PARENTAL ADVISORY: KEBODOHAN YANG TAK BOLEH BELAJAR

Film 'Pocong' karya Rudi Soedjarwo dinyatakan tidak lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Alasannya, berdasarkan Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006, ada 9; diantaranya tidak bersesuaian dengan norma kesopanan, menonjolkan adegan kekerasan dan kekejaman lebih dari 50 persen, hingga terkesan kebaikan dikalahkan kejahatan. Ketua LSF Titie Said menambahkan pula dampak dari film itu. Menurut dia, film itu dapat membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998.

Persoalan tidak lulus sensor mengartikan satu hal pokok, yakni ketidak-layakan tayang. Mengingat kata 'ketidak-layakan', saya terkenang pernyatan Franz Magnis Suseno di tahun 2003, tentang etika. Persoalan rumit itu disederhanakan menjadi satu kalimat sederhana: tidak semua hal yang dapat dilakukan (baca: kebebasan) boleh dilakukan (baca: tanggung jawab). Pencitraan praktis dari inti etika tersebut, kira-kira: meski semua manusia berpotensi (baca: dapat) membunuh, tapi kerja membunuh itu sendiri tidaklah layak dilakukan. Bila ditarik lebih panjang, persoalan ini bermuara pada kebebasan bertanggung-jawab. Seseorang dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan yang dilakukan hanya bisa terlaksana apabila yang bersangkutan memiliki kebebasan memilih tindakan.

Kembali ke soal film 'Pocong' yang berbiaya Rp3 miliar ini. Untuk pertama kalinya, film ini haruslah dilihat sebagai salah satu mode ekspresi kesenian, diantara sekian banyak mode ekspresi kesenian lainnya, seperti sastra, suara, lukisan, teater dan lainnya. Dan, dunia ekspresi kesenian ini pada dasarnya berlandaskan kebebasan atau semesta probabilitas. Karena itu pulalah maka seniman memiliki keleluasaan 'boleh melakukan apa saja'. Namun, adanya keleluasaan ini tidak mengandaikan bahwa seniman menihilkan soal etika dalam berkarya. Seniman tetap memiliki standar etika, yang saya sebut dengan 'institusi etika prifat'. Di dalam 'institusi etika prifat' inilah tersimpan mana yang boleh dan tidak. "Institusi etika prifat' ini pulalah yang memungkinkan Rudi Soedjarwo menghasilkan film 'Pocong'.

Keberadaan 'institusi etika prifat' didalam diri Rudi terbukti melalui pembelaannya sendiri. Menurut Rudi--masih dalam artikel Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006--film Holywood dan tayangan televisi lebih sadis dari film 'Pocong' yang ia buat. Tidak hanya itu. Film 'Pocong' pun disebut Rudi memiliki pesan moral, yakni 'kita harus lebih takut kepada manusia daripada kepada setan'. Pembelaan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Rudi atas pilihan dan kebebasan ekspresi yang dia miliki.

Memang, selama film 'Pocong' dibuat untuk konsumsi sendiri, keperluan pribadi, maka tidak akan pernah ada masalah muncul. Tapi, ketika film ini hendak masuk ke ruang publik, masalah timbul. 'Institusi etika publik' menyaring hasil 'institusi etika prifat'. Kategori layak atau tidak pun bermain.

Dari perspektif ini, terlihat jelas bahwa LSF berposisi sebagai 'institusi etika publik'. Lembaga ini menyaring hasil kerja Rudi bersama rumah produksi Sinemart. Proses seleksi yang membutuhkan waktu dua minggu dilakukan tiga tahap, dari kelompok pertama ke pelaksana harian lalu ke pelaksana harian plus yang berisi agamawan, budayawan, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk kehati-hatian ini, saya pribadi mengucapkan salut. Namun, hasil akhir yang menyatakan bahwa film 'Pocong' tidak layak tayang, jelas-jelas menyakitkan.
Tentu saja, 'institusi etika prifat' milik Rudi beserta Sinemart terlebih dahulu tersakiti. Dan, bisa jadi beberapa personal di LSF, misalnya Titie Said pun bersedih; sebab menurut dia kualitas sinematografi, pencahayaan, akting dan dialog fim tersebut tergolong 'oke'. Selain mereka, saya pun merasa tersakiti. Dan, dengan menyadari dasar keberadaan LSF adalah hak sosial individu yang dilimpahkan ke negara, maka rasa tersakiti itu pun semakin menusuk. Dengan kata lain, saya sebagai individu yang telah melimpahkan hak sosial ke negara dengan kesadaran sendiri mengambil pisau dan menyayatkannya ke tubuh saya sendiri. Ya, putusan LSF adalah putusan saya sendiri untuk menghujamkan belati ke pembuluh nadi saya.

Disinilah keberatan dan ketidaksetujuan saya atas putusan LSF itu. Menurut saya, putusan 'institusi etika publik' LSF melabelkan satu hal ke 'institusi etika prifat' yang dimiliki tiap individu, yakni kebodohan. LSF dengan kekuasaannya mengklaim bahwa publik yang bakal menikmati film ini adalah sekumpulan orang bodoh-tolol yang tidak memiliki standar etika. Dan karena itu, satu film Rudi Soedjarwo--perkiraan saya berdurasi maksimal dua jam--mampu meracuni khalayak penonton untuk berbuat kekerasan dan kekejaman seperti yang ditampilkan film tersebut. 'Institusi etika prifat', khususnya saya, dicap bodoh-tolol oleh LSF 'institusi etika publik'. Betapa, hak sosial yang saya berikan kepada LSF ternyata telah disalah-gunakan dengan merenggut kebebasan milik saya untuk menilai apa dan bagaimana film 'Pocong' itu.

Selain itu, hal lain yang menyinggung adalah dugaan bahwa film 'Pocong' dapat 'membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998'. Kalimat yang disuarakan Titie Said, bagi saya naif. Dugaaan atau kekhawawtiran atau ketakutan dalam pernyataan itu menyiratkan dua hal. Pertama, 'kita' harus melupakan tragedi; Kedua, 'kita' harus hidup damai tanpa 'luka lama dan dendam...' Saya secara pribadi menyakini bahwa siratan pertama bukanlah pilihan posisi bagi seorang yang bernama Titie Said, yang menurut saya, mampu merasakan derita yang dialami korban tragedi itu. Ketua LSF ini pastilah bermaksud pada siratan kedua, yakni 'luka lama dan dendam...' itu harus diselesaikan hingga 'kita' dapat hidup damai bersama.

Disitulah letak kenaifan LSF. Sebab, dampak tragedi Mei 1998 bukanlah terletak di dalam film, melainkan di kenyataan itu sendiri. Apakah Indonesia memang sudah menuntaskan sejarah kelam bangsa yang selalu mengagungkan nilai ramah tamah dan sopan santun ini?

Di sisi lain, dugaan atau kekhawatiran atau ketakutan LSF itu ternyata membongkar pola pikir 'institusi etika publik' ini. Melalui dugaan itu, saya pun dapat melihat apa dan bagaimana film di mata 'institusi etika publik' ini. Film bagi 'institusi etika publik' ini berada di atas kenyataan. Dan pola pikir inilah yang berusaha 'mereka' suntikkan ke kepala 'institusi etika prifat' yang kadung dicap bodoh-tolol. Film melebihi kenyataan! Menurut saya, ini pola pikir yang salah. Seharusnya 'institusi etika publik' ini mempromosikan ide bahwa film merupakan sub-ordinat kenyataan. Jadi, sebagus apa pun film yang dibuat, tetap saja kenyataan yang menempati posisi teratas.

Apakah putusan LSF ini bisa dibatalkan atau tidak--seperti perubahan keputusan dari meluluskan menjadi menarik dari peredaran film 'Buruan Cium Gue!' yang dikarenakan desakan 'institusi etika prifat'-yang-memublik*--wallahuallam, saya tidak bisa memastikan. Yang pasti, setidaknya hingga saat ini, 'institusi etika publik' menegaskan bahwa 'institusi etika prifat' cuma berisi kebodohan, ketololan, tolol bakero belaka! Bila sudah begini, kodrat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dengan derajat tertinggi (baca: memiliki akal budi) diantara semua mahluk ciptaan-Nya pun menjadi semakin didangkalkan. Dan, jika memang benar 'institusi etika prifat' berintikan kebodohan, apakah saya, yang bodoh ini, memang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang benar demikian, saya terpaksa mengacuhkan keberadaan 'institusi etika publik' yang menyebalkan seperti, maaf LSF cuma salah satunya saja di Indonesia yang susah dicinta ini.


*: Saya sendiri tidak sependapat dengan desakan dan putusan menarik film 'Buruan Cium Gue!' dari peredaran; sebab ide ini lagi-lagi cuma menegaskan pelabelan 'institusi etika prifat' yang bodoh-tolol. Dan 'insitusi etika prifat'-yang-memublik cumalah kesemuan belaka, sebab itu menjadi tirani 'institusi etika publik' semata.
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!

[Deif-Feil]
Nanti, Nanti, Nanti
--Sabarlah, Jangan Pula Terburu; Nanti Jadi Terlalu!--


Nanti, jika kita bertemu, aku kenalkan kau pada dua temanku.

Jhon Lennon : Imagine there's no heaven

Jim Morrison : I'm a spy in the house of love

Nanti, jika kita bertemu,

aku sudah lama tak bertemu dua temanku ini. Kabarnya, mereka sedang berlibur, entah dimana. Tak ada yang tahu.

Sekali waktu, ketika aku sedang tertidur, mereka datang. Tapi, begitu aku bangun menyambut, mereka pun hilang. Tak sempatlah aku bicara. Mereka pun serupa. Sama.

Kadang, tengah malam, dalam kamar, aku merasa mendengar langkah kedua temanku ini. Aku diam saja menunggu; sebab aku pikir mereka pasti hilang bila aku membuka pintu. Tapi, makin lama, bukan suara langkah kaki menjelas, malah jadi tak terdengar. Sama sekali hening.

Nanti, jika kita bertemu, aku pasti tak bisa mengenalkan kau pada dua temanku.
Diantara Teman-Temanku Aku Berada Diantaramu Dan Teman-Temanku Berada Diantara Aku; TAPI, BERADA DIANTARA MANAKAH AKU DAN TEMAN-TEMANKU HINGGA KAMU TIDAK TAHU DIMANA KEBERADAANKU DAN TEMAN-TEMANKU YANG BERADA DIANTARA AKU DAN TEMAN-TEMANKU BERADA DIANTARANYA


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--Sebenarnya, Judul Tersebut Tidaklah Terlalu Penting Untuk Dibaca; Sebab Pada Dasarnya, Saya Pun Sedang Kesulitan Mencari Judul Apa Yang Tepat, Malah Yang Datang Judul Yang Sebenarnya Kurang Tepat, Tapi Mengasyikkan--
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Apakah engkau mendengarkan aku?"

Perlahan, aku merasa ada seseorang yang memasuki aku. Dari gelagatnya, sekarang ini, aku seakan membaca bahwa seseorang itu sedang mencari sesuatu. Tapi, aku pikir itu tidak mungkin. Sebab, seringkali aku melihat seseorang itu memasuki aku. Dan, biasanya, seseorang itu hanya memasuki aku untuk melempar buku atau rebahan di atas kasur sembari mendengarkan 'The Doors' atau album 'An American Prayer'-nya James Douglas Morrison. Setelahnya, seseorang itu lalu mematikan lampu. Demikianlah, seseorang itu seperti melakukan rutinitas memasuki aku. Hingga,

aku merasa seseorang itu bukan mencari sesuatu. Seseorang itu, rasanya hendak menanyakan sesuatu. Kadang, aku mencoba memasang telinga tajam mendengar. Namun, mengapa tak satu patah kata pun yang dapat aku dengar; padahal kalau aku melihat bibir seseorang itu bergerak-gerak kencang. Pastilah seseorang itu, bukan sedang sekarat meregang--setidaknya itu dugaan aku yang positif. Sebab, bila aku menduga negasinya, maka aku hanya menyimpulkan bahwa seseorang itu sedang mencoba menarik perhatian aku. Dan, memang, aku pun pernah berpikiran seperti itu. Tapi, pikiran itu runtuh dengan sendirinya, sebab seseorang itu memang tidak sedang menarik perhatian aku. Jika seseorang itu memang ingin menarik perhatian aku, seseorang itu tidak perlu melakukan hal itu berulang kali; idealnya, cuma beberapa kali; tidak menjadikan rutinitas. Nah, karena rutinitas itulah maka aku menggugurkan pikiran negasi itu. Aku merasa seseorang tidak sedang memikat perhatian aku. Aku merasa seseorang itu sedang mencari sesuatu atau, hendak menanyakan sesuatu. Entahlah, aku tidak tahu apa bedanya mencari sesuatu dengan menanyakan sesuatu. Pfuh, memang seseorang itu tampaknya sedang 'bersesuatu' kepada aku.

