
Dengan mengerahkan segenap kemampuan, khususnya ingatan ketika aku berjalan-jalan di lapak loper koran, entah di Terminal Kampung Melayu, Teminal Blok M, Terminal Senen, juga melihat loper-loper koran di dalam bus Mayasari Bakti jurusan Kampung Melayu-Pulogadung, atau yang berada di perempatan serta pertigaan lampu merah sepanjang Jalan Matraman hingga Salemba, aku menemukan fakta itu. Fakta dalam pengertian keserupaan gaya berbahasa, antara kutipan Afdol dengan judul berita yang kubaca. Akupun mengetahui, media apa yang dia maksud. Tanpa berniat memojokkan media tersebut, aku akan memberitahu anda, sebab itu adalah fakta. (Mungkin ini kebijaksanaan Afdol, untuk tidak mengatakan kedunguan atau kecerobohan dirinya yang aku pikir merupakan seorang ilmuwan, memperhitungkan aspek tertentu yang berdampak menghilangkan fakta. Bayangkan, aku ulang sekali lagi, menghilangkan fakta! Padahal, faktalah yang menjadikan Afdol berbicara. Atau, bisa saja artikel itu diperiksa kembali susunan kata, dan sebagainya oleh redaksi harian berlogo kepala elang.)
Faktanya, judul-judul serupa tampil di harian semisal, Lampu Merah, Rakyat Merdeka dan Non-Stop. Sebagai contoh, harian Rakyat Merdeka terbitan Sabtu, 9 Juli 2005, memuat berita utama bertajuk Berani Bener Hamid Loloskan Koruptor, atau berita lainnya, Janjinya, Tanto Nyikat 3 Mafioso (Aku memutuskan untuk memilih yang pertama sebagai sampel perbandingan dengan ulasan Afdol). Atau harian Lampu Merah, edisi Sabtu 9 Juli 2005, memuat ... berita Duduk Ngongkong Ngobrol Ama Dua Cowok 'CD-nya' Keliatan Warnanya Putih Gambarnya Bunga-bunga Merah Jambu Diperkosa. (Jika anda merevisi 'Ngongkong' menjadi 'Nongkrong' itu hak anda. Tapi, yang utama jangan menyatakan aku salah ketik. Itu saja. Sebab, aku pun berpikir demikian; namun aku tetap memilih menggunakan kata itu atas dua dasar. Pertama, itu fakta. Kedua, keanehan kata yang mengajak pikiran untuk berpikir apa makna kata tersebut diluar penulisan yang benar, seakan menyimpan misteri.) Dan, untuk contoh berita dari harian Non-Stop, aku tak punya. Bisa saja sidang pembaca tidak memercayaiku kerna itu, tapi tak apalah, itu hak anda. Tapi, ingat jangan menyuruhku untuk menghentikan kegiatan yang berlandaskan emosi ini; meski batin ini bersuara: "Semoga Puan dan Tuan masih sedia membaca hingga tuntas semua?"
Sebelum tertinggal, aku ingin mengingatkan diri tentang satu hal. Yakni perihal judul yang terambil dari harian sampel Lampu Merah. Sebenarnya, dalam hati kecil aku bertanya, sedikit menambahkan, bila anda teliti tentu mengerti mengapa aku tidak membubuhkan kata 'judul' pada isian diantara potongan kalimat 'memuat ... berita'. Alasannya, sederhana. Aku tidak merasa apa yang tertulis ada judul. Kalaupun itu judul, kenapa sangat panjang? Memang tidak ada penjelasan mengenai batasan karakter judul, meski bentuk baku untuk media massa, kerana permasalahan ruang menghasilkan kesimpulan bahwa judul harus singkat, lugas dan tentunya tepat dengan isi yang hendak diutarakan. Sedikit menyimpang, Afdol mengartikan judul dalam teminologi yang sangat susah aku mengerti. Ia menyebut judul sebagai 'roh' berita. (Sedikit mengumbar kedunguan--entahlah kalau ada khalayak yang menyebutku cerdas, bahkan berwawasan luas--aku menyebut 'roh' berita berada didalam berita keseluruhan; bukan didalam judul. Ia adalah makna dari berita itu sendiri, bukan gambaran yang kita peroleh dari sebuah judul. Ingat saja adagium yang berbunyi, 'Don't judge a book from the cover'. Sayangnya, Afdol yang berasal dari 'Pusar Bahasa' ini mereduksi 'roh' hingga terbatas pada judul berita saja. Maka dengan membaca harian-surat kabar-koran-newspapper, muncullah 'roh'-'roh' bergentayangan yang menghajar mata anda, juga nalar anda.) Beralaskan alasan perasaan, maka aku pun menyoreng berita dari Lampu Merah sebagai sampel contoh judul berita, meski ia menggoda, soalnya artikel Afdol erat bertemali hal itu.
Jadi, aku cuma punya dua judul berita yang menjadi fakta, 'Berani Bener Hamid Loloskan Koruptor' dan 'Janjinya, Tanto Nyikat 3 Mafioso'. Kalau mengikuti alur berpikir Afdol, niscaya berita ini akan berubah penampilan. Untuk judul pertama, masalah, ada dua. Pertama, kata 'bener' bukan merupakan bahasa baku Indonesia, tapi bahasa 'gaul' Indonesia, aku lebih mendekatkan hal itu dengan bahasa 'aktual' Indonesia. (Mohon, pembaca yang mengerti bahasa baku membantu saya, aktual atau aktuil yang merupakan bentuk baku. Lalu kabari saya. Mengenai soal mengubah kata ganti orang pertama tunggal dari 'aku' menjadi 'saya', mudah-mudahan anda mengerti kenapa sebab itu memang mudah.) Hingga, kata 'bener' harus direvitalisasi menjadi 'benar'. Perubahan sementara menjadi 'Berani Benar Hamid Loloskan Koruptor'. Kedua, judul berita itu memojokkan subjek kalimat judul berita itu, Hamid--entah siapa ini tidak penting. Padahal, menurut Afdol judul adalah 'roh', maka sebenarnya siapa itu Hamid sudah seharusnya juga diketahui secara pasti, bukan menebak-nebak seperti yang anda lakukan saat ini, mengasosiasikan Hamid dengan sosok pejabat menteri di Indonesia. Padahal, itu tidak bisa. Sebab kita hanya mengambil judul berita, bukan berita. Dan, mengapa pula Afdol harus berpikiran itu memojokkan. Atas dasar apa ia mampu menyimpulkan? Bagaimana kalau ternyata fakta yang benar adalah pernyataan judul berita tersebut? Menyiasati hal ini, Afdol berlindung dibalik bahasan santun dan tidak, berbicara kesan pembaca. Dalam kalimat itu, si Hamid terkesan melakukan tindakan negatif. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan, bertujuan memositifkan kesan itu; tanpa bermaksud merubah fakta memojokkanlah sesungguhnya niatan revisi, hanya memperhalus. Jadinya, sebagai umpama 'Hamid Campur Tangan Meloloskan Koruptor'. Mungkin anda lebih tepat membandingkannya dengan isi tulisan Afdol. Ia mengutip judul berita, entah fiksi atau fakta, mungkin juga gosip yang telah beralih nama menjadi istilah berderajat maha: Infotainment, yakni bertajuk 'Menteri Hatta Nyalahin Masinis' menjadi 'Menteri Hatta: Itu Kelalaian Masinis'. Sekali lagi ini berdasarkan kesan, dan ingat batasannya adalah judul. Dan, lagi pula Afdol dengan tegas menyatakan judul adalah 'roh', berarti sudah termaktub didalamnya isi berita sebenarnya. Padahal, ia hanya menggariskan judul, bahasan dia bukan mengurai berita, mulai dari judul, isi berita yang biasa disebut bentuk tulisan piramida terbalik. (Inilah kesedihan berikut yang kualami. Sudah tidak menyebut fakta dimana berita itu, Afdol malah berani-beraninya mengganti judul berita Menteri Hatta menjadi--berdasarkan pengalamanku menjadi jurnalis selama sembilan bulan--kutipan perkataan Menteri Hatta.) Lebih ironis lagi, bila melihat dari empat contoh yang dibahas, Afdol hanya mendalami tiga contoh saja. Bisa jadi ini merupakan bagian dari kerja redaksi yang mengatur ulang tulisan Afdol. Entahlah, ini hanya dugaanku saja.
Memang, judul berita diatas memberikan masalah bagi perasaanku. Disatu sisi, aku menilai apakah memang itu yang terjadi. Kalau memang itu yang terjadi, fakta sebenarnya, bukan manipulasi pewarta, itu sah-sah saja, tergantung kebijakan redaksi. Perihal kebijakan inilah yang menimbulkan sisi lainnya, yakni aku mencoba memahaminya sebagai gaya penulisan. Adakah yang salah dengan gaya penulisan itu? Merunut pola pikir Afdol, judul tersebut hanya menyalahi tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi, apakah itu menyalahi gaya bahasa Indonesia tanpa menggunakan embel-embel 'baik dan benar', masih tanda tanya besar. Sebab gaya berbahasa itu dinamis sekali. Sekadar umpama, kalau dulu perkataan top di jaman Soekarno adalah Bung, dijaman Soeharto adalah Pak, dijaman Abdurrahman Wahid adalah Gus, dijaman Megawati Soekarnoputri adalah Mbak dan dijaman Susilo Bambang Yudhoyono adalah akronim SBY atau JK. Bukankah ini pertanda dinamika gaya bahasa, antara kultur feodal dan faham kesetaraan?
Lebih parah lagi, mengapa Afdol tidak menyoroti berbagai spanduk milik Pemerintah DKI Jakarta yang nyata-nyata menulis, 'Nyok Bareng-Bareng Kite Bangun Kote Jakarte', semisal spanduk yang berada di dekat halte Universitas Tarumanegara di Grogol, Jakarta Barat. Bukankah itu lebih tepat. Pasalnya, pemerintahlah yang lebih berkewajiban menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Menggunakan bayangan itu, aku mengerti mengapa Afdol memilih media massa sebagai sampel. Ia mungkin sudah tidak memperdulikan apa yang dilakukan pemerintah, atau ia melihat sisi strategis media massa untuk mencerahkan, mendidik bahkan membangun bangsa. Untuk itu, ia pun ikut andil dalam membangun cara berbahasa yang seragam, tanpa memperdulikan gaya. Inilah kesedihan itu, ketika gaya berbahasa diberangus sistem tata bahasa baku, 'baik dan benar', yang belum diketahui kedahsyatannya; sepengetahuanku belum ada penelitian yang mengulas mendalam soal dampak penggunaan bahasa Indonesia yang 'baik dan benar', bahkan hanya sekadar imaji pun tak terdengar. Apakah dengan menggunakannya, bangsa kita menjadi besar, digdaya? Yang jelas, ide besar penggunaan bahasa Indonesia yang 'baik dan benar' kerap mendapat ganjalan dari seorang munsyi bernama asli Yappi Tambayong.
Inilah kesedihan berikut. Afdol tidak mempelajari hubungan antara bisnis dengan media. Di kepala Afdol kadung ngelotok bahwa media itu wadah pencerahan. Tapi, jaman sudah berubah, Afdol. Kuingatkan, media massa tidak lagi berperan sebagai wadah pencerahan, tapi bisa saja menjadi wadah pembodohan; dan tidak muskil itu dilakukan media massa terhormat. Penyebabnya tentu tidak jauh dari kekuasaan, bisnis utamanya. Apa penjelasan tentang ini tentu dapat disaksikan pada masa terdahulu. Betapa di jaman Pemilu Capres-Cawapres 2004, kenetralan media massa mendapat sentilan hebat. Kenetralan disentil, alhasil keberpihakkan terhadap salah satu calon Capres dan Cawapres. Bahkan, melalui foto pun, seorang ahli komunikasi asal Universitas Indonesia, aku lupa namanya, berujar perbedaan sudut pengambilan gambar ketika deklarasi Koalisi Kebangsaan yang dipelopori Mega-Akbar, menyiratkan keberpihakkan media massa, meskipun ada peluang bersifat bawah sadar, bahkan sama sekali tidak sadar. Walahu allam. Afdol tentunya memahami segi bisnis manajerial dalam perihal penerbitan media massa, yang merupakan masalah tak sepele. Jawabannya pun sederhana. Mengapa Afdol tidak menerbitkan harian-surat kabar-koran untuk memopulerkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ia tidak memiliki modal, mengapa tidak meminjam saja. Atau ia melakukan riset betapa dampak dari penggunaan bahasa yang baik dan benar itu, biar media massa yang tidak mengikuti pedoman menjadi tersadar dan segera mengubah langkah. Bila tidak, segeralah Afdol membuka blog pribadi yang berisi opininya atas berbagai macam hal, utamanya bahasa Indonesia. (Aih, bila saja ia membuka blog, khususnya warga negara Indonesia, tentunya ia harus berpikir ulang, betapa sulitnya--maaf, sekadar perhalusan bentuk kata 'gagal'-nya--membangun budaya berbahasa yang baik dan benar.)
***
Kepedihan ini merupakan yang terakhir. Dibagian permulaan hingga paragraph ketiga, Afdol berbicara masalah kesan dari judul berita berbahasa gaul. Antara santun atau tidak. Hal itu berimbas pada posisi harian-surat kabar-koran, 'berkelas' atau 'murahan'. Standardnya, subjektifitas pembaca. Dan, penilaian ini pun tidak jelas berasal dari mana. Lagi-lagi berbincang fakta. Jangan-jangan hanya ia seorang saja, dugaan kasarku. Soalnya, harian-surat kabar-koran yang bergaya bahasa seperti itu laku, meski aku tidak tahu apakah perusahaannya untung. Minimal, ada yang beli. Dan, hingga sekarang belum gulung tikar, padahal seingat saya, ini sudah memasuki bahkan melewati lima tahun pertama harian-surat kabar-koran sejenis begitu beredar.
Jadi, ada baiknya Afdol tidak usah membawa-bawa kesan pembaca, untuk memersuasi redaksi harian 'nyeleneh' kembali ke rel yang 'baik dan benar' atas dasar perhitungan emosional pembaca yang berwawasan brilian, cerdas bahkan cendekia; singkatnya kelas menengah hingga atas. Ia cukup mengutarakan fenomena yang terjadi, bagaimana menyiasati, tanpa membawa perhitungan bisnis atas dasar kesan pembaca. Sebab, redaksi yang berupaya menerbitkan bukan orang bodoh yang hanya mau membuang uang tanpa memberi keuntungan.
Di akhir tulisan ini, aku hendak menyimpulkan, artikel Afdol seharusnya dikeluarkan dua atau tiga tahun yang lalu. Fenomena yang dia tuliskan bukan terjadi baru-baru ini. Aku sedih. Padahal ia berasal dari Pusat Bahasa, bagaimana tidak responsif membaca keadaan. Memang bisa saja, tulisan ini sudah yang ke- berapa kali. Dan, hanya membuktikan kekurang uletan Afdol menulis, atau lagi-lagi ketidak populeran isu yang ia bawakan, atau dalam bahasa sakit-nyelekit, gagal.
Tapi, bagaimanapun aku kagum dengan keberanian Afdol menyuarakan ide lama. Ia perwujudan orang yang sadar akan pentingnya berbahasa yang baik dan benar. Ia juga jelas-jelas orang yang berperasaan, santun.
Sayangnya, artikel dia terbaca olehku. Dan, kebetulan usai membaca artikel di Sabtu siang, emosiku meradang. "Ini orang maksudnya piye toh?"
Sengat Mega-Lithium-Kuantum
Sebenarnya, ini tulisan penuh emosional. Pasalnya, sederhana. Aku baca dua artikel tak jauh beda. Pertama, tulisan Danarto di harian KOMPAS, Minggu, 3 Juli; kedua, tulisan Dwi Arjanto di KORAN TEMPO, Senin, 4 Juli. Yang pertama bertajuk, 'Mencari Musik Indonesia', kedua--dalam kerangka bulat emosional, kunilai: tak jauh beda, 'Bunga Rampai Musik Negeri'.
Karena kesal, aku pun berpikir. Danarto dan Dwi Arjanto, adalah dua nama tidak jauh berbeda nada. Mirip. Ah, pasti mereka saudara, minimal ada hubungan kekeluargaan dari frase kata '-to'. Cobalah kau lafalkan kawan, maka terasa ada samanya. "Da-nar-to. Dwi Ar-jan-to."
Dan, tulisan mereka pun tak jauh beda, berkutat masalah konser musik Megalitikum Kuantum di Plenarry Hall, Jakarta Convention Center. Intinya, hampir sama.
Danarto berujar dua hal. Dalam artikel yang memakan seperempat ruang halaman itu, Danarto menyebutkan hal inti dipenghujung tulisan, yakni: buat apa mencari musik Indonesia, bila musik yang sudah ada itu indah. Maksud dia, musik daerah-daerah di sekitar Kepulauan Nusantara. Sedang yang pertama, ia lebih banyak berbicara teknis pertunjukkan. Dan, untuk permasalahan pertama yang ia lemparkan, aku sepakat, dan memang pertanyaan itu perlu mendapat porsi lebih. Perihal, 'jahitan'. Terminologi khusus diciptakan lelaki yang telah mengaku kepadaku bahwa ia tidak bisa mempergunakan internet. Kalau aku, cuma bisa menamakannya menjadi 'kejanggalan-segmental'. (Lumayanlah, minimal agak gagah sedikit. Agak bombastislah.)
Biar lebih genit, aku bilang saja Dwi Arjanto ini kemenakan Danarto. Hanya menyorot satu hal, sudah begitu abstrak pula. Sang kemenakan cuma berujar, "Banyak segmen musik tanpa satu visi yang kuat." Bahkan--aku bertambah yakin bahwa Dwi Arjanto adalah kemenakan Danarto--ia pun mengutip perkataan sastrawan pengarang 'Godlob'. Baiklah bila kutampilkan potongan kalimat itu, 'Pergantian lagu terlalu lama. "Jedanya panjang. Harusnya musisi berikutnya bersiap setiap pergantian lagu," kata kritikus seni, Danarto'. (Dugaanku, pastilah ia menelpon Danarto, bila tidak alternatifnya hanya satu lagi: mengutip isi tulisan sastrawan rambut putih di KOMPAS)
Memang, sang kemenakan haram ini menampilkan data perbandingan Megalitikum Kuantum dengan acara Orkes Chandra Kirana (OCK) yang ditayangkan di TVRI tahun 80-an. Bila sang paman hanya berpendapat tambahan berupa sejarah pengenalan musik asal Indonesia ke wadah luar. Contoh, pada 1890, gamelan Jawa diperkenalkan dalam konser di Paris bahkan mampu 'merusak' otak komponis Claude Debussy; empat puluh tahun berselang, gamelan Bali pun unjuk gigi di California berubung bintang-bintang Hollywood. (Aih, benar-benarlah anak-kemenakan dua ini.)
***
Sudah saatnya masuk mendalam. Ini kali, aku pasti lebih emosional, sedikit aku berharap masih ada sisi akal berperan. (Ah, sangat menyentuh kalimat ini, sungguh insani.)
Dua anak-kemenakan tersebut telah mengebiri diri. Betapa mereka begitu picik, dengan kekenesan intelektual juga wawasan mampu berpikir bahwa Megalitikum Kuantum hanya jatuh dalam permasalahan: pertunjukkan 'gagal'. Bahasa kasar yang hendak mereka sampaikan: "Mosok, pertunjukkan gitu dibilang megah. Ngatur waktu saja endak bisa. Teknis pertunjukkan masih gelagapan."
Aku pikir, kesimpulan itu hasil dari kebebalan nalar belaka. Apa pasal? Coba diruntut lebih tenang. Mudahnya, perbandingkan Megalitikum Kuantum dengan satu konser universal (mungkin, aku agak melebihkan, tapi aku rasa ini wajar. Sebab: aku telah mengisi daftar panjang nama pengikut slogan: 'Make Poverty History', melalui situs www.one.org) Konser Live Eight.
Konser yang berlangsung rentak di sepuluh negara, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Paris, Rusia, Spanyol, Italia, Jepang, Afrika Selatan dan Skotlandia ini didukung lebih dari 100 arits, seperti Bob Geldof, U2, Madonna, Jay-Z, Linkin Park, Destiny Child, Coldplay, Green Day, African Children's Choir, Annie Lennox, Dido, Elton John, Joss Stone, Keane, The Killers, Mariah Carey, Ms. Dynamite, Paul McCartney, Pink Floyd, Razorlight, REM, Robbie Williams, Scissor Sisters, Snoop Dogg, Snow Patrol, Stereophonics, Sting, Travis, UB40, Velvet Revolver, Andrea Bocelli dengan the Philarmonie der Nationen, Amel Bent, Axelle Red, Calogero, Cerrone / Nile Rogers, Craig David, The Cure, David Hallyday, Diam's, Disiz La Peste, Faudel, Florent Pagny, Kool Shen, Kyo, Louis Bertignac, Matt copora, Muse, Placebo, Raphael, Shakira, Sheryl Crow, Tina Arena, Yannick Noah, Youssou N'Dour, A-ha, Audioslave, Bap, Brian Wilson, Chris de Burgh, Crosby Stills & Nash, Die Toten Hosen, Faithless, Herbert Groenemeyer, Joana Zimmer, Juan Diego Florez, Juli, Katherine Jenkins, Reamonn, Renee Olstead, Roxy Music, Sasha, Silbermond, Soehne Mannheims, Wir Sind Helden--untuk permisalan saja siapa artis pendukungnya.
Aku berpikir, keduanya pasti sependapat untuk mengatakan konser itu hanya proyek biasa. Aneh. Biadab, bisa saja. Singkat, mereka pasti hanya mengomentari pertunjukkan secara fisik. Misal, kalau Bob Dylan tampil dalam keadaan flu, mereka hanya berujar, "Ah, sayang sekali dia demam. Kualitas penampilan jadi berkurang." Atau bila piano yang dimainkan Elton John hanya terdengar sesekali saja, pasalnya kalah meriah dengan pekik histeria teriakan para penonton konser pergelaran. Dan, semakin banyak lagi permasalahan teknis lain yang bisa timbul saat penyelenggaraan konser tersebut.
Lalu, apa pula hubungan Konser Megalitikum Kuantum dengan Concert Live 8 (?); dengan dua anak-kemanakan ini? Sebenarnya, sederhana. Kedua konser itu membawa misi terpendam. Konser Live 8 menyuarakan verbal: hapuskan utang negara miskin. Apa alasannya? Tiap tiga detik, satu orang anak mati, karena: KELAPARAN!
