RISALAH INI SAYA NIATKAN SEBAGAI SAJAK MENGENANG KEMATIAN, ENTAH ITU SATU MINGGU, TIGA PEKAN, EMPAT PULUH HARI, ENAM TAHUN, 387 TAHUN ATAU SEABAD ATAU MALAH MELEBIHI UMUR MATAHARI—SEBAB, BAGI HOMO SAPIENS, TERLAMPAU BANYAK PELAJARAN YANG BISA DIPETIK DARI KISAH KESUKSESAN; SEDANG NARASI KEMATIAN HANYA MENGHIDANGKAN KESIA-SIAAN

Saya bukan orang amerika, sedang ke-indonesia-an saya sendiri masih saya ragukan apalagi bila sepasang kaki saya masih menjejak dalam ruang teritori geografis tanah indonesia. Dan bila ditanya apa itu amerika, saya hanya bisa menjawab: bukan saya; sedang bila ditanya apa itu indonesia, saya bakal bertanya kembali: indonesia itu apa? Bila hanya sebatas kedaulatan fisik menyangkut ruang geografis, saya pikir situs-situs internet anomin bisa menjawab lebih spesifik, tepat, memadai, dan elegan pula.

Tahun 2006, kalau saya tidak salah disebabkan ingatan saya yang tak terlampau paten, kampus Virginia Tech menjadi lokus baru peradaban amerika yang sudah kadung menenarkan diri sebagai kiblat humanitas dan demokrasi. Dan di 2008, peristiwa serupa kembali terjadi. Ada mahasiswa yang menembak mati dua orang, dan kemudian: bunuh diri.

Entah di tahun berapa, saya pernah melihat berita di televisi, anak sekolahan menengah pertama, kalau saya tidak salah, di provinsi jawa barat, masih kalau saya tidak salah, mencoba bunuh diri. Caranya dengan menggantung diri menggunakan sarung, kalau saya tidak salah. Entah siapa nama anak itu, saya lupa! Tindakan nekat bunuh diri dia ambil sebagai solusi ekspresionisme-individual-kontemporer-indonesia dikarenakan dia (baca: atau tepatnya ayah dan ibunya) tidak bisa membayar, kalau saya tak salah, uang ekstra-kurikuler. Saya bukanlah peneliti yang mencoba menghubung-hubungkan bunuh diri dengan ekstra-kurikuler dalam prinsip kausalitas. Yang pasti, di indonesia, nyawa bisa melayang karena uang.

Entah di tahun berapa, yang jelas di masa orde baru, sahabat saya berkisah. Ada temannya yang bunuh diri dengan menggunakan pistol bapaknya. Peluru menembus kepalanya. Kisah tragis-realis yang nyaris menjadi bahasa komikal-verbal-dan menakutkan dalam kepala saya.

Baru-baru ini, ada pentas musik, yang diberitakan massal beraliran underground, di bandung. Disebut pula sebagai konser maut. Alasannya, ada nyawa yang melayang—entahlah, saya tak berani menduga karena uang.

Kematian adalah kepastian. Bila apa yang disebut ‘kepastian’ dibantah, bukan persoalan bagi saya. Dan, untuk mengurangi kadar perdebatan yang besar karena kata ‘kepastian’, saya menurunkan derajat ‘kematian adalah kepastian’ ke tingkat paria. Kematian adalah pilihan. Kematian sebagai pilihan sadar, atau kematian sebagai pilihan tak-sadar. Entah itu kematian sebagai pilihan sadar dan kematian sebagai pilihan tak-sadar, bagi saya: keduanya persoalan gawat!

Bicara soal kematian sebagai pilihan, berarti menyinggung soal ekspresi personal. Mudah-mudahan tidak menjadi ekspresi-komunal sebagaimana yang ditawarkan David Koresh di abad 20 yang telah lampau. Merenungkan ekspresi punya dampak keharusan mengangkat represi. Bicaranya pun jadi lain lagi: kultur.

Dari telaah psikoanalisa mekanis-struktural ala Freudian, instrumen mendasar manusia adalah libido yang mengejawantahkan diri sebagai id di dalam pikiran manusia. Sedang di dalam pikiran manusia itu sendiri, ada pula perangkat lain: ego dan super-ego. Ada bawah-sadar dan sadar bagi ego dan super-ego di dalam pikiran manusia, sedang id murni bawah-sadar pikiran manusia. Di dalam pikiran manusia, ego menjadi wadah pertempuran antara represi id dengan represi super-ego yang mewajibkan ego menyalurkan represi pada tingkatan ekspresi tanda-verbal-leksikal. Persoalannya, mati menjadi saluran ekspresi tanda-verbal-leksikal.

Apakah sastra harus mengambil peran sebagai ‘yang bertanggung-jawab’, ‘yang menerangi jiwa-jiwa’, serta segala macam ‘yang’ utopia lainnya. Utopia yang berasal dari ekspresi personal, yang berakar pada ekspresi tanda-verbal-leksikal, bahkan mencoba meresap ke dalam benak pembaca sastra amatir, misal saya. Apakah Tuhan memang kesepian? dan butuh boneka-boneka robotik untuk menemani kesendirian-Nya? Meski saya punya jawaban sendiri, sebagai bentuk penghormatan saya pada fisikawan mutakhir millenium dua Albert Einstein, saya putuskan ambil jawaban: Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menciptakan dunia.

Dazed and Confused. Led Zeppelin. Apakah haram menggunakan penggesek biola saat bermain gitar elektrik sebagaimana yang dilakoni Jimmy Page?

Lima bait pertama mengisahkan bunuh diri, kisah kematian adalah pilihan, kisah kematian adalah pilihan sadar dan pilihan tak-sadar. Apa pun bentuknya, sadar atau tak-sadar, setiap pilihan adalah ekspresi personal, eskpresi tanda-verbal-leksikal. Ironisnya, di amerika, bunuh diri sudah melengkapkan diri dengan membunuh. Di indonesia, bunuh diri masih berupaya mengutuhkan dirinya. Untuk kasus konser maut di bandung, saya mohon ampun dahulu sebelum melangkah lebih jauh, ada kekhasan tersendiri (saya bakal membahasnya dalam sub topik yang terpisah dan sebisa mungkin saya usahakan jernih hingga tak sampai mengungkit luka lama; sebab, menurut saya, setiap kematian seharusnya punya hikmah).

Sedikit menyinggung Aristotelian dalam tafsir yang disesuaikan dengan semangat zaman. Politik adalah ‘ayah’. Apakah ‘ayah’ yang melahirkan represi? Saya mohon maaf pada Aristoteles. Dalam kerangka pemikiran idealistik, saya sependapat dengan ‘Politik adalah ‘ayah’’. Namun, kendala deviasi yang muncul dikarenakan saya berhadapan dengan realitas, membangun kerangka materi baru dalam kepala saya. Forma dan substansi yang lahir di zaman dahulu kala sudah tak lagi memadai di masa kontemporer. Politik adalah kendala, bagi saya. Politik adalah kendala merupakan realitas deviasi yang lahir dari realitas idealitistik, politik adalah ‘ayah’. Beralihnya realitas deviasi dari realitas idealistik menghasilkan represi. Setidaknya, saya melihat politik adalah kendala dan politik adalah ‘ayah’ membina karakter represif dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara kontemporer, lebih-lebih yang tengah saya jalani sekarang ini ketika saya menulis risalah ini.

Sedang hubungan sosial, tak lebih dari akumulasi para ‘ayah’. Ibu, sosok yang selalu terlupa dalam sejarah peradaban manusia. Nature melahirkan culture. Kealamiahan ‘digugat’ konvensi. Para ‘ayah’ turun tangan memegang kendali kekang. Komunitas dibangun atas dasar ‘gugatan’ pada kealamiahan.

Dalam konteks yang lebih mini, politik adalah ‘ayah’-politik adalah kendala hidup di ruang keluarga. negara (saya memang sengaja menggunakan huruf kecil ‘n’ di awal penulisan kalimat) adalah keluarga besar, payung bagi anak-anak pemberontak. Kadang kala, ekspresi perundang-undangan memang kalah ampuh dibandingkan rock ‘n roll. Kesepakatan yang dilahirkan dari senayan (lagi-lagi, saya memang sengaja menggunakan huruf ‘s’ kecil), bukanlah kebudayaan pop. Regenerasi peraturan selalu bersifat bangsawan dengan segenap tata aturan yang mengasumsikan: anak-anak pemberontak = bodoh. Maka, peraturan adalah pengawal kebodohan agar tidak semakin bodoh (atau malau memang disengaja agar kebodohan tetap menjadi kebodohan?). Tapi, politik adalah ‘ayah’-politik adalah kendala menyakinkan saya: represi menghasilkan ekspresi; begitu seterusnya: ekspresi menghasilkan represi.

orde (lagi-lagi, memang kesengajaanlah yang membuat saya memilih huruf ‘o’ kecil sebagai huruf pembuka kalimat) baru sudah tiada. Januari 2008, simbol penguasa orde baru sudah punya rumah baru. Saya teringat cerita sahabat saya tentang teman dia yang bunuh diri dengan cara menembak kepala sendiri menggunakan pistol ayahnya, yang memang merupakan anggota dari sistem pertahanan dan keamanan nasional di mana pun juga di muka Bumi. Pistol ayah, seperti judul cerpen. Tapi, sebagai tanda, dalam perspektif Saussererianism, pistol adalah representasi dari politik adalah ‘ayah’. Perwujudan fisik dari sistem sosial yang dibangun pada masa orde baru, pistol! Ada yang menghalus-haluskan dalam bahasa visual dengan mengambil gambar sepatu. Tapi, dalam realitas petanda yang bersifat semena-mena + konsensus, pistol atau sepatu adalah gonggongan anjing, sebagaimana ‘Animal Farm’-nya George Orwell. Kekerasan! Anak yang bunuh diri menggunakan pistol ayahnya, dalam tafsir post-strukturalis, bisa diidentikkan dengan pistol ayah yang membunuh anaknya. Tapi, pistol sebagai produk selalu bebas nilai. Karena itu, mana yang lebih mungkin: 1) pistol ayah yang tak punya kehendaklah yang membunuh anak, teman dari sahabat saya, atau 2) ayah dari teman dari sahabat sayalah, yang nota-bene pasti punya kehendak dikarenakan dia adalah manusia, yang membunuh anak, teman dari sahabat saya? Karena politik adalah ‘ayah’, ekspresi lahir dari represi.

Lalu, saya melihat tulisan dari amerika. Virginia Tech. Pelaku bunuh diri membunuh orang lain. Itu tahun 2007. Satu tahun kemudian, entah di kampus apa, pelaku bunuh diri membunuh orang lain. Tepatnya, membunuh orang lain lalu membunuh diri sendiri. Ternyata, politik di amerika bukan lagi ‘ayah’. Entahlah, ekspresi pelaku hanya bisa saya pahami dalam kerangka korban. Pelaku adalah korban dari politik adalah ‘bukan-hanya-ayah’.
Di eropa, kalau saya tak salah, fenomena bunuh diri banyak terjadi di masa-masa perang dunia ke-dua. Revolusi filsafat kontemporer pun, ketidak-percayaan para filosof pada pencapaian unggul zaman Pencerahan membuncah. Rasio hanyalah membawa manusia pada kebuntuan belaka. Hitler, dengan alasan yang luar biasa tak masuk akal tetap yakin bahwa ras aria Jerman merupakan ras paling unggul. Karena itu: Yahudi harus dibasmi, tumbal afirmasi ras aria Jerman adalah ras paling unggul. Kenapa harus Yahudi? Apakah Hitler terlampau goblok biologi atau ilmu Bumi? Bila merujuk pada bangsa, tak hanya Yahudi saja yang ada di Bumi, ada juga Asia, Arab, India, dan juga Cina. Saya pikir, disini letak ketololan Hitler, sekaligus motifasi personal dari si pemilik kumis tak jelas dan funky. Lalu, kenapa manusia? Setidaknya, memang manusialah yang punya potensi menjadi paling berbahaya di dunia ini. Sebabnya: manusia bisa melarikan diri dari tanggung-jawab. Saya tidak pernah melihat atau mendengar ada binatang bertanggung-jawab atau tumbuhan bertanggung-jawab. Karena Hitler manusia, maka dia punya potensi kejam, dan itu sudah ditunjukkan Hitler pada peradaban Homo sapiens. Lainnya, Hitler lari dari tanggung-jawab. Setahu saya, Hitler dikabarkan bunuh diri. Mudah-mudahan benar, sebab apabila Hitler dibunuh berarti dia sudah bertanggung-jawab. Tapi, bila dia bunuh diri, Hitler memang benar-benar orang yang tak bertanggung-jawab. Adakah legalitas atas pembunuhan atas sesama manusia? Menurut saya tidak ada. Dan kalau pun ada, persoalan dipindah menjadi masalah emosional belaka, subjektifisme yang penuh motif tipu daya. Politik adalah ‘ayah’. Dan ayah membunuh ‘ayah’.
Setelah Hitler bunuh diri, tak ada penguasa otoritarian yang bunuh diri. Politik adalah ‘ayah’ menjadi permanen. Dan tidak ada ayah yang membunuh ‘ayah’. Selalu anak-anak pemberontak yang maju menghancurkan para ‘ayah’; setelah sejarah mengajarkan ada ‘ayah’ yang membunuh anak melalui kisah teman dari sahabat saya yang bunuh diri menggunakan pistol ayahnya. Ibu, berdoa dan mencatat lalu mewariskan.

Di indonesia, zaman ‘ayah’ membunuh anak dan zaman anak membantai ‘ayah’ sudah berlalu. 1998. Pelajar sekolah menengah pertama dari jawa barat memberikan tulisan baru dalam sejarah peradaban indonesia yang entah masih ada atau tidak pada dua abad mendatang. [Sebab persoalan represif adalah persoalan yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk menemukan solusi.] Kalau tak salah, pelajar ini bunuh diri menggunakan sarung. Kalau saya tak salah, sarung adalah hasil kreatifitas perempuan, menenun. Para ‘ayah’ hanya berkutat soal menemukan pesawat siluman tercanggih dan cara berburu paling ampuh. Tak ada lagi pistol yang berbicara di kepala anak-anak. Tapi, kehangatan sarung ternyata tidak menjadi jawaban. Tetap, ruang keluarga didominasi para ‘ayah’. Kembali, politik adalah ‘ayah’. Saya pikir, hanya menunggu waktu saja sampai kasus Virginia Tech terjadi di indonesia, dan pada saat itu di amerika pola simbosis-horor-mutualisme antara anak-‘ayah’ sudah dalam kategori yang sangat-sangat tak ternalar indonesia. indonesia, selalu lambat dan pelan, bukan karena berhati-hati, melainkan karena konsensus para ‘ayah’. Dan sekarang, wajar pula bila para ibu sering angkat suara, mengeluh harga pangan yang semakin tinggi, harga minyak goreng yang tak pernah stabil, dan sampai lupa mencuci kain sarung agar lebih bisa menyimpan kehangatan permanen.

