TENTANG ADONIS



“I live between the fire and the plague

with my language—with this mute universe”

The Fall (Adonis)


Aku hidup di antara api dan epidemi

bersama gelisah bunyi—di dalam dunia sunyi

Takluk (Adonis)


ADONIS adalah Ali Ahmad Said. Lahir pada 1930 di Qassabin, Siria. Bila ditilik dari sudut etimologi, Adon berasal dari bahasa Semit, adon, yang bermakna “Raja”. Sebelum memulai kuliah umum di ruang blackbox theatre Salihara pada 3 November 2008, ada narasi yang bercerita tentang musabab sempat mengungkapkan bahwa alasan Ali Ahmad Said menggunakan nama pena: Adonis. Diceritakan bahwa penggunaan nama tersebut dikarenakan Ali Ahmad Said merasa bahwa ‘kegagalan’ puisinya lolos seleksi bersumber pada namanya; itulah yang menyebabkan ia menggunakan nama pena: Adonis. Ternyata, strateginya berhasil. Bentala internasional mengenal Ali Ahmad Said sebagai Adonis, Adonis of Syria, Raja dari Siria.


Pada kuliah umum di blackbox theatre Salihara, peraih gelar Philosophical Doctor dari St. Joseph University, Beirut, Lebanon, pada 1973 ini memaparkan makalah bertajuk “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama”. Di dalam makalahnya, Adonis mengajukan tesis: “Puisi dan kebenaran puisi sepenuhnya berlawanan/bertolak belakang dengan agama dan kebenaran agama.” Bila tesis tersebut dikembalikan kepada judul makalah, hasilnya: kontradiksi. Bagaimana mungkin ‘yang bertolak belakang’ (pada tesis) bersanding dengan ‘dan’ (pada judul)?


Lepas dari kontradiksi antara judul dengan tesis, artikel ini saja tujukan untuk membahas (1) dimensi logika dari judul makalah, dan (2) dimensi kronologis penempatan frase. Penjernihan atas kontradiksi antara tesis dengan judul akan saya bahas pada bagian yang terpisah dari tulisan ini, disebabkan penjelasan terkait kontradiksi tersebut mengacu pada pola pikir dialektis yang dimajukan Adonis sebagai kerangka utama penyusunan makalah tersebut.


*


Makna “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” tentu beda dengan makna “Kebenaran Puisi atau Kebenaran Agama”. Pada yang kedua, variabel ‘atau’ menghadirkan situasional memilih. Situasional memilih berarti memilih salah satu dari antara dua pilihan yang tersedia. Tindakan memilih yang-satu diikuti dengan tindakan mengenyahkan yang-lain. Memilih “Kebenaran Puisi” berarti menendang “Kebenaran Agama”, memilih “Kebenaran Agama” berarti mencampakkan “Kebenaran Puisi”. Secara tidak langsung tindakan memilih yang-satu dapat berarti bahwa yang-satu itulah yang benar, sedangkan yang-lain adalah salah. Namun, kesimpulan yang begitu tidaklah selalu benar, menurut saya. Adalah lebih tepat bila dinyatakan bahwa tindakan memilih yang-satu tidak ditujukan untuk menyalahkan yang-lain; meski selalu ada kecenderungan rasional untuk menyatakan bahwa ketika yang-satu dipilih, maka yang-lain adalah salah.

Apa yang saya maksudkan tak jauh beda ketika kita diperhadapkan pada pilihan mengunjungi teman yang sedang sakit atau pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis. Dalam situasional memilih tersebut, andaikan kita memutuskan untuk pergi mengunjungi teman yang sedang sakit, bukanlah berarti pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis adalah salah; begitu pula sebaliknya. Melalui perumpamaan ini pulalah saya menegaskan bahwa asumsi yang saya atas permasalahan “Kebenaran Puisi atau Kebenaran Agama” adalah pengosongan makna dari “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama” sebagai pilihan disetarakan dengan “mengunjungi teman yang sakit” dan “pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis”.


Asumsi pengosongan makna saya tujukan untuk melihat permasalahan variabel ‘atau’ dalam kepenuhan ‘atau’ itu sendiri sebagai simbolisasi dari suatu situasional memilih. Seturut dengan ilmu logika, asumsi pengosongan yang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa tindakan memilih yang-satu tidak selalu berarti menyalahkan yang-lain. Dalam ilmu logika, variabel ‘atau’ yang menghubungkan dua entitas hanya menghasilkan konklusi yang bernilai salah apabila entitas pertama, atau katakanlah “Kebenaran Puisi”, bernilai salah, dan entitas kedua, atau katakanlah “Kebenaran Agama”, bernilai salah juga. Namun, apabila entitas pertama bernilai benar dan entitas kedua bernilai benar, maka konklusi antara kedua entitas tersebut yang dihubungkan dengan variabel ‘atau” adalah benar. Bila entitas pertama bernilai salah/benar dan entitas kedua bernilai benar/salah, maka konklusi antara kedua entitas tersebut yang dihubungkan oleh variabel ‘atau’ adalah benar. Pola baku penalaran logika ‘atau’ sbb:



Entitas Pertama (P)

Entitas Kedua (P)

Atau (P V Q)

Nilai

Benar

Benar

Benar

Benar

Salah

Benar

Salah

Benar

Benar

Salah

Salah

Salah

Tabel 1. Logika ‘Atau’


Bila variabel ‘atau’ menghadirkan situasional memilih, variabel ‘dan’ pada “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” menghadirkan situasional keterikatan. “Kebenaran Puisi” sejalan dengan “Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi” memiliki keterikatan dengan “Kebenaran Agama”. Memilih “Kebenaran Puisi” berarti pula mengikutsertakan “Kebenaran Agama”. Memilih “Kebenaran Puisi” tidak dapat mengenyahkan “Kebenaran Agama”; begitu pula sebaliknya. Situasional “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” muncul dalam perumpamaan sepakbola Inggris yang dikenal dengan slogan “kick and rush”. “Kick” punya keterikatan intrinsik dengan “Rush”; antara “menendang” dilanjutkan dengan “melesat”. Asumsi pada logika variabel ‘dan’ sebangun dengan asumsi pada logika variabel ‘atau’, yakni pengosongan makna. Dalam ilmu logika, pola baku variabel ‘dan’ sbb:



Entitas Pertama (P)

Entitas Kedua (P)

Dan (P Λ Q)

Nilai

Benar

Benar

Benar

Benar

Salah

Salah

Salah

Benar

Salah

Salah

Salah

Salah

Tabel 2. Logika ‘Dan’


*


Disamping pemilihan diksi-logis, ada juga permasalahan menarik yang bisa diambil dari penjudulan “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” tentu bisa saja dianggap sama dan sebangun dengan frase “Kebenaran Agama dan Kebenaran Puisi”. Namun, anggapan sama dan sebangun tersebut, tidak sepenuhnya tepat. Anggapan tersebut, menurut saya, melalaikan keberadaan unsur prioritas primair secara kronologis. Dari sisi penempatan, “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama”; bukan sebaliknya. Lantas, bagaimana Adonis mempertanggungjawabkan untaian kronologis: “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama”?


Penjabaran pertanggungjawaban Adonis atas untaian kronologis “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama” bersumber dari analisa historis dia atas perkembangan puisi dan perkembangan agama di dunia Arab. Selanjutnya, Adonis mengelaborasi pendekatan historis dengan ‘teori pengetahuan’-nya yang berpijak pada gagasan penyair sufi asal Afghanistan Jallaludin Rumi.


Dari riset historis, Adonis menemukan bukti bahwa tradisi puisi lebih dahulu ada di dunia Arab sebelum agama. Agama di dunia Arab, khususnya Islam, menurut Adonis, berasal dari tradisi bangsa Ibrani, yakni Ibrahim dengan kitab Talmud. Akulturasi kultural mempertemukan Arab dengan Ibrani hingga melahirkan Islam. Problematisasi historis tersebut, menurut saya, dibahas Adonis untuk membuktikan bahwa sebelum kehadiran Islam di dunia Arab, dunia Arab sendiri sebenarnya sudah ‘mengenali’ wajah Tuhan. Wajah Tuhan sebelum munculnya Islam dikenal lewat puisi-puisi para penyair Arab sebelum kemunculan Islam. Puisi-puisi penyair Arab pada masa tersebut merupakan representasi dari ‘dialog’ penyair dengan Yang Gaib.


Jabaran historis tadi dielaborasi Adonis dengan gagasan Jallaludin Rumi tentang asas pengetahuan indrawi dan spiritual, yakni tajjalî (manifestasi). Dalam makalahnya, Adonis menuliskan:

“[Tajjalî] adalah gambaran-gambaran dari kebenaran yang sinarnya terus memancar kepada cermin hati dan indrawi, selanjutnya dipantulkan kepada cermin nalar, sehingga lahir dari keduanya “pengetahuan rasa” (al-ma’rifah al-dzawqiyah), yakni pengetahuan yang memberikan keyakinan (al-ma’rifah al-yaqîniyah) yang diperoleh secara langsung tanpa perantara. Dengan ungkapan lain, pengetahuan bagi Rumi adalah penyingkapan terhadap hakikat dengan terlepasnya hijab-hijab hati, indra dan akal, sehingga cahaya kegaiban terpancar.”


Dari sudut pandang demikian, maka puisi yang dimaksud oleh Adonis mengacu pada pengetahuan rasa, yang oleh kalangan sufi disebut sebagai “alam rasa” (‘alam al-adzwaq). Puisi yang dihasilkan para penyair Arab sebelum kemunculan Islam sesungguhnya berkenaan dengan upaya penyingkapan manifestasi dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci. Dan agama, seturut dengan konteks pembicaraan Adonis: Islam, menempati posisi yang sama dengan puisi secara historis, yakni sebagai pengetahuan rasa yang memberikan keyakinan (al-ma’rifah al-yaqîniyah) melalui penyingkapan manifestasi dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci. Terkait dengan status kebenaran dari puisi dan agama, Adonis menegaskan: “Pengetahuan [rasa] tidak akan salah karena kesalahan hanya lahir dari kebenaran teoritis dan abstrak semata.