(Ayo, setelah anda membaca sampai disini, segera tinggalkan blog ini. Langsung ada berselancar ke www.one.org, mendaftarkan diri, bersuara, 'Make Poverty History', sebelum pertemuan G8 dimulai di Gleneagles, Skotlandia, 6 Juli 2005; dan konser final yang berujung di Edinburgh, juga berlangsung di tanah legenda manusia abadi, Highlander, dengan tanggal pertunjukkan bersamaan dengan pertemuan G8)
Capek juga melanglang buana. Baiklah, kembali ke Nusantara, perkara awal: Konser Megalitikum Kuantum. Tentu, serupa dengan konser Live 8, Megalitik Kuantum pun bertujuan 'menggelitik kuantum' nalar. Pertunjukkan musik yang digarap etnomusikolog lulusan San Diego State University, California, Rizaldi Siagian sebagai sutradara musik. Asistennya, Dwiki Darmawan. Ada juga, Jay Subiakto sebagai penata artistik, atau beberapa nama bencar (istilah yang berasal dari besar-gencar; asyik dengarnya, seperti ada kesan menghajar) komponis musik Indra Lesmana, Rahayu Supanggah. Apalagi, jika ditambah penata tari yang berasal dari tanah seberang, Sumatera Barat, Boi. G. Sakti pemimpin Gumarang Sakti Dance Company; untuk hal satu ini saya pernah melihat pementasan karya pendiri kelompok Gumarang (Kuda Terbang) Sakti Gusmiati Suid, bertajuk 'Api dalam Sekam' dengan sutradara tari sang anak, Boi Gumarang Sakti. Selain dia, ada penari lain yang terkenal membahana, sebab bila ia menari mampu mengundang gelak tawa. Didik Nini Thowok. Juga tak tertinggal, para pelantun lirik syair yang rata dicipta Rizaldi Siagian, yakni barisan nama yang pasti saja kaset entah CD ada di Disc Tara terdekat dengan posisi anda membaca tulisan ini sekarang, seperti Krisdayanti, Agnes Monica, Iyeth Bustami, Ubiet, Candil Seurieus, Peni Candra Rini, Rani Noor, dan Amirouz.(Mungkin, untuk Amirouz, Ubiet, Peni Chandra Rini dan Rani Noor, agak sukar ditemukan. Kalau begitu, anda tinggal cari di tempat-tempat tersembunyi saja kaset mereka.) Disamping personal yang mewabah di belantika musik modern, ada juga nama yang tak kalah sangar dari belantara musik tradisional, semisal seniman asal desa Bawomataluo, Pulau Nias, yakni Hikayat Manao; atau kelompok musik sampeq (alat musik petik khas Kalimantan) pimpinan Ului Laloq yang berduet dengan harpakus Maya Hasan; juga peniup suling Korem Sihombing, atau pemusik sasando, juga pemain jegog Bali, serta entah apa lagi, mungkin saja ini yang masih kuingat Innisisri, yang mahir memainkan perkusi.
Meski tak sampai seratus artis penghibur seperti konser Live 8, Konser Megalitikum Kuantum, saya rasa tidak kalah spektakuler. Meski tidak menawarkan ide penghapusan utang agar tiada lagi orang kelaparan, Megalitikum Kuantum masih mampu menyengat nalar untuk sekedar refleksi. Dan, lagi-lagi keduanya terbentur bukan pada musik semata. Melihat konser Live 8 dari sisi musik, alhasil hanya menimbulkan kekacauan belaka. Bagaimana mungkin, kelompok band The Cure bersanding panggung dengan Craig David, atau Linkin Park bertemu muka dengan Andre Bocelli, atau Robbie Williams berganti tampil dengan Velvet Revolver. Bukankah tidak ada keselarasan musik? Bukankah hanya pertunjukkan segmental saja sifatnya. Tapi, dalam konteks keseluruhan muncullah apa yang saya sebut dengan istilah--maaf bila saya agak berjumawa dengan keberhasilan kecil mencampur adukkan bahasa ini--'kejanggalan-segmental'.
Dalam konser Live 8 ada semangat, 'Mereka Jangan Mati. Mereka Harus Hidup.' Dan, kobar-kobar api semangat itulah yang menyengat seluruh penghuni planet Bumi ini, dengan jumlah sudah mencapai angka dua miliar, bahkan lebih. Niscaya, pada 6 Juli mendatang, berita utama beberapa koran internasional akan memuat hal itu; begitupun dengan Indonesia.
Inilah yang harus direnungkan anak-kemenakan, Danarto dan Dwi Arjanto. Menurut perasaan saya, konser Megalitikum Kuantum tidak hanya sekadar bisa pertunjukkan musik. Ia memiliki pesan. Kejatuhan penilaian anak-kemenakan hanya sekadar kerna kuasa 'kejanggalan-segmental'. Masalah 'jahitan' yang kurang bagus, kurangnya visi yang kuat. Padahal, kalau mau berbicara itu, mereka cukup membeli kaset Viki Sianipar saja, Toba Dream. Tentulah mereka ingat kalau pernah nongkrong didepan stasiun televisi yang mengganti istilah penyiar menjadi Video Jockey, terucap fi-je. Satu lagu, yang saya lupa siapa penyanyinya, namun klipnya digarap Dimas Djayadiningrat, mengambil tempat lokasi hutan tropis yang diberi properti piano. Judul karya itu 'Piso Surit', yang sebenarnya juga merupakan gubahan lagu daerah Batak Karo, satu dari enam sub-etnis Batak di tanah Sumatera Utara.
Alangkah sia-sianya ujaran kata mereka di dua tulisan yang keluar dua hari belakangan. Tentunya, mereka pun seharusnya sudah pasti keluar sebelum konser berakhir. Sebab tulisan mereka sudah merujuk pada bayangan serangkaian kejadian; pantat mulai bosan duduk di ruang pertunjukkan, kepala pegal, atau tertidur ditempat. Dan, kalau mereka tidak keluar, pasti hanya karena alasan ekonomi semata, tiket sudah kubayar; atau aku lagi bertugas.
Padahal, jika mereka menikmati, mungkin lebih tepatnya menghayati apa itu 'kejanggalan-segmental' tentu hasilnya sudah digdaya. Danarto, sastrawan yang pernah kutemui sedang tertidur ketika berlangsung pertunjukkan musik Tony Prabowo di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, di waktu lampau, sudah melihat kejanggalan itu. Di paragraph sembilan artikel itu ia menuliskan apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan. Kejanggalan penampilan Agnes Monica, inti paragraph itu. Silahkan anda mencari isi tulisan lengkap di situs KOMPAS, tentu saja. Tapi, Dwi Arjanto sama sekali tak menyadari hal itu. Pernyataan dia 'ketiadaan visi dalam musik' merupakan bukti kekeliruan, untuk tidak menyebut kedunguan atau kebodohan, mungkin saja lebih besar, kesalahan redaksi KORAN TEMPO menempatkan karyawan.
Dari 'kejanggalan-segmental' itu sebenarnya pemaknaan Megalitikum Kuantum terdapat. Aku mencoba menghayati kenapa itu terjadi. Saat jawaban kudapat, aku memiliki dua pilihan yang berkaitan. Apakah ini alam bawah sadar Rizaldi Siagian saja atau memang inilah sebenarnya makna pertunjukkan selama kurang lebih 90 menit itu? Pertunjukkan itu menawarkan sebuah semangat, semangat Megalitikum Kuantum. Dan, memang pengejawantahan hal itu tidak sekadar melihat pertunjukkan sebatas persepsi musik belaka. Tapi, perwujudan budaya.
Semangat Megalitikum Kuantum itu terekam dalam tiga tahapan sederhana. Saling berbagi, menyatu dan membuat yang baru. Inilah pencarian, hakikat tiap manusia; berpengertian selalu menuju tingkatan yang lebih baru hingga kematian berjumpa. Rizaldi menampilkan Agnes Monica atas dasar itu. Ia ingin memperlihatkan bahwa di Indonesia juga ada yang bermusik ala 'Barat', spesifiknya berkiblat ke Britney. Memang, saya mengakui: tampilan Agnes merusak konsentrasi otak juga rasa untuk menikmati pertunjukkan. Gaya dia sama sekali bertolak belakang dengan tata artistik panggung yang bernuansa kolosal dan megah. Tapi, bagaimana pun juga Agnes Monica itu Indonesia, dan seharusnya dia diberi tempat untuk berekspresi. Bukan dijegal, atau mungkin dibodohi. Permisalan lain juga timbul melalui Candil Seriues yang harus rela berpakaian adat Nias, hingga Krisdayanti yang katanya bernyanyi beralaskan nada khas Batak Karo, mungkin juga Maya Hasan yang menyetem harpa hingga bertangga nada slendro, atau permainan jemari Indra yang mengharamkan jelas do-re-mi-fa-sol-la-si-do; bahkan cenderung hanya menyempil diantara bunyi gamelan jegog Bali pada karya berjudul 'Rumpun Bambu', kreasi masih-masih Rizaldi Siagian. Kesemuanya bermuara pada keinginan saling berbagi, mencoba untuk bersatu. Itu mengapa saya memaknai menyatu dalam pengertian 'dalam proses menjadi satu'.
Bukankah permasalahan masalah kekinian bangsa Indonesia adalah ketiadaan keinginan berbagi? Untuk menjelaskan ini, anda hanya perlu membaca media massa. Ada berita korupsi, penggelapan pajak, suap hakim, busung lapar, juga segudang kecelakaan yang tentunya bisa diatasi bila dana milik rakyat tetap di jalur tepat. Itulah yang terjadi. Ruang ekspresi si miskin tertindas uang, bahkan halaman koran pun masih bisa dijual untuk memenangkan si kaya. Bagaimanakah Danarto dan Dwi Arjanto, melihat hal itu? Hanya jatuh sebatas masalah sosial kemasyarakatan sajakah, atau apa?
Bukankah perpecahan yang terjadi di negeri ini karena tidak ada ruang unjuk diri? Dan, melalui musik Rizaldi meringankan penderitaan anda membaca keadaan sekitar, bahkan ia membantu untuk memecahkan, melalui solusi yang tentu tak mudah terlaksana. Ia cuma menyebar virus yang akan mekar, saya berharap cepat menyebar, menyengat. SEMANGAT MEGALITIKUM KUANTUM!!!! (Biar kelihatan lebih keren, dan aku pun tampak cerdas. Dan, yang tertera sebagai judul adalah varian unggul slogan yang berkonotasi tak mundur itu.) Berbagi, Menyatu dan Membuat Yang Baru. Ini memang proyek budaya, bukan hanya semata musik saja.
Karena kesal, aku pun berpikir. Danarto dan Dwi Arjanto, adalah dua nama tidak jauh berbeda nada. Mirip. Ah, pasti mereka saudara, minimal ada hubungan kekeluargaan dari frase kata '-to'. Cobalah kau lafalkan kawan, maka terasa ada samanya. "Da-nar-to. Dwi Ar-jan-to."
Dan, tulisan mereka pun tak jauh beda, berkutat masalah konser musik Megalitikum Kuantum di Plenarry Hall, Jakarta Convention Center. Intinya, hampir sama.
Danarto berujar dua hal. Dalam artikel yang memakan seperempat ruang halaman itu, Danarto menyebutkan hal inti dipenghujung tulisan, yakni: buat apa mencari musik Indonesia, bila musik yang sudah ada itu indah. Maksud dia, musik daerah-daerah di sekitar Kepulauan Nusantara. Sedang yang pertama, ia lebih banyak berbicara teknis pertunjukkan. Dan, untuk permasalahan pertama yang ia lemparkan, aku sepakat, dan memang pertanyaan itu perlu mendapat porsi lebih. Perihal, 'jahitan'. Terminologi khusus diciptakan lelaki yang telah mengaku kepadaku bahwa ia tidak bisa mempergunakan internet. Kalau aku, cuma bisa menamakannya menjadi 'kejanggalan-segmental'. (Lumayanlah, minimal agak gagah sedikit. Agak bombastislah.)
Biar lebih genit, aku bilang saja Dwi Arjanto ini kemenakan Danarto. Hanya menyorot satu hal, sudah begitu abstrak pula. Sang kemenakan cuma berujar, "Banyak segmen musik tanpa satu visi yang kuat." Bahkan--aku bertambah yakin bahwa Dwi Arjanto adalah kemenakan Danarto--ia pun mengutip perkataan sastrawan pengarang 'Godlob'. Baiklah bila kutampilkan potongan kalimat itu, 'Pergantian lagu terlalu lama. "Jedanya panjang. Harusnya musisi berikutnya bersiap setiap pergantian lagu," kata kritikus seni, Danarto'. (Dugaanku, pastilah ia menelpon Danarto, bila tidak alternatifnya hanya satu lagi: mengutip isi tulisan sastrawan rambut putih di KOMPAS)
Memang, sang kemenakan haram ini menampilkan data perbandingan Megalitikum Kuantum dengan acara Orkes Chandra Kirana (OCK) yang ditayangkan di TVRI tahun 80-an. Bila sang paman hanya berpendapat tambahan berupa sejarah pengenalan musik asal Indonesia ke wadah luar. Contoh, pada 1890, gamelan Jawa diperkenalkan dalam konser di Paris bahkan mampu 'merusak' otak komponis Claude Debussy; empat puluh tahun berselang, gamelan Bali pun unjuk gigi di California berubung bintang-bintang Hollywood. (Aih, benar-benarlah anak-kemenakan dua ini.)
***
Sudah saatnya masuk mendalam. Ini kali, aku pasti lebih emosional, sedikit aku berharap masih ada sisi akal berperan. (Ah, sangat menyentuh kalimat ini, sungguh insani.)
Dua anak-kemenakan tersebut telah mengebiri diri. Betapa mereka begitu picik, dengan kekenesan intelektual juga wawasan mampu berpikir bahwa Megalitikum Kuantum hanya jatuh dalam permasalahan: pertunjukkan 'gagal'. Bahasa kasar yang hendak mereka sampaikan: "Mosok, pertunjukkan gitu dibilang megah. Ngatur waktu saja endak bisa. Teknis pertunjukkan masih gelagapan."
Aku pikir, kesimpulan itu hasil dari kebebalan nalar belaka. Apa pasal? Coba diruntut lebih tenang. Mudahnya, perbandingkan Megalitikum Kuantum dengan satu konser universal (mungkin, aku agak melebihkan, tapi aku rasa ini wajar. Sebab: aku telah mengisi daftar panjang nama pengikut slogan: 'Make Poverty History', melalui situs www.one.org) Konser Live Eight.
Konser yang berlangsung rentak di sepuluh negara, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Paris, Rusia, Spanyol, Italia, Jepang, Afrika Selatan dan Skotlandia ini didukung lebih dari 100 arits, seperti Bob Geldof, U2, Madonna, Jay-Z, Linkin Park, Destiny Child, Coldplay, Green Day, African Children's Choir, Annie Lennox, Dido, Elton John, Joss Stone, Keane, The Killers, Mariah Carey, Ms. Dynamite, Paul McCartney, Pink Floyd, Razorlight, REM, Robbie Williams, Scissor Sisters, Snoop Dogg, Snow Patrol, Stereophonics, Sting, Travis, UB40, Velvet Revolver, Andrea Bocelli dengan the Philarmonie der Nationen, Amel Bent, Axelle Red, Calogero, Cerrone / Nile Rogers, Craig David, The Cure, David Hallyday, Diam's, Disiz La Peste, Faudel, Florent Pagny, Kool Shen, Kyo, Louis Bertignac, Matt copora, Muse, Placebo, Raphael, Shakira, Sheryl Crow, Tina Arena, Yannick Noah, Youssou N'Dour, A-ha, Audioslave, Bap, Brian Wilson, Chris de Burgh, Crosby Stills & Nash, Die Toten Hosen, Faithless, Herbert Groenemeyer, Joana Zimmer, Juan Diego Florez, Juli, Katherine Jenkins, Reamonn, Renee Olstead, Roxy Music, Sasha, Silbermond, Soehne Mannheims, Wir Sind Helden--untuk permisalan saja siapa artis pendukungnya.
Aku berpikir, keduanya pasti sependapat untuk mengatakan konser itu hanya proyek biasa. Aneh. Biadab, bisa saja. Singkat, mereka pasti hanya mengomentari pertunjukkan secara fisik. Misal, kalau Bob Dylan tampil dalam keadaan flu, mereka hanya berujar, "Ah, sayang sekali dia demam. Kualitas penampilan jadi berkurang." Atau bila piano yang dimainkan Elton John hanya terdengar sesekali saja, pasalnya kalah meriah dengan pekik histeria teriakan para penonton konser pergelaran. Dan, semakin banyak lagi permasalahan teknis lain yang bisa timbul saat penyelenggaraan konser tersebut.
Lalu, apa pula hubungan Konser Megalitikum Kuantum dengan Concert Live 8 (?); dengan dua anak-kemanakan ini? Sebenarnya, sederhana. Kedua konser itu membawa misi terpendam. Konser Live 8 menyuarakan verbal: hapuskan utang negara miskin. Apa alasannya? Tiap tiga detik, satu orang anak mati, karena: KELAPARAN!
(Ayo, setelah anda membaca sampai disini, segera tinggalkan blog ini. Langsung ada berselancar ke www.one.org, mendaftarkan diri, bersuara, 'Make Poverty History', sebelum pertemuan G8 dimulai di Gleneagles, Skotlandia, 6 Juli 2005; dan konser final yang berujung di Edinburgh, juga berlangsung di tanah legenda manusia abadi, Highlander, dengan tanggal pertunjukkan bersamaan dengan pertemuan G8)
Capek juga melanglang buana. Baiklah, kembali ke Nusantara, perkara awal: Konser Megalitikum Kuantum. Tentu, serupa dengan konser Live 8, Megalitik Kuantum pun bertujuan 'menggelitik kuantum' nalar. Pertunjukkan musik yang digarap etnomusikolog lulusan San Diego State University, California, Rizaldi Siagian sebagai sutradara musik. Asistennya, Dwiki Darmawan. Ada juga, Jay Subiakto sebagai penata artistik, atau beberapa nama bencar (istilah yang berasal dari besar-gencar; asyik dengarnya, seperti ada kesan menghajar) komponis musik Indra Lesmana, Rahayu Supanggah. Apalagi, jika ditambah penata tari yang berasal dari tanah seberang, Sumatera Barat, Boi. G. Sakti pemimpin Gumarang Sakti Dance Company; untuk hal satu ini saya pernah melihat pementasan karya pendiri kelompok Gumarang (Kuda Terbang) Sakti Gusmiati Suid, bertajuk 'Api dalam Sekam' dengan sutradara tari sang anak, Boi Gumarang Sakti. Selain dia, ada penari lain yang terkenal membahana, sebab bila ia menari mampu mengundang gelak tawa. Didik Nini Thowok. Juga tak tertinggal, para pelantun lirik syair yang rata dicipta Rizaldi Siagian, yakni barisan nama yang pasti saja kaset entah CD ada di Disc Tara terdekat dengan posisi anda membaca tulisan ini sekarang, seperti Krisdayanti, Agnes Monica, Iyeth Bustami, Ubiet, Candil Seurieus, Peni Candra Rini, Rani Noor, dan Amirouz.(Mungkin, untuk Amirouz, Ubiet, Peni Chandra Rini dan Rani Noor, agak sukar ditemukan. Kalau begitu, anda tinggal cari di tempat-tempat tersembunyi saja kaset mereka.) Disamping personal yang mewabah di belantika musik modern, ada juga nama yang tak kalah sangar dari belantara musik tradisional, semisal seniman asal desa Bawomataluo, Pulau Nias, yakni Hikayat Manao; atau kelompok musik sampeq (alat musik petik khas Kalimantan) pimpinan Ului Laloq yang berduet dengan harpakus Maya Hasan; juga peniup suling Korem Sihombing, atau pemusik sasando, juga pemain jegog Bali, serta entah apa lagi, mungkin saja ini yang masih kuingat Innisisri, yang mahir memainkan perkusi.
Meski tak sampai seratus artis penghibur seperti konser Live 8, Konser Megalitikum Kuantum, saya rasa tidak kalah spektakuler. Meski tidak menawarkan ide penghapusan utang agar tiada lagi orang kelaparan, Megalitikum Kuantum masih mampu menyengat nalar untuk sekedar refleksi. Dan, lagi-lagi keduanya terbentur bukan pada musik semata. Melihat konser Live 8 dari sisi musik, alhasil hanya menimbulkan kekacauan belaka. Bagaimana mungkin, kelompok band The Cure bersanding panggung dengan Craig David, atau Linkin Park bertemu muka dengan Andre Bocelli, atau Robbie Williams berganti tampil dengan Velvet Revolver. Bukankah tidak ada keselarasan musik? Bukankah hanya pertunjukkan segmental saja sifatnya. Tapi, dalam konteks keseluruhan muncullah apa yang saya sebut dengan istilah--maaf bila saya agak berjumawa dengan keberhasilan kecil mencampur adukkan bahasa ini--'kejanggalan-segmental'.
Dalam konser Live 8 ada semangat, 'Mereka Jangan Mati. Mereka Harus Hidup.' Dan, kobar-kobar api semangat itulah yang menyengat seluruh penghuni planet Bumi ini, dengan jumlah sudah mencapai angka dua miliar, bahkan lebih. Niscaya, pada 6 Juli mendatang, berita utama beberapa koran internasional akan memuat hal itu; begitupun dengan Indonesia.
Inilah yang harus direnungkan anak-kemenakan, Danarto dan Dwi Arjanto. Menurut perasaan saya, konser Megalitikum Kuantum tidak hanya sekadar bisa pertunjukkan musik. Ia memiliki pesan. Kejatuhan penilaian anak-kemenakan hanya sekadar kerna kuasa 'kejanggalan-segmental'. Masalah 'jahitan' yang kurang bagus, kurangnya visi yang kuat. Padahal, kalau mau berbicara itu, mereka cukup membeli kaset Viki Sianipar saja, Toba Dream. Tentulah mereka ingat kalau pernah nongkrong didepan stasiun televisi yang mengganti istilah penyiar menjadi Video Jockey, terucap fi-je. Satu lagu, yang saya lupa siapa penyanyinya, namun klipnya digarap Dimas Djayadiningrat, mengambil tempat lokasi hutan tropis yang diberi properti piano. Judul karya itu 'Piso Surit', yang sebenarnya juga merupakan gubahan lagu daerah Batak Karo, satu dari enam sub-etnis Batak di tanah Sumatera Utara.