Memang, ada baiknya melupakan negara. negara, dengan penuh kesengajaan dimasukkan dalam kategori lupa di dalam benak individu. Sebab, ada yang lebih penting di ruang keluarga. Politik adalah ‘ayah’ sebaiknya tak masuk ke dalam rumah. Sebab di dalam rumah, anak-anak pemberontak tahu mana yang lebih bermanfaat untuk menyalurkan ekspresinya. Sayang, realitas deviasi para ‘orang tua’ masih melihat anak-anak pemberontak terlampau muda, hijau, dan kurang pengalaman hidup. Padahal, semenjak Albert Einstein menelurkan teori relativitas khusus dan umum yang merelatifkan waktu, seharusnya kepala ‘orang tua’ lebih berisi: pasti ada yang bisa dipelajari dari anak bayi. Sebab: relativitas waktu, dalam tingkatan paling praktis membuktikan usia bukanlah besaran pokok yang tak terbantahkan (senioritas adalah lagu lama yang disukai oleh orang-orang sakit jiwa); dan pengalaman menjadi berharga ketika dipelajari dan didalami dan dilakukan,  banyak belajar pasti punya banyak pengalaman, sedang banyak pengalaman belum tentu punya banyak belajar. Selalu ada waktu yang terbuang sia-sia, sebagaimana kematian hanyalah keterkejutan sejenak yang berujung pada sia-sia!

Kematian adalah pilihan. Karena itu, kematian bisa dikonsensuskan. Kematian yang bagaimana tergolong baik, dan kematian bagaimana pula masuk kategori buruk rupa. Dan kasus ini ada di luar kewenangan para ‘ayah’. Seharusnya tidak ada consensus kematian yang buat para ‘ayah’! Politik adalah ‘ayah’ biarlah terus berjalan. Politik adalah kendala tetaplah melanglang buana. Sebab, Aristoteles sendiri sudah bicara soal keutamaan, yang menurut saya menyatukan realitas idealistik dengan realitas deviasi, jauh sebelum peradaban masuk kategori Masehi. Dan seharusnya, setelah peradaban masuk kategori Masehi, tak perlu ada kasus bunuh diri lagi. [Saya tidak tahu apa bisa muncul peraturan perundang-undangan yang menghukum orang yang bunuh diri secara pidana. Dan kalau memang ada peraturan seperti itu, para ahli ilmu sosial tampaknya harus berupaya merumuskan tindak ekspresionisme-individualistik pengganti kosa-kata bunuh diri, dengan misal: supra-suicide! Sebab, bunuh diri adalah ekspresi dan bila ekspresi itu represi bakal menghasilkan ekspresi baru lagi. Setidaknya: Dazed and Confused Led Zeppelin sudah membuktikan hal tersebut di era 1970-an.]

Februari 2008

MEMECAH KEBUNTUAN DENGAN KATA

Saya rasa, memang sudah seharusnya manusia yang hidup di planet ke-tiga galaksi Bimasakti pada millenium ke-tiga ini tak lagi mengenal apa yang dinamakan bencana alam. Bencana alam, hanyalah dongengan belaka buat pengantar tidur bagi anak-anak badung. Yang ada hanya kesepakatan politik (!), ini adalah realitas yang tak terbantahkan.

Karena itu, saya pun mengapresiasi, bahkan sangat-sangat menghargai upaya para anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Republik Indonesia untuk merumuskan apa yang sebenarnya tengah dan terus berlangsung di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Rumusan yang disepakati para anggota dewan, dengan sepenuh hati saya acungkan seratus triliun lebih jempol tangan. Para anggota dewan sudah melakukan, dalam perspektif saya, terobosan intelektual yang tak pernah dicapai, sekalipun oleh orang yang bernama Albert Einstein, atau Sir Isaac Newton, bahkan Socrates sampai Plato hingga ke Foucault. Hal begini, menjadi kebanggaan pribadi yang besar bagi diri saya yang mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dikeluarkan Camat di suatu kecamatan di suatu daerah di teritori Republik Indonesia yang dikenal bernama Depok.

Apresiasi tiada henti saya ucapkan atas pencapaian yang sungguh-sungguh luar biasa, sungguh-sungguh melampaui Teori Relativitas Umum dan Teori Relativitas Khusus Albert Einstein, bahkan kajian Post-strukturalis kontemporer yang digagas Jean Jacque Lacan, Michel Foucault, dan Jacques Derrida. Para anggota dewan dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab intelektual memilih untuk menyimpulkan bahwa kasus lumpur Sidoarjo adalah peristiwa alam. Sejauh yang saya ketahui, kontroversi kasus ini di kalangan ilmuwan ada pada dua kemungkinan, peristiwa alam atau tangan ahli manusia. Berada diantara dua pilihan, sekali lagi, saya patut mengacungkan seratus triliun lebih jempol tangan, atas keberanian para anggota dewan mengambil keputusan.

Memang sudah saatnya, dalam pikiran saya, manusia yang hidup di planet ke-tiga galaksi Bimasakti pada milenium ke-tiga, merumuskan kembali apa yang dimaksud dengan peristiwa alam. Peristiwa alam itu ternyata bisa macam rupa, salah satu diantaranya, yang paling kontemporer dalam risalah buku-buku bahasa adalah bencana alam. Karena itu, keberanian para anggota dewan untuk menyimpulkan lumpur Sidoarjo adalah peristiwa alam seharusnya dibiarkan bergulir hingga mencapai prestasi paling ultima. Karena itu pula, saya, sebagai orang yang mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dikeluarkan Camat di suatu kecamatan di suatu daerah di teritori Republik Indonesia yang dikenal bernama Depok, punya ekspektasi besar terhadap para anggota dewan untuk menyimpulkan ‘apa sebenarnya yang terjadi menjelang penghujung Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam’. Mungkin, para anggota dewan bisa merumuskan bahwa ‘apa sebenarnya yang terjadi menjelang penghujung Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam’, dugaaan saya, mudah-mudahan tidak meleset, adalah disebabkan tangan ahli manusia. Dan saya yakin, berdasarkan keberanian para anggota dewan yang merumuskan kasus lumpur Sidoarjo sebagai peristiwa alam, maka apa sebenarnya yang terjadi menjelang penghujung Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam’ tak lain tak bukan adalah disebabkan tangan ahli manusia.

Dari para anggota dewan saya menyadari sepenuhnya dan seutuhnya bahwa kesepakatan politik itu penting. Kesepakatan politik itu harus mampu menyelesaikan segala permasalahan yang muncul, entah itu menyangkut ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan agama. Bila politik tidak turun tangan, saya tidak dapat membayangkan bakal bagaimana jadinya Republik Indonesia di kemudian hari ketika kasus lumpur Sidoarjo saja tidak bisa didefenisikan sebagai peristiwa alam atau akibat tangan ahli manusia. Sungguh luar biasa! Apresiasi saya tak bakal henti kepada para anggota dewan, apalagi jika para anggota dewan mampu merumuskan bahwa ‘apa sebenarnya yang terjadi menjelang penghujung Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam’ adalah akibat tangan ahli manusia. Dan bila kesimpulan itu sudah disepakati para anggota dewan, saya pikir, para anggota dewan pastilah bakal berusaha menuntut ganti rugi kepada si pelaku ‘apa sebenarnya yang terjadi menjelang penghujung Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam’. Tuntutan ganti rugi itu penting, untuk mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan mengalihkan pos pembiayaan rehabilitasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dialihkan untuk membayar utang pada luar negeri atau melunasi hutang para kreditor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Dan akhirnya, saya sampai pada kesimpulan paling akhir, keputusan politik adalah keputusan yang paling unggul tiada bandingnya.

Merdeka!!!



Note: Kira-kira, partai apakah sajakah, atau siapa-siapa sajakah sosok pemberani yang menggagas ‘para anggota dewan harus merumuskan apa sebenarnya kasus lumpur Sidoarjo’ dan mengajukan gagasan berani dan penuh bobot intelektual ‘lumpur Sidoarjo adalah peristiwa alam’.

PETA REKONSTRUKSI MOZAIK ZHOU CHUNYA, JIM SUPANGKAT, SARDONO W KUSUMO, ROMAN JAKOBSON, DAN AKU DI GALERI NASIONAL 23 JANUARI 2008

Di depan seni rupa patung perunggu Potrait of Heigen aku termangu. Heigen adalah nama anjing milik Zhou Chunya (baca: cou chu-ya), perupa asal Cina. Dia menyelesaikan patung itu pada 2006.

Di depan seni rupa patung perunggu Potrait of Heigen aku termangu. Heigen pun termangu, bahkan serupa merenung. Aku teringat The Thinker Auguste Rodin, maestro rupa asal Perancis. Logam tak bernyawa seakan mampu menyimpan emosi khas mahluk yang disebut manusia. Aku tak tahu pasti, apakah itu emosi Heigen atau malah emosi Zhou?

Jim Supangkat berpendapat, seluruh karya Zhou yang dipamerkan di Galeri Nasional adalah hasil pergulatan akrab Zhou dengan Heigen. Pameran itu diberi mahkota ‘Green Dog’, bila ditransliterasi ke bahasa Indonesia, aku memilih frasa ‘Hijau Anjing’.

Jim Supangkat: “Zhou mengabaikan message dalam berkarya. Zhou mengabaikan pesan.” Kurator kelas papan atas di Indonesia itu pun menyimpulkan pameran Zhou sebagai representasi dari unreal. Penafsiran aku: unreal menjadi konsepsi berkarya Zhou. Namun dikarenakan karya itu sendiri, maka yang unreal itu pun menjadi real pada tingkatan representasional. Aku teringat kembali ucapan

Sardono W Kusumo: “‘Beyond-culture’. Tantangan seniman sekarang adalah menjawab ‘beyond-culture’. Apa yang ditampilkan Zhou adalah sesuatu yang ‘beyond-culture’. Pada patung-patung Zhou, ada unsur keakraban spirit yang bermain ketika Zhou mengolah, membentuk patung-patung tersebut. Ada harmoni, ada demoniak.
Apa yang diperbincangkan dalam konferensi iklim di Bali adalah ‘beyond-culture’. Zhou membicarakan anjing tanpa memperlihatkan ke-anjing-an itu sendiri.”

Di depan seni rupa patung perunggu Potrait of Heigen aku termangu. Kelebat Jakobson menghampiri aku. Tidak mungkin Potrait of Heigen tidak punya pesan sebagaimana yang diutarakan Zhou dan Jim Supangkat. Bisa saja Zhou dan Jim berpendapat demikian. Tapi, landasan Jakobson dalam sistem bahasa sudah terang, lugas, dan jelas. Setiap bahasa pastilah punya pesan, sekalipun itu nonsense!
Aku tak soal siapa yang benar atau salah. Aku tak soal siapa yang baik atau buruk. Aku pun tak soal siapa yang indah atau siapa yang rusak. Dalam dirinya sendiri, Jakobson adalah benar, baik, dan indah. Dalam dirinya sendiri, Zhou adalah benar, baik, dan indah. Dalam dirinya sendiri, Jim adalah benar, baik, dan indah. Dan aku berpikir:

Zhou punya niatan memberontak. Melalui Jim aku mengetahui bahwa Zhou berhutang budi pada ide-ide neoekspresionisme yang dia peroleh ketika belajar di Jerman. Semua nilai itu dia terima, dan dia adaptasikan dengan kultur lokal Cina, yakni Konfusius. Informasi ini membangun pemaknaan baru dalam kepala aku. Kehendak Zhou untuk mengabaikan pesan adalah representasi dari sifat pemberontakan Zhou. Zhou memberontak terhadap sistem super-ego yang dia terima melalui pendidikannya di Jerman. Dan memang, kreatifitas pada dasarnya, menurut aku, berjalan seiring dengan pemberontakan. Tidak ada kreatifitas tanpa pemberontakan! Pada level paling dalam, aku bicara soal keberanian. Tindak berontak mensyaratkan satu hal yang tak terbantahkan: berani. Maka, kreatifitas adalah keberanian yang berwujud.

Di depan seni rupa patung perunggu Potrait of Heigen aku termangu. Menurutku, patung itu menyimpan sesuatu, sesuatu yang khas manusia: emosional dan akal! Heigen menyimpan ketakutan, Heigen menyimpan harapan, Heigen menyimpan permenungan, Heigen menyimpan kehendak. Lalu, apakah Heigen? Patung atau bukan? Siapa sebenarnya Heigen? Zhou atau bukan?

Aku meninggalkan Potrait of Heigen. Tak sengaja, aku melihat Zhou sedang berfoto dengan seorang perempuan berbaju merah di depan lukisan cat minyak Standing TT yang berukuran 220 x 320 cm. Zhou ramah menyapa. Zhou berjas hitam. Zhou bercelana hitam. Zhou berambut pendek. Zhou tersenyum, menganggukkan kepala, dan memberi tanda tangan di katalog pameran milik seorang undangan. Aku teringat seni rupa patung perunggu Potrait of Heigen dan aku yang termangu di hadapan Potrait of Heigen.

Di depan seni rupa lukisan cat minya Potrait of TT, aku mulai paham. Lukisan berukuran 250 x 200 cm. Kepala seekor anjing, dua pesawat, seekor anjing di sebelah kanan manusia kuning botak telanjang, tank tempur dengan laras meriam mengarah ke atas. Aku teringat ‘beyond-culture’.

Sardono W Kusumo: “Zhou membicarakan anjing tanpa memperlihatkan ke-anjing-an. Dalam karyanya, malah tampak kemanusiaan. Manusia.”

Selama ini kultur adalah tanda peradaban suatu bangsa. Lebih jauh lagi, ‘suatu bangsa’ bisa diluaskan menjadi ‘umat manusia’. Kultur melahirkan apa yang ideal bagi manusia. ‘Beyond-culture’.
Awalnya, aku berpikir kata ‘beyond’ mengacu pada sesuatu yang ada di balik. ‘Beyond-culture’, sesuatu yang berada di balik kultur. Pola pikir meruang begini memberikan aku alternatif baru, yakni atas-bawah. Ada sesuatu yang berada di atas kultur. Aku mencari dan tak menemukan maksud Sardono.

Di depan seni rupa patung Green Dog, aku paham. ‘Beyond-culture’ bukan soal yang harus dipikirkan dalam konsep ruang. ‘Beyond-culture’ bicara soal metafisika. ‘Beyond-culture’ hendak ngomong soal asal kultur. Peradaban manusia dibangun di atas dasar keinginan mewujudkan suatu, katakanlah, masyarakat ideal. Seperangkat tata-aturan berkerabat dan bermasyarakat pun dirumuskan demi mencapai masyarakat yang diidam-idamkan, gemah ripah loh jinawi. Perumusan demikian, meredam aspek-aspek negatif yang sudah built-in di dalam diri manusia itu sendiri. Keinginan biadab, keinginan merampok harta orang lain, keinginan membunuh, keinginan culas, keinginan berandalan, keinginan demoniak/menghancurkan, ditumpas sehabis-habisnya di dalam kultur. Kultur mengedepankan ke-adiluhung-an. Kultur menihilkan yang mungkar. Inilah persoalan ‘beyond-culture’.
Persoalan perubahan iklim adalah dampak kultur industrialisasi, yang pada fase awal bisa dikata merkantilisasi. Kultur industrialisasi yang merujuk pada konsep efektif dan efesien mengarah pada eksploitasi habis-habisan alam untuk menghasilkan produk yang benar-benar efektif dan efesien bagi manusia. Modal dan laba adalah tujuan. Modal dan laba adalah satu-satunya nilai yang berharga di dalam peradaban industrialisasi, yang di fase paling modern sekarang ini mengadaptasi nama baru: globalisasi, dengan kapitalisme sebagai fondasi utama.
Ekploitasi alam, pemerkosaan alam secara massal, membuka wajah baru umat manusia itu sendiri. Beringas, berandalan, rakus, serakah. Kebiadaban massal menumbuhkan fenomena perubahan iklim yang dahsyat. Hujan yang lagi tak tentu turunnya, permukaan air samudra yang kian hari kian bertambah saja, macam badai yang menerpa, gempa bumi, kerusakan ozon, ragam penyakit baru, menjelma jadi empedu peradaban proyek rasionalisme yang harus dan mau tak mau dicecap oleh siapapun yang hidup di planet ke-tiga galaksi Bima Sakti, Bumi. Televisi plasma yang terpajang di ruang tamu, telepon seluler seharga Rp20 juta, jam tangan senilai sepuluh ekor kuda ras unggulan, mobil berkecepatan 420 mil/jam, jalan-jalan aspal, pemilihan umum, kebijakan domestic dan luar negeri pemerintah, pada dasarnya diwujudkan manusia dengan mengorbankan masa depan Bumi. Kebiadaban perang dunia pertama dan kedua mendapat aksentuasi baru yang, bisa pula dikata, humanis.

