Fragmen: Sepulang Menjenguk Titarubi Di Bentara Budaya

Sudah malam rupanya. Sambil melihat taman berpohon rindang yang begitu tenang aku dengar Alia bicara di atas lori kereta Lelaki asal Eropa asyik bercanda dengan teman perempuannya yang berbaju hitam. Rokokku sudah tinggal puntung tewas dalam pijakan sepatu. Silahkan menikmati pameran tunggal Titarubi berbaur dengan gemuruh riuh telapak tangan yang beradu.

HERSTORY. Ah, aku sedang tak ingin mengkritik. Tak ingin pula aku berbual di hadapan instalasi rel keretaapi berjudul Kisah Tanpa Narasi. Alia masih ada dalam telingaku. Dia pun masih ada dalam mataku. Serupa taman berpohon rindang yang begitu tenang serta dua potong bakpau goreng dan sesendok Chinese kung pao. Atau senyum Mas Ipung serta segelas bir kaleng di tangan Redana. Tak maksud aku mencela, sungguh. Tapi jiwa selalu menawarkan garam yang asing. Garam asing yang melahirkan kejut dan takut. Alia, kacamatamu sama indah dengan sepatu kets yang engkau pakai.

Titarubi mengingatkan aku pada kehidupan kota di Inggris yang pernah kudiami hanya beberapa bulan saja. Di sana, para bangsawan begitu senang berkereta kuda di sekitar istana ratu dan raja. Aku hanya bisa iri melihat busana mereka. Paduan kain yang penuh kerumitan. Entahlah, aku rasa mereka memang senang bercanda dengan senjata atau pena. Para lelaki memang senang menulis di atas pakaian yang bukan hanya miliknya sendiri. Sekarang, aku kembali ingat pada ucapan Romo Franz. “Kita bisa mempertanyakan mengapa hanya ada ‘history’. Bagaimana dengan ‘herstory’? Tapi bagaimana pula dengan ‘sejarah’?” Aih Alia, aku memang merasa ada yang kurang dengan ketimuranku. Tapi bukannya ketimuranku tak indah. Sebagaimana maha karya terindah yang engkau tulis dalam hatimu, demikianlah keindahan ketimuran yang ada dalam diriku. Keindahan dan kesempurnaan adalah dua hal yang berbeda. Maafkan aku.

Aku tidak tahu harus memanggil apa padamu. Tita atau Rubi? Mbak Tita atau Mbak Rubi? Ibu Tita atau Ibu Rubi? Aku sangat bodoh karena tak tahu harus memanggil apa padamu. Aku ingin bertanya padamu. Adakah diantara kata-kata yang tadi kusebutkan mampu menampung rasa hormat dan takzimku kepadamu? Titarubi, perempuan kelahiran Bandung pada 15 Desember 1968, terimalah hormat dan takzimku padamu.

Kisah adalah kejadian. Narasi adalah penceritaan suatu kisah. Aku kagum ketika engkau mampu memilih judul Kisah Tanpa Narasi. Kata-kata yang engkau pilih, secara harafiah mampu menerjemahkan diri sendiri. Di dalam batinku, bahkan, kata pilihanmu sudah menjadi metafora dari dirimu yang sangat-sangat personal. Melalui kata-katamu, aku melihat gelisah dan berontak menyala-nyala dalam dirimu. Dua jalan kereta yang saling melintasi satu sama lainnya. Tapi aku tak menemukan rel yang saling tikam di titik temu perlintasan. Aku malah melihat persimpangan. Entahlah. Persimpangan memang tempat yang menakutkan. Tapi, tak jarang pula persimpangan adalah tempat pengalaman. Persimpangan adalah tantangan.

Titarubi, Titarubi. Di dalam mataku masih tersimpan instalasimu. Ada lori keranjang gigan penuh manekin keramik. Tapi, ada pula lori yang kosong. Manekin keramik engkau tumpuk seakan penuh kekesalan. Tak ada manekin yang utuh aku perhatikan. Selalu saja ada cacat. Entah tangannya patah, pinggangnya patah, atau kakinya patah, kepalanya retak, atau malah telinganya sudah rompal. Tumpukan manekin keramik yang menjelma menjadi pemandangan penumpang kereta api kelas ekonomi Jabodetabek, dalam pembahasaan Efix Mulyadi. Tapi aku tak melihat seperti Efix. Aku mendengar. Aku mendengar jerit dari manekin-manekin keramikmu. Rasanya, seperti melihat para arwah menari-nari di taman berpohon rindang yang begitu tenang. Jerit manekin keramikmu membawa pikiranku menerabas waktu. Jerit-jerit dari masa lalu. Jerit-jerit dari masa kini. Jerit-jerit dari masa depan! Jerit, dari, keranjang. Hmm, keranjang.

Titarubi, Titarubi, Titarubi. Keranjang. Hmm, siapakah kini yang tak mengenal benda itu? Siapakah kini yang tak lepas dari benda itu? Siapakah pencipta benda itu. Aku menjadi teringat ketika mengambil mata kuliah kebudayaan kontemporer. Keranjang adalah simbol dari budaya belanja manusia metropolitan. Sedang belanja adalah simbol dari psikologis kekuatan materi. Ada engkau ingin mempersamakan kekuatan materi dengan tuhan? Aku lagi tak ingin bertaruh. Biarkan aku hanya mendekatkan siapa pada manusia. Aih Alia, semoga saja aku tak salah. Ada karpet merah yang mengalasi jalan kereta api. Adakah itu darahku, darahmu, atau malah darah semua manusia? Seperti fitrah kereta di atas rel: selalu berjalan. Sedang Kisah Tanpa Narasi mengingatkan: mungkin manusia tak butuh kereta, tak butuh keranjang; meski persimpangan tak bisa dipunahkan.

Titarubi, Titarubi, Titarubi, Titarubi. Aku duga, engkau tak bakal melupakan THE SILENT SOUND OF WAR, LINDUNGI AKU DARI KEINGINANMU, I WISH I HAD A RIVER, HERSTORY ABOUT FOOT: DI BAWAH KAKIMU BUNGA-BUNGA SUDAH MATI, SELAPUT, VAGINA BROCADE, HERSTORY ON WHITE: BAJU YANG KAU PINTAL TERLALU BERAT BAGIKU, BAYANG-BAYANG MAHA KECIL #2, HERSTORY ABOUT FINGER, BAYANG-BAYANG MAHA KECIL, yang sudah menyatu di dalam Kisah Tanpa Narasi.

Alia, inilah kiranya kekurangan dari ketimuranku. Mungkin ada baiknya—mudah-mudahan apa yang aku sebutkan bukanlah bualan terhebat yang pernah aku ucapkan—tajuk pameran tunggal Titarubi bertajuk HERSTORY digubah menjadi HERSTORY: Kisah Tanpa Narasi. Maafkan aku Alia. Maafkan aku Titarubi. Ini semua karena aku hanya ingin memaknai apa itu HERSTORY.

TIGA KISAH SATU CERITA, SUATU UPAYA MERINGKAS PIALA ASIA

(Nostalgia Nasionalisme, Cinta di Patah Hati dan Bayang-bayang Mahabarata)


“Masa sepakbola bawa-bawa nasionalisme,” kata seorang pemuda yang begitu membanggakan kedunguannya. Sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, merengut mendengar. Aku merasa situasi berubah menjadi syair Bhagavad Gita dalam episode Kurusetra.


Nostalgia Nasionalisme
Nyaris enam puluh dua tahun umur Republik Indonesia. Sepanjang itulah Belanda resmi angkat kaki, meski mereka sempat berusaha mengagresi Indonesia dua kali dan berakhir gagal. Pekik ‘Merdeka atau Mati’ lagi memang lagi di masa-masa Proklamasi.

Jaman berputar serupa cakra yang menggelinding. Jerman dengan paham rasisnya runtuh sudah. Sovyet juga tenggelam bersama Marxisme-Leninisme tahun 1989 seiring dengan dirubuhkannya tembok Berlin, pembatas Jerman Barat dan Jerman Timur. Kini, di jaman post-modernisme, di jaman globalisasi, nasionalisme menjadi benda usang yang diperjual-belikan di toko loak. Meski begitu, sesekali nasionalisme tampil sebagai barang antik yang diburu kolektor dari seluruh penjuru mata angin. Tak kecuali di Indonesia.

Indonesia tersingkir dari ajang Asian Football Championship 2007. Indonesia, bukan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia alias PSSI. Lebih dari 50.000 penonton, termasuk di dalamnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, di Stadion Gelora Bung Karno yakin akan hal tersebut setelah Republik Korea Selatan menjaringkan bola satu kali di gawang Marcus Horison. Melalui televisi, jumlah orang yang yakin Indonesia tersingkir bukan lagi 50.000 lebih, melainkan berlipat-ganda menjadi 200 juta-an jiwa.

Meski tidak begitu intens, saya tetap mengikuti setiap pertandingan tim Merah-Putih melalui layar televisi. Setiap pertandingan yang saya lihat memberikan suasana psikologis yang berbeda, yang asing daripada yang saya rasakan di dalam keseharian. Saya begitu meng-Indonesia. Saya bukan orang yang romantis juga nasionalis, tetapi saya heran entah mengapa setiap kali mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan hati saya bergetar-getar. Situasi jiwa begitu mencekam serupa horor yang bersahabat. Dan imajinasi saya pun melangkah masuk ke masa-masa Indonesia berkeringat merebut kemerdekaan. Alam di mana darah tumpah begitu melimpah di lahan Nusantara. Alam yang begitu merindukan cita-cita tahun ’28.

Di tengah landaan perasaan sedemikian, saya sadar bahwa sesungguhnya nasionalisme bukanlah bahasa yang susah untuk dijelaskan. Nasionalisme pada dasarnya adalah pengalaman, situasi kejiwaan. Keinginan menjabarkan nasionalisme dalam seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku, menurut saya hanya berujung pada kesia-siaan belaka. Lewat cara demikian nasionalisme tidak menjadi terang dan jelas. Malahan sebaliknya yang terjadi. Nasionalisme hadir dalam bentuk abstrak, njilmet dan bisa memasung kebebasan. Dan karena itu pulalah, nasionalisme pun mudah untuk disangkal—seperti yang dilakukan seorang pemuda yang begitu membanggakan kedungguannya di hadapan aku dan sepasang orang muda. Sebagaimana seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku yang memuat penjabaran nasionalisme mudah dibangun, maka semudah itu pulalah nasionalisme diruntuhkan. Seenteng menyusun sendi argumentasi pendukung nasionalisme, maka kelompok penentangnya pun akan mudah pula menyusun sendi argumentasi penangkal nasionalisme. Apalagi setelah kredibilitas rasio semakin dipertanyakan di penghujung abad ke-20 oleh para filsuf-filsuf kenamaan dunia. Maka, pengalaman pun tampil ke permukaan menawarkan cara dan metode pengenalan dan pendekatan yang lebih ampuh untuk menjabarkan nasionalisme. Di era sekarang ini, masa-masa penjajahan sudah tidak ada lagi, kelihatannya olahraga merupakan media paling tepat bagi pengajaran nasionalisme, terutama sepakbola. Sebabnya, cabang olahraga ini memiliki daya lebur kelas sosial yang begitu mematikan. Melihat tiga pertandingan kesebelasan Merah-Putih di Gelora Bung Karno melalui televisi, saya tidak merasa ada perbedaaan kelas yang jelas di antara penonton hadir, sekalipun mereka duduk di barisan VIP atau sekadar tribun kelas dua dengan harga tiket Rp15.000. Dan, memang nasionalisme sesungguhnya bekerja atas dasar peleburan kelas menuju satu keinginan bersama, Indonesia berjaya di ajang sepakbola dunia, di ajang perekonomian dunia, di ajang budaya dunia, di ajang bahasa dunia, di ajang pendidikan dunia, di ajang teknologi dunia, di ajang diplomasi dunia.

Sayangnya, nasionalisme di Indonesia jatuh pada pengalaman temporer belaka. Nasionalisme bukanlah pengalaman keseharian yang kolektif di Indonesia. Nasionalisme hanya milik segelintir orang di negeri ini. Dan saya merasa tak layak untuk menjawab mengapa seperti itu keadaannya. Nasionalisme di Indonesia hadir serupa kaset yang dibeli hanya untuk didengar sesaat dan setelahnya dibuang atau dijual ke toko loak hingga tiba suatu masa para kolektor dadakan pun berjibun antri membelinya sekadar ingin bernostalgia belaka.


Cinta di Patah Hati
Sejak Piala Asia digelar, ratusan kostum Merah-Putih laris manis di pasaran. Ribuan pemain ke-dua belas ikhlas membeli kostum dan dengan bangga mengenakannya dalam perjalanan dari rumah menuju Stadion Gelora. Rasanya, seperti orang pacaran saja. Para penonton hadir sebelum janji pertandingan dimulai. Memang, di sana para pemain ke-dua belas dan kesebelasan Indonesia sedang dimabuk cinta pada kata ‘Menang.’ Apalagi, ‘Ini kandang kita!’