Alangkah sia-sianya ujaran kata mereka di dua tulisan yang keluar dua hari belakangan. Tentunya, mereka pun seharusnya sudah pasti keluar sebelum konser berakhir. Sebab tulisan mereka sudah merujuk pada bayangan serangkaian kejadian; pantat mulai bosan duduk di ruang pertunjukkan, kepala pegal, atau tertidur ditempat. Dan, kalau mereka tidak keluar, pasti hanya karena alasan ekonomi semata, tiket sudah kubayar; atau aku lagi bertugas.
Padahal, jika mereka menikmati, mungkin lebih tepatnya menghayati apa itu 'kejanggalan-segmental' tentu hasilnya sudah digdaya. Danarto, sastrawan yang pernah kutemui sedang tertidur ketika berlangsung pertunjukkan musik Tony Prabowo di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, di waktu lampau, sudah melihat kejanggalan itu. Di paragraph sembilan artikel itu ia menuliskan apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan. Kejanggalan penampilan Agnes Monica, inti paragraph itu. Silahkan anda mencari isi tulisan lengkap di situs KOMPAS, tentu saja. Tapi, Dwi Arjanto sama sekali tak menyadari hal itu. Pernyataan dia 'ketiadaan visi dalam musik' merupakan bukti kekeliruan, untuk tidak menyebut kedunguan atau kebodohan, mungkin saja lebih besar, kesalahan redaksi KORAN TEMPO menempatkan karyawan.
Dari 'kejanggalan-segmental' itu sebenarnya pemaknaan Megalitikum Kuantum terdapat. Aku mencoba menghayati kenapa itu terjadi. Saat jawaban kudapat, aku memiliki dua pilihan yang berkaitan. Apakah ini alam bawah sadar Rizaldi Siagian saja atau memang inilah sebenarnya makna pertunjukkan selama kurang lebih 90 menit itu? Pertunjukkan itu menawarkan sebuah semangat, semangat Megalitikum Kuantum. Dan, memang pengejawantahan hal itu tidak sekadar melihat pertunjukkan sebatas persepsi musik belaka. Tapi, perwujudan budaya.
Semangat Megalitikum Kuantum itu terekam dalam tiga tahapan sederhana. Saling berbagi, menyatu dan membuat yang baru. Inilah pencarian, hakikat tiap manusia; berpengertian selalu menuju tingkatan yang lebih baru hingga kematian berjumpa. Rizaldi menampilkan Agnes Monica atas dasar itu. Ia ingin memperlihatkan bahwa di Indonesia juga ada yang bermusik ala 'Barat', spesifiknya berkiblat ke Britney. Memang, saya mengakui: tampilan Agnes merusak konsentrasi otak juga rasa untuk menikmati pertunjukkan. Gaya dia sama sekali bertolak belakang dengan tata artistik panggung yang bernuansa kolosal dan megah. Tapi, bagaimana pun juga Agnes Monica itu Indonesia, dan seharusnya dia diberi tempat untuk berekspresi. Bukan dijegal, atau mungkin dibodohi. Permisalan lain juga timbul melalui Candil Seriues yang harus rela berpakaian adat Nias, hingga Krisdayanti yang katanya bernyanyi beralaskan nada khas Batak Karo, mungkin juga Maya Hasan yang menyetem harpa hingga bertangga nada slendro, atau permainan jemari Indra yang mengharamkan jelas do-re-mi-fa-sol-la-si-do; bahkan cenderung hanya menyempil diantara bunyi gamelan jegog Bali pada karya berjudul 'Rumpun Bambu', kreasi masih-masih Rizaldi Siagian. Kesemuanya bermuara pada keinginan saling berbagi, mencoba untuk bersatu. Itu mengapa saya memaknai menyatu dalam pengertian 'dalam proses menjadi satu'.
Bukankah permasalahan masalah kekinian bangsa Indonesia adalah ketiadaan keinginan berbagi? Untuk menjelaskan ini, anda hanya perlu membaca media massa. Ada berita korupsi, penggelapan pajak, suap hakim, busung lapar, juga segudang kecelakaan yang tentunya bisa diatasi bila dana milik rakyat tetap di jalur tepat. Itulah yang terjadi. Ruang ekspresi si miskin tertindas uang, bahkan halaman koran pun masih bisa dijual untuk memenangkan si kaya. Bagaimanakah Danarto dan Dwi Arjanto, melihat hal itu? Hanya jatuh sebatas masalah sosial kemasyarakatan sajakah, atau apa?
Bukankah perpecahan yang terjadi di negeri ini karena tidak ada ruang unjuk diri? Dan, melalui musik Rizaldi meringankan penderitaan anda membaca keadaan sekitar, bahkan ia membantu untuk memecahkan, melalui solusi yang tentu tak mudah terlaksana. Ia cuma menyebar virus yang akan mekar, saya berharap cepat menyebar, menyengat. SEMANGAT MEGALITIKUM KUANTUM!!!! (Biar kelihatan lebih keren, dan aku pun tampak cerdas. Dan, yang tertera sebagai judul adalah varian unggul slogan yang berkonotasi tak mundur itu.) Berbagi, Menyatu dan Membuat Yang Baru. Ini memang proyek budaya, bukan hanya semata musik saja.
Aku, Jendela dan Atap Diam, Kereta Bergerak Laju
Dari dalam kereta melalui jendela kaca tepat disisi kiri wajah, sorot mata menembus pandang pada atapatap rerumahan diseberang rel seberang sungai, di bukit tak teratur tinggi rendahnya begitu juga tinggi atapatap rerumahan walaupun berada di garis kontur yang sama. Kereta melaju. Berjarak sejauh lancang dari jendela kaca terawang tidak hanya berpaku dimata pada atapatap rerumahan. Kaki langit yang terpenggal telapaknya oleh dirian rerumahan ditikam ujung atap bersegi lancip tajam dan tegas menikam betis kaki langit anganku terbang menyentuh kelabu awan yang berarak berat diatas atapatap rerumahan pada bebukitan yang tak teratur tinggi rendahnya. Kereta laju melaju cepat tapi aku tak tertinggal jendela diam sebagai penyekat terus melekat pada tatapku yang menghantam atapatap rerumahan yang selalu diam diiring gerak awan berat berarak yang sepertinya juga diam tak bergerak tapi kenyataan teori pasti berkata tidak.
Dari aku menuju jendela angan bergerak menerawang lurus seperti tatap yang menelan masuk semua sinar kedalam retina mata.
Dari atap menuju langit angan bergerak menerawang terbang menuju tempat sejauh ia bisa.
Kemendungan kelabu berarak menjuntai turun disambut kepulan uapuap dari atapatap bebas berseliweran diantara remang cahaya kontras oranye berkoloni hitam akibat lumut yang menempat disetiap genteng bila kita melihat dekat dengan putihhitam mega menjelang turun hujan. Sebelumnya, keliuran uapuap yang terkurung mengasap membumbung menuju langitlangit rumah mencari bebas sewaktu langit diluar merentang siang sesuai peta waktu berbentuk jarum tergantung didinding rerumahan walau berjumpa murung hari selayak petang. Letih berkejaran dengan atap yang sebenarnya diam tak bergerak akhirnya uapuap itu berhasil mendapatkan bebas bertemu indah langit mengganti kurungan langitlangit. Bercampur baur setelahnya antara uapuap dari dalam rumah diam tak bergerak dengan uapuap air dari lautan diam berombak atau sungai diam beriak diantara ruang berdimensi dua yang tercipta antara ujung atap lancip tajam dan tegas menikam betis kaki langit tempat awan menggelantung. Kontras garis memisah antara oranye berkoloni lumut menyebar hitam dengan kelabu awan berarak.
Pertemuan uapuap rumah lautan sungai yang mencari bebas menemukan indah. Pagutan puas bertemu saudara kembar mengusik hati ingin segera berpulang pada bumi dalam bentuk hujan. Tinggal menanti kapan.
Dari atap menuju langit angan bergerak menerawang terbang menuju tempat sejauh ia bisa.
Dari langit menuju bumi bertempat angan bergerak terjun bebas menghantam nyata didepan mata.
-Fitnah. Itu fitnah. Nyata bumi masih bertempat disini diam bukan tak bergerak. Kau cuma mampu mengeksekusi mati kami dari dalam gerbong kereta laju menembus jendela disisi kiri wajahmu. Tutup sudah jendela juga jendela wajahmu yang menjelma melalui retina mata. Kami menyimpan itu didalam rumah bukan diatas atap tempat oranye berkoloni hitam akibat lumut yang menempat disetiap genteng bila kita melihat dekat bertemu kelabu arak awan yang menggantung diratapan kertak rahang kaki langit yang menyimpan damai. Kosong, itu istilah kami. Yang diam itu lihat didalam penipu! bukan uap yang bercumbu dikontras atap dan awan. Kau tak mampu kemari sebab jasadmu berdiam tak bisa berontak didalam gerbong kereta seperti kami dalam rerumahan diatas bukit tak teratur tinggi rendahnya. Sudah diam jika tidak kau semakin menikam kami seperti ujung atap bersegi lancip tegas dan tajam. Kau tak mampu sekalipun kau punya belas untuk merendah sebab kau manusia dengan tubuh terkurung seperti kami dalam rumah atau jasadmu dalam jenazah kereta laju.-
“Sepertinya rindu uapuap yang mencari bebas akan turun berbentuk hujan setelah mendapat indah dalam ruang berdimensi dua.”
Sesampai distasiun tuju aku turun dan hujan menyambut. Sepertinya ini bukan kebetulan dan jika kebetulan aku akan bercerita tentang matahari.
-2002-
Dari aku menuju jendela angan bergerak menerawang lurus seperti tatap yang menelan masuk semua sinar kedalam retina mata.
Dari atap menuju langit angan bergerak menerawang terbang menuju tempat sejauh ia bisa.
Kemendungan kelabu berarak menjuntai turun disambut kepulan uapuap dari atapatap bebas berseliweran diantara remang cahaya kontras oranye berkoloni hitam akibat lumut yang menempat disetiap genteng bila kita melihat dekat dengan putihhitam mega menjelang turun hujan. Sebelumnya, keliuran uapuap yang terkurung mengasap membumbung menuju langitlangit rumah mencari bebas sewaktu langit diluar merentang siang sesuai peta waktu berbentuk jarum tergantung didinding rerumahan walau berjumpa murung hari selayak petang. Letih berkejaran dengan atap yang sebenarnya diam tak bergerak akhirnya uapuap itu berhasil mendapatkan bebas bertemu indah langit mengganti kurungan langitlangit. Bercampur baur setelahnya antara uapuap dari dalam rumah diam tak bergerak dengan uapuap air dari lautan diam berombak atau sungai diam beriak diantara ruang berdimensi dua yang tercipta antara ujung atap lancip tajam dan tegas menikam betis kaki langit tempat awan menggelantung. Kontras garis memisah antara oranye berkoloni lumut menyebar hitam dengan kelabu awan berarak.
Pertemuan uapuap rumah lautan sungai yang mencari bebas menemukan indah. Pagutan puas bertemu saudara kembar mengusik hati ingin segera berpulang pada bumi dalam bentuk hujan. Tinggal menanti kapan.
Dari atap menuju langit angan bergerak menerawang terbang menuju tempat sejauh ia bisa.
Dari langit menuju bumi bertempat angan bergerak terjun bebas menghantam nyata didepan mata.
-Fitnah. Itu fitnah. Nyata bumi masih bertempat disini diam bukan tak bergerak. Kau cuma mampu mengeksekusi mati kami dari dalam gerbong kereta laju menembus jendela disisi kiri wajahmu. Tutup sudah jendela juga jendela wajahmu yang menjelma melalui retina mata. Kami menyimpan itu didalam rumah bukan diatas atap tempat oranye berkoloni hitam akibat lumut yang menempat disetiap genteng bila kita melihat dekat bertemu kelabu arak awan yang menggantung diratapan kertak rahang kaki langit yang menyimpan damai. Kosong, itu istilah kami. Yang diam itu lihat didalam penipu! bukan uap yang bercumbu dikontras atap dan awan. Kau tak mampu kemari sebab jasadmu berdiam tak bisa berontak didalam gerbong kereta seperti kami dalam rerumahan diatas bukit tak teratur tinggi rendahnya. Sudah diam jika tidak kau semakin menikam kami seperti ujung atap bersegi lancip tegas dan tajam. Kau tak mampu sekalipun kau punya belas untuk merendah sebab kau manusia dengan tubuh terkurung seperti kami dalam rumah atau jasadmu dalam jenazah kereta laju.-
“Sepertinya rindu uapuap yang mencari bebas akan turun berbentuk hujan setelah mendapat indah dalam ruang berdimensi dua.”
Sesampai distasiun tuju aku turun dan hujan menyambut. Sepertinya ini bukan kebetulan dan jika kebetulan aku akan bercerita tentang matahari.
-2002-
.... . ..... . . . . .. .. . .... .. . . . . (#1)
Sambil meloncat, kutikamkan belati pada lehernya. Lantas ia menoleh, tapi lekas kucabut tangkas belati yang nancap. Ia pun kembali sadar ke arah awal, bersama mukaku menghindar ciprat darah meloncat.
Perlahan, tubuh tambun yang memanggul aku di punggung, limbung. Jatuh!
Di bawah temaram lampu jalanan, kulihat dia meringis. Berkelojotan meregang, gemetar. Tapi, itu tak lama. Kutendang kepalanya, semakin lancarlah darah memancar dari luka yang semakin nganga, hampir terbelah.
Seiring pancur darah berkurang deras, ia pun semakin gencar menghisap udara lepas yang tak pernah mampu ia hembuskan; sekalipun matanya mampu melompat!
Berjongkok, kulihat si kepala botak pulas melotot beralas segenangan darah kental. Kusodok belati ke telinga kanan, lalu kugoyang. Ia sudah jadi bandul rupanya, batinku mengucap. Aku ubah posisi, berdiri. Berjalan keliling, sembari bersiul-siul kecil.
Sesaat aku berhenti, melongok tubuh tambun sekarung. Tanpa sadar bibirku merekah sewaktu aku menyeka muntahan darah yang sudah mengerak di sekujur muka. Aku hampiri ia, kuangkat tangan kanannya.
Kemeja lengan panjang biru muda milik dia, kupaksa koyak dengan belati berlumur merah. (Kulit legam, otot gempal, tampak nikmat.)
Kuasah belati dikulit gelap berimbun rambut. Dan, aku pun mulai membelah jaringan epidermis--empat senti meter dari pergelangan--lamban, merasuk perlahan ke lapisan otot-otot lurik, hingga membentur tulang hasta. Belatiku pun berkitar seputaran kontur tulang, mengerat.
Sayatan lingkar pertama usai sudah.
Aku mulai yang kedua, pada jarak tiga senti dari lingkar pertama. Caranya, tak jauh beda. Tidak terlalu sulit, bahkan cenderung menutup mata, sekejap selesai juga. (Ah, tinggal kukerat otot yang melekat di hasta tulang dia.)
Liurku mengalir, menahan ingin, juga dingin. Begitu gempal daging terlepas, segera kulahap. Taring kanan, menyobek keratan yang tak berat. Kukunyah pelan. Seperti tak mau lumat, langsung kutelan; bulan pun benderang sudah di pertengahan jalan, bersaput kelabu arak awan.
Tak puas hanya yang kanan, aku pindah ke kiri. Tak puas hanya tangan, aku pindah mengerat kaki. Puas kudagingi tangan, kaki; aku beralih ke bagian muka. Ingin kukuliti!
Bilah belati kuarahkan menyayat, bermula di sudut kening kiri. Gesek belati tak berbunyi mengikut rangka tulang dahi. Sampai dipertengahan, aku berhenti. Saatnya membelah vertikal, aku mengucap dalam hati.
Ujung teruncing belati pun berpindah haluan. Menuruni tengah kening, menyusuri lekuk hidung dan bibir, berakhir di belahan kurva dagu tumpul. Aku berhenti sejenak, menarik nafas seraya memperhatikan hasil kerja yang kubuat.
(Alangkah bagus bila kembali ke kening kiri.)
Aku pun melanjut laju belati ke sudut kening kiri. Mengikut rangka pipi, pelipis, juga memotong sedikit alis, hingga sampai di tujuan akhir. Pojok kening kiri, tempat bermula aksi.
Dari celah sayat, runcing belati kumasukkan. Tetesan darah tak lagi kuhiraukan, sebab muncrat darah sudah tak kuanggap luar biasa. Kuiris lancar belahan kulit wajah, hingga terlepas dan aku tertawa.
Seakan tertampar, aku terdiam. Aku merasa diri diintai. Seribu pasang mata memasung jasad. Kutolehkan pandang kebelakang, ramai orang-orang berdiri di trotoar jalan. Ada yang bergetar bibir, ada yang menutup muka, ada pula yang muntah.
Aku teriak bertanya: Ada apa. Lalu, tertawa. (Ah, bikin orang susah saja.)
Tak kuhiraukan mereka, aku melanjutkan usaha mencipta maha karya.
Tangan sudah kudagingi, muka sudak kukuliti. Mungkin, tinggal sedikit sentuhan akhir, bakal jadi instalasi histeri. Ya, tinggal kubelah saja perutnya, seperti rangkai dua jendela membuka. Masih dengan belati yang tak kenal letih, mulai kutikam kedalam perut tambun si kepala botak. Dari pusar, kubelah kasar, mengarah ke rangka tulang dada. Belahan vertikal usai sudah. Tinggal yang horisontal, dengan tengah tepat di pusar, ibarat memotong bolu buatan ibu.
Lipatan koyak, kubuka. Aih, usus, hati, lambungnya kuangkat keluar, hingga memburai serak. (Ya, sekarang selesai sudah! Tinggal termenung, mengingat apa yang telah.)
***
Sebenarnya, ia hanya ingin bercerita tentang kejadian lima hari yang lalu. Tapi, entah kenapa aku merasa bosan mendengarkannya. Ia hanya membaca barisan abjad yang telah tersusun manis di berlembar-lembar kertas berwarna merah agak muda.
Tiga pria dan satu wanita--keempatnya mengenakan pakaian wisuda--bergantian membaca tiga puluh tiga lembar kertas tersusun. Saat mereka membaca perlahan, kadang sembari menelan liur, aku hanya menunduk. Suara mereka yang keras, tegas, juga gemetar kudengar datang dari sisi kanan.
Tiba-tiba, usai mereka membaca, seseorang yang duduk di panggung berjarak tiga meter dari tempat aku duduk bertanya. "Anda mengerti, apa isi dakwaan jaksa?" Aku jawab, "Apa?"
Lelaki yang mengenakan toga merah dan hitam ini naik pitam. Jelas kudengar nada suaranya berubah. "Saya tanya, apakah anda mengerti isi dakwaan jaksa?" katanya dengan urat-urat leher yang mengencang keras dan jelas. Jawabanku pun masih sama, "Apa, Pak Hakim?"
"Saya tanya, apakah saudara terdakwa mengetahui isi dakwaan jaksa yang baru dibacakan tadi?"
Dan, jawabanku pun tetap sama. "Maksudnya, gimana Pak?"
"Anda jangan bermain-main. Tadi jaksa membacakan dakwaan terhadap Anda. Anda mengerti tidak isinya?" Kali ini, bukan hanya urat leher saja yang menegang. Matanya juga membelalak. Mulutnya menganga, mengeja tiap suku kata.
Aku hanya menunduk. "Ya, Pak Hakim. Saya usahakan untuk mengerti. Saya bolehkan minta kopi-an surat dakwaan, biar bisa saya baca lebih seksama nanti di penjara."
Hakim Ketua yang bernama entah siapa itu hanya bisa meraung. "Anda sudah berlaku kurang ajar. Anda didakwa melanggar paaaa....ssalll.ll..lll......"
Aku tak ingat ia menyebut apa selanjutnya. Cuma, setelah ia berteriak seakan mau diperkosa lima puluh enam setan-setan neraka betina, aku menggangguk. Bukan hendak menyatakan aku mengerti atau memahami. Tak lain karena, hanya tindakan itulah yang ia harapkan.
"OK! Kalau begitu, persidangan akan dilanjutkan pekan mendatang, dengan agenda pembacaan eksepsi."
Usai memutuskan, ia pun mengetuk palu satu kali. Dan, aku berdiri, lalu meninggalkan kursi duduk yang terasa nikmat itu. Dua polisi bersenjata mendatangiku, mengiringi aku selama perjalanan menuju ruang tahanan pengadilan, di belakang, tepat bersebelahan dengan kamar kecil untuk buang air besar juga kecil seluas tiga kali empat meter.
Perlahan, tubuh tambun yang memanggul aku di punggung, limbung. Jatuh!
Di bawah temaram lampu jalanan, kulihat dia meringis. Berkelojotan meregang, gemetar. Tapi, itu tak lama. Kutendang kepalanya, semakin lancarlah darah memancar dari luka yang semakin nganga, hampir terbelah.
Seiring pancur darah berkurang deras, ia pun semakin gencar menghisap udara lepas yang tak pernah mampu ia hembuskan; sekalipun matanya mampu melompat!
Berjongkok, kulihat si kepala botak pulas melotot beralas segenangan darah kental. Kusodok belati ke telinga kanan, lalu kugoyang. Ia sudah jadi bandul rupanya, batinku mengucap. Aku ubah posisi, berdiri. Berjalan keliling, sembari bersiul-siul kecil.
Sesaat aku berhenti, melongok tubuh tambun sekarung. Tanpa sadar bibirku merekah sewaktu aku menyeka muntahan darah yang sudah mengerak di sekujur muka. Aku hampiri ia, kuangkat tangan kanannya.
Kemeja lengan panjang biru muda milik dia, kupaksa koyak dengan belati berlumur merah. (Kulit legam, otot gempal, tampak nikmat.)
Kuasah belati dikulit gelap berimbun rambut. Dan, aku pun mulai membelah jaringan epidermis--empat senti meter dari pergelangan--lamban, merasuk perlahan ke lapisan otot-otot lurik, hingga membentur tulang hasta. Belatiku pun berkitar seputaran kontur tulang, mengerat.
Sayatan lingkar pertama usai sudah.
Aku mulai yang kedua, pada jarak tiga senti dari lingkar pertama. Caranya, tak jauh beda. Tidak terlalu sulit, bahkan cenderung menutup mata, sekejap selesai juga. (Ah, tinggal kukerat otot yang melekat di hasta tulang dia.)