Di depan seni rupa patung perunggu Green Dog, aku melihat sosok anjing hijau dengan sosok yang luar biasa besar, tak wajar. Sosok anjing yang sudah mengalami deformasi. Sosok anjing yang punya gigi tajam bukan main. Sosok anjing hijau yang menjulurkan lidah merahnya, seakan lapar, sangat lapar. Sosok anjing, yang anehnya, punya tubuh licin kilap dan berkilau. Tubuh licin kilap dan berkilau, saya asosiasikan dengan produk-produk pusat perbelanjaan kawasan megalopolitan. Sedang giginya yang tajam bukan main, entah menancap pada tubuh siapa. Mungkin, saya, Zhou, Jim, Sardono, dan Jakobson. Mungkin pula masih ada apa dan siapa yang lainnya. Hobbes mungkin?

Sambil menyantap nasi goreng, semur daging kambing, gado-gado, bihun, udang goreng tepung, saya membaca mozaik Zhou, Jim, Sardono, dan Jakobson. Kultur dan ‘beyond-culture’.

Januari 2008

dvd.tbg

LEKSIKON KRITIS DI MASA KRISIS

Negara : Banyolan terbesar yang pernah ditemukan Homosapiens.

Hukum: Kulit pisang yang ditebar sembarang di jalanan. Hanya orang-orang yang mengetahui letak kulit pisang itulah yang bisa menghindar agar tidak terpeleset, dan kepala membentur tembok.

Jasa: Komoditi ekonomi yang dijual para politikus kepada massa.

Tolol: Kebaikan yang muncul dari ketidaksadaran.

Akal: Dunia maya tempat orang gila bersemayam dan hidup tentram.

Penyakit: Candu yang bisa dibeli di mana saja, termasuk di rumah sakit.

Pengacara: Penyedia jasa tolol yang berasal dari akal serta penyakitan di dalam suatu negara hukum.

Presiden: Sahabat anak-anak, musuh orang dewasa.

Hakim: Orang-orang tua yang sudah mendekati ajal dan penuh pertimbangan ketika hendak menggali kubur sendiri.

Jaksa: Atlit yang memenangkan satu pertandingan, dan setelahnya kalah terus sampai menuju tak berhingga.

Penonton: Orang cerdas yang diam dan diam dan diam.

Televisi: Perabotan kamar mandi yang sudah masuk ke dalam ruang tamu, kamar tidur, ruang olahraga, ruang tunggu, dan kamar jenazah.

Dewan Perwakilan Rakyat: Industri percetakan khusus masa depan yang tak punya unit quality control.

Adil: Hak Tuhan yang sudah diambil alih oleh Homosapiens yang berpikir bahwa pengambilalihan hak Tuhan tersebut bakal memperingan kerja Tuhan.
Benar: Kemampuan untuk tidur sepanjang masa, mulai dari lahir hingga kiamat.
Rakyat: Sekelompok orang yang tak pernah merasa rugi, selalu baik hati, dan tak pernah mengeluh. Biasanya, sekelompok orang ini bisa diketahui dari busana yang dipakai. Kaum lelaki dari sekelompok orang ini selalu mengenakan jas dan melekatkan pin di dada kiri dan suka sekali dipotret. Kaum perempuan dari sekelompok orang ini selalu mengenakan blazer, kalau tidak gaun, dengan tata rias wajah yang melimpah ruah ditambah dengan parfum seharga lebih dari Rp60 juta.

Karangan bunga: simbol bahagia, sering dipergunakan dalam acara-acara menyambut kematian seseorang.

VVIP: Ruang perpustakaan bagi akal yang jarang dipergunakan buat baca buku.
Pengawal: Orang yang menyimpan senjata dalam mulutnya, dan karena itu dia lebih banyak diam.

Pemilu: Ajang bunuh-bunuhan yang dilegalkan manusia.

Kekuasaan: Tokoh fiktif yang sering sekali menjadi korban dalam percakapan antar rakyat berakal di ruang VVIP dengan ditemani banyak sekali pengawal. Biasanya, tokoh fiktif ini hadir ketika rakyat berakal hendak memperbincangkan perluasan bisnis Dewan Perwakilan Rakyat untuk memproduksi televisi, Hakim, Jaksa, dan Presiden.

Kematian: Satu-satunya hak manusia yang tidak dimiliki Tuhan, dan karena itu manusia pun berhak memanjan-manjangkan umur dikarenakan ilmu pengetahuan sudah memberikan peluang bagi manusia itu sendiri untuk memperpanjang umur melalui keberadaan institusi dokter.

Dokter: Ahli mekanik atas nyawa manusia yang dilakukan dengan mencangkokkan komoditi teknologi renik ke organ tubuh vital seseorang hingga seseorang itu mampu bernafas tanpa menyadari apakah dia sudah bernafas. Dokter, kadang kala dipergunakan sebagai sinisme untuk menyatakan tukang tipu, montir, dan bandar candu, yang punya etika.

Mimpi: Doa yang muncul ketika manusia tidur. Sebagaimana Ora et Labora, maka Mimpi dan Kerja juga ada!

Kerja: Hanya dengan jalan ini saja mimpi terwujud, dan sebaiknya ketika melakukan hal ini negara, hukum, jasa, tolol, akal, penyakit, pengacara, presiden, hakim, jaksa, penonton, televisi, Dewan Perwakilan Rakyat, adil, benar, rakyat, karangan bunga, VVIP, pengawal, pemilu, dan kekuasaan dilupakan!

Januari 2007

dvd.tbg


Catatan:
1. Leksikon Kritis Di Masa Kritis ini masih bisa ditambahkan lagi hingga mencapai ketebalan melebihi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-Tiga terbitan Balai Pustaka. Apabila dari pembaca ada yang berminat menambahkan silahkan. Tapi, untuk penentuan mana yang boleh masuk dalam Leksikon Kritis Di Masa Kritis sepenuhnya berada dalam tanggung jawab saya.
2. Tidak ada kata-kata di dalam 1 yang berasal dari Leksikon Kritis Di Masa Krisis

PENTAS TEKSTUAL KOMA PADA PANGGUNG kenapa LEONARDO?

(Tulisan Pertama dari Dua Tulisan)


Sebuah hari yang beruntung. Dan, tak ada mangga yang jatuh di musim hujan daerah tropis planet Bumi. “Tak ada yang penting dalam paragraph ini.”


Sebelum mengapresiasi pementasan Teater Koma yang ke-112 di Grha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada 11 Januari 2008, saya lebih berminat, untuk pertamakalinya, mengungkai ketertarikan saya pada soal mengapa ‘kenapa LEONARDO?’ dipilih menjadi transliterasi judul naskah ‘What About Leonardo?’ karya penulis Slovenia Evald Flisar.

Saya sadar, transliterasi ‘What About Leonardo?’ menjadi ‘kenapa LEONARDO?’ adalah keputusan otonom Rangga Riantiarno selaku penerjemah. Bicara soal keputusan, berarti bicara soal adanya pilihan. Bertemu dengan situasi fragmental ‘adanya pilihan’, rasanya kesadaran saya tak mampu menembus pengalaman batin-subjektif Rangga Riantiarno (ada baiknya, untuk efesiensi penulisan Rangga Riantiarno cukup ditulis Rangga untuk seterusnya). Saya tidak bisa mengetahui dengan pasti apa kira-kira alternatif kalimat tak lengkap yang ditemukan Rangga Riantiarno untuk mentransliterasikan ‘What About Leonardo?’. Karena saya tak mampu mengetahui dengan pasti apa yang ada di dalam kesadaran Ratna Riantiarno, instrumen spekulatif yang sudah tertanam di dalam benak saya mulai unjuk diri.

Saya pikir, Rangga paham benar apa yang sedang dia hadapi. Lewat pendekatan harafiah, dan saya yakin, pendekatan harafiah ini merupakan metode pertama yang dipakai Rangga untuk menerjemahkan judul naskah Evald Flisar. Pendekatan harafiah atas teks ‘What About Leonardo?’ dalam proses transliterasi ke dalam bahasa Indonesia bakal menghasilkan ‘Apa Tentang Leonardo?’ Meneliti hasil terjemahan harafiah yang seperti itu, benak spekulatif saya mengembara pada isi kepala Rangga. Saya pikir, dengan kemampuan Rangga menerjemahkan utuh naskah ‘What About Leonardo?’ menjadi penanda bagi saya bahwasanya Rangga punya cetak biru tata-bahasa Inggris di dalam kepala dia. Penanda itulah yang menjadi bukti bagi saya Rangga pasti tak memikirkan ‘Apa Tentang Leonardo?’ sebagai transliterasi ‘What About Leonardo?’ dengan pendekatan harafiah. Keberadaan cetak biru tata-bahasa Inggris di dalam kepala Rangga pasti menyebabkan dia lebih mengartikan ‘What About Leonardo?’ menjadi ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ sebagai transliterasi bahasa menggunakan pendekatan harafiah.

“Lalu mengapa ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ berubah menjadi ‘kenapa LEONARDO?’” Deviasi inilah sebenarnya yang menjadi sebab ketertarikan saya untuk terlebih dahulu mengungkai persoalan keputusan transliterasi judul ‘What About Leonardo?’ menjadi ‘kenapa LEONARDO?’ Bagi saya, maaf bila saya terlampau berlebihan, deviasi begini merupakan persoalan serius yang mengandalkan instrumen kesadaran sebagai garda terdepan dalam pengambilan keputusan. Implikasinya, tentu saja Rangga tidak sedang bermain-main dalam memutuskan ‘kenapa LEONARDO?’ menjadi transliterasi ‘What About Leonardo?’

Mencermati kalimat tak lengkap ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ dan ‘What About Leonardo?’ menghasilkan sebentuk situasi tertentu dalam imajinasi saya. Kedua bentuk kalimat, yang bisa saja saya sebut sebagai preposisi dengan seenak saya, menghadirkan situasi percakapan antara dua orang, andaikan saja si penutur adalah Heppi dan si penerima tutur adalah Bobbi. Dan apa yang menjadi isi percakapan antara Heppi-Bobbi itu ternyata menyangkut orang ke-tiga tunggal, yakni Leonardo. Persoalannya, situasi yang dihadirkan melalui kalimat tak lengkap ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ dan ‘What About Leonardo?’ hanya memungkinkan saya untuk mengeksiskan pelaku percakapan saja, yakni Heppi dan Bobbi; sedang Leonardo itu sendiri belum tentu eksis. Belum tentu eksis bisa bermakna, Leonardo itu eksis dalam percakapan atau Leonardo itu ada dalam percakapan. Tentulah pembaca yang cerdas-cerdas mengetahui apa perbedaan eksis dan ada. Bila tidak, maka teramat susahlah saya mendedahkan sederet penjelasan-penjelasan yang terbilang kadaluarsa dan nyaris mendekati sia-sia. “Aku mengerti, meski tidak terlalu paham. Dan aku kira kau pun sebenarnya tak juga paham benar apa yang kau maksud dengan eksis dan apa yang kau maksud dengan ada.” Mendengar jawaban yang demikian, legalah hati saya, dan jawaban yang demikian memberikan enerji baru kepada saya untuk melanjutkan penjelasan yang, saya pastikan, tak berujung sia-sia.

Di halaman 110 naskah ‘kenapa LEONARDO?’, Rangga menerjemahkan ‘suatu kalimat’ yang diucapkan Dasilva—saya menggunakan frase ‘suatu kalimat’ dikarenakan saya tidak mengetahui kalimat apa sebenarnya yang ada di dalam naskah asli ‘What About Leonardo?’ yang diterjemahkan Rangga—menjadi ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ Melalui halaman 110 inilah situasi imajinatif yang dihadirkan judul ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ dan ‘What About Leonardo?’ pun menjadi jelas. Ternyata, hanya Heppi dan Bobbi saja yang eksis dalam situasi imajinatif tersebut; sedang Leonardo ada tapi tidak eksis! “Dan pada dasarnya, kau pun tak perlulah jauh-jauh menjelaskan hal demikian. Pemaknaan orang ke-tiga tunggal yang kau sebutkan sebenarnya sudah menjadi pembuktian bahwa orang ke-tiga itu tidak eksis melainkan ada.” Hmmm, tampaknya Anda benar, dan harus saya akui saya terlampau melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Apa yang saya lakukan ini bertentangan dengan pistol analisa Ockham. Karena itu, saya mengizinkan Anda untuk menganggap paragraph tidak ada sama sekali. “Tak perlu pakai ‘sama sekali’, itu pun sebenarnya sudah tidak ada. Apakah masih ada superlatif dari tidak ada?” Anda benar! Untuk ke depan dan seterusnya, saya harus lebih berhati-hati menggunakan kata-kata. Tapi, saya hendak memohon perizinan dari Anda, apakah saya bisa melanjutkan penjelasan? “Terserah kau. Paragraph ini kan sudah aku anggap tidak ada. Apakah jawabanku masih ada gunanya bila paragraph ini sudah tidak ada?”

Keberadaan kalimat ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ yang diucapkan Dasilva dalam halaman 110 naskah ‘kenapa LEONARDO?’ menjadi bukti bahwasanya Rangga selaku penerjemah pun berpikiran transliterasi yang layak atas ‘What About Leonardo?’ adalah ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ Tapi, kenapa muncul ‘kenapa LEONARDO?’ Antara ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ dengan ‘kenapa LEONARDO?’ tentu menghasilkan sensasi yang berbeda. Penyebab munculnya perbedaan sensasi terhadap kedua kalimat tak lengkap tersebut dikarenakan kedua kalimat tersebut pada dasarnya memang menghadirkan situasi imajinatif yang berbeda. ‘Bagaimana dengan Leonardo?’, dalam perspektif bahasa Indonesia mewujudkan situasi memilih antara yang-bukan Leonardo dengan Leonardo. Sedang ‘kenapa LEONARDO?’ menghadirkan 1) situasi perenungan untuk mencari jawaban, sebangun dengan ‘kenapa MAKAN?’, atau 2) situasi pencarian landasan argumentatif alias pembenaran-positif atas suatu pilihan yang sudah diputuskan, kira-kira sebangun dengan ‘kenapa [harus] MAKAN?’ Bila [harus] diletakkan di antara ‘kenapa’ dengan ‘LEONARDO?’, maka kalimat yang dihasilkan menjadi ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ “Sepertinya kau cuma bermain kata-kata. Tak ada yang bermakna.” Aku hanya bertanya, apakah kalimat-kalimat ‘kenapa LEONARDO?’, ‘kenapa MAKAN?’, ‘kenapa [harus] MAKAN?’, dan ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ tidak memberikan suatu sensasi yang berbeda-beda dan yang mirip-mirip? ‘kenapa LEONARDO?’ dan ‘kenapa MAKAN?’ menghadirkan sensasi yang mirip-mirip. Pembuktiannya, melalui jawaban yang diberikan, bila kalimat tersebut dianggap sebagai kalimat tanya. ‘kenapa LEONARDO?’ dijawab ‘lapar’; dan ‘kenapa MAKAN?’ dijawab ‘lapar’. Sedang kalimat ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ dan ‘kenapa [harus] MAKAN?’ menghadirkan sensasi yang beda. Pembuktian yang diberlakukan atas kalimat ‘kenapa LEONARDO?’ dan ‘kenapa MAKAN?’ tidak berlaku dalam kasus ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ dan ‘kenapa [harus] MAKAN?’ Dan saya tidak harus memberikan penjelasan lebih lanjut atas kebingungan yang terjadi di dalam benak Anda. Saya menyediakan ruang bagi kreatifitas Anda untuk memberlakukan segala macam kepentingan atas pelik soal yang diterbitkan ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ dan ‘kenapa [harus] MAKAN?’