Namun, kini semuanya pupus sudah. Meski Indonesia tak perlu angkat koper, tapi hati tetaplah sedih. Asmara yang mereka harapkan punah ditelan Kerajaan Arab Saudi dan Republik Korea Selatan. Tapi, apa mau dikata. Segala upaya sudah tumpah, mulai dari keringat, tabuhan gendang hingga teriakan. Semuanya tak cukup untuk membuat Sang Kekasih bertekuk lutut. Ada ujar yang mengatakan, “Mungkin Dewi Fortuna masih di Italia atau Yunani atau Belanda atau Amerika malah. Dia tak sempat berjalan-jalan ke Asia, dan singgah di Indonesia.”

Sedikit berlagak bijak, saya merasa Indonesia belumlah menjadi Don Juan di lapangan sepakbola. Meski begitu, patutlah diingat pula bahwa Don Juan tidak lahir dari sukses belaka. Reputasi kisah cintanya yang melimpah ruah tentulah buah dari duri-duri kegagalan yang berhasil diaenyahkan. Demikianlah cinta adanya. Dibutuhkan kerja keras, ketulusan, keseriusan dan jam terbang yang lama. Pengalaman lagi-lagi menjadi yang utama; dan dalam hal ini patah hati Indonesia di lapangan bola masih terbilang terlampau sedikit. Itu tak cukup buat modal bersaing dengan Don Juan lapangan hijau lainnya, semisal saja Kerajaan Arab Saudi, Republik Korea Selatan atau Jepang. Apalagi Brasil, Argentina, Italia pun Belanda. Padahal, Sang Kekasih yang bernama Kemenangan alias Victory itu juga merupakan idaman hati dari ratusan tim yang ada di Bumi ini.

Kekalahan di ajang Piala Asia pasti membuat Indonesia bersedih. Tetapi, yang penting adalah bangkit dari kesedihan. Sebab harus diingat pula, Sang Kekasih di lapangan sepakbola yang bernama Kemenangan itu selalu setia menanti, meski senang berganti-ganti pasangan. Kerja keras dan ketulusan dan keseriusan adalah hal yang patut diprioritaskan setelah jam terbang masuk kategori tak terkalahkan. Setidaknya, itulah yang saya ketahui setelah melihat sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, saling senyum. Saya sempat mengingat aura lesu dan layu yang terlukis di wajah keduanya ketika peluit panjang berbunyi dan babak kedua pun selesai dengan skor 1-0 untuk Republik Korea Selatan. Saya hanya bisa menyimpulkan, “Sepertinya mereka sudah kuat menahan patah hati,” sambil tertawa-tawa sendiri.


Bayang-bayang Mahabarata
Menjelang Piala Asia, di seputaran Stadion Gelora ramai terpasang poster raksasa potret pemain kesebelasan Indonesia beraksi dengan satu tag-line ‘INI KANDANG KITA’ di sudut kanan bawah. Di belakang potret ada gambar tokoh pewayangan dari kisah Mahabarata, serta sedikit Ramayana. Dan yang berada Bambang Pamungkas adalah sosok Arjuna, ahli memanah asal Hastinapura, sedang Ellie Aiboy kalau tak salah disandingkan dengan Anoman, kera putih yang membantu Rama menaklukkan Alengka.

Ide menyamakan para pemain kesebelasan Merah Putih dengan tokoh pewayangan menurut saya menarik. Tapi, yang saya sayangkan mengapa pengurus PSSI jatuh pada pilihan yang didominasi kisah Mahabarata. Maaf, bila saya dirasa terlampau berlebihan. Saya tidak bermaksud menyatakan Mahabarata sebagai kisah yang jelek; pun menyamakan Ponaryo dan rekan dengan para tokoh Mahabarata adalah ketololan. Saya pun tidak ingin mengkritik, tindakan itu sangat berkesan Jawasentrisme. Sama sekali tidak ada niatan demikian.

Penilaian yang saya tuliskan pada bagian ini terinspirasikan perkataan Ki Mantheb S. Suatu ketika ia pernah berkata, “Wayang adalah bayang. Ketika dalang memainkan tokoh wayang di sebelah kanan, penonton penikmat malah menyaksikan tokoh tersebut berada di sebelah kiri. Begitulah, kanan pun menjadi kiri, sedang kiri menjadi kanan. Antara Kurawa dan Pandawa, siapakah yang lebih baik? Tokoh-tokoh Kurawa yang dimainkan di sisi kiri, bagi penonton malah berada di sisi kanan. Tokoh-tokoh Pandawa yang dimainkan di sisi kanan, bagi penonton malah berada di sisi kiri. Apakah Pandawa memang berada di posisi seratus persen benar? Bagaimana dengan peristiwa perjudian Pandawa dengan Kurawa, ketika Yudhistira menjadikan istrinya sebagai taruhan? Apakah ada moralitas Pandawa dalam situasi demikian?” Kira-kira demikianlah Ki Mantheb berkata.

Sedikit lancang, saya menyimpulkan pengisahan Mahabarata tidak ditujukan pada pemilahan baik versus jahat yang kaku, melainkan samar dan penuh jebakan. Pengisahan itu, menurut saya tidak seperti kisah Ramayana. Di kisah Ramayana, baik versus jahat memang benar terpisah. Baik ada di kubu Rama, Laksmana dan Sinta. Sedang jahat, adanya di Alengka, tepatnya Rahwana. Memang ada latar yang perlu diperhitungkan, semisal Rahwana menjadi jahat disebabkan sebab tertentu dan Rama harus menjadi pembuangan dari Ayodya pun dikarenakan suatu ihwal yang bila dikisahkan disini menjadi terlampau meluas. Namun, sebab dan ihwal mengapa Rahwana haus darah dan Rama terbuang tidak menjadi alasan pemaklum. Sepanjang pengisahan, tetap saja Rahwana ditempatkan sebagai orang yang jahat dan harus dibasmi. Karena itu, menurut saya, alangkah tepatnya bila para pemain tim nasional digambarkan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari kisah Ramayana. Bisa Sugriwa, Subali, Anoman, Rama, Laksmana, Batara Indra, Hyang Baruna dan semacamnya. Bila sudah demikian, tentulah lawan kesebelasan PSSI pastilah duta Alengka. Karena itu, seturut takdir dan kehendak dewata yang berlaku dalam kisah Ramayana: Alengka kalah, pun (saya berharap) berlaku juga di lapangan sepakbola.

Meski begitu, pada dasarnya saya tak hendak mencari-cari kambing hitam penyebab tak lolosnya tim nasional Indonesia dari babak penyisihan. Hal yang tersebut di atas adalah kenyelenehan yang saya sadari sendiri dan belumlah tentu benar penafsiran demikian. Dan karena kisah Mahabarata itulah saya suka membayangkan lapangan sepakbola di Stadion Gelora seperti medan pertempuan Kurusetra, lokasi Pandawa dan Kurawa beradu digdaya. Dan di setiap pertandingan tim nasional Indonesia, pertanyaan siapakah Pandawa dan Kurawa selalu sulit untuk dijawab sebelum peluit panjang berbunyi untuk terakhir kali dan memang saya menetapkan pilihan untuk tak menjawabnya. Kesebelasan mana saja bisa menjadi Pandawa atau Kurawa. Yang jelas, Ivan Kolev sungguh berhasil menghadirkan Kurusetra di Stadion Gelora. Indonesia tampil dengan kolektifitas yang tinggi, daya juang yang menggunung, meski terpaksa takluk pada kebugaran fisik yang cepat padam, terutama pada pemain yang berada di medan gelandang. Tetapi, keletihan fisik itu tidak menghapus pukauan strategi dan nyali yang luar biasa yang ditunjukkan pemain tim nasional yang berlaga di lapangan: Yendri Pitoy, Marcus Horison, Maman Abdurrahman, Yulianto, Ricardo Salampessy, Muhammad Ridwan, Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Syamsul Chairul Bahri, Ponaryo Astaman, Eka Ramadani, Firman Utina, Bambang Pamungkas, Mahyadi Panggabean, Supardi, Atep, Ismed Sofyan dan juga Erol Aiboy.

DEDY MIZWAR, NAGABONAR, MELONCAT DARI LAYAR LALU MASUK KE DALAM NALAR, BERDIAM SEJENAK SAMBIL MENGINGAT SUDAH BERAPA LAMA PENJAJAHAN BERKELANA DI DUA

DEDY MIZWAR, NAGABONAR, MELONCAT DARI LAYAR LALU MASUK KE DALAM NALAR, BERDIAM SEJENAK SAMBIL MENGINGAT SUDAH BERAPA LAMA PENJAJAHAN BERKELANA DI DUA WARNA dalam darah yang tak lagi MERAH


Siapakah Nagabonar? Dialah tokoh rekaan almarhum Asrul Sani, pencopet yang dikarenakan sejarah terpaksa menjadi Jenderal Medan-Lubuk Pakam! Sedang Deddy Mizwar, manusia utuh yang bekerja sebagai aktor, dan kini menjadi sutradara film Nagabonar (Jadi) 2! Dulu, bersama Nurul Arifin yang berperan sebagai Kirana, dia tampil dalam film Nagabonar garapan almarhum Asrul Sani, memerankan tokoh Nagabonar. Sekarang, cerita baru bermulai ditandai dengan kepulangan Bonaga ke kampung halaman untuk membawa ayahnya, Nagabonar, ke kota Jakarta!

Film yang baik, menurut saya, adalah film yang tak hanya berdiam dalam layar melainkan mampu meloncat ke luar lalu menari-nari di alam nyata, alam keseharian, alam para manusia yang hadir di Bumi dengan suratan tangan yang sudah ditetapkan pula oleh Yang Maha Kuasa. Nagabonar (Jadi) 2 pun demikian. Ia lahir dan sekarang menari-nari di alam nyata bersama jaringan bioskop 21, membawa ketetapan takdir dari penciptanya, almarhum Asrul Sani! Lalu, dimanakah Deddy? Dia ada di depan saya ketika Rendra menerima anugerah Federasi Teater Indonesia pada Januari lalu di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan.

Di Indonesia, rasanya tiada seorang pun yang tak pernah kupingnya mendengar kata ‘Nagabonar.’ Mulai dari Susilo hingga Bambang yang menarik becak di pinggiran Jakarta, juga Rara, jablay yang sering mangkal di dekat pusat belanja metropolitan. Apalagi Dennis, yang kini berhenti sekolah karena kekerasan yang kerap dia terima dari para jawara di kampusnya yang panas tiada terkira. Tohar, lelaki yang pernah berprofesi menjadi supir perusahaan kelontong berkaliber internasional, dapat dipastikan pernah mendengar kata itu, bahkan bukan tak mungkin pula dia pun pernah berjabat tangan dengan Asrul Sani, dengan cara yang sungguh luar biasa: disengaja!

Kini, Nagabonar sudah tua. Deddy Mizwar, apalagi. Beruntung masih ada Tora Sudiro yang sedia menjadi Bonaga, satu-satunya anak Nagabonar yang hidup (empat kakak Bonaga mati setelah lahir!); meski itu harus dibayar dengan kenangan pada Nurul Arifin disebabkan Kirana meninggal dunia usai melahirkan Bonaga. Sedang Belanda, sejak era 40-an sudah sayonara dari khatulistiwa. Selain pangkat Jenderal yang tidak penting, Nagabonar masih punya kebanggaan yang lain, yakni anaknya: Bonaga! Sesungguhnya pula harus diketahui, Bonaga adalah hasil evolusi diftong au. Sebagaimana harimau bisa dibaca jadi harimo, atau pantai dapat dibaca jadi pante, maka Bonaga pun berawal dari Baunaga, lalu lewat teori evolusi ‘yang kuat yang hidup,’ Baunaga pun jadi Bonaga.

Dalam kultur Tapanuli, Bonaga adalah Bo-naga, adalah Bau-naga. Bau-Naga adalah satu-satunya bau yang mampu memualkan lambung hanya dalam hitungan sekedipan mata, dan memiliki radius yang sangat sangat sangat jauh melebihi kemampuan alat pendeteksi reaktor nuklir milik Pentagon yang berada di atas langit kebiruan menemani satelit Bumi yang cuma satu-satunya itu: Bulan, yang bagi Nagabonar adalah Karina, istrinya yang punya cinta melimpah sampai-sampai dia tak sanggup menampungnya. Dan pasti tak ada seorang pun di Bumi ini yang tak tahu dimana bulan berada. Demikianlah Nagabonar dan Bonaga pun semakin mudah berbicara: “Apa kata dunia,” dengan logat khas Deli Serdang; meski Nagabonar hingga tahun 2007 tetap saja buta aksara dan masih tak bisa membaca peta (apalagi peta dunia), sama dengan kemampuan mencopetnya yang tak pernah tumpul dimakan zaman.