Maka teranglah bahwa “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama” dikarenakan Adonis mempertimbangkan faktor historis puisi dan agama di dunia Arab, yang selanjutnya dielaborasi dengan ‘teori pengetahuan’ Jallaludin Rumi, dimana hanya pengetahuan rasa (al-ma’rifah al-dzawqiyah) sajalah yang memampukan manusia mencapai kebenaran mutlak (absolute truth). Secara implisit, menurut saya, Adonis hendak menyampaikan pesan: Puisi dan Agama adalah wahana untuk menggapai kebenaran mutlak, kebenaran yang bersumber dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci! (Dan, secara implisit juga, Adonis berharap kebenaran mutlak tersebut tidak dipahami sebagai kebenaran tunggal; sebab kebenaran tunggal dapat berujung pada kekerasan yang-satu terhadap yang-lain!)


*


Saya pikir, “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama” dapat disejajarkan dengan api dan epidemi yang sama-sama menghadirkan gelisah bunyi bagi aku yang berdiam di dalam dunia sunyi, sebagaimana petikan sajak Adonis yang bertajuk ‘Takluk’ pada bagian pembuka risalah ini. Sebab, bukankah memikul puisi dan agama adalah sama-sama menyakitkan, juga menggelisahkan? Tidakkah sejarah para nabi pun melukiskan betapa jalan pengharapan menuju Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci adalah juga via dolorosa, jalan derita sekaligus siksa? Demikianlah, dari jarak sekitar 10 meter saya mendengar Adonis, Raja dari Siria, berujar: “Saya mengkritik Islam karena saya mencintai Islam.” Cinta bukan selalu berarti bahagia; Cinta juga bisa bermakna airmata.


November 2008


Sumber Utama:

Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama, Adonis, 2008

MUHAMMAD YUNUS:

“[Poverty-free world] would be a world that we could all be proud to live in.”

“… freedom is freedom from poverty.”
Gayatri Spivak


JUDUL artikel ini berasal dari halaman terakhir, halaman 262, buku “Banker For The Poor” karangan Muhammad Yunus terbitan PublicAffairs, Amerika Serikat, pada tahun 2003. Kutipan aslinya: “That would be a world that we could all be proud to live in.” “That” mengacu pada cita-cita Muhammad Yunus, Poverty-free World, Bumi tanpa Kemiskinan.
Saya tidak tahu pasti, apakah ada penelitian atau perhitungan ekonomi yang berupaya menjawab berapa besar sebenarnya uang yang dibutuhkan untuk mengentaskan kemiskinan di dunia? Lantas, apakah jumlah uang tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah uang yang beredar di dunia? Atau, apakah jumlah uang tersebut lebih besar atau lebih kecil dari harta global di dunia ini? Apa yang saya maksudkan dengan ‘harta global’ adalah jumlah total uang, yang beredar dan tak beredar, dari seluruh negara yang ada di Bumi.
Bisa saja pertanyaan imajinatif yang saya lontarkan punya makna mengada-ngada. Justru pertanyaan imajinatif saya lahir dari fakta aktual yang dialami Muhammad Yunus pada tahun 1976. Ketika itu, Muhammad Yunus, pengajar di Departemen Ekonomi Univesitas Chittaggong, menerima laporan dari muridnya Maimuna Begum. Laporan tersebut memuat data jumlah uang pinjaman yang dibutuhkan oleh 42 jiwa warga perkampungan Jobra di Banglades sebagai modal untuk membuka usaha mandiri. Membaca data yang dikumpulkan Maimuna dalam tempo satu minggu, Yunus kaget: “Ya Tuhan, ya Tuhan. Segala derita mereka hanya karena uang yang tak lebih dari 27 dollar (My God, my God. All this misery in the all these families all for of the lack of twenty-seven dollar!)!”
“Mereka” yang dimaksud dalam konteks percakapan Yunus dengan Maimuna adalah perempuan dari keluarga miskin yang membutuhkan modal awal untuk memulai usaha mandiri membuat kursi bambu sederhana dengan jalan meminjam uang ke para lintah darat (tentunya dengan bunga yang tinggi). “Derita” yang dimaksud dalam konteks percakapan Yunus dengan Maimuna adalah segala dampak negatif yang dialami para perempuan pengrajin kursi bambu sederhana akibat pilihan meminjam uang dari lintah darat. Pinjaman yang berasal dari lintah darat tentunya bukanlah pinjaman yang menyehatkan, melainkan menyakitkan sekaligus menjerat. Sekali masuk, barangkali hanya kematian saja yang bisa membebaskan. “27 dollar” dalam konteks percakapan Yunus dengan Maemunah mengacu pada jumlah total uang pinjaman “mereka”.
Kembali berimajinasi, andaikanlah 27 dollar yang dimaksud dalam konteks peristiwa tadi berlangsung dalam kurs 1 dollar = Rp10.000. Maka, jumlah total dana pinjaman yang dibutuhkan 42 jiwa di perkampungan Jobra, Banglades, kurang dari Rp270 ribu. Dan apabila imajinasi kembali diliarkan, saya pikir tak ada kelirunya bila membayangkan jumlah uang tersebut nyaris mendekati dana kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan pemerintah Indonesia, dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dana BLT yang dibagikan setiap tiga bulan sekali berjumlah Rp300 ribu. Aih, imajinasi memang benar-benar mengejutkan.
Terlepas dari pengandaian imajinatif tadi, apa yang dialami Yunus dan diceritakan dalam “Banker For The Poor” merefleksikan bahwa kemiskinan bisa punah dari muka Bumi. Meski tidak terlampau akurat, saya mencoba menghadirkan perhitungan deduktif untuk menganalisa probabilitas memunahkan kemiskinan. Diperkirakan jumlah penduduk Bumi saat ini mencapai 6 miliar jiwa. Dan bila diandaikan seluruhnya adalah orang miskin, dengan asumsi setiap 42 jiwa membutuhkan dana 27 dollar, maka jumlah dana yang dibutuhkan untuk mengentaskan kemiskinan mencapai 3,8 triliun dollar. Lantas, kira-kira, apakah harta dunia mencapai angka tersebut? Kalau harta dunia tidak mencapai angka tersebut, tampaknya umat manusia di Bumi memang, mau tak mau, harus menerima kemiskinan sebagai kodrat Bumi. Tapi, kalau memang harta dunia melampaui angka tersebut, maka kemiskinan bisa saja berasal dari limbah perilaku manusia. Maka wajarlah muncul pepatah, “Bumi yang kita huni mampu memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, namun tidak dapat memuaskan nafsu serakah dari hanya satu orang manusia.”

Oktober 2008
CITY OF SEN
Menyingkap Bentala Visi Amartya Kumar Sen Lewat Identitas dan Kekerasan*

Sejak peristiwa tragis 11 September 2001, peledakan menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, yang diperkirakan merenggut 2.800 nyawa manusia, sepertinya horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas. Dengan identitas, personal/komunal/global mampu memformulasikan suatu laku kekerasan untuk menghancurkan orang-orang lain yang berada di luar identitas-nya. Penalaran demikian melahirkan konklusi: Kebiadaban berakar pada Identitas! dan Identitas ada pada personal/komunal/global!
Bila konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’, tampaknya salah satu solusi menjawab horor peradaban kontemporer adalah menghilangkan identitas. Lantas, muncul pertanyaan apakah itu mungkin? Apakah mungkin bagi manusia, personal/komunal/global, hidup tanpa adanya identitas? Kalau mungkin, bagaimana pula cara personal/komunal/global mengenali dirinya sendiri? Atau malah, personal/komunal/global memang tak perlu mengenali dirinya sendiri? Fenomena pertanyaan demikian bisa memunculkan pertanyaan lain pada level ‘metafisika’. Kalau memang ‘Saya adalah Saya’ tidak diperbolehkan atau tidak boleh ada atau tidak ada, lalu dengan cara apa saya harus mendefenisikan diri? Mungkinkah saya menghilangkan saya?
Bila diteliti lebih lanjut, formulasi pertanyaan ‘metafisika’ “mungkinkah saya menghilangkan saya” selaras dengan metode skeptisisme yang dilakoni filsuf Perancis René Descartes pada abad 17 Al Masih. Bila segala hal saya ragukan, maka saya yang meragukan adalah satu-satunya keniscayaan! Bila saya yang meragukan adalah satu-satunya keniscayaan, maka saya tidak mungkin tidak ada. Cogito ergo sum. Saya berpikir, maka saya ada. Maka, ‘saya menghilangkan saya’ cuma bisa terjadi bila saya tidak berpikir. Bersandar pada penalaran Descartes, pertanyaan “mungkinkah saya menghilangkan saya” pun terjawab. Ketika saya bertanya (berpikir) “mungkinkah saya menghilangkan saya”, maka seketika jawabannya pun muncul: saya tidak mungkin menghilangkan saya!
Berpijak pada tesis prinsip rasionalitas Descartes, muncul jawaban saya tidak bisa menghilangkan saya. Saya adalah kepastian-pertama. Kalau begitu, saya dan identitas adalah keniscayaan. Lantas, bagaimana dengan konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’? Kalau memang saya dan identitas adalah keniscayaan, maka ‘kebiadaban’ yang berakar pada identitas pun bisa berhakikat niscaya. Benarkah demikian? Jika memang benar demikian, sangat tepat sekali bila dikatakan “horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas”. Dan semenjak identitas adalah keniscayaan bagi personal/komunal/global, maka segala laku kekerasan adalah kewajaran dalam sejarah peradaban manusia, mulai dari masa lalu hingga masa menjelang. Atau dengan kata lain, hanya ketololanlah yang memampukan manusia untuk berharap pada suatu masa perdamaian mewujud di planet Bumi. Karena itu, manusia pun menjadi mahluk paling tragis. Di satu sisi manusia memiliki harapan akan adanya perdamaian (dengan konsekuensi melakukan kerja perwujudan perdamaian yang dipandu cahaya pengharapan), sedang di sisi lain manusia wajib berhadapan dengan keniscayaan untuk menghancurkan, membantai, dan memusnahkan manusia yang lain. Maka, yang disebut manusia adalah campuran dari rasionalitas tolol dengan rasionalitas horor.
Namun, benarkah hakikat kebiadaban pun adalah keniscayaan? Ada baiknya kita kembali meneliti konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’. Jika identitas adalah keniscayaan, apakah memang kebiadaban juga keniscayaan? Jika kebiadaban pun ternyata adalah keniscayaan, tak bisa dipungkiri lagi, manusia memang mahluk yang paling menderita di semesta jagat raya. Manusia harus ikhlas menerima kodrat sebagai mahluk tolol sekaligus horor. Tetapi, bagaimana bila kebiadaban bukan keniscayaan? Kebiadaban bukan keniscayaan mengandung pemaknaan bahwasanya kebiadaban adalah probabilitas, kemungkinan. Seturut dengan metode skeptisisme yang dilakoni Descartes, bisa dilakukan pengujian hipotetik lewat pengajuan pertanyaan: mungkinkah kebiadaban dihilangkan? Jawaban yang muncul adalah bisa ya, bisa pula tidak. Maka, menjadi teranglah bahwasanya hakikat dari kebiadaban bukanlah keniscayaan, melainkan probabilitas, potensialitas. Kebiadaban bisa ada, bisa pula tidak; dan ada atau tidak adanya kebiadaban sangat bergantung pada identitas yang beresensikan keniscayaan. Di sini, Amartya Kumar Sen, lewat bukunya yang bertajuk ‘Identity and Violence: The Illusion of Destiny’ menyibak tabir kemungkinan yang terkandung di dalam keniscayaan-identitas untuk menihilkan kekerasan, kebiadaban manusia yang satu terhadap manusia yang lain; sekaligus memampuskan klaim ‘horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas’. Dan itulah cita-cita CITY OF SEN—barangkali bisa menggelincir jadi CITIZEN—sebuah tatanan dunia baru bagi peradaban manusia. Tatanan dunia yang membebaskan manusia untuk memilih dan menetapkan identitas, tanpa harus menghadirkan teror kekerasan bagi manusia lain di semesta jagat raya.