Liurku mengalir, menahan ingin, juga dingin. Begitu gempal daging terlepas, segera kulahap. Taring kanan, menyobek keratan yang tak berat. Kukunyah pelan. Seperti tak mau lumat, langsung kutelan; bulan pun benderang sudah di pertengahan jalan, bersaput kelabu arak awan.
Tak puas hanya yang kanan, aku pindah ke kiri. Tak puas hanya tangan, aku pindah mengerat kaki. Puas kudagingi tangan, kaki; aku beralih ke bagian muka. Ingin kukuliti!
Bilah belati kuarahkan menyayat, bermula di sudut kening kiri. Gesek belati tak berbunyi mengikut rangka tulang dahi. Sampai dipertengahan, aku berhenti. Saatnya membelah vertikal, aku mengucap dalam hati.
Ujung teruncing belati pun berpindah haluan. Menuruni tengah kening, menyusuri lekuk hidung dan bibir, berakhir di belahan kurva dagu tumpul. Aku berhenti sejenak, menarik nafas seraya memperhatikan hasil kerja yang kubuat.
(Alangkah bagus bila kembali ke kening kiri.)
Aku pun melanjut laju belati ke sudut kening kiri. Mengikut rangka pipi, pelipis, juga memotong sedikit alis, hingga sampai di tujuan akhir. Pojok kening kiri, tempat bermula aksi.
Dari celah sayat, runcing belati kumasukkan. Tetesan darah tak lagi kuhiraukan, sebab muncrat darah sudah tak kuanggap luar biasa. Kuiris lancar belahan kulit wajah, hingga terlepas dan aku tertawa.
Seakan tertampar, aku terdiam. Aku merasa diri diintai. Seribu pasang mata memasung jasad. Kutolehkan pandang kebelakang, ramai orang-orang berdiri di trotoar jalan. Ada yang bergetar bibir, ada yang menutup muka, ada pula yang muntah.
Aku teriak bertanya: Ada apa. Lalu, tertawa. (Ah, bikin orang susah saja.)
Tak kuhiraukan mereka, aku melanjutkan usaha mencipta maha karya.
Tangan sudah kudagingi, muka sudak kukuliti. Mungkin, tinggal sedikit sentuhan akhir, bakal jadi instalasi histeri. Ya, tinggal kubelah saja perutnya, seperti rangkai dua jendela membuka. Masih dengan belati yang tak kenal letih, mulai kutikam kedalam perut tambun si kepala botak. Dari pusar, kubelah kasar, mengarah ke rangka tulang dada. Belahan vertikal usai sudah. Tinggal yang horisontal, dengan tengah tepat di pusar, ibarat memotong bolu buatan ibu.
Lipatan koyak, kubuka. Aih, usus, hati, lambungnya kuangkat keluar, hingga memburai serak. (Ya, sekarang selesai sudah! Tinggal termenung, mengingat apa yang telah.)
***
Sebenarnya, ia hanya ingin bercerita tentang kejadian lima hari yang lalu. Tapi, entah kenapa aku merasa bosan mendengarkannya. Ia hanya membaca barisan abjad yang telah tersusun manis di berlembar-lembar kertas berwarna merah agak muda.
Tiga pria dan satu wanita--keempatnya mengenakan pakaian wisuda--bergantian membaca tiga puluh tiga lembar kertas tersusun. Saat mereka membaca perlahan, kadang sembari menelan liur, aku hanya menunduk. Suara mereka yang keras, tegas, juga gemetar kudengar datang dari sisi kanan.
Tiba-tiba, usai mereka membaca, seseorang yang duduk di panggung berjarak tiga meter dari tempat aku duduk bertanya. "Anda mengerti, apa isi dakwaan jaksa?" Aku jawab, "Apa?"
Lelaki yang mengenakan toga merah dan hitam ini naik pitam. Jelas kudengar nada suaranya berubah. "Saya tanya, apakah anda mengerti isi dakwaan jaksa?" katanya dengan urat-urat leher yang mengencang keras dan jelas. Jawabanku pun masih sama, "Apa, Pak Hakim?"
"Saya tanya, apakah saudara terdakwa mengetahui isi dakwaan jaksa yang baru dibacakan tadi?"
Dan, jawabanku pun tetap sama. "Maksudnya, gimana Pak?"
"Anda jangan bermain-main. Tadi jaksa membacakan dakwaan terhadap Anda. Anda mengerti tidak isinya?" Kali ini, bukan hanya urat leher saja yang menegang. Matanya juga membelalak. Mulutnya menganga, mengeja tiap suku kata.
Aku hanya menunduk. "Ya, Pak Hakim. Saya usahakan untuk mengerti. Saya bolehkan minta kopi-an surat dakwaan, biar bisa saya baca lebih seksama nanti di penjara."
Hakim Ketua yang bernama entah siapa itu hanya bisa meraung. "Anda sudah berlaku kurang ajar. Anda didakwa melanggar paaaa....ssalll.ll..lll......"
Aku tak ingat ia menyebut apa selanjutnya. Cuma, setelah ia berteriak seakan mau diperkosa lima puluh enam setan-setan neraka betina, aku menggangguk. Bukan hendak menyatakan aku mengerti atau memahami. Tak lain karena, hanya tindakan itulah yang ia harapkan.
"OK! Kalau begitu, persidangan akan dilanjutkan pekan mendatang, dengan agenda pembacaan eksepsi."
Usai memutuskan, ia pun mengetuk palu satu kali. Dan, aku berdiri, lalu meninggalkan kursi duduk yang terasa nikmat itu. Dua polisi bersenjata mendatangiku, mengiringi aku selama perjalanan menuju ruang tahanan pengadilan, di belakang, tepat bersebelahan dengan kamar kecil untuk buang air besar juga kecil seluas tiga kali empat meter.
Dini, Si Kelinci
Kemarin sore, seorang gadis cilik berusia sekitar empat tahun, memasuki Pusat Informasi Hall A Jakarta International Expo, dengan mata sembab sembari terisak menangis.
Aku melihatnya seperti seekor kelinci berbulu putih, berusia sembilan belas hari. Ya, seekor kelinci yang berhasil bermetamorphosis menjadi sosok anak perempuan mungil; bulu-bulunya berubah menjadi kuning langsat keemasan, telinga berdiri mendadak berevolusi menjadi sepasang kuncir ekor kuda, juga indra pengendus yang kerap berembus kembang kempis setiap detik menjadi bangir mancung bercampur rona merah karena mengisak air mata.
Ia bernama, Dini Gitariyani.
Gadis cilik ber-tank top kuning cerah dan bercelana jeans biru berlamur putih itu datang bersama seorang polisi, Ajun Komisaris Polisi Arnuar Ristioan. Ia seperti beruang, berbulu coklat kasar dan tambun besar. Jalannya perlahan sambil bergoyang seakan hendak menggoyang bumi dengan tiap hentak langkah yang ia perbuat. Tampak cakar-cakar tersembul dari rimbun bulu-bulu di sekitar lengan juga tungkai kaki. Kepalanya terusnya menoleh ke kanan-kiri, layaknya ia mendengar sayup riak sungai berair jernih dan berpikir: ah, pasti sekarng ada ikan salmon yang mencari ruang melepas telur.
Arnuar bertemu Dini di Hall A3, Jakarta Fair 2005, saat kelinci sembilan belas hari itu sedang bersedih hati, "Papa...., mama....," suara batin yang tertangkap beruang coklat dipertengahan usia panjang.
“Waktu saya lihat, dia udah nangis, seperti kehilangan orang tua,” jelas beruang, perlahan-lahan kalimat tertutur, kental bas, pada petugas informasi yang berstelan blazer pekat dipadu pakaian menyerupai kaos, warna pink, bertanya, gimana ceritanya. Aih, petugas ini seperti putri duyung. Langsing tubuh mendadak berubah wujud menjadi berbentuk tubuh ikan duyung yang selalu menjadi mangsa anjing laut. Tiap rambutnya tergerai gerak tubuh yang ringkas, seakan kulihat kepak ekor yang mengatur irama berlabuh dalam kedalaman laut.
Putri duyung itu pun beralih tanya kepada kelinci, ia mendekatkan mulutnya hingga misai menyentuh telinga panjang kelinci sembilan hari itu. Singkat, "Tinggal dimana?" Dini si kelinci menjawab, "Dekat rumah Rasip," sambil mengeraskan volume tangis.
Aih, sepertinya yang bernama Rasip ini adalah buaya. Aku membayangkan tubuh yang penuh totol kotak-kotak, kulit yang keras, juga rahang yang sedang menggangga. Ah, pasti Rasip sekarang sedang berjemur di pinggiran delta, di sungai dekat rumah si kelinci.
Putri duyung bernama Alini, pun segera mengabarkan perihal Dini melalui mikropon. Sambil memegang rambut seuntai rambut yang akan ia selipkan di belakang telinga kanan, ia menyeru merdu, "Diketemukan seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun, menyerupai kelinci."
Enam menit berlalu, seekor harimau datang masuk tergopoh-gopoh. Dengan napas menderu ia bertanya, "Mana kelinci itu," ujarnya sambil menapakkan lengan kanan; sementara yang kiri berkacak pinggang, dengan suara mega power bas 350 volt, tepat di depan putri duyung Alini.
Sontak kelinci teriak, “Pa..pa..,” dan langsung turun dari kursi menuju pintu keluar Pusat Informasi, mengejar si harimau.
Si harimau berbelang kuning hitam, Gerdi, langsung berlari menggunakan keempat kaki. Saat berjumpa kelinci, ia berdiri, memeluk lalu menggendong Dini. Tangis kelinci Dini pun berhenti, saat Gerdi memberinya sebatang coklat terbungkus alumnium foil yang ia keluarkan dari saku kanan.
Usai tangis kelinci mereda, karena elusan cakar pada kepala kelinci Dini, Gerdi mengurus permasalahan administratif dengan putri duyung. Akhirnya, semua muka; kelinci, beruang, putri duyung dan harimau mengalirkan rona lega pada wajah.
Aku melihatnya seperti seekor kelinci berbulu putih, berusia sembilan belas hari. Ya, seekor kelinci yang berhasil bermetamorphosis menjadi sosok anak perempuan mungil; bulu-bulunya berubah menjadi kuning langsat keemasan, telinga berdiri mendadak berevolusi menjadi sepasang kuncir ekor kuda, juga indra pengendus yang kerap berembus kembang kempis setiap detik menjadi bangir mancung bercampur rona merah karena mengisak air mata.
Ia bernama, Dini Gitariyani.
Gadis cilik ber-tank top kuning cerah dan bercelana jeans biru berlamur putih itu datang bersama seorang polisi, Ajun Komisaris Polisi Arnuar Ristioan. Ia seperti beruang, berbulu coklat kasar dan tambun besar. Jalannya perlahan sambil bergoyang seakan hendak menggoyang bumi dengan tiap hentak langkah yang ia perbuat. Tampak cakar-cakar tersembul dari rimbun bulu-bulu di sekitar lengan juga tungkai kaki. Kepalanya terusnya menoleh ke kanan-kiri, layaknya ia mendengar sayup riak sungai berair jernih dan berpikir: ah, pasti sekarng ada ikan salmon yang mencari ruang melepas telur.
Arnuar bertemu Dini di Hall A3, Jakarta Fair 2005, saat kelinci sembilan belas hari itu sedang bersedih hati, "Papa...., mama....," suara batin yang tertangkap beruang coklat dipertengahan usia panjang.
“Waktu saya lihat, dia udah nangis, seperti kehilangan orang tua,” jelas beruang, perlahan-lahan kalimat tertutur, kental bas, pada petugas informasi yang berstelan blazer pekat dipadu pakaian menyerupai kaos, warna pink, bertanya, gimana ceritanya. Aih, petugas ini seperti putri duyung. Langsing tubuh mendadak berubah wujud menjadi berbentuk tubuh ikan duyung yang selalu menjadi mangsa anjing laut. Tiap rambutnya tergerai gerak tubuh yang ringkas, seakan kulihat kepak ekor yang mengatur irama berlabuh dalam kedalaman laut.
Putri duyung itu pun beralih tanya kepada kelinci, ia mendekatkan mulutnya hingga misai menyentuh telinga panjang kelinci sembilan hari itu. Singkat, "Tinggal dimana?" Dini si kelinci menjawab, "Dekat rumah Rasip," sambil mengeraskan volume tangis.
Aih, sepertinya yang bernama Rasip ini adalah buaya. Aku membayangkan tubuh yang penuh totol kotak-kotak, kulit yang keras, juga rahang yang sedang menggangga. Ah, pasti Rasip sekarang sedang berjemur di pinggiran delta, di sungai dekat rumah si kelinci.
Putri duyung bernama Alini, pun segera mengabarkan perihal Dini melalui mikropon. Sambil memegang rambut seuntai rambut yang akan ia selipkan di belakang telinga kanan, ia menyeru merdu, "Diketemukan seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun, menyerupai kelinci."
Enam menit berlalu, seekor harimau datang masuk tergopoh-gopoh. Dengan napas menderu ia bertanya, "Mana kelinci itu," ujarnya sambil menapakkan lengan kanan; sementara yang kiri berkacak pinggang, dengan suara mega power bas 350 volt, tepat di depan putri duyung Alini.
Sontak kelinci teriak, “Pa..pa..,” dan langsung turun dari kursi menuju pintu keluar Pusat Informasi, mengejar si harimau.
Si harimau berbelang kuning hitam, Gerdi, langsung berlari menggunakan keempat kaki. Saat berjumpa kelinci, ia berdiri, memeluk lalu menggendong Dini. Tangis kelinci Dini pun berhenti, saat Gerdi memberinya sebatang coklat terbungkus alumnium foil yang ia keluarkan dari saku kanan.
Usai tangis kelinci mereda, karena elusan cakar pada kepala kelinci Dini, Gerdi mengurus permasalahan administratif dengan putri duyung. Akhirnya, semua muka; kelinci, beruang, putri duyung dan harimau mengalirkan rona lega pada wajah.
MONOLOG SANTUN
For now, at least,
if an error is to be made,
let it be made for the sake of mercy.
-W R S -
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini perkenalan pertama, tapi saya enggan memberikan nama. Suatu ketika, pernah kudengar ada yang berbicara, "What's a name?"--cukupkah alasan itu bagimu? Jika saja aku mampu bertukar mental denganmu, mungkin; seperti seekor simpanse bernama Atlanta bersikap terhadap sobat Mia yang melahirkan dalam penelitian Frans De Wall-- entah dalam buku apa pernah kubaca, bisa jadi aku hanya melihat sobekan koran, lalu kuberi impuls imaji, dan muncullah nama-nama itu: Frans De Wall, Atalanta dan Mia;; tapi yang lebih penting kurasa engkau mengerti. Aku tidak mahir bertukar mental.
Aku harap jangan pula kau pasang tampang berlipat lima, ibarat manggis jatuh dipekarangan rumah sewaktu kemarau panjang singgah, aih dapatkahy terbayang kerut merut jaringan epidermisnya yang berwarna coklat gelap kehitaman dengan sedikit merah serta kuning yang mencoba merebut tempat di retina?
O, tunggu sebentar. Aku ingat siapa yang berkata, "What's a name?" Kalau tak salah ia lahir di Inggris, kalau tidak salah (sekali lagi) ia lahir sekitar abad ke-15, kalau tak salah (sungguh aku minta sekali lagi) di Stratford, dan kalau tak salah (ampun, kalau kalian tak maafkan sungguh kurang ajar, sekali lagi) tanggal lahirnya tak jelas, tapi ia dibaptis sekitar bulan April, berbeda hitungan jari dengan hari kelahiran aku yang palsu (apakah aku lahir setelah sperma dan ovum bertemu di kantung rahim--beberapa menit atau detik setelah persenggamaan, atau setelah sembilan bulan sepuluh hari pertemuan itu yang menyebabkan aku membuat seorang perempuan berteriak, entah karena kesakitan atau hendak berjumpa kematian; padahal ia belum rela meninggalkan dunia?), dan kalau tak salah (untuk kali ini, aku tidak meminta maaf, ampun. Sungguh, terserah kalian mau berhenti mendengar, lebih tepatnya membaca. Aku persilahkan, sebab menyesal hanya pantas melekat di aku, bukan kau, eh... maksudku kalian. Dan, ini hanya perkara berpikirku yang tak jelas, tak sadar. Terserah, aku mau melanjutkan pikiran samar yang aku sendiri tidak tahu bakal berujung kemana?) kalimat itu merupakan bagian dari dialog panjang yang berhasilkan difilmkan; filmnya..., itu aku lupa, tapi seperti biasa itu berasal dari pusat perfilman dunia, namanya Kayu Suci.
Ah, aku ingat sedikit, film itu sempat aku tonton di bioskop kelas 21, sewaktu Sekolah Menengah Umum, 1996; ya, aku menonton film itu tak bayar sepeser pun, hanya perlu kesabaran menunggu, lalu setelah film dimulai sekitar lima menit hingga sepuluh menit, aku pun bisa masuk bersama dua temanku, dan duduk menikmati sajian dari aktor yang bernama menyerupai seorang pelukis-cum-pematung-cum-arsitek-cum-insinyur-cum-matematikawan-cum-filosof (alamak, sudah pasti orang kumaksud ini genius kali, setidaknya bagiku), yang berakhir pada kematian; kalau aku tak salah, seorang penyair sempat mengabadikannya dalam sebuah sajak yang aku pun tak ingat berjudul apa, hanya satu kata saja aku ingat terang: membabibuta; ya...
antara penanya dan yang ditanya itu akhirnya mati! Ha...ha.ha...ha.., hanya karena persoalan keluarga, aih kenapa aku bisa teringat inti masalah itu, aih kurang ajar benar pikiran ini, ketika aku bersenang, bahagia, segala bisa ternalar dengan mudah, pfuh aku coba teruskan, keluarganya terpecah, lalu ada pesta, lalu datang, bertemu, lalu bercinta! Ha..,...,, haha.,.,haha, hingga akhirnya mereka mati berdua atas keputusan yang tak jelas gunanya!
Hei, tunggu dulu, bukankah film itu ditutup dengan air mata?
Satu lagi, aku harap kau jujur menjawab. Namaku, memang tak bergunakan. Maaf, aku mengecewakanmu, sudah capai kau dengar aku berkomentar panjang lebar hingga merambah jadi tak jelas; aku pikir kau pun tak sampai ke titik akhir ini! Ah,
Lampu yang padam, hanya meninggalkan bayangan kursi kosong jadi gosong didalam angan. Aku pun tetap terdiam dalam gelap mengutip pecahan terang yang mungkin saja belum beranjak jalan. Sesudahnya, baru aku melangkah, tinggalkan ruang; tapi aku tak tahu, entah kapan.
if an error is to be made,
let it be made for the sake of mercy.
-W R S -
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini perkenalan pertama, tapi saya enggan memberikan nama. Suatu ketika, pernah kudengar ada yang berbicara, "What's a name?"--cukupkah alasan itu bagimu? Jika saja aku mampu bertukar mental denganmu, mungkin; seperti seekor simpanse bernama Atlanta bersikap terhadap sobat Mia yang melahirkan dalam penelitian Frans De Wall-- entah dalam buku apa pernah kubaca, bisa jadi aku hanya melihat sobekan koran, lalu kuberi impuls imaji, dan muncullah nama-nama itu: Frans De Wall, Atalanta dan Mia;; tapi yang lebih penting kurasa engkau mengerti. Aku tidak mahir bertukar mental.
Aku harap jangan pula kau pasang tampang berlipat lima, ibarat manggis jatuh dipekarangan rumah sewaktu kemarau panjang singgah, aih dapatkahy terbayang kerut merut jaringan epidermisnya yang berwarna coklat gelap kehitaman dengan sedikit merah serta kuning yang mencoba merebut tempat di retina?
O, tunggu sebentar. Aku ingat siapa yang berkata, "What's a name?" Kalau tak salah ia lahir di Inggris, kalau tidak salah (sekali lagi) ia lahir sekitar abad ke-15, kalau tak salah (sungguh aku minta sekali lagi) di Stratford, dan kalau tak salah (ampun, kalau kalian tak maafkan sungguh kurang ajar, sekali lagi) tanggal lahirnya tak jelas, tapi ia dibaptis sekitar bulan April, berbeda hitungan jari dengan hari kelahiran aku yang palsu (apakah aku lahir setelah sperma dan ovum bertemu di kantung rahim--beberapa menit atau detik setelah persenggamaan, atau setelah sembilan bulan sepuluh hari pertemuan itu yang menyebabkan aku membuat seorang perempuan berteriak, entah karena kesakitan atau hendak berjumpa kematian; padahal ia belum rela meninggalkan dunia?), dan kalau tak salah (untuk kali ini, aku tidak meminta maaf, ampun. Sungguh, terserah kalian mau berhenti mendengar, lebih tepatnya membaca. Aku persilahkan, sebab menyesal hanya pantas melekat di aku, bukan kau, eh... maksudku kalian. Dan, ini hanya perkara berpikirku yang tak jelas, tak sadar. Terserah, aku mau melanjutkan pikiran samar yang aku sendiri tidak tahu bakal berujung kemana?) kalimat itu merupakan bagian dari dialog panjang yang berhasilkan difilmkan; filmnya..., itu aku lupa, tapi seperti biasa itu berasal dari pusat perfilman dunia, namanya Kayu Suci.
Ah, aku ingat sedikit, film itu sempat aku tonton di bioskop kelas 21, sewaktu Sekolah Menengah Umum, 1996; ya, aku menonton film itu tak bayar sepeser pun, hanya perlu kesabaran menunggu, lalu setelah film dimulai sekitar lima menit hingga sepuluh menit, aku pun bisa masuk bersama dua temanku, dan duduk menikmati sajian dari aktor yang bernama menyerupai seorang pelukis-cum-pematung-cum-arsitek-cum-insinyur-cum-matematikawan-cum-filosof (alamak, sudah pasti orang kumaksud ini genius kali, setidaknya bagiku), yang berakhir pada kematian; kalau aku tak salah, seorang penyair sempat mengabadikannya dalam sebuah sajak yang aku pun tak ingat berjudul apa, hanya satu kata saja aku ingat terang: membabibuta; ya...
antara penanya dan yang ditanya itu akhirnya mati! Ha...ha.ha...ha.., hanya karena persoalan keluarga, aih kenapa aku bisa teringat inti masalah itu, aih kurang ajar benar pikiran ini, ketika aku bersenang, bahagia, segala bisa ternalar dengan mudah, pfuh aku coba teruskan, keluarganya terpecah, lalu ada pesta, lalu datang, bertemu, lalu bercinta! Ha..,...,, haha.,.,haha, hingga akhirnya mereka mati berdua atas keputusan yang tak jelas gunanya!
