seperti alif beta dan eureka. mawar melati dan segala yang mabuk cuaca. seperti kulkas, semua indah dan selamat membahasa.
The Police dan Cerita tentang Kamu (baca: Citizen)
Fragmen Saya dan Dua Teman Saya
Fragmen Filsafat
FRAGMEN NEGARA
Aristoteles menyimpulkan tiga syarat negara: 1) ada wilayah, 2) ada penduduk dan 3) ada konstitusi. [Kalau Anda tak percaya, silahkan baca saja bukunya yang terkutuk dan menyebalkan yang berjudul: Politics.] Tapi, Carl Schmitt bilang dengan gampang: Kalau semua orang baik, maka buat apa negara. [Bagi saya, pernyataan Carl Schmitt itu: lucu sekaligus kejam! Percayalah, hanya Jocker dalam The Dark Knight (2008) sajalah yang mampu menampilkan paduan antara badut dan pembunuh.] Teman saya, seorang yang pemalu dan luar biasa cerdas, menyukai kisah-kisah dari dunia klasik, semisal Illiad, Mahabharata (menurutnya, “…hanya buku-buku yang begitulah yang mampu merendahkan kedahsyatan pemikiran filsafat.”) bilang, “Syarat negara itu tiga: pertama, ada orang baik; kedua, ada orang jahat; terakhir: ada konstitusi yang menentukan siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku.” [Setelah dia selesai bicara, saya bilang: Kalau begitu, Negara itu hidup karena definisi? Teman saya itu tidak menjawab, dan hanya terus membaca Republic karangan Platon, khususnya buku III, yang bicara tentang musik.]
Fragmen Filsafat
Kelas filsafat. Seorang murid bertanya: “Bagaimana jika Platon dan Aristoteles keliru?” Guru sempat diam—barangkali ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang demikian setelah lebih dari 40 tahun mengajar filsafat (mungkin juga sekaligus ‘ber’-filsafat)—kemudian, setelah menarik napas yang berat, ia berkata, “Maka, kita dapat mengkritik mereka—sekalipun kita tak bisa keluar dari jalan yang sudah pernah mereka lalui.”
Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga
Ini adalah hal yang paling serius yang pernah saya buat (Anda, Pembaca, dapat juga membacanya demikian: Tulisan yang berjudul ‘Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga’ adalah tulisan singkat serius yang pernah saya buat, entah dengan susah payah atau mengada-ada), sehingga untuk memahaminya, Anda harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang cukup (meski apa yang saya maksud dengan ‘cu-kup’ masih sangat problematis) akan filsafat modern dan pasca-modern (ah, tentunya saya dan Anda tidak perlu berdebat tentang apa yang dimaksud dengan ‘pas-ca-mo-de-ren’):
Sesungguhnya, pertama-tama, filsafat bukanlah upaya mencari (dan kemudian, jika Tuhan mengizinkan—sebab, “Manusia berencana, Tuhan menentukan”—maka ‘upaya mencari’ akan berujung pada ‘menemukan’; dan, sekali lagi saya ingatkan peristiwa ‘menemukan’ hanya terjadi karena ‘Tuhan menentukan’) kebenaran, melainkan upaya menyelidiki atau memeriksa Kebenaran. (Saya harap Anda sudah paham, sebab masih ada yang mau saya sampaikan,) dan upaya menyelidiki Kebenaran hanya dapat berlangsung dalam ”Tuhan berencana, Manusia menentukan” (untuk yang terakhir ini, saya benar-benar tidak mengerti apa yang hendak saya sampaikan, dan saya pun tidak berharap ada di antara Anda, Pembaca, dapat memahami apa yang bagi saya sendiri tidak dapat saya pahami.).
[Setelah selesai menuliskan tulisan singkat serius ini, saya kembali membaca dan melakukan perubahan dan perbaikan di sana-sini—namun (saya bersyukur sekaligus menyayangkan), saya tidak dapat memberikan kepada Sidang Pembaca (saya harap Anda paham mengapa para penulis, entah karena kesantunan atau kebiasaan—sejujurnya, saya selalu curiga dengan ‘kesantunan’ dan ‘kebiasaan’—selalu menggunakan frasa ‘Sidang Pembaca’ dalam pengantar tulisan. Ah, tepat sekali jawaban Anda, ‘Sidang Pembaca’ adalah frasa yang menunjukkan otoritas penilaian atas kualitas suatu tulisan adalah ‘Pembaca’, tentunya setelah melalui proses-‘Sidang’.) tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu. Tapi, percayalah, Sidang Pembaca yang terhormat, Anda dapat mengetahui tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu—hanya saja…, ah, lebih baik tak saya beritahukan apa alasannya. Semoga Anda, Sidang Pembaca yang terhormat, dapat memahaminya. Terima kasih.]