Kepada Wulan Guritno, terima kasih karena sudah memerankan Monita. Sama dengan Bonaga, Monita juga hasil evolusi, globalisasinya Thomas L. Friedman. Mau-Nita! Metropolis(!), yang tak lagi membuat para pria susah-susah belajar memainkan gitar dan menantikan malam, lalu duduk sambil bernyanyi di bawah pohon tak jauh dari jendela kamar sang pujaan hati tanda proposal rayuan sudah diajukan tinggal menanti jawaban. Memang, cara itu sudah tak laku lagi disebabkan jendela kamar Bonita saja sudah semakin dekat dengan bulan. Tentu diperlukan JAVA PRODUCTION pimpinan Adri Subono untuk meminjamkan seluruh perangkat konser Madonna yang rencananya, kalau tak ada halangan, bakal digelar tahun ini. Bagi Bonaga sesungguhnya itu tak masalah, apalagi Tora yang sudah pernah meraih Piala Citra lewat Arisan! Tapi, bagi Nagabonar itu tak perlu. Sebagai turunan raja, ia teguh berpegang pada petuah lama: Perempuan adalah Perempuan, ingin sebenang lebih dari lelaki! Monita dan Bonaga dengan benang diantaranya. Demikianlah percintaan di era globalisasi yang biasa berakhir di atas keranjang tidur tidak berlaku bagi duet Bo-Mo, yang sudah serupa dengan duet Romario-Bebeto pada Piala Dunia 1994 di negerinya George Washington. Kisah romantis Monita dan Bonaga hanya berhenti pada shiuman di pipi, kanan dan kiri, bersamaan dengan ditemukannya ketiak ular, suatu hal yang bisa memusingkan Nagabonar. Kitik nipe, demikianlah bahasa Batak Karo menyebut ketiak ular. Tak seorang pun mengetahui dimana ketiak ular berada. Namun apabila ketiak itu ditemukan, maka hewan reptil yang semematikan apa pun pasti takluk di tangan seorang awam. Karena itu, perempuan adalah ular dan lelaki adalah pawang. Bila tak berhati-hati, bisa di ludah dapat berpindah ke dalam darah. Dan darah siapapun juga, entah yang hidup dan yang mati, pasti berwarna merah! Apakah ini yang membuat Nagabonar mencari makam Jenderal Soedirman? Sepertinya: Tolol! Tapi,

apa boleh buat tai kambing bulat-bulat: anak Siti Maemunah dengan begitu bodohnya berteriak agar patung Jenderal Sudirman berhenti menghormat (ke utara), sampai-sampai Nagabonar rela memanjat patung tersebut sambil berharap Sang Jenderal menuruti keinginannya. Sebagaimana patung di mana pun di kolong jagat, Jenderal Soedirman pun takluk pada takdirnya yang ditetapkan hanya untuk menuruti rencana penciptanya. Dan Nagabonar yang tampak tolol tapi bukan bodoh yakin bahwasanya Jenderal Soedirman tidak akan sembarang menghormat! Apalagi bila diingat bahwa Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata adanya di selatan Jakarta! Sedang patung dua Proklamator tak jelas menghadap kemana. Padahal, seturut kesaksian Nagabonar, setiap hati (entah pembunuh, pencuri, pencopet, petani, pedagang, menteri, tukang becak, penipu, pegawai negeri, hakim, mulai dari yang paling sajadah hingga yang paling haram jadah) yang mendengar suara Bung Karno ketika bepidato pasti bergetar! Siang itu, di Tugu Proklamasi, ada empat anak lusuh; seorang diantaranya memandang Nagabonar yang menghormat ditemani Umar dengan tatapan yang penuh keheranan. Begitu juga Umar, supir bajaj yang santun dan selalu memakai handuk biru yang disampirkan di tengkuk, keheranan melihat tingkah Nagabonar. Adakah biru muda mengingatkanmu pada sesuatu atau malah kesantunan yang mengingatkanmu pada sesuatu? Berkendara bajaj Umar yang dilengkapi miniatur bendera Merah-Putih di sisi kanan dan kiri, Nagabonar menjelajah Jakarta dan bertemu seorang polisi berpangkat Bripda, polisi yang tak bisa menjelaskan mengapa bajaj dilarang melintasi Jalan Jenderal Soedirman. Yang jelas, Jenderal Medan-Lubuk Pakam Nagabonar harus rela berjalan kaki menuju patung Jenderal Soedirman bersama Umar di Indonesia yang sudah merdeka, jauh sebelum kelahiran teman-teman ciliknya yang menemani dia bermain bola di lapangan apa-adanya yang berada tak jauh dari rumah anaknya, si Bonaga. Nagabonar hanya paham bahwasanya Ibu, Istri, dan si Bujang selalu hidup dalam hatinya; sedang zamannya Bonaga masih dan masih coba dia pahami hingga Nagabonar ingat rencananya membeli karpet sebagai alas lantai Mushola Nurul Fikri yang pernah ditawarkan Indra Birowo ketika dia sedang berguru mengaji ke Umar, supir bajaj yang selalu menyampirkan handuk biru muda di tengkuknya. Dimanakah cerita ini usai? Yang jelas bukan di kuburan, sebab Nagabonar sudah bertahan untuk tetap berdiri menghormat sampai bendera Merah-Putih yang dikerek dua pelajar Sekolah Dasar berkibar di pucuk tiang. Saat itu, Nagabonar sempat tumbang, namun serempak puluhan anak sekolah dasar segera menopang tubuhnya hingga tak menyentuh tanah, dan bendera yang semula tersendat naik itu pun akhirnya berhasil digiring sepasang pelajar sekolah dasar menuju pucuk tiang. Nagabonar berhenti menghormat! dan dia kembali berdiri tegak! Dan sepertinya, Piala Citra 2007 sudah menentukan pilihan. Tapi, sepertinya pula Deddy Mizwar berharap pada sesuatu yang lebih dari sekadar piala, yakni buah cintanya dengan Karina, Bonaga. Bukan ‘Jenderal’! Dan Asrul Sani, memang belum pergi. Sedang feminisme tampaknya harus kerja lebih keras gara-gara segaris benang saja. Atau,

masih ada satu lagi. Ini hanya sebuah film belaka dengan peran yang tak terlalu memukau. Apalagi Wulan Guritno, Darius Sinathraya, juga Jaja Miharja pun Uli Herdiansyah! Seturut Nagabonar, umurlah yang mendekatkan kita dengan Tuhan. Maka Nagabonar pun belajar mengaji pada Umar, agar tak dimarahi Mamaknya nanti di alam baka.

Musfar Yasin: Amin!!!


Catatan: Tulisan ini masih banyak salah ketik. Karena itu, saya membebaskan sidang pembaca merangkai cetakan yang benar yang sesuai dengan Anda sendiri di dalam benak Anda. Demikian harap maklum sebab ‘Tulisan ini adalah rekayasa belaka. Bila ada kesamaan nama dan cerita dan ketololan, itu hanya soal kebetulan saja alias tak usahlah dilebih-lebihkan.’
ALIS DAN KENANGAN DIPENJARA

Namanya, Ali Yusuf Abu. Asal, Afrika Selatan. Umurnya, 26. Kemarin, dia menjalani pemberkasan di lantai empat, ruang Satuan Narkoba Polres Jakarta Timur.

Dua tahun lalu, 2004, pria kelahiran Cape Town ini tiba di Indonesia. Bekalnya, visa wisata. Itu berdasar pengakuan dia. Tapi, pemeriksaan di Markas Komando Polres Jakarta Timur membuktikan bahwa visa tersebut cuma kamuflase belaka. Kanit II Narkoba Polres Jakarta Timur AKP Budi Santosa sudah menetapkan dia sebagai tersangka penipuan. Dan sebenarnya, kesalahan dia tak hanya itu. Ketika ditangkap pada pukul 07.00, di Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat, kemarin, Alis tak membawa paspor. Padahal, bagi seorang yang tergolong Warga Negara Asing (WNA) paspor merupakan identitas pengganti Kartu Tanda Penduduk (KTP). Penetapan itu sendiri ternyata berlatarkan cerita yang dimulai sejak Juli 2006. Saat itu, pihak kepolisian mendapat informasi dari warga. Isi informasi itu: Alis pengedar putauw! Sebagai tindak lanjut, Polres Jakarta Timur menelusuri gerak-gerik Alis.

Dan, puncaknya terjadi ketika polisi yang menyamar berhubungan via telepon dengan tersangka. Soal yang mereka bicarakan tak lain adalah jual-beli putauw. Melalui telepon, polisi menyatakan bahwa mereka punya uang Rp18 juta. Alis menjawab, nominal sebesar itu setara dengan 50 gram putauw. Kedua belah pihak pun setuju, tinggal menentukan lokasi transaksi. Dipilihlah, Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat.

Di tempat itu, polisi dan Alis bertemu. Alis meminta polisi mengunjukkan uang. Uang dalam amplop yang disembunyikan dibalik jaket pun ditunjukkan. Kini, gantian polisi yang meminta Alis melakukan hal serupa. Tapi, Alis tak memenuhi permintaan itu. Sebagai dalih, dia berjanji menyerahkan paket putauw setelah uang berpindah tangan dahulu. Tentu saja, itu tak bisa dipercayai oleh polisi.

Alis yang lumayan bisa berbahasa Indonesia ini pun mengajak polisi berkeliling untuk mengambil 'barang'. Setelah tawaran itu diikuti, polisi pun curiga Alis mau melarikan diri. Tanpa diduga, Alis langsung dibekuk dan dibawa ke Markas Komando Polres Jakarta Timur.

Di ruang pemeriksaan lantai empat itu, mengenakan kaos sport merah berlogo 'Air Jordan', Alis menyoal penangkapan itu. "Saya salah apa? Tidak ada barang bukti," kata pria berambut kriting dan pendek ini. Anehnya, dia tidak mangkir ketika dia ditetapkan sebagai penipu. Fakta pun meluncur dari mulutnya sendiri. "Dulu, saya pernah tipu napi di Salemba," kata lelaki yang berpostur gempal ini santai. Ceritanya, waktu itu napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Salemba mau membeli putauw. Alis menyanggupi, tapi dengan syarat: uang dulu, baru barang. Setelah persyaratan dipenuhi, Alis segera raib.

Selain kejahatan itu, lelaki kelahiran 1980 ini pun mengungkap aib barunya lagi. Ia pernah dipenjara selama satu tahun karena soal aniaya. September 2006 bebas.

Pada tahun 2005, di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, ia menghajar rekan kerjanya yang berasal dari Kamerun hingga berdarah. "Dia menipu saya," katanya pula menerangkan sebab aniaya. Ternyata, hubungan antara Alis dan rekannya itu pun tak jauh dari 'dunia hitam'. Mereka berkomplot membuat uang palsu, khususnya mata uang Paman Sam. Ketika itu, seingat dia, 100 USD palsu mereka jual seharga Rp780 ribu. Masalahnya, keuntungan 'bisnis' tersebut seluruhnya dibawa pergi rekan kerjanya itu. Inilah pangkal pemukulan itu.

Kini, ingatan setahun dipenjara muncul kembali. "Ya, pusing deh. Bakal masuk lagi nih...," Alis mengeluh!
PARENTAL ADVISORY: KEBODOHAN YANG TAK BOLEH BELAJAR

Film 'Pocong' karya Rudi Soedjarwo dinyatakan tidak lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Alasannya, berdasarkan Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006, ada 9; diantaranya tidak bersesuaian dengan norma kesopanan, menonjolkan adegan kekerasan dan kekejaman lebih dari 50 persen, hingga terkesan kebaikan dikalahkan kejahatan. Ketua LSF Titie Said menambahkan pula dampak dari film itu. Menurut dia, film itu dapat membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998.

Persoalan tidak lulus sensor mengartikan satu hal pokok, yakni ketidak-layakan tayang. Mengingat kata 'ketidak-layakan', saya terkenang pernyatan Franz Magnis Suseno di tahun 2003, tentang etika. Persoalan rumit itu disederhanakan menjadi satu kalimat sederhana: tidak semua hal yang dapat dilakukan (baca: kebebasan) boleh dilakukan (baca: tanggung jawab). Pencitraan praktis dari inti etika tersebut, kira-kira: meski semua manusia berpotensi (baca: dapat) membunuh, tapi kerja membunuh itu sendiri tidaklah layak dilakukan. Bila ditarik lebih panjang, persoalan ini bermuara pada kebebasan bertanggung-jawab. Seseorang dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan yang dilakukan hanya bisa terlaksana apabila yang bersangkutan memiliki kebebasan memilih tindakan.

Kembali ke soal film 'Pocong' yang berbiaya Rp3 miliar ini. Untuk pertama kalinya, film ini haruslah dilihat sebagai salah satu mode ekspresi kesenian, diantara sekian banyak mode ekspresi kesenian lainnya, seperti sastra, suara, lukisan, teater dan lainnya. Dan, dunia ekspresi kesenian ini pada dasarnya berlandaskan kebebasan atau semesta probabilitas. Karena itu pulalah maka seniman memiliki keleluasaan 'boleh melakukan apa saja'. Namun, adanya keleluasaan ini tidak mengandaikan bahwa seniman menihilkan soal etika dalam berkarya. Seniman tetap memiliki standar etika, yang saya sebut dengan 'institusi etika prifat'. Di dalam 'institusi etika prifat' inilah tersimpan mana yang boleh dan tidak. "Institusi etika prifat' ini pulalah yang memungkinkan Rudi Soedjarwo menghasilkan film 'Pocong'.