Hei, tunggu dulu, bukankah film itu ditutup dengan air mata?
Satu lagi, aku harap kau jujur menjawab. Namaku, memang tak bergunakan. Maaf, aku mengecewakanmu, sudah capai kau dengar aku berkomentar panjang lebar hingga merambah jadi tak jelas; aku pikir kau pun tak sampai ke titik akhir ini! Ah,
Lampu yang padam, hanya meninggalkan bayangan kursi kosong jadi gosong didalam angan. Aku pun tetap terdiam dalam gelap mengutip pecahan terang yang mungkin saja belum beranjak jalan. Sesudahnya, baru aku melangkah, tinggalkan ruang; tapi aku tak tahu, entah kapan.
- -
It's never wrong to ask questions,
because in the land of the blind,
the one-eyed man is king.
- W R S -
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Perkenalan aku dengan sajak ini tak sengaja. Saat itu, aku sedang duduk berdiam dipinggiran oase Biru, 2 kilometer ke arah utara perkampungan penduduk terdekat, Kampung Biru.
Pertama sampai, mataku langsung akrab pendaran warna coklat dari berbagai varian gradasi yang mungkin terjadi, ketika siang hari. Di lokasi terasing dari ranah asalku berawal, aku pun berkehendak mencari tahu. Ini kampung apa.
Pernah aku teriak bertanya, ini kampung apa, sewaktu pertama aku berjumpa manusia penghuni daerah 'antah berantah' ini. Aku pun mendapat jawab yang tidak memuaskan. "Aku tidak tahu," singkat jawab seorang perempuan sambil menoleh berbalik arah; dan hanya rambutnya saja jelas kuingat; panjang melintasi leher jenjang, berkibar tersiram ringan riak angin, biru.
Aku berjalan sendiri. Menahan dingin, juga desir angin. Sambil tertunduk, mataku merujuk jejak sepasang tapak kaki yang selalu saja tak pernah lengkap kulihat. Kadang, tumit telah hilang. Kadang ibu jari sudah tak ada. Bahkan, hanya kelingking saja yang sisa. Hingga, suatu ketika tidak ada jejak tersisa.
Aku berdiri. Memutar pandang. Memutar tubuh. Delapan mata angin kutentang. Bayu rupanya, menderas. Aku pun masih berdiri. Merentang dua tangan, hendak bersayap. Memutar pandang. Memutar arah badan. Aku masih berdiri, sambil menengadahkan kepala. Kurasakan suara angin menyisir di dua liang telinga beranting liontin bunga. Aku masih berdiri, berputar dan pejamkan mata. Retina aku akrab dengan gelap. Kuhirup dalam udara seakan mencoba menyesakkan batu ke rongga dada. Tak terasa, aku pun terperangkap waktu purnama diatas kepala, saat kubuka mata. Entah sudah berapa lama aku berlaku demikian, tak jelas.
Perlahan, kurendahkan kepala di titik normal, kuhadapkan mata, tepat ke depan. Dan, lima detik kemudian, samar kulihat hilang menyebar. Sebuah oase, ditimpa kerlip bintang yang menyelinap diantara celah-celah dedaunan pohon menyerupai kelapa. Aku melangkah maju, menuju oase itu.
Sesampainya di oase, aku terkejut mendengar isak tangis. Perempuan. Ah, haruskah aku bertanya kenapa, atau ada apa. Dan, entah mengapa perkataan yang keluar justru tawaran. "Bisa saya bantu?"
Tangis terhenti. Aku mendekat sambil melihat sesuatu benda di sepasang telapak tangan tengadah menyatu, tampak asing bagiku. Nalarku bekerja cepat, mencerna: akan kuasosiasikan bentuk apa benda itu. Ah, aku teringat. Bentuk terdekat, barangkali, elips. Meskipun tidak tepat, aku puas. Aku mendekat, memperjelas.
Ah, hatiku lega. Tebakan aku tepat. Benda itu elips. Kutanya kepada perempuan itu, pertanyaan singkat, apakah itu sepasang matamu. "Aku tidak tahu," jawab perempuan itu, lalu berdiri. Ia melemparkan benda yang kuduga sepasang mata itu ke tengah oase--berbalik, berlari.
Aku menatap pana, ... teriak, "Kenapa?"
because in the land of the blind,
the one-eyed man is king.
- W R S -
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Perkenalan aku dengan sajak ini tak sengaja. Saat itu, aku sedang duduk berdiam dipinggiran oase Biru, 2 kilometer ke arah utara perkampungan penduduk terdekat, Kampung Biru.
Pertama sampai, mataku langsung akrab pendaran warna coklat dari berbagai varian gradasi yang mungkin terjadi, ketika siang hari. Di lokasi terasing dari ranah asalku berawal, aku pun berkehendak mencari tahu. Ini kampung apa.
Pernah aku teriak bertanya, ini kampung apa, sewaktu pertama aku berjumpa manusia penghuni daerah 'antah berantah' ini. Aku pun mendapat jawab yang tidak memuaskan. "Aku tidak tahu," singkat jawab seorang perempuan sambil menoleh berbalik arah; dan hanya rambutnya saja jelas kuingat; panjang melintasi leher jenjang, berkibar tersiram ringan riak angin, biru.
Aku berjalan sendiri. Menahan dingin, juga desir angin. Sambil tertunduk, mataku merujuk jejak sepasang tapak kaki yang selalu saja tak pernah lengkap kulihat. Kadang, tumit telah hilang. Kadang ibu jari sudah tak ada. Bahkan, hanya kelingking saja yang sisa. Hingga, suatu ketika tidak ada jejak tersisa.
Aku berdiri. Memutar pandang. Memutar tubuh. Delapan mata angin kutentang. Bayu rupanya, menderas. Aku pun masih berdiri. Merentang dua tangan, hendak bersayap. Memutar pandang. Memutar arah badan. Aku masih berdiri, sambil menengadahkan kepala. Kurasakan suara angin menyisir di dua liang telinga beranting liontin bunga. Aku masih berdiri, berputar dan pejamkan mata. Retina aku akrab dengan gelap. Kuhirup dalam udara seakan mencoba menyesakkan batu ke rongga dada. Tak terasa, aku pun terperangkap waktu purnama diatas kepala, saat kubuka mata. Entah sudah berapa lama aku berlaku demikian, tak jelas.
Perlahan, kurendahkan kepala di titik normal, kuhadapkan mata, tepat ke depan. Dan, lima detik kemudian, samar kulihat hilang menyebar. Sebuah oase, ditimpa kerlip bintang yang menyelinap diantara celah-celah dedaunan pohon menyerupai kelapa. Aku melangkah maju, menuju oase itu.
Sesampainya di oase, aku terkejut mendengar isak tangis. Perempuan. Ah, haruskah aku bertanya kenapa, atau ada apa. Dan, entah mengapa perkataan yang keluar justru tawaran. "Bisa saya bantu?"
Tangis terhenti. Aku mendekat sambil melihat sesuatu benda di sepasang telapak tangan tengadah menyatu, tampak asing bagiku. Nalarku bekerja cepat, mencerna: akan kuasosiasikan bentuk apa benda itu. Ah, aku teringat. Bentuk terdekat, barangkali, elips. Meskipun tidak tepat, aku puas. Aku mendekat, memperjelas.
Ah, hatiku lega. Tebakan aku tepat. Benda itu elips. Kutanya kepada perempuan itu, pertanyaan singkat, apakah itu sepasang matamu. "Aku tidak tahu," jawab perempuan itu, lalu berdiri. Ia melemparkan benda yang kuduga sepasang mata itu ke tengah oase--berbalik, berlari.
Aku menatap pana, ... teriak, "Kenapa?"
Ketika Teror Ketahuan, 18 Akhir 25
12.03, Kantor Pusat Lokalisasi Polisi-Polisi, menjelang santap siang.
Seorang pemuda, tinggi, tegap, brewokan, berhidung besar dan lebar, ceruk mata dalam hingga sorot tampak tajam, beralis hitam amat tebal, bertopi pink muda 'PEACE-lah', menyandang ransel terbitan home industri out door pertama, berjaket bahan kain katun polos hijau kelon berlapis parasut dibaliknya, bersepatu boot hitam setinggi satu inchi di atas mata kaki penuh bercak lumpur dari sol hingga plafon dengan tali sepatu yang lepas menjalar-jalar layaknya cacing tanah yang dilempar ke piring keramik, mengenakan cincin perak berukiran merak yang sedang mengangakan ekor-ekor terindah, celana jeans coklat kumal bercampur debu seperti sudah lima belas hari tidak dicuci, jenggot yang tak terawat meranggas sesuka akar dibawah dagu berlapis kulit berkerak rusak, bekas luka sayat pada kening agak kanan, berjerawat batu. Jalan menuju gardu.
Seorang polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah, bertubuh gempal padat, kulit putih mulus, mata sipit, bibir tipis, sedang makan nasi kotak dengan paduan rendang sapi, daun singkong rebus, sesendok sambel cabe hijau digabung rawit, kepulan nasi empuk dan panas, sayur nangka muda, berkuah santan kelapa muda enam buah dengan air cuma satu setengah liter, irisan mentimun tomat dan daun selada hijau segar dan besar-besar. Mau kemana, tanyanya sambil memiringkan kepala seakan hendak memandang matahari yang bersinar diatas kepala dengan mata yang lebih menyipit lagi dari posisi normal dan tangan yang menyendok segenggam nasi putih yang sudah bercampur kuah santan enam kelapa serta bumbu rendang yang terlihat seperti pecahan-pecahan liat kering yang padat dan lembab.
"Mau jumpa Lokal Satu, Dan!"
Pemuda itu pun digeledah. Tas dibuka, jaket dibuka, sepatu boot dibuka, baju dibuka, topi dibuka, jenggot dibuka, cincin dibuka, ceruk mata dibuka, hidung dibuka, kaos dalam dibuka, alis dibuka, celana dalam dibuka, tali sepatu dibuka, luka sayat dibuka, jerawat dibuka, tinggi dibuka, tegap pun dibuka.
"OK, silahkan masuk."
Usai digeledah, pemuda itu mengelus-elus dada sekaligus menarik nafas panjang melalui hidung yang hilang bentuk besar dan lebar dan merekalah sesungging senyum kalahkan bibir tipis milik polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah, lalu menghembuskan nafas perlahan-lahan, makin cepat, makin makin cepat, sangat lekas ia habiskan seluruh udara dalam rongga dada, dan ia pun kembali mengenakan segala yang dibuka satu-persatu di depan polisi yang sedang melanjutkan santap siang dengan agak sedikit membungkuk di depan meja piket coklat.
Pemuda itu pun melangkah masuk ke dalam kantor. Polisi itu pun hampir menyelesaikan makan, sekitar sembilan puluh delapan kunyahan, tuntas sudah itu makanan.
EMPAT RATUS LIMA PULUH ENAM MILYAR TUJUH RATUS TIGA PULUH TIGA JUTA DUA RATUS ENAM BELAS RIBU LIMA PULUH SATU SUARA PETASAN BERKUMPUL SEKALI LETUS MENGEPUL DARI RUMAH UTAMA KANTOR PUSAT LOKALISASI POLISI-POLISI, pukul 13.00.
"Ha...ha...ha... Kau pikir aku tak tau. Tai!" Polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah terpingkal-pingkal, memukul-mukul perutnya yang tak gendut hingga ia pun terbungkuk-bungkuk sambil menghentak-hentakkan kaki bergantian, kanan-kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan, setengah berloncat-loncat ia pukul lagi perutnya, sembari membanting-banting topi kepolisian ke abu-abu cone block, ia pungut lagi, banting lagi, pungut lagi, terus begitulah ia berlaku sambil meloncat-loncat cepat kadang hampir menyerupai kilat, di samping tong sampah sekitar dua ratus meter dari rumah utama, Komandan Lokal Satu.
Tiba-tiba, bahu kanan ia ditepuk dari belakang. Sontak, ia menoleh. Terdiam. Bibir mengatup rapat dan bergetar sebab dagu sudah kehilangan mantap, alis mata mulai mengkerut maka penuh kecutlah ia punya muka, tangan gemetar, kaki bergoyang, kedua lutut sudah bersinggungan, ia pun sudah ngelengas-ngelengos tak mampu menahan diri, seluruh isi perut sudah tumpah ke tumit kaki, organ jantung dan paru-paru sudah jatuh di kantong kemih, ia bernafas patah-patah karena vibrator tubuh yang berguncang hebat.
Sepotong tangan bercincin perak dengan ukiran cincin perak berukiran merak yang lagi membentangkan buntut belakang mekar seperti bunga yang merekah tertimpa sinar matahari pagi perdana (eh... kaya iklan euy --> biar ga terlalu serius ngebacanya.., bole' kan) mengapit secarik kertas ukuran block note para wartawan yang penuh bercak-bercak darah terselip dijepit jemari tangan yang tak lengkap, entah antara kelingking dan manis, manis dengan tengah, tengah telunjuk, telunjuk kelingking, ibu jari manis,tengah jempol, manis telunjuk, kelingking tengah, mungkin kelingking ibu. Isinya: KOK, BISA TAU SIH!!!
Seorang pemuda, tinggi, tegap, brewokan, berhidung besar dan lebar, ceruk mata dalam hingga sorot tampak tajam, beralis hitam amat tebal, bertopi pink muda 'PEACE-lah', menyandang ransel terbitan home industri out door pertama, berjaket bahan kain katun polos hijau kelon berlapis parasut dibaliknya, bersepatu boot hitam setinggi satu inchi di atas mata kaki penuh bercak lumpur dari sol hingga plafon dengan tali sepatu yang lepas menjalar-jalar layaknya cacing tanah yang dilempar ke piring keramik, mengenakan cincin perak berukiran merak yang sedang mengangakan ekor-ekor terindah, celana jeans coklat kumal bercampur debu seperti sudah lima belas hari tidak dicuci, jenggot yang tak terawat meranggas sesuka akar dibawah dagu berlapis kulit berkerak rusak, bekas luka sayat pada kening agak kanan, berjerawat batu. Jalan menuju gardu.
Seorang polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah, bertubuh gempal padat, kulit putih mulus, mata sipit, bibir tipis, sedang makan nasi kotak dengan paduan rendang sapi, daun singkong rebus, sesendok sambel cabe hijau digabung rawit, kepulan nasi empuk dan panas, sayur nangka muda, berkuah santan kelapa muda enam buah dengan air cuma satu setengah liter, irisan mentimun tomat dan daun selada hijau segar dan besar-besar. Mau kemana, tanyanya sambil memiringkan kepala seakan hendak memandang matahari yang bersinar diatas kepala dengan mata yang lebih menyipit lagi dari posisi normal dan tangan yang menyendok segenggam nasi putih yang sudah bercampur kuah santan enam kelapa serta bumbu rendang yang terlihat seperti pecahan-pecahan liat kering yang padat dan lembab.
"Mau jumpa Lokal Satu, Dan!"
Pemuda itu pun digeledah. Tas dibuka, jaket dibuka, sepatu boot dibuka, baju dibuka, topi dibuka, jenggot dibuka, cincin dibuka, ceruk mata dibuka, hidung dibuka, kaos dalam dibuka, alis dibuka, celana dalam dibuka, tali sepatu dibuka, luka sayat dibuka, jerawat dibuka, tinggi dibuka, tegap pun dibuka.
"OK, silahkan masuk."
Usai digeledah, pemuda itu mengelus-elus dada sekaligus menarik nafas panjang melalui hidung yang hilang bentuk besar dan lebar dan merekalah sesungging senyum kalahkan bibir tipis milik polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah, lalu menghembuskan nafas perlahan-lahan, makin cepat, makin makin cepat, sangat lekas ia habiskan seluruh udara dalam rongga dada, dan ia pun kembali mengenakan segala yang dibuka satu-persatu di depan polisi yang sedang melanjutkan santap siang dengan agak sedikit membungkuk di depan meja piket coklat.
Pemuda itu pun melangkah masuk ke dalam kantor. Polisi itu pun hampir menyelesaikan makan, sekitar sembilan puluh delapan kunyahan, tuntas sudah itu makanan.
EMPAT RATUS LIMA PULUH ENAM MILYAR TUJUH RATUS TIGA PULUH TIGA JUTA DUA RATUS ENAM BELAS RIBU LIMA PULUH SATU SUARA PETASAN BERKUMPUL SEKALI LETUS MENGEPUL DARI RUMAH UTAMA KANTOR PUSAT LOKALISASI POLISI-POLISI, pukul 13.00.
"Ha...ha...ha... Kau pikir aku tak tau. Tai!" Polisi berpangkat garis bengkok tiga warna merah terpingkal-pingkal, memukul-mukul perutnya yang tak gendut hingga ia pun terbungkuk-bungkuk sambil menghentak-hentakkan kaki bergantian, kanan-kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan, setengah berloncat-loncat ia pukul lagi perutnya, sembari membanting-banting topi kepolisian ke abu-abu cone block, ia pungut lagi, banting lagi, pungut lagi, terus begitulah ia berlaku sambil meloncat-loncat cepat kadang hampir menyerupai kilat, di samping tong sampah sekitar dua ratus meter dari rumah utama, Komandan Lokal Satu.
Tiba-tiba, bahu kanan ia ditepuk dari belakang. Sontak, ia menoleh. Terdiam. Bibir mengatup rapat dan bergetar sebab dagu sudah kehilangan mantap, alis mata mulai mengkerut maka penuh kecutlah ia punya muka, tangan gemetar, kaki bergoyang, kedua lutut sudah bersinggungan, ia pun sudah ngelengas-ngelengos tak mampu menahan diri, seluruh isi perut sudah tumpah ke tumit kaki, organ jantung dan paru-paru sudah jatuh di kantong kemih, ia bernafas patah-patah karena vibrator tubuh yang berguncang hebat.
Sepotong tangan bercincin perak dengan ukiran cincin perak berukiran merak yang lagi membentangkan buntut belakang mekar seperti bunga yang merekah tertimpa sinar matahari pagi perdana (eh... kaya iklan euy --> biar ga terlalu serius ngebacanya.., bole' kan) mengapit secarik kertas ukuran block note para wartawan yang penuh bercak-bercak darah terselip dijepit jemari tangan yang tak lengkap, entah antara kelingking dan manis, manis dengan tengah, tengah telunjuk, telunjuk kelingking, ibu jari manis,tengah jempol, manis telunjuk, kelingking tengah, mungkin kelingking ibu. Isinya: KOK, BISA TAU SIH!!!
VICTOR DJAMI DAN KOTAK P3K *
Dua orang perawat perempuan berbaju biru operasi tampak mengganti pakaian seorang pasien pria yang terbujur kaku di ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), bangsal lima. Di leher si pasien, terpasang alat bantu pernafasan tracheostomi.
Pasien itu, Victor Djami. Mahasiswa Fakultas Sastra UKI, korban penganiyaan Tramtib Kotamadya Jakarta Timur, Selasa (17/5) sore. Akibat penganiayaan, tulang tengkorak Victor remuk. Dan, sejak tanggal itu, pemuda berkulit coklat gelap ini terus mendapat perawatan intensif di ICU.
Ibunda Victor, Ariance Djami, hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Sebelumnya, selama empat hari pasca-pemukulan Viktor, ia menderita depresi berat. "Saya putus asa. Saya pikir Victor pasti ...," ujar Ariance sembari menggelengkan kepala di koridor ICU RS UKI, kemarin.
Seingat perempuan berambut pendek ini, harapan baru timbul usai percakapan singkat dengan tim dokter pimpinan Robert Sinurat, pakar bedah saraf. "Jangan lupa berdoa, Bu. Tetap tabah dan berharap pada Yang Kuasa," tutur Ariance meniru ucapan dokter saat itu.
Victor, anak pertama dari pasangan Nicholas Djami dan Ariance. Ia lahir di Sumba, 31 Oktober. Dua puluh tiga tahun lampau. Pada 1999, Victor menjadi yatim. Ayahnya, meninggal dunia karena stroke. Ariance pun harus berusaha seorang diri menghidupi kebutuhan Victor dan adiknya, Ferdinand Djami, mahasiwa Fakultas Teknik Informatika Universitas Satyawacana, Salatiga.
Sesungguhnya, harapan Ariance bertumpu pada Umbu--sapaan akrab Victor--mengganti peran Nicholas Djami yang sudah 'pergi'. "Umbu 'kan sekarang sudah nyusun skripsi. Tinggal nunggu lulus, lalu dapat kerja," ujar Ariance yang mengenakan blazer biru muda.
Sekarang, harapan itu hanya mampu ia simpan dalam hati. Melalui sentuhan dan genggaman di tangan serta kaki anak pertamanya itulah, Ariance menyampaikan pesan tersebut. "Cepat sembuh. Itu yang selalu saya bisikkan di telinga Umbu, setiap jam bezuk," ungkap perempuan yang sehari-hari berwiraswasta dengan penghasilan tak tetap.
Satu kenangan yang tidak terlupakan bagi perempuan berambut ikal ini, Umbu kerap membawa perlengkapan P3K dalam tas ransel. Kebiasaan itu bermula saat Umbu diterima menjadi anggota Korps Sukarelawan (KSR) UKI, 2000. Bahkan, tak jarang pula Umbu sampai di rumah yang berada Jalan Mangga Blok Y Gang II, Kelurahan Lagoa, Tanjung Priok, dengan pakaian penuh bercak darah. "Viktor habis nolongin orang yang ketabrak," kenang perempuan berkulit putih langsat ini. Paman Umbu, Andreas pun membenarkan. "Victor tak pernah bisa diam bila melihat orang terluka. Kalau melihat ada kecelakaan, sekalipun ia berada didalam bus, ia pasti turun membantu," tutur Andreas.
Prestasi Umbu tidak berhenti sampai disitu. Pasca-tsunami Aceh, Januari 2005, pemuda berdarah Sumba ini terjun ke lokasi sebagai sukarelawan. Ia mewakili UKI dalam tim medis Global Rescue
Aceh. Ariance bilang, "Dua minggu Umbu di Aceh waktu itu." Februari 2005, pria yang kini terbujur kaku di bangsal lima ICU RS UKI berniat kembali ke Aceh. Tapi, Ariance membendung. "Saya nasehatin Umbu biar nylesaiin skripsi dulu. Setelah itu, ia baru boleh pergi," kenang perempuan yang saat itu ditemani kerabat di koridor RS UKI. Dan, Umbu menurut.