Satu Paragraf tentang Kepergian Franky
Barangkali, kedekatanku secara emosional dengan Franky diperantarai oleh Gus Dur. Pernah suatu ketika, Franky mengisi acara peringatan wafatnya Gus Dur. Dari panggung yang berada di tengah Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Franky mengajak semua orang yang hadir dalam peringatan bernyanyi, “Gus Dur-ku sayang, pahlawanku.” Bagiku, lirik yang tampak biasa tampil sebagai sesuatu yang tak biasa. Franky berhasil menempatkan metafora ‘pahlawan’ yang ia sematkan ke sosok Gus Dur menjadi ‘sahabat’. Ia mampu menempatkan Gus Dur sebagai sosok yang jauh—bukankah ‘pahlawan’ identik dengan hal ideal?—sekaligus dekat, bukankah sahabat adalah orang yang menghabiskan hidupnya dengan selalu berada di dekat kita?
Kabar kematian Franky mengejutkanku. Di tengah ungu duka, siapa pun paham—ucapan “Selamat jalan...” adalah puisi panjang dan begitu mendalam.
Ecce Nietzsche
Fatum. Takdir. Chairil—seorang temanku yang berkepala botak dan menyimpan jendela sekolah yang rusak, lampu disko, kitab suci, tanda seru, gonggong anjing, hingga kabar duka dalam tengkorak plontos itu suka memanggil dia dengan sebutan: Anwar—menulis: nasib adalah kesunyian masing-masing.
Fatum. Takdir. Nietzsche—seorang temanku, selalu saja beku mendiam setiap kali ia mendengar nama itu. “Amor fati.” Puncak filsafat, demikian dia bicara, adalah ketidakpastian—paling tidak, adanya secercah kesadaran akan ketidakpastian. Ketika aku bertanya: apakah itu keraguan. Dia hanya menggelengkan kepala. Sampai sekarang aku tidak tahu apa makna gelengan kepala itu. Apakah hendak berkata, “Bukan itu,” atau “Engkau tidak akan mengerti,” atau “Usaha mencari penjelasan adalah sia-sia,” atau…,—tetap saja aku tak bisa menjawab.
Fatum. Takdir. Seorang temanku yang lain—meski ia tak pernah menyebutkan nama dirinya, persahabatan kami tetap berlangsung hangat tanpa beban kecurigaan—bilang, “Agar kita sampai pada situasi buruk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.” Aku mendengar kalimat itu sebagai kesempurnaan. Hingga, suatu ketika ia menambahkan kalimat lain atas kalimat yang pernah ia ucapkan kepadaku di masa lalu: “Keputusan, barangkali, juga… pikiran, kita, manusia, itu persiapan, ya persiapan untuk menghadapi sesuatu, hmmm…, atau tepatnya situasi, situasi yang buruk.” Ia menarik nafas panjang dengan susah payah, “Tragedi,” sambil menutup mata seakan hendak tidur. Setelah itu, percakapan antara aku dan dia berlangsung dalam hening kenangan dan airmata.
Fatum. Takdir. “Nasib adalah kesunyian masing-masing—barangkali, sebuah kesia-siaan yang berakar pada tragedi.” Aku hanya menatap sepi jalanan kota, lampu jalan yang menyala malas, dan seekor kucing dengan mata menantang!
FRAGMEN KOPI
dia pikir: kita perlu kopi karena teh punya keterbatasan
FRAGMEN SASTRA
Sajak adalah cara berhadapan dengan diri sendiri.
FRAGMEN FILSAFAT
Orang Lain
Enrique Dussel membuka bukunya yang berjudul Philosophy of Liberation lewat kutipan personal yang menggetarkan. Demikian ia tulis: there is no peace; they even tear up the flowers. Dussel menebar ironi kehidupan ke dalam pilihan dilematis: melepas mekar bunga demi hening damai atau melupakan hening damai demi mekar bebungaan. Mendadak saya ingat ucap seorang sahabat: “Agar kita sampai pada pilihan terburuk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.”
Saya pikir—barangkali saya keliru—Dussel melihat kekerasan adalah situasi yang niscaya ada dan terjadi di dalam kehidupan. Manusia—seberapa pun kuat dan tangguh—tetap saja gagal mencegah kekerasan tampil dalam kehidupan. Kekerasan ibarat musim kemarau yang niscaya datang, segera atau tunda.
Barangkali—manusia memang mahluk paling sial di dunia. Ia hidup dalam keniscayaan sekaligus yakin akan ilusi realitas. Ia maklum bahwa kekerasan tidak dapat dielakkan sekaligus mendamba bahwa kedamaian bukan sekadar mimpi. Diam-diam—keyakinan akan kekerasan yang mutlak dan niscaya disusupi oleh kehendak untuk mencipta damai yang belum tentu pasti. Kalau memang demikian, saya mahfum bahwa apa yang disebut dengan “perang suci” adalah persetubuhan intim antara keniscayaan kekerasan dan mimpi akan kedamaian. “Perang suci” tampil dalam banyak peristiwa, mulai dari pertempuran Katolik dan Islam pada abad 11 hingga 13 Masehi dalam penentuan otoritas atas kota suci Yerusalem, konflik Bosnia di era 90-an yang menyeret Radovan Karadzic ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas sangkaan genosida hingga kejahatan kemanusiaan, aksi-aksi terorisme di New York pada 2001, di Bali pada 2002, juga Mumbai pada 2008, dan tentu masih ada dan banyak yang belum disebut bahkan dicatat.