September 2008

* Identitas dan Kekerasan, fragmen dari judul buku Amartya Kumar Sen ‘Identity and Violence: The Illusion of Destiny’, yang dialihbahasakan ke dalam bahasa indonesia menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi Identitas’.

JUDUL KELIRU BIKIN KERUH

-Tafsir Yang Hilang Dalam Terjemahan 'Judul Buku Amartya Kumar Sen-

Terus terang, aku tak punya niat meremehkan kerja Arif Susanto. Aku pun tak tahu berapa lama waktu yang dia sisihkan dalam hidupnya untuk menerjemahkan buku karangan Amartya Kumar Sen. Barangkali, hitungan bulan sudah dia habiskan untuk menerjemahkan Identity and Violence: The Illusion of Destiny. Meski begitu, tetap ada riak-riak gerundelan kecil dalam perasaanku, yang tak bisa kubantah, kala membaca buku hasil terjemahan Arif Susanto. Penyebabnya hanya satu saja, yakni perkara judul.

Aku sadar, persoalan kritik terjemahan bisa menjadi suatu yang sia-sia. Barangkali, aku bisa dianggap tak menghargai kerja orang lain yang bersusah payah menjembatani jurang bahasa antara penulis dengan pembaca. Di sini, aku menegaskan kembali, kritik yang aku ajukan dalam artikel ini sama sekali tidak punya tendensi untuk menginjak-injak kemampuan berbahasa Arif Susanto. Bila dibaca secara keseluruhan, harus aku akui Arif Susanto sudah mengerahkan upaya optimal untuk menerjemahkan buku karangan Amartya Kumar Sen. Namun, aku melihat ada satu kelemahan proses penerjemahan, yang mungkin saja punya dimensi kesengajaan. Kalau yang terjadi begitu, maka segala apa yang aku tuliskan di sini bakal menjadi bumerang buat aku. Aku bisa saja dicap sebagai orang tolol dan idiot. Namun, bila yang terjadi adalah unsur ketidaksengajaan, maka, aku harap, pembaca tidak memberi stereotip negatif bagi Arif Susanto. Dan aku pun tak bakal memberikan label begitu kepada Arif Susanto. Kerja dia, bagi aku, sesungguhnya mampu menjembatani jurang bahasa antara aku dengan Amartya Kumar Sen. Secara personal, melalui artikel ini, saya mengucapkan salut dan terima kasih atas kerja yang sudah Anda lakukan.

Apresiasi Dan Keberanian

Menurut aku, menerjemahkan bukan persoalan gampang. Ada kode-kode kultural dan intelektual dari penulis yang harus bisa ditransformasikan ke dalam bentuk lain tanpa mengurangi esensi dari kode-kode kultural dan intelektual. Bahkan, dalam tingkatan yang ideal, kode-kode kultural dan intelektual antara tulisan asli dengan terjemahan harus identik, sama seratus persen. Di sini, kerja menerjemahkan menjadi sesuatu yang menakutkan, bahkan bisa-bisa mematikan. Maka, kadangkala diperlukan orang-orang yang berhati berani dan bebal ambil resiko mengambil tanggungjawab kekeliruan yang mungkin muncul. Bicara keberanian, bukan perkara gampang. Setidaknya, ada dua hal yang menyebabkan Aris Susanto mau menerjemahkan buku Amartya Kumar Sen. Pertama, Arif Susanto punya keyakinan bahwa buku karangan Amartya Kumar Sen yang bertajuk Identity and Violence: The Illusion of Destiny adalah sesuatu yang berharga bagi para pembaca di indonesia yang suka bergelut dengan pemikiran-pemikiran kontemporer tetapi memiliki keterbatasan akses bahasa. Kedua, keyakinan akan pentingnya buku tersebut mendorong Arif Susanto keberanian Arif Susanto untuk menerjemahkan buku Amartya Kumar Sen yang bertajuk Identity and Violence: The Illusion of Destiny. Adalah apresiasi yang tinggi terhadap Amartya Kumar Sen dan keberanian intelektual untuk menerabas jurang bahasa merupakan modal batiniah Arif Susanto untuk menerjemahkan Identity and Violence: The Illusion of Destiny yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2006 oleh W.W. Norton and Company, Inc., New York, Amerika Serikat.

Judul Yang Keruh

Arif Susanto menerjemahkan buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny karangan peraih Nobel Ekonomi 1998 Amartya Kumar Sen menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas’. Aku pikir, transliterasi judul tersebut mengandung kekeliruan. Dalam konteks ini, kekeliruan hendaknya tidak dipahami sebagai kesalahan. Bagi saya, kekeliruan bukanlah kefatalan, melainkan persoalan presisi. Di sini, penerjemah ibarat atlit panahan. Sebagai atlit panahan, tentunya yang bersangkutan mengetahui target yang hendak dituju, yakni sasaran. Mata panah diarahkan ke target sasaran. Andaikan saja, target sasaran berada di utara. Maka, setiap anak panah yang melesat dari busur pasti menuju ke arah utara, lokasi target bidikan berada. Namun, kadangkala anak panah menancap bukan di titik idaman, melainkan meleset satu, dua, atau tiga sentimeter. Dan konteks penerjemahan, meleset itulah yang saya sebut kekeliruan. Dan itu berbeda dengan kefatalan. Mengacu pada ilustrasi atlit panahan, maka kefatalan terletak bila sang atlit yang menyadari bahwa target bidikan berada di utara, dia malah mengarahkan mata panah ke arah tenggara. Tentunya, kategori meleset tak layak dilekatkan pada situasional begitu. Inilah yang aku pahami sebagai kefatalan. Melalui hasil terjemahan Arif Susanto, aku menyimpulkan bahwa Arif Susanto memang menyadari bahwa lokasi bidikan panah berada di utara dan anak panah yang dia lesatkan memang menuju ke utara, ke sasaran, ke target. Maka, bila ditinjau secara keseluruhan, hasil terjemahan Arif Susanto memang mampu mentransformasikan pemikiran Amartya Kumar Sen ke dalam dunia intelektual indonesia yang memiliki keterbatasan akses bahasa.

۞۞۞

Menurut saya, penerjemahan Identity and Violence: The Illusion of Destiny menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas’ menghilangkan suasana gaib tertentu yang termaktub di dalam tajuk gubahan Amartya Kumar Sen. ‘Gaib’ yang saya maksud mengacu pada hilangnya kode-kode kultural dan intelektual yang hendak disampaikan Amartya Kumar Sen.

Sesungguhnya, seturut pertimbangan saya, Identity and Violence: The Illusion of Destiny bisa saja langsung diterjemahkan menjadi ‘Identitas dan Kekerasan: Ilusi Takdir’. Melalui penerjemahan ‘verbal’ begitu, bisa dilacak lanjutan pemikiran yang luar biasa berkelindan di dalam buku karangan Amartya Kumar Sen. Bagi saya, tentunya setelah membaca buku karangan Amartya Kumar Sen, pemaknaan Identity and Violence: The Illusion of Destiny memang ditujukan untuk mengupas sebab-musabab Identitas dan Kekerasan dalam dunia kontemporer. Hasil akhir kajian Amartya Kumar Sen mengerucut di dalam judul bukunya itu, yang kemudian bisa dianggap sebagai tesis Amartya Kumar Sen sendiri, yakni ‘Ilusi Takdirlah yang menyebabkan timbulnya Identitas dan Kekerasan’.

Judul yang diberikan Amartya Kumar Sen, terutama pada kata ‘Destiny’ mengandung kode kultural dan intelektual tertentu. Kode kultural dari ‘Destiny’ tidak lepas dari konteks sosial-politik kontemporer yang berpijak pada kekeliruan Samuel Huntington ketika mendefenisikan bineka peradaban yang menggunakan indikator agama. Adanya agama dengan sendirinya mengandaikan keberadaan Tuhan, dan keberadaan Tuhan dalam tingkat yang paling pragmatis dikenali Takdir. Di dalam bukunya, Amartya Kumar Sen habis-habisan mengkritik teori benturan antarperadaban yang digagas Samuel Huntington dengan mengedepankan agama sebagai garda utama peradaban di Planet Bumi. Berhadapan dengan pemikiran Samuel Huntington, intelektualitas Amartya Kumar Sen gerah. Lantas, dia pun melekatkan gagasan ‘Illusion’ pada kata ‘Destiny’ untuk membantah tesis Samuel Huntington tentang benturan antarperadaban.