Kontras pemaknaan pun semakin nyata apabila kalimat ‘kenapa [harus] LEONARDO?’ disandingkan dengan ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ yang sama-sama berangkat dari satu referen, yakni ‘What About Leonardo?’ Kehadiran kontras pemaknaan yang demikian inilah yang memberanikan saya untuk semakin spekulatif dalam beranalisa. Rangga mengejar efisiensi kata! ‘kenapa LEONARDO?’ lebih singkat dibandingkan ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ Pengejaran atas efisiensi kata, yang saya duga ini berangkat dari pola-pola pemikiran bahwa judul itu sebaiknya singkat namun padat namun bisa menampung tema yang bakal diusung cerita, berdampak pada pengurangan esensi yang ada didalam ‘What About Leonardo?’ Sampai disini, saya mohon maaf kepada Rangga untuk mencegah munculnya kesalahpahaman. Sebab, bagaimanapun juga saya menyadari bahwa kerja tranliterasi bukan kerja yang mudah, gampang, dan serampangan. Dan Rangga sudah melakukan kerja tranliterasi yang sulit, rumit, dan teliti. Kehadiran halaman 110 yang memuat kalimat ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ yang diucapkan Dasilva menjadi bukti kuat bahwasanya Rangga sadar; Rangga sadar bahwa ‘What About Leonardo?’ adalah ‘Bagaimana dengan Leonardo?’ Penyimpangan transliterasi judul ‘What About Leonardo?’ menjadi ‘kenapa LEONARDO?’ tegas saya nyatakan bukan kesalahan! Sebab, pertanggungjawaban utama pemilihan transliterasi judul ‘What About Leonardo?’ menjadi ‘kenapa LEONARDO?’ beralaskan prinsip efisiensi kata dalam menggarap judul. (Sedikit tambahan, transliterasi judul yang saya anggap salah itu terjadi ketika buku ‘Identity and Violence: The Illusion of Destiny’-nya Amartya Sen diterjemahkan menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas’ yang diterbitkan Marjin Kiri pada 2007.)

Pada paragraph terakhir ini, kelancangan dan keberanian saya semakin menggila. ‘What About Leonardo?’, menurut saya, bisa ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia, tanpa meninggalkan esensi, menjadi 1) mungkin LEONARDO? atau 2) mungkinkah LEONARDO?

Januari 2007

dvd.tbg

Catatan: Saya, David Tobing, bertanggungjawab atas seluruh isi tulisan ini. Dan, tak sedikit pun ada niatan saya untuk meremehkan Rangga Riantiarno melalui tulisan ini. Apabila ada pihak yang menafsirkan demikian, kesalahan bukan pada saya; melainkan pada pihak penafsir. Sebab, tulisan ini bukan murni emosional pribadi, ketidaksukaan saya pada Rangga Riantiarno. Saya bahkan tidak mengenal siapa itu Rangga Riantiarno dan, saya yakin, Rangga Riantiarno pun tak mengenal saya. Sekali lagi, tak ada seujung rambut pun niatan saya untuk meremehkan RANGGA RIANTIARNO!!!

ANALISA 'DONGENG IDENTITAS-OTENTIK-SEJATI MULAI DARI KANDUNGAN IBU HINGGA KE PELUKAN BUMI' ATAS FENOMENA SURVEY POLITIK DI TANAH INDONESIA

Saya harus menjelaskan bahwa 'Dongeng Identitas-Otentik-Sejati Mulai Dari Kandungan Ibu Hingga Ke Pelukan Bumi' adalah golok analisa untuk melihat lebih detail apa sesungguhnya yang tengah dikerjakan oleh dua lembaga survey besar di Indonesia. Saya tak perlulah menyebut nama lembaga itu, cukuplah penanda 'dua lembaga survey besar di Indonesia' membantu pembaca mengidentifikasi apa nama institusi-institusi tersebut. Pilihan untuk tak menyebut nama lembaga itu dikarenakan ada rasa takut di dalam diri saya. Rasa takut itu muncul dari kekhawatiran bahwasanya tulisan saya ini dimaknai sebagai pembunuhan karakter bagi institusi-institusi dimaksud. Karena itulah, saya pun meminta bantuan ahli linguistik Ferdinand De Saussure yang menjelaskan konsep trimatra Tanda--Tanda, Penanda dan Petanda--dimana hubungan antara Penanda dan Petanda bisa terjadi secara arbitrer, konvensi dan sistemik. Dan karena saya dengan pembaca tidak saling mengenal, tak saling jumpa, maka korelasi antara penanda-petanda dalam konteks konvensi tidak bisa dibuktikan. Sedang pilihan sistemik dalam pandangan Ferdinand De Saussure, menurut saya, lebih mengacu pada parole/ujaran dari pada langue/tata-bahasa. Maka pilihannya yang paling mungkin: korelasi antara penanda-petanda ada dalam konteks arbitrer alias semena-mena. Dikarenakan konteks pemaknaan ada dalam ruang arbitrer, maka ketakutan saya akan dicap sebagai 'pencemar nama baik' pun hilang, paling tidak berkurang.

Saya perhatikan, 'dua lembaga survey besar di Indonesia' sering sekali melakukan jajak-pendapat popularitas presiden, popularitas calon gubernur, keinginan masyarakat atas pemimpin, masalah-masalah bangsa yang tak tersentuh penguasa, masalah-masalah bangsa yang tersentuh penguasa dan segudang indikator lainnya. Hasil jajak-pendapat itu pun kemudian dijajakan ke hadapan publik, entah melalui media elektronik semisal televisi, radio, internet, surat elektrik, blog, radio amatir, pun media cetak, umpamanya surat kabar harian, majalah mingguan, tabloid, selebaran, pamflet dan segala macam lainnya. Apa yang dihasilkan 'dua lembaga survey besar di Indonesia' ini dapat dipandang sebagai teks. Menggunakan pendekatan model Sastra Abrams, teks yang dihasilkan 'dua lembaga survey besar di Indonesia' dapat dipandang lewat empat perspektif, yakni ekspresi, objektif, mimesis dan pragmatik. Perspektif ekspresi atas teks jajak-pendapat memberikan makna bahwa si pemberi informasi hanya memberikan pesan informasi belaka ke hadapan publik. Bila dipandang lewat perspektif objektif, teks jajak-pendapat adalah teks yang dibangun atas struktur kajian ilmiah, yakni statistik. Bila ditengok lewat perspektif mimesis alias tiruan, maka teks jajak-pendapat adalah citra dari realitas yang sesungguhnya menjadi rujukan dari teks jajak-pendapat tersebut. Terakhir, bila dipandang melalui jalur perspektif pragmatik, teks jajak-pendapat itu memiliki daya guna.
Artikel, opini, partitur, prosa, cerpen, novel, niveau-roman, syair, madah, kidung, berita, features, sajak, naskah drama, atau apapun sebutan dari tulisan yang saya perbuat ini, pada dasarnya diniatkan untuk mendedah sehabis-habisnya perspektif pragmatik atas teks jajak-pendapat. Kira-kira, apakah teks jajak-pendapat itu memang berguna? dan apa bila berguna buat siapakah? saya ataukah orang-orang tertentu? Sebagaimana khitah dari apa yang disebut pragmatik adalah punya daya guna, maka pendekatan pragmatik atas teks jajak-pendapat pastilah memiliki kegunaan. Masalahnya, buat siapakah? Yang jelas, bagi saya pribadi, seorang pekerja di Jakarta dengan gaji yang cukup-membayar kontrakan-membayar makan-menabung sedikit, teks jajak-pendapat itu sama sekali tak ada nilai guna. Maka, teks jajak-pendapat itu berguna hanya bagi orang-orang tertentu saja. Siapakah mereka? Sudah pastilah, mereka itu adalah orang yang dirujuk dalam survey tersebut. Permisalan yang paling sederhana, hasil survey itu mengungkapkan popularitas presiden. Bila hasil survey menunjukkan popularitas presiden berada di bawah 30 persen, maka presiden bersangkutan bisa menggunakan data hasil jajak-pendapat untuk menyusun strategi dalam rangka meningkatkan popularitas. Apa bila, hasil jajak-pendapat menunjukkan bahwa popularitas berada di angka 90 persen, maka tak perlu ada penambahan strategi penciptaan popularitas. Tapi, bagi saya pribadi, entah itu popularitas di bawah 30 persen atau di atas 90 persen, hasilnya sama saja. Tak ada guna! Saya tidak tahu bagaimana bila saya tidak hidup di Jakarta. Andai saya hidup di Sragen, hidup sebagai seorang buruh tani--bukan pekerja kantoran, hidup bersama istri dan dua anak di rumah kontrakan--bukan bujangan meski sama mengontrak yang dengan biaya yang berbeda, saya tidak tahu apakah data survey yang mungkin saja bisa saya lihat dan dengar melalui televisi di rumah tetangga berguna atau tidak. Yang jelas, dengan status pekerja-bujangan-hidup mengontrak di Jakarta-gaji cukup makan dan sedikit menabung, teks jajak-pendapat itu tak ada gunanya. Maka keberadaan 'dua lembaga survey besar di Indonesia' hanya berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada tataran elit. Dan karena itu, lebih baik saya menyelesaikan kerangka mantap bagi teori 'Dongeng Identitas-Otentik-Sejati Mulai Dari Kandungan Ibu Hingga Ke Pelukan Bumi.'

Selanjutnya, saya pun mempertanyakan status data hasil jajak-pendapat tersebut. Status yang saya maksud bukan dalam kerangka validitas statistikal. Status yang saya maksud hidup dalam konstruksi sadar atau bawah-sadar. Apakah data yang didapat Maka keberadaan 'dua lembaga survey besar di Indonesia' berasal dari personal-personal atawa individu-individu yang sadar? Asumsi mendasarnya adalah Psikoanalisa yang dibangun oleh Sigmund Freud. Mayoritas manusia dalam bertindak dipengaruhi alam bawah-sadar! Maka, jawaban dari responden yang ditemui Maka keberadaan 'dua lembaga survey besar di Indonesia' hanya menelurkan jawaban yang berasal dari alam bawah-sadar, yang sama sekali sulit dipertanggung-jawabkan oleh si individu-personal-responden itu sendiri. Bila ini terjadi, dan saya merasa kemungkinan seperti ini terjadi mencapai 99,9 persen, maka yang terjadi, tanpa disadari 'dua lembaga survey besar di Indonesia' adalah pelestarian alam bawah-sadar. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan konteks demokrasi yang digadang-gadang oleh 'dua lembaga survey besar di Indonesia.' Kondisi seperti ini semakin diperparah dengan dibukanya jasa konsultasi politik atas dasar data survey jajak-pendapat bawah-sadar. Konsekuensi strategi yang dihasilkan konsultan politik terhadap orang yang meminta jasanya pun pastilah berdasarkan memengaruhi bawah-sadar. Dan demokrasi yang muncul adalah demokrasi bawah-sadar, demokrasi yang memang tidak didesain untuk dimintai pertanggung-jawaban. Apa yang dilakukan lembaga survey yang menjadi konsultan politik pun sama tak baiknya dengan lembaga survey yang terus-terusan mengeksploitasi alam bawah-sadar responden, tanpa mengangkat alam sadar. Bila data tersebut berasal dari alam sadar, setidaknya teks jajak-pendapat itu punya daya guna bagi saya pribadi.

Konklusinya, dikarenakan demokrasi yang terjadi di Indonesia adalah demokrasi bawah-sadar, maka saya memilih untuk tidak ikut-ikut dalam demokrasi yang bawah-sadar itu. Sebab, menurut saya, demokrasi adalah cara saya membantu mengurangi pengangguran di Indonesia, menambah perumahan murah di Indonesia, mengurangi gelandangan (kecuali ada orang yang berpikiran bahwa gelandangan adalah takdir bagi dirinya sendiri), harga pangan murah, minyak stabil. Situasi seperti itu terwujud dalam demokrasi sadar, demokrasi yang bisa saya golongkan utopis dan tidak realistis di Indonesia.

Walahuallam!

NOTULENSI FRAGMEN 12 DARI GOETHE

Enin : Bode, seniman yang juga penggagas Dokumenta merumuskan Dokumenta sebagai exhibition without form.

FX Harsono : Ada tiga landasan kuratorial (leiftmotifs) Dokumenta 12, 1) Apakah modernitas adalah masa lalu kita?, 2) Apakah masih ada keutamaan hidup setelah hedonisme mendominasi tata nilai kehidupan? Dimanakah seni dalam soal ini?, 3) Apakah pendidikan seni dan estetika sudah mampu memecahkan segala permasalahan dalam kehidupan kita?

FX Harsono : Setelah mengunjungi pameran Dokumenta 12, pertanyaan itu malah tak terjawab, atau bisa dibilang malah terlupa.

Enin : 1) Modernitas memang ada disekitar kita. Permadani, karya seniman permadani, memasukkan modernitas dalam karyanya. Karya permadani yang biasanya berisi hiasan ornament geometrik berubah menjadi lukisan taman. Memang, di pameran Dokumenta tak ada bentuk. Instalasi Relax Only Ghost yang digabung dengan permadani menggambarkan keterpecahan konsep dalam satu ruang pameran. Bahkan, karya lukis abad renaisans pun digabungkan dengan kanvas lukis era modern. 2) Hedonisme lahir dari demokrasi yang membawa kebebasan dan kemanusiaan sebagai nilai paling dasar. 3) Formulasi sederhana pertanyaan itu adalah: apakah demokrasi sebagai sistem nilai masih relevan? Bukankah hedonisme yang merupakan anak kandung demokrasi menampilkan sisi buruknya? Kira-kira begitulah.

FX Harsono : Memang tak mudah.