Keberadaan 'institusi etika prifat' didalam diri Rudi terbukti melalui pembelaannya sendiri. Menurut Rudi--masih dalam artikel Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006--film Holywood dan tayangan televisi lebih sadis dari film 'Pocong' yang ia buat. Tidak hanya itu. Film 'Pocong' pun disebut Rudi memiliki pesan moral, yakni 'kita harus lebih takut kepada manusia daripada kepada setan'. Pembelaan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Rudi atas pilihan dan kebebasan ekspresi yang dia miliki.

Memang, selama film 'Pocong' dibuat untuk konsumsi sendiri, keperluan pribadi, maka tidak akan pernah ada masalah muncul. Tapi, ketika film ini hendak masuk ke ruang publik, masalah timbul. 'Institusi etika publik' menyaring hasil 'institusi etika prifat'. Kategori layak atau tidak pun bermain.

Dari perspektif ini, terlihat jelas bahwa LSF berposisi sebagai 'institusi etika publik'. Lembaga ini menyaring hasil kerja Rudi bersama rumah produksi Sinemart. Proses seleksi yang membutuhkan waktu dua minggu dilakukan tiga tahap, dari kelompok pertama ke pelaksana harian lalu ke pelaksana harian plus yang berisi agamawan, budayawan, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk kehati-hatian ini, saya pribadi mengucapkan salut. Namun, hasil akhir yang menyatakan bahwa film 'Pocong' tidak layak tayang, jelas-jelas menyakitkan.
Tentu saja, 'institusi etika prifat' milik Rudi beserta Sinemart terlebih dahulu tersakiti. Dan, bisa jadi beberapa personal di LSF, misalnya Titie Said pun bersedih; sebab menurut dia kualitas sinematografi, pencahayaan, akting dan dialog fim tersebut tergolong 'oke'. Selain mereka, saya pun merasa tersakiti. Dan, dengan menyadari dasar keberadaan LSF adalah hak sosial individu yang dilimpahkan ke negara, maka rasa tersakiti itu pun semakin menusuk. Dengan kata lain, saya sebagai individu yang telah melimpahkan hak sosial ke negara dengan kesadaran sendiri mengambil pisau dan menyayatkannya ke tubuh saya sendiri. Ya, putusan LSF adalah putusan saya sendiri untuk menghujamkan belati ke pembuluh nadi saya.

Disinilah keberatan dan ketidaksetujuan saya atas putusan LSF itu. Menurut saya, putusan 'institusi etika publik' LSF melabelkan satu hal ke 'institusi etika prifat' yang dimiliki tiap individu, yakni kebodohan. LSF dengan kekuasaannya mengklaim bahwa publik yang bakal menikmati film ini adalah sekumpulan orang bodoh-tolol yang tidak memiliki standar etika. Dan karena itu, satu film Rudi Soedjarwo--perkiraan saya berdurasi maksimal dua jam--mampu meracuni khalayak penonton untuk berbuat kekerasan dan kekejaman seperti yang ditampilkan film tersebut. 'Institusi etika prifat', khususnya saya, dicap bodoh-tolol oleh LSF 'institusi etika publik'. Betapa, hak sosial yang saya berikan kepada LSF ternyata telah disalah-gunakan dengan merenggut kebebasan milik saya untuk menilai apa dan bagaimana film 'Pocong' itu.

Selain itu, hal lain yang menyinggung adalah dugaan bahwa film 'Pocong' dapat 'membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998'. Kalimat yang disuarakan Titie Said, bagi saya naif. Dugaaan atau kekhawawtiran atau ketakutan dalam pernyataan itu menyiratkan dua hal. Pertama, 'kita' harus melupakan tragedi; Kedua, 'kita' harus hidup damai tanpa 'luka lama dan dendam...' Saya secara pribadi menyakini bahwa siratan pertama bukanlah pilihan posisi bagi seorang yang bernama Titie Said, yang menurut saya, mampu merasakan derita yang dialami korban tragedi itu. Ketua LSF ini pastilah bermaksud pada siratan kedua, yakni 'luka lama dan dendam...' itu harus diselesaikan hingga 'kita' dapat hidup damai bersama.

Disitulah letak kenaifan LSF. Sebab, dampak tragedi Mei 1998 bukanlah terletak di dalam film, melainkan di kenyataan itu sendiri. Apakah Indonesia memang sudah menuntaskan sejarah kelam bangsa yang selalu mengagungkan nilai ramah tamah dan sopan santun ini?

Di sisi lain, dugaan atau kekhawatiran atau ketakutan LSF itu ternyata membongkar pola pikir 'institusi etika publik' ini. Melalui dugaan itu, saya pun dapat melihat apa dan bagaimana film di mata 'institusi etika publik' ini. Film bagi 'institusi etika publik' ini berada di atas kenyataan. Dan pola pikir inilah yang berusaha 'mereka' suntikkan ke kepala 'institusi etika prifat' yang kadung dicap bodoh-tolol. Film melebihi kenyataan! Menurut saya, ini pola pikir yang salah. Seharusnya 'institusi etika publik' ini mempromosikan ide bahwa film merupakan sub-ordinat kenyataan. Jadi, sebagus apa pun film yang dibuat, tetap saja kenyataan yang menempati posisi teratas.

Apakah putusan LSF ini bisa dibatalkan atau tidak--seperti perubahan keputusan dari meluluskan menjadi menarik dari peredaran film 'Buruan Cium Gue!' yang dikarenakan desakan 'institusi etika prifat'-yang-memublik*--wallahuallam, saya tidak bisa memastikan. Yang pasti, setidaknya hingga saat ini, 'institusi etika publik' menegaskan bahwa 'institusi etika prifat' cuma berisi kebodohan, ketololan, tolol bakero belaka! Bila sudah begini, kodrat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dengan derajat tertinggi (baca: memiliki akal budi) diantara semua mahluk ciptaan-Nya pun menjadi semakin didangkalkan. Dan, jika memang benar 'institusi etika prifat' berintikan kebodohan, apakah saya, yang bodoh ini, memang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang benar demikian, saya terpaksa mengacuhkan keberadaan 'institusi etika publik' yang menyebalkan seperti, maaf LSF cuma salah satunya saja di Indonesia yang susah dicinta ini.


*: Saya sendiri tidak sependapat dengan desakan dan putusan menarik film 'Buruan Cium Gue!' dari peredaran; sebab ide ini lagi-lagi cuma menegaskan pelabelan 'institusi etika prifat' yang bodoh-tolol. Dan 'insitusi etika prifat'-yang-memublik cumalah kesemuan belaka, sebab itu menjadi tirani 'institusi etika publik' semata.
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!

[Deif-Feil]
Nanti, Nanti, Nanti
--Sabarlah, Jangan Pula Terburu; Nanti Jadi Terlalu!--


Nanti, jika kita bertemu, aku kenalkan kau pada dua temanku.

Jhon Lennon : Imagine there's no heaven

Jim Morrison : I'm a spy in the house of love

Nanti, jika kita bertemu,

aku sudah lama tak bertemu dua temanku ini. Kabarnya, mereka sedang berlibur, entah dimana. Tak ada yang tahu.

Sekali waktu, ketika aku sedang tertidur, mereka datang. Tapi, begitu aku bangun menyambut, mereka pun hilang. Tak sempatlah aku bicara. Mereka pun serupa. Sama.

Kadang, tengah malam, dalam kamar, aku merasa mendengar langkah kedua temanku ini. Aku diam saja menunggu; sebab aku pikir mereka pasti hilang bila aku membuka pintu. Tapi, makin lama, bukan suara langkah kaki menjelas, malah jadi tak terdengar. Sama sekali hening.

Nanti, jika kita bertemu, aku pasti tak bisa mengenalkan kau pada dua temanku.
Diantara Teman-Temanku Aku Berada Diantaramu Dan Teman-Temanku Berada Diantara Aku; TAPI, BERADA DIANTARA MANAKAH AKU DAN TEMAN-TEMANKU HINGGA KAMU TIDAK TAHU DIMANA KEBERADAANKU DAN TEMAN-TEMANKU YANG BERADA DIANTARA AKU DAN TEMAN-TEMANKU BERADA DIANTARANYA


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--Sebenarnya, Judul Tersebut Tidaklah Terlalu Penting Untuk Dibaca; Sebab Pada Dasarnya, Saya Pun Sedang Kesulitan Mencari Judul Apa Yang Tepat, Malah Yang Datang Judul Yang Sebenarnya Kurang Tepat, Tapi Mengasyikkan--
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Apakah engkau mendengarkan aku?"

Perlahan, aku merasa ada seseorang yang memasuki aku. Dari gelagatnya, sekarang ini, aku seakan membaca bahwa seseorang itu sedang mencari sesuatu. Tapi, aku pikir itu tidak mungkin. Sebab, seringkali aku melihat seseorang itu memasuki aku. Dan, biasanya, seseorang itu hanya memasuki aku untuk melempar buku atau rebahan di atas kasur sembari mendengarkan 'The Doors' atau album 'An American Prayer'-nya James Douglas Morrison. Setelahnya, seseorang itu lalu mematikan lampu. Demikianlah, seseorang itu seperti melakukan rutinitas memasuki aku. Hingga,

aku merasa seseorang itu bukan mencari sesuatu. Seseorang itu, rasanya hendak menanyakan sesuatu. Kadang, aku mencoba memasang telinga tajam mendengar. Namun, mengapa tak satu patah kata pun yang dapat aku dengar; padahal kalau aku melihat bibir seseorang itu bergerak-gerak kencang. Pastilah seseorang itu, bukan sedang sekarat meregang--setidaknya itu dugaan aku yang positif. Sebab, bila aku menduga negasinya, maka aku hanya menyimpulkan bahwa seseorang itu sedang mencoba menarik perhatian aku. Dan, memang, aku pun pernah berpikiran seperti itu. Tapi, pikiran itu runtuh dengan sendirinya, sebab seseorang itu memang tidak sedang menarik perhatian aku. Jika seseorang itu memang ingin menarik perhatian aku, seseorang itu tidak perlu melakukan hal itu berulang kali; idealnya, cuma beberapa kali; tidak menjadikan rutinitas. Nah, karena rutinitas itulah maka aku menggugurkan pikiran negasi itu. Aku merasa seseorang tidak sedang memikat perhatian aku. Aku merasa seseorang itu sedang mencari sesuatu atau, hendak menanyakan sesuatu. Entahlah, aku tidak tahu apa bedanya mencari sesuatu dengan menanyakan sesuatu. Pfuh, memang seseorang itu tampaknya sedang 'bersesuatu' kepada aku.

"Hei, ada apaan sih?" Sekali waktu, aku mencoba menanggapi seseorang yang sedang 'bersesuatu' itu. Dan, karena percobaan pertama itulah, aku pun menjadi berulang kali mengucapkannya. Kadang menggunakan huruf kapital semua, kadang huruf tak-kapital semua, kadang berhuruf campuran antara kapital dan tak-kapital, bahkan kadang juga aku mengucapkannya tanpa menggunakan huruf. Tapi, setelah beragam macam cara rupa telah aku upayakan, seseorang itu tampaknya tak memberi tanggapan seperti yang aku inginkan. Entahlah..., apa yang salah; aku tidak tahu. Apakah itu karena aku berkeinginan, atau karena apa. Mengapa aku begitu sulit untuk, ya mungkin semacam mendengar seseorang itu; atau memang seseorang itu juga seakan begitu sulit untuk, ya mungkin semacam mendengar juga, mendengar aku; padahal,

ketika 'An American Prayer'-nya James Douglas Morrison atau album lainnya 'The Doors', kami, maksud aku, aku dan seseorang itu bisa tertidur bareng, bahkan terbengong, terdiam. Kehilangan beban.
Diantara Teman-Temanku Aku Berada Diantaramu Dan Teman-Temanku Berada Diantara Aku

--Sebenarnya, Judul Tersebut Tidaklah Terlalu Penting Untuk Dibaca; Sebab Pada Dasarnya, Saya Pun Sedang Kesulitan Mencari Judul Apa Yang Tepat, Malah Yang Datang Judul Yang Sebenarnya Kurang Tepat, Tapi Mengasyikkan--


"Tolong sediakan aku segelas kopi; maka aku akan berbicara panjang tentang apa itu kegilaan." Begitulah kata seorang teman. Di lain waktu ia berkata, "Tolong sediakan aku pena; maka sebuah puisi akan tercipta." Begitulah ia berkata, di lain waktu. Sampai suatu ketika, entah kapan saatnya, aku lupa--ia pun bertanya "Mengapa tak ada yang mendengarkan aku?" Dan, saat itu pula ia
meninggal dunia.