Kode intelektualitas Amartya Kumar Sen muncul dari perkawinan antara ‘Illusion’ dan ‘Destiny’. Agama atau Tuhan, yang didalam tesis Samuel Huntington, menurut Amartya Kumar Sen, tak lain tak bukan adalah ilusi, kepalsuan, tak asli. Meski begitu, secara spekulatif saya menilik ada suatu hal yang istimewa dari Amartya Kumar Sen ketika dia memilih ‘Illusion’ sebagai pendamping ‘Destiny’. Bila mengacu pada bahasa Inggris, ada beberapa padanan yang sesuai dengan ‘Illusion’, yakni delusion, impression, dan fantasy. Keistimewaan ‘Illusion’ dibandingkan tiga kata padanan tadi, menurut saya, adalah kemampuan kata ‘Illusion’ menampung konsep kekeliruan yang bersumber pada manusia untuk mengetahui makna dari ‘Destiny’. Barangkali, latar belakang Amartya Kumar Sen menggunakan kata ‘Illusion’ berangkat dari pemahaman dia sendiri yang ‘mengakui’ bahwa Takdir itu ada, namun manusia kerapkali manusia menjerumuskan diri dalam sisi ilusi Takdir daripada bergulat untuk menyelidiki dan memahami sisi asli Takdir. Dan seturut dengan pandangan Amartya Kumar Sen, penyebab hinggapnya ilusi di benak manusia dikarenakan kebebalan rasionalitas manusia itu sendiri.

Kompleksitas ‘Illusion’ dan ‘Destiny’ menempatkan posisi Amartya Kumar Sen sebagai sosok yang cukup terbuka sekaligus kaku. Di satu sisi, Amartya Kumar Sen bisa saja menyebar benih bahwa Takdir yang dipercaya manusia adalah ilusi, atau dengan kata lain Tuhan yang diyakini manusia ada sebenarnya tak ada. Setidaknya, argumentasi yang begini cocok dengan pengakuan Amartya Kumar Sen yang mengidentikkan diri sebagai orang yang ateis. Namun, di sisi lain, judul yang dibuat Amartya Kumar Sen punya potensi mengakui keberadaan Tuhan—entah itu sebagai afirmasi personal, atau sebentuk penghargaan kepada keyakinan Teistik orang lain yang benar-benar memahami keyakinan tersebut dalam pandangan yang lebih mengedepankan cita rasa perdamaian—, tapi yang menjadi permasalahan adalah pemahaman manusia atas Tuhan yang ilutif. Di sini, Tuhan bukannya tak ada, melainkan daya nalar manusia yang bebal, yang cukup puas dengan pandangan ilutif yang diperoleh tentang Tuhan; dan tak mau beranjak untuk mencoba memahami Tuhan yang hakiki, yang tak ilutif, yang asasi, yang asli. Paparan ini setidaknya cukup mumpuni pula ketika disandingkan dengan pernyataan Amartya Kumar Sen yang mengidentikkan dirinya dengan Hinduisme.

Kembali mengacu pada judul yang utuh Identity and Violence: The Illusion of Destiny, tampaklah bahwasanya apa yang hendak dibahas Amartya Kumar Sen dalam bukunya adalah Ilusi Takdir yang menghasilkan Identitas dan Kekerasan. Ilusi melekat pada manusia, begitu pula dengan Takdir; dan ketika dua entitas tersebut, muncullah Identitas dan Kekerasan.

Terkait dengan penggunaan frase Identity and Violence, lagi-lagi saya takjub dengan kelihaian Amartya Kumar Sen. Variabel ‘dan’ yang berangkat dari horison ilmu logika formal atau logika simbolik. Dalam logika simbolik, dua proposisi hanya bisa bernilai benar jika proposisi pertama dan proposisi kedua sama-sama bernilai benar. Bila Identity proposisi pertama bernilai benar dan Violence proposisi kedua bernilai benar, maka [The] Illusion of Destiny pun bernilai benar. Lewat penyelidikan demikian, bisa dilakukan penalaran bahwasanya [The] Illusion of Destiny cuma benar (baca: terjadi) ketika Identity dan Violence menyatu. ‘Menyatu’-nya Identity dengan Violence sebaiknya dipahami dalam konteks ‘afirmasi Identitas menyebabkan munculnya Kekerasan, dan bukan sebaliknya’. Namun, [The] Illusion of Destiny bisa bernilai salah (baca: tidak terjadi), ketika Identity bernilai benar dan Violence bernilai salah. Bila dilanjutkan, tentu saja bisa dinalar bahwa ada kemungkinan Identity bernilai salah. Namun, penalaran yang demikian sebenarnya tidak sesuai dengan pemikiran Amartya Kumar Sen yang ada di dalam buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny. Dalam bukunya, Amartya Kumar Sen menegaskan bahwa Identitas itu ada (baca: status nilai Identitas selalu benar), dan adanya Identitas itu bersifat majemuk, bukan tunggal. Dari proses pemilihan judul yang begitu, nyatalah bahwa Amartya Kumar Sen memang piawai memadukan kecerdasan logika simbolik dengan kecermatan memilih diksi yang presisi untuk menggambarkan likaliku kompleksitas pemikirannya sebagai seorang ekonom sekaligus filosof, dan barangkali pula dibumbui dengan sentuhan cita rasa sastrawi yang mengandung unsur sinisme, satir, serta jenaka.

۞۞۞

Pemahaman yang demikian mengantarkan aku, tentunya setelah terlebih dahulu melakukan pembacaan atas buku karangan Amartya Kumar Sen, untuk sedikit saja mengomentari transliterasi Identity and Violence: The Illusion of Destiny menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas’.

Terjemahan yang dilakukan Arif Susanto terhadap judul buku Amartya Kumar Sen tampaknya berpotensi mengaburkan kompleksitas kode kultural dan kode intelektual Amartya Kumar Sen. Lema ‘Destiny’ yang ada di dalam judul asli buku karangan Amartya Kumar Sen hilang di dalam hasil terjemahan Arif Susanto. Hal ini, sangat saya sayangkan karena ‘Destiny’ sesungguhnya punya peranan yang tak bisa diabaikan dalam pemikiran Amartya Kumar Sen yang dituangkan dalam buku tersebut. Selain itu, hadirnya frase ‘Ilusi tentang Identitas’ bisa-bisa malah membawa benak para pembaca judul buku pada pemahaman bahwasanya Identitas punya aspek ilutif. Padahal, bila mengacu pada gagasan Amartya Kumar Sen, Takdir-lah yang punya aspek ilutif di mata para penganut buta dari Takdir; dan seringkali para penganut Takdir terjerembab dalam pemahamannya yang ilutif atas Takdir tanpa berusaha menyibak dimensi ilutif Takdir untuk masuk dan menjelajahi dunia aseli, dunia hakiki dari Takdir, yang menurut aku berada di luar batas-batas rasio, nalar, kesadaran manusia.

Terakhir, aku mau menegaskan lagi, karena aku pikir tanggapan atau komentar aku dalam artikel ini bisa-bisa dinilai orang lain dalam perspektif yang negatif, meremehkan kerja penerjemahan teks yang sudah dilakukan Arif Susanto. Hendaknya, meski aku hanya bisa sampai pada tataran Berharap, pembaca yang membaca artikel ini menempatkannya dalam konteks ‘upaya aku untuk menyelesaikan gerundelan pribadi yang, barangkali saja, bermanfaat untuk stabilitas psikologis aku’. Aku sadar, menerjemahkan buku bukan perkara gampang, dan sesungguhnya Arif Susanto sudah melakukan kerja yang tak gampang dengan menerjemahkan buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny karangan Amartya Kumar Sen. Dan ketika Arif Susanto menyelesaikan terjemahan buku tersebut, berarti Arif Susanto sudah mengetahui apa isi buku tersebut; dan karena itu artikel yang saya tulis tidak boleh dinilai sebagai koreksi aku terhadap pemahaman Arif Susanto atas gagasan Amartya Kumar Sen yang tertuang dalam buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny.

۞۞۞

Saya hendak menambahkan satu hal yang cukup penting, yang tak kalah pentingnya dengan segala celotehan yang sudah saya ungkapkan di atas. Saya mengucapkan terimakasih kepada penerbit Marjin Kiri yang telah berani membeli hak cipta penerjemahan, penerbitan, dan penjualan buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny edisi indonesia dari W.W. Norton and Company, Inc. Saya pikir, adalah sesuatu yang sangat luar biasa ketika hanya dalam tempo satu tahun saja—buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny terbit pertamakali tahun 2006—buku berkualitas yang ditulis ekonom sekaligus filosof kaliber dunia muncul dalam edisi bahasa indonesia. Barangkali pengalaman saya tidak tahu banyak tentang buku-buku terjemahan, tapi seturut pengalaman saya, ‘Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas’ merupakan buku asing yang sangat cepat hadir dalam khasanah kepustakaan domestik, hanya berselang satu tahun saja sejak penerbitan perdana di dunia ‘luar’ sana. Salute pada Arif Susanto! Salute pada Marjin Kiri!

Agustus 2008

METAMATEMATIKA

(ANIMASI --> (ilusi --> ilusi) <-- IMAJINASI)

ALBERT



Albert Einstein. Gua mau sebut dia, Albert. Bosan dengan sebutan Einstein. Inspirasinya dari Rizal, afRizal. afRizal sebut Chairil Anwar pakai Anwar. Bukan Chairil. “Anwar, Anwar...,” katanya. Gua bayangkan diucapkan sambil geleng-geleng kepala. Bisa sinis, bisa takjub. Aku pilih takjub. Albert. Albert.