David Tobing : Bode sebagai penggagas memang cerdas. Exhibition without border! Aku pikir Bode sadar, bentuk dan isi tak bisa dilepas hidup sendiri-sendiri. Setiap seniman pastilah tahu pergulatannya tak lepas dari bentuk dan isi. Dominasi sejarah seni didominasi sejarah perubahan bentuk. Aku pikir inilah yang dasar pikiran Bode, seorang seniman yang kehidupan kreatifitasnya tak bisa pisah dari upaya pengolahan abstraksi-kesadaran (baca: isi) menjadi produk (baca: bentuk). 1) Modernitas memang masih mendefenisikan dirinya. Tak seperti tradisional yang sudah mapan sebagai nilai dan sedang asik-asiknya digugat sistem nilai peradaban kini semisal post-moderisme, feminisme dan lainnya. Bicara ‘Jawa’ sudah masuk konteks tradisional. Sedang ngomong ‘Indonesia’ belum tentu dianggap modern pun ketinggalan zaman. Tradisional dan modern, ternyata nilai yang dilekatkan manusia pada suatu hal. Dan perlu diingat, pelekatan nilai tradisional atau modern pada suatu hal tidaklah berarti menyatakan suatu hal tersebut baik atau buruk. Tradisional dan modern sebagai nilai memang tidak berhubungan langsung dengan baik atau buruk yang juga merupakan sistem nilai. Karena itu, setelah suatu hal diberi nilai (dalam bahasa kecaman bisa juga dikatakan: pelabelan/stereotip) tradisional atau modern, suatu hal tersebut masih harus menjalani serangkaian perenungan lagi yang mengakibat subjek perenung dengan penuh kesadaran dan keikhlasan memberi nilai baik atau buruk. 2) Enin bilang : pertanyaan aslinya dari landasan kuratorial kedua adalah apakah yang dimaksud dengan kehidupan sederhana? Ini sesungguhnya pertanyaan yang tradisional. Cara berpikir tradisional, contohnya Jawa, sangat lekat dengan masalah itu. Irup mampir ngombe misalnya merupakan representasi dari konsep kesederhanaan yang luas luar biasa. Konsep semacam itu tentunya tak mengenal istilah ‘menguasai alam’. Sejak zaman pencerahan hadir di Bumi dengan keagungan rasionalitasnya, manusia memandang alam sudah tak lagi sebagai kekuatan besar yang tak terkendalikan. Laku sub-ordinasi alam terhadap manusia hilang. Manusia adalah super-ordinat alam. Manusia bisa berbuat sesuka apa saja pada alam. [Aku merasa bule-bule di luar sana malah tak mengerti apa itu tradisional. Bentuk konkrit tradisional di tanah bule-bule sana tak ada, tak seperti di Indonesia, bila kita masuk ke Yogyakarta masih bisa melihat orang pakai blangkon dan berkebaya jalan-jalan di Malioboro. Bahkan saya pernah jumpa nenek tua berbusana kebaya menjadi sales promotion girl di salah satu pusat perbelanjaan di Malioboro. Nenek itu berdiri di pintu masuk toko! Konkritisasi tradisional tidak ditemukan di tanah bule-bule. Karena itu, bule-bule pun merumuskan pertanyaan: apakah hidup sederhana, yang lahir sebagai antitesis dari norma hedonisme yang marak menyala di tanah bule-bule.] 3) Enin ngomong apakah demokrasi bisa menawarkan sistem nilai ideal? Tentunya, belum tentu! Tapi sebelum aku jabarkan penjelasan terkait problem begitu, aku terpikat pada proposisi implisit penyetaraan demokrasi dengan sistem nilai. Penyetaraan itu berarti memandang demokrasi sebagai kebudayaan, tepatnya produk kebudayaan. Ini luar biasa! Demokrasi sebagai kebudayaan menawarkan dua hal utama, kemanusiaan dan kebebasan. Padahal bila dilihat secara politis belaka, demokrasi tak lain dari pertarungan merebut kekuasaan yang dilengkapi dengan segala macam prosedur seperti pemilihan umum. Aku berpikir, memang demokrasi sebagai sistem nilai bagi peradaban kini masih menghadapi ujian. Misal saja di Myanmar. Junta yang mundur-mundur meski rakyat sudah unjuk rasa mati-mati [bahkan biksu sebagai pengusung nilai-nilai keagamaan pun turun tangan untuk membantu demokasi hidup membangun sistem nilai demokrasi sendiri]. Memang, ada juga yang menyangkut-pautkan India, Cina, dan satu negara lainnya yang aku lupa dalam persoalan pelik gejolak Myanmar. Pendekatan pemikiran dengan melihat tiga negara tersebut justru menimbulkan konflik sendiri di dalam pengembangan demokrasi. Lewat tiga negara, persoalan Myanmar jatuh pada ekonomi. Artinya, ada sistem nilai lain dalam kehidupan yang harus diperhatikan. Sebenarnya, lewat pengejawantahan ini, persoalannya bukanlah lagi demokrasi sebagai sistem nilai masih layak atau tidak, melainkan: bagaimana sesungguhnya menata keselarasan antar segala macam nilai yang ada, demokrasi, ekonomi, agama, Ketuhanan, bahkan militerisme. Produk sampingan lain dari penjabaran pemikiran yang bertolak dari gejolak Myanmar mengarahkan saya pada kesimpulan: demokrasi bukanlah pertanda beradabnya suatu bangsa. Kecuali Cina, penganut komunisme yang berarti otoriter, India dan negara satunya tak angkat suara memecahkan kebuntuan gejolak Myanmar. Padahal sistem pemerintahan di India memilih demokrasi sebagai sistemnya. Ada perwakilan rakyat, ada eksekutif dan ada pula yudikatif. Petanda ini membawa saya pada dugaan bahwa demokrasi masih sebatas pertarungan kekuasaan. Demokrasi belum menjadi kebudayaan. Kemanusiaan dan kebebasan yang menjadi inti terdalam demokrasi tidak mengalir di dalam pembuluh darah di dua negara itu.

Notulen : Ada juga yang mempermasalahkan kok tidak ada satu pun seniman Indonesia di ajang Dokumenta 12. Informasi saja, Dokumenta 12 menghadirkan 500 karya lebih dari 122 seniman di seantero muka Bumi. Seorang yang ada disamping saya berkata, pertanyaan seperti punya kecenderungan narsis. Tiba-tiba muka seorang yang berkata pada saya pucat pasi. “Narsis. Narsis. Ra-sis!” kata dia mendesis di telinga saya. Dia bilang, narsis punya kedekatan emosional dengan rasis lewat pertanyaan ‘kok tidak ada satu pun seniman Indonesia di ajang dunia Dokumenta?’ “Ra-sis-so-nal-lis-me.” Dia mendesis seperti ular di telinga saya. “Nas-sis-si-o-nal-lisme.” Itulah desisan terakhir yang dia di telinga saya. Dia diam sejenak sambil memijat-mijat keningnya, memukul-mukul tengkuk dan ubun-ubun kepala, menunduk bahkan sampai mengantuk-ngantukkan kepala ke tembok batu. “Apakah rasis juga seperti demokrasi? Sama-sama kebudayaan?” katanya di depan muka saya. Saya pun melihat pesawat supersonic, Sputnik, Challengger, Apollo, Pertamina, Petroleum, Menara Eiffel, Monas, The Thinker, Guernica, M-16, rudal Patriot, Jupiter, sarung tinju, televisi, telepon genggam, satelit Palapa, Telkomsel, CNN, Nike, blangkon, merah, pemilu 2009, laser, bom atom, Einstein, gravitasi, emas, kereta api, asap knalpot, jalan aspal, harimau, lampu merah, undang-undang, joglo, Menara BNI ’46, menhir, Pulau Paskah, huruf paku, Piramida, senat, Plato, situs internet, konferensi pers Presiden, bendera, baju mini, sepatu karet, kolam renang, pohon pinus, Gunung Kelud, gempa bumi, tsunami, sumbangan kemanusiaan, kecelakaan lalu lintas, kamar jenazah, Hotel Sultan, White House, Paus Johanes Paulus II, Chairil Anwar, Lelaki Tua dan Laut, Samudera Hindia, kuburan Jeruk Purut, Tongging, Bali, Piala Dunia, Fransesco Totti, gitar elektrik, gambus, B.B King, This Is England, Catfish Blues, boneka kayu, kapak batu, rumah panggung, perahu, kapal selam, kuda nil, mammoth, piano, garpu tala, piring makan, lampu hias, kemeja, serbet, kaos kaki, Phitecantropus, filantropi, api, es, bir Bintang, kecoak, ladam kuda, cermin, di muka dia.

Fragmen: Sepulang Menjenguk Titarubi Di Bentara Budaya

Sudah malam rupanya. Sambil melihat taman berpohon rindang yang begitu tenang aku dengar Alia bicara di atas lori kereta Lelaki asal Eropa asyik bercanda dengan teman perempuannya yang berbaju hitam. Rokokku sudah tinggal puntung tewas dalam pijakan sepatu. Silahkan menikmati pameran tunggal Titarubi berbaur dengan gemuruh riuh telapak tangan yang beradu.

HERSTORY. Ah, aku sedang tak ingin mengkritik. Tak ingin pula aku berbual di hadapan instalasi rel keretaapi berjudul Kisah Tanpa Narasi. Alia masih ada dalam telingaku. Dia pun masih ada dalam mataku. Serupa taman berpohon rindang yang begitu tenang serta dua potong bakpau goreng dan sesendok Chinese kung pao. Atau senyum Mas Ipung serta segelas bir kaleng di tangan Redana. Tak maksud aku mencela, sungguh. Tapi jiwa selalu menawarkan garam yang asing. Garam asing yang melahirkan kejut dan takut. Alia, kacamatamu sama indah dengan sepatu kets yang engkau pakai.

Titarubi mengingatkan aku pada kehidupan kota di Inggris yang pernah kudiami hanya beberapa bulan saja. Di sana, para bangsawan begitu senang berkereta kuda di sekitar istana ratu dan raja. Aku hanya bisa iri melihat busana mereka. Paduan kain yang penuh kerumitan. Entahlah, aku rasa mereka memang senang bercanda dengan senjata atau pena. Para lelaki memang senang menulis di atas pakaian yang bukan hanya miliknya sendiri. Sekarang, aku kembali ingat pada ucapan Romo Franz. “Kita bisa mempertanyakan mengapa hanya ada ‘history’. Bagaimana dengan ‘herstory’? Tapi bagaimana pula dengan ‘sejarah’?” Aih Alia, aku memang merasa ada yang kurang dengan ketimuranku. Tapi bukannya ketimuranku tak indah. Sebagaimana maha karya terindah yang engkau tulis dalam hatimu, demikianlah keindahan ketimuran yang ada dalam diriku. Keindahan dan kesempurnaan adalah dua hal yang berbeda. Maafkan aku.

Aku tidak tahu harus memanggil apa padamu. Tita atau Rubi? Mbak Tita atau Mbak Rubi? Ibu Tita atau Ibu Rubi? Aku sangat bodoh karena tak tahu harus memanggil apa padamu. Aku ingin bertanya padamu. Adakah diantara kata-kata yang tadi kusebutkan mampu menampung rasa hormat dan takzimku kepadamu? Titarubi, perempuan kelahiran Bandung pada 15 Desember 1968, terimalah hormat dan takzimku padamu.

Kisah adalah kejadian. Narasi adalah penceritaan suatu kisah. Aku kagum ketika engkau mampu memilih judul Kisah Tanpa Narasi. Kata-kata yang engkau pilih, secara harafiah mampu menerjemahkan diri sendiri. Di dalam batinku, bahkan, kata pilihanmu sudah menjadi metafora dari dirimu yang sangat-sangat personal. Melalui kata-katamu, aku melihat gelisah dan berontak menyala-nyala dalam dirimu. Dua jalan kereta yang saling melintasi satu sama lainnya. Tapi aku tak menemukan rel yang saling tikam di titik temu perlintasan. Aku malah melihat persimpangan. Entahlah. Persimpangan memang tempat yang menakutkan. Tapi, tak jarang pula persimpangan adalah tempat pengalaman. Persimpangan adalah tantangan.

Titarubi, Titarubi. Di dalam mataku masih tersimpan instalasimu. Ada lori keranjang gigan penuh manekin keramik. Tapi, ada pula lori yang kosong. Manekin keramik engkau tumpuk seakan penuh kekesalan. Tak ada manekin yang utuh aku perhatikan. Selalu saja ada cacat. Entah tangannya patah, pinggangnya patah, atau kakinya patah, kepalanya retak, atau malah telinganya sudah rompal. Tumpukan manekin keramik yang menjelma menjadi pemandangan penumpang kereta api kelas ekonomi Jabodetabek, dalam pembahasaan Efix Mulyadi. Tapi aku tak melihat seperti Efix. Aku mendengar. Aku mendengar jerit dari manekin-manekin keramikmu. Rasanya, seperti melihat para arwah menari-nari di taman berpohon rindang yang begitu tenang. Jerit manekin keramikmu membawa pikiranku menerabas waktu. Jerit-jerit dari masa lalu. Jerit-jerit dari masa kini. Jerit-jerit dari masa depan! Jerit, dari, keranjang. Hmm, keranjang.

Titarubi, Titarubi, Titarubi. Keranjang. Hmm, siapakah kini yang tak mengenal benda itu? Siapakah kini yang tak lepas dari benda itu? Siapakah pencipta benda itu. Aku menjadi teringat ketika mengambil mata kuliah kebudayaan kontemporer. Keranjang adalah simbol dari budaya belanja manusia metropolitan. Sedang belanja adalah simbol dari psikologis kekuatan materi. Ada engkau ingin mempersamakan kekuatan materi dengan tuhan? Aku lagi tak ingin bertaruh. Biarkan aku hanya mendekatkan siapa pada manusia. Aih Alia, semoga saja aku tak salah. Ada karpet merah yang mengalasi jalan kereta api. Adakah itu darahku, darahmu, atau malah darah semua manusia? Seperti fitrah kereta di atas rel: selalu berjalan. Sedang Kisah Tanpa Narasi mengingatkan: mungkin manusia tak butuh kereta, tak butuh keranjang; meski persimpangan tak bisa dipunahkan.

Titarubi, Titarubi, Titarubi, Titarubi. Aku duga, engkau tak bakal melupakan THE SILENT SOUND OF WAR, LINDUNGI AKU DARI KEINGINANMU, I WISH I HAD A RIVER, HERSTORY ABOUT FOOT: DI BAWAH KAKIMU BUNGA-BUNGA SUDAH MATI, SELAPUT, VAGINA BROCADE, HERSTORY ON WHITE: BAJU YANG KAU PINTAL TERLALU BERAT BAGIKU, BAYANG-BAYANG MAHA KECIL #2, HERSTORY ABOUT FINGER, BAYANG-BAYANG MAHA KECIL, yang sudah menyatu di dalam Kisah Tanpa Narasi.

Alia, inilah kiranya kekurangan dari ketimuranku. Mungkin ada baiknya—mudah-mudahan apa yang aku sebutkan bukanlah bualan terhebat yang pernah aku ucapkan—tajuk pameran tunggal Titarubi bertajuk HERSTORY digubah menjadi HERSTORY: Kisah Tanpa Narasi. Maafkan aku Alia. Maafkan aku Titarubi. Ini semua karena aku hanya ingin memaknai apa itu HERSTORY.

TIGA KISAH SATU CERITA, SUATU UPAYA MERINGKAS PIALA ASIA

(Nostalgia Nasionalisme, Cinta di Patah Hati dan Bayang-bayang Mahabarata)


“Masa sepakbola bawa-bawa nasionalisme,” kata seorang pemuda yang begitu membanggakan kedunguannya. Sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, merengut mendengar. Aku merasa situasi berubah menjadi syair Bhagavad Gita dalam episode Kurusetra.


Nostalgia Nasionalisme
Nyaris enam puluh dua tahun umur Republik Indonesia. Sepanjang itulah Belanda resmi angkat kaki, meski mereka sempat berusaha mengagresi Indonesia dua kali dan berakhir gagal. Pekik ‘Merdeka atau Mati’ lagi memang lagi di masa-masa Proklamasi.

Jaman berputar serupa cakra yang menggelinding. Jerman dengan paham rasisnya runtuh sudah. Sovyet juga tenggelam bersama Marxisme-Leninisme tahun 1989 seiring dengan dirubuhkannya tembok Berlin, pembatas Jerman Barat dan Jerman Timur. Kini, di jaman post-modernisme, di jaman globalisasi, nasionalisme menjadi benda usang yang diperjual-belikan di toko loak. Meski begitu, sesekali nasionalisme tampil sebagai barang antik yang diburu kolektor dari seluruh penjuru mata angin. Tak kecuali di Indonesia.