Beberapa hari setelah kematiannya yang mengenaskan itu--maksud aku, cara dia meninggalkan dunia, maksud aku, cara dia meninggalkan dunia itu terjadi hanya dikarenakan ia selesai bertanya, "Mengapa tak ada yang mendengarkan aku?"; bukan karena bunuh diri atau dibunuh diri-yang-lain--semua orang bertanya, bertanya bermacam-macam hal yang menyangkut kehidupan seorang temanku ini, mereka bertanya-tanya, yang sebenarnya hendak ditujukan kepada seorang temanku yang sudah meninggal dunia ini. Saking banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan, kebetulan pada saat itu aku hanya mendengar, tanpa mengingat pun mencatat, sebab yang aku pikirkan hanyalah: jika pertanyaan itu hendak mereka tujukan kepada ia, maka ia-lah yang patut memberikan jawaban. Bila demikian, maka yang aku duga pun terjadi. Mereka memang menemukan jawaban, tapi jawaban itu mereka peroleh dari hasil menebak, hingga mereka pun terkadang ragu, apakah jawaban mereka itu benar dan tepat, atau sama sekali khayal. Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana perasaan mereka ketika mereka berhasil menebak. Hingga,

aku pun berpikir, apakah kita mampu bertanya kepada sesuatu yang sudah mati; sudah meninggal dunia? Sederhananya, mampukah kita berdialog dengan kematian? Demikianlah, aku dikenalkan pada kematian pertama, melalui seorang teman yang meninggal dunia.

Seorang temanku yang lain, pernah berkata, "Manusia mahluk yang menuju mati." Seorang temanku yang lainnya pun berkata, aku tidak ingat tepatnya bagaimana, tapi intinya kurang lebih bercerita bahwa manusia itu berjalan bersama dengan kematian. Bahkan, seorang temanku yang lainnya pula lagi, menyuarakan pendapat bahwa manusia itu tidak pernah mati. Dan, ada juga temanku yang lainnya yang memperbincangkan hal serupa, tapi bukan dalam kata-kata, melainkan menggambar, entah melukis, judulnya, "Potret Diri Berhadapan Dengan Kematian".

Karena perkataan dan perbuatan teman-temanku ini, aku pun menjadi berpikiran seperti teman-temanku. Maksud aku, aku berpikiran lain dari dari teman-temanku. Maksud aku, seperti yang engkau tahu, teman-temanku inikan berpikiran lain, maksud aku, mereka berbicara satu hal yang sama, yakni kematian, tapi menghasilkan perbedaan sudut pandang. Karena itu, aku pun berpikiran lain dari mereka. Aku pun berpikiran untuk menciptakan dialog dengan kematian, agar aku bebas bertanya kepada kematian mengenai siapa dirinya dan buat apa dia ada.

Sebenarnya, niatan aku itu berasal dari pikiran, bahwa apa yang dipikirkan oleh teman-temanku hanyalah berupa jawaban. Itu, menurutku yang terjadi. Sebab, mereka tak pernah bisa menjelaskan bagaimana cara mereka memperoleh jawaban itu. Sebab, ketika aku tanya, "Pernahkah kau bertanya kepada kematian?" mereka hanya tertawa, terdiam, bahkan ada yang langsung angkat kaki pergi, ambil gelas dan melemparkannya ke mukaku, atau menggebrak meja. Padahal, aku pikir, aku cuma butuh jawaban 'Ya' ata 'Tidak'. Itu saja. Jika mereka pernah bertanya kepada kematian, maka aku akan menanyakan hal berikutnya, yakni, "Bagaimana caramu bertanya kepada kematian?" Namun, jika mereka tak pernah bertanya kepada kematian, maka aku tak perlu bersusah payah menanyakan hal berikutnya. Tapi,

ada seorang temanku yang lain pula yang bertanya balik kepada aku, "Mengapa kau bertanya demikian?" Ah, jawaban yang diberikan seorang temanku yang lain pula ini memang tidak memuaskan aku, karena aku cuma membutuhkan jawaban 'Ya' atau 'Tidak', sebelum melangkah pada pertanyaan aku yang berikutnya. Karena itu, terpaksa aku menjawab, "Aku cuma ingin tahu saja." Tampaknya, seorang temanku yang lain pula ini tak puas. Itu aku ketahui dari bola matanya yang memerah, dahinya yang mengkerut, nafasnya yang tertahan, alisnya yang mengetat, juga bibirnya yang seperti membeku. Aku pikir seorang temanku yang lain pula ini bakalan marah. Karena itu, aku lekas menambahkan jawaban, maksud aku, menjelaskan kenapa aku menjawab seperti itu. Aku bilang kepada seorang temanku yang lain pula ini:

"Kalau aku sebenarnya, biasanya, bertanya kepada yang bisa menjawab. Nah, karena ini pertanyaan, yang menurut aku hanya bisa dijawab kematian, maka aku pun menanyakan hal itu kepadamu. Maksudku, aku menanyakan apakah kau pernah bertanya kepada kematian? Sebab, aku pikir, kau hanyalah menebak saja. Tidak lebih. Sebab, bila jawaban itu akurat, maka kematian-lah yang seharusnya menjawab. Maksudku, ini kan tak ubahnya, saat aku belajar matematika, dan aku tidak mengerti, maka aku bertanya kepada guru yang lebih mengerti hal itu. Aku cuma, pengen tahu aja. Sebab, sudah banyak orang yang berbicara tentang kematian, tapi tak satu pun yang memberitahukan aku bagaimana caranya agar aku, maksud aku, kita, ehmm..., maksud aku--ya, kita semua ini--bisa berdialog dengan kematian. Itu saja sebenarnya alasan aku bertanya."

Seorang temanku yang lain ini pun tidak bisa berkata-kata. Padahal, kalau menurut aku, sebenarnya seorang temanku yang lain ini ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku tidak ingin bertanya lebih jauh, apa tanggapan, apa jawaban, apa pendapat, dan segudang apa lagi yang ingin kuketahui dari diamnya seorang temanku yang lain ini. "Maafin, ya. Aku pergi dulu," kata aku kepada seorang temanku yang lain. Aku tidak ingin mengganggu seorang temanku yang lain ini, sebab menurut aku, dalam keadaan itu diam tersebut, seorang temanku yang lain ini sedang berpikir. Dan, aku pun pergi.

Malamnya, aku berniat bertanya kepada kematian. Sebelumnya, aku mengadakan persiapan. Dialog dengan kematian tentulah hal yang sangat memakan waktu banyak. Karena itu, aku pun menyiapkan bergelas-gelas kopi siap seduh, juga makanan kecil, juga kertas dan alat tulis. Entahlah, aku hanya bertaruh, tepatnya menebak, bahwa kematian pun menyukai kopi, seperti aku. Sebab, bila sudah demikian, maka perbincangan pun lancar, dan aku tak perlu bersusah-susah mencari whisky atau jus jambu misalnya--bila itu merupakan kesukaan kematian. Dan, perbincangan aku mulai dengan pertanyaan:

"Apakah engkau mendengarkan aku?"
SEPATU TUMIR DAN SANDAL JEPIT

Engkau pasti segera membayangkan apa itu 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT'. Dan, aku harap engkau sudah membayangkan apa itu 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT'. Terima kasih.

Imaji itu, maksud aku 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT', tidak jauh beda dengan rekayasa kenyataan yang terjadi di perempatan Lampiri. Perempatan lampu merah yang tak pernah sepi. Bila sudah demikian, engkau pun mengerti; mengapa cerita ini mengambil setting lokasi di jalan raya, di tepi kali. Betapa sialnya engkau bila mengalami hal ini.

Aku berharap engkau memikirkan bahwa aku akan menjelaskan apa itu 'SEPATU TUMIT' terlebih dahulu. Selanjutnya, aku jelaskan apa itu 'SANDAL JEPIT'. Tentu saja, apa hubungan keduanya pun menjadi pertanyaan engkau berikut. Aku cuma bisa bilang, semua ada di kendaraan roda. Kendaraan roda dua yang kerap melintasi jalan raya. Khususnya, perempatan lampu merah yang tak pernah sepi; sebab, di tempat itu ada pos polisi.

Aku harap engkau tidak terkejut. Aku harap, sekarang, engkau sudah membayangkan dari mana aku memulai penjelasan. Inilah jawabanku. Penjelasan akan aku mulai dari 'SANDAL JEPIT'. Mungkin, sekadar menebak, engkau bakal membayangkan 'SANDAL JEPIT' sebagai simbol lelaki. Memang, setidaknya itulah yang hendak aku utarakan. Tapi, bila aku engkau perkenankan menambah alasan; tampaknya, aku sebagai pencerita memang tak butuh per-kenan-an engkau untuk menjabarkan alasan lain. Inilah alasan lain itu. 'SANDAL JEPIT' aku andaikan sebagai bentuk peradaban sebelum ada sepatu. Jadi, ada dimensi waktu pulalah yang harus engkau sadari ketika membaca cerita aku ini. Tak hanya laki-laki, atau perempuan; malah bisa jadi kaum transeksual, mungkin. Tapi, perkembangan zaman. Bisakah engkau lihat betapa wah alasan yang aku ajukan ini? Jika tidak, aku pikir itu tak masalah, sebab aku yakin penjabaran waktu itu pasti muncul ketika engkau membaca cerita ini hingga habis. Kecewa? Bisa jadi. Dan, bukankah waktu yang berjalan kerap membawa pesan pengalaman(?); itu tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di perempataan lampu merah yang tak penah sepi. Pos Polisi Lampiri. Brigadir Polisi Tingkat Satu yang berdiri, lalu menekan tombol sirene, ketika kemacetan terjadi di perempatan yang berada tak jauh dari rumah makan ayam bakar.

'SANDAL JEPIT'. Kata-kata itu membawa imaji sebuah, tepatnya sepasang kaki. Sepasang kaki, kanan dan kiri, dengan lima jari. Lalu, empat mata kaki. Bila demikian, tentu saja semua itu telanjang. Sebab, celana bahan panjang berwarna tak jelas itu tak mampu memnutup seluruh kaki. Apalagi kaki yang mengenakan alas 'Sandal Jepit'. Semuanya pun menjadi lengkap. Kaki, sandal jepit, celana bahan panjang.
Sampai disitu, engkau boleh saja menambahkan sarung tangan. Tapi, aku lebih memilih jaket hitam penahan. Penahan terpaan. Terpaan angin. Tentu saja, bagi aku itulah yang lebih menarik. Apalagi, bila engkau mengingat lokasi penceritaanku ini. Helm. Kendaraan roda dua. Jalan raya. Perempatan Lampiri dan Pos Polisi. Ya, 'Sandal Jepit' yang menjadi alas kaki di atas pijakan kaki pengendara roda dua dengan laju rata-rata 40 kilometer per-jam pada persneling ke-empat. Aku harap, engkau bisa membayangkan evolusi yang melambat.

Aku sudah menyelesaikan rekayasa kenyataan dalam pikiran engkau. Itu, tak jauh beda dengan kelakuan Brigadir Polisi Tingkat Satu atau Briptu di Pos Polisi. Berdiri, lalu mendekati tombol sirene. Menekan. Sirene patroli pun berbunyi. Para pengguna jalan pun tahu diri. Polisi. Atau takut diri. Polisi! Dan, kemacetan pun berangsur hilang. Angkutan kota, entah mikrolet atau metromini; angkutan pribadi, sedan mewah atau sekadar roda dua, perlahan menjadi teratur. mereka semua ingat, perempatan Lampiri. Lampu merah yang tak pernah sepi.

Tapi, mengapa engkau semakin tertegun. Membaca bukan berarti tidak membuatmu berpikir. Apakah engkau masih ingin mengetahui apa itu 'SEPATU TUMIT'? Atau malah engkau sudah menemukan jawaban tentang semua itu. Semua itu, yang aku maksudkan, termasuk hubungan antara 'SANDAL JEPIT' dan 'SEPATU TUMIT'. Aku pikir, memang cerita ini tidaklah terlalu menarik utuk dilanjutkan. Sebab, rasa-rasanya, engkau sudah mengetahui apa yang akan kujelaskan. Tapi, aku akan tetap berusaha membuat kejutan. Dan, apabila ternyata hal itu tidk terjadi, aku harap engkau tidak kecewa. Bukankah, menulis itu gampang? Engkau tinggal menguji. Entah dengan membaca, atau berlatih. Begitulah, sebangun dengan waktu yang selalu membuat kita serasa bertatih-tatih. Kapan semua berakhir.