Albert pernah ngomong: As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain, and as far as they are certain, they do not refer to reality. Omongan yang nyaris ngaco. Maksudnya, sulit buat gua pahami. Apalagi gua tak ngerti matematika. As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain. Bila hukum matematika merujuk pada realitas, hukum matematika tak pasti. As far as they are certain, they do not refer to reality. Kalau hukum matematika pasti, maka hukum matematika tentunya tak mengacu pada realitas. Maksud loe sebenarnya apa Bert?

Matematika. Gua pikir ada hubungannya dengan Inggris. Mathematic. Tambahan referensial, Latin: mathematica. Dari Yunani mathēmatikos. Sesuatu yang dipelajari. Mathanein. Belajar.

Reality. Realitas. Latin: Realitas, kata bentukan baru dari ‘res’, benda. Dari “Matematika,” dan “Realitas,” “menarik!” Ada matematika, tidak ada realitas. Ada realitas, tidak ada matematika. Matematika dengan realitas. Realitas dengan matematika. Sepertinya baku tinju. Tapi, aku pikir tak begitu.


* * *


Angka. Matematika, butuh angka. Angka adalah simbol. Matematika butuh simbol. Angka tidak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari mana manusia mengenal angka? Ada banyak peradaban penemu simbol untuk angka. Ada Babylonia, Romawi, India, dan yang paling populer adalah Arab. Angka: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dari Arab. Angka: 0, dari India. Romawi pakai I, V, X, M, L, C. Angka. Simbol. Simbol adalah animasi. Anima.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga tak mengenal ‘anima’. Hanya ada aninisme dan aninis dan animasi. Ketiganya, kata benda. Bukan kata kerja. Di Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) juga hampir sama. Tidak ada ‘anima’. Hanya animasi. Kata benda. Tak perlu gusar. Sebab, bukan masalah besar. KBBI dan TBI masih kenal ‘animo’. Kata benda. Antara ‘anima’ dan ‘animo’, bedanya pada vokal akhir. Barangkali, ada Jawa yang bermain. A menjelma O. Mengacu alfabet Yunani, memang luar biasa. Alpha. Omega. Alif. Ya.

Bahasa memang bisa buat cemas. Dagdigdug. Gagap. Bahkan, kadang kala menyesatkan. Kalau tidak, menakutkan. Begitu barangkali setiap ambisi terjadi. Antara menawarkan kesesatan atau ketakutan. Agus Sardjono berkata: Jangan main-main dengan kata. Sekali berkata ‘Teror’, bom meledak dimana-mana. Ada kata, ada bencana. Gerak. Bunyi. Pertemuan antara badan dengan sukma. Aneh. Unik.

KBBI mengenal animo sebagai hasrat dan keinginan yang kuat untuk berbuat, atau semangat. TBI mengenalkan padanan animo. Ada hasrat, interes, kehendak, keinginan, ketertarikan, minat, perhatian, selera. Tinggal pilih, kata TBI. Anima barangkali punya animo untuk memilih. Anima bebas. Benarkah?

Cassel Dictionary of wordhistories karangan Adrian Room bicara. Anima, kata benda. Asli Latin. Kira-kira eksis di awal abad 20 Masehi. Atau abad awal 13 Hijriah. Artinya: a person’s true inner self, as opposed to the persona. Sebagai tambahan, persona: a person’s social façade, as distinct from anima. Dilacak lagi, makna asli ‘anima’ dalam bahasa Latin adalah Air, Breath, Mind. Udara, Nafas, Nalar. Yunani mengenal ‘anemos’ sebagai ‘anima’. Yang meniup, Yang menghembus, Angin. Sedikit tambah dari Jung. Carl Gustav Jung. Anima: aspek feminim dari personalitas manusia.

Kembali ke angka. Angka berakar pada animasi. Peralihan materi menjadi abstraksi. Peralihan materi menjadi animasi. Animasi karena Anima. Mind. Air. Breath. Materi jadi animasi, gara-garanya: panca indera. Anima butuh mata, panca indera. Mirip filsafat tubuh Maurice, Maurice Merleau-Ponty. Mata menangkap objek, anima buat animasi dari objek di dalam anima. Animasi tambah imajinasi. Anima kadang tak perlu lagi bertatapan dengan objek. Sekali anima bisa animasi, objek materi jadi simbol. Tanda. Sign. Signature. Barangkali paduan sign + nature. Agak rumit. Mata mengindra objek. Objek ada di dunia, spesifiknya di luar manusia. Saat anima buat animasi, tanpa sadar ada kerja dunia menerakan signature di dalam anima. Imajinasi tak pernah bersih. Selalu ada ada campur tangan Dunia. Imajinasi: Dunia dan Anima, Anima dan Dunia. Anima dan Dunia, Simbol.

Animasi. Imajinasi. Ilusi. Illusion. David Copperfield. Mata yang melihat bisa keliru. Mirip Ames Room, ruangan yang dirancang Adelbert Ames. Ada lagi. Ilusi Müller-Lyer dan Ponzo Illusion. Anima yang mencetak mentah-mentah dunia, menjelma ilusi di dalam animasi. Fransisco Budi Hardiman pernah bilang, “Panca indera bisa menipu.” ilusi: menipu, sekaligus meyakinkan. Kadangkala malah menakjubkan. Penipuan yang antik dan mahal. Tanpa pidana hukum positif.


* * *


Realitas, dunia. Ada ilusi. Ilusi bisa berubah. Ibarat sendok dalam gelas. Kelihatan bengkok. Filsafat cerita soal Being. Ada. Yang sungguh-sungguh ada dan yang mungkin ada. Antara yang aktual dan yang potensial. Yang aktual adalah nyata. Yang potensial, di sinilah ilusi menjadi nyata. Yang aktul menghapus ilusi. Mungkin kedengarannya aneh. Mana yang lebih nyata? Punya ‘3’ atau punya ‘tiga apel’? Gua tidak tahu mau diapain ‘3’. Kalau ‘tiga apel’, gua tahu gunanya. Dari ‘tiga apel’, yang penting bukan ‘tiga’, melainkan ‘apel’. Di sini, apel bisa menipu. Sebabnya, apel bisa habis dimakan atau membusuk. ‘3’ tidak bisa habis dimakan, tidak bisa membusuk. Bagaimana cara membusukkan angka? ‘3’ animasi, bukan lagi apel. Bukan lagi materi yang mengandung potensi aktualitas. 3 lebih kuat dari apel. 3 menjadi semacam payung bagi apel. 3 bisa menaungi apa saja. Entah apel, durian, mangga, sepeda motor, kumis macan, ekor kudanil. 3 tidak hanya hadir dari apel + apel + apel. 3 bisa hadir dari apel + sepeda motor + ekor kudanil. Angka lebih kuat dari materi. Simbol melampaui materi. Hasilnya: Angka adalah aksioma. Angka adalah aksioma. Simbol: aksioma awal bagi peradaban manusia.

Simbol sebagai aksioma luar biasa. Di sini matematikawan bicara tentang indah, keindahan, estetika. Aksioma melahirkan teorema. Matematika murni. Bukan apel yang praktis. Apel terapan. Apel makanan. Misal teorema kacangan seperti ini: bilangan ganjil + 3 = bilangan genap. Bilangan ganjil + Bilangan ganjil = Bilangan genap. X + X = Y; X=bilangan ganjil; Y=bilangan genap. Angka dan simbol menyatu. Makin ruwet. Anima dan Animasi dan Imajinasi. Di sini, muncul ilusi. Alias, Sejati. Pencapaian Jejak. Arkhe.


* * *


As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain, and as far as they are certain, they do not refer to reality. Lantas, bagaimana dengan politik? Albert omong lagi: Equations are more important to me, because politics is for present, but equation is something for eternity. Itu kata Albert saat dirinya ditawari menjadi Presiden Israel di tahun 1952. Kunci: reality=politic! Kalau begitu, adakah yang eternity? “Absolutely, yes! And it’s not politic!”


2008

MANUSIA:

OLIMPIADE, TUBUH, FISIKA, DAN METAFISIKA

Olimpiade sudah dimulai. 08-08-08. Pesta olahraga skala universal dan mundial. Olah raga. Raga sama dengan tubuh. Bisa pula, badan. F. Budi Hardiman punya distingsi unik untuk menjelaskan beda antara tubuh dengan badan. Bekalnya, sistem filsafat eksistensialisme yang digagas filsuf Perancis Maurice Merleau-Ponty. Tubuh adalah kepaduan antara aku dengan badan. Biasanya dikenal dengan istilah tubuh-subjek yang berdampak pada pola mengada manusia, yakni berada-di-dunia (être-au-monde). Kembali ke China. Di sana berlangsung Olimpiade. Dancing Beijing dan fisika.

Citius, Altius, Fortius. Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Tangguh. Tubuh. Eksplorasi tubuh mencapai taraf yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. 14 September 2002. Olimpiade Atalanta, Amerika Serikat. Tim Montgomery, sprinter 100 meter pecahkan rekor dunia. 9,78 detik. ‘Manusia paling cepat di dunia’. Lari dan materi. Kecepatan dan prinsip mekanika klasik Newtonian. Prinsip yang menaungi segala perilaku semesta materi.

Percepatan menurunkan formulasi kecepatan sebagai perbandingan terbalik dengan variabel waktu. Kecepatan, hasil pembagian antara jarak dengan waktu. Besaran pokok: Massa (M), Panjang (L), dan Waktu (T). Sebagai materi, dunia tubuh hidup dalam tatanan semesta prinsip mekanika. Olimpiade, pesta olah tubuh. Melampaui rekor yang pernah ada. Membukukan waktu yang Lebih Cepat. Kalau bisa, jarak 100 meter ditempuh dalam tempo 7 detik. Mungkinkah? Bagaimana kalau waktu tempuh menjadi 0,5 detik? Perhitungan teoritis atas formulasi kecepatan Newtonian memungkinkan kecepatan ∞ meter per-detik bisa dicapai, apabila waktu adalah 0 sekon. Tubuh menihilkan waktu. Olahan tubuh dilakukan untuk menihilkan waktu.