“Perang suci” adalah ironi. Ibarat pohon, perakaran “perang suci” adalah ambisi menghadirkan buah perdamaian—namun sialnya “perang suci” tumbuh pada humus tanah kekerasan. Mulai dari ideologi politik hingga doktrin agama dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus dasar legitimasi kudus sebuah perang yang absurd. Pada “perang suci” tidak ada korban, yang ada hanya kurban. Kematian adalah pengurbanan—jalan tiba pada cita-cita. “Perang suci” adalah rute wajib penubuhan mimpi, baik bagi mereka yang tersisa atau yang sudah berkalang tanah. Dan kekalahan adalah dosa!—pengkhianatan atas cita-cita.
Pada “perang suci” pembunuhan dikenali sebagai suatu kewajaran. Di padang pertempuran, seorang pribadi mengenal pribadi lainnya melalui kacamata cita-cita: kawan atau lawan—siapa pun yang berada pada kutub lawan harus ditumpas mampus. Hanya ada satu diktum di medan perang: Setiap mereka yang lain dari saya harus tiada! Pada alam cita-cita, menggema maksim: Orang lain tak punya tempat di sini! Maka, mimpi akan damai sebetulnya mereguk ilham dari bisikan: “Tolaklah orang lain.”
Barangkali Dussel keliru—dan kita dapat berkata: the Other is peace, their face are flowers. Tentunya pernyataan begitu terucap bila orang lain mendapat tempat—baik pada tatapan kasatmata dan di citacita yang kasatatma. Dan lebih dari 2.000 tahun lalu, Sokrates bicara tentang “kenalilah dirimu sendiri”. Apa yang diucapkan Sokrates adalah petikan dari kalimat yang tertera di kuil pemujaan Apollo, di Delphi, yang berbunyi: Kenalilah dirimu sendiri, engkau berada di antara binatang dan dewa. Tanpa berniat menyatakan ada yang kurang atau keliru dalam hikmat demikian, ada baiknya kita juga membacanya sebagai: Kenalilah orang lain, ia berada di antara binatang dan dewa.
FRAGMEN METAFORA
Sketsa Tentang Sebuah Negeri Di Mana Mimpi Adalah Sebuah Kemustahilan
Gagasan adalah masa depan. Ia—kita maknai pun kenali sebagai mimpi. Ia—sebab gagasan tidak semata-mata ada sebagai benda mati, sebagai batu, atau sebagai peluru. Ia—gagasan adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang tumbuh. Ia—malah, bisa saja, mahluk yang berkehendak. Dan bukan pula tak mungkin kehendak dari sebuah gagasan bahkan melebihi kehendak dari orang yang melahirkan gagasan. Kadang, tanpa sadar kita mengucap: Revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Gagasan adalah masa depan. Ia adalah kehidupan sekaligus kematian.
LIMA PARAGRAF TENTANG GARUDA
-menjelang Final putaran kedua Indonesia lawan Malaysia-
Sepakbola bicara tentang rencana dan fortuna. Rencana adalah tahapan persiapan, mulai dari menggarap yang mentah hingga menjadi matang. Fortuna adalah segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Bisa saja fortuna menjelma sebagai hujan deras atau angin kencang yang menyulitkan gerak pemain atau mengubah arah lesatan bola.
Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, sepakbola masih saja bicara tentang rencana dan fortuna. Di sini, sepakbola tidak semata tampil sebagai permainan yang berlangsung dari satu peluit panjang di awal ke satu peluit panjang di akhir. Di sini, sepakbola adalah kehidupan—pada titik ekstrem, sepakbola adalah kelahiran yang berujung pada kematian demi mencapai keabadian. Di sini, sepakbola adalah sejarah.
Sebagai sejarah, sepakbola melampaui tapal batas rencana dan fortuna. Sebagai sejarah, sepakbola adalah takdir. Wujud yang paling sederhana dari takdir adalah kemenangan atau kekalahan. Menang dekat dengan gembira; kalah akrab sama derita. Di sini, sepakbola bicara tentang apa yang harus diterima, tentang apa yang tidak bisa ditolak, tentang bagaimana harus tetap berjalan tegap dan tegak!
Sepakbola tidak sekadar bicara tentang bagaimana cara menyepak yang tepat dan akurat, melainkan juga secara diam-diam bicara tentang bagaimana setiap pemain juga pendukung harus tetap mampu berjalan tegap dan tegak ketika berhadapan dengan takdir yang berwajah derita. Pada puncak ini, sepakbola bicara tentang masa depan. Sepakbola bicara tentang harapan. Dan harapan adalah nyala dalam setiap kelam.
Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, harapan tetap menyala. Di sini, sepakbola sudah menyerupai manusia. Ia tidak lagi tampil sebatas permainan atau hiburan belaka, melainkan sudah menjadi pelajaran, bahkan penghayatan. Sepakbola adalah perjalanan dari luka ke luka. Di sini, sepakbola adalah perjuangan. Selamat berjuang Garuda!!!
[Note: Penulis adalah orang yang sebal sama PSSI dan segala macam perabotannya—apalagi Nurdin Halid.]