"Hei, ada apaan sih?" Sekali waktu, aku mencoba menanggapi seseorang yang sedang 'bersesuatu' itu. Dan, karena percobaan pertama itulah, aku pun menjadi berulang kali mengucapkannya. Kadang menggunakan huruf kapital semua, kadang huruf tak-kapital semua, kadang berhuruf campuran antara kapital dan tak-kapital, bahkan kadang juga aku mengucapkannya tanpa menggunakan huruf. Tapi, setelah beragam macam cara rupa telah aku upayakan, seseorang itu tampaknya tak memberi tanggapan seperti yang aku inginkan. Entahlah..., apa yang salah; aku tidak tahu. Apakah itu karena aku berkeinginan, atau karena apa. Mengapa aku begitu sulit untuk, ya mungkin semacam mendengar seseorang itu; atau memang seseorang itu juga seakan begitu sulit untuk, ya mungkin semacam mendengar juga, mendengar aku; padahal,

ketika 'An American Prayer'-nya James Douglas Morrison atau album lainnya 'The Doors', kami, maksud aku, aku dan seseorang itu bisa tertidur bareng, bahkan terbengong, terdiam. Kehilangan beban.
Diantara Teman-Temanku Aku Berada Diantaramu Dan Teman-Temanku Berada Diantara Aku

--Sebenarnya, Judul Tersebut Tidaklah Terlalu Penting Untuk Dibaca; Sebab Pada Dasarnya, Saya Pun Sedang Kesulitan Mencari Judul Apa Yang Tepat, Malah Yang Datang Judul Yang Sebenarnya Kurang Tepat, Tapi Mengasyikkan--


"Tolong sediakan aku segelas kopi; maka aku akan berbicara panjang tentang apa itu kegilaan." Begitulah kata seorang teman. Di lain waktu ia berkata, "Tolong sediakan aku pena; maka sebuah puisi akan tercipta." Begitulah ia berkata, di lain waktu. Sampai suatu ketika, entah kapan saatnya, aku lupa--ia pun bertanya "Mengapa tak ada yang mendengarkan aku?" Dan, saat itu pula ia
meninggal dunia.

Beberapa hari setelah kematiannya yang mengenaskan itu--maksud aku, cara dia meninggalkan dunia, maksud aku, cara dia meninggalkan dunia itu terjadi hanya dikarenakan ia selesai bertanya, "Mengapa tak ada yang mendengarkan aku?"; bukan karena bunuh diri atau dibunuh diri-yang-lain--semua orang bertanya, bertanya bermacam-macam hal yang menyangkut kehidupan seorang temanku ini, mereka bertanya-tanya, yang sebenarnya hendak ditujukan kepada seorang temanku yang sudah meninggal dunia ini. Saking banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan, kebetulan pada saat itu aku hanya mendengar, tanpa mengingat pun mencatat, sebab yang aku pikirkan hanyalah: jika pertanyaan itu hendak mereka tujukan kepada ia, maka ia-lah yang patut memberikan jawaban. Bila demikian, maka yang aku duga pun terjadi. Mereka memang menemukan jawaban, tapi jawaban itu mereka peroleh dari hasil menebak, hingga mereka pun terkadang ragu, apakah jawaban mereka itu benar dan tepat, atau sama sekali khayal. Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana perasaan mereka ketika mereka berhasil menebak. Hingga,

aku pun berpikir, apakah kita mampu bertanya kepada sesuatu yang sudah mati; sudah meninggal dunia? Sederhananya, mampukah kita berdialog dengan kematian? Demikianlah, aku dikenalkan pada kematian pertama, melalui seorang teman yang meninggal dunia.

Seorang temanku yang lain, pernah berkata, "Manusia mahluk yang menuju mati." Seorang temanku yang lainnya pun berkata, aku tidak ingat tepatnya bagaimana, tapi intinya kurang lebih bercerita bahwa manusia itu berjalan bersama dengan kematian. Bahkan, seorang temanku yang lainnya pula lagi, menyuarakan pendapat bahwa manusia itu tidak pernah mati. Dan, ada juga temanku yang lainnya yang memperbincangkan hal serupa, tapi bukan dalam kata-kata, melainkan menggambar, entah melukis, judulnya, "Potret Diri Berhadapan Dengan Kematian".

Karena perkataan dan perbuatan teman-temanku ini, aku pun menjadi berpikiran seperti teman-temanku. Maksud aku, aku berpikiran lain dari dari teman-temanku. Maksud aku, seperti yang engkau tahu, teman-temanku inikan berpikiran lain, maksud aku, mereka berbicara satu hal yang sama, yakni kematian, tapi menghasilkan perbedaan sudut pandang. Karena itu, aku pun berpikiran lain dari mereka. Aku pun berpikiran untuk menciptakan dialog dengan kematian, agar aku bebas bertanya kepada kematian mengenai siapa dirinya dan buat apa dia ada.

Sebenarnya, niatan aku itu berasal dari pikiran, bahwa apa yang dipikirkan oleh teman-temanku hanyalah berupa jawaban. Itu, menurutku yang terjadi. Sebab, mereka tak pernah bisa menjelaskan bagaimana cara mereka memperoleh jawaban itu. Sebab, ketika aku tanya, "Pernahkah kau bertanya kepada kematian?" mereka hanya tertawa, terdiam, bahkan ada yang langsung angkat kaki pergi, ambil gelas dan melemparkannya ke mukaku, atau menggebrak meja. Padahal, aku pikir, aku cuma butuh jawaban 'Ya' ata 'Tidak'. Itu saja. Jika mereka pernah bertanya kepada kematian, maka aku akan menanyakan hal berikutnya, yakni, "Bagaimana caramu bertanya kepada kematian?" Namun, jika mereka tak pernah bertanya kepada kematian, maka aku tak perlu bersusah payah menanyakan hal berikutnya. Tapi,

ada seorang temanku yang lain pula yang bertanya balik kepada aku, "Mengapa kau bertanya demikian?" Ah, jawaban yang diberikan seorang temanku yang lain pula ini memang tidak memuaskan aku, karena aku cuma membutuhkan jawaban 'Ya' atau 'Tidak', sebelum melangkah pada pertanyaan aku yang berikutnya. Karena itu, terpaksa aku menjawab, "Aku cuma ingin tahu saja." Tampaknya, seorang temanku yang lain pula ini tak puas. Itu aku ketahui dari bola matanya yang memerah, dahinya yang mengkerut, nafasnya yang tertahan, alisnya yang mengetat, juga bibirnya yang seperti membeku. Aku pikir seorang temanku yang lain pula ini bakalan marah. Karena itu, aku lekas menambahkan jawaban, maksud aku, menjelaskan kenapa aku menjawab seperti itu. Aku bilang kepada seorang temanku yang lain pula ini:

"Kalau aku sebenarnya, biasanya, bertanya kepada yang bisa menjawab. Nah, karena ini pertanyaan, yang menurut aku hanya bisa dijawab kematian, maka aku pun menanyakan hal itu kepadamu. Maksudku, aku menanyakan apakah kau pernah bertanya kepada kematian? Sebab, aku pikir, kau hanyalah menebak saja. Tidak lebih. Sebab, bila jawaban itu akurat, maka kematian-lah yang seharusnya menjawab. Maksudku, ini kan tak ubahnya, saat aku belajar matematika, dan aku tidak mengerti, maka aku bertanya kepada guru yang lebih mengerti hal itu. Aku cuma, pengen tahu aja. Sebab, sudah banyak orang yang berbicara tentang kematian, tapi tak satu pun yang memberitahukan aku bagaimana caranya agar aku, maksud aku, kita, ehmm..., maksud aku--ya, kita semua ini--bisa berdialog dengan kematian. Itu saja sebenarnya alasan aku bertanya."

Seorang temanku yang lain ini pun tidak bisa berkata-kata. Padahal, kalau menurut aku, sebenarnya seorang temanku yang lain ini ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku tidak ingin bertanya lebih jauh, apa tanggapan, apa jawaban, apa pendapat, dan segudang apa lagi yang ingin kuketahui dari diamnya seorang temanku yang lain ini. "Maafin, ya. Aku pergi dulu," kata aku kepada seorang temanku yang lain. Aku tidak ingin mengganggu seorang temanku yang lain ini, sebab menurut aku, dalam keadaan itu diam tersebut, seorang temanku yang lain ini sedang berpikir. Dan, aku pun pergi.

Malamnya, aku berniat bertanya kepada kematian. Sebelumnya, aku mengadakan persiapan. Dialog dengan kematian tentulah hal yang sangat memakan waktu banyak. Karena itu, aku pun menyiapkan bergelas-gelas kopi siap seduh, juga makanan kecil, juga kertas dan alat tulis. Entahlah, aku hanya bertaruh, tepatnya menebak, bahwa kematian pun menyukai kopi, seperti aku. Sebab, bila sudah demikian, maka perbincangan pun lancar, dan aku tak perlu bersusah-susah mencari whisky atau jus jambu misalnya--bila itu merupakan kesukaan kematian. Dan, perbincangan aku mulai dengan pertanyaan:

"Apakah engkau mendengarkan aku?"
SEPATU TUMIR DAN SANDAL JEPIT

Engkau pasti segera membayangkan apa itu 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT'. Dan, aku harap engkau sudah membayangkan apa itu 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT'. Terima kasih.

Imaji itu, maksud aku 'SEPATU TUMIT DAN SANDAL JEPIT', tidak jauh beda dengan rekayasa kenyataan yang terjadi di perempatan Lampiri. Perempatan lampu merah yang tak pernah sepi. Bila sudah demikian, engkau pun mengerti; mengapa cerita ini mengambil setting lokasi di jalan raya, di tepi kali. Betapa sialnya engkau bila mengalami hal ini.

Aku berharap engkau memikirkan bahwa aku akan menjelaskan apa itu 'SEPATU TUMIT' terlebih dahulu. Selanjutnya, aku jelaskan apa itu 'SANDAL JEPIT'. Tentu saja, apa hubungan keduanya pun menjadi pertanyaan engkau berikut. Aku cuma bisa bilang, semua ada di kendaraan roda. Kendaraan roda dua yang kerap melintasi jalan raya. Khususnya, perempatan lampu merah yang tak pernah sepi; sebab, di tempat itu ada pos polisi.

Aku harap engkau tidak terkejut. Aku harap, sekarang, engkau sudah membayangkan dari mana aku memulai penjelasan. Inilah jawabanku. Penjelasan akan aku mulai dari 'SANDAL JEPIT'. Mungkin, sekadar menebak, engkau bakal membayangkan 'SANDAL JEPIT' sebagai simbol lelaki. Memang, setidaknya itulah yang hendak aku utarakan. Tapi, bila aku engkau perkenankan menambah alasan; tampaknya, aku sebagai pencerita memang tak butuh per-kenan-an engkau untuk menjabarkan alasan lain. Inilah alasan lain itu. 'SANDAL JEPIT' aku andaikan sebagai bentuk peradaban sebelum ada sepatu. Jadi, ada dimensi waktu pulalah yang harus engkau sadari ketika membaca cerita aku ini. Tak hanya laki-laki, atau perempuan; malah bisa jadi kaum transeksual, mungkin. Tapi, perkembangan zaman. Bisakah engkau lihat betapa wah alasan yang aku ajukan ini? Jika tidak, aku pikir itu tak masalah, sebab aku yakin penjabaran waktu itu pasti muncul ketika engkau membaca cerita ini hingga habis. Kecewa? Bisa jadi. Dan, bukankah waktu yang berjalan kerap membawa pesan pengalaman(?); itu tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di perempataan lampu merah yang tak penah sepi. Pos Polisi Lampiri. Brigadir Polisi Tingkat Satu yang berdiri, lalu menekan tombol sirene, ketika kemacetan terjadi di perempatan yang berada tak jauh dari rumah makan ayam bakar.