'SEPATU TUMIT'. Sepatu tumit putih. Malam hari, sepatu tumit warna putih akan tetap menampak putih. Sebabnya, tentu saja, kontras warna; antara sepatu dengan malam, seperti garis dengan aspal. Berbeda halnya dengan warna ungu. Biru. Atau, malah hitam, barangkali; di malam hari. Rasanya, tanpa kontras. Mungkin, serupa celana bahan panjang yang dipergunakan pengendara roda dua yang tidak bisa aku sebutkan berwarna apa. Hanya, berwarna tak jelas.
Sepatu itu, dugaan aku, tidaklah bertumit tinggi. Paling cuma tiga senti, atau malah lima senti. Beda jauh dengan panjang betis kaki yang terlihat nyaris telanjang. Itu, bila saja rok coklat kehitam-hitaman yang ia--maksud aku pemilik sepatu tumit (Ah, pemilik sepatu tumit tampaknya simpulan spekulatif aku saja. Sebab, aku hanya mengetahui ada sepatu tumit di sepasang kaki seseorang. Bisa saja pemiliknya bukan 'ia'. Tapi, aku merasa dugaan aku menghampiri pasti. Catatannya, bila 'ia' itu seorang perempuan. Bukankah seorang perempuan berpantang menggunakan barang milik teman, entah sesama perempuan, pun lelaki, apalagi kaum transeksual.) dan betis berkulit nyaris putih--kenakan tidak sepanjang 80 senti. Memang, ia seorang perempuan. Berkemeja putih, tidak terlampau ketat, tidak terlampau longgar. Serasi di badan dan di padan. Dipadankan dengan rok coklat kehitam-hitaman. Apalagi, ia berkulit nyaris putih. Itulah yang nyata terlihat di dia punya kaki. Sebabnya, dia tidak duduk di bagian kemudi. Ia duduk menyamping, hingga gerai rok ia pun membuka celah luar biasa sepanjang jalan tepi kali. Melintasi perempatan Lampiri. Pos Polisi. Malam hari. Maka, imaji 'SEPATU TUMIT' akan semakin lengkap, bila aku menambahkan tas sandang kulit dan rambut panjang gaya ekor kuda. Tertawa.

Demikianlah, kendaraaan roda dua membaca 'Sandal Jepit' dan 'Sepatu Tumit' melintasi jalan raya tepi kali, perempatan Lampiri, lampu merah yang tak pernah sepi, juga Pos Polisi dengan kelakuan Briptu yang selalu menekan tombol sirene di malam hari hingga kemacetan pun berangsur-angsur menjadi pulih kembali, lancar, meski itu bukan berarti tak ada hambatan. Sebab, semua ingin pulang, ingin tenang, rumah tanpa masalah. Memang, jalanan selalu menawarkan penafsiran, umumnya curiga, yang dibangun atas dasar rekayasa,

seperti yang telah dia lakukan atas pikiran saya. Masihkah engkau berniat mencari hubungannya (?); seperti yang dia lakukan atas pikiran saya?
CERITA SEBELUM KOPI

Sekarang, mari kita ngobrol sedikit lebih politis.
Begitu kata kau kepadaku, sambil melempar sebuah harian nasional, tertanggal Jumat, 30 Desember 2005.

Cobalah kau baca koran ini.
Sambung kau pula saat aku masih memperhatikan hempasan koran yang belum melepas dari awang-awang.

Lihat! Kau lihat! Harga Pertamax mau diturunkan! Lima ribu empat ratus jadi lima ribu. Ah, taik-lah! Dia mengumpat, bukan kepada aku tapi halaman koran. Tepatnya, berita di harian nasional.

Tapi, masih sih dia mengumpat berita di koran? Pasti ada yang salah. Kalau dia mengumpat, harusnya kepada seseorang. Bukan kepada sesuatu. Berarti itu berita telah menjadi seseorang. Atau itu berita menyimpan seseorang.

Tau ga' lu, alasannya apa? Persaingan usaha. November lalu, perusahaan pertambangan minyak entah dari mana, masuk ke pasar tradisional di negeri kita. Terus, masih bakalan ditambah masuknya perusahaan entah dari mana lagi di bulan ini. Babi ga'!
Begitulah dia mengumpat.

Ya, tampaknya semakin jelas. Dia mengumpat bukan kepada berita yang telah mewujud menjadi seseorang. Tapi, berita yang menyimpan sesuatu. Persaingan usaha.

Kemarin, sebelum menaikkan harga, kita dikasih alasan. Aku bilang dikasih alasan. Itu artinya, terserah kita mau terima atau tidak alasan yang dia kasih. Alasannya, harga di dunia sudah meningkat. Kita harus memindahkan pengelolaan anggaran. Sektor pendidikan dan kesehatan harus diberdayakan. Segala macam taik kucing dilempar. Harga naiklah. Eh, nyatanya..., sebulan berselang stasiun-stasiun baru berdiri. Kuda laut tak lagi sendiri. Anjing ga'!
Begitulah dia mengumpat, menjelaskan persoalan.

Memangnya,ada apa dibalik itu semua. Sepertinya, dia memang mengumpat sesuatu. Bukan seseorang. Aih, mengumpat sesuatu yang tersembunyi dalam berita. Pastilah ada orang-orang yang bersembunyi dalam berita itu. Sebab, mana mungkin manusia mengumpat sesuatu. Pastilah seseorang. Atau, aku yang salah.

Kau harus lebih jeli melihat kawan. Ini jaman sudah politis. Tak ada orang baik di dunia. Artinya, tak ada orang baik di Jakarta. Pasti ada maksud terselubung dibaliknya. Aku bilang terselubung. Kalau sudah terselubung, pasti itu berkaitan dengan 'buruk', 'mencelakakan'. Kau ingat itu.
Begitulah, kali ini tidak begitu jelas bahasanya. Apakah mengumpat atau mengingatkan, atau mengajarkan atau...

Ada apa sih lu? Berita gitu doang dimasalahin. Pake maki-maki lagi. Emang yang lu maki itu ngedengerin. Kalo ngedengerin untung. Kalo ga'. Sama aja bo'ong. Trus, kalo lu ga' setuju, merasa kejanggalan, ngapain ngomong ke gua. Kalo lu mo curhat baru ngomong ke gua.

Ah, kau memang tak mengerti. Bayangkan. Kalau dulu dikasih alasan untuk menyejahterakan, bagaimana hasilnya. Berapa orang kakek-kakek pun nenek-nenek mengantri sampai pingsan! Berapa banyak dana sekolah yang tersalur dengan lancar. Memang aku tak punya data jelas. Tapi, aku merasa dengan masuknya perusahaan pertambangan asing, itu menandakan sesuatu motif yang sangatlah jelas. Kenapa tidak dibilang saja begini misalnya. Kenaikan itu karena beberapa perusahaan asing mau berinvestasi di Indonesia. Nah, masalahnya mereka tidak mau bila harga masih berada dibawah. Haruslah kita naikkan, setara dengan harga dunia. Sebab dengan begitu, saya juga mendapatkan keuntungan. Modal saya kan ada juga di perusahaan itu. Saya bisa bisnis lagi.
Atau alasann lain, kenaikan ini karena tekanan dunia. You, tahulah yang saya maksud. Kalau kita tidak memberikan fasilitas itu, beragam embargo bakalan kita terima. Produk pertanian kita tidak diterima. Tentara kita tidak bisa beli senjata. Pelajar kita tak bisa bersekolah ke sana. Pinjaman uang tidak bisa kita dapatkan. Nah, untuk mencegah dampak seperti itulah maka kita harus mengikuti keinginan mereka. Tentunya, agar keinginan kita pun tercapai pula. Produk pertanian kita diterima. Tentara kita maki kokoh. Ekonomi kita bisa segera pulih. Aku rasa begitu lebih baik. Tak ada yang terselubung.
Begitulah dia berkata-kata.

Begitu saja jadi masalah? Benarkah sebegitu besar? Pfuh, rasanya tak mungkin. Kau terlalu melebih-lebihkan. Masa sih?


Oh..., gua ngerti. Mereka itu bukan curhat lagi. Buat gua, mereka mau naikin apa pun terserah. Yang penting curhat dulu. Curhat harus kita jadikan azas dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara. Ya kaya' kita ini lah....

Kami tertawa, lalu menyeruput kopi hitam, manis dan tentu saja: pahit!
CERITA FIKSI TENTANG HARI DA VINCI


15.03. Aku lupa tepat waktunya. Entah siang, malam, petang; bahkan mungkin saja di kala hari dini. Itulah peluang saat aku menuntaskan lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang. Lukisan perempuan.

Kini--yang entah sejak kapan--aku mendengar kabar. Lukisan perempuan berlatar pemandangan alam itu tenar berjudul Mona Lisa. Memang, beberapa judul lain pun sempat kudengar. Misal, dalam bahasa Spanyol, La Gioconda; dalam bahasa Perancis, La Joconde; dalam bahasa Inggris, A Certain Florentine Lady dan A Courtesan in a Gauze Veil. Sebenarnya, itu tidaklah terlalu bermasalah besar bagi aku. Sebab, itu hanyalah lukisan seorang perempuan berlatar pemadangan. biar kuulangi: Lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang.

Kemarin--yang aku maksud, suatu waktu yang telah lalu--aku sempat berpikir apa artinya senyum. Pertanyaan atas makna kata itu selalu mengiang di telinga aku. Senyum. Namun, sebelum aku sempat menjawab--entah mengapa, aku tak tahu jelas--pertanyaan baru muncul. Apa pula artinya seakan senyum. Pertanyaan itu terus mengiang. Terus mengiang di telinga aku. Pertanyaan apa itu senyum. Pertanyaan apa itu akan senyum. Hmm, mungkin tepatnya aku menyebut: Tersenyum. Ya. Tersenyum dan Seakan Tersenyum. Tampaknya, itulah sebenarnya pertanyaan aku. Apa itu tersenyum. Apa itu seakan tersenyum.

Selang beberapa waktu--entah kapan, aku tak ingat--aku kembali bertanya. Mengapa. Mengapa tersenyum. Mengapa seakan tersenyum. Pertanyaan itu muncul mendadak, saat aku hendak mencari arti apa itu tersenyum; dan, apa itu seakan tersenyum. Pertanyaan itu, semua pertanyaan itu, membuat aku merenung. Aku merenung.
Hingga, di suatu malam--malam yang entah kapan, aku tak jelas merekam--meloncat pertanyaan baru. Pertanyaan yang muncul sebelum aku sempat menemukan jawab atas pertanyaan yang telah hadir sebelumnya. Pertanyaan tentang senyum. Pertanyaan tentang apa itu tersenyum. Pertanyaan tentang seakan senyum. Pertanyaan tentang apa itu seakan tersenyum. Pertanyaan tentang mengapa tersenyum. Pertanyaan tentang mengapa seakan tersenyum. Muncul pertanyaan baru, siapa tersenyum; siapa seakan tersenyum; mengapa siapa tersenyum; mengapa siapa seakan tersenyum. Ya, pertanyaan yang merujuk siapa. Merujuk pelaku senyum. Adakah ia seorang perempuan? Adakah? Aku pun termenung.

Musim dingin, entah bulan apa, aku lupa. Aku tersenyum. Aku lupa, benarkah aku tersenyum; atau seakan tersenyum? Aku hanya mengingat jelas, saat itu musim dingin. Saat itu aku bercermin. Sendiri aku bercermin. Ya, aku sendiri bercermin! Aku tak lupa. Saat itu aku sendiri bercermin, dan melihat diri aku dalam cermin. Aku melihat diri aku dalam cermin. Aku melihat diri aku yang sedang melihat aku dalam cermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang bercermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang melihat aku yang sedang melihat aku bercermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang bercermin melihat aku yang sedang bercermin. Tapi, aku lupa. Apakah saat itu aku tersenyum atau seakan tersenyum. Aku lupa.

Musim semi--yang aku tak ingat, kapan--aku mengingat kelupaan aku. Kelupaan aku di musim dingin yang telah lalu. Kelupaan tentang aku yang sedang bercermin. Kelupaan tentang aku yang sedang bercermin dengan, tersenyum atau seakan tersenyum. Kelupaan yang membawa aku ke pertanyaan baru. Mengapa aku bercermin. Mengapa saat itu aku bercermin. Dan,

15.03. Aku lupa tepat waktunya. Entah siang, malam, petang; bahkan mungkin saja di kala hari dini. Itulah peluang saat aku menuntaskan lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang. Lukisan perempuan. Lukisan tentang senyum perempuan...
CATATAN HARIAN CLARK KENT
--diterjemahkan oleh David Tobing--

Hari ini, Minggu, pukul sepuluh malam. Seharian sudah aku berkelana, memburu penjahat di kota Metropolis. Sesungguhnya, tidak banyak yang aku lakukan. Cuma menangkap penjahat! Bayangkan! Padahal kerja begitu sebenarnya pun bisa dilakukan Parman, Parmin atau Pirman. Tak perlulah Superman.
Tapi, karena aku sering menangkap penjahat, orang sekota pun menganggap aku pahlawan. Menganggap aku burung, pesawat hingga akhirnya Superman, aku yang terbang. Hasilnya, banyak orang mengenalku. Singkatnya, aku jadi orang terkenal. (Aku pikir, mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dan, aku pun belum tentu mengenal mereka juga 'kan.)
Padahal, aku melakukan semua itu karena hobi. Itu saja. Tidak lebih, bahkan tidak berlebihan aku rasa. Soalnya, aku punya kekuatan. Bisa terbang; bisa bergerak cepat hingga tak terekam kamera; bisa melihat tembus penghalang pandang, juga mengeluarkan sinar laser; bisa membekukan danau cuma dengan menghembuskan udara melalui mulut; bisa mendengar dari kejauhan; bisa mengangkat mobil sampai pesawat; bisa merontokkan tiang baja; bisa menghentikan laju kereta; pokoknya biasa melakukan yang tidak biasa. Padahal, sekali lagi, itu cuma hobi; karena aku tidak tahu kemana hendak kusalurkan kesenanganku itu.