Sejak Einstein, waktu bukan lagi besaran pokok. Waktu, relatif. Apakah 0 sekon adalah waktu yang relatif? Magnum-opus Einstein menjelaskan batasan materi, massa. E = mc2. Pertama, antara energi dan massa ada reaksi yang dapat balik. Energi bisa menjadi massa, massa bisa menjadi energi. Hukum komutatif, perpindahan. Kedua, kecepatan cahaya. 3 x 108 meter per-sekon di ruang vakum. Artinya, secanggih apa pun olah tubuh, kecepatan materi mustahil mencapai ∞ meter per-detik. Olimpiade tak mungkin mengalahkan kecepatan cahaya. Cahaya adalah materi, dan juga gelombang! Optik. Barangkali, kelihaian menyiasati optik memampukan para ahli ilusi menghilang, lalu muncul tiba-tiba. Mata dan cahaya.

Tapi, ada satu kemungkinan lain. Transformasi. Energi menjadi materi atau materi menjadi energi. Tubuh menjelma jadi daya pukau. Seni tari. Yoga. Bisa pula, Moksa. Big Bang! Citius, Altius, Fortius. Semesta yang mengembang, ibarat balon. Kosmos. Makrokosmos, mikrokosmos. Manusia yang berkembang, ibarat balon. Zygot, janin, bayi, bocah, remaja, dewasa, tua. Paling puncak: Jejak! Yang tak-berhingga menjelma sebagai jejak. Kebudayaan Hellenisme mengenalnya sebagai Logos. Metafisika semesta. Antara abadi dengan di-sini. Plato bilang, Logos paduan antara onoma dengan rhema. Onoma, yang-tak-berwaktu. Rhema, yang-mewaktu. Niskala dan Kala. Niscaya dan Caya. Pasti dan Tak-Pasti. Paradoks!

* * *

Tahun 776 Sebelum Al-Masih, di bukit Olimpia, Yunani, diselenggarakan ajang lomba lari di lintasan sepanjang 192 meter. Zeus. Entah siapa yang menang ketika itu, saya tidak tahu pasti; sebab saya belum lahir dan belum banyak mengetahui informasi seputar peristiwa itu. Saya hanya mengetahui pada tahun 776 Sebelum Al-Masih, di Olimpia, Yunani, diselenggarakan ajang lomba lari.

* * *

Barangkali, Plato ada benarnya saat bilang badan (sema) adalah kuburan (soma) bagi jiwa. Tapi, bisa jadi Plato keliru. Sebab badan belum tentu sama dengan tubuh. Merleau-Ponty mengingatkan sejarah kekeliruan panjang di dalam dunia filsafat yang mengabaikan relasi ontologis antara jiwa dengan pengalaman. Antara Rasionalisme dengan Empirisme. Antara Idealisme dengan Materialisme. Antara Lebenswelt, dunia pra-ilmiah, dunia pra-reflektif, dunia pra-filosofis, dengan dunia-objektif, dunia ilmiah, dunia reflektif, dunia filosofis. Ada intuisi, ada diskusi. Kemanunggalan jiwa dengan pengalaman mengucap intuisi, keretakan jiwa dengan pengalaman meneriakkan diskusi. Dalam diskusi, kadang bermain ambisi, hasrat badaniah, kekuasaan, plus tipu-daya. Olimpiade butuh juri, wasit. Suara mereka mengandung otoritas mutlak tentang siapa yang bertanding dengan betul tanpa mempergunakan obat perangsang, doping, atau siapa yang berlaku kurang ajar. Medali menjadi mimpi, sama seperti kursi. Di sini, Olimpiade bicara tentang harga diri dalam diskusi. 24 Juli 1908. Pierre de Coubertin (1863-1937), pendiri Komite Olimpiade Internasional, ngomong: The most important thing in the Olympic Games is not winning but taking part … The essential thing in life is not conquering but fighting well. Human-nature, not an animal-life.

Human dan Nature. Antara manusia dengan alam, ada satu jembatan: human-nature. Budaya. Mungkin, Merleau-Ponty ingin memaknai berada-di-dunia (être-au-monde) sebagai human-nature. Humaniora. Metafisika manusia. Yang-Personal dan Yang-Massal. Habermas bicara tentang Lebenswelt dan System. Diskursus. Habitus politik yang baru. Habitus politik yang tak mengenal lupa. Habitus politik yang senantiasa menjejak. Arke. Arkeologi politik. Artefak bagi masa depan. Logos yang mendaging di antara Niskala dan Kala.

* * *

Api dari bukit Olimpus, Yunani, sudah menyala di Beijing, China. Stadion Nasional Sarang Burung. 08-08-08.

* * *

Tentang angka. Manusia tak pernah berjumpa ‘8’. Manusia berjumpa batu, singa, air, awan, kayu, tanaman, kursi, telinga, burung, kelapa, singkong. Tidak ada angka. Angka ada dalam ketiadaan dunia manusia. ‘8’ dan ‘0’, serta para kerabatnya hidup di dalam kertas. Angka, bukan materi. Angka, abstraksi. Angka, tak-eksis

Ketika tubuh bergerak, akal membaca gerakannya sebagai simbol. Gerak, kecepatan, perubahan. Simbolisasi. Makna yang tak baku, tak beku, dan tak kaku; seperti balon. Tubuh, melalui indra, mengampu akal tentang gerakan. Tentang simbolisasi. Akal, melalui abstrasi, mengajarkan tubuh tentang prestasi, probabilitas, kemungkinan yang tak-terbatas. Finite dan Infinite. Terbatas, dan Yang Tak-Terbatas. ‘8’ dan ‘0’ adalah abstraksi. Sebentuk tatanan dalam semesta Yang Tak-Terbatas. Dunia chaos. Dunia kosmos. Ada struktur, ada tak-berstruktur. Yang chaos, tak terduga. Tidak pasti. Postulasi Heisenberg tentang prinsip ketidakpastian (uncertainty principle). Kemustahilan selalu melekat pada segala upaya ‘ilmuwan’ untuk menentukan posisi dari materi. Sebab dunia kuantum mengenal materi sebagai partikel sekaligus gelombang. Barangkali dalam bahasa Husserl, Lebenswelt-materi. Misteri. Dan, harapan sembunyi di bilik misteri. Di Olimpiade, ada misteri. Ada juga harapan. Demikianlah Pierre de Coubertin memimpikan Olimpiade sebagai ajang pertarungan sekaligus perdamaian. Menghadirkan perang, bukan Perang. Yang-Perang, penaklukan. Kolonialisme. Dominasi. Yang-perang, wisest! Di indonesia, 1992, Universitas Nasional dalam suatu simposium menaburkan benih gagasan brilian: Survival of the Wisest! Gagasan penanding tesis Charles Darwin, survival of the fittest. Olimpiade bicara perang, bukan Perang. Dan Politik harus tahu diri untuk mengambil sejenak waktu beraskese. Menyendiri, atau mengikhlaskan arena menghasilkan System-nya sendiri. Manusia, kadangkala tak butuh Politik. Di dalam kosmos, Presiden harus dikembalikan pada simbolisasi. Presiden bisa bermakna, bisa pula tak bermakna. Dunia kosmos, dunia kronos sekaligus dunia ainos, kebetulan. Ada kemenangan yang kebetulan. Bunda Fortuna. Bukan hanya Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Tangguh. Tapi, ada Lebih Beruntung. Di dalam kronos, momen ainos hadir secara tak terduga. Misteri. Unexplained. Di sini, Santo Thomas Aquinas menemukan Prima-Causa.

* * *

Kemenangan adalah dambaan. Sebab, kemenangan memberikan nafas yang lebih panjang kepada jejak. Daya tahan artefak. Tahun 776 Sebelum Al-Masih, di bukit Olimpia, Yunani.

* * *

Tak ada jejak tanpa materi. Tak ada arketip tanpa kesadaran. Tak ada monarki tanpa manusia. Yang menakutkan adalah ketika human berhadapan dengan ketidakpastian. Heidegger menyebutnya dengan kata ‘cemas’. Waktu yang relatif menjelma jadi waktu otentik dan waktu inotentik. Dilema antara menetapkan cita-cita atau sekadar bicara. Hanya keyakinan yang bisa melampaui misteri. Sebab, hanya Rahim yang tahu bagaimana sejarah, mulai pertemuan sperma dan sel telur hingga menjadi janin. Ada kehidupan, dan kemungkinan mati. Sein-zum-Tode, sabda Heidegger. Ada-menuju-kematian. Mungkin, komposisi Ladagio Sostenuto dari Moonlight Opera gubahan Ludwig van Beethoven sedikit banyak bernyanyi tentang kecemasan. “Only art and science can raise man to the level of God.” Firman yang terucap dari raga Beethoven. Yang Indah, Yang Benar, dan Yang Baik. Ritual Olimpiade. Citius, Altius, Fortius. Yang Lebih Cepat, Yang Lebih Tinggi, Yang Lebih Tangguh. Yang Lebih Beruntung. Dancing Beijing. Beijing menari. Elly Lutan sempat ngomong: Tarian adalah Tubuh yang Berpikir. Human-Nature. Être-au-monde. In-der-Welt-Sein. Lebenswelt dan System. Eros dan Thanos. Wassalam. Shalom Aleichem. Peace be With You. Damai menyertai Engkau.

Agustus 2008

KOSMOS DEMOKRASI

Di dalam kosmos, semua partikel hendaknya menyadari keterikatan. Semisal televisi dengan listrik, selanjutnya dengan stasiun televisi, yang kesemuanya bermuara pada mata dan telinga pemirsa, pemilik televisi. Ada pajak yang tak terlihat di dalamnya. Hanya waktu saja yang mengetahui besaran biaya yang digelontorkan masing-masing pihak. Waktu, dalam pengertian kontemporer mengacu pada uang, uang, dan sesekali kalau bisa menyentuh amal. Dan sebenarnya tak perlu heran mengapa bisa begitu. Sebab, makna adalah dunia yang bertumbuh. Makna tidak hanya satu, tunggal dan mutlak. Makna tidak lagi kaku, beku, dan baku. Zaman sekarang, makna bisa saja hadir karena kebetulan, koinsiden. Di dalam ‘kebetulan’, sebab-akibat adalah haram. Maka, ada filsuf dari Perancis yang menyebut kronos sebagai hukum sebab-akibat di dalam ruang-waktu, sedangkan ainos sebagai hukum kebetulan di dalam ruang-waktu. Dan, saya menambahkan dengan sengaja serta semena-mena, ruang-waktu mengacu pada Dei.