'SANDAL JEPIT'. Kata-kata itu membawa imaji sebuah, tepatnya sepasang kaki. Sepasang kaki, kanan dan kiri, dengan lima jari. Lalu, empat mata kaki. Bila demikian, tentu saja semua itu telanjang. Sebab, celana bahan panjang berwarna tak jelas itu tak mampu memnutup seluruh kaki. Apalagi kaki yang mengenakan alas 'Sandal Jepit'. Semuanya pun menjadi lengkap. Kaki, sandal jepit, celana bahan panjang.
Sampai disitu, engkau boleh saja menambahkan sarung tangan. Tapi, aku lebih memilih jaket hitam penahan. Penahan terpaan. Terpaan angin. Tentu saja, bagi aku itulah yang lebih menarik. Apalagi, bila engkau mengingat lokasi penceritaanku ini. Helm. Kendaraan roda dua. Jalan raya. Perempatan Lampiri dan Pos Polisi. Ya, 'Sandal Jepit' yang menjadi alas kaki di atas pijakan kaki pengendara roda dua dengan laju rata-rata 40 kilometer per-jam pada persneling ke-empat. Aku harap, engkau bisa membayangkan evolusi yang melambat.

Aku sudah menyelesaikan rekayasa kenyataan dalam pikiran engkau. Itu, tak jauh beda dengan kelakuan Brigadir Polisi Tingkat Satu atau Briptu di Pos Polisi. Berdiri, lalu mendekati tombol sirene. Menekan. Sirene patroli pun berbunyi. Para pengguna jalan pun tahu diri. Polisi. Atau takut diri. Polisi! Dan, kemacetan pun berangsur hilang. Angkutan kota, entah mikrolet atau metromini; angkutan pribadi, sedan mewah atau sekadar roda dua, perlahan menjadi teratur. mereka semua ingat, perempatan Lampiri. Lampu merah yang tak pernah sepi.

Tapi, mengapa engkau semakin tertegun. Membaca bukan berarti tidak membuatmu berpikir. Apakah engkau masih ingin mengetahui apa itu 'SEPATU TUMIT'? Atau malah engkau sudah menemukan jawaban tentang semua itu. Semua itu, yang aku maksudkan, termasuk hubungan antara 'SANDAL JEPIT' dan 'SEPATU TUMIT'. Aku pikir, memang cerita ini tidaklah terlalu menarik utuk dilanjutkan. Sebab, rasa-rasanya, engkau sudah mengetahui apa yang akan kujelaskan. Tapi, aku akan tetap berusaha membuat kejutan. Dan, apabila ternyata hal itu tidk terjadi, aku harap engkau tidak kecewa. Bukankah, menulis itu gampang? Engkau tinggal menguji. Entah dengan membaca, atau berlatih. Begitulah, sebangun dengan waktu yang selalu membuat kita serasa bertatih-tatih. Kapan semua berakhir.

'SEPATU TUMIT'. Sepatu tumit putih. Malam hari, sepatu tumit warna putih akan tetap menampak putih. Sebabnya, tentu saja, kontras warna; antara sepatu dengan malam, seperti garis dengan aspal. Berbeda halnya dengan warna ungu. Biru. Atau, malah hitam, barangkali; di malam hari. Rasanya, tanpa kontras. Mungkin, serupa celana bahan panjang yang dipergunakan pengendara roda dua yang tidak bisa aku sebutkan berwarna apa. Hanya, berwarna tak jelas.
Sepatu itu, dugaan aku, tidaklah bertumit tinggi. Paling cuma tiga senti, atau malah lima senti. Beda jauh dengan panjang betis kaki yang terlihat nyaris telanjang. Itu, bila saja rok coklat kehitam-hitaman yang ia--maksud aku pemilik sepatu tumit (Ah, pemilik sepatu tumit tampaknya simpulan spekulatif aku saja. Sebab, aku hanya mengetahui ada sepatu tumit di sepasang kaki seseorang. Bisa saja pemiliknya bukan 'ia'. Tapi, aku merasa dugaan aku menghampiri pasti. Catatannya, bila 'ia' itu seorang perempuan. Bukankah seorang perempuan berpantang menggunakan barang milik teman, entah sesama perempuan, pun lelaki, apalagi kaum transeksual.) dan betis berkulit nyaris putih--kenakan tidak sepanjang 80 senti. Memang, ia seorang perempuan. Berkemeja putih, tidak terlampau ketat, tidak terlampau longgar. Serasi di badan dan di padan. Dipadankan dengan rok coklat kehitam-hitaman. Apalagi, ia berkulit nyaris putih. Itulah yang nyata terlihat di dia punya kaki. Sebabnya, dia tidak duduk di bagian kemudi. Ia duduk menyamping, hingga gerai rok ia pun membuka celah luar biasa sepanjang jalan tepi kali. Melintasi perempatan Lampiri. Pos Polisi. Malam hari. Maka, imaji 'SEPATU TUMIT' akan semakin lengkap, bila aku menambahkan tas sandang kulit dan rambut panjang gaya ekor kuda. Tertawa.

Demikianlah, kendaraaan roda dua membaca 'Sandal Jepit' dan 'Sepatu Tumit' melintasi jalan raya tepi kali, perempatan Lampiri, lampu merah yang tak pernah sepi, juga Pos Polisi dengan kelakuan Briptu yang selalu menekan tombol sirene di malam hari hingga kemacetan pun berangsur-angsur menjadi pulih kembali, lancar, meski itu bukan berarti tak ada hambatan. Sebab, semua ingin pulang, ingin tenang, rumah tanpa masalah. Memang, jalanan selalu menawarkan penafsiran, umumnya curiga, yang dibangun atas dasar rekayasa,

seperti yang telah dia lakukan atas pikiran saya. Masihkah engkau berniat mencari hubungannya (?); seperti yang dia lakukan atas pikiran saya?
CERITA SEBELUM KOPI

Sekarang, mari kita ngobrol sedikit lebih politis.
Begitu kata kau kepadaku, sambil melempar sebuah harian nasional, tertanggal Jumat, 30 Desember 2005.

Cobalah kau baca koran ini.
Sambung kau pula saat aku masih memperhatikan hempasan koran yang belum melepas dari awang-awang.

Lihat! Kau lihat! Harga Pertamax mau diturunkan! Lima ribu empat ratus jadi lima ribu. Ah, taik-lah! Dia mengumpat, bukan kepada aku tapi halaman koran. Tepatnya, berita di harian nasional.

Tapi, masih sih dia mengumpat berita di koran? Pasti ada yang salah. Kalau dia mengumpat, harusnya kepada seseorang. Bukan kepada sesuatu. Berarti itu berita telah menjadi seseorang. Atau itu berita menyimpan seseorang.

Tau ga' lu, alasannya apa? Persaingan usaha. November lalu, perusahaan pertambangan minyak entah dari mana, masuk ke pasar tradisional di negeri kita. Terus, masih bakalan ditambah masuknya perusahaan entah dari mana lagi di bulan ini. Babi ga'!
Begitulah dia mengumpat.

Ya, tampaknya semakin jelas. Dia mengumpat bukan kepada berita yang telah mewujud menjadi seseorang. Tapi, berita yang menyimpan sesuatu. Persaingan usaha.

Kemarin, sebelum menaikkan harga, kita dikasih alasan. Aku bilang dikasih alasan. Itu artinya, terserah kita mau terima atau tidak alasan yang dia kasih. Alasannya, harga di dunia sudah meningkat. Kita harus memindahkan pengelolaan anggaran. Sektor pendidikan dan kesehatan harus diberdayakan. Segala macam taik kucing dilempar. Harga naiklah. Eh, nyatanya..., sebulan berselang stasiun-stasiun baru berdiri. Kuda laut tak lagi sendiri. Anjing ga'!
Begitulah dia mengumpat, menjelaskan persoalan.

Memangnya,ada apa dibalik itu semua. Sepertinya, dia memang mengumpat sesuatu. Bukan seseorang. Aih, mengumpat sesuatu yang tersembunyi dalam berita. Pastilah ada orang-orang yang bersembunyi dalam berita itu. Sebab, mana mungkin manusia mengumpat sesuatu. Pastilah seseorang. Atau, aku yang salah.

Kau harus lebih jeli melihat kawan. Ini jaman sudah politis. Tak ada orang baik di dunia. Artinya, tak ada orang baik di Jakarta. Pasti ada maksud terselubung dibaliknya. Aku bilang terselubung. Kalau sudah terselubung, pasti itu berkaitan dengan 'buruk', 'mencelakakan'. Kau ingat itu.
Begitulah, kali ini tidak begitu jelas bahasanya. Apakah mengumpat atau mengingatkan, atau mengajarkan atau...

Ada apa sih lu? Berita gitu doang dimasalahin. Pake maki-maki lagi. Emang yang lu maki itu ngedengerin. Kalo ngedengerin untung. Kalo ga'. Sama aja bo'ong. Trus, kalo lu ga' setuju, merasa kejanggalan, ngapain ngomong ke gua. Kalo lu mo curhat baru ngomong ke gua.

Ah, kau memang tak mengerti. Bayangkan. Kalau dulu dikasih alasan untuk menyejahterakan, bagaimana hasilnya. Berapa orang kakek-kakek pun nenek-nenek mengantri sampai pingsan! Berapa banyak dana sekolah yang tersalur dengan lancar. Memang aku tak punya data jelas. Tapi, aku merasa dengan masuknya perusahaan pertambangan asing, itu menandakan sesuatu motif yang sangatlah jelas. Kenapa tidak dibilang saja begini misalnya. Kenaikan itu karena beberapa perusahaan asing mau berinvestasi di Indonesia. Nah, masalahnya mereka tidak mau bila harga masih berada dibawah. Haruslah kita naikkan, setara dengan harga dunia. Sebab dengan begitu, saya juga mendapatkan keuntungan. Modal saya kan ada juga di perusahaan itu. Saya bisa bisnis lagi.
Atau alasann lain, kenaikan ini karena tekanan dunia. You, tahulah yang saya maksud. Kalau kita tidak memberikan fasilitas itu, beragam embargo bakalan kita terima. Produk pertanian kita tidak diterima. Tentara kita tidak bisa beli senjata. Pelajar kita tak bisa bersekolah ke sana. Pinjaman uang tidak bisa kita dapatkan. Nah, untuk mencegah dampak seperti itulah maka kita harus mengikuti keinginan mereka. Tentunya, agar keinginan kita pun tercapai pula. Produk pertanian kita diterima. Tentara kita maki kokoh. Ekonomi kita bisa segera pulih. Aku rasa begitu lebih baik. Tak ada yang terselubung.
Begitulah dia berkata-kata.

Begitu saja jadi masalah? Benarkah sebegitu besar? Pfuh, rasanya tak mungkin. Kau terlalu melebih-lebihkan. Masa sih?


Oh..., gua ngerti. Mereka itu bukan curhat lagi. Buat gua, mereka mau naikin apa pun terserah. Yang penting curhat dulu. Curhat harus kita jadikan azas dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara. Ya kaya' kita ini lah....

Kami tertawa, lalu menyeruput kopi hitam, manis dan tentu saja: pahit!
CERITA FIKSI TENTANG HARI DA VINCI


15.03. Aku lupa tepat waktunya. Entah siang, malam, petang; bahkan mungkin saja di kala hari dini. Itulah peluang saat aku menuntaskan lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang. Lukisan perempuan.

Kini--yang entah sejak kapan--aku mendengar kabar. Lukisan perempuan berlatar pemandangan alam itu tenar berjudul Mona Lisa. Memang, beberapa judul lain pun sempat kudengar. Misal, dalam bahasa Spanyol, La Gioconda; dalam bahasa Perancis, La Joconde; dalam bahasa Inggris, A Certain Florentine Lady dan A Courtesan in a Gauze Veil. Sebenarnya, itu tidaklah terlalu bermasalah besar bagi aku. Sebab, itu hanyalah lukisan seorang perempuan berlatar pemadangan. biar kuulangi: Lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang.

Kemarin--yang aku maksud, suatu waktu yang telah lalu--aku sempat berpikir apa artinya senyum. Pertanyaan atas makna kata itu selalu mengiang di telinga aku. Senyum. Namun, sebelum aku sempat menjawab--entah mengapa, aku tak tahu jelas--pertanyaan baru muncul. Apa pula artinya seakan senyum. Pertanyaan itu terus mengiang. Terus mengiang di telinga aku. Pertanyaan apa itu senyum. Pertanyaan apa itu akan senyum. Hmm, mungkin tepatnya aku menyebut: Tersenyum. Ya. Tersenyum dan Seakan Tersenyum. Tampaknya, itulah sebenarnya pertanyaan aku. Apa itu tersenyum. Apa itu seakan tersenyum.