GARUDA DAN CARA MEMBACA INDONESIA
: mengenang Emmanuel Levinas
(12 Januari 1906 – 25 Desember 1995)
Manusia membutuhkan sesuatu yang suci dalam kehidupannya. Manusia, kadang kala, mengenali kesucian sebagai cita-cita. Sesuatu yang diyakini ada, namun—sialnya—sulit untuk direngkuh. Kesucian itu—menggunakan istilah Badiou—ditopang oleh fidelity.
Namun, kesucian tidak sebatas masalah berpikir, berimajinasi akan adanya suatu entitas yang suci, suatu entitas yang memiliki daya melebihi manusia, suatu entitas yang supra-manusia. Kesucian juga mewujud pada dunia keseharian—entah dalam bentuk simbol dua dimensi atau rupa tiga dimensi. Kesucian harus membumi, harus berakar pada estetika—dalam pengertian paling sederhana dari kata ‘estetika’, yakni mampu memikat indera manusia.
Sederhananya, kesucian tidak hanya pada aras metafisika, tidak hanya pada aras epistemologik(a), tidak hanya pada aras etika, melainkan juga menyentuh pada aras estetika. Dan memang, yang paling ribet adalah mengurusi kesucian yang bermanifestasi pada aras estetika. Alasannya, sederhana saja. Kesucian pada aras estetika bergantung pada inderawi manusia—dan tentu saja pendasaran epistemologi kesucian pada aras etika berimplikasi pada pengebirian, reduksi atas gagasan kesucian itu sendiri.
Adalah lebih mudah mengidentifikasi sikap hormat atas segala manifestasi estetis dari kesucian melalui apa yang terlihat kasat mata. Misal saja, upacara bendera. Bendera merah putih dilipat dan dibawa ke tiang untuk dikibarkan dengan prosesi ritual tertentu, untuk kemudian diikuti dengan sikap hormat para peserta mengikuti naiknya bendera ke puncak tiang. Kita barangkali tidak terlalu bodoh—atau naif—untuk menyimpulkan bahwa semua peserta, dengan segala sikap yang mereka unjukkan secara kasat mata, membuktikan bahwa mereka benar-benar menghormati gagasan kesucian yang ada pada bendera dan serangkaian prosesi. Setidaknya, saya pribadi mengakui bahwa sikap hormat yang ditunjukkan peserta barangkali dituntun oleh strategi tertentu untuk menghindari sanksi. Ketakutan berhadapan dengan hukuman bisa jadi salah satu akar munculnya sikap hormat dari para peserta. Dalam situasi yang demikian, kesucian kembali ke muasalnya, yakni tidak semata berada pada aras estetika, melainkan berada pada aras metafisika.
Dalam aksentuasi yang lebih sublim, Rudolf Otto menempatkan kesucian sebagai pengalaman akan Yang Ilahi. Sebagai pengalaman akan Yang Ilahi, kesucian adalah misteri, sebuah misteri yang menggetarkan sekaligus mempesona, tremendum et fascinatum. Di sisi lain, Emmanuel Levinas—filsuf Perancis keturunan Yahudi kontemporer; ia meninggal dunia pada 25 Desember 1995—bicara tentang kesucian sebagai Yang Lain, The Other.
Kesucian sebagai Yang Lain adalah suatu infinitas, suatu transendensi yang melampaui kapasitas manusia untuk memikiran, mengimajinasikan, apalagi merengkuh. Kesucian pada diri manusia berakar pada hasrat (desire) akan metafisika, hasrat berjumpa dengan Infinitas yang memanifestasikan diri dalam rupa Wajah. Melalui Levinas, kesucian tampil lewat sisi negatif—lewat sisi yang tidak dapat direduksikan pada aspek estetika yang naif. Pada Levinas, gagasan kesucian bersanding dengan nalar kejeniusan yang sadar diri, yang sadar batas-batas permanen dalam diri manusia. Dalam situasi demikian, Levinas akan memaknai undang-undang sebagai pendasaran untuk menghadirkan kesucian pada aras estetis melalui simbol adalah manifestasi dari kenaifan, juga ambisi kekuasaan manusia yang selalu berkehendak mencengkram realitas.
Tegas, saya memang hendak mengkritik silang sengkarut persoalan pro-kontra penggunaan lambang negara sekaligus ke-Indonesia-an itu sendiri. Meski begitu, bukan berarti sikap saya adalah yang paripurna. Saya sadar bahwa pertama-tama saya berhadap-hadapan dengan orang yang berposisi pro-kontra, untuk kemudian—yang berikut paling penting—berhadapan dengan gagasan kesucian yang ada di balik lambang negara dan ke-Indonesia-an. Maka, yang menjadi pertanyaannya: apakah kita—utamanya sebagai warga negara—telah memiliki cara membaca Garuda dan Indonesia yang tepat (?) sebelum akhirnya melangkah pada pertanyaan yang berada di titik ekstrem: apakah makna yang kita dapatkan dari pembacaan Garuda dan Indonesia sudah akurat?
Desember 2010
FRAGMEN FILSAFAT
FRAGMEN TOLOL
FRAGMEN TANGGAL KELAHIRAN
kebahagiaan yang datang diam-diam dan menakutkan adalah tanggal kelahiran. setiap kali ia datang, ia dirayakan sekaligus pula dipertanyakan.