Selasa, 17 Mei 2005, pukul 15.40. Bentrokan antara aparat Tramtib dan pedagang serta mahasiswa UKI bermula. Saat itu, Victor hendak pulang ke rumah dan sedang menunggu bus ke Tanjung Priok. Tapi, melihat seorang pedagang kaki lima terluka, niatan pulang batal. Ia berusaha menyelamatkan pedagang yang terluka. Malangnya, saat hendak menolong, Victor terjatuh. Ia pun langsung dianiaya Tramtib. Seorang teman Viktor sempat melihat, Tramtib memukuli kepala, badan dan kaki Umbu memakai pentungan. Bahkan, kepala Umbu dihantam menggunakan bongkahan batu pembatas jalan dengan trotoar. Umbu pun kritis. Ia koma lebih dari dua minggu, tepatnya 17 hari.
Hingga kini, ungkapan simpati memang terus berdatangan kepada keluarga. Dari rekan mahasiswa, pedagang kaki lima, hingga anggota Dewan dari Senayan. "Minggu pertama, pedagang datang bezuk, bahkan ngasih santunan juga," ujar Yoseph, sahabat Umbu. Kamis (2/5) siang, tiga anggota PDI-P turut membezuk Umbu. Mereka ialah Firman Jaya Daeli, Agus Tjondro Prayitno dan Nur Suhud.
Secercah harapan baru terbit. Ariance pun bisa menarik nafas lega. Ia tidak hanya berharap Umbu sembuh. Lebih dari itu, ia ingin penganiayaan Umbu tuntas di jalur hukum. 31 Mei 2005, Ariance bersama pengacara keluarga dari Perhimpunan dan Bantuan Hukum Hak Azasi Manusia (PBHI) Jhonson Panjaitan melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya. "Saya ingin pelaku dihukum," tegas Ariance.
Untuk kesembuhan Umbu, memang mujizat Tuhan! Tapi, perkara pengusutan hukum kasus penganiayaannya, tentu bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Apalagi, kejadian Umbu bukan yang pertama!
*: Buat Umbu yang tak pernah kukenal akrab.
Pasien itu, Victor Djami. Mahasiswa Fakultas Sastra UKI, korban penganiyaan Tramtib Kotamadya Jakarta Timur, Selasa (17/5) sore. Akibat penganiayaan, tulang tengkorak Victor remuk. Dan, sejak tanggal itu, pemuda berkulit coklat gelap ini terus mendapat perawatan intensif di ICU.
Ibunda Victor, Ariance Djami, hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Sebelumnya, selama empat hari pasca-pemukulan Viktor, ia menderita depresi berat. "Saya putus asa. Saya pikir Victor pasti ...," ujar Ariance sembari menggelengkan kepala di koridor ICU RS UKI, kemarin.
Seingat perempuan berambut pendek ini, harapan baru timbul usai percakapan singkat dengan tim dokter pimpinan Robert Sinurat, pakar bedah saraf. "Jangan lupa berdoa, Bu. Tetap tabah dan berharap pada Yang Kuasa," tutur Ariance meniru ucapan dokter saat itu.
Victor, anak pertama dari pasangan Nicholas Djami dan Ariance. Ia lahir di Sumba, 31 Oktober. Dua puluh tiga tahun lampau. Pada 1999, Victor menjadi yatim. Ayahnya, meninggal dunia karena stroke. Ariance pun harus berusaha seorang diri menghidupi kebutuhan Victor dan adiknya, Ferdinand Djami, mahasiwa Fakultas Teknik Informatika Universitas Satyawacana, Salatiga.
Sesungguhnya, harapan Ariance bertumpu pada Umbu--sapaan akrab Victor--mengganti peran Nicholas Djami yang sudah 'pergi'. "Umbu 'kan sekarang sudah nyusun skripsi. Tinggal nunggu lulus, lalu dapat kerja," ujar Ariance yang mengenakan blazer biru muda.
Sekarang, harapan itu hanya mampu ia simpan dalam hati. Melalui sentuhan dan genggaman di tangan serta kaki anak pertamanya itulah, Ariance menyampaikan pesan tersebut. "Cepat sembuh. Itu yang selalu saya bisikkan di telinga Umbu, setiap jam bezuk," ungkap perempuan yang sehari-hari berwiraswasta dengan penghasilan tak tetap.
Satu kenangan yang tidak terlupakan bagi perempuan berambut ikal ini, Umbu kerap membawa perlengkapan P3K dalam tas ransel. Kebiasaan itu bermula saat Umbu diterima menjadi anggota Korps Sukarelawan (KSR) UKI, 2000. Bahkan, tak jarang pula Umbu sampai di rumah yang berada Jalan Mangga Blok Y Gang II, Kelurahan Lagoa, Tanjung Priok, dengan pakaian penuh bercak darah. "Viktor habis nolongin orang yang ketabrak," kenang perempuan berkulit putih langsat ini. Paman Umbu, Andreas pun membenarkan. "Victor tak pernah bisa diam bila melihat orang terluka. Kalau melihat ada kecelakaan, sekalipun ia berada didalam bus, ia pasti turun membantu," tutur Andreas.
Prestasi Umbu tidak berhenti sampai disitu. Pasca-tsunami Aceh, Januari 2005, pemuda berdarah Sumba ini terjun ke lokasi sebagai sukarelawan. Ia mewakili UKI dalam tim medis Global Rescue
Aceh. Ariance bilang, "Dua minggu Umbu di Aceh waktu itu." Februari 2005, pria yang kini terbujur kaku di bangsal lima ICU RS UKI berniat kembali ke Aceh. Tapi, Ariance membendung. "Saya nasehatin Umbu biar nylesaiin skripsi dulu. Setelah itu, ia baru boleh pergi," kenang perempuan yang saat itu ditemani kerabat di koridor RS UKI. Dan, Umbu menurut.
Selasa, 17 Mei 2005, pukul 15.40. Bentrokan antara aparat Tramtib dan pedagang serta mahasiswa UKI bermula. Saat itu, Victor hendak pulang ke rumah dan sedang menunggu bus ke Tanjung Priok. Tapi, melihat seorang pedagang kaki lima terluka, niatan pulang batal. Ia berusaha menyelamatkan pedagang yang terluka. Malangnya, saat hendak menolong, Victor terjatuh. Ia pun langsung dianiaya Tramtib. Seorang teman Viktor sempat melihat, Tramtib memukuli kepala, badan dan kaki Umbu memakai pentungan. Bahkan, kepala Umbu dihantam menggunakan bongkahan batu pembatas jalan dengan trotoar. Umbu pun kritis. Ia koma lebih dari dua minggu, tepatnya 17 hari.
Hingga kini, ungkapan simpati memang terus berdatangan kepada keluarga. Dari rekan mahasiswa, pedagang kaki lima, hingga anggota Dewan dari Senayan. "Minggu pertama, pedagang datang bezuk, bahkan ngasih santunan juga," ujar Yoseph, sahabat Umbu. Kamis (2/5) siang, tiga anggota PDI-P turut membezuk Umbu. Mereka ialah Firman Jaya Daeli, Agus Tjondro Prayitno dan Nur Suhud.
Secercah harapan baru terbit. Ariance pun bisa menarik nafas lega. Ia tidak hanya berharap Umbu sembuh. Lebih dari itu, ia ingin penganiayaan Umbu tuntas di jalur hukum. 31 Mei 2005, Ariance bersama pengacara keluarga dari Perhimpunan dan Bantuan Hukum Hak Azasi Manusia (PBHI) Jhonson Panjaitan melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya. "Saya ingin pelaku dihukum," tegas Ariance.
Untuk kesembuhan Umbu, memang mujizat Tuhan! Tapi, perkara pengusutan hukum kasus penganiayaannya, tentu bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Apalagi, kejadian Umbu bukan yang pertama!
*: Buat Umbu yang tak pernah kukenal akrab.
(Maaf, Tidak Ada Judul)
Aku berpikir, matahari ialah mata Tuhan.
Bulan, cermin mata Tuhan.
Jadi, karena itu Ia Maha Tahu.
Kalau Tuhan buta, pasti rusak retina, habis hidrogen sama helium.
Dan, kalau aku buta
mungkin habislah Tuhan.
Da..da,...
Note: Berlaku untuk Planet Bumi di Galaksi Bima Sakti.
Bulan, cermin mata Tuhan.
Jadi, karena itu Ia Maha Tahu.
Kalau Tuhan buta, pasti rusak retina, habis hidrogen sama helium.
Dan, kalau aku buta
mungkin habislah Tuhan.
Da..da,...
Note: Berlaku untuk Planet Bumi di Galaksi Bima Sakti.
Titik
Terminal begitu sesak. Orang, entah bakal penumpang, pedagang, kondektur angkutan, calo kendaraan, petugas kebersihan, penjaga toko, preman, kucing berbelang tiga, menumpuk. Mereka berlalu-ganti begitu cepat. Kadang aku hanya mengenal kibasan rambut, kilasan tubuh, warna baju, kening mengkerut, teriakan, bayangan payung, desah nafas, dorongan, sesekali tentunya tatapan. Namun, itu hilang dengan segera. Terekam hanya, panas kepalang matahari siang.
Aku berdiri, memandang sekeliling. Seorang pria di sebelah gerobak buah eceran, berkulit legam tampak mengarahkan wajah menangkap aku. Kuperhatikan, dua alisnya, panjang tebal dan hitam, mengkerut hampir menyatu. Ada lima kerutan jelas berbaur 10 atau 20 kerutan ringan di daerah kening yang penuh ceceran peluh. Tetesan itu ia seka dengan lengan kanan berbulu lebat, lekas kubergegas meninggal titik berdiri.
Dua puluh langkah, aku berhenti. Kuputar kepala, memandang gerobak buah yang berisi semangka, nenas, pepaya dan melon. Ah, dia sudah tidak ada, batinku bersuara. Masa'?! Serasa dipaksa aku meneliti ulang.
Pengamatan kumulai dari isi gerobak. Semangka, merah, ada bintik kecoklatan dengan sedikit titik hitam, berbentuk setengah lingkaran. Nenas, kuning, memiliki banyak sayatan teratur menjadi lubang seperti aliran pembuangan, setengah silinder. Pepaya, campuran semangka dan nenas, berbentuk panjang, mendekati kapal selam. Melon, putih kental dengan warna hijau muda dan semakin pekat di area bawah, menyerupai setengah lingkaran. Satu balok es!
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak kiriku. Aku menoleh ke arah pasal itu. Tidak ada siapa-siapa. Sejenak aku bimbang berpikir. Sedikit menggelengkan kepala ke kiri, lalu balik ke tengah, posisi tegak. Kuhirup udara laiknya menarik batu masuk ke dalam dada, tak lupa kulepas dengan hembusan bertenaga dahsyat rasanya. Aku pun kembali memperhatikan gerobak buah itu.
Seksama kutatap, seorang pria bermuka lonjong namun bersegi kaku pada dagu, hidung yang tak mancung dan terlihat besar bahkan tak proporsional, tulang pelipis yang menjorok maju dengan alis hitam jarang tapi panjang, bola mata hitam berbaur abu-abu tertutups setengah kelopak mata pada ceruk antara pelipis, tulang hidung dan pipi, bibir legam yang terkatup rapat tapi masih meneteskan cairan merah dari dua sisi sempit di kiri-kanan, rambut pendek kriting kencang tak lebat pula hingga tampak bagian kepala yang pitak dan botak, daun telinga tak tak biasa, ada sepuluh cungkilan di putaran daun telinga menyerupai gerigi roda mekanik.Serta satu balok es!
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak kananku. Aku menoleh. Tidak ada!
Aku berdiri, memandang sekeliling. Seorang pria di sebelah gerobak buah eceran, berkulit legam tampak mengarahkan wajah menangkap aku. Kuperhatikan, dua alisnya, panjang tebal dan hitam, mengkerut hampir menyatu. Ada lima kerutan jelas berbaur 10 atau 20 kerutan ringan di daerah kening yang penuh ceceran peluh. Tetesan itu ia seka dengan lengan kanan berbulu lebat, lekas kubergegas meninggal titik berdiri.
Dua puluh langkah, aku berhenti. Kuputar kepala, memandang gerobak buah yang berisi semangka, nenas, pepaya dan melon. Ah, dia sudah tidak ada, batinku bersuara. Masa'?! Serasa dipaksa aku meneliti ulang.
Pengamatan kumulai dari isi gerobak. Semangka, merah, ada bintik kecoklatan dengan sedikit titik hitam, berbentuk setengah lingkaran. Nenas, kuning, memiliki banyak sayatan teratur menjadi lubang seperti aliran pembuangan, setengah silinder. Pepaya, campuran semangka dan nenas, berbentuk panjang, mendekati kapal selam. Melon, putih kental dengan warna hijau muda dan semakin pekat di area bawah, menyerupai setengah lingkaran. Satu balok es!
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak kiriku. Aku menoleh ke arah pasal itu. Tidak ada siapa-siapa. Sejenak aku bimbang berpikir. Sedikit menggelengkan kepala ke kiri, lalu balik ke tengah, posisi tegak. Kuhirup udara laiknya menarik batu masuk ke dalam dada, tak lupa kulepas dengan hembusan bertenaga dahsyat rasanya. Aku pun kembali memperhatikan gerobak buah itu.
Seksama kutatap, seorang pria bermuka lonjong namun bersegi kaku pada dagu, hidung yang tak mancung dan terlihat besar bahkan tak proporsional, tulang pelipis yang menjorok maju dengan alis hitam jarang tapi panjang, bola mata hitam berbaur abu-abu tertutups setengah kelopak mata pada ceruk antara pelipis, tulang hidung dan pipi, bibir legam yang terkatup rapat tapi masih meneteskan cairan merah dari dua sisi sempit di kiri-kanan, rambut pendek kriting kencang tak lebat pula hingga tampak bagian kepala yang pitak dan botak, daun telinga tak tak biasa, ada sepuluh cungkilan di putaran daun telinga menyerupai gerigi roda mekanik.Serta satu balok es!
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak kananku. Aku menoleh. Tidak ada!
Bacalah 'Coelho' #7
Aku mengambil bantal panjang, lalu rebahan. Dia mengambil botol Guiness, lalu kencing!
"Sudah berapa lama kau begitu?"
Sebenarnya, kau tak perlu tau. Itu urusanku. Kalau pun kau mau tau, aku harap itu tidak menjadi urusanmu. Masalahnya, hanya kamar mandi saja. Terlalu jauh. Dari kamar ini, dari tempat aku berdiri ini, menuju kamar mandi itu berjarak dua belas langkah.
Dia pun mengencingi botol minuman klasik Irlandia yang berkaca coklat kental. Entah botol berukuran berapa mili, aku tak tau. Yang pasti, air kencing sudah mencapai leher botol.
"Sorry kalau gua begini," kata dia sambil mengembalikan botol tersebut ke dalam lemari pakaian. Sementara itu, aku masih tetap rebahan dengan bantal panjang menyangga kepala. Dia berjalan ke arah jendela, lalu duduk bersila.
"Sudah berapa lama kau begitu?"
"Mengapa kau terus mempertanyakan hal itu? Apa pentingnya bagimu? Kalau aku bilang semenjak lahir, memang kenapa? Kalau aku bilang baru kali ini, terus gimana?"
Dia terus melontarkan kata-kata, tak berhenti. Hingga aku putuskan, mengubah posisi badan. Aku tidak lagi rebahan. Aku duduk bersandar pada dinding yang berwarna lima. Duduk merangkul lutut, kepala bersembunyi di dua dengkul.
"Sudah berapa lama kau begitu?" Dia tersenyum.
Kuangkat kepala menyentuh barisan warna biru, lalu mengarahkan mata menatap tirai jendela kertas. Aku berkata, "Ya, sudahlah." Tubuhku hilang beban, limbung ke depan, perlahan. Prak! Ubun-ubunku membentur botol Guiness berkaca coklat kental yang tegak berdiri di atas ubin putih. Botol alirkan cairan bercahaya, kepalaku alirkan plasma. Saat itu, aku masih sempat mendengar dia tertawa.
"Sudah berapa lama kau begitu?"
Sebenarnya, kau tak perlu tau. Itu urusanku. Kalau pun kau mau tau, aku harap itu tidak menjadi urusanmu. Masalahnya, hanya kamar mandi saja. Terlalu jauh. Dari kamar ini, dari tempat aku berdiri ini, menuju kamar mandi itu berjarak dua belas langkah.
Dia pun mengencingi botol minuman klasik Irlandia yang berkaca coklat kental. Entah botol berukuran berapa mili, aku tak tau. Yang pasti, air kencing sudah mencapai leher botol.
"Sorry kalau gua begini," kata dia sambil mengembalikan botol tersebut ke dalam lemari pakaian. Sementara itu, aku masih tetap rebahan dengan bantal panjang menyangga kepala. Dia berjalan ke arah jendela, lalu duduk bersila.
"Sudah berapa lama kau begitu?"
"Mengapa kau terus mempertanyakan hal itu? Apa pentingnya bagimu? Kalau aku bilang semenjak lahir, memang kenapa? Kalau aku bilang baru kali ini, terus gimana?"
Dia terus melontarkan kata-kata, tak berhenti. Hingga aku putuskan, mengubah posisi badan. Aku tidak lagi rebahan. Aku duduk bersandar pada dinding yang berwarna lima. Duduk merangkul lutut, kepala bersembunyi di dua dengkul.
"Sudah berapa lama kau begitu?" Dia tersenyum.
Kuangkat kepala menyentuh barisan warna biru, lalu mengarahkan mata menatap tirai jendela kertas. Aku berkata, "Ya, sudahlah." Tubuhku hilang beban, limbung ke depan, perlahan. Prak! Ubun-ubunku membentur botol Guiness berkaca coklat kental yang tegak berdiri di atas ubin putih. Botol alirkan cairan bercahaya, kepalaku alirkan plasma. Saat itu, aku masih sempat mendengar dia tertawa.
dipersimpangan rasta
kuhisap segar dupa
senikmat nanah
sekejap lenyap. senyap.
kuhirup segar hawa
dari pelataran parkir
tanah kusir,
usai melahap kitab
menyantap kiamat.
pasrah terkepung pesta.
senikmat nanah
sekejap lenyap. senyap.
kuhirup segar hawa
dari pelataran parkir
tanah kusir,
usai melahap kitab
menyantap kiamat.
pasrah terkepung pesta.
Juni 2003
Bacalah 'Coelho' #7
karena aku pernah melihat kaca di tempat dia berdiri membelakangi ku. Ku perhatikan, ia hanya memakai celana kolor bermotif kotak-kotak, warna merah, kuning, hijau, pink, biru, bergambar Mickey Mouse; plus tulisan 'Disney'.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ayo, silahkan masuk," ia menawarkan aku hanya dengan mengayunkan lengan kiri. Tapi, aku tak mengerti dari mana datang kalimat, 'Ayo, silahkan masuk.' Sepertinya, ia yang berkata. (Atau, jangan-jangan tangan ia yang berkata. Tapi, itu tidak mungkin. Ah, sudahlah...)
Aku pun menginjakkan kaki di teras kamar, lalu duduk bersinggah sambil melepas sepatu aku berwarna hitam strip putih, bertali putih. Mulanya, aku memisahkan lilitan antara ujung dan pangkal tali sepatu di kaki kiriku. 'P-lashsp'. Lepaslah. Aku pun menarik nafas dalam-dalam hingga terasa rongga dada menggembung seakan berisi balon udara. Perlahan, bahkan sangat perlahan aku melepaskan kaki kanan.
"Lagi ngapain?" Aku bertanya kepada dia. Sambil menatap ke timur, ia menjawab bahwa ia sedang membereskan rumah. "Maksud aku, kamar," ulang ia menegaskan apa yang ia maksud dengan rumah itu.
Dan, aku pun bertugas menegaskan apa yang ia maksud dengan kamar itu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Usai melepas alas kaki, aku berdiri. Tepat di depan pintu bercat merah plus putih yang bertempel poster metamorphosis Bruce Banner jadi The Incredible Hulk, aku melihat:
Ya, bentuk menyerupai itu. Kuperhatikan lebih jernih, benda itu tiga dimensi. Benda itu memiliki ruang, yang berarti memiliki panjang, lebar dan tinggi. Tapi, aku tak jelas apa itu namanya. Benda itu tersampir ke dinding sebelah kanan tempat aku berdiri di depan pintu kamar ia. Tampak ia memperhatikan aku. Itu kuketahui, saat mataku silau melihat pantulan warna-warni cerah menimpa mata. (Ah, warna-warni cerah yang menimpa mataku rupa-rupanya pancaran sinar dari celana kolor bermotif kotak-kotak yang ia gunakan.)
"Itu pesawat ku," kata ia tepat di telinga kiri ku dengan suara mendesis. Suaranya kalau aku tak salah, 'zes..sto.spe,.s..as.a.zessts.ds...thszz'. Begitulah. Paling tidak menyerupai itu. Atau seperti..., ya desis ular melata. Selagi aku asyik berpikir, kok bisa disebut pesawat benda itu, tangan kiriku disentuh, lalu kaki kirinya menendang kepalaku. Untuk semua yang ia lakukan, hanya terlontar barisan kata, 'masuk'. Tapi, kata itu ia ucapkan seakan tanpa huruf kecil, melainkan huruf kapital semua. Hasilnya, "MASUK," kata ia.
Aku dan ia pun duduk di atas ubin keramik ukuran 30 kali 60 kali 10 kali 3 kali 8 dan entah kali berapa lagi. Aku tidak bisa mengingat. Yang pasti hanya 30 saja sepertinya yang mendekati tepat. (Hah.., itupun masih sepertinya?)
"Mau minum apa? Air putih atau kopi. Tapi, gelasnya ambil sendiri di atas lemari." Usai berbicara, ia langsung berdiri menyalakan radio mini yang ia sangkutkan di terali jendela. Jendela itu tepat berada di sebelah kanan kusen pintu kamar. Entah gelombang apa yang ia pilih, tapi begitu lagu dari gelombang terpilih tersebut melantun, aku pun dapat melihat warna cat dinding kamar. Ada dua warna. Putih dibawah merah. Ada tiga warna, putih dibawah merah dan merah dibawah biru tua. Ada empat! Putih dibawah merah, merah dibawah biru tua dan biru tua dibawah kuning. Ada lima warna! Putih dibawah merah merah dibawah biru tua biru tua dibawah kuning diatas kuning tak berwarna.