Selang beberapa waktu--entah kapan, aku tak ingat--aku kembali bertanya. Mengapa. Mengapa tersenyum. Mengapa seakan tersenyum. Pertanyaan itu muncul mendadak, saat aku hendak mencari arti apa itu tersenyum; dan, apa itu seakan tersenyum. Pertanyaan itu, semua pertanyaan itu, membuat aku merenung. Aku merenung.
Hingga, di suatu malam--malam yang entah kapan, aku tak jelas merekam--meloncat pertanyaan baru. Pertanyaan yang muncul sebelum aku sempat menemukan jawab atas pertanyaan yang telah hadir sebelumnya. Pertanyaan tentang senyum. Pertanyaan tentang apa itu tersenyum. Pertanyaan tentang seakan senyum. Pertanyaan tentang apa itu seakan tersenyum. Pertanyaan tentang mengapa tersenyum. Pertanyaan tentang mengapa seakan tersenyum. Muncul pertanyaan baru, siapa tersenyum; siapa seakan tersenyum; mengapa siapa tersenyum; mengapa siapa seakan tersenyum. Ya, pertanyaan yang merujuk siapa. Merujuk pelaku senyum. Adakah ia seorang perempuan? Adakah? Aku pun termenung.

Musim dingin, entah bulan apa, aku lupa. Aku tersenyum. Aku lupa, benarkah aku tersenyum; atau seakan tersenyum? Aku hanya mengingat jelas, saat itu musim dingin. Saat itu aku bercermin. Sendiri aku bercermin. Ya, aku sendiri bercermin! Aku tak lupa. Saat itu aku sendiri bercermin, dan melihat diri aku dalam cermin. Aku melihat diri aku dalam cermin. Aku melihat diri aku yang sedang melihat aku dalam cermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang bercermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang melihat aku yang sedang melihat aku bercermin. Aku yang sedang bercermin melihat diri aku yang sedang bercermin melihat aku yang sedang bercermin. Tapi, aku lupa. Apakah saat itu aku tersenyum atau seakan tersenyum. Aku lupa.

Musim semi--yang aku tak ingat, kapan--aku mengingat kelupaan aku. Kelupaan aku di musim dingin yang telah lalu. Kelupaan tentang aku yang sedang bercermin. Kelupaan tentang aku yang sedang bercermin dengan, tersenyum atau seakan tersenyum. Kelupaan yang membawa aku ke pertanyaan baru. Mengapa aku bercermin. Mengapa saat itu aku bercermin. Dan,

15.03. Aku lupa tepat waktunya. Entah siang, malam, petang; bahkan mungkin saja di kala hari dini. Itulah peluang saat aku menuntaskan lukisan seorang perempuan berlatar pemandangan. Perempuan. Berlatar pemandangan. Perempuan yang, mungkin, tersenyum. Perempuan yang, mungkin, seakan tersenyum. Berambut panjang, tak terlalu panjang. Lukisan perempuan. Lukisan tentang senyum perempuan...
CATATAN HARIAN CLARK KENT
--diterjemahkan oleh David Tobing--

Hari ini, Minggu, pukul sepuluh malam. Seharian sudah aku berkelana, memburu penjahat di kota Metropolis. Sesungguhnya, tidak banyak yang aku lakukan. Cuma menangkap penjahat! Bayangkan! Padahal kerja begitu sebenarnya pun bisa dilakukan Parman, Parmin atau Pirman. Tak perlulah Superman.
Tapi, karena aku sering menangkap penjahat, orang sekota pun menganggap aku pahlawan. Menganggap aku burung, pesawat hingga akhirnya Superman, aku yang terbang. Hasilnya, banyak orang mengenalku. Singkatnya, aku jadi orang terkenal. (Aku pikir, mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dan, aku pun belum tentu mengenal mereka juga 'kan.)
Padahal, aku melakukan semua itu karena hobi. Itu saja. Tidak lebih, bahkan tidak berlebihan aku rasa. Soalnya, aku punya kekuatan. Bisa terbang; bisa bergerak cepat hingga tak terekam kamera; bisa melihat tembus penghalang pandang, juga mengeluarkan sinar laser; bisa membekukan danau cuma dengan menghembuskan udara melalui mulut; bisa mendengar dari kejauhan; bisa mengangkat mobil sampai pesawat; bisa merontokkan tiang baja; bisa menghentikan laju kereta; pokoknya biasa melakukan yang tidak biasa. Padahal, sekali lagi, itu cuma hobi; karena aku tidak tahu kemana hendak kusalurkan kesenanganku itu.

Pertama aku tahu punya kekuatan berlebih, sewaktu umur lima tahun. Saat itu, aku membantu ibu di dapur. Mencuci piring. Biasanya, ibu membutuhkan waktu lima belas menit mencuci piring. Nah, aku cuma butuh dua menit lebih sedikit. Dan, ibuku tercengang. Padahal, menurutku itu biasa; dan ada alasannya. Kalau ibu mencuci piring hingga lima belas menit, itu karena umurnya sudah terbilang tua. Beda dengan aku. Aku masih muda, bahkan bocah. Masih lima tahun. Masih bertenaga. Jadi wajar saja waktu yang kuperlukan pun tak lama. Dua menit lebih sedikit.
Yang kedua, saat aku membantu ayah kerja di ladang. Memagari kandang ayam. (Seingatku, waktu itu aku berusia delapan tahun-an.) Bila ayah membutuhkasn waktu tiga hari untuk memagari kandang ayam, aku cuma butuh sehari. Setelah selesai, ayahku pun terkaget-kaget. Luar biasa, katanya. Padahal, bagiku itu biasa saja. Wajar dong aku bisa menyelesaikannya dalam tempo sehari. Sebab, saat itu masa liburan sekolah. Aku kerja dari pagi hingga senja. Lagian, seluruh bahan sudah tersedia. Terus, aku juga pernah melihat ayah melakukan hal serupa. Jadi, aku tahu harus mulai dari mana, hingga bagaiman. Entah itu memotong bambu atau memaku.
Sejak dua peristiwa itu, aku pun menyadari kelebihan dalam diriku. Ada sesuatu yang luar biasa dalam diriku. Dan, aku pun menjadikannya hobi yang tentunya harus kusalurkan. Hingga, aku menanjak remaja, lalu dewasa.
Bila dulu aku cuma membantu ayah dan ibu, sekarang sudah berbeda cara. Aku tidak mungkin lagi membantu ibu cuci piring di dapur; atau membantu ayah memagari kandang ayam di ladang. Kekuatan luar biasaku pun kupergunakan untuk membantu masyarakat sekitar. Mulai dari teman sekelas sewaktu sekolah, hingga sekarang, rekan sekerja di media. Eh, tak tahunya malah menjadi besar, membantu masyarakat sekota. Malah, bisa jadi membantu negara.
Itulah cikal bakal mengapa aku dijahitkan ibu baju ketat ngepas di badan, warnanya biru bergambar segi lima di bagian dada yang berisi huruf 'S' didalamnya (Huruf yang merujuk pada nama aliasku, bukan ukuran baju.) plus jubah (Aku pikir jubah bukan kata yang tepat untuk menyatakan kain panjang yang menjutai adri pundak hingga betis kakiku; yang entah mengapa orang lalu menyebutnya sayap hingga berakhir dengan kesimpulan yang menyamakan aku dengan burung atau pesawat.) merah. Itu masih ditambah dengan sepatu bot panjang warna merah, juga celana dalam yang kukenakan di luar, pun warna merah. Ibu bilang, dengan mengenakan seperangkat ..., aku menyebutnya 'seragam dinas', aku terlihat gagah. Ya, tak apalah. Lagian, aku suka warna biru, merah dan kuning. Biru mengingatkan aku pada langit, sedang yang merah dan kuning serupa nyala api itu mengingatkan aku pada ayam jago. Dan, setelah bertanya pada ayah, aku akhirnya mengerti mengapa aku menyukai ketiga warna itu.

Kata ayah, aku ditemukan dalam pesawat luar angkasa yang terdampar di ladang dekat kandang ayam. Lalu, pagi hari, aku ditemukan ayah karena aku menangis. Karena tahu tangisan itu berasal dari dalam pesawat luar angkasa yang terdampar, maka dengan segala cara ayah membukanya. Akhirnya, aku pun dikeluarkan, lalu digendongnya. Saat itu, tangisku berhenti. Kata ayah, tangisku berhenti karena melihat langit dan seekor ayam jago. Itulah, karena langit aku suka biru; karena ayam jago aku suka merah dan kuning. Begitulah cerita ayah. (Tapi, kupikir cerita ayah itu berbau fiksi. Aku sebenarnya tak yakin, tapi apa boleh buat. Lagian, aku tak punya rekaman memori akan hal itu.
Coba kau pikir; bisakah kau mempercayai cerita ayahku tentang pesawat luar angkasa yang terdampar di ladang dekat kandang ayam? lalu soal tangisanku yang berhenti karena melihat langit dan ayam jago? Ah, tak masuk akal. Sulit. Meski begitu, aku pasrah menerima. Lagian, aku memang suka warna biru, merah dan kuning. Dan, sebenarnya tak perlu penjelasan mengapa aku suka warna tersebut.)

Jadi, 'seragam dinas' selalu kukenakan saat aku bertugas, tepatnya, saat aku melakukan kesenanganku: Membantu orang lain. Dan, dengan ber-'seragam dinas', aku bisa lebih bebas tanpa ketahuan identitas. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mau terkenal. Mengapa? Sebab dengan terkenal, kebebasanku hilang. Aku tidak bisa lagi menyalurkan hobi sesukanya. Aku terikat. Lalu, kalau kupikir lebih lanjut, keterkenalan itu menyebabkan aku selalu merasa dibuntuti. Diikuti. Rumahku pasti diintai. Lalu, wartawan-wartawan pasti datang ke rumahku untuk mewawancarai ayah atau ibuku; bila tidak bisa, mereka bakal mendatangi tetanggaku untuk melakukan hal serupa bahkan lebih luas, mewawancarai para tetanggaku untuk menggali informasi tentang kehidupanku atau keluargaku. (Ini kuketahui karena aku pun seorang reporter media cetak Daily Planet.) Lebih parahnya lagi, bakalan ada orang-orang yang mengantri di depan rumahku, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, untuk meminta tanda tanganku. Ala.mak..k.k! mengerikan. Kalau seudah begitu, identitasku pasti telanjang; hasilnya, tentu saja kemaluan. Jadi, intinya, sebab aku tidak ingin terkenal adalah soal psikologis saja. Aku malu. Tegasnya, keterkenalan itu pastilah membuatku malu. Ibarat judul plesetan sebuah buku Malu (Aku) Jadi Orang Terkenal*.
Lagian, yang aku kerjakan itu cuma hobi. Dan, karena itu pulalah aku pengen-nya biasa-biasa saja. Tidak terkenal. Cukuplah keterkenalanku itu diketahui sama ayah dan ibuku saja. Tidak usah menenangga, menyekolah, mengota, hingga mendunia. Dan dengan demikian, aku hanya bisa berlaku malu di depan kedua orangtuaku. (Satu lagi, hampir tertinggal, aku masih bisa bermalu-maluan di buku catatan harian ini pula.)


* sebuah plesetan judul buku puisi yang beredar di kota Metropolis, dan penerjemah menemukan kesulitan untuk mengalih-bahasakan judul plesetan tersebut. Sebagai solusi, penerjemah mengalih-bahasakan plesetan judul buku puisi itu--tentu dengan memikirkan persesuaian makna antar kalimat dalam paragraph, antar paragraph dengan paragraph, serta paragraph keseluruhan--dengan memlesetakan judul buku puisi Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.
IBU, IDOLAKU
........................buat: ibu

aku ingin punya tahi lalat seperti ibu
di tempat yang tersembunyi
munculnya tiap hari.

dengan tahi lalat yang tersembunyi itu
ibu pergi
........... ke pasar, ke sekolah, ke rumah ibadah, ke arisan teman, ke pertemuan keluarga,
kemana saja.

seingatku,
di malam hari sebelum tidur ibu biasa diri di depan cermin.
mungkin, untuk melihat tahi lalat, aku pikir.
pernah suatu saat kutanya, "Ngapain Bu?"
dia jawab, "Ngaca. Emang kenapa? Ga' boleh?"
aku pun langsung pergi. tersinggung.
(aku nanya serius dijawab ngaca doang.)

diam-diam,
dalam kamar aku tulis surat kepada bapak,
isinya:
pak, ibu bo'ong! aku nanya lagi ngapain, eh malah dijawab ngaca.
(besok aku kasih surat ini ke bapak, pulang sekolah. sekarang aku tidur dulu.)

pagi hari, aku bangun
kulihat ibu di dapur. dia melihatku, lalu ngomong, "Eh..., kemaren marah ya?"
aku jawab, "Engga..." (padahal sebenarnya marah sih.)

sehabis makan, aku pun diantar ke sekolah, naik mobil merah, sama ibu jadi supirnya. aku duduk di depan, diam saja.

pulang sekolah, aku memang tidak dijemput ibu.
jalan kaki.
aku pun langsung ke kuburan bapak. ngasih surat yang kutulis diam-diam dalam kamar semalam.

malamnya,
bapak ngomong dalam mimpiku.
katanya, "Ibu ga' bo'ong."
aku pun bangun
lalu melihat ibu sedang memperhatikan tahi lalatnya di depan kaca.