Mula Harahap, Selamat Jalan
Perkenalan aku terhadap Mula Harahap bermula dari tampilan fisiknya yang sangat mengganggu pikiran saya. Ia bisa hadir sebagai seorang seniman, bisa pula hadir sebagai seorang intelektual; meski aku tidak tahu siapa ia sebenarnya. Dalam pikiranku muncul pertanyaan, “Siapa orang ini?” Sesungguhnya pula, aku tak menaruh niat besar untuk mengenali sosok ganjil Mula Harahap.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mula Harahap terhadap aku. Tetapi, yang jelas perkenalan kami berawal dari pertanyaan sederhananya kepadaku di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang, Jakarta Pusat. Saat itu, ketika menunggu kebaktian dimulai, aku asyik membaca Anak Bajang Menggiring Angin. Kurasa sekitar 10 menit aku membaca buku karangan Sindhunata, aku menutup buku dan memasukkan ke dalam tas. Mendadak, ada tangan yang memegang bahuku dari belakang. “Baca buku apa?” tanyanya ketika aku menoleh untuk mengetahui siapa yang menyentuh bahuku serta bertanya apa maksudnya menyentuh bahuku. “Oh, ini...,” ujarku sambil mengeluarkan buku yang kubaca tadi. “Anak Bajang Menggiring Angin,” tambahku pula. Dia menggangguk. Tak lama kemudian, kebaktian pun berlangsung.
Usai kebaktian, kami berjabat tangan dan berjalan beriringan keluar dari gereja. Pada saat itulah kami berdialog lebih banyak. Aku mengenalkan diri dan ia pun mengenalkan diri. Sebuah perkenalan yang egalitarian, setidaknya menurutku. Dalam perbincangan kami menuju halaman gereja, Mula bercerita bahwa ia pernah aktif di Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) PGI, kalau aku tak salah ingat akan informasi ini. “Dulu, Teguh Karya pun aktif di bagian teater di situ. Sudah lama sekali,” ucap Mula Harahap.
Perkenalan kami memang singkat, saling memperkenalkan diri, memberitahukan sekilas tentang masa lalu dan kegiatan yang tengah ditekuni sekarang. Selebihnya, aku lebih suka berdiam, memandang dari kejauhan sosok ganjil Mula Harahap. Satu hal yang cukup mengesankan, seusai kebaktian, Mula Harahap sering berdiri di dekat pos keamanan GKI Kwitang, sambil menghisap rokok Gudang Garam Filter (kalau aku tak silap). Ia berdiri, senyum dan selalu menyapa orang yang ia kenal, lalu bersalaman.
Lama berselang, aku mencari tahu siapa sebenarnya sosok ganjil Mula Harahap. Dan, aku pun tahu bahwa ia tergolong tokoh dalam dunia buku di Indonesia. 'Tokoh'—setidaknya, bagiku—adalah pemberi tanda bagi orang-orang tertentu yang memiliki keteguhan komitmen akan apa yang akan ia lakukan untuk mengisi kehidupannya yang sementara di Bumi.
Kamis (15/09), aku sedang membuka laman facebook dan menemukan status Ompu Datu Rasta Sipelebegu a.k.a Saut Situmorang yang menyatakan duka atas kepergian Mula Harahap. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengenal siapa sesungguhnya Mula Harahap. Tetapi, entah kenapa aku bisa merasa dekat, akrab dan sangat kehilangan saat mengetahui kabar kepergian dia. Di saat aku menulis tulisan ini, aku ingat akan matanya. Mata yang memancarkan keramahan sekaligus ketegasan!—dan selebihnya, adalah senyuman. Mula Harahap, selamat jalan.
FRAGMEN SASTRA
§1. Sastra. Sastra adalah cara untuk mengenali kehidupan melalui terjun langsung dalam kehidupan itu sendiri. Di dalam sastra, sebuah latihan dapat berujung pada kematian. Dan hanya mereka yang mampu bangkit kembali dari kematian itu sajalah yang layak disebut sastrawan. Pada puncak ini, siapa saja adalah sastrawan!
FRAGMEN MAKNA
Sakralitas makna adalah humus bagi mekarnya dogmatisme. Ketika dogmatisme merebak, kontras dikotomi a la hitam-putih menyala, benar-salah merajalela, otoritarianisme mulai mencengkram kehidupan, di mana dampak paling ekstrim adalah matinya teks, yang bisa dibaca sebagai matinya manusia disebabkan kemungkinan akan adanya potensialitas makna lain di luar makna yang sudah disakralkan diabaikan, dibuang, dimusnahkan. Ketika pengabaian, pembuangan, pemusnahan metafisis berlangsung, ketika itu pulalah kekerasan memanifestasikan dirinya lewat penyeragaman akal dan cara pandang.
Anarkisitas makna adalah humus bagi mekarnya relativisme. Ketika relativisme merebak, kontras dikotomi a la hitam-putih hilang arwah berganti warni warna pelangi, semua hal ada benar, demokrasi gelap mata lenyap nyawa, di mana dampak paling ekstrim adalah hilangnya teks, yang bisa dibaca sebagai ketiadaan manusia disebabkan realitas hilang fondasi metafisisnya. Atau dengan kata lain, makna menjadi sesuatu yang tak bermakna, nihil, tiada, sia-sia. Ketika benih-benih kenihilan, ketiadaan, kesia-siaan lahir pada aras metafisis, ketika itu pulalah manusia harus bersedia menerima bahwa hakikat dirinya identik dengan batu dan burung hantu.