"Ada rokok?" tanya ia saat berbalik badan dari barat menuju timur, lalu ringan terduduk. Mendadak aku merasa kamarnya menjadi berukuran 150 meter kali 45 meter. Padahal, setahuku di kamar ia hanya muat satu pesawat, satu lemari pakaian, satu rak buku tiga tingkat, satu kipas angin, tiga teko air minum, lima buah gelas, dua mangkok, empat piring, satu keranjang plastik, 80 buku, satu keranjang rotan berisi pakaian kotor, satu ember, satu gayung, satu pasta gigi, satu sabun, satu sikat gigi, sepasang sepatu, sebuah cermin kayu, dua asbak, mentega 'Blue Band' 1 ons, coklat butir, satu korek api, beberapa poster: tiga poster bergaya pop-art ala Andy Warholl disusun bertingkat seperti tangga dengan urutan terbawah menyentuh warna biru tua terbawah yang berada di atas merah, bertuliskan 'SERGENT GARCIA KONSER SALSAMULFFIN LATINO REGGAE Thursday, May, 12, 2005 - 7.30 pm Balai Sarbini @ The Plaza Semanggi Jl. Jend. Sudirman Kav.50 Jakarta 12930 Ticket box tel. (021) 25 53 05 94, 25 53 05 96', foto-foto keluarga ia, pribadi, pementasan, poster ukuran A4 Pramoedya Ananta Toer, tiga sendok, lima garpu, kotak 'CHIVAS REGAL' berwarna perak tergantung di sisi barat laut tepat dipertemuan dua dinding kamar yang berada di sebelah kiri dan belakang aku duduk, dua bantal, satu selimut, satu gitar, dan satu foto anak elang berumur tiga belas bulan, plus potongan cover majalah Newsweek bergambar pria bersinglet putih dengan perut buncit bergambar siluet bola bumi tertempel di lemari pakaian pada pintu (kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan).
Aku memberi ia satu gudang rokok. Ia mengambil, lalu membakar, lalu menghisap, menghembuskan asap. Saat aku melihat kepul asap belum lenyap dari wajah ia, aku mendengar suara berkata, entah dari mana, "Ngapain ke sini?"
----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ayo, silahkan masuk," ia menawarkan aku hanya dengan mengayunkan lengan kiri. Tapi, aku tak mengerti dari mana datang kalimat, 'Ayo, silahkan masuk.' Sepertinya, ia yang berkata. (Atau, jangan-jangan tangan ia yang berkata. Tapi, itu tidak mungkin. Ah, sudahlah...)
Aku pun menginjakkan kaki di teras kamar, lalu duduk bersinggah sambil melepas sepatu aku berwarna hitam strip putih, bertali putih. Mulanya, aku memisahkan lilitan antara ujung dan pangkal tali sepatu di kaki kiriku. 'P-lashsp'. Lepaslah. Aku pun menarik nafas dalam-dalam hingga terasa rongga dada menggembung seakan berisi balon udara. Perlahan, bahkan sangat perlahan aku melepaskan kaki kanan.
"Lagi ngapain?" Aku bertanya kepada dia. Sambil menatap ke timur, ia menjawab bahwa ia sedang membereskan rumah. "Maksud aku, kamar," ulang ia menegaskan apa yang ia maksud dengan rumah itu.
Dan, aku pun bertugas menegaskan apa yang ia maksud dengan kamar itu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Usai melepas alas kaki, aku berdiri. Tepat di depan pintu bercat merah plus putih yang bertempel poster metamorphosis Bruce Banner jadi The Incredible Hulk, aku melihat:
Ya, bentuk menyerupai itu. Kuperhatikan lebih jernih, benda itu tiga dimensi. Benda itu memiliki ruang, yang berarti memiliki panjang, lebar dan tinggi. Tapi, aku tak jelas apa itu namanya. Benda itu tersampir ke dinding sebelah kanan tempat aku berdiri di depan pintu kamar ia. Tampak ia memperhatikan aku. Itu kuketahui, saat mataku silau melihat pantulan warna-warni cerah menimpa mata. (Ah, warna-warni cerah yang menimpa mataku rupa-rupanya pancaran sinar dari celana kolor bermotif kotak-kotak yang ia gunakan.)
"Itu pesawat ku," kata ia tepat di telinga kiri ku dengan suara mendesis. Suaranya kalau aku tak salah, 'zes..sto.spe,.s..as.a.zessts.ds...thszz'. Begitulah. Paling tidak menyerupai itu. Atau seperti..., ya desis ular melata. Selagi aku asyik berpikir, kok bisa disebut pesawat benda itu, tangan kiriku disentuh, lalu kaki kirinya menendang kepalaku. Untuk semua yang ia lakukan, hanya terlontar barisan kata, 'masuk'. Tapi, kata itu ia ucapkan seakan tanpa huruf kecil, melainkan huruf kapital semua. Hasilnya, "MASUK," kata ia.
Aku dan ia pun duduk di atas ubin keramik ukuran 30 kali 60 kali 10 kali 3 kali 8 dan entah kali berapa lagi. Aku tidak bisa mengingat. Yang pasti hanya 30 saja sepertinya yang mendekati tepat. (Hah.., itupun masih sepertinya?)
"Mau minum apa? Air putih atau kopi. Tapi, gelasnya ambil sendiri di atas lemari." Usai berbicara, ia langsung berdiri menyalakan radio mini yang ia sangkutkan di terali jendela. Jendela itu tepat berada di sebelah kanan kusen pintu kamar. Entah gelombang apa yang ia pilih, tapi begitu lagu dari gelombang terpilih tersebut melantun, aku pun dapat melihat warna cat dinding kamar. Ada dua warna. Putih dibawah merah. Ada tiga warna, putih dibawah merah dan merah dibawah biru tua. Ada empat! Putih dibawah merah, merah dibawah biru tua dan biru tua dibawah kuning. Ada lima warna! Putih dibawah merah merah dibawah biru tua biru tua dibawah kuning diatas kuning tak berwarna.
"Ada rokok?" tanya ia saat berbalik badan dari barat menuju timur, lalu ringan terduduk. Mendadak aku merasa kamarnya menjadi berukuran 150 meter kali 45 meter. Padahal, setahuku di kamar ia hanya muat satu pesawat, satu lemari pakaian, satu rak buku tiga tingkat, satu kipas angin, tiga teko air minum, lima buah gelas, dua mangkok, empat piring, satu keranjang plastik, 80 buku, satu keranjang rotan berisi pakaian kotor, satu ember, satu gayung, satu pasta gigi, satu sabun, satu sikat gigi, sepasang sepatu, sebuah cermin kayu, dua asbak, mentega 'Blue Band' 1 ons, coklat butir, satu korek api, beberapa poster: tiga poster bergaya pop-art ala Andy Warholl disusun bertingkat seperti tangga dengan urutan terbawah menyentuh warna biru tua terbawah yang berada di atas merah, bertuliskan 'SERGENT GARCIA KONSER SALSAMULFFIN LATINO REGGAE Thursday, May, 12, 2005 - 7.30 pm Balai Sarbini @ The Plaza Semanggi Jl. Jend. Sudirman Kav.50 Jakarta 12930 Ticket box tel. (021) 25 53 05 94, 25 53 05 96', foto-foto keluarga ia, pribadi, pementasan, poster ukuran A4 Pramoedya Ananta Toer, tiga sendok, lima garpu, kotak 'CHIVAS REGAL' berwarna perak tergantung di sisi barat laut tepat dipertemuan dua dinding kamar yang berada di sebelah kiri dan belakang aku duduk, dua bantal, satu selimut, satu gitar, dan satu foto anak elang berumur tiga belas bulan, plus potongan cover majalah Newsweek bergambar pria bersinglet putih dengan perut buncit bergambar siluet bola bumi tertempel di lemari pakaian pada pintu (kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan).
Aku memberi ia satu gudang rokok. Ia mengambil, lalu membakar, lalu menghisap, menghembuskan asap. Saat aku melihat kepul asap belum lenyap dari wajah ia, aku mendengar suara berkata, entah dari mana, "Ngapain ke sini?"
Bacalah 'Coelho" #7
Tidak seperti biasa, siang itu aku mengunjunginya. Hanya saja, entah kenapa tiba-tiba aku merasa perlu berkucil sementara dari dunia. Korbannya, kediaman dia.
Rumah itu, milik bersama. Maksud aku, susunan dari 10 kamar membentuk letter U di atas sepetak tanah, tak jauh dari sungai yang airnya sudah berwarna coklat, ialah milik bersama. Sesungguhnya, bila kutanya dia, aku menerima jawab seperti ini: "Sang pemilik tinggal di sono. Jauh," kata dia sambil memonyongkan bibir melewati pintu, tak jelas entah menuju kemana.
Aku coba gambarkan bagaimana kondisi rumah milik bersama itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Pinggir Bang," seru ku saat laju kendaraan pengangkut umum hendak melintasi plakat besi warna putih bertuliskan 'Drg. Paula' baris pertama; baris ke-dua 'Praktek Setiap Hari'; 'Minggu/Hari Libur TUTUP' di baris terakhir; semua tulisan hitam, kecuali baris terakhir. (Maaf, aku lupa ada berapa baris sesungguhnya. Aku cuma mengingat itu, atau kata-kata seperti itu muncul karena kebiasaan ku mengingat isi plakat dokter-dokter praktek di pinggir jalan ketika kulihat sewaktu aku masih kecil.)
Kendaraan yang aku tumpangi pun menurunkan laju putaran. Perlahan, berhenti. Lalu, aku turun bersama seekor kambing, tumpukan jeruk di keranjang rotan, anak babi betina, sepeda roda tiga, onderdil mobil tua merk Targ 1962, selusin sepatu bola dan tumpahan aquarium yang berisi ikan cupang warna putih bergaris hitam seperti zebra.
Kaki pertama ku yang menyentuh tanah, kanan. Langsung menimpa ceruk yang berisi air. 'C-plck', terpercik air campur pasir, tanah ke muka. (Ya, kira-kira 2,684 detik aku tersengat, nafas tersekat. Sadar, langsung kubayar saja ongkos perjalanan menggunakan kertas. Dan, itu diterima!)
Aku berdiri tepat didepan tiang plakat praktek dokter. Tiang plakat itu didirikan, tepat di tepi sungai yang berair coklat. Sungai yang berair coklat itu, selalu mengalir cepat; seperti mengejar sesuatu. (Kupikir ia mengejar angin laut, entah darat, atau anak-anak nelayan yang sedang berenang di laut bersama debur ombak, atau butir-butir air itu hendak menyelamatkan diri ke samudra luas. Sebab, dari pada terhisap panas matahari naik ke angkasa, membentuk awan gelap, turun jadi hujan, membanjiri kawasan tempat tinggal dia; lebih baik menyelinap di antara puluhan-ratusan-ribuan-jutaan-milyaran-triliunan butir-butir air. Tidak dimaki.)
Aku berjalan, mengarah menuju ke Selatan. Di situ, jembatan perlintasan. Panjang jembatan itu, tentu saja mengikuti lebar sungai. (Ah, perduli apa aku sama panjang atau lebar, yang jelas:
Aku berjalan kira-kira dua puluh lima langkah, ditambah tiga loncatan maksimal serta sepuluh langkah jingkat perlahan. Aku pun melewati jembatan perlintasan yang muat dilalui sebuah mobil ukuran satu setengah ekor induk gajah.
Sampai diseberang, aku masih harus menuruni tebing landai. Hujan yang turun tidak membuatku berpikir dua kali. langsung aku berjalan, melangkah menjejakkan kaki kiri. Begitu aku menaikkan kaki kanan, hilang keseimbangan. Aku berlari cepat, menuruni tebing landai seakan mengejar keseimbangan yang sudah duluan ambil start. Oleng ke kanan. Oleng ke kiri. Putaran kaki berganti begitu 'hurry', aku pun melintasi jalur maya berbentuk kelok jalan menuju gunung dalam gambaran anak seumuran SD kelas II di tahun 1985, tentunya dengan tangan merentang menyerupai lengan pesawat terbang, plus seruan: 'Wauw... wauw...wuaw....ow,...wa,.wa,..,oeojmd/ajaldjgubvmasvxp@&$^(!0dfmshalxnm*'. Aku lupa, berapa langkah diperlukan untuk melalui tebing landai itu. Yang kuingat, begitu aku sampai di dasar lembah, hari sudah senja.
Kini, aku sudah berada di depan pintu gerbang. Tepatnya, pintu rumah yang dijadikan gerbang. Atau gerbang itu terbuat dari pintu yang seharusnya ditempatkan sebagai pintu rumah. Tinggi, kira-kira dua meteran, lebar-satu meteran. Warna hijau, bahan kayu. Modelnya seperti pintu bar; bagian bawah pintu itu telah rusak sepanjang satu detik mata menatap vertikal pangkal ke ujung bagian rompal itu.
Kusentuh keempat jari--ibu jari, jari manis, kelingking, dan tengah--dari tangan kanan, lalu kudorong dengan telunjuk pintu itu. Pertama, sebegitu pintu terbuka, aku menoleh ke kiri. Satu pintu kamar berwarna coklat terbuka. Di dalamnya, kulihat dua orang manusia berpelukan di atas kasur bersprei putih. Yang satu rambutnya panjang, satunya pendek. (Apakah mereka pasangan perempuan-lelaki? Kupastikan, ya; meski hanya melihat sekilas. Kesimpulan itu dengan diputuskan nalar, sebab begitu biasa yang terjadi dalam kehidupan dan menjadi bagian nalar untuk mengambil keputusan.)
Aku pun menoleh ke kanan, sebuah ruangan dengan pintu bercat merah dan putih. Cat itu digoreskan sedemikian rupa oleh orang yang tak ahli, hingga menjadikan komposisi kurva merah dan putih yang terpisah. Dan, di sisi kiri atas seperempat pintu, tertempel poster metamorpohisis Bruce Banner menjadi The Incredible Hulk; lima fase metamorphosis.
Lalu, kulihat dia. Meski hanya sebatas punggung hingga kaki--tak kelihatan leher dan kepala karena terhalang dinding--aku yakin itu dia. Dia lagi berkaca. Itu kusimpulkan karena aku pernah melihat kaca di tempat dia berdiri membelakangi ku. Ku perhatikan, ia hanya memakai celana kolor bermotif kotak-kotak, warna merah, kuning, hijau, pink, biru, bergambar Mickey Mouse; plus tulisan 'Disney'.
BERSAMBUNG
Rumah itu, milik bersama. Maksud aku, susunan dari 10 kamar membentuk letter U di atas sepetak tanah, tak jauh dari sungai yang airnya sudah berwarna coklat, ialah milik bersama. Sesungguhnya, bila kutanya dia, aku menerima jawab seperti ini: "Sang pemilik tinggal di sono. Jauh," kata dia sambil memonyongkan bibir melewati pintu, tak jelas entah menuju kemana.
Aku coba gambarkan bagaimana kondisi rumah milik bersama itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Pinggir Bang," seru ku saat laju kendaraan pengangkut umum hendak melintasi plakat besi warna putih bertuliskan 'Drg. Paula' baris pertama; baris ke-dua 'Praktek Setiap Hari'; 'Minggu/Hari Libur TUTUP' di baris terakhir; semua tulisan hitam, kecuali baris terakhir. (Maaf, aku lupa ada berapa baris sesungguhnya. Aku cuma mengingat itu, atau kata-kata seperti itu muncul karena kebiasaan ku mengingat isi plakat dokter-dokter praktek di pinggir jalan ketika kulihat sewaktu aku masih kecil.)
Kendaraan yang aku tumpangi pun menurunkan laju putaran. Perlahan, berhenti. Lalu, aku turun bersama seekor kambing, tumpukan jeruk di keranjang rotan, anak babi betina, sepeda roda tiga, onderdil mobil tua merk Targ 1962, selusin sepatu bola dan tumpahan aquarium yang berisi ikan cupang warna putih bergaris hitam seperti zebra.
Kaki pertama ku yang menyentuh tanah, kanan. Langsung menimpa ceruk yang berisi air. 'C-plck', terpercik air campur pasir, tanah ke muka. (Ya, kira-kira 2,684 detik aku tersengat, nafas tersekat. Sadar, langsung kubayar saja ongkos perjalanan menggunakan kertas. Dan, itu diterima!)
Aku berdiri tepat didepan tiang plakat praktek dokter. Tiang plakat itu didirikan, tepat di tepi sungai yang berair coklat. Sungai yang berair coklat itu, selalu mengalir cepat; seperti mengejar sesuatu. (Kupikir ia mengejar angin laut, entah darat, atau anak-anak nelayan yang sedang berenang di laut bersama debur ombak, atau butir-butir air itu hendak menyelamatkan diri ke samudra luas. Sebab, dari pada terhisap panas matahari naik ke angkasa, membentuk awan gelap, turun jadi hujan, membanjiri kawasan tempat tinggal dia; lebih baik menyelinap di antara puluhan-ratusan-ribuan-jutaan-milyaran-triliunan butir-butir air. Tidak dimaki.)
Aku berjalan, mengarah menuju ke Selatan. Di situ, jembatan perlintasan. Panjang jembatan itu, tentu saja mengikuti lebar sungai. (Ah, perduli apa aku sama panjang atau lebar, yang jelas:
Aku berjalan kira-kira dua puluh lima langkah, ditambah tiga loncatan maksimal serta sepuluh langkah jingkat perlahan. Aku pun melewati jembatan perlintasan yang muat dilalui sebuah mobil ukuran satu setengah ekor induk gajah.
Sampai diseberang, aku masih harus menuruni tebing landai. Hujan yang turun tidak membuatku berpikir dua kali. langsung aku berjalan, melangkah menjejakkan kaki kiri. Begitu aku menaikkan kaki kanan, hilang keseimbangan. Aku berlari cepat, menuruni tebing landai seakan mengejar keseimbangan yang sudah duluan ambil start. Oleng ke kanan. Oleng ke kiri. Putaran kaki berganti begitu 'hurry', aku pun melintasi jalur maya berbentuk kelok jalan menuju gunung dalam gambaran anak seumuran SD kelas II di tahun 1985, tentunya dengan tangan merentang menyerupai lengan pesawat terbang, plus seruan: 'Wauw... wauw...wuaw....ow,...wa,.wa,..,oeojmd/ajaldjgubvmasvxp@&$^(!0dfmshalxnm*'. Aku lupa, berapa langkah diperlukan untuk melalui tebing landai itu. Yang kuingat, begitu aku sampai di dasar lembah, hari sudah senja.
Kini, aku sudah berada di depan pintu gerbang. Tepatnya, pintu rumah yang dijadikan gerbang. Atau gerbang itu terbuat dari pintu yang seharusnya ditempatkan sebagai pintu rumah. Tinggi, kira-kira dua meteran, lebar-satu meteran. Warna hijau, bahan kayu. Modelnya seperti pintu bar; bagian bawah pintu itu telah rusak sepanjang satu detik mata menatap vertikal pangkal ke ujung bagian rompal itu.
Kusentuh keempat jari--ibu jari, jari manis, kelingking, dan tengah--dari tangan kanan, lalu kudorong dengan telunjuk pintu itu. Pertama, sebegitu pintu terbuka, aku menoleh ke kiri. Satu pintu kamar berwarna coklat terbuka. Di dalamnya, kulihat dua orang manusia berpelukan di atas kasur bersprei putih. Yang satu rambutnya panjang, satunya pendek. (Apakah mereka pasangan perempuan-lelaki? Kupastikan, ya; meski hanya melihat sekilas. Kesimpulan itu dengan diputuskan nalar, sebab begitu biasa yang terjadi dalam kehidupan dan menjadi bagian nalar untuk mengambil keputusan.)
Aku pun menoleh ke kanan, sebuah ruangan dengan pintu bercat merah dan putih. Cat itu digoreskan sedemikian rupa oleh orang yang tak ahli, hingga menjadikan komposisi kurva merah dan putih yang terpisah. Dan, di sisi kiri atas seperempat pintu, tertempel poster metamorpohisis Bruce Banner menjadi The Incredible Hulk; lima fase metamorphosis.
Lalu, kulihat dia. Meski hanya sebatas punggung hingga kaki--tak kelihatan leher dan kepala karena terhalang dinding--aku yakin itu dia. Dia lagi berkaca. Itu kusimpulkan karena aku pernah melihat kaca di tempat dia berdiri membelakangi ku. Ku perhatikan, ia hanya memakai celana kolor bermotif kotak-kotak, warna merah, kuning, hijau, pink, biru, bergambar Mickey Mouse; plus tulisan 'Disney'.
BERSAMBUNG
Bacalah 'Coelho' #5
Mereka berkumpul di ruang televisi. Sesungguhnya, perkataan berkumpul itu tidak tepat dipergunakan untuk menjelaskan situasi yang terjadi di Kamis siang. Sebab, saat itu mereka bertemu tanpa perjanjian lebih dulu. Jadi, tepatnya: Mereka bertemu di ruang televisi.
Namun, sebenarnya, mereka itu bukan bertemu. Yang pasti, sepengetahuanku, hari itu libur. Artinya, mereka tidak bekerja. Dan, mereka pun dapat tinggal di rumah dalam keadaan sadar. Sebelum tertinggal, mereka itu ada dua orang. Satu berperan sebagai abang dan satunya lagi sebagai adik. Itu atas ketetapan Tuhan.
Ya, mereka libur dan bertemu-kumpul di ruang televisi. Ah.., aku pikir revisi ini tidak memuaskan. Tapi, aku mencoba mengakomodir saja semua yang telah tersedia. Aku memang tidak berusaha untuk memikat, cuma menjelaskan. Kalaupun tidak jelas, sekarang aku berusaha untuk memikat.
"Jadi gimana menurutmu?" si abang bertanya. "Apanya?" balas si adik sambil menatap televisi. "Hei, coba lihat...," barisan kata yang terlontar dari pengeras suara, berbentuk kotak (bagiku terasa besar dan berat) berwarna coklat merk Polytron.
Sambil rebahan, si abang membaca koran harian terbitan waktu lampau. "Tanda tangan itu?" tanya si adik kepada si abang sambil menonton televisi yang menayangkan iklan penyeling film basi. "Apalagi, kalau bukan itu...," tandas si abang sambil membalik lembaran koran.
"Tentang kebodohan mereka?"
"Ya.., seharusnya itu yang kita bicarakan."
"Apa begitu penting?"
"Ya.., penting. Sebab asal kehancuran sekarang karena..."
"Tapi, setelah kau kembali dari Medan 'kan semua sudah terang," tanggap si adik, sambil mengenyahkan chanel siaran film basi yang sudah berulang kali ditayangkan. Sialnya, masih di stasiun itu saja. Stasiun nomor 5.