..........................................................................1986-1988
SEBAB ITU, SECANGKIR KOPI MENUNGGU. HAHAHAAAAA

Kedai kopi, tengah hari, di pusat belanja mewah ibu kota.

Diantara semerbak wewangian robusta serta beragam harum parfum pengunjung, entah pria atau wanita, pandangan mataku terpenjara kala mengarah pada sesosok manusia. Aku mengalami rasa yang tak jauh beda dengan beratus pengunjung pusat belanja mewah ibu kota. Sesosok manusia, entah wanita atau pria--yang pasti tidak berusia bocah--santai melenggang diantara tatap kornea terperangah serta ingsut badan menjauh, dan memberi ruang lempang bagi sesosok manusia itu untuk leluasa melangkah. Dan! sesosok manusia itu seakan tidak merasa dirinya menjadi fokus perhatian massa yang tercengang! Dari raut muka sesosok manusia itu tak kulihat rasa jengah, seperti emosi yang pernah kualami saat seorang teman berkata: Hai, apa kabar? (dengan senyum lepas menghampar) ketika aku sedang melamun: apakah jawab yang harus kukatakan bila seorang teman datang, tiba-tiba, menanyakan kabar yang ada padaku.

Sesosok manusia yang berlesung pipi, bermata dua, bertelinga dua, berbibir, berhidung, beralis, berpelipis, berambut, berdada/berpayudara, berperut, berpaha, berkelamin, bertungkai, berlengan, berketiak, berpinggang, berjemari, berkuku, berlutut, bersiku, berbetis, berleher, bertangan, yang mampu menggodaku untuk meninggalkan secangkir kopi panas yang belum sedikit pun kuteguk.

Bergegas aku berdiri, lalu berlari, mengejar sesosok manusia yang telah melintas tepat tiga meter di depanku, sekitar tiga detik lalu.

Kulihat sesosok manusia itu bertengkuk, berpundak, berbelikat, berpantat, bertelapak, bertumit, berjalan.

Saat jarak antara aku dan sesosok manusia itu sudah semakin merapat, aku mengalami kebimbangan. Entah kenapa, mendadak tanganku terangkat, lalu mencoba menjangkau pundak sesosok manusia itu, lalu menyentuhkan kulit telapak tangan kananku ke pundak kirinya. Sesosok itu berhenti. Memalingkan kepala mengarah ke mukaku. Aku rikuh. Pandangan bola mata yang hitam milik sesosok manusia itu begitu bersahabat, seakan kami adalah teman lama yang pernah bertukar rahasia; hingga aku gemetar, gemetar, gemetar, bertanya: Ke.ke...na..pa.... ka-ka-.kak..ka--kau te..lan.jang.

Sambil senyum, sesosok manusia itu membalas, "Mode."

Aku pun tersenyum usai mendapat jawab dari sesosok manusia itu. Kami sama tersenyum. Sama perlahan mengangguk. Setelahnya, sesosok manusia itu memutar ruas-ruas tulang leher bersendi peluru mengarah ke muasal hadap. Bersamaan saat sesosok manusia itu memutar ruas-ruas tulang leher bersendi peluru mengarah ke muasal hadap, aku pun balik kanan. Saling membelakangi, kami berjalan ke arah kembali. Dan, aku tertawa! Tertawa membahana, hingga pengunjung pusat belanja mewah ibukotaterpaksa mengkuadratkan rasa terperangah!

Tiba-tiba,

aku merasa seseorang menyentuh lenganku. Aku pun berhenti sejenak. Palingkan muka ke kanan, muasal sentuh kurasakan. Disaat kami saling memandang, telingaku hanya sempat mendengar mula kalimat tanya dari seseorang yang menyentuh lenganku. Telingaku hanya sempat mendengar mula tanya, sebab jawabanku yang diakhiri tawa (sambil melangkah pergi ke kedai kopi hendak menunaikan tugas mencicipi secangkir kafein berteman hisapan nikotin) menumpas waktu yang dimiliki seseorang yang menyentuh lenganku itu untuk menuntaskan kalimat tanya yang utuh.

"Kenapa" :Mode!
TEH PAHIT
(Kisah Seteguk Teh Pahit Yang Melebihi Seribu Karakter)

Pukul 19.15, aku melintas di Jalan Palmerah Barat. Slipi. Tak sengaja, saat aku menoleh kanan-kiri, kulihat bentangan kain di depan sebuah rumah yang berhalamankan trotoar jalanan. Kain berukuran semeter kali dua, pink warnanya, berisi tulisan 'SEDIA TEH PAHIT'.
Karena keingintahuan, aku pun berniat singgah. Sebentar. Sekadar menjajal rasa apakah. Itulah yang ada dalam pikiranku.
Aku pesan segelas teh pahit yang belum kuketahui bagaimana rupa juga sedapnya. "Tehnya... ya, Mbak...," kataku. Aku kira, si Mbak yang berumuran sekitar duapuluhlima-an itu segera menyajikan segelas teh pahit. Eh, tak tahunya ia malah balas bertanya. Gelas besar atau kecil? Hah, apa pula maksud dia menanyakan hal itu?
Mengapa harus ada gelas besar dan gelas kecil untuk menikmati suguhan teh? Karena aku tidak memahami keinginan si Mbak yang berbaju coklat model terusan itu, dengan sedikit pongah aku menjawab, "Gelas besar saja." Ia agak terheran. Ia mengerutkan alis mata, meliukkan kepala ke bawah serupa kura-kura yang hendak menyimpang kepala dalam tempurung kalsium, lalu bicara, "Yang besar," dengan terbata-patah, pelan bersuara. Aku menimpali dengan gerak kepala saja, naik-turun sekali putaran.
Lantas, lekas ia mengambil gelas berukuran besar--itu bila dibandingkan dengan seluruh gelas yang ia miliki yang tertata di rak plastik warna pink yang tertutup kain lap yang sudah tidak bersih bermotif kotak papan catur. Gelas besar itu seukuran dengan gelas yang biasa dipergunakan untuk menikmati es teh manis di warung kopi milik Abdul yang berada di dekat tenda pemeriksaan mobil yang hendak masuk ke wilayah gedung perkantoran Media Indonesia atau MetroTV. Kalau yang kecil itu seukuran dengan gelas yang biasa akau pakai meminum segelas kopi hitam kental di warung kopi pinggir jalanan dekat lokasi prostitusi; sambil menunggu angka digital di hape SonyEricsson T290i milikku berbentuk: 03:24.
Si Mbak pun menuangkan teh pahit dari gelas logam kuning raksasa bertelinga yang mampu menampung air dari botol air mineral yang berharga lima ribu-an. Usai menuang, si Mbak menyerahkan gelas besar yang berisi teh pahit itu dengan rasa ikhlas. Segelas teh pahit hitam pekat plus kental sudah terhidang. Tapi, aku tidak merasakan kenikmatan dari rupa fisikal raut muka teh pahit hitam pekat plus kental yang terpampang di kedua bolamataku yang juga hitam--rupa teh pahit hitam pekat plus kental ini serupa dengan kopi kental yang hitam dengan sedikit rona transparan. Mungkinkah itu dikarenakan otakku terbuat dari kumpulan lemak-lemak warna putih? hingga aku tak mampu mencerna apa yang tercerap indera mata? Meski begitu, aku pasrah menerima--sepertinya aku merasa bakal ada bencana menyata sehabis aku bertaruh ada apa dibalik tulisan 'SEDIA TEH PAHIT'.

aKU MULAI MENCOBA. kUDEKATKAN SEGELAS BESAR TEH PAHIT KE MUKAKU. kUCOBA MEMBAUI. tAPI, TAK ADA BAU. pIKIRANKU PUN TAK MAMPU BEKERJA, MENGASOSIASIKAN APA YANG TERHIRUP HIDUNGKU DENGAN BERAGAM BEBAUAN YANG TEREKAM DALAM MEMORIKU. aNEHNYA, DI SAAT AKU TIDAK MAMPU MENGASOSIASIKAN JENIS BEBAUAN YANG TIDAK BERBAU DARI TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL ITU, TIBA-TIBA, MUNCUL PERASAAN IMAJINATIF BAHWASANYA AKU SAAT ITU AKU SEDANG MEMEGANG CANGKUL. yA, AKU MEMEGANG CANGKUL. aKU MERASAKAN BERAT DITANGAN MENJALAR HINGGA LENGAN LALU MERAMBAT KE TENGKUKKU SAMPAI-SAMPAI MEMBUAT LEHERKU MENEKUK KE KANAN; RASANYA SEPERTI SAAT AKU HENDAK MENGOLAH PETAK PERSAWAHAN BERUKURAN EMPAT KALI ENAM METER YANG SUDAH DIAIRI TIGA HARI, DI dESA kALISARI, kECAMATAN tELAGASARI, kABUPATEN kARAWANG, pROPINSI jAWA bARAT. tANGANKU SEPERTI MENAHAN BEBAN BERAT. yA, RANGSANG IMAJINATIF ITU BERASAL DARI KELELAHAN TANGANKU MEMEGANG SEGELAS TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL BERADA SEKITAR DUA ATAU TIGA SENTIMETER DARI INDERA PEMBAUKU. aH, ADA APA PULA INI?
aKU MULAI MENCECAP. sEBENARNYA, BUKAN MENCECAP, SEBAB TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL YANG MASUK KEDALAM MULUTKU--TENTUNYA SETELAH BIBIRKU BERSENTUHAN DENGAN BIBIR GELAS KACA BENING BERISI TEH PAHIT HITAM PEKAT PLUS KENTAL--TIDAKLAH BANYAK; DALAM PIKIRANKU PERBUATAN MENCECAP ITU HANYA MEMASUKKAN SETETES, PALING BANYAK DUA BELAS TETES CAIRAN KEDALAM MULUT. yANG AKU LAKUKAN, MENEGUK, SEPERTI YANG BIASA KUPERBUAT KETIKA MENIKMATI SEKALENG MINUMAN BERKADAR ALKOHOL LIMA PERSEN YANG BIASA AKU BELI DI WARUNG SERBA ADA YANG BERADA DI SEBERANG POS POLISI SAAT AKU PULANG MALAM HARI MENUJU RUMAH, LALU MASUK KAMAR, LANTAS MENULIS SEBUAH PUISI YANG TAK PERNAH JADI; MEMANG SESEKALI ADA YANG JADI, TAPI ITU TIDAK TERLALU BANYAK, KALAU BOLEH DIKATA: TIDAK PRODUKTIF.