Selbstbewusstsein Sastra

§1. Apologia. Apa yang hendak saya sampaikan berangkat dari segala keterbatasan saya. Pemahaman, sebagaimana yang tercermin dalam skema struktur pemikiran termaktub—dengan segala kelemahan dan kekurangan—mendapat inspirasi dari pemikiran Hegellian. Sialnya, saya tidak terlalu memahami secara detail pemikiran tersebut. Sepenuhnya, inspirasi pemikiran Hegel termaksud berasal dari pengajaran Frederick Coplestone tentang Hegel dalam buku History of Philosophy-Vol.VII. Saya sadar ada kelemahan yang pasti dapat ditemukan bila teks saya diselidiki lebih mendalam.
§2. Problematisasi.
SDD menilai posisi sastrawan dan fungsi sastra dari waktu ke waktu mengalami perubahan; begitu juga RPD menilai posisi sastra dan fungsi sastra juga mengalami perubahan. Keduanya sampai pada konklusi nyaris mirip (menurut saya) di mana SDD berpendapat ‘aksara tetap bertahan’ (SDD, 1999, hal.142); RPD berpendapat ‘proses manusia menemukan dirinya sendiri, menyempurnakan pemahamannya atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya’ (RPD, 2001 hal. xiii). Persoalannya: mengapa bisa demikian?
Bagi saya, eksplisitasi atas pertanyaan tadi tidak jelas. Saya sempat pikir, barangkali ketidakjelian saya membaca akar ketidakjelasan eksplisitasi yang saya alami. Harus saya akui bahwa dalam setiap tulisan yang saya baca pada SDD dan RPD ada kelebat postulat ‘dengan segala kerumitannya, di dalam sastra senantiasa ada perubahan sekaligus yang tetap.’ Lantas, pertanyaannya: apa yang berubah? dan apa yang tetap? Di sinilah saya (masih) mencoba memberanikan diri untuk melihat problematika itu dan menelisik jawaban atas hal tersebut melalui pandangan Hegel. Barangkali upaya saya merupakan sesuatu yang cacat, keterlaluan, dan tak otentik.
§3. Kebebasan (Freedom) dan Kedirian (Selfhood). Upaya menjadi bebas sejalan dengan upaya menjadi diri sendiri. Setiap orang punya potensi menjadi diri sendiri atau tidak. Orang yang tidak menjadi diri sendiri berarti orang yang tidak menggangap dirinya orang [dan bagi orang lain, ia pun sudah dianggap bukan orang lagi]. Implikasinya, ia telah menurunkan derajat kemanusiaannya menjadi setingkat hewan.
Dalam skenario pemikiran Hegel, kebebasan merupakan suatu kualitas yang membedakan hewan dan manusia. Hewan semata-mata bertindak atas tuntutan deterministik jasmani; manusia mampu mengeliminir tuntutan deterministik jasmani dalam bertindak. Gejala puasa dalam kehidupan umat beragama pertanda determinasi jasmani-biologis tidak sepenuhnya menentukan arah tindakan manusia. Singkatnya, hewan tidak bebas, manusia bebas.
Di sisi lain, kedirian muncul dari peristiwa pengenalan (recognition) diri (self) melalui keberadaan yang-lain (others). Sialnya, peristiwa pengenalan diri terjadi dalam situasi yang tak setimbang. Peristiwa pengenalan diri sejalan dengan subordinasi kekuasaan. Subordinasi self atas others menghasilkan situasi yang tak setimbang. Self yang mengenali others melalui subordinasi menempatkan self pada posisi Tuan (Master) dan others sebagai Budak (Slave).
Sialnya, pemosisian Tuan-Budak berimplikasi pada penurunan derajat others ke tingkat hewan. Alasannya, Budak kehilangan kodrat manusia, yakni kebebasan. Pengenalan Tuan atas Budak menempatkan Budak setara dengan benda-benda, bahkan hewan, yang dapat dikendalikan seturut dengan kehendak Tuan.
[Spekulasi saya:] Kebebasan adalah dimensi internal individu untuk mengenali dirinya; ada pun kedirian adalah dimensi eksternal individu untuk mengenal dirinya. Melalui kebebasan, individu mengenali dirinya melalui dirinya sendiri; ada pun kedirian menyangkut kapabilitas individu mengenali dirinya melalui orang lain.
§4. Sastra. Sastra dalam konteks ini merupakan sarana mencapai (sekaligus mengekspresikan) kebebasan dan kedirian individu. Sastra adalah hasil daya kreasi pikiran manusia. Menyitir RPD, sastra dalam konteks yang lebih luas dikenali sebagai bagian dari ‘kesenian’ yang hidup bersama ‘elemen-elemen utama kehidupan lainnya, seperti sains, militer, ekonomi, politik atau agama’ (RPD, 2001, hal. 174). Di sini, sastra dikenali sebagai An Other.