Pertama aku tahu punya kekuatan berlebih, sewaktu umur lima tahun. Saat itu, aku membantu ibu di dapur. Mencuci piring. Biasanya, ibu membutuhkan waktu lima belas menit mencuci piring. Nah, aku cuma butuh dua menit lebih sedikit. Dan, ibuku tercengang. Padahal, menurutku itu biasa; dan ada alasannya. Kalau ibu mencuci piring hingga lima belas menit, itu karena umurnya sudah terbilang tua. Beda dengan aku. Aku masih muda, bahkan bocah. Masih lima tahun. Masih bertenaga. Jadi wajar saja waktu yang kuperlukan pun tak lama. Dua menit lebih sedikit.
Yang kedua, saat aku membantu ayah kerja di ladang. Memagari kandang ayam. (Seingatku, waktu itu aku berusia delapan tahun-an.) Bila ayah membutuhkasn waktu tiga hari untuk memagari kandang ayam, aku cuma butuh sehari. Setelah selesai, ayahku pun terkaget-kaget. Luar biasa, katanya. Padahal, bagiku itu biasa saja. Wajar dong aku bisa menyelesaikannya dalam tempo sehari. Sebab, saat itu masa liburan sekolah. Aku kerja dari pagi hingga senja. Lagian, seluruh bahan sudah tersedia. Terus, aku juga pernah melihat ayah melakukan hal serupa. Jadi, aku tahu harus mulai dari mana, hingga bagaiman. Entah itu memotong bambu atau memaku.
Sejak dua peristiwa itu, aku pun menyadari kelebihan dalam diriku. Ada sesuatu yang luar biasa dalam diriku. Dan, aku pun menjadikannya hobi yang tentunya harus kusalurkan. Hingga, aku menanjak remaja, lalu dewasa.
Bila dulu aku cuma membantu ayah dan ibu, sekarang sudah berbeda cara. Aku tidak mungkin lagi membantu ibu cuci piring di dapur; atau membantu ayah memagari kandang ayam di ladang. Kekuatan luar biasaku pun kupergunakan untuk membantu masyarakat sekitar. Mulai dari teman sekelas sewaktu sekolah, hingga sekarang, rekan sekerja di media. Eh, tak tahunya malah menjadi besar, membantu masyarakat sekota. Malah, bisa jadi membantu negara.
Itulah cikal bakal mengapa aku dijahitkan ibu baju ketat ngepas di badan, warnanya biru bergambar segi lima di bagian dada yang berisi huruf 'S' didalamnya (Huruf yang merujuk pada nama aliasku, bukan ukuran baju.) plus jubah (Aku pikir jubah bukan kata yang tepat untuk menyatakan kain panjang yang menjutai adri pundak hingga betis kakiku; yang entah mengapa orang lalu menyebutnya sayap hingga berakhir dengan kesimpulan yang menyamakan aku dengan burung atau pesawat.) merah. Itu masih ditambah dengan sepatu bot panjang warna merah, juga celana dalam yang kukenakan di luar, pun warna merah. Ibu bilang, dengan mengenakan seperangkat ..., aku menyebutnya 'seragam dinas', aku terlihat gagah. Ya, tak apalah. Lagian, aku suka warna biru, merah dan kuning. Biru mengingatkan aku pada langit, sedang yang merah dan kuning serupa nyala api itu mengingatkan aku pada ayam jago. Dan, setelah bertanya pada ayah, aku akhirnya mengerti mengapa aku menyukai ketiga warna itu.

Kata ayah, aku ditemukan dalam pesawat luar angkasa yang terdampar di ladang dekat kandang ayam. Lalu, pagi hari, aku ditemukan ayah karena aku menangis. Karena tahu tangisan itu berasal dari dalam pesawat luar angkasa yang terdampar, maka dengan segala cara ayah membukanya. Akhirnya, aku pun dikeluarkan, lalu digendongnya. Saat itu, tangisku berhenti. Kata ayah, tangisku berhenti karena melihat langit dan seekor ayam jago. Itulah, karena langit aku suka biru; karena ayam jago aku suka merah dan kuning. Begitulah cerita ayah. (Tapi, kupikir cerita ayah itu berbau fiksi. Aku sebenarnya tak yakin, tapi apa boleh buat. Lagian, aku tak punya rekaman memori akan hal itu.
Coba kau pikir; bisakah kau mempercayai cerita ayahku tentang pesawat luar angkasa yang terdampar di ladang dekat kandang ayam? lalu soal tangisanku yang berhenti karena melihat langit dan ayam jago? Ah, tak masuk akal. Sulit. Meski begitu, aku pasrah menerima. Lagian, aku memang suka warna biru, merah dan kuning. Dan, sebenarnya tak perlu penjelasan mengapa aku suka warna tersebut.)

Jadi, 'seragam dinas' selalu kukenakan saat aku bertugas, tepatnya, saat aku melakukan kesenanganku: Membantu orang lain. Dan, dengan ber-'seragam dinas', aku bisa lebih bebas tanpa ketahuan identitas. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mau terkenal. Mengapa? Sebab dengan terkenal, kebebasanku hilang. Aku tidak bisa lagi menyalurkan hobi sesukanya. Aku terikat. Lalu, kalau kupikir lebih lanjut, keterkenalan itu menyebabkan aku selalu merasa dibuntuti. Diikuti. Rumahku pasti diintai. Lalu, wartawan-wartawan pasti datang ke rumahku untuk mewawancarai ayah atau ibuku; bila tidak bisa, mereka bakal mendatangi tetanggaku untuk melakukan hal serupa bahkan lebih luas, mewawancarai para tetanggaku untuk menggali informasi tentang kehidupanku atau keluargaku. (Ini kuketahui karena aku pun seorang reporter media cetak Daily Planet.) Lebih parahnya lagi, bakalan ada orang-orang yang mengantri di depan rumahku, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, untuk meminta tanda tanganku. Ala.mak..k.k! mengerikan. Kalau seudah begitu, identitasku pasti telanjang; hasilnya, tentu saja kemaluan. Jadi, intinya, sebab aku tidak ingin terkenal adalah soal psikologis saja. Aku malu. Tegasnya, keterkenalan itu pastilah membuatku malu. Ibarat judul plesetan sebuah buku Malu (Aku) Jadi Orang Terkenal*.
Lagian, yang aku kerjakan itu cuma hobi. Dan, karena itu pulalah aku pengen-nya biasa-biasa saja. Tidak terkenal. Cukuplah keterkenalanku itu diketahui sama ayah dan ibuku saja. Tidak usah menenangga, menyekolah, mengota, hingga mendunia. Dan dengan demikian, aku hanya bisa berlaku malu di depan kedua orangtuaku. (Satu lagi, hampir tertinggal, aku masih bisa bermalu-maluan di buku catatan harian ini pula.)


* sebuah plesetan judul buku puisi yang beredar di kota Metropolis, dan penerjemah menemukan kesulitan untuk mengalih-bahasakan judul plesetan tersebut. Sebagai solusi, penerjemah mengalih-bahasakan plesetan judul buku puisi itu--tentu dengan memikirkan persesuaian makna antar kalimat dalam paragraph, antar paragraph dengan paragraph, serta paragraph keseluruhan--dengan memlesetakan judul buku puisi Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.
IBU, IDOLAKU
........................buat: ibu

aku ingin punya tahi lalat seperti ibu
di tempat yang tersembunyi
munculnya tiap hari.

dengan tahi lalat yang tersembunyi itu
ibu pergi
........... ke pasar, ke sekolah, ke rumah ibadah, ke arisan teman, ke pertemuan keluarga,
kemana saja.

seingatku,
di malam hari sebelum tidur ibu biasa diri di depan cermin.
mungkin, untuk melihat tahi lalat, aku pikir.
pernah suatu saat kutanya, "Ngapain Bu?"
dia jawab, "Ngaca. Emang kenapa? Ga' boleh?"
aku pun langsung pergi. tersinggung.
(aku nanya serius dijawab ngaca doang.)

diam-diam,
dalam kamar aku tulis surat kepada bapak,
isinya:
pak, ibu bo'ong! aku nanya lagi ngapain, eh malah dijawab ngaca.
(besok aku kasih surat ini ke bapak, pulang sekolah. sekarang aku tidur dulu.)

pagi hari, aku bangun
kulihat ibu di dapur. dia melihatku, lalu ngomong, "Eh..., kemaren marah ya?"
aku jawab, "Engga..." (padahal sebenarnya marah sih.)

sehabis makan, aku pun diantar ke sekolah, naik mobil merah, sama ibu jadi supirnya. aku duduk di depan, diam saja.

pulang sekolah, aku memang tidak dijemput ibu.
jalan kaki.
aku pun langsung ke kuburan bapak. ngasih surat yang kutulis diam-diam dalam kamar semalam.

malamnya,
bapak ngomong dalam mimpiku.
katanya, "Ibu ga' bo'ong."
aku pun bangun
lalu melihat ibu sedang memperhatikan tahi lalatnya di depan kaca.

..........................................................................1986-1988
SEBAB ITU, SECANGKIR KOPI MENUNGGU. HAHAHAAAAA

Kedai kopi, tengah hari, di pusat belanja mewah ibu kota.

Diantara semerbak wewangian robusta serta beragam harum parfum pengunjung, entah pria atau wanita, pandangan mataku terpenjara kala mengarah pada sesosok manusia. Aku mengalami rasa yang tak jauh beda dengan beratus pengunjung pusat belanja mewah ibu kota. Sesosok manusia, entah wanita atau pria--yang pasti tidak berusia bocah--santai melenggang diantara tatap kornea terperangah serta ingsut badan menjauh, dan memberi ruang lempang bagi sesosok manusia itu untuk leluasa melangkah. Dan! sesosok manusia itu seakan tidak merasa dirinya menjadi fokus perhatian massa yang tercengang! Dari raut muka sesosok manusia itu tak kulihat rasa jengah, seperti emosi yang pernah kualami saat seorang teman berkata: Hai, apa kabar? (dengan senyum lepas menghampar) ketika aku sedang melamun: apakah jawab yang harus kukatakan bila seorang teman datang, tiba-tiba, menanyakan kabar yang ada padaku.

Sesosok manusia yang berlesung pipi, bermata dua, bertelinga dua, berbibir, berhidung, beralis, berpelipis, berambut, berdada/berpayudara, berperut, berpaha, berkelamin, bertungkai, berlengan, berketiak, berpinggang, berjemari, berkuku, berlutut, bersiku, berbetis, berleher, bertangan, yang mampu menggodaku untuk meninggalkan secangkir kopi panas yang belum sedikit pun kuteguk.

Bergegas aku berdiri, lalu berlari, mengejar sesosok manusia yang telah melintas tepat tiga meter di depanku, sekitar tiga detik lalu.

Kulihat sesosok manusia itu bertengkuk, berpundak, berbelikat, berpantat, bertelapak, bertumit, berjalan.

Saat jarak antara aku dan sesosok manusia itu sudah semakin merapat, aku mengalami kebimbangan. Entah kenapa, mendadak tanganku terangkat, lalu mencoba menjangkau pundak sesosok manusia itu, lalu menyentuhkan kulit telapak tangan kananku ke pundak kirinya. Sesosok itu berhenti. Memalingkan kepala mengarah ke mukaku. Aku rikuh. Pandangan bola mata yang hitam milik sesosok manusia itu begitu bersahabat, seakan kami adalah teman lama yang pernah bertukar rahasia; hingga aku gemetar, gemetar, gemetar, bertanya: Ke.ke...na..pa.... ka-ka-.kak..ka--kau te..lan.jang.

Sambil senyum, sesosok manusia itu membalas, "Mode."

Aku pun tersenyum usai mendapat jawab dari sesosok manusia itu. Kami sama tersenyum. Sama perlahan mengangguk. Setelahnya, sesosok manusia itu memutar ruas-ruas tulang leher bersendi peluru mengarah ke muasal hadap. Bersamaan saat sesosok manusia itu memutar ruas-ruas tulang leher bersendi peluru mengarah ke muasal hadap, aku pun balik kanan. Saling membelakangi, kami berjalan ke arah kembali. Dan, aku tertawa! Tertawa membahana, hingga pengunjung pusat belanja mewah ibukotaterpaksa mengkuadratkan rasa terperangah!

Tiba-tiba,

aku merasa seseorang menyentuh lenganku. Aku pun berhenti sejenak. Palingkan muka ke kanan, muasal sentuh kurasakan. Disaat kami saling memandang, telingaku hanya sempat mendengar mula kalimat tanya dari seseorang yang menyentuh lenganku. Telingaku hanya sempat mendengar mula tanya, sebab jawabanku yang diakhiri tawa (sambil melangkah pergi ke kedai kopi hendak menunaikan tugas mencicipi secangkir kafein berteman hisapan nikotin) menumpas waktu yang dimiliki seseorang yang menyentuh lenganku itu untuk menuntaskan kalimat tanya yang utuh.