bEGITU AKU MENEGUK, begitu lidahku merasakan pahit menyengat, dan sebanding dengan kecepatan lidahku dan otakku bekerja merasakan pahit menyengat, lidahku pun merasakan sedapnya es teh liang atau es liang teh yang pernah kuminum dua kali selama aku berada di Jakarta, kota metropolitan utama Republik Indonesia yang memiliki bendera berwarna merah-putih, merah di atas putih. Pertama, aku menikmati es teh liang atau es liang teh di kawasan Gadjah Mada dekat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah siraman terik matahari siang, dan sebagai gantinya aku memberikan dua lembar uang seribuan kepada penjual minuman es the liang atau es liang teh yang saat itu memakai topi rimba bundar warna coklat. Kedua, sepulangku membeli satu kilo kakap merah, satu kilo ikan kwe', tiga kilo cumi-cumi dan tiga kilo udang--semuanya menghabiskan uang Rp275.000--siang-siang di Pasar Ikan Muara Angke kubeli segelas es teh liang atau es liang teh seharga duaribu dari pedagang es tehliang atau es liang teh yang sedang nangkring berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang aku tidak tahu spesiesnya yang berada sekitar lima belas meteran dari pintu masuk pasar.
Saat aku sedang menikmati sedapnya es teh liang atau es liang teh, rasa pahit menyengat itu kembali merusakkan tatatan ImajINatIf YanG Sudah KubangUN TAnPa SAdar. MendAdAK, Aku TEringaT. PAHIt ini Pernah kuRASa. YA, Aku tidak SALAh. AKu yakiN. kuGAli SedaLAM-DalamnYA Rasa paHIT YAng kuRASAkan, lAlu kUbandingKan SEmirip-MIripnYA denGAN Rasa yANg pernAH Aku rasaKan di MASa-masA sebelUMnya, LALu muNCUllaH saTU kaTA dalAM KepalaKU. PEpaya! AKU terinGAt ramUan MinumaN YAng dibUAT Oleh ibuku DI Waktu aku MAsih Sekolah DASaR DUlu. RAmuan DAun PepaYA reBUs! DaUN Pepaya YANg direbUS berSAma air DIdalam Dandang yang DIletakkan di Atas perApian KOmpor gAs. liMA Atau deLApan helAi daun PepAYA yang MenJAri daN BerUKuran BeSAR di REBus BersaMA air DIDALam danDang yang diLetakkaN di aTAS PeraPIAn kOmpor Gas. Bila SUDah maTang, aPI Pun dimAtIKAn, daN aIR RebusaN DAUn pepaYa yanG berWarnA KehiJAU-HijaUAN itu DItuaNGKAN KedalAM gelaS YAng BesarnYA seukuraN deNgan Gelas BEsar teH Pahit hiTAm Pekat pLus KentAL Yang Sedang BeRAda DalAm GenggamAnKU ini. YA, Ramuan ituLAH yang Sering diMinUM IbuKu. KatAnYa, BuAt ObaT. KatAnya Lagi, BuaT AweT muDa. KataNya laGi, maU coBA? MungKIn Yang TerakHir Yang DIkaTakan IBuku kaRena TampangkU YAng TerheRAN-HeraN Melihat RutinITAs DIa di paGI HARI SEBElum aku BerangKAT SekoLAH; MulaI DAri MemeTik Daun PepaYA YaNG BErada DI beLAkang Rumah deKAT Kolam IKAN lelE yANg SudaH bERisi gurAME, MencuCI dAun PePAya, memAsukkAN Daun PepAYA kedDalam dANDang, mEgIsiNya DengAn AIR, MerebusNYa, lALu mendiDIH dan MenUANgkanNYA keDALam gelas SebeLUM dIA Minum HAngaT-HAngat.

Aku mencoba. Aku mendekatkan mulutku ke bibir gelas yang berada di atas meja makan dan mencecap seperti seekor anak ayam yang berciap-ciap hendak minum dari tatakan cangkir plastik. Selesai mencecap, aku menjauhkan kepala dari bibir gelas yang berisi air rebusan daun pepaya sambil memicingkan mata, menyinyirkan bibir, hingga urat-urat leherku pun kelihatan tegas, kaku dan jelas membengkak, sembari tanganku mengejang merapat ke sisi badan. "Enak?" itulah kata ibuku.
Saat tegukan pertama teh pahit hitam pekat plus kental meluncur masuk melintasi kerongkonganku, langsung tancap gas menuju usus dan lambungku, aku pun bertanya pada seorang ibu pemilik usaha itu yang duduk diseberangku; dan dia baru saja meminum segelas kecil teh pahit hitam pekat plus kental sekali glek! "Ini teh bahannya apa Cik?" Padat ia menjawab. "Saya juga tidak tahu. Ini ramuan teh pahit aja."
Kok bisa? "Saya sih tinggal beli. Di Kota juga banyak. Di toko obatnya, tinggal bilang teh pahit, langsung dikasih itu ramuan. Sisanya ya tinggal seduh saja."
Terus kegunaanya apa? "Macem-macem. Bisa ngilangin capek-capek, kencing manis, panas dalam. Nah, entar kalau dah abis tu teh pahitnya, coba deh tidur entar malam. Besoknya tuh kalo bangun tuh badan pasti entengan kaga' berat. Ga' kerasa apa-apa."
Disaat panjang lebar ibu turunan etnis Tionghoa ini menjelaskan tiap pertanyaan yang kulemparkan, di saat itu pulalah aku memperhatikan dirinya. Melihat ombak rambutnya yang pendek setengkuk, langsat kulitnya, baju dasternay yang berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, lalu mukanya yang tergolong belia tanpa keriput jelas yang tergambar nyata pada kanvas wajah--padahal bila kau menyimak pandangan mata atau senyumannya, terasalah bahwa si ibu yang berada di seberangku ini sudah memiliki, paling tidak satu cucu; meski aku tidak tahu pasti berapa sesungguhnya jumlah cucu dia.
"Buat darah tinggi juga bisa ya?" Ia menangguk sambil tersenyum hingga tampak empat kerutan menghias sisi kanan ekor sudut matanya. Dan, tiba-tiba, aku merasa bahwa wajah perempuan yang berada di seberangku terasa begitu dekat, akrab, familiar. Rasanya, aku pernah berjumpa orang seperti dia. Perempuan yang selalu terlihat muda meski usia sudah berbilang senja! Aku pun tersenyum. Kutanyakan berapa harga yang harus kubayar untuk melunasi pesanan segelas besar teh pahit hitam pekat plus kental dan dua bungkus kacang. "Empat ribu," kata si Mbak. Kukeluarkan empat lembar uang bergambar Kapitan Pattimura, kuberikan pada si Mbak, lalu berpaling ke si ibu yang berada di seberangku, "Bu, aku pergi ya." Ia mengangguk, senyum.
House Of Blues

(Pertama, saya mengajukan maaf, terutama pada yang empunya cerita; sisanya pada pembaca. Sebab seluruh tulisan yang bakal Anda baca merupakan kutipan tak-utuh, semampu saya mengingat apa yang tertulis, apa yang terucap, dari pencerita. Hak cipta berada di tangan yang punya cerita. Saya cuma mencuri saja!)

Di rumah, nama aku, Eka. Di luar rumah, nama aku, Eko. Di luar kota, aku dipanggil Eki.

Sekarang, aku Ketua Asosiasi Pedagang Kopi Se-Jatinegara. Di rumah kontrakan sisa peradaban jaman Belanda, aku buka usaha. Bagian beranda hingga pekarangan yang berlantai ubin, aku buat kedai kopi; lengkap dapur mini berkanopi; tiga meja bertapalak kain motif petak enam-empat; tentulah bersama kursi plastik tanpa sandaran, warna seragam, hijau.
Bagian dalam, ruang tamu, digubah menjadi toko buku. Ada lima rak buku, satu kloset duduk, satu meja kasir yang dilengkapi dengan satu unit komputer serta seperangkat saun sistem yang bergunan untuk menyuarakan ratusan lagu yang tersimpan dalam file MP-3; dan 2000-an koleksi buku.
Agak ke dalam, ada semacam ruang multi-fungsi, berada di balik kayu tiga lapis, pembatas antara dengan ruang jual buku. Bisa sebagai ruang pertemuan, juga ruang peristirahatan, bahkan ruang belajar, sebab dilengkapi dengan satu meja kaca bulat dengan empat kursi yang berbahan alumuniun menuju besi.
Setelah ruang multi-fungsi, baru kamar tidur.
Paling sudut rumah, pojok barat daya, kamar mandi. Satu kloset jongkok, satu bak penampungan air berisi satu ember besar yang juga berfungsi menampung air, semuanya berwarna biru serupa warna air laut.
Nah, sisa ruang yang ada, berantakan. Ada satu televisi empat belas inci (yang sudah rusak karena tersambar petir, sebab ketika hujan lebat turun, aku lupa mematikan listrik. Memang, ketika hujan lebat turun, aku bergegas memutus semua aliran listrik ke peralatan elektronik. Komputer, kipas angin, lampu, sudah aku padamkan. Kala itu, aku merasa ada yang masih kurang. Kira-kira apa ya? Nah, ketika tersadar, tipi pun meledug. Ya, sudah. Apes.), tangga kayu, kain spanduk, meja, kursi rusak, piring kotor, juga jemuran.

Sebelas bulan lalu, aku mulai buka kedai. Tapi, di enam bulan pertama, yang datang cuma satu-dua saja. Kebanyakan orang cuma melintas di jalan depan, entah hendak menuju Kampung Melayu atau Stasiun Kereta Api Jatinegara.
Di bulan ke-tujuh, kedai menggeliat. Sudah ada yang membeli secangkir kopi, indomie, indomie telor, burger, sosis, atau roti bakar.

Dulu, di bulan ke-berapa, ada orang datang ke kedai kopi aku. Menanya: Ada apa. Aku jawab: Tidak ada apa-apa. Orang menanya lagi: Di kedai aku tersedia apa saja. Kopi: kata aku. "Mau," aku menawar. Orang itu menggeleng, lalu menanya lagi: Kalau didalam apa, seraya kepala orang itu bergerak mengarah ke ruang tamu persis lenggok penari memainkan ruas belulang leher. Buku: kata aku. Seizin aku: Silahkan lihat saja. Orang itu pun masuk ke ruang toko buku. Dan, sekeluar orang itu dari toko buku, orang itu marah kepada aku. Orang itu marah: Jual Pram, kok tidak bilang-bilang. Lantas, aku beralasan, orang itu tidak menanyakan hal itu. Orang itu pun langsung duduk, memesan secangkir kopi. Selesai minum, orang itu pulang. Orang itu membayar Rp37.000; Rp34.000 untuk satu buku Pramoedya Ananta Toer, yang aku tidak ingat berjudul apa, sisanya secangkir kopi hitam asal Kalimantan. Kapan-kapan aku datang lagi: janji orang itu.

Sekitar delapan ratus meter, ke arah timur, di jalur jalan berportal seberang kedai aku, lokasi prostitusi gelap. Gelap karena beroperasi tiap malam hari, gelap karena beroperasi tanpa izin resmi. Biasanya, sekitar jam duabelas-an malam, ada saja perempuan yang dibonceng lelaki bertubuh tambun berkemeja putih. Mereka, menunggu dua orang teman perempuan dari perempuan yang dibonceng lelaki bertubuh tambun dengan kulit gelap. Setelah dua teman perempuan dari perempuan yang dibonceng lelaku bertubuh tambun itu datang, motor roda dua itu pun dipacu, ditunggangi empat manusia menuju arah utara, arah ke Stasiun Kereta Api Jatinegara. Terkadang, mereka mampir dahulu, entah membeli sebungkus rokok Sampoerna Mild, atau bertanya: Ada apa di dalam rumah. Lantas, kalau sudah aku berikan apa yang mereka minta, entah itu rokok pesanan atau jawaban ke-ingintahu-an, mereka pun gampang angkat kaki, pergi.

Pernah suatu ketika, jeger kampung datang ke kedai aku. Perawakan dia tegap, se-kreket, tato se-gambreng. Umur dia, pengakuan jeger kampung, enam puluh tahun. Istri dia, pengakuan jeger kampung, tiga. Dia nanya: Aku jual apa. Aku jawab: Kopi. Dia nanya lagi: Ada bir ga'. Aku jawab: Tidak. Dia menyarankan, agar aku menjual bir juga. Itu syarat minimal berdagang di dekat lokasi prostitusi. Selain bir, anjuran dia: Mansion, Jack Daniel, Topi Miring, Contreau, Chivas Regal, Cognac, Jhonnie Walker dan Martini. Soal keamanan, dia berani menjamin. Saya pasang badan, kalau ada polisi atau koramil datang: janji dia. Aku jawab: Tidak bisa. Dia nanya: Kenapa.
Aku jawab:
Aku sudah lama tidak minum alkohol. Kalau dulu, boleh. Mau minum apa saja, masih bisa. Sekarang, badan aku sudah tidak kuat lagi nerima alkohol.
Dia ngomong:
Alkohol itu buat dijual sama orang lain. Dan, (aku) tidak usah meminum.
Aku jawab:
Itu pertama. Kedua, aku sudah jatuh kata. Ke bawah sama ke atas. Ke bawah, aku tidak ingin ada setetes pun alkohol yang mengikut aku ke dalam tanah. Ke atas, aku janji tidak meminum setetes pun, apalagi menjual. Nah, karena aku suka ngopi, aku jual kopi saja. Aku bisa buat kopi, bagi aku enak rasanya. Dan, aku buatin sama orang. Enak juga. Buktinya, kopi buatan aku habis. Itulah keahlian aku.
Dia pun lantas memesan kopi. Kata dia: Kalau begitu, aku pesan kopi. Aku buatkan dia kopi-mix instant, sesuai pesanan. Selesai minum, dia menanyakan harga. Niat aku ingin menggratiskan, aku utarakan. Dia, marah. Tidak! Berapa harganya: bentak dia. Aku pun langsung memberitahu. Seribu: kata aku. Dari saku celana kanan, dia mengambil selembar uang seribu. Sebelum pergi, dia berkata: Nanti, aku datang lagi. Sama istriku!: dia berjanji.