Vox populi vox Dei. Suara rakyat, suara Tuhan. Sebab zaman punya kebetulan, maka makna selalu berkembang. Kekakuan, kebekuan, dan kebakuan adalah musuh bersama. Mungkin, inilah yang melahirkan gejolak sosial politik massal yang meninggalkan trauma psikologi personal dan komunal (yang sayangnya di kemudian hari hanya dipandang sebagai ‘ongkos sosial-politik’ yang memang sudah menjadi ketentuan sebab-akibat atau kronos) pada tahun 1998 di indonesia. Ternyata Tuhan belum mati. Seharusnya penganut atheis layak bersedih. ‘Kebetulan’ mengantar makna baru bagi Tuhan, Tuhan yang fleksibel, kooperatif, antisipatif, cerdas, licik, peka terhadap perkembangan zaman, lebih bersahabat, supel, interaktif, dan sesekali pun bisa jadi sosok yang tak peduli karena persoalan perasaan, mood.

Karena ‘kebetulan’, makna selalu mengalami modifikasi. Bila populi dahulu hanya dikenal sebagai rakyat, istilah abstrak yang hanya diketahui para politikus saja, di zaman sekarang populi bisa berarti pembeli. Istilah kontemporer begini tentunya lebih konkrit dan menyatu dalam kehidupan publik yang memang dari semenjak lahir sudah akrab dengan kata kerja ‘lapar’. Apakah rakyat mengenal lapar? Atau apakah pembeli mengenal lapar?

Sebagai pembeli, Dei pun berganti dari Tuhan menjadi Raja. Suara pembeli, suara Raja. Tak ada beda dengan adagium ‘pembeli adalah raja’. Dunia perdagangan mengenal transaksi, yang mengandung benih paradoksal rasa percaya sekaligus kelihaian tipudaya. Sebab, tidak ada produk nomor dua. Maka pembeli berfungsi ganda. Selain sebagai raja yang dipercaya, pembeli pun berfungsi sebagai raja yang diperdaya.

Bagi para pedagang, produk adalah keharusan. Kewajiban. Bahkan, kodrat! Menjual pun menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Antara memproduksi dan menawarkan merupakan matarantai tunggal yang harus terlaksana agar kehidupan perindustrian langgeng dan sentosa, terutama bagi para pengusaha dan selanjutnya bagi para pekerja. Tidak ada orang yang mau rugi, entah dia pengusaha atau kelas pekerja.

Ketika produk sudah disiapkan, hak membeli ada di tangan pembeli. Anehnya, mengapa produsen berjualan dengan gaya mesianistik. Makna yang sudah mengalami modifikasi dikembalikan kepada makna pra-modifikasi. Politik adalah kewajiban, keharusan, dan kodrat. Kali ini, para pedagang menjadi Tuhan, dan pembeli menjadi hamba. Ibarat televisi yang menyala selama 24 jam di depan penonton setia yang menyimak segala tayangan selama 24 jam pula. Tidak memilih bukan lagi berarti tidak membeli. Tidak memilih sekarang sudah berarti mengingkari kodrat! Bid’ah! Sesat!

Ketika Dei masih Tuhan, rakyat bisa saja memilih untuk mematikan televisi atau malah membanting televisi. Kalau sudah memutuskan demikian, Tuhan memang sudah siap merugi (tentunya kalau Tuhan punya pikiran untung-rugi). Tapi, Tuhan lebih senang memilih memadamkan televisi daripada membantingnya. Selanjutnya, Tuhan melakukan pekerjaan lain, misalnya membaca surat atau mendengarkan musik atau membaca buku. Apakah Tuhan rugi? Tentunya, rakyat yang merupakan pembeli punya kesibukan lain. Harapan, bukan hanya klaim dari pedagang. Para pembeli pun punya cerita unik tentang apa yang disebut cita-cita.

Telinga menjadi barang antik dalam kehidupan kontemporer. Tak jauh beda dengan mata. Keduanya, telinga dan mata, ornamen dari tubuh mahluk berdaging yang mengandung unsur-unsur supra-jasmani. Dengan melihat dan mendengar, makna bukan lagi tercipta dalam kategori ‘kebetulan’, melainkan sebab-akibat.

Selalu ada sejarah di dalam segala sesuatu. Tuhan menjadi pembeli karena ada sebab-akibat. Tuhan menjadi raja, juga karena ada sebab-akibat. Dei dibalik populi, tentunya pula punya latar sebab-akibat. Bisa jadi, makna sejarah harus kembali dipertanyakan. Apakah sejarah bermakna beku, kaku, dan baku, bahkan yang paling berbahaya: bisu. Mungkin demokrasi bisa berjalan lebih elegan dalam kebisuan. Mungkin, demokrasi bisa berjalan lebih mengagumkan di dalam keheningan. Di dalam hening, lebih banyak suara dan mata yang berbicara. Mungkinkah bisu sama dengan putih?


2008

SUTRA CERITA


Jikalau engkau membaca tulisanku, barangkali engkau merasakan persamaan antara kisah yang aku ceritakan dengan pengalamanmu di alam kenyataan. Alammu yang di sana, yang jauh dari alam aku yang di sini, mungkin alam aku di dalam tulisan yang sedang sedang engkau baca ini. Aku jujur mengatakan, apa yang aku tulis murni hasil pikiran dan perkiraan aku sendiri. Apa yang aku maksud dengan ‘perkiraan’, mungkin itulah yang dikenal dengan orang-orang di alammu sana dengan sebutan imajinasi. Imajinasi, di alammu sana, sangat erat berkaitan dengan kata: kebebasan. Imajinasi adalah kebebasan. Aku pernah mendengar ungkapan begitu, ungkapan yang berasal dari alammu yang di sana. Aku tidak tahu pasti, ‘imajinasi adalah kebebasan’ apakah mengandung kedalaman atau malah kedangkalan. Aku kira, jawabannya ada di alammu sana.

* * *

Aku membayangkan sebuah negara, kehidupan orang banyak serta tipu daya yang bersahaja. Ah, ada pula cita-cita, barangkali upaya mencapai gemah ripah loh jinawi. Kertaraharja. Kaya raya lagi sejahtera. Ibarat gula dalam genangan darah. Orang banyak yang cenderung manut atau menuntut, pasrah dan bersedia untuk tak bicara. Para raja dan jawara menyibak tirai harta yang tak pernah nyata hanya dengan segerombolan kata-kata. Gula.

Dalam dongengan, suatu ketika adalah kewajaran. Kadangkala, bisa pula menjadi kekurangajaran. Begitulah yang terjadi di negara yang ada dalam bayanganku. Seorang bangsawan muncul menghamburkan gula-gula yang tak pernah diberikan para raja dan jawara. Menggunakan kendaraan angkasa, sang bangsawan menabur gula-gula ke dalam liur orang banyak yang menanti dan berlari-lari di padang rumput penuh debu. Orang banyak adalah dewata yang pasrah menjadi binatang. Makanan adalah gula. Para raja dan jawara hanya sibuk bersuara, menggoda hati para dewata. Ibarat doa yang diselipkan dalam lipatan rupiah.

* * *

Cukup. Aku tidak bisa melanjutkan tulisanku ini. Kalau memang makna lebih berharga dari kata, tentu selebihnya adalah kerja para pembaca. Aku tidak bisa menyelesaikan tulisanku karena aku melihat di dalam matamu ada banyak pertanyaan, bahkan jawaban. Apa yang aku maksud dengan ‘melihat’, itulah yang aku sebut dengan ‘perkiraan’.


2008

KARENA BILANGAN FU, DIA, DAN AYU

SEBAGAI PEMBUKA AKU HANYA BISA BICARA: Semua balik kepadamu. Aku tak campuri urusan perkiraan yang hadir dan mengganggu di balik keningmu. Bisa saja kau kira aku menulis fakta, bisa pula kau duga apa yang kutulis fiksi, malah bisa saja kau tak pikirkan sama sekali tentang apa yang aku tulis. Maka, semesta probabilitas aku pulangkan kepadamu. Mungkin hanya Ayu Utami dan aku saja yang bakal tertawa melihat segala macam tingkah polah yang kau terbitkan usai baca tulisan aku yang dangkal, tak bermanfaat, sesat, bertele-tele pula, dan nyaris tak masuk akal. Sebagai diktator tulisan, aku beri batasan tegas, keras, kasar, dan tegang: Bagian aku menulis, giliran kau yang membaca atau yang membuang atau yang membakar atau yang melupakan.

2008, Ayu Utami menerbitkan buku terbaru. Judulnya: Bilangan Fu. Di kepalaku ada montase ingatan yang berasal dari reproduksi pembacaan atas Ayu Utami menjelang kemunculan Bilangan Fu ke dalam jagat sastra. Pertama, “Buku baru saya tentang seorang pemanjat tebing. Dan sekarang saya sedang berlatih panjat tebing.” Kedua, “Kalau novel terdahulu berkutat pada dekonstruksi, novel yang baru pada rekonstruksi.” Memang tak persis begitu Ayu berkata kepadaku. Tetapi, aku yakin substansi omongan Ayu Utami tak meleset dari apa yang aku tuliskan.