Indonesia tersingkir dari ajang Asian Football Championship 2007. Indonesia, bukan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia alias PSSI. Lebih dari 50.000 penonton, termasuk di dalamnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, di Stadion Gelora Bung Karno yakin akan hal tersebut setelah Republik Korea Selatan menjaringkan bola satu kali di gawang Marcus Horison. Melalui televisi, jumlah orang yang yakin Indonesia tersingkir bukan lagi 50.000 lebih, melainkan berlipat-ganda menjadi 200 juta-an jiwa.

Meski tidak begitu intens, saya tetap mengikuti setiap pertandingan tim Merah-Putih melalui layar televisi. Setiap pertandingan yang saya lihat memberikan suasana psikologis yang berbeda, yang asing daripada yang saya rasakan di dalam keseharian. Saya begitu meng-Indonesia. Saya bukan orang yang romantis juga nasionalis, tetapi saya heran entah mengapa setiap kali mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan hati saya bergetar-getar. Situasi jiwa begitu mencekam serupa horor yang bersahabat. Dan imajinasi saya pun melangkah masuk ke masa-masa Indonesia berkeringat merebut kemerdekaan. Alam di mana darah tumpah begitu melimpah di lahan Nusantara. Alam yang begitu merindukan cita-cita tahun ’28.

Di tengah landaan perasaan sedemikian, saya sadar bahwa sesungguhnya nasionalisme bukanlah bahasa yang susah untuk dijelaskan. Nasionalisme pada dasarnya adalah pengalaman, situasi kejiwaan. Keinginan menjabarkan nasionalisme dalam seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku, menurut saya hanya berujung pada kesia-siaan belaka. Lewat cara demikian nasionalisme tidak menjadi terang dan jelas. Malahan sebaliknya yang terjadi. Nasionalisme hadir dalam bentuk abstrak, njilmet dan bisa memasung kebebasan. Dan karena itu pulalah, nasionalisme pun mudah untuk disangkal—seperti yang dilakukan seorang pemuda yang begitu membanggakan kedungguannya di hadapan aku dan sepasang orang muda. Sebagaimana seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku yang memuat penjabaran nasionalisme mudah dibangun, maka semudah itu pulalah nasionalisme diruntuhkan. Seenteng menyusun sendi argumentasi pendukung nasionalisme, maka kelompok penentangnya pun akan mudah pula menyusun sendi argumentasi penangkal nasionalisme. Apalagi setelah kredibilitas rasio semakin dipertanyakan di penghujung abad ke-20 oleh para filsuf-filsuf kenamaan dunia. Maka, pengalaman pun tampil ke permukaan menawarkan cara dan metode pengenalan dan pendekatan yang lebih ampuh untuk menjabarkan nasionalisme. Di era sekarang ini, masa-masa penjajahan sudah tidak ada lagi, kelihatannya olahraga merupakan media paling tepat bagi pengajaran nasionalisme, terutama sepakbola. Sebabnya, cabang olahraga ini memiliki daya lebur kelas sosial yang begitu mematikan. Melihat tiga pertandingan kesebelasan Merah-Putih di Gelora Bung Karno melalui televisi, saya tidak merasa ada perbedaaan kelas yang jelas di antara penonton hadir, sekalipun mereka duduk di barisan VIP atau sekadar tribun kelas dua dengan harga tiket Rp15.000. Dan, memang nasionalisme sesungguhnya bekerja atas dasar peleburan kelas menuju satu keinginan bersama, Indonesia berjaya di ajang sepakbola dunia, di ajang perekonomian dunia, di ajang budaya dunia, di ajang bahasa dunia, di ajang pendidikan dunia, di ajang teknologi dunia, di ajang diplomasi dunia.

Sayangnya, nasionalisme di Indonesia jatuh pada pengalaman temporer belaka. Nasionalisme bukanlah pengalaman keseharian yang kolektif di Indonesia. Nasionalisme hanya milik segelintir orang di negeri ini. Dan saya merasa tak layak untuk menjawab mengapa seperti itu keadaannya. Nasionalisme di Indonesia hadir serupa kaset yang dibeli hanya untuk didengar sesaat dan setelahnya dibuang atau dijual ke toko loak hingga tiba suatu masa para kolektor dadakan pun berjibun antri membelinya sekadar ingin bernostalgia belaka.


Cinta di Patah Hati
Sejak Piala Asia digelar, ratusan kostum Merah-Putih laris manis di pasaran. Ribuan pemain ke-dua belas ikhlas membeli kostum dan dengan bangga mengenakannya dalam perjalanan dari rumah menuju Stadion Gelora. Rasanya, seperti orang pacaran saja. Para penonton hadir sebelum janji pertandingan dimulai. Memang, di sana para pemain ke-dua belas dan kesebelasan Indonesia sedang dimabuk cinta pada kata ‘Menang.’ Apalagi, ‘Ini kandang kita!’

Namun, kini semuanya pupus sudah. Meski Indonesia tak perlu angkat koper, tapi hati tetaplah sedih. Asmara yang mereka harapkan punah ditelan Kerajaan Arab Saudi dan Republik Korea Selatan. Tapi, apa mau dikata. Segala upaya sudah tumpah, mulai dari keringat, tabuhan gendang hingga teriakan. Semuanya tak cukup untuk membuat Sang Kekasih bertekuk lutut. Ada ujar yang mengatakan, “Mungkin Dewi Fortuna masih di Italia atau Yunani atau Belanda atau Amerika malah. Dia tak sempat berjalan-jalan ke Asia, dan singgah di Indonesia.”

Sedikit berlagak bijak, saya merasa Indonesia belumlah menjadi Don Juan di lapangan sepakbola. Meski begitu, patutlah diingat pula bahwa Don Juan tidak lahir dari sukses belaka. Reputasi kisah cintanya yang melimpah ruah tentulah buah dari duri-duri kegagalan yang berhasil diaenyahkan. Demikianlah cinta adanya. Dibutuhkan kerja keras, ketulusan, keseriusan dan jam terbang yang lama. Pengalaman lagi-lagi menjadi yang utama; dan dalam hal ini patah hati Indonesia di lapangan bola masih terbilang terlampau sedikit. Itu tak cukup buat modal bersaing dengan Don Juan lapangan hijau lainnya, semisal saja Kerajaan Arab Saudi, Republik Korea Selatan atau Jepang. Apalagi Brasil, Argentina, Italia pun Belanda. Padahal, Sang Kekasih yang bernama Kemenangan alias Victory itu juga merupakan idaman hati dari ratusan tim yang ada di Bumi ini.

Kekalahan di ajang Piala Asia pasti membuat Indonesia bersedih. Tetapi, yang penting adalah bangkit dari kesedihan. Sebab harus diingat pula, Sang Kekasih di lapangan sepakbola yang bernama Kemenangan itu selalu setia menanti, meski senang berganti-ganti pasangan. Kerja keras dan ketulusan dan keseriusan adalah hal yang patut diprioritaskan setelah jam terbang masuk kategori tak terkalahkan. Setidaknya, itulah yang saya ketahui setelah melihat sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, saling senyum. Saya sempat mengingat aura lesu dan layu yang terlukis di wajah keduanya ketika peluit panjang berbunyi dan babak kedua pun selesai dengan skor 1-0 untuk Republik Korea Selatan. Saya hanya bisa menyimpulkan, “Sepertinya mereka sudah kuat menahan patah hati,” sambil tertawa-tawa sendiri.


Bayang-bayang Mahabarata
Menjelang Piala Asia, di seputaran Stadion Gelora ramai terpasang poster raksasa potret pemain kesebelasan Indonesia beraksi dengan satu tag-line ‘INI KANDANG KITA’ di sudut kanan bawah. Di belakang potret ada gambar tokoh pewayangan dari kisah Mahabarata, serta sedikit Ramayana. Dan yang berada Bambang Pamungkas adalah sosok Arjuna, ahli memanah asal Hastinapura, sedang Ellie Aiboy kalau tak salah disandingkan dengan Anoman, kera putih yang membantu Rama menaklukkan Alengka.

Ide menyamakan para pemain kesebelasan Merah Putih dengan tokoh pewayangan menurut saya menarik. Tapi, yang saya sayangkan mengapa pengurus PSSI jatuh pada pilihan yang didominasi kisah Mahabarata. Maaf, bila saya dirasa terlampau berlebihan. Saya tidak bermaksud menyatakan Mahabarata sebagai kisah yang jelek; pun menyamakan Ponaryo dan rekan dengan para tokoh Mahabarata adalah ketololan. Saya pun tidak ingin mengkritik, tindakan itu sangat berkesan Jawasentrisme. Sama sekali tidak ada niatan demikian.

Penilaian yang saya tuliskan pada bagian ini terinspirasikan perkataan Ki Mantheb S. Suatu ketika ia pernah berkata, “Wayang adalah bayang. Ketika dalang memainkan tokoh wayang di sebelah kanan, penonton penikmat malah menyaksikan tokoh tersebut berada di sebelah kiri. Begitulah, kanan pun menjadi kiri, sedang kiri menjadi kanan. Antara Kurawa dan Pandawa, siapakah yang lebih baik? Tokoh-tokoh Kurawa yang dimainkan di sisi kiri, bagi penonton malah berada di sisi kanan. Tokoh-tokoh Pandawa yang dimainkan di sisi kanan, bagi penonton malah berada di sisi kiri. Apakah Pandawa memang berada di posisi seratus persen benar? Bagaimana dengan peristiwa perjudian Pandawa dengan Kurawa, ketika Yudhistira menjadikan istrinya sebagai taruhan? Apakah ada moralitas Pandawa dalam situasi demikian?” Kira-kira demikianlah Ki Mantheb berkata.

Sedikit lancang, saya menyimpulkan pengisahan Mahabarata tidak ditujukan pada pemilahan baik versus jahat yang kaku, melainkan samar dan penuh jebakan. Pengisahan itu, menurut saya tidak seperti kisah Ramayana. Di kisah Ramayana, baik versus jahat memang benar terpisah. Baik ada di kubu Rama, Laksmana dan Sinta. Sedang jahat, adanya di Alengka, tepatnya Rahwana. Memang ada latar yang perlu diperhitungkan, semisal Rahwana menjadi jahat disebabkan sebab tertentu dan Rama harus menjadi pembuangan dari Ayodya pun dikarenakan suatu ihwal yang bila dikisahkan disini menjadi terlampau meluas. Namun, sebab dan ihwal mengapa Rahwana haus darah dan Rama terbuang tidak menjadi alasan pemaklum. Sepanjang pengisahan, tetap saja Rahwana ditempatkan sebagai orang yang jahat dan harus dibasmi. Karena itu, menurut saya, alangkah tepatnya bila para pemain tim nasional digambarkan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari kisah Ramayana. Bisa Sugriwa, Subali, Anoman, Rama, Laksmana, Batara Indra, Hyang Baruna dan semacamnya. Bila sudah demikian, tentulah lawan kesebelasan PSSI pastilah duta Alengka. Karena itu, seturut takdir dan kehendak dewata yang berlaku dalam kisah Ramayana: Alengka kalah, pun (saya berharap) berlaku juga di lapangan sepakbola.

Meski begitu, pada dasarnya saya tak hendak mencari-cari kambing hitam penyebab tak lolosnya tim nasional Indonesia dari babak penyisihan. Hal yang tersebut di atas adalah kenyelenehan yang saya sadari sendiri dan belumlah tentu benar penafsiran demikian. Dan karena kisah Mahabarata itulah saya suka membayangkan lapangan sepakbola di Stadion Gelora seperti medan pertempuan Kurusetra, lokasi Pandawa dan Kurawa beradu digdaya. Dan di setiap pertandingan tim nasional Indonesia, pertanyaan siapakah Pandawa dan Kurawa selalu sulit untuk dijawab sebelum peluit panjang berbunyi untuk terakhir kali dan memang saya menetapkan pilihan untuk tak menjawabnya. Kesebelasan mana saja bisa menjadi Pandawa atau Kurawa. Yang jelas, Ivan Kolev sungguh berhasil menghadirkan Kurusetra di Stadion Gelora. Indonesia tampil dengan kolektifitas yang tinggi, daya juang yang menggunung, meski terpaksa takluk pada kebugaran fisik yang cepat padam, terutama pada pemain yang berada di medan gelandang. Tetapi, keletihan fisik itu tidak menghapus pukauan strategi dan nyali yang luar biasa yang ditunjukkan pemain tim nasional yang berlaga di lapangan: Yendri Pitoy, Marcus Horison, Maman Abdurrahman, Yulianto, Ricardo Salampessy, Muhammad Ridwan, Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Syamsul Chairul Bahri, Ponaryo Astaman, Eka Ramadani, Firman Utina, Bambang Pamungkas, Mahyadi Panggabean, Supardi, Atep, Ismed Sofyan dan juga Erol Aiboy.

DEDY MIZWAR, NAGABONAR, MELONCAT DARI LAYAR LALU MASUK KE DALAM NALAR, BERDIAM SEJENAK SAMBIL MENGINGAT SUDAH BERAPA LAMA PENJAJAHAN BERKELANA DI DUA

DEDY MIZWAR, NAGABONAR, MELONCAT DARI LAYAR LALU MASUK KE DALAM NALAR, BERDIAM SEJENAK SAMBIL MENGINGAT SUDAH BERAPA LAMA PENJAJAHAN BERKELANA DI DUA WARNA dalam darah yang tak lagi MERAH


Siapakah Nagabonar? Dialah tokoh rekaan almarhum Asrul Sani, pencopet yang dikarenakan sejarah terpaksa menjadi Jenderal Medan-Lubuk Pakam! Sedang Deddy Mizwar, manusia utuh yang bekerja sebagai aktor, dan kini menjadi sutradara film Nagabonar (Jadi) 2! Dulu, bersama Nurul Arifin yang berperan sebagai Kirana, dia tampil dalam film Nagabonar garapan almarhum Asrul Sani, memerankan tokoh Nagabonar. Sekarang, cerita baru bermulai ditandai dengan kepulangan Bonaga ke kampung halaman untuk membawa ayahnya, Nagabonar, ke kota Jakarta!

Film yang baik, menurut saya, adalah film yang tak hanya berdiam dalam layar melainkan mampu meloncat ke luar lalu menari-nari di alam nyata, alam keseharian, alam para manusia yang hadir di Bumi dengan suratan tangan yang sudah ditetapkan pula oleh Yang Maha Kuasa. Nagabonar (Jadi) 2 pun demikian. Ia lahir dan sekarang menari-nari di alam nyata bersama jaringan bioskop 21, membawa ketetapan takdir dari penciptanya, almarhum Asrul Sani! Lalu, dimanakah Deddy? Dia ada di depan saya ketika Rendra menerima anugerah Federasi Teater Indonesia pada Januari lalu di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan.

Di Indonesia, rasanya tiada seorang pun yang tak pernah kupingnya mendengar kata ‘Nagabonar.’ Mulai dari Susilo hingga Bambang yang menarik becak di pinggiran Jakarta, juga Rara, jablay yang sering mangkal di dekat pusat belanja metropolitan. Apalagi Dennis, yang kini berhenti sekolah karena kekerasan yang kerap dia terima dari para jawara di kampusnya yang panas tiada terkira. Tohar, lelaki yang pernah berprofesi menjadi supir perusahaan kelontong berkaliber internasional, dapat dipastikan pernah mendengar kata itu, bahkan bukan tak mungkin pula dia pun pernah berjabat tangan dengan Asrul Sani, dengan cara yang sungguh luar biasa: disengaja!

Kini, Nagabonar sudah tua. Deddy Mizwar, apalagi. Beruntung masih ada Tora Sudiro yang sedia menjadi Bonaga, satu-satunya anak Nagabonar yang hidup (empat kakak Bonaga mati setelah lahir!); meski itu harus dibayar dengan kenangan pada Nurul Arifin disebabkan Kirana meninggal dunia usai melahirkan Bonaga. Sedang Belanda, sejak era 40-an sudah sayonara dari khatulistiwa. Selain pangkat Jenderal yang tidak penting, Nagabonar masih punya kebanggaan yang lain, yakni anaknya: Bonaga! Sesungguhnya pula harus diketahui, Bonaga adalah hasil evolusi diftong au. Sebagaimana harimau bisa dibaca jadi harimo, atau pantai dapat dibaca jadi pante, maka Bonaga pun berawal dari Baunaga, lalu lewat teori evolusi ‘yang kuat yang hidup,’ Baunaga pun jadi Bonaga.

Dalam kultur Tapanuli, Bonaga adalah Bo-naga, adalah Bau-naga. Bau-Naga adalah satu-satunya bau yang mampu memualkan lambung hanya dalam hitungan sekedipan mata, dan memiliki radius yang sangat sangat sangat jauh melebihi kemampuan alat pendeteksi reaktor nuklir milik Pentagon yang berada di atas langit kebiruan menemani satelit Bumi yang cuma satu-satunya itu: Bulan, yang bagi Nagabonar adalah Karina, istrinya yang punya cinta melimpah sampai-sampai dia tak sanggup menampungnya. Dan pasti tak ada seorang pun di Bumi ini yang tak tahu dimana bulan berada. Demikianlah Nagabonar dan Bonaga pun semakin mudah berbicara: “Apa kata dunia,” dengan logat khas Deli Serdang; meski Nagabonar hingga tahun 2007 tetap saja buta aksara dan masih tak bisa membaca peta (apalagi peta dunia), sama dengan kemampuan mencopetnya yang tak pernah tumpul dimakan zaman.

Kepada Wulan Guritno, terima kasih karena sudah memerankan Monita. Sama dengan Bonaga, Monita juga hasil evolusi, globalisasinya Thomas L. Friedman. Mau-Nita! Metropolis(!), yang tak lagi membuat para pria susah-susah belajar memainkan gitar dan menantikan malam, lalu duduk sambil bernyanyi di bawah pohon tak jauh dari jendela kamar sang pujaan hati tanda proposal rayuan sudah diajukan tinggal menanti jawaban. Memang, cara itu sudah tak laku lagi disebabkan jendela kamar Bonita saja sudah semakin dekat dengan bulan. Tentu diperlukan JAVA PRODUCTION pimpinan Adri Subono untuk meminjamkan seluruh perangkat konser Madonna yang rencananya, kalau tak ada halangan, bakal digelar tahun ini. Bagi Bonaga sesungguhnya itu tak masalah, apalagi Tora yang sudah pernah meraih Piala Citra lewat Arisan! Tapi, bagi Nagabonar itu tak perlu. Sebagai turunan raja, ia teguh berpegang pada petuah lama: Perempuan adalah Perempuan, ingin sebenang lebih dari lelaki! Monita dan Bonaga dengan benang diantaranya. Demikianlah percintaan di era globalisasi yang biasa berakhir di atas keranjang tidur tidak berlaku bagi duet Bo-Mo, yang sudah serupa dengan duet Romario-Bebeto pada Piala Dunia 1994 di negerinya George Washington. Kisah romantis Monita dan Bonaga hanya berhenti pada shiuman di pipi, kanan dan kiri, bersamaan dengan ditemukannya ketiak ular, suatu hal yang bisa memusingkan Nagabonar. Kitik nipe, demikianlah bahasa Batak Karo menyebut ketiak ular. Tak seorang pun mengetahui dimana ketiak ular berada. Namun apabila ketiak itu ditemukan, maka hewan reptil yang semematikan apa pun pasti takluk di tangan seorang awam. Karena itu, perempuan adalah ular dan lelaki adalah pawang. Bila tak berhati-hati, bisa di ludah dapat berpindah ke dalam darah. Dan darah siapapun juga, entah yang hidup dan yang mati, pasti berwarna merah! Apakah ini yang membuat Nagabonar mencari makam Jenderal Soedirman? Sepertinya: Tolol! Tapi,

apa boleh buat tai kambing bulat-bulat: anak Siti Maemunah dengan begitu bodohnya berteriak agar patung Jenderal Sudirman berhenti menghormat (ke utara), sampai-sampai Nagabonar rela memanjat patung tersebut sambil berharap Sang Jenderal menuruti keinginannya. Sebagaimana patung di mana pun di kolong jagat, Jenderal Soedirman pun takluk pada takdirnya yang ditetapkan hanya untuk menuruti rencana penciptanya. Dan Nagabonar yang tampak tolol tapi bukan bodoh yakin bahwasanya Jenderal Soedirman tidak akan sembarang menghormat! Apalagi bila diingat bahwa Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata adanya di selatan Jakarta! Sedang patung dua Proklamator tak jelas menghadap kemana. Padahal, seturut kesaksian Nagabonar, setiap hati (entah pembunuh, pencuri, pencopet, petani, pedagang, menteri, tukang becak, penipu, pegawai negeri, hakim, mulai dari yang paling sajadah hingga yang paling haram jadah) yang mendengar suara Bung Karno ketika bepidato pasti bergetar! Siang itu, di Tugu Proklamasi, ada empat anak lusuh; seorang diantaranya memandang Nagabonar yang menghormat ditemani Umar dengan tatapan yang penuh keheranan. Begitu juga Umar, supir bajaj yang santun dan selalu memakai handuk biru yang disampirkan di tengkuk, keheranan melihat tingkah Nagabonar. Adakah biru muda mengingatkanmu pada sesuatu atau malah kesantunan yang mengingatkanmu pada sesuatu? Berkendara bajaj Umar yang dilengkapi miniatur bendera Merah-Putih di sisi kanan dan kiri, Nagabonar menjelajah Jakarta dan bertemu seorang polisi berpangkat Bripda, polisi yang tak bisa menjelaskan mengapa bajaj dilarang melintasi Jalan Jenderal Soedirman. Yang jelas, Jenderal Medan-Lubuk Pakam Nagabonar harus rela berjalan kaki menuju patung Jenderal Soedirman bersama Umar di Indonesia yang sudah merdeka, jauh sebelum kelahiran teman-teman ciliknya yang menemani dia bermain bola di lapangan apa-adanya yang berada tak jauh dari rumah anaknya, si Bonaga. Nagabonar hanya paham bahwasanya Ibu, Istri, dan si Bujang selalu hidup dalam hatinya; sedang zamannya Bonaga masih dan masih coba dia pahami hingga Nagabonar ingat rencananya membeli karpet sebagai alas lantai Mushola Nurul Fikri yang pernah ditawarkan Indra Birowo ketika dia sedang berguru mengaji ke Umar, supir bajaj yang selalu menyampirkan handuk biru muda di tengkuknya. Dimanakah cerita ini usai? Yang jelas bukan di kuburan, sebab Nagabonar sudah bertahan untuk tetap berdiri menghormat sampai bendera Merah-Putih yang dikerek dua pelajar Sekolah Dasar berkibar di pucuk tiang. Saat itu, Nagabonar sempat tumbang, namun serempak puluhan anak sekolah dasar segera menopang tubuhnya hingga tak menyentuh tanah, dan bendera yang semula tersendat naik itu pun akhirnya berhasil digiring sepasang pelajar sekolah dasar menuju pucuk tiang. Nagabonar berhenti menghormat! dan dia kembali berdiri tegak! Dan sepertinya, Piala Citra 2007 sudah menentukan pilihan. Tapi, sepertinya pula Deddy Mizwar berharap pada sesuatu yang lebih dari sekadar piala, yakni buah cintanya dengan Karina, Bonaga. Bukan ‘Jenderal’! Dan Asrul Sani, memang belum pergi. Sedang feminisme tampaknya harus kerja lebih keras gara-gara segaris benang saja. Atau,

masih ada satu lagi. Ini hanya sebuah film belaka dengan peran yang tak terlalu memukau. Apalagi Wulan Guritno, Darius Sinathraya, juga Jaja Miharja pun Uli Herdiansyah! Seturut Nagabonar, umurlah yang mendekatkan kita dengan Tuhan. Maka Nagabonar pun belajar mengaji pada Umar, agar tak dimarahi Mamaknya nanti di alam baka.

Musfar Yasin: Amin!!!


Catatan: Tulisan ini masih banyak salah ketik. Karena itu, saya membebaskan sidang pembaca merangkai cetakan yang benar yang sesuai dengan Anda sendiri di dalam benak Anda. Demikian harap maklum sebab ‘Tulisan ini adalah rekayasa belaka. Bila ada kesamaan nama dan cerita dan ketololan, itu hanya soal kebetulan saja alias tak usahlah dilebih-lebihkan.’
ALIS DAN KENANGAN DIPENJARA

Namanya, Ali Yusuf Abu. Asal, Afrika Selatan. Umurnya, 26. Kemarin, dia menjalani pemberkasan di lantai empat, ruang Satuan Narkoba Polres Jakarta Timur.

Dua tahun lalu, 2004, pria kelahiran Cape Town ini tiba di Indonesia. Bekalnya, visa wisata. Itu berdasar pengakuan dia. Tapi, pemeriksaan di Markas Komando Polres Jakarta Timur membuktikan bahwa visa tersebut cuma kamuflase belaka. Kanit II Narkoba Polres Jakarta Timur AKP Budi Santosa sudah menetapkan dia sebagai tersangka penipuan. Dan sebenarnya, kesalahan dia tak hanya itu. Ketika ditangkap pada pukul 07.00, di Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat, kemarin, Alis tak membawa paspor. Padahal, bagi seorang yang tergolong Warga Negara Asing (WNA) paspor merupakan identitas pengganti Kartu Tanda Penduduk (KTP). Penetapan itu sendiri ternyata berlatarkan cerita yang dimulai sejak Juli 2006. Saat itu, pihak kepolisian mendapat informasi dari warga. Isi informasi itu: Alis pengedar putauw! Sebagai tindak lanjut, Polres Jakarta Timur menelusuri gerak-gerik Alis.

Dan, puncaknya terjadi ketika polisi yang menyamar berhubungan via telepon dengan tersangka. Soal yang mereka bicarakan tak lain adalah jual-beli putauw. Melalui telepon, polisi menyatakan bahwa mereka punya uang Rp18 juta. Alis menjawab, nominal sebesar itu setara dengan 50 gram putauw. Kedua belah pihak pun setuju, tinggal menentukan lokasi transaksi. Dipilihlah, Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat.

Di tempat itu, polisi dan Alis bertemu. Alis meminta polisi mengunjukkan uang. Uang dalam amplop yang disembunyikan dibalik jaket pun ditunjukkan. Kini, gantian polisi yang meminta Alis melakukan hal serupa. Tapi, Alis tak memenuhi permintaan itu. Sebagai dalih, dia berjanji menyerahkan paket putauw setelah uang berpindah tangan dahulu. Tentu saja, itu tak bisa dipercayai oleh polisi.

Alis yang lumayan bisa berbahasa Indonesia ini pun mengajak polisi berkeliling untuk mengambil 'barang'. Setelah tawaran itu diikuti, polisi pun curiga Alis mau melarikan diri. Tanpa diduga, Alis langsung dibekuk dan dibawa ke Markas Komando Polres Jakarta Timur.

Di ruang pemeriksaan lantai empat itu, mengenakan kaos sport merah berlogo 'Air Jordan', Alis menyoal penangkapan itu. "Saya salah apa? Tidak ada barang bukti," kata pria berambut kriting dan pendek ini. Anehnya, dia tidak mangkir ketika dia ditetapkan sebagai penipu. Fakta pun meluncur dari mulutnya sendiri. "Dulu, saya pernah tipu napi di Salemba," kata lelaki yang berpostur gempal ini santai. Ceritanya, waktu itu napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Salemba mau membeli putauw. Alis menyanggupi, tapi dengan syarat: uang dulu, baru barang. Setelah persyaratan dipenuhi, Alis segera raib.

Selain kejahatan itu, lelaki kelahiran 1980 ini pun mengungkap aib barunya lagi. Ia pernah dipenjara selama satu tahun karena soal aniaya. September 2006 bebas.

Pada tahun 2005, di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, ia menghajar rekan kerjanya yang berasal dari Kamerun hingga berdarah. "Dia menipu saya," katanya pula menerangkan sebab aniaya. Ternyata, hubungan antara Alis dan rekannya itu pun tak jauh dari 'dunia hitam'. Mereka berkomplot membuat uang palsu, khususnya mata uang Paman Sam. Ketika itu, seingat dia, 100 USD palsu mereka jual seharga Rp780 ribu. Masalahnya, keuntungan 'bisnis' tersebut seluruhnya dibawa pergi rekan kerjanya itu. Inilah pangkal pemukulan itu.

Kini, ingatan setahun dipenjara muncul kembali. "Ya, pusing deh. Bakal masuk lagi nih...," Alis mengeluh!
PARENTAL ADVISORY: KEBODOHAN YANG TAK BOLEH BELAJAR

Film 'Pocong' karya Rudi Soedjarwo dinyatakan tidak lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Alasannya, berdasarkan Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006, ada 9; diantaranya tidak bersesuaian dengan norma kesopanan, menonjolkan adegan kekerasan dan kekejaman lebih dari 50 persen, hingga terkesan kebaikan dikalahkan kejahatan. Ketua LSF Titie Said menambahkan pula dampak dari film itu. Menurut dia, film itu dapat membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998.

Persoalan tidak lulus sensor mengartikan satu hal pokok, yakni ketidak-layakan tayang. Mengingat kata 'ketidak-layakan', saya terkenang pernyatan Franz Magnis Suseno di tahun 2003, tentang etika. Persoalan rumit itu disederhanakan menjadi satu kalimat sederhana: tidak semua hal yang dapat dilakukan (baca: kebebasan) boleh dilakukan (baca: tanggung jawab). Pencitraan praktis dari inti etika tersebut, kira-kira: meski semua manusia berpotensi (baca: dapat) membunuh, tapi kerja membunuh itu sendiri tidaklah layak dilakukan. Bila ditarik lebih panjang, persoalan ini bermuara pada kebebasan bertanggung-jawab. Seseorang dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan yang dilakukan hanya bisa terlaksana apabila yang bersangkutan memiliki kebebasan memilih tindakan.

Kembali ke soal film 'Pocong' yang berbiaya Rp3 miliar ini. Untuk pertama kalinya, film ini haruslah dilihat sebagai salah satu mode ekspresi kesenian, diantara sekian banyak mode ekspresi kesenian lainnya, seperti sastra, suara, lukisan, teater dan lainnya. Dan, dunia ekspresi kesenian ini pada dasarnya berlandaskan kebebasan atau semesta probabilitas. Karena itu pulalah maka seniman memiliki keleluasaan 'boleh melakukan apa saja'. Namun, adanya keleluasaan ini tidak mengandaikan bahwa seniman menihilkan soal etika dalam berkarya. Seniman tetap memiliki standar etika, yang saya sebut dengan 'institusi etika prifat'. Di dalam 'institusi etika prifat' inilah tersimpan mana yang boleh dan tidak. "Institusi etika prifat' ini pulalah yang memungkinkan Rudi Soedjarwo menghasilkan film 'Pocong'.

Keberadaan 'institusi etika prifat' didalam diri Rudi terbukti melalui pembelaannya sendiri. Menurut Rudi--masih dalam artikel Koran Tempo edisi Selasa 17 Oktober 2006--film Holywood dan tayangan televisi lebih sadis dari film 'Pocong' yang ia buat. Tidak hanya itu. Film 'Pocong' pun disebut Rudi memiliki pesan moral, yakni 'kita harus lebih takut kepada manusia daripada kepada setan'. Pembelaan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Rudi atas pilihan dan kebebasan ekspresi yang dia miliki.

Memang, selama film 'Pocong' dibuat untuk konsumsi sendiri, keperluan pribadi, maka tidak akan pernah ada masalah muncul. Tapi, ketika film ini hendak masuk ke ruang publik, masalah timbul. 'Institusi etika publik' menyaring hasil 'institusi etika prifat'. Kategori layak atau tidak pun bermain.

Dari perspektif ini, terlihat jelas bahwa LSF berposisi sebagai 'institusi etika publik'. Lembaga ini menyaring hasil kerja Rudi bersama rumah produksi Sinemart. Proses seleksi yang membutuhkan waktu dua minggu dilakukan tiga tahap, dari kelompok pertama ke pelaksana harian lalu ke pelaksana harian plus yang berisi agamawan, budayawan, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk kehati-hatian ini, saya pribadi mengucapkan salut. Namun, hasil akhir yang menyatakan bahwa film 'Pocong' tidak layak tayang, jelas-jelas menyakitkan.
Tentu saja, 'institusi etika prifat' milik Rudi beserta Sinemart terlebih dahulu tersakiti. Dan, bisa jadi beberapa personal di LSF, misalnya Titie Said pun bersedih; sebab menurut dia kualitas sinematografi, pencahayaan, akting dan dialog fim tersebut tergolong 'oke'. Selain mereka, saya pun merasa tersakiti. Dan, dengan menyadari dasar keberadaan LSF adalah hak sosial individu yang dilimpahkan ke negara, maka rasa tersakiti itu pun semakin menusuk. Dengan kata lain, saya sebagai individu yang telah melimpahkan hak sosial ke negara dengan kesadaran sendiri mengambil pisau dan menyayatkannya ke tubuh saya sendiri. Ya, putusan LSF adalah putusan saya sendiri untuk menghujamkan belati ke pembuluh nadi saya.

Disinilah keberatan dan ketidaksetujuan saya atas putusan LSF itu. Menurut saya, putusan 'institusi etika publik' LSF melabelkan satu hal ke 'institusi etika prifat' yang dimiliki tiap individu, yakni kebodohan. LSF dengan kekuasaannya mengklaim bahwa publik yang bakal menikmati film ini adalah sekumpulan orang bodoh-tolol yang tidak memiliki standar etika. Dan karena itu, satu film Rudi Soedjarwo--perkiraan saya berdurasi maksimal dua jam--mampu meracuni khalayak penonton untuk berbuat kekerasan dan kekejaman seperti yang ditampilkan film tersebut. 'Institusi etika prifat', khususnya saya, dicap bodoh-tolol oleh LSF 'institusi etika publik'. Betapa, hak sosial yang saya berikan kepada LSF ternyata telah disalah-gunakan dengan merenggut kebebasan milik saya untuk menilai apa dan bagaimana film 'Pocong' itu.

Selain itu, hal lain yang menyinggung adalah dugaan bahwa film 'Pocong' dapat 'membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei 1998'. Kalimat yang disuarakan Titie Said, bagi saya naif. Dugaaan atau kekhawawtiran atau ketakutan dalam pernyataan itu menyiratkan dua hal. Pertama, 'kita' harus melupakan tragedi; Kedua, 'kita' harus hidup damai tanpa 'luka lama dan dendam...' Saya secara pribadi menyakini bahwa siratan pertama bukanlah pilihan posisi bagi seorang yang bernama Titie Said, yang menurut saya, mampu merasakan derita yang dialami korban tragedi itu. Ketua LSF ini pastilah bermaksud pada siratan kedua, yakni 'luka lama dan dendam...' itu harus diselesaikan hingga 'kita' dapat hidup damai bersama.

Disitulah letak kenaifan LSF. Sebab, dampak tragedi Mei 1998 bukanlah terletak di dalam film, melainkan di kenyataan itu sendiri. Apakah Indonesia memang sudah menuntaskan sejarah kelam bangsa yang selalu mengagungkan nilai ramah tamah dan sopan santun ini?

Di sisi lain, dugaan atau kekhawatiran atau ketakutan LSF itu ternyata membongkar pola pikir 'institusi etika publik' ini. Melalui dugaan itu, saya pun dapat melihat apa dan bagaimana film di mata 'institusi etika publik' ini. Film bagi 'institusi etika publik' ini berada di atas kenyataan. Dan pola pikir inilah yang berusaha 'mereka' suntikkan ke kepala 'institusi etika prifat' yang kadung dicap bodoh-tolol. Film melebihi kenyataan! Menurut saya, ini pola pikir yang salah. Seharusnya 'institusi etika publik' ini mempromosikan ide bahwa film merupakan sub-ordinat kenyataan. Jadi, sebagus apa pun film yang dibuat, tetap saja kenyataan yang menempati posisi teratas.

Apakah putusan LSF ini bisa dibatalkan atau tidak--seperti perubahan keputusan dari meluluskan menjadi menarik dari peredaran film 'Buruan Cium Gue!' yang dikarenakan desakan 'institusi etika prifat'-yang-memublik*--wallahuallam, saya tidak bisa memastikan. Yang pasti, setidaknya hingga saat ini, 'institusi etika publik' menegaskan bahwa 'institusi etika prifat' cuma berisi kebodohan, ketololan, tolol bakero belaka! Bila sudah begini, kodrat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dengan derajat tertinggi (baca: memiliki akal budi) diantara semua mahluk ciptaan-Nya pun menjadi semakin didangkalkan. Dan, jika memang benar 'institusi etika prifat' berintikan kebodohan, apakah saya, yang bodoh ini, memang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang benar demikian, saya terpaksa mengacuhkan keberadaan 'institusi etika publik' yang menyebalkan seperti, maaf LSF cuma salah satunya saja di Indonesia yang susah dicinta ini.


*: Saya sendiri tidak sependapat dengan desakan dan putusan menarik film 'Buruan Cium Gue!' dari peredaran; sebab ide ini lagi-lagi cuma menegaskan pelabelan 'institusi etika prifat' yang bodoh-tolol. Dan 'insitusi etika prifat'-yang-memublik cumalah kesemuan belaka, sebab itu menjadi tirani 'institusi etika publik' semata.
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!
MEMANG SEPAK BOLA BISA MENYEBALKAN

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

Tujuh jam kemudian, tepatnya setelah 18 menit pertama pertandingan Jerman-Argentina bermula, rasanya ke-warga-negara-an aku pun berubah. Aku bukan lagi Indonesia, negara berbendera dua warna saja, merah putih. Warna aku lebih variatif, biru muda, putih, bermotif garis, juga lengkap dengan bagian tengah bendera terisi lingkaran yang menyerupai matahari berwarna kuning. Lalu, rambut aku pun serasa kembali memanjang melihat Juan Pablo Sorin menggelandang bola dan tubuhnya. Lantas, aku pun berubah rasa menjadi sahabat paling dekat Riquelme; bahkan aku juga turut menanggung beban yang dipanggul penyerang depan, Hernan Crespo. Lantas,
selama lebih dari setengah jam aku merasa hidup bersama lawan yang paling jelas. Lawan yang lebih menakutkan dari setan! Tentunya, kalau setan itu memang ada. Lawan yang berjumlah tak jelas. Kadang sangat sedikit, kadang berubah menjadi banyak. Semua tergantung kecerdasan. Apakah Ballack bisa bekerja sama dengan Lahm menjadikan umpang crossing bagi kepala penyerang panjang Klose? Untungnya, Jerman malam itu, di episode pertama, bermain lemah. Ayala, Gonzales, Rodriguez dan Tevez memang bermain cemerlang, meski kedudukan masih tetap seperti awal si kulit bundar di tendang dari titik tengah lapangan Berlin, Jerman. Lalu,

aku menikmati segelas kopi pahit, menyalakan rokok, menanti babak kedua sembari menertawakan dua mahluk pengisi layar kaca yang berkebangsaan Indonesia, mencoba mencari kira kemanakah arah pengakhiran pertandingan. Tapi, cuma satu hal saja yang aku ingat, saat lelaki pembawa acara, aku lebih suka menyebutnya pengembara acara, bertanya : Apakah yang harus Jerman lakukan di babak kedua? Lantas diam sejenak; bersambung : Juga Argentina. Ronni Pattinasarani berkata, entah apa aku lupa sebab aku sedang nikmat-nikmatnya membaca cover buku Filsafat Taqwa, Keyakinan Membebaskan Kaum Yang Sesat; entah karangan siapa pula, aku rasa ini hanyalah imajinasi saja. Dan,

lapangan Berlin seakan memancarkan sinar. Lelaki tua berambut usia senja mengenakan setelan jas biru sudah tampak unjuk-tampang di layar televisi kaca. Juergen Klinsmann, lelaki parlente berkemeja lengan panjang celana standard warna hitam sudah siap tegang, pun ambil bagian nampang di layar televisi kaca Akira. Dari ruang pengganti, dua puluh dua pemain berlari, keluar dari liang menuju lapangan pertarungan. Permainan pun mulai!
Bola sudah bergulir dari titik tenang lapangan. Kegelisahan pun menanjak seiring ke-warga-negara-an biru putih bergaris-garis makin melekat di dalam benak hingga jiwa. Semakin waktu bertambah, semakin mudah untuk menertawakan segala kebodohan pejuang Aria. Kegagalan umpan yang kerap terjadi karena ganggu tarian Tanggo, makin membuat aku serasa di atas angin sambil berkata : Ah, beginikah namanya berada di atas angin? Ya, semua berlangsung lancar tanpa hambatan hingga di menjelang menit ke-empat episode dua, saat Riquelme mengambil sepak pojok pertama episode dua. Dan, waktu pun melangkah seiring putaran bola yang mengudara pun pemain yang sudah tidak lagi berjejak di tanah sampai kepala Roberto Ayala mengubah hukum alam arah dan laju bola hingga terpaksa terhenti di dalam mistar jala sang penjaga gawang Jerman Jens Lehmann. Itulah menit ke-49! 1 Argentina 0 Jerman. Gol!!! Aku tertawa lega langsung menghina para pemuda berbendera merah kuning hitam bergambar elang. Hingga,
Roberto Abbondanzieri pun diganti di menit tujuh puluh satu. Melihat pengganti dia yang berambut panjang, aku pun tidak yakin; sekalipun ia berkostum sama merah. Aku gelisah. Leonardo Franco bukanlah manusia yang tepat menjaga gawang; sebab sepengingatan aku tiap penjaga gawang berambut panjang adalah bukan penjaga gawang! Atau dengan kata lain : Tidak ada satu pun penjaga gawang berambut panjang. Mungkin, pengecualian saja bagi Rene Higuita, kiper Kolombia. Lainnya, tidak! Usai penggantian itu, kegelisahanku semakin menggelora. Klinsmann memasukkan darah segar Oliver Neuville. Ke-Argentina-an aku pun makin mendidih, sejak Pekerman mengganti pengumpan bola ke kepala Ayala dengan Esteban Cambiasso. Aku merasa diriku bermetamorphosis. Bukan lagi diatas angin. Apalagi sejak kualitas David Odonkor mulai terasa. Sejenak,
aku merasa hatiku berubah menjadi jala, lengkap dengan mistar dan penjaga. Sepuluh pemain berseragam biru lantas menjelma menjadi sel-sel darah yang sedang menghadang laju penyakit kuman. Bahkan bola bundar pun aku rasa semakin kerap berubah tampang saat memasuki kawasan pertahanan. Oh, Tuhan! Aku berharap, Argentina tetap menang. Kacau. Sekacau ritme permainan Tanggo, jiwa aku kacau. Kegelisahanku memuncak saat bola meloncati ubun-ubun kepala Podolski lalu sampai ke kening Miroslav Klose, yang akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan menit 80, suatu sebutan yang menjadi sangat berharga hari itu bagi seluruh warga Kanselir Merkel. Gol! Dan, aku tertunduk,

melihat waktu sudah mencapai tengah malam.

Tiga puluh menit tambahan jantung aku makin berdebar. Hanya satu yang bisa menyelamatkan aku saat itu : Bola kembali bersarang di gawang Jerman. Bila hal itu terjadi, seluruh sel-sel darah aku kembali berjalan normal dalam pembuluh, demikian juga dengan segala penat syarat-syaraf aku akan lenyap mengetahui gawang Panser bergetar. Tapi, semakin aku berharap, semakin aku ketakutan melihat Odonkor dan Ballack yang rasanya sudah menjadi monster menyeramkan! Belum lagi ditambahkan dengan Lahm, singkatnya aku melihat mereka sudah tidak lagi mengenakan kostum putih. Tapi, hitam! Hitam, sangat hitam. Hingga, pertarungan usai, berlanjut ke titik adu pinalti.
Ah, sudahlah. Leonardo Franco memang bukan penjaga gawang. Lehmann menyeramkan. Dan, tak ada yang patut diceritakan. Argentina kalah, Jerman merayakan kemenangan. Sejenak,

darah aku berhenti mengalir. Kepedihan pun aku rasakan. Aku akhirnya mengerti, mengapa Esteban Cambiasso menitikkan air mata. Aku pun memahami mengapa Roberto Ayala kehilangan gairah untuk beranjak tegak. Juga aku paham mengapa Sorin harus tetap merangkul sahabat yang sudah kehilangan daya bertahan. Aku juga paham mengapa ratusan ribu penduduk kota Buenos Aires bahkan jutaan warga Negara Perak menyatu dalam kesedihan. Bahkan, aku juga menyatu dalam ketercengangan suporter Argentina yang memenuhi Olympiastadion. Seluruh mengharu-biru. Di tengah kesesakan emosi pilu, aku mencoba

mengangkat segelas kopi, lalu meneguknya. Pahit! Bersamaan dengan itu, aku pun bersyukur, betapa sepak bola begitu membantu aku untuk mendapatkan ke-warga-negara-an baru, meski hanya berlangsung sementara waktu. Dari pukul pukul 10 malam hingga jam 1-an. Aku pun tersadar, sepak bola juga menyadarkan aku bahwa aku adalah warga negara penduduk berbendera merah putih, Indonesia. Memang, pada kenyataannya aku tidak memiliki dasar untuk menjadi larut dalam tangisan Argentina. Siapa mereka disana, aku hanya tahu tak seberapa. Siapa aku disini, mereka pun tak tahu begitu banyak. Cuma satu. Cuma satu memang yang menjadi dasar aku larut dalam tangisan penuh haru-biru :

Pukul 15.00, 30 Juni 2006, aku dan Pak Medi taruhan. Segelas kopi pahit Warung Tegal. Aku memilih Argentina, Pak Medi Jerman.

tiba-tiba aku tersentak saat meraih kembali ke-warganegara-an Indonesia di usai pertandingan sepak bola. Ada satu kalimat terpajang : Memang Sepak Bola Bisa Menyebalkan!!!

[Deif-Feil]