Saat lain, polisi singgah di kedai aku. Mereka duduk, nge-rekap surat tilang. Mereka pesan minuman. Ada yang pesan kopi, teh manis, juga indomie rebus pakai telor. Lantas, salah satu dari mereka bertanya: Di dalam apaan. Buku: jawab aku. Salah satu dari mereka bertanya lagi. Buku apa? Aku menjawab bahwa buku yang aku jual kebanyakan sastra. Salah satu dari mereka mengangguk, berkata: O. Lalu, salah satu dari mereka menanyakan harga semua pesanan. Aku menjawab: Semua, tujuh rebu lima ratus. Salah satu dari mereka membayar dengan uang sepuluh ribuan. Aku kembalikan dua lembaran uang seribu dan sekeping uang lima ratus. Mereka pun pergi.

Yang paling parah, beberapa bulan lalu. Ada orang datang. Namanya, Erwin. Pekerjaan: musisi. Sering manggung di Slipi, Blues Bar. Kadang di Batavia Cafe, dan tiap Rabu mengisi acara Blues Night di TVRI. Erwin itu marah sama aku. Sebabnya plang rumah di pintu masuk toko buku. Tulisannya: H-O-U-S-E O-F B-L-U-E-S. Bahan tiap-tiap huruf, besi bersepuh emas. Erwin bilang: Kok berani-beraninya aku meletakkan tulisan itu di tembok rumah, tepat di atas pintu masuk toko buku. Apakah aku tahu artinya: tanya Erwin. Erwin menyuruh aku mencabut plang berisi tiga barisan kata-kata tersebut. Alasan Erwin, aku tidak layak memajang tulisan itu bila aku tidak mengadakan acara berbau blues. Erwin bilang: Blues itu religi. Erwing bilang: Kalau aku berani memampangkan tulisan itu, aku harus berani mengundang musisi blues mampir ke kedai kopi aku. Erwin tanya: Aku bisa main gitar tidak. Erwin tanya lagi: Sudah berapa buku blues aku baca. Erwin tanya lagi, apakah aku mengenal nama musisi blues yang Erwin sebutkan. Semua pertanyaan itu aku jawab: Tidak, Sedikit, Tidak ada, Tidak. Erwin makin marah. Plang itu semakin tidak layak menggantung di rumah kontrakan aku, menurut pendapat Erwin. Erwin mengancam: Besok aku datang, palng itu harus sudah tercabut.
Aku jawab:
Perlu waktu duapuluh tahun aku mendapatkan plabg bertuliskan 'HOUSE OF BLUES' itu. Mulai dari meminjam uang sedikit demi sedikit, hingga menabung seperak-dua perak. Itu sejak dulu, duapuluh tahun lalu. Awalnya, palng hendak berisi tulisan 'HOUSE OF RISING SUN'. (Judul lagu kelompok band Animals.) Itu karena, rumah kontrakan aku ini merupakan rumah yang pertama kali terkena sinar matahari pagi di jalan ini. Jadi, aku berharap ada kehangatan, ada harapan yang selalu terbit di rumah kontrakan aku ini. Tapi, sewaktu membeli huruf-huruf besi itu di Carefour Jalan MT. Haryono, uang aku tidak cukup. Bersama seorang teman, aku duduk di pelataran luar Carefour. Tulisan itu pun diutak-atik, disesuaikan dengan kemampuan uang yang aku punya. Aku hanya punya uang Rp60.000. Teman aku mengusulkan: Buat 'HOUSE OF BLUES' saja. Alasan teman aku: Aku penyuka musik blues. Aku setuju. Jadilah huruf-huruf kalimat tersebut aku beli, lalu aku susun di atas plang besi hitam, dan aku pampangkan di tembok atas pintu masuk ruang toko buku. Rencananya, tulisan itu nanti berpigura tanaman merambat yang aku tata melengkung memenuhi tembok tempat pintu masuk. Menyerupai kubah, niat aku.
Erwin bertanya: Apakah aku punya gitar. Aku punya, dan mengeluarkan gitar yang tersimpan di dalam ruang multi-fungsi yang berada agak di dalam rumah. Aku memberikan gitar itu kepada Erwin, untuk Erwin mainkan. Erwin pun memainkan musik blues dengan mata memejam. Erwin sempat bertanya: Ada bir tidak. Aku jawab: Tidak. Erwin pun bermain gitar lagi. Tiba-tiba Erwin bilang: Minimal aku harus menyetel musik blues di kedai ini. Itu baru melayakkan rumah kontrakan aku ini menjadi 'House Of Blues': kata Erwin. Sebab: Di Indonesia, belum ada tempat yang bernama House Of Blues. Itu penjelasan Erwin. Permintaan Erwin pun aku penuhi. (Sesekali waktu aku menyetel musik blues. Apalagi kalau Erwein singgah mengaso sebentar sebelum pulang ke Ciracas, sehabis manggung. Biasanya, sebelum pulang Erwin bilang: Sekali waktu aku menonton saat Erwin manggung. Mengenai tiket masuk atau apapun, Erwin yang bayar. Janji Erwin. Aku cuma menjawab: Kalau sempat bolehlah. Aku berkeinginan.) Saat asyik bermain gitar, tiba-tiba lagi Erwin berkata: Bisa ngebakar gress ga di kedai aku. Aku jawab: Lebih baik jangan. Erwin pun mengikut. Erwin main gitar sampai puas, dan aku terkesima. Lama berselang, Erwin pulang. Kapan-kapan, aku datang lagi: Erwin berjanji.

Di kedai ini, aku menjual kopi. Sesekali aku menyetel musik, mulai dari hard rock, heavy metal, rock 'd roll, jazz dan blues. Siapa yang datang, silahkan memesan menu makanan atau minuman yang ada, jangan mencari yang tidak ada dan tidak aku perbolehkan ada; juga melihat ke dalam ruang toko buku; atau sekadar cuma duduk di kursi plastik hijau tanpa sandaran sebentar. Kalau siapa yang datang mau bercerita, aku menyilahkan. Aku bisa berperan sebagai pendengar. Kalau siapa yang datang cuma mau berdiam, aku memperbolehkan. Kalau siapa yang datang tiba-tiba setuju bekerja sama untuk menghasilkan uang dengan berusaha bersama, aku mempersilahkan. Aku tidak akan meminta persenan. Aku malah bersyukur, siapa yang datang malah mendapat rezeki dari kedai kopi aku ini.

Aku cuma menjual kopi. Pilihan yang aku tetapkan sepulang dari Tanah Suci.
Memintal Ikan

Gelombang lapuk berenang renang, menghisap
belulang penggerutu gelandang mencandu
benang benang mereceh
khianat, berkhidmat.

Sengat kail selinap
merebus kelenja bungkuk,

ribuan lengan lunglai bintang bintang memintal
perut perut bertindik senyum
para perawan, mengerat selendang

berpesta dalam pesawat liburan panjang

di mata ikan, j t h.
Everybody Going Mad Because of The Oil Price

Tante Tia, 30-an, owner warteg 'Sederhana'. "Es batu aja nih..., naek serebu!!!"

Yadi, 38, driver M-06A Gandaria-Kampung Melayu. "Lima belas rebu buat apaan? Ngebunuh orang kok lambat amat?"

www.tempointeractive.com, Jumat, 14 Oktober 2005: Pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito dan Rumah Sakit Grhasia Propinsi DI Yogyakarta meningkat 100 persen.

www.detik.com, Jumat, 14 Oktober 2005: Elpiji langka pertanda bagus! Demikian Jusuf Kalla cerita.

Kompas, Rabu, 12 Oktober 2005: Probosutedjo sudah habis Rp16 miliar. Dia bercerita di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bobby, 28, karyawan swasta, senja. "Gua, numpang dong. Pliz..."

Antara, Jumat, 14 Oktober 2005: Gepeng di Bandung Naik 10 persen, selama bulan puasa.

www.detik.com, Jumat 14 Oktober 2005: Gaji anggota DPRD DKI Jakarta naik jadi Rp50 juta. Sutiyoso: Biar tidak korupsi!

Jonni, mahasiswa drop out pe-te-en terkemuka di Indonesia-cum-aktifis abadi. "Anj*** Ba** Ng*** SBY-JK T**!!!"

P'lai, seniman plus bohemian. "Sekali bercinta, sudah itu lari!!!"

Antara, Jumat, 14 Oktober 2005. Garuda nambah kursi 29.550 sambut Lebaran 2005.

Kaka, 23, kenek Mayasari Bakti, siang hari. "Gopek lagi, om!"

Antara, Jumat, 14 Oktober 2005: PNS di Yogyakarta stres.

Tiara, 30, warga Gang Kelinci, anaknya Pak RT.05. "Kok bisa ya."

George, bule, turis. Ngider di Sarinah Plaza, pake sandel jepit, baju kaos doang, celana hawai-ian, eh... sales counter senyum-senyum.

Wahyudi, korban penganiayaan militer. "Saya lagi ngopi di warung, tiba-tiba dia nyamperin. Lah di Mulus yang jidatnya nongol itu digebuk. Pala' saya juga digetok. A**!"
Secangkir kopi sudah terhidang. Aromanya meruap bersama asap yang mengambang melayang. Ia pun membuka komputer tenteng, lalu mulai mengetik. Kalau aku tak salah, baru kali ke-enam jarinya menjentik tuts kibor, ia berhenti. Lalu, ia memegang telinga cangkir Vienna, mengangkat perlahan menuju ke bibir. Bibirnya menipis seraya meniupkan udara, hendak mendinginkan kopi. Setelah dirasa cukup, ia pun mulai mencecap perlahan. Dengan mata memejam, ia hempaskan senyum lepas yang membayang di pelataran wajah. Ia menarik nafas sedalam mungkin, seakan berniat memasukkan sebongkah batu karang ke dalam rongga dada. Lalu, dengan tawa seringai, ia belalakkan kelopak mata, dan! membanting cangkir. Prang!, setidaknya seperti itulah bunyi derai kaca pecah.
Lagak tenang, ia pun melanjutkan mengetik kembali. Aku tak pernah mengetahui apa yang sedang ia tulis. Gugup, aku memberanikan diri melangkah, menanyai ia. Pertama, aku mengajukan kata: Maaf. Lantas, bersambung kalimat: Mengapa kau pecahkan gelas itu. Seusai bertanya, aku hanya bisa mengingat ia mengalihkan mata ke aku, dengan alis merendah. Seakan ia mengintai. Begitu tajam dan dekat. Usai memindai, ia pun berpaling ke laku awal. Memesan secangkir kopi.
0.5 ...

Seorang teman tiba-tiba menyambangiku, kala aku lelap tertidur. Ia menggoyang tubuhku hingga bergoncang. Aku pun terbangun, mengucek mata, dengan pandangan mengiba. Sebab untuk berkata 'Ada apa' atau 'Kenapa', aku tak sanggup. Aku hanya ingin kepengertian ia, lewat mimik muka mengharap, 'Tolonglah kawan, jangan sekarang. Besok atau kapanlah, seusai kunikmati tidur yang baru saja sampai di pelataran mimpi.' Tapi, ia tetap menggetarkan tubuhku. Terpaksa--bukan karena ingin mengetahui ada apa, melainkan lebih disebabkan sudahi segera ganggumu itu--aku bangun.
Perlahan kuanjakkan tubuh beringsut, hingga setengah tegaklah kuda-kuda tubuh disangga pantat, menyender pada rangka ranjang. Sebenarnya, aku masih setengah tertidur. "Ada apa," kataku dengan nada datar, tanpa lenggak irama legato. Dari sayu mataku, kulihat bibir berujar tak jelas. Lantas, kucoba mengecilkan sayu kelopak mata, agar sayup suara ia terdengar lumayan jelas. Aku pun bertanya ulang, dengan nada mendesah, untuk sebuah pertanyaan yang sama, "Ada apa?" Ini kali, kurasa jelas, aku melempar sebuah tanya kepada ia dengan cengkok yang keingin-tahuan yang mendalam; meski aku tak menyadari hal itu, bagaimana bisa terjadi.

"Kau baca tidak itu koran beberapa hari lalu. Front Pembela Islam mengadukan pameran CP Bienalle 'Urban/Culture' di Museum Bank Indonesia ke polisi. Kau mau tahu kenapa?"
(Kalau aku tak salah mengingat, seperti begitulah kalimat yang ia sampaikan dengan nafas menggebu-gebu serupa babi dikejar pemburu, selamat langsung berteduh dan berbincang dengan sahabat yang juga luput dari kepungan.)