"Kenapa" :Mode!
TEH PAHIT
(Kisah Seteguk Teh Pahit Yang Melebihi Seribu Karakter)

Pukul 19.15, aku melintas di Jalan Palmerah Barat. Slipi. Tak sengaja, saat aku menoleh kanan-kiri, kulihat bentangan kain di depan sebuah rumah yang berhalamankan trotoar jalanan. Kain berukuran semeter kali dua, pink warnanya, berisi tulisan 'SEDIA TEH PAHIT'.
Karena keingintahuan, aku pun berniat singgah. Sebentar. Sekadar menjajal rasa apakah. Itulah yang ada dalam pikiranku.
Aku pesan segelas teh pahit yang belum kuketahui bagaimana rupa juga sedapnya. "Tehnya... ya, Mbak...," kataku. Aku kira, si Mbak yang berumuran sekitar duapuluhlima-an itu segera menyajikan segelas teh pahit. Eh, tak tahunya ia malah balas bertanya. Gelas besar atau kecil? Hah, apa pula maksud dia menanyakan hal itu?
Mengapa harus ada gelas besar dan gelas kecil untuk menikmati suguhan teh? Karena aku tidak memahami keinginan si Mbak yang berbaju coklat model terusan itu, dengan sedikit pongah aku menjawab, "Gelas besar saja." Ia agak terheran. Ia mengerutkan alis mata, meliukkan kepala ke bawah serupa kura-kura yang hendak menyimpang kepala dalam tempurung kalsium, lalu bicara, "Yang besar," dengan terbata-patah, pelan bersuara. Aku menimpali dengan gerak kepala saja, naik-turun sekali putaran.
Lantas, lekas ia mengambil gelas berukuran besar--itu bila dibandingkan dengan seluruh gelas yang ia miliki yang tertata di rak plastik warna pink yang tertutup kain lap yang sudah tidak bersih bermotif kotak papan catur. Gelas besar itu seukuran dengan gelas yang biasa dipergunakan untuk menikmati es teh manis di warung kopi milik Abdul yang berada di dekat tenda pemeriksaan mobil yang hendak masuk ke wilayah gedung perkantoran Media Indonesia atau MetroTV. Kalau yang kecil itu seukuran dengan gelas yang biasa akau pakai meminum segelas kopi hitam kental di warung kopi pinggir jalanan dekat lokasi prostitusi; sambil menunggu angka digital di hape SonyEricsson T290i milikku berbentuk: 03:24.
Si Mbak pun menuangkan teh pahit dari gelas logam kuning raksasa bertelinga yang mampu menampung air dari botol air mineral yang berharga lima ribu-an. Usai menuang, si Mbak menyerahkan gelas besar yang berisi teh pahit itu dengan rasa ikhlas. Segelas teh pahit hitam pekat plus kental sudah terhidang. Tapi, aku tidak merasakan kenikmatan dari rupa fisikal raut muka teh pahit hitam pekat plus kental yang terpampang di kedua bolamataku yang juga hitam--rupa teh pahit hitam pekat plus kental ini serupa dengan kopi kental yang hitam dengan sedikit rona transparan. Mungkinkah itu dikarenakan otakku terbuat dari kumpulan lemak-lemak warna putih? hingga aku tak mampu mencerna apa yang tercerap indera mata? Meski begitu, aku pasrah menerima--sepertinya aku merasa bakal ada bencana menyata sehabis aku bertaruh ada apa dibalik tulisan 'SEDIA TEH PAHIT'.

aKU MULAI MENCOBA. kUDEKATKAN SEGELAS BESAR TEH PAHIT KE MUKAKU. kUCOBA MEMBAUI. tAPI, TAK ADA BAU. pIKIRANKU PUN TAK MAMPU BEKERJA, MENGASOSIASIKAN APA YANG TERHIRUP HIDUNGKU DENGAN BERAGAM BEBAUAN YANG TEREKAM DALAM MEMORIKU. aNEHNYA, DI SAAT AKU TIDAK MAMPU MENGASOSIASIKAN JENIS BEBAUAN YANG TIDAK BERBAU DARI TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL ITU, TIBA-TIBA, MUNCUL PERASAAN IMAJINATIF BAHWASANYA AKU SAAT ITU AKU SEDANG MEMEGANG CANGKUL. yA, AKU MEMEGANG CANGKUL. aKU MERASAKAN BERAT DITANGAN MENJALAR HINGGA LENGAN LALU MERAMBAT KE TENGKUKKU SAMPAI-SAMPAI MEMBUAT LEHERKU MENEKUK KE KANAN; RASANYA SEPERTI SAAT AKU HENDAK MENGOLAH PETAK PERSAWAHAN BERUKURAN EMPAT KALI ENAM METER YANG SUDAH DIAIRI TIGA HARI, DI dESA kALISARI, kECAMATAN tELAGASARI, kABUPATEN kARAWANG, pROPINSI jAWA bARAT. tANGANKU SEPERTI MENAHAN BEBAN BERAT. yA, RANGSANG IMAJINATIF ITU BERASAL DARI KELELAHAN TANGANKU MEMEGANG SEGELAS TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL BERADA SEKITAR DUA ATAU TIGA SENTIMETER DARI INDERA PEMBAUKU. aH, ADA APA PULA INI?
aKU MULAI MENCECAP. sEBENARNYA, BUKAN MENCECAP, SEBAB TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL YANG MASUK KEDALAM MULUTKU--TENTUNYA SETELAH BIBIRKU BERSENTUHAN DENGAN BIBIR GELAS KACA BENING BERISI TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL--TIDAKLAH BANYAK; DALAM PIKIRANKU PERBUATAN MENCECAP ITU HANYA MEMASUKKAN SETETES, PALING BANYAK DUA BELAS TETES CAIRAN KEDALAM MULUT. yANG AKU LAKUKAN, MENEGUK, SEPERTI YANG BIASA KUPERBUAT KETIKA MENIKMATI SEKALENG MINUMAN BERKADAR ALKOHOL LIMA PERSEN YANG BIASA AKU BELI DI WARUNG SERBA ADA YANG BERADA DI SEBERANG POS POLISI SAAT AKU PULANG MALAM HARI MENUJU RUMAH, LALU MASUK KAMAR, LANTAS MENULIS SEBUAH PUISI YANG TAK PERNAH JADI; MEMANG SESEKALI ADA YANG JADI, TAPI ITU TIDAK TERLALU BANYAK, KALAU BOLEH DIKATA: TIDAK PRODUKTIF.

bEGITU AKU MENEGUK, begitu lidahku merasakan pahit menyengat, dan sebanding dengan kecepatan lidahku dan otakku bekerja merasakan pahit menyengat, lidahku pun merasakan sedapnya es teh liang atau es liang teh yang pernah kuminum dua kali selama aku berada di Jakarta, kota metropolitan utama Republik Indonesia yang memiliki bendera berwarna merah-putih, merah di atas putih. Pertama, aku menikmati es teh liang atau es liang teh di kawasan Gadjah Mada dekat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah siraman terik matahari siang, dan sebagai gantinya aku memberikan dua lembar uang seribuan kepada penjual minuman es the liang atau es liang teh yang saat itu memakai topi rimba bundar warna coklat. Kedua, sepulangku membeli satu kilo kakap merah, satu kilo ikan kwe', tiga kilo cumi-cumi dan tiga kilo udang--semuanya menghabiskan uang Rp275.000--siang-siang di Pasar Ikan Muara Angke kubeli segelas es teh liang atau es liang teh seharga duaribu dari pedagang es tehliang atau es liang teh yang sedang nangkring berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang aku tidak tahu spesiesnya yang berada sekitar lima belas meteran dari pintu masuk pasar.
Saat aku sedang menikmati sedapnya es teh liang atau es liang teh, rasa pahit menyengat itu kembali merusakkan tatatan ImajINatIf YanG Sudah KubangUN TAnPa SAdar. MendAdAK, Aku TEringaT. PAHIt ini Pernah kuRASa. YA, Aku tidak SALAh. AKu yakiN. kuGAli SedaLAM-DalamnYA Rasa paHIT YAng kuRASAkan, lAlu kUbandingKan SEmirip-MIripnYA denGAN Rasa yANg pernAH Aku rasaKan di MASa-masA sebelUMnya, LALu muNCUllaH saTU kaTA dalAM KepalaKU. PEpaya! AKU terinGAt ramUan MinumaN YAng dibUAT Oleh ibuku DI Waktu aku MAsih Sekolah DASaR DUlu. RAmuan DAun PepaYA reBUs! DaUN Pepaya YANg direbUS berSAma air DIdalam Dandang yang DIletakkan di Atas perApian KOmpor gAs. liMA Atau deLApan helAi daun PepAYA yang MenJAri daN BerUKuran BeSAR di REBus BersaMA air DIDALam danDang yang diLetakkaN di aTAS PeraPIAn kOmpor Gas. Bila SUDah maTang, aPI Pun dimAtIKAn, daN aIR RebusaN DAUn pepaYa yanG berWarnA KehiJAU-HijaUAN itu DItuaNGKAN KedalAM gelaS YAng BesarnYA seukuraN deNgan Gelas BEsar teH Pahit hiTAm Pekat pLus KentAL Yang Sedang BeRAda DalAm GenggamAnKU ini. YA, Ramuan ituLAH yang Sering diMinUM IbuKu. KatAnYa, BuAt ObaT. KatAnya Lagi, BuaT AweT muDa. KataNya laGi, maU coBA? MungKIn Yang TerakHir Yang DIkaTakan IBuku kaRena TampangkU YAng TerheRAN-HeraN Melihat RutinITAs DIa di paGI HARI SEBElum aku BerangKAT SekoLAH; MulaI DAri MemeTik Daun PepaYA YaNG BErada DI beLAkang Rumah deKAT Kolam IKAN lelE yANg SudaH bERisi gurAME, MencuCI dAun PePAya, memAsukkAN Daun PepAYA kedDalam dANDang, mEgIsiNya DengAn AIR, MerebusNYa, lALu mendiDIH dan MenUANgkanNYA keDALam gelas SebeLUM dIA Minum HAngaT-HAngat.

Aku mencoba. Aku mendekatkan mulutku ke bibir gelas yang berada di atas meja makan dan mencecap seperti seekor anak ayam yang berciap-ciap hendak minum dari tatakan cangkir plastik. Selesai mencecap, aku menjauhkan kepala dari bibir gelas yang berisi air rebusan daun pepaya sambil memicingkan mata, menyinyirkan bibir, hingga urat-urat leherku pun kelihatan tegas, kaku dan jelas membengkak, sembari tanganku mengejang merapat ke sisi badan. "Enak?" itulah kata ibuku.
Saat tegukan pertama teh pahit hitam pekat plus kental meluncur masuk melintasi kerongkonganku, langsung tancap gas menuju usus dan lambungku, aku pun bertanya pada seorang ibu pemilik usaha itu yang duduk diseberangku; dan dia baru saja meminum segelas kecil teh pahit hitam pekat plus kental sekali glek! "Ini teh bahannya apa Cik?" Padat ia menjawab. "Saya juga tidak tahu. Ini ramuan teh pahit aja."
Kok bisa? "Saya sih tinggal beli. Di Kota juga banyak. Di toko obatnya, tinggal bilang teh pahit, langsung dikasih itu ramuan. Sisanya ya tinggal seduh saja."
Terus kegunaanya apa? "Macem-macem. Bisa ngilangin capek-capek, kencing manis, panas dalam. Nah, entar kalau dah abis tu teh pahitnya, coba deh tidur entar malam. Besoknya tuh kalo bangun tuh badan pasti entengan kaga' berat. Ga' kerasa apa-apa."
Disaat panjang lebar ibu turunan etnis Tionghoa ini menjelaskan tiap pertanyaan yang kulemparkan, di saat itu pulalah aku memperhatikan dirinya. Melihat ombak rambutnya yang pendek setengkuk, langsat kulitnya, baju dasternay yang berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, lalu mukanya yang tergolong belia tanpa keriput jelas yang tergambar nyata pada kanvas wajah--padahal bila kau menyimak pandangan mata atau senyumannya, terasalah bahwa si ibu yang berada di seberangku ini sudah memiliki, paling tidak satu cucu; meski aku tidak tahu pasti berapa sesungguhnya jumlah cucu dia.
"Buat darah tinggi juga bisa ya?" Ia menangguk sambil tersenyum hingga tampak empat kerutan menghias sisi kanan ekor sudut matanya. Dan, tiba-tiba, aku merasa bahwa wajah perempuan yang berada di seberangku terasa begitu dekat, akrab, familiar. Rasanya, aku pernah berjumpa orang seperti dia. Perempuan yang selalu terlihat muda meski usia sudah berbilang senja! Aku pun tersenyum. Kutanyakan berapa harga yang harus kubayar untuk melunasi pesanan segelas besar teh pahit hitam pekat plus kental dan dua bungkus kacang. "Empat ribu," kata si Mbak. Kukeluarkan empat lembar uang bergambar Kapitan Pattimura, kuberikan pada si Mbak, lalu berpaling ke si ibu yang berada di seberangku, "Bu, aku pergi ya." Ia mengangguk, senyum.