Sastra adalah yang-lain bagi diri. Melalui sastra, diri mengenali dirinya sendiri untuk kemudian mencoba membangun dirinya sendiri dengan potensi kebebasan yang dapat diaktualkan seoptimal-optimalnya. Di sini, sastra berperan mengintrodusir nilai bagi diri, yang bisa saja pembaca, untuk kemudian—jika beruntung, dapat menjadi pengkarya.
§5. others-Others. others-Others adalah penanda untuk melihat sebuah evolusi, ziarah gagasan, kehidupan wacana. Sebutan lain untuk mengenali kekacauan pertarungan kuasa antara elemen-elemen kehidupan—misalnya cerita SDD yang mengungkapkan bahwa pada masa dahulu sastra menempati posisi sentral dalam kehidupan masyarakat karena berperan dalam ritual keagamaan. Di kemudian hari, transformasi masyarakat menempatkan sastra berada di posisi terpinggirkan pada sebuah peradaban industrial (SDD, 1999, hal.69-82). SDD juga membuka peluang untuk mengenali karya sastra sebagai ‘komoditi’ (SDD, 1999, hal.140) sebagai dampak dari perkembangan masyarakat kontemporer.
§6. Politik. Politik adalah An Other.
§7. Negara. Negara adalah An Other.
§8. Hegemoni dan Rebellion. Hegemoni (saya sedikit banyak mengambil dari pemikiran Gramschi atas konsep ini) berkaitan dengan persoalan introdusir nilai yang bersumber dari pihak tertentu yang dominan atas pihak yang lain yang tidak dominan.
Persoalannya, introdusir nilai memiliki potensi pemaksaan suatu nilai. RPD mengisyaratkan sastra (seni dalam konteks yang lebih luas) adalah sastra ketika ia tidak memiliki beban untuk mendesakkan nilainya sendiri (RPD, 2001, hal.xii). Meski begitu, secara implisit saya menilai [pada pemikiran RPD] kompetisi estetik atas sastra tidak dihilangkan, melainkan berpindah ke pundak pembaca untuk secara kreatif menentukan kualitas ‘besar’ suatu karya sastra.
[Bukankah dengan demikian, hegemoni—dalam pengertian yang bebas dan semena-mena—sesungguhnya tengah terjadi? Barangkali saja ini pertanyaan dadakan yang muncul secara tiba-tiba tanpa adanya penyelesaian yang tuntas.]
Rebellion adalah ombak penolakan atas segala hal yang sudah kadung
§9. Yang berubah dan yang tetap. Yang berubah barangkali An Other. Yang tetap: kehendak bebas dan menjadi diri sendiri.
§10. Apakah sastra berhubungan dengan negara? Saya pikir ya dan tidak. Ya, sebab medium perhubungan antara sastra dan negara adalah diri; atau dengan kata lain, sepanjang diri ada, maka problem hubungan antara sastra dan negara masih tetap dapat dipersoalkan. Tidak, sebab kreatifitas [mungkin] tidak membutuhkan negara. Barangkali saja, apa yang kita kenali atau identifikasi sebagai negara sesungguhnya adalah setan-setan yang menghambat laju kreatifitas dalam diri warga.
Foucault/Jabulani
Di kepala Foucault, obsesi kepastian yang dikonstruksikan sekaligus disempurnakan, mulai dari Descartes hingga Hegel, rontok seketika. Foucault—dengan gagasan genealogi yang berakar pada pandangan nihilisme Nietzche—membongkar kerapuhan bahkan keringkihan konsep ‘subjek’ yang menjadi landasan bagi setiap kepastian ilmu pengetahuan, juga kebenaran. Subjek merupakan konsepsi ampuh pendobrak kebekuan paradigma teosentris pada babak Abad Pertengahan. Melalui subjek, paradigma teosentris pun bergeser ke sentrum antroposentrisme. Antroposentrime merupakan gagasan yang menempatkan manusia sebagai penentu masa depan bagi dirinya sendiri tanpa kehadiran entitas lain yang bersifat suprahuman. Pergeseran sentrum teos ke antropos ditandai oleh mantra sakti filsuf Francis Bacon: Power is Knowledge. Sastrawan Radhar Panca Dahan menterjemahkan mantra Bacon dalam satu kata sederhana (dan menyebalkan): Data.
Foucault memproklamasikan ketiadaan subjek. Bertahun-tahun ia menghabiskan waktu untuk mempelajari dan meneliti apakah ada yang disebut subjek dalam setiap arsip yang ia sigi. Penelitian telaten Foucault membuahkan kesimpulan yang mencengangkan. Tidak ada subjek(!) sebagaimana yang dimaksudkan para filsuf pendahulunya.
Ketiadaan subjek merupakan temuan yang tidak hanya menggemparkan semesta epistemologi, melainkan juga menjalar menjelman badai-gempa-banjir-dan-halilintar pada semesta ontologi. Metafisika, yang semenjak masa Renainssance, berpusat pada epistemologi mendadak berguncang. Subjek sebagai elemen fundamental untuk menentukan substansi realitas yang tetap, bagi kepala dan lidah Foucault adalah ilusi belaka. Subjek tak lagi menjadi lokus ontologis, juga epistemologis, juga aksiologis. Foucault bilang: subjek hanyalah efek belaka, “l’effet c’est moi.”