"Cuma karena foto rekayasa. Foto Anjasmara dan Elisabeth yang telanjang. Itu karya kolaborasi Dany Linggar sama Agus Suwage. Nah, kalau kau baca editorial koran..., ah... entah koran apa itu, aku lupa namanya. Disitu disebutkan, mereka, maksudku koran itu, setuju dengan tindak pelaporan FPI. Alasannya, karena negara kita negara hukum. Segala sesuatu harus melalui aturan, ada prosedur hukum, tidak asal hantam, tidak asal-asalan ganyang. Tapi, seingatku pula, seorang temanku sempat berkata, di negeri ini sebenarnya bayi lahir sudah tidak lagi menangis. Aneh. Ah, tapi apapun itu, aku agak bersependapatlah dengan editorial koran yang kulupa namanya itu."
(Aku menarik nafas pelan tapi panjang. Kuhembuskan dengan ketukan yang tak jauh berubah dari saat awal aku menghirup ke dalam rongga dada. Aku lupa, apakah ini yang benar ia ucapkan, atau...)


"Tapi, aku curiga. Sebenarnya, ada apaan sih? Apa pula pasal FPI mengadu ke polisi? Semampunya aku mencari tahu, lalu menjadi sok tahu berdasarkan informasi yang sebenarnya aku tidak tahu pasti bagaimana mereka, maksudnya pemberi informasi itu, mendapatkan fakta. Tapi setidaknya, bermodal ragam infotainment ataupun info-tak-tainment, kudapatkan ihwal pelaporan. Sebabnya, foto rekayasa itu memiliki kencenderungan untuk menodai suatu agama tertentu. Memang ada sih alasan lain yang disampaikan. Tapi, aku kira alasan itu hanyalah sempalan saja. Dibuat sebisa-bisanya saja, menambah kesalahan. Dibilang, itu Anjasmara dan Elisabeth kan selebritis, public figure, dan macamlah predikat tak jelas, yang tak kumengerti. Terus, karena mereka itu selebritis, artis, public figure, tak bolehlah berbuat tak senonoh juga seronok begitu. Anjas sama Elisabeth itu jadi panutan publik, apa yang mereka lakukan, ada kemungkinan ditiru publik. Anjasmara dan Elisabeth tidak boleh menjadi pelopor tabiat selangkangan (Eh, kau ingat pula bukannya aku mendorong mereka berdua untuk menjadi pelopor tabiat selangkangan, tapi kau dengar dulu lanjutanku). Jelaslah taik kucing. Emang, kalau Anjasmara itu siapa. Dan, publik mana pula yang menjadikan Anjasmara panutan. Logika macam apa yang dipakai untuk menalar bahwa Anjasmara cocok diposisikan sebagai teladan. Padahal, publik cuma tahu Anjasmara itu lewat tokoh yang ia perankan. Anjasmara sebagai Encep, Anjasmara sebagai Romi, Anjasmara sebagai..., ah entah siapa lagi, yang pasti Anjasmara bukan sebagai Anjasmara. Tapi, lakon! Bukankah ini kedunguan terbesar. Baik yang membuat statement, yang menyebutkan Anjasmara itu panutan; atau mereka yang menjadikan Anjasmara panutan hanya karena menonton sinteron Cecep, atau yang lain. Kedunguan. Ketololan. Kebodohan. Dan, pelaporan itu didampingi oleh seorang pengacara, yang entah siapa namanya, yang mengikutsertakan, ini kalau aku tak salah, statement Anjasmara panutan. Pengacara dungu. Buat apa dia belajar hukum, bila lojik berpikirnya pun ngacau sengacau-ngacaunya hingga bagiku ia tampak meracau balau."
(Aku menguap. Kepalaku berbantun, mengantuk dinding kamar.)

"Lah, bagiku alasan sempalan itu menyimpang dan tak perlu diperdebatkan. Soalnya, kalau berdebat itu, tidak akan ketemu kebenaran. Jalannya saja sudah menyimpang, bagaimana ketemu jawaban. Jadi, yang utama itu alasan pertama. Foto itu diindikasikan menyindir, menodai suatu agama. Disebutkan, ini lagi-lagi dalam artikel yang kubaca; dan lagi-lagi aku lupa berasal dari mana, foto Anjasmara dan Elisabeth mencitrakan Nabi Adam dan Hawa ketika berada di Taman Firdaus. Nah, kalau ini aku kagum. Luar biasa. Bagaimana FPI berpikir, ah..., katakanlah menafsirkan gambar foto tersebut hingga ke level itu. Sebab, aku sendiri pun belum tentu dapat memaknainya dengan perspektif tersebut. Paling banter, aku cuma bilang: 'Gimana sih caranya ngebuat foto begini.' Atau 'Idenya gila ih...' Atau 'Anjing!!!' Sekali lagi, luar biasa. Imajinatif sekali cara mereka menafsir. Tapi, sayangnya entah mengapa menjadi menodai agama tertentu aku tak tahu jelas muasalnya. Yang pokok, itu foto rekayasa, ingat foto rekayasa, sudah disimpulkan menodai agama tertentu dan harus dihentikan itu pameran. Anjing! Tai' banget ga'?"
(Entah mengapa, aku cuma terangguk-angguk. Mataku kembali layu. Seakan palu godam karet menghantam kepalaku. Dan ia, masih terus berceloteh,... seingatku samar.)

"Aku jadi mikir. Apakah benar, agama dapat dijadikan landasan mengklaim, menilai, sesuatu itu salah, tidak tepat, bahkan amoral. Benarkah demikian? Perlu kau tahu, aku bukan dalam posisi meniadakan unsur agama dalam perikehidupan sehari-hari. Sebab, agama sebagai dialog antara Khalik dengan karya-Nya, juga berpotensi menghorisontal , antar sesama buatan-Dia. Tapi, disini kita berbicara foto rekayasa sebagai seni. Itu batasan yang harus diingat. Seni. Seni. Seni. Seni. Seni. Sekali lagi. Seni!"
(Ia mencengkram erat bahuku. Menggetarkan, seperti hendak memecahkan tubuhku. Aku cuma bergoncang. Kepalaku bolak-balik mengantuki dinding. Aku membandul, maju dan mundur, lalu memukul dinding berbahan batu, bunyinya: tengg...., tengg.... tengg....)

"Nih, berdasarkan literatur yang aku baca, tapi aku lupa lagi buku apa itu, dan siapa yang menulisnya. Yang pasti aku pernah baca, serta mengingat sedikitlah. Dibilang buku itu ke aku, agama memiliki peran sebagai media menuju kebenaran. Agama, jalan kebenaran. Tapi, ini tambahan yang kuberi, ketika agama dipergunakan untuk menilai segala sesuatu di luar porsinya, maka bukan kebenaran yang didapat, malah kebanalan, kedangkalan, kecetekan, ke-tak-rasional-an, kesewenang-wenangan, kesemena-menaan. Sebab, sepengingatan aku, ragam jalan menuju kebenaran. Ada yang melalui ke-ilmu-an, ada yang melalui filsafat, ada juga yang melalui seni. Kalau lewat jalan ilmu, kebenaran empiris, ilmiah. Filsafat itu, lagi-lagi menurut buku yang kubaca, lewat perenungan. Nah, kalau seni itu mengenal kebenaran melalui perasaan.
Lha, wujud rasa inilah yang abstrak. Masalah timbul, ketika apresiator yang tidak memiliki latar belakang ilmiah seni, atau bakat interpretasi karya, mendadak menilai dengan klaim mutlak dan tak mau berdialog. Tentu saja, tindakan FPI mengapresiasi tidak salah. Yang salah, tindak pelaporan hukum. Aku tidak suka! Bayangkan, pameran itu pun sampai dibatalkan. Dihentikan dari jadwal semula. Kuratornya, Jim Supangkat, ini lagi-lagi kubaca artikel entah dari mana, merasa sedih. Anjing engga? Jadi, ketika mereka menfasir tidak salah, menyimpulkan tafsir juga tidak. Tapi, kalau sudah menjadikan itu klaim mutlak dan mengadukan ke muka hukum yang tidak tahu dimana berada mukanya, itu menjadi grhh... Menurut, lagi-lagi bacaan yang entah apa itu, kawan kuharap kau bersabar menghadapi isi ingatanku yang payah ini, eksekusi akhir dari karya seni adalah indah atau tidak. Bagus atau jelek. Perlu dicatat, eksekusi akhir seni yang dibuat manusia, bukanlah berada dipilihan dosa atau tidak; sebab otoritas dosa itu berada di kepala-Nya. Bukankah Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKKB) dari kepolisian pun berubah sebutan jadi Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
Sebenarnya, fenomena pelarangan ini sudah berlangsung lama. Misal, pelarangan film 'Buruan Cium Gue!!!', pelarangan terbitnya buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, pelarangan pementasan teater Marsinah oleh Satu Merah Panggung-nya Ratna Sarumpaet, atau pergelaran Bengkel Teater Rendra, pentas puisi Wiji Thukul, juga pencekalan goyang nge-bor Inul, atau cerpen Langit Makin Mendung-nya Ki Panji Kusmin, yang sampai menyeret Hans Bague Jassin bersaksi di pengadilan; juga beberapa kasus di luar negeri, semisal pelarangan novel 'Satani Verse' Salman Rusdhie, Dan Brown dengan 'Da Vinci Code' yang dikecam gereja Vatikan, atau 'Animal Farm' karya George Orwell, dan masih ada yang sejenis lain.
Jelaslah intinya, bermuara pada kekuasaan. Kekuasaan yang terancam, menyebabkan timbul kerja represif. Kerja menekan, memeras, menghancurkan yang bersuara beda. Tapi, memang demikian seharusnya sebuah karya seni. Ia memang diwajibkan menawarkan suatu nilai baru kepada masyarakat. Dan, masyarakat yang tidak siap, membangun sistem pertahanan, mengeluarkan serum anti-bodi untuk mengebiri keampuhan nilai baru itu. Sederhananya, ibarat virus H5N1, yang membuat para pakar bekerja keras, karena kekuasaan manusia di bumi bakal berakhir karena virus ini menawarkan cara cepat dunia menuju kiamat.
Itulah yang berbahaya. Ketika simpulan final interpretasi mewajibkan sebuah karya mengalami intimidasi. Sebetulnya, jika apresiatornya menyadari tugas seorang seniman, ini lagi-lagi aku ambil dari buku, yang lagi-lagi aku tidak ingat siapa dan apa buku itu, tugasnya adalah menawarkan nilai baru. Memang, aku tidak naif. Ada sedikit keyakinanku yang berkata, 'Ada juga sih seniman yang tidak mikirin nilai baru.' Soalnya, ada dua mainstream besar di dua seni. Seni untuk seni dan seni untuk masyarakat. Tapi, dalam tingkatan praksis, itu semua menjadi luruh. Pilihan itu ada hanya didalam diri seniman. Bagi penafsir, ia bebas berjalan. Lagian, kan ada yang namanya kurator. Kurator itulah menjadi jembatan penghubung antara karya dengan publik penerima. Kurator itu seperti nomor telepon. Nomornya dulu kita tekan, baru tersambunglah kita ke tujuan. Dan, untuk menjadi kurator ada disiplin keilmiahan yang harus mereka pelajari. Berarti, publik penyerap, apalagi yang tidak punya latar seni atau latar nyeni, lebih baik mendengarkan ucapan kurator. Ada juga kok kenikmatan tersendiri mendengar ahlinya bicara. Tapi, kalau ada latar seni atau latar nyeni, bolehlah ia sedikit beradu argumen dengan kurator itu. Tapi, eksekusi akhir tetap jadi ke pribadi. Sebab seni itu, demikian mutlak sehingga ia harus rela di-realitif-kan. Nah, untuk kalimat ini, aku tak punya penjelasan panjang lebar. Yang jelas, aku tak suka karya dilarang-larang. Memangnya, kalau sudah dilarang, lantas yang namanya pornograpi itu, hilang. (Padahal, pornograpi itu sendiri yang bagaiman tak jelas juga ia punya rupa.) Benar, kalau aku tak salah ingat ada seorang ahli hukum yang berujar, lagi-lagi aku lupa siapa dia, dimana dia ngomong, tapi ujarnya kira-kira begini, 'Hukuman mati jelas mengurangi kejahatan. Karena, dengannya satu penjahat berkurang.' Lantas, apakah benar demikian? Ah, tak tau-lah aku."
(...............)