Kemarin, aku jumpa Ayu Utami. Sebelum sampai kemarin, aku sudah beli Bilangan Fu terbitan Kepustakaan Populer Gramedia seharga Rp51.000. Dan sebelum sampai kemarin, aku sudah selesai baca Bilangan Fu. Dan pada saat kemarin, aku ketemu Ayu Utami dan bicara tentang Bilangan Fu. Mungkin saja kau tidak percaya, Ayu Utami sangat terbuka bicara dengan aku. Dalam dialog, kata ‘terbuka’ menurutku ada dua siratan makna. Pertama, agresifitas atau serangan. Kedua, regresifitas atau pertahanan. Aku dan Ayu Utami saling serang dan saling tahan bergantian, kadang malah sempat bersamaan. Kalau Ayu Utami menyerang, akulah yang bertahan. Kalau aku menyerang, Ayu Utami yang bertahan. Kadang-kala, aku dan Ayu Utami saling serang pada saat bersamaan selama tujuh detik. Di detik kedelapan, aku dan Ayu Utami saling bertahan alias diam dan heran. “Menyerang memang bisa dimaknai membunuh, bisa pula menerangkan,” Ayu Utami berkata kepada dirinya. “Bertahan itu artinnya mendengar atau menunggu peluang yang tepat buat menghancurkan,” sekarang aku yang berkata pada diri. Membunuh dan menunggu peluang yang tepat untuk buat menghancurkan membutuhkan keberadaan aktual musuh atau lawan. Menerangkan dan mendengarkan perlu orang lain yang bersahabat, atau setidaknya mencoba menjalin persahabatan. “Berbagi.” Kata ‘berbagi’ serempak mereka ucapkan dalam batin.

۞ ۞ ۞

EMPAT JAM YANG MENEGANGKAN. Aku pikir, perbincangan sebuah buku setebal 531 halaman tidaklah mungkin diselesaikan dalam tempo empat jam. David Tobing, barangkali perlu waktu seminggu membaca Bilangan Fu. Ayu Utami malah lebih parah. Butuh empat tahun untuk menyelesaikan Bilangan Fu. Aku pikir, empat jam bagi mereka pasti tidak sempurna untuk memperbincangkan persoalan pembacaan dan penulisan dan penerbitan. Pasti David Tobing dan Ayu Utami memampatkan segala perkara di sekitar Bilangan Fu dalam tempo empat yang menegangkan.

Seingat aku, perbincangan antara David Tobing dan Ayu Utami dimulai dari kalimat yang ada pada lembaran kedua Bilangan Fu. David Tobing melihat ada dua hal yang menarik pada lembaran pembuka dan seringnya terlupa di mata pembaca. Pertama berkenaan dengan Gambar Sampul dan Isi yang dirancang Ayu Utami. Kedua, persoalan bahan baku sampul buku. “Yang paling menarik sama aku, bahan kertas Bilangan Fu, bukumu itu. Forest Stewardship Council.” Begitulah David Tobing memulai perbincangan.

Memang kalau kamu lihat lembaran kedua pada buku Bilangan Fu, kamu menemukan logo FSC (Forest Stewardship Council) yang dibentuk dari ikon correct dan ikon pohon. Di bawah logo ada tulisan: Sampul buku ini menggunakan kertas GardaPat 13 Klassica buatan Cartiere del Garda, perusahaan yang telah menerima sertifikat dari organisasi pelestari hutan internasional Forest Stewardship Council. Sertifikat ini merupakan pengakuan bahwa pembuatan kertas tersebut menggunakan bahan-bahan dari hutan yang dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Terus terang, aku suka melihat logo FSC. Sederhana dan memang mampu menampung makna.

David Tobing bilang kepada Ayu Utami bahwa dia tak jago menggambar. Ayu malah mengajak David Tobing untuk bertaruh seakan-akan menduga bahwa pernyataan David Tobing adalah gerbang menuju arena pertarungan. Lantas, santai dan tenang David Tobing menambahi pernyataan yang memang belum dia selesaikan. Kau jago ngebuat montase. David Tobing ngomong begitu. Ayu Utami senyum-senyum saja, mungkin dalam jantungnya dia sedang merajut pertanyaan: Mungkin kau benar, mungkin kau salah. Semua bergantung penjelasanmu. David Tobing menarik nafas. Bagi aku berada tidak terlampau jauh dari mereka, tarikan nafas David Tobing seakan-akan menghadirkan sebentuk dialog dengan rajutan pertanyaan dalam jantung Ayu Utami. Entah tepat atau meleset dugaanku, David Tobing lanjut bicara.

۞ ۞ ۞

“MASIH JELAS DI KEPALAKU GAMBAR YANG PERNAH KAU BUAT. Yah, tepatnya sketsa. Sketsa di buku Mas Goen. Goenawan Mohamad. Kumpulan puisi Goenawan Mohamad. Di buku itu, kalau aku tak keliru, kau gambar sketsa wajah Mas Goen dengan garis-garis yang ekspresif, berkali-kali, saling timpa, saling menindih. Ekspresi yang kau tuangkan sangat dahsyat, menurutku. Tapi, kalau sampul Bilangan Fu, aku duga semacam liontin yang kau tempatkan sebagai fokus gambar tak sesuai dengan keekspresifitasan tanganmu. Kalau sapuan-sapuan warna yang melatari semacam liontin itu aku kira memang sesuai dengan keekspresifitasan tanganmu. Itulah yang buat aku curiga. Gambar liontin, aku pikir itu semacam mata kalung atau mata anting yang menggantung, semacam jimat, bisa batu bisa pula kayu…, ah-ha ka-yu, menyimpan kesan impresi, kehati-hatian, ketelitian. Kalau kubaca lagi, yang mirip-mirip dengan ekspresifitas yang kau punya hadir dalam gambar-gambar Semar, Bilung, Buta Cakil, Kumbakarna, Karna, silsilah Sultan Agung Mataram, dan asu. Ah…, ini yang mau kubilang. Ekspresifitas yang kau tampilkan dalam buku Goenawan Mohamad, sketsa buatan kau, paling mirip, punya kedekatan… (David Tobing agak terdiam sejenak mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam kecerdasannya barangkali, sedangkan Ayu Utami menghembuskan nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala) teknik dengan gambar asu di Bilangan Fu. Teknik yang kumaksud mengacu pada deformasi. Jelasnya, mungkin garis tanganmu memang punya semangat deformasi yang kuat. Kalau kuperhatikan gambar asu di buku kau, asu yang kau gambar tidak proporsional bahkan bisa saja menyimpang dari asu yang…, katakanlah realis. Asu di Bilangan Fu aneh. Sudah tak proporsional, tak jelas pula hendak menggambar apa. Apakah anjing atau serigala. Terus, kalau kuperhatikan matanya, malah mirip-mirip mata manusia. Rada-rada beda dengan deformasi gambar anjing yang pernah aku lihat waktu pameran Green Dog-nya Zhou Chunya di Galeri Nasional bulan Januari lalu. Zhou Chunya memang buat lukisan dan patung anjing. Tapi lukisan dan patung anjingnya malah menghadirkan suasana yang bukan anjing. Kalau aku tak keliru, Jim Supangkat menyimpulkan keanehan karya-karya Zhou Chunya dalam kata unreal. Unreal menjadi real dikarenakan ada jembatan representasi. Anjing dalam lukisan dan patung Zhou Chunya sebetulnya berasal anjing yang unreal, anjing konseptual. Tetapi karena ada jembatan representasi, anjing yang unreal menjadi anjing real, dalam pengertian bisa disensasi indera. Meski begitu, anjing real itu menyimpan, bisa dikatakan semacam aroma atau hawa unreal. Kalau mengacu pendekatan tadi, asu yang kau gambar di Bilangan Fu berasal dari asu unreal. Coba kalau tak ada tulisan ‘ASU’ di bawah gambar asu di bukumu, sebagai pembaca aku bisa mengira-ngira itu gambar serigala yang dicampur dengan gambar anjing (Ayu Utami agak memperhatikan, meski tak terlampau serius, dan entah mengapa tubuhnya bergerak pelan-pelan ke kiri dan ke kanan seperti bandul).”

Usai berkata-kata, David Tobing diam sambil menatap Ayu Utami berharap ada tanggapan. Setahu aku, dalam kerangka ilmu unsur-bahasa Roman Jakobson, ada penerima dan ada pengirim. Ketika David Tobing berbicara, David Tobing pengirim; Ayu Utami yang mendengar sebagai penerima. Bila Ayu Utami menanggapi, maka Ayu Utami tidak lagi menempati posisi sebagai penerima, melainkan pengirim. Dan David Tobing pun berganti posisi menjadi penerima.

“Kalau memang Anda punya alasan, saya tidak keberatan. Silahkan saja. Aku senang ada orang yang bisa melihat dari perspektif lain, tak larut-larut dalam persoalan inilah yang mulia, inilah yang patut menjadi teladan, inilah yang, ah… tak perlu diteruskan. Ide Anda menarik, tapi tak menggelitik. Bagaimana dengan yang kedua? Forest Stewardship Council?” Kalimat terakhir diucapkan Ayu Utami dengan bahasa tubuh yang unik. Mata kanan Ayu Utami menyipit menatap David Tobing.

۞ ۞ ۞

AKU TAK MAU BICARA BANYAK-BANYAK SAMAMU. Persoalan Forest Stewardship Council kenapa bisa masuk, lebih baik kau jawab dengan memperhatikan halaman 534 Bilangan Fu. Aku tak menganjurkan kau untuk beli Bilangan Fu. Aku hanya menganjurkan kau untuk memperhatikan, sekali lagi memperhatikan bukan menganjurkan atau membeli atau menganjurkan membeli, halaman 534 Bilangan Fu. Caranya, ada banyak dan semua balik kepadamu.

۞ ۞ ۞

PETIKAN HALAMAN 534 BILANGAN FU: … Dengan demikian, mereka—yang padanya saya berhutang budi—terbebaskan dari segala tanggung jawab atas hasil olah pikir dan rasa saya.

Kalimat tadi adalah kalimat terakhir paragraf pertama topik Terima Kasih dalam buku Bilangan Fu. Terlampau rumit bagi aku untuk memahami apa yang dipikirkan David Tobing. Apakah memang ada hubungan antara halaman 534 dengan Forest Stewardship Council, kertas GardaPat 13 Klassica buatan Cartiere del Garda yang diimpor PT Paperina Dwijaya?

۞ ۞ ۞

KALAU KAU MENCARI DI BAGIAN MANA AKU DAN AYU UTAMI SALING SERANG, tak bakal kau temukan. Masih ingat: Bagian aku menulis, giliran kau yang membaca atau yang membuang atau yang membakar atau yang melupakan. Kalau kau punya niat ingin menemukan, aku hanya bisa berikan satu kunci pemecah buntu: Metafor(m)a!

Juli 2008