Bila Nietzche menggemakan “Tuhan sudah mati,” Foucault meneriakkan “Manusia sudah mati.” Manusia merupakan gagasan yang ditopang konsepsi subjek. Kehancuran subjek berarti kehancuran manusia. Bersamaan dengan runtuhnya paradigma epistemik-metafisik-aksiologis berpusat subjek yang tetap, Foucault membangun paradigma baru berfilsat, yakni relasi kuasa. Relasi-kuasa menjadi lema kunci bagi pemikiran Foucault. Sama seperti Jabulani. Jabulani, kata kunci paling utama mendahului semprit peluit di
Rontoknya subjek berarti roboh juga rasio yang menjadi akar bagi segala ilmu pengetahuan. Foucault menumbangkan rasio dengan hasrat, hasrat untuk berkuasa dan hasrat untuk mengetahui. Duo hasrat inilah yang berperan mendefinisikan sekaligus mengubah realitas sosial. Diskursus menjadi wahana bagi duo hasrat memanifestasikan diri. Pertarungan pun menjadi peristiwa kunci untuk memahami realitas sosial, dan kontingensi menjadi kosmos peradaban Foucauldian.
Tanpa subjek dengan rasio, ilmu pengetahuan tidak lagi dikenali semata-mata sebagai obsesi manusia untuk mendapatkan kebenaran yang bebas nilai, kebenaran yang sejati, yang tak terbantahkan, kebenaran yang berlaku universal, tunggal. Duo hasrat sudah menelanjangi ilusi rapuh rasio. Duo hasrat menunjukkan bahwa kebenaran mengandung kekuasaan. Kebenaran ditopang oleh kekuasaan. Kekuasaan ditopang kebenaran. Diskursus merupakan wahana bagi logika kebenaran dan logika kekuasaan bekerja. Diskursus mengarahkan setiap peristiwa yang akan datang dalam kerangka logika produksi dan logika kepatuhan. Kepatuhan menciptakan produktifitas; barangkali Anda ingat bagaimana Mourinho menerapkan strategi catenaccio yang menyebalkan itu dalam pertarungan Liga Champion yang baru saja berlalu. Sebuah kepatuhan menghasilkan produktifitas, kemenangan! Sebuah kemenangan adalah realitas!
Foucault sudah menghilangkan subjek. Diskursus menjadi arena bagi setiap kebenaran dan kekuasaan bertemu dan saling berkontestasi. Secara ontologis, diskursus bekerja tanpa mengandaikan adanya subjek yang tetap. Diskursus bekerja dalam logika space of flows. Ya, seperti Jabulani! Siapa yang menyangka kalau Italia bakal tersingkir? Begitulah space of flows unjuk gigi.
Jikalau menggunakan paradigma subjek modern, pertarungan antara Italia dan
Dalam kerangka pemikiran Foucauldian, Jabulani adalah representasi dari space of flows. Tidak ada subjek di setiap pertandingan. Antara dua tim dihubungan oleh suatu relasi yang bekerja dengan logika kebenaran dan logika kekuasaan untuk menentukan realitas akhir pertandingan. Tanpa adanya Jabulani yang merupakan representasi dari relasi kuasa Foucauldian, niscaya dapat dipastikan tidak ada subjek. L’effet c’est moi. Dalam pemikiran Foucauldian, sepakbola adalah representasi dari matinya subjek, munculnya relasi kuasa. Gol sebagai peristiwa dipandang sebagai diskursus yang tiada habis ibarat laju alir Jabulani dari satu kaki ke kaki lain naik ke kepala lalu hingga ke tangan penjaga gawang untuk kemudian dilempar ke tengah lapangan dan melalui umpan satu-dua yang manis serta menawan Jabulani bersarang di sebuah gawang. Ketika itu, realitas sosial yang baru pun berbentuk. Sebelum semprit berbunyi, setiap pemain sudah menyalakan hasrat akan kebenaran dan hasrat akan kekuasaan dalam bentuk strategi yang akan diterapkan, keterampilan mengolah dan mengelola bola, kecerdikan menangkap peluang entah untuk melakukan kesalahan tanpa diketahui wasit atau menyelinap melepaskan diri dari jebakan offside, atau melakukan manuver psikologis untuk memanas-manasi emosi lawan hingga menghasilkan peristiwa Zidane-Matterazzi jilid II. Logika kekuasaan yang bermain dalam pertandingan sepakbola memang memungkinkan aparatus taboo sebagai logika eksternal reproduksi diskursus untuk diterjang sejauh setiap pihak penerjang bersedia menanggung hukuman jika ketahuan oleh wasit (ah, Tuhan masih memberkati Maradona hingga saat ini. Saya cukup ngeri juga membayangkan peristiwa a la Maradona terjadi dalam dunia politik.). Bagi pemain, logika kekuasaan tidak dapat dibatasi; namun bagi wasit, logika kekuasaan memiliki instrumen lain, yaitu hukuman. Hukuman, l’effet c’ewt moi.
Di hadapan Jabulani, Italia dan
Pustaka Utama:
Mills, Sara., Michel Foucault, (