Melihat kejadian itu, aku tertawa.
Si abang kembali membalik koran. Berdiri memandang. Tangannya sudah teracung mencoba menjelaskan peristiwa yang sesungguhnya. Mulutnya terbuka, menutup, membuka, tertutup. Berulang cepat. Ludah muncrat. Lalu, ia kembali rebahan.
Si adik pun mengalihkan tolehan pandang ke si abang yang kembali rebahan. Hanya kepala, posisi tubuh lainnya sedang terduduk di atas kursi rotan merah darah. Lalu, bibirnya terkatup, melihat si abang yang sedang rebahan membaca koran harian. "Masa sih...," serunya pelan.
Si abang kembali berdiri, mengacungkan jari, berjalan mondar-mandir, lima langkah kedepan, balik kebelakang, laju empat langkah, balik ke belakang melaju tiga langkah, balik lagi ke belakang untuk menjejakkan kaki sebanyak empat kali, lalu melompat ditempat seratus 3 puluh kali. Lalu, si abang kembali rebahan bersimbah keringat, membaca koran harian dengan desakan memburu nafas yang terengah. Si adik menoleh, mengalihkan pandang dari layar televisi.
"O..., aku mengerti maksudmu. Kita harus menjelaskan kepada mereka, kebodohan itu berbahaya. Tapi, menjelaskan sesuatu kepada orang bodoh bukankah menjadikan mereka berbahaya. Atau menjadikan diri kita masuk ke dalam bahaya."
"Ya, itulah masalahnya. Kita harus gegas berpikir. Sebab kalau tetap dipertahankan, kondisinya akan menjadi parah."
"Berarti tidak ada masalah lagi 'kan," kata si adik sembari tersenyum dan berbalik pandang ke televisi.
Dan, aku tertawa!
Namun, sebenarnya, mereka itu bukan bertemu. Yang pasti, sepengetahuanku, hari itu libur. Artinya, mereka tidak bekerja. Dan, mereka pun dapat tinggal di rumah dalam keadaan sadar. Sebelum tertinggal, mereka itu ada dua orang. Satu berperan sebagai abang dan satunya lagi sebagai adik. Itu atas ketetapan Tuhan.
Ya, mereka libur dan bertemu-kumpul di ruang televisi. Ah.., aku pikir revisi ini tidak memuaskan. Tapi, aku mencoba mengakomodir saja semua yang telah tersedia. Aku memang tidak berusaha untuk memikat, cuma menjelaskan. Kalaupun tidak jelas, sekarang aku berusaha untuk memikat.
"Jadi gimana menurutmu?" si abang bertanya. "Apanya?" balas si adik sambil menatap televisi. "Hei, coba lihat...," barisan kata yang terlontar dari pengeras suara, berbentuk kotak (bagiku terasa besar dan berat) berwarna coklat merk Polytron.
Sambil rebahan, si abang membaca koran harian terbitan waktu lampau. "Tanda tangan itu?" tanya si adik kepada si abang sambil menonton televisi yang menayangkan iklan penyeling film basi. "Apalagi, kalau bukan itu...," tandas si abang sambil membalik lembaran koran.
"Tentang kebodohan mereka?"
"Ya.., seharusnya itu yang kita bicarakan."
"Apa begitu penting?"
"Ya.., penting. Sebab asal kehancuran sekarang karena..."
"Tapi, setelah kau kembali dari Medan 'kan semua sudah terang," tanggap si adik, sambil mengenyahkan chanel siaran film basi yang sudah berulang kali ditayangkan. Sialnya, masih di stasiun itu saja. Stasiun nomor 5.
Melihat kejadian itu, aku tertawa.
Si abang kembali membalik koran. Berdiri memandang. Tangannya sudah teracung mencoba menjelaskan peristiwa yang sesungguhnya. Mulutnya terbuka, menutup, membuka, tertutup. Berulang cepat. Ludah muncrat. Lalu, ia kembali rebahan.
Si adik pun mengalihkan tolehan pandang ke si abang yang kembali rebahan. Hanya kepala, posisi tubuh lainnya sedang terduduk di atas kursi rotan merah darah. Lalu, bibirnya terkatup, melihat si abang yang sedang rebahan membaca koran harian. "Masa sih...," serunya pelan.
Si abang kembali berdiri, mengacungkan jari, berjalan mondar-mandir, lima langkah kedepan, balik kebelakang, laju empat langkah, balik ke belakang melaju tiga langkah, balik lagi ke belakang untuk menjejakkan kaki sebanyak empat kali, lalu melompat ditempat seratus 3 puluh kali. Lalu, si abang kembali rebahan bersimbah keringat, membaca koran harian dengan desakan memburu nafas yang terengah. Si adik menoleh, mengalihkan pandang dari layar televisi.
"O..., aku mengerti maksudmu. Kita harus menjelaskan kepada mereka, kebodohan itu berbahaya. Tapi, menjelaskan sesuatu kepada orang bodoh bukankah menjadikan mereka berbahaya. Atau menjadikan diri kita masuk ke dalam bahaya."
"Ya, itulah masalahnya. Kita harus gegas berpikir. Sebab kalau tetap dipertahankan, kondisinya akan menjadi parah."
"Berarti tidak ada masalah lagi 'kan," kata si adik sembari tersenyum dan berbalik pandang ke televisi.
Dan, aku tertawa!
Bacalah 'Coelho' #4
Seorang teman berkata, "Hidup membosankan," sambil menyingsing lengan kaos kanan dengan tangan kiri. Lengkap perkataan itu, yang masih kuingat, 'Kau tau', hidup itu membosankan'. Dan, nada suara temanku pemilik tatoo motif tribalism keras, tegas, penuh penekanan di tiap suku kata. Agak parau pula. Parah, pikirku. Padahal, umurnya belum 2 2.
Lima tahun kemudian, aku berjumpa lagi dengannya. Bulan April, kalau tidak salah di tahun 2015. "Hidup itu tepatnya, hampir membosankan," kali ini ia berbicara tanpa menyingsingkan lengan kaos kanan. Aku pun bertanya ulang, seakan tidak mendengar jelas.
"Sejak kapan?"
Keningnya berkerut, melihat dahiku yang mengerut. Seakan tidak mendengar jelas, ia bertanya, apa. "Sejak kapan," aku berkata datar di dekat liang telinga kanan, sambil menyingsing lengan kaos tempat tatoo bermotif tribalism itu bersemayam. Kusingkap sedikit, ah lega hatiku. Ternyata masih ada.
Ia pun mulai bertutur sembari meneguk segelas anggur yang kusajikan di batok kelapa. (Kalau aku tak salah, setelah aku membuat tatoo baru bermotif bunga. Setelah itu, sekitar enam bulan kemudian, aku mendapat vonis: positif HIV. Jangan kau tanyakan kenapa.)
Saat ia mengatakan positif HIV, langsung aku menghentikan tegukan anggur dari batok kelapa, gelas kami yang sama. Kuambil segera botol panjang lentur hijau itu. Plopp! Langsung kutuang, bahkan melampaui kapasitas tampung mulutku.
Melihat tingkah seperti itu, ia berkata, "Kamu bukan yang pertama. Dan, itulah kenapa kusebut: Hidup, hampir membosankan."
Dengan genangan anggur di dada dan uap yang memijat kepala, aku masih mampu bertanya dengan mata yang menyala merah, dalam hati. Eh, mengapa pula kata 'tepatnya' menghilang. Apa pula maksud senyuman itu. Mana tatoo bunganya. Setidaknya, aku hanya mengajukan tiga pertanyaan itu. Setelahnya, kutambahkan cucuran anggur sebanyak tiga detik ke batok kelapa yang hampir pecah kalau saja tidak refleks menangkap saat aku terkejut mendengar,
"...: positif HIV."
2015. Musim Kemarau. Siang pukul 11.00 aku bangun. Meregangkan badan. Mencoba berpikir, aku mau berbuat apa hari ini. Melihat jam sekali lagi. Sekali lagi pula berpikir, 'Sudah siang rupanya'. Berdiri. Lalu duduk kembali. Menatap ponsel abu-abu. Pindah ke tumpukan buku-buku, mulai dari psikologi, sejarah, sastra, desain, entah apa lagi. Lalu, terjatuh rebah ke kasur. Aku pun kembali: tertidur.
....Kalau kau bangun nanti. Kau tau apa yang kumaksud dengan sejak. Bunga. Bukan pertama. Tanpa kata 'tepat'. Atau senyuman. Aku cuma titip. Tolong kau tulis. Hidup tidak membosankan....
Tiba-tiba, aku terbangun. Ponsel abu-abuku berdering. Tapi, tak segera kujawab dengan mengambil lalu menekan tombol bergambar gagang telepon. Aku hanya merasa, siapa sih yang berbisik di daun telingaku. Kata-kata itu jelas kudengar. Tapi, aku masih tak mampu mengingat.
Drhginhdggg....Drhginhdggg..... Aku pun menoleh. O, ada SMS. Kuambil, kubaca layanan pesan singkat. 'Ditunggu. Di Karet. Jam 1 lewat. Dia mati.'
Aku ke pemakamam, tempat segala hitam terkurung dalam satu makna.
"Sudah tiga tahun." Satu kalimat pernyataan terlontar dari mulut seorang teman, sebelum aku sempat mengajukan pertanyaan.
Kukeluarkan secarik kertas ukuran A4. Kutulis: HIDUP TIDAK MEMBOSANKAN! Kutaruh ke tengah pusara yang penuh taburan bunga ragam warna, entah bunga apa, aku tak perduli. Tiga detik aku pun bersimpuh merunduk.
Siap menengadahkan wajah, aku langsung menegakkan kaki. Menarik nafas panjang di tempat yang penuh kesesakan. Tubuh ini kuarahkan balik kanan, menuju arah matahari terbenam, beriring riuh tepukan telapak tangan para pelayat.
Lima tahun kemudian, aku berjumpa lagi dengannya. Bulan April, kalau tidak salah di tahun 2015. "Hidup itu tepatnya, hampir membosankan," kali ini ia berbicara tanpa menyingsingkan lengan kaos kanan. Aku pun bertanya ulang, seakan tidak mendengar jelas.
"Sejak kapan?"
Keningnya berkerut, melihat dahiku yang mengerut. Seakan tidak mendengar jelas, ia bertanya, apa. "Sejak kapan," aku berkata datar di dekat liang telinga kanan, sambil menyingsing lengan kaos tempat tatoo bermotif tribalism itu bersemayam. Kusingkap sedikit, ah lega hatiku. Ternyata masih ada.
Ia pun mulai bertutur sembari meneguk segelas anggur yang kusajikan di batok kelapa. (Kalau aku tak salah, setelah aku membuat tatoo baru bermotif bunga. Setelah itu, sekitar enam bulan kemudian, aku mendapat vonis: positif HIV. Jangan kau tanyakan kenapa.)
Saat ia mengatakan positif HIV, langsung aku menghentikan tegukan anggur dari batok kelapa, gelas kami yang sama. Kuambil segera botol panjang lentur hijau itu. Plopp! Langsung kutuang, bahkan melampaui kapasitas tampung mulutku.
Melihat tingkah seperti itu, ia berkata, "Kamu bukan yang pertama. Dan, itulah kenapa kusebut: Hidup, hampir membosankan."
Dengan genangan anggur di dada dan uap yang memijat kepala, aku masih mampu bertanya dengan mata yang menyala merah, dalam hati. Eh, mengapa pula kata 'tepatnya' menghilang. Apa pula maksud senyuman itu. Mana tatoo bunganya. Setidaknya, aku hanya mengajukan tiga pertanyaan itu. Setelahnya, kutambahkan cucuran anggur sebanyak tiga detik ke batok kelapa yang hampir pecah kalau saja tidak refleks menangkap saat aku terkejut mendengar,
"...: positif HIV."
2015. Musim Kemarau. Siang pukul 11.00 aku bangun. Meregangkan badan. Mencoba berpikir, aku mau berbuat apa hari ini. Melihat jam sekali lagi. Sekali lagi pula berpikir, 'Sudah siang rupanya'. Berdiri. Lalu duduk kembali. Menatap ponsel abu-abu. Pindah ke tumpukan buku-buku, mulai dari psikologi, sejarah, sastra, desain, entah apa lagi. Lalu, terjatuh rebah ke kasur. Aku pun kembali: tertidur.
....Kalau kau bangun nanti. Kau tau apa yang kumaksud dengan sejak. Bunga. Bukan pertama. Tanpa kata 'tepat'. Atau senyuman. Aku cuma titip. Tolong kau tulis. Hidup tidak membosankan....
Tiba-tiba, aku terbangun. Ponsel abu-abuku berdering. Tapi, tak segera kujawab dengan mengambil lalu menekan tombol bergambar gagang telepon. Aku hanya merasa, siapa sih yang berbisik di daun telingaku. Kata-kata itu jelas kudengar. Tapi, aku masih tak mampu mengingat.
Drhginhdggg....Drhginhdggg..... Aku pun menoleh. O, ada SMS. Kuambil, kubaca layanan pesan singkat. 'Ditunggu. Di Karet. Jam 1 lewat. Dia mati.'
Aku ke pemakamam, tempat segala hitam terkurung dalam satu makna.
"Sudah tiga tahun." Satu kalimat pernyataan terlontar dari mulut seorang teman, sebelum aku sempat mengajukan pertanyaan.
Kukeluarkan secarik kertas ukuran A4. Kutulis: HIDUP TIDAK MEMBOSANKAN! Kutaruh ke tengah pusara yang penuh taburan bunga ragam warna, entah bunga apa, aku tak perduli. Tiga detik aku pun bersimpuh merunduk.
Siap menengadahkan wajah, aku langsung menegakkan kaki. Menarik nafas panjang di tempat yang penuh kesesakan. Tubuh ini kuarahkan balik kanan, menuju arah matahari terbenam, beriring riuh tepukan telapak tangan para pelayat.
Bacalah 'Coelho' #3
(Sekaranglah saatnya. Segalanya sudah tersedia. Tumpukan kertas serta satu korek gas 'TOKAI', kubawa keluar kamar, menuju pekarangan depan tempat tumbuh sebatang pohon rambutan.)
Rasanya, sudah terlalu lama aku berpikir, inilah saatnya. Malam. Purnama. Desis neon penerang jalan. Rumah-rumah sunyi. Atap-atap tampak tenang. Sesekali tercampak seru dari knalpot sepeda motor roda dua.
Aku terduduk di beranda depan. Hanya ada satu kursi. Lantai, marmer putih.
Cras...! Api menyala. Kudekatkan siku selembar kertas, api membakar. Sebelum nyala terhenti, selembar lagi kuberikan tepat di lidah api yang menyala-nyala hampir mati. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Tumpukan pun tinggal selembar lagi.
Habis sudah.
Kupandangi nyala api yang menyala di bawah pohon rambutan yang tak pernah berbuah. Terus kutatap dengan mata yang sudah setengah nyawa. Hingga, tertinggal tumpukan arang hitam, seperti endapan kopi pekat di dasar gelas.
Aku berdiri. Melangkah, sembari nikmat menghisap kretek bercampur perca daun-daun ganja.
...................................................................................
Mata itu mulai mengejang, mengerjap cepat. Sekali tarikan nafas, ia lakukan dengan urat leher yang mengeras ketat. Tanpa tergesa, dilepas beriring gerak tulang leher mendorong wajah ke muka asap. Ia melarut, hingga sekujur tubuh terkubur dalam satu karpet bulu sewarna dengan buah pohon pekarangan rumah.
Kepalanya terkulai, lemas. Matanya, terpejam. Sosok jasad berumur 28 tahun itu pun tampak menyusut. Dan,
ia berubah menjadi bayi! Panjangnya tak lebih selengan manusia normal kelahiran 1930. Dalam kulai tidur pulas, ia masih terlihat: tampak sangat lemas. Rangka pipi yang seharusnya tertimpa timbunan lemak, jelas terpampang. Tapi, kedua tangannya masih mampu mencakar asap mengambang yang melayang menghambat pandangan aku.
(Tak seharusnya kau begini. Mungkin ini pilihan. Tapi, apakah ini benar? Tidak akan kusimpulkan.)
Tubuhnya terangkat. Pindah dari lantai beranda depan rumah, menuju ranjang dorong bersprei putih, lalu didorong dan masuklah ranjang itu kedalam ruang belakang mobil bercat putih, tanpa pelat nomor kendaraan. Tujuannya, menghadap perawat yang sudah siap di Unit Gawat Darurat.
Jalanan sepi. Sesekali seekor tikus seukuran anak kucing, seekor kucing seukuran anak anjing, seekor anjing seukuran anak bayi, lalu lalang menyeberang jalan. Laju roda karet bermerk 'Bridgestone' menggilas seekor semut yang asyik melayang, baru saja jatuh dari sarang laba-laba yang ada di tiang lampu jalan kota. Pasti, bakal mati!
Sesampai di rumah sakit yang tampak bukan seperti rumah sakit karena di bagian resepsionis tergeletak satu piano, bukan bermerk 'YAMAHA'. Sembilan pilar yang menjulang di teras depan tentu bukan tanda bangunan pengobatan, apalagi balai perobatan. Tapi, lekas saja aku mendorong ranjang turun dari bagasi belakang sepanjang 1,8 meter, lekas menyorong menuju ruang perawatan 'semoga terselamatkan'.
''Mas, Pak, Bu, Mbak, Om, Tante, daftar dulu.'' Seorang lelaki berbaju putih mengatakan hal entah kepada siapa. Kulihat, hanya aku seorang. Dengan telunjuk, kuketuk keras tulang dada, lima kali! Dia, mengangguk pada ketukan ke-tiga. ''Tulis terserahmu, nanti aku bayar. Uang, bukan masalah...,'' kusambung, ''Maz,'' setelah aku mencari tahu siapa nama orang itu melalui papan nama kecil yang ada di meja resepsionis.
''Berapa pun harga...''
''Ya. Berapa pun!''
''1 juta...''
''Ya. Berapa pun!''
''2 puluh juta...''
''Ya. Berapa pun!''
''3 juta...''
''Maz, berapa pun! Dia sudah mau mati,'' sambil kutunjuk anak bayi yang tergolek, hanya tertutup perca kain-kain ragam warna. Pemuda berambut pendek itu pun langsung terdiam. ''OK. 10 juta.''
...................................................................................
Rasanya, sudah terlalu lama aku berpikir, inilah saatnya. Malam. Purnama. Desis neon penerang jalan. Rumah-rumah sunyi. Atap-atap tampak tenang. Sesekali tercampak seru dari knalpot sepeda motor roda dua.
Aku terduduk di beranda depan. Hanya ada satu kursi. Lantai, marmer putih.
Cras...! Api menyala. Kudekatkan siku selembar kertas, api membakar. Sebelum nyala terhenti, selembar lagi kuberikan tepat di lidah api yang menyala-nyala hampir mati. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Selembar lagi. Tumpukan pun tinggal selembar lagi.
Habis sudah.
Kupandangi nyala api yang menyala di bawah pohon rambutan yang tak pernah berbuah. Terus kutatap dengan mata yang sudah setengah nyawa. Hingga, tertinggal tumpukan arang hitam, seperti endapan kopi pekat di dasar gelas.
Aku berdiri. Melangkah, sembari nikmat menghisap kretek bercampur perca daun-daun ganja.
...................................................................................
Mata itu mulai mengejang, mengerjap cepat. Sekali tarikan nafas, ia lakukan dengan urat leher yang mengeras ketat. Tanpa tergesa, dilepas beriring gerak tulang leher mendorong wajah ke muka asap. Ia melarut, hingga sekujur tubuh terkubur dalam satu karpet bulu sewarna dengan buah pohon pekarangan rumah.
Kepalanya terkulai, lemas. Matanya, terpejam. Sosok jasad berumur 28 tahun itu pun tampak menyusut. Dan,
ia berubah menjadi bayi! Panjangnya tak lebih selengan manusia normal kelahiran 1930. Dalam kulai tidur pulas, ia masih terlihat: tampak sangat lemas. Rangka pipi yang seharusnya tertimpa timbunan lemak, jelas terpampang. Tapi, kedua tangannya masih mampu mencakar asap mengambang yang melayang menghambat pandangan aku.
(Tak seharusnya kau begini. Mungkin ini pilihan. Tapi, apakah ini benar? Tidak akan kusimpulkan.)
Tubuhnya terangkat. Pindah dari lantai beranda depan rumah, menuju ranjang dorong bersprei putih, lalu didorong dan masuklah ranjang itu kedalam ruang belakang mobil bercat putih, tanpa pelat nomor kendaraan. Tujuannya, menghadap perawat yang sudah siap di Unit Gawat Darurat.
Jalanan sepi. Sesekali seekor tikus seukuran anak kucing, seekor kucing seukuran anak anjing, seekor anjing seukuran anak bayi, lalu lalang menyeberang jalan. Laju roda karet bermerk 'Bridgestone' menggilas seekor semut yang asyik melayang, baru saja jatuh dari sarang laba-laba yang ada di tiang lampu jalan kota. Pasti, bakal mati!
Sesampai di rumah sakit yang tampak bukan seperti rumah sakit karena di bagian resepsionis tergeletak satu piano, bukan bermerk 'YAMAHA'. Sembilan pilar yang menjulang di teras depan tentu bukan tanda bangunan pengobatan, apalagi balai perobatan. Tapi, lekas saja aku mendorong ranjang turun dari bagasi belakang sepanjang 1,8 meter, lekas menyorong menuju ruang perawatan 'semoga terselamatkan'.
''Mas, Pak, Bu, Mbak, Om, Tante, daftar dulu.'' Seorang lelaki berbaju putih mengatakan hal entah kepada siapa. Kulihat, hanya aku seorang. Dengan telunjuk, kuketuk keras tulang dada, lima kali! Dia, mengangguk pada ketukan ke-tiga. ''Tulis terserahmu, nanti aku bayar. Uang, bukan masalah...,'' kusambung, ''Maz,'' setelah aku mencari tahu siapa nama orang itu melalui papan nama kecil yang ada di meja resepsionis.
''Berapa pun harga...''
''Ya. Berapa pun!''
''1 juta...''
''Ya. Berapa pun!''
''2 puluh juta...''
''Ya. Berapa pun!''
''3 juta...''
''Maz, berapa pun! Dia sudah mau mati,'' sambil kutunjuk anak bayi yang tergolek, hanya tertutup perca kain-kain ragam warna. Pemuda berambut pendek itu pun langsung terdiam. ''OK. 10 juta.''
...................................................................................
Subscribe to:
Posts (Atom)