Genealogy of Coalition: Passion Vs. Reason

Sejak percintaan Partai Demokrat dengan Partai Golkar yang sudah berlangsung lima tahun remuk redam, dunia batin saya mendadak berguncang. What the hell is this!!! (Mudah-mudahan bahasa Inggris saya tak salah.) Di televisi saya melihat pernyataan politis yang diplomatis dari Sekjen Partai Golkar (nama dia saya lupa), serta tambahan argumentasi dari pengurus DPP Partai Golkar (lagi-lagi namanya saya lupa), dan tentu saja tanggapan dari tim 9 Partai Demokrat (seekor bajing loncat, menurut saya, dan mudah-mudahan ungkapan tadi tidak dianggap sebagai pencemaran nama baik, melainkan sekadar sebagai ekspresi-kesebalan-mikrokosmos-personal-apolitis, yang tak jauh beda dengan ekspresi ketika Anda tanpa sengaja menginjak tai kuda saat mengenakan sepatu Buccheri yang baru saja Anda beli di Plaza Indonesia).

Berbekal data yang saya miliki—serangkaian data yang tentu saja lebih you can see dari pada data yang dimiliki para pengamat politik semisal Eep Saefulloh Fatah, Iberamsjah, Lili Romly (dan mengapa pula para pengamat politik didominasi mereka-mereka yang berasal dari Universitas Indonesia)—remuknya mahligai percintaan Partai Demokrat dengan Partai Golkar disebabkan libido komunikasi yang terganjal peraturan. Sebagai partai pemenang Pemilu Legislatif 2009, Partai Demokrat melalui komando Pembina Yudhoyono, secara diplomatis menjegal pencalon Saudagar Jusuf sebagai calon pendamping nahkoda Indonesia periode 2009-2014. Ah, tentulah meradang Partai Golkar, sebab pengajuan nama Saudagar Jusuf sudah melalui mekanisme penjaringan yang selektif dan evalutif kontekstual. Rasionalisasi ‘mengapa hanya mengajukan satu nama’ Tim Tiga Partai Golkar tumpul berhadapan dengan passionisasi Tim Sembilan Partai Demokrat yang dibalut dalam bahasa diplomatis ‘jangan hanya mengajukan satu nama.’

Dari serangkaian fakta (ah, barangkali juga fiksi?), masalah yang muncul tentulah: Why… Dalam buku saku para filosof, ‘why’ merupakan konkretisasi-mundial atas abstraksi-universal (sedikit menduga, universal dari universe dari uni+verse) perasaan atau hasrat ingin tahu. Kembali mengacu masalah utama, sebab-sebab putusnya baja percintaan (bila saya memahami dengan benar, tentunya baja percintaan yang semu selama lima tahun) Partai Demokrat dengan Partai Golkar dapat diketahui dengan cara meng-anal, maksud saya: menganalisa dimensi sejarah percintaan Partai Demokrat dengan Partai Golkar (apakah pendekatan genital Freudian dapat dipergunakan untuk mendefenisikan seksualitas macam apa yang tengah berlangsung dalam perpolitikan Indonesia selama lima tahun, apakah biseksualitas, heteroseksualitas atau homoseksualitas?). Semenjak filsafat Hegel mengemuka di benua Eropa, sejarah dan gerak sejarah menjadi pokok kajian filosofis di kemudian hari karena, setidaknya, berkenaan dengan gagasan kebebasan, juga pembebasan, pada wilayah praksis kehidupan sehari-hari.

Kliping memori Pemilu 2004 masih menyimpan data perolehan suara kedua partai, yang sekarang ini mulai menunjukkan genitalnya masing-masing (kalau ada, kira-kira apakah genital dari masing-masing partai itu?). Golkar sekitar 20 persen dan Demokrat 7 persen. Meski cuma mengantongi suara 7 persen, Demokrat mampu mendudukkan calonnya sebagai Presiden, dan Saudagar dari Golkar, mungkin dengan penuh kerendahan hati yang luar biasa, bersedia dicalonkan sebagai Wakil Presiden (ah, saya mencoba mengimajinasikan bagaimana kira-kira pandangan filosof asal Jerman Jürgen Habermas mencerna duet maut Komandan Yudhoyono dengan Saudagar Jusuf?). Latar belakang pemahaman rasional tentunya lebih wajar dan lazim bila menempatkan Presiden dari Partai Golkar dan Wakil Presiden dari Partai Demokrat. Namun, yang terjadi malah sebaliknya; dan satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah kesepakatan antara Yudhoyono dan Jusuf sewaktu duduk sebagai menteri pada masa Megawati Soekarnoputri-Hamzah Haz (hei, di mana nomor lima satu ini yang beristri lima dan pernah menolak pemimpin perempuan namun dengan rendah hati bersedia menjadi wakil seorang perempuan?).

Pemilu Presiden yang berlangsung dua putaran menempatkan pasangan Yudho dan Jus sebagai Presiden dan Wakil Presiden sebuah negara yang memiliki lebih dari 13.000 pulau. Kemesraan semakin terjalin hingga di suatu ketika, ‘matahari kembar’ sebagai istilah baru dalam peta perpolitikan Indonesia kontemporer meruyak. Saudagar dipandang para pengamat politik memiliki kekuatan dan kekuasaan yang setara dengan Komandan. Pertempuran kecil-kecilan pun terjadi, mulai dari mengeluarkan Surat Keputusan Wakil Presiden, hingga yang paling mencolok adalah mereka bergantian masuk bioskop 21 demi menonton film Ayat-Ayat Cinta yang dikritik kaum feminis-fundamentalis (viva la vagina!).

Sejak idiom ‘matahari kembar’ (sebuah idiom positif yang menyebalkan sekaligus idiom negatif yang menyenangkan, menurut saya) gerak dan tingkah laku Komandan Yudho menjadi lamban (kalau saya memahami dengan benar, pastilah kelambanannya disebabkan pistol—maksud saya, postur tubuh yang juga besar, hingga seturut dengan hukum fisika Newtonian, benda dengan massa yang besar cenderung diam, katakanlah, sedikit bergerak atau kalau pun bergerak, ya sedikit-sedikit). Kerapkali media massa dan massal mengeker kelambanan Komandan sebagai titik lemah ‘matahari-1’. Dan selama satu periode, Komandan tetap setia pada kelambanan yang dibahasakan menjadi ‘berhati-hati’.

Merujuk pada sejarah, remuknya percintaan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar, menurut saya, berakar secara radikal pada fenomena ‘matahari kembar’ serta ‘kelambanan Komandan’. Pada tahap transendental (menemukan pendasaran objektif atas keadaan yang memungkinkan kemunculan ‘matahari kembar’ dan ‘kelambanan Komandan’) tak lain adalah sejarah eksekutif paska reformasi. Setahun setelah reformasi, babak baru pemerintah demokratis pun dimulai. Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur dari Partai Kebangkitan Bangsa (sebuah partai yang penuh dengan anomali kepemimpinan sekaligus memiliki kaderisasi kepemimpinan yang luar biasa dahsyat, tetapi sayangnya hanya sampai tingkatan pemimpin partai belaka dan tak bisa lebih dari itu) terpilih sebagai Presiden. Wakil Presiden adalah Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (sebuah partai dengan suksesi kepemimpinan yang luar biasa bertolak belakang dengan Partai Kebangkitan Bangsa). Jaman Gus Dur-Mega, idiom ‘matahari kembar’ tidak ada. Namun, yang terjadi cukup mencengangkan, sebab penggulingan kekuasaan secara legal jilid II melalui legislatif (tentang penggulingan kekuasaan jilid I, dugaan evaluatif-subjektif-transendental-personal-individuasi-alienatif saya, terjadi pada tahun ’65) terjadi. Gus Dur dihengkangkan banteng-banteng moncong putih dari kedudukan Presiden. Dan, cukup waras kiranya proses penghengkangan itu, sebab banteng-banteng moncong putih meraup 30 persen lebih suara di parlemen. Tatanan tak rasional pun berganti dengan orde rasional ketika Megawati Soekarnoputri duduk sebagai Presiden dan Hamzah Haz bekerja sebagai Wakil Presiden (ah, saya ingat dia harus bertekuk lutut juga ketika publik melalui Gubernur DKI Jakarta yang menyebalkan Sutiyoso meminta dia minta maaf kepada warga Jakarta karena mempergunakan jalur busway. Res-Publica!!!).

Bila saya memahami serta menafsirkan dengan tepat dan benar dimensi historisitas politik kontemporer Indonesia, maka penjelasan ‘matahari kembar’ dan ‘kelambanan Komandan’ disebabkan perhitungan politik, yakni mencegah agar pendongkelan kekuasaan jilid III melalui parlemen tidak berulang kembali (dan, saya pikir, hal ini merupakan pukulan telak bagi Nietzche yang menggagas sejarah sebagai perulangan abadi). Hingga penghujung akhir jabatan, Komandan berhasil mengelola konflik hingga Saudagar, yang selalu tampil penuh percaya diri, tak pernah menyangka bahwa dirinya sudah masuk dalam perangkap yang punya dampak luar biasa memalukan dan mematikan. Saudagar selalu berada di atas angin, hingga lupa bahwa dia punya potensi untuk menjadi orang pertama di republik Ibu Kartini (mendiang feminisme Marianne Kattoppo menyimpulkan Kartini hanyalah proyek politis rejim kolonialisme Belanda untuk membuktikan kepada dunia internasional, atau setidaknya partai beraliran kiri di negeri Hollanda, bahwa program politik balas budi mereka berhasil di wilayah jajahan). Sebagai seorang yang mengambil inspirasi dari basic insting seksualitas kekuasaan a la Freudian yang dipadankan dengan irasionalitas atas rasionalitas kehendak Schopenhauer, saya menilai Golkar selama periode 2004-2009 hadir sebagai partai paling dungu se-dunia. Sebuah partai yang mampu meraih suara terbanyak, tetapi tidak memiliki satu orang pun yang layak dijagokan sebagai orang nomor satu di Indonesia, saya pikir sangatlah tak pantas dan patut dan bermartabat bila menyandang sebutan: Partai. Golkar sebagai organisasi politik dalam penglihatan saya tak beda a.k.a sama dengan arisan para ibu-ibu. Dan, yang paling parahnya: tak seorang pun di Partai Golkar yang pantas menyandang predikat politikus (ah, bisa saja Partai Golkar berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi bangsa dan negara. Kalau hanya mau berbuat demi bangsa dengan negara, mengapa membuat Partai. Partai bukan satu-satunya jalan untuk berbuat demi bangsa dan negara. Partai hanya dapat disebut partai bila ia selalu mengincar kekuasaan dan meraup massa. Kekuasaan sebagai representasi kualitas, Massa sebagai representasi kuantitas.). Golkar hanya dipenuhi orang-orang pragmatis yang hanya berpikir cetek, dangkal, banal, dan satu hal yang paling penting: Tak memiliki ambisi (di mana ambisi adalah kata lain dari passion, hasrat, libido. Politik tanpa libido: Tolol. Politik tanpa rasio: Ah, ini pun Tolol. Paska Pemilu banyak caleg gila karena sadar bahwa mereka tidak sadar diri sehingga kesadaran bahwa mereka tidak sadar diri itu begitu mengguncang batin mereka yang dengan demikian solusi yang dapat menyelamatkan mereka dari situasi keterkejutan itu hanyalah menjadikan kesadaran sama sekali tidak sadar yang akhirnya berujung pada situasional: mereka tidak sadar bahwa mereka tidak sadar, inilah yang disebut kegilaan dalam versi gua; sebab bila hendak mengacu pada analisa Michel Foucault, kegilaan, setidaknya, berhubungan dengan gagasan kekuasaan.).
Kehancuran Golkar tentu membuktikan kejagoan para politikus dari Partai Demokrat. Kejenialan mereka merancang tindakan yang ditujukan agar nafsu seksualitas kekuasaan tetap tersalurkan patut dibilang “Anjing!” Tindakan mereka yang selalu terukur tak menyebabkan dicopotnya pigura Yudhoyono di sekolah-sekolah, kantor-kantor polisi, tentara, birokat pemerintahan, dan lainnya. Hanya 7 persen suara saja mereka mampu mengendalikan denyut-denyut penggulingan yang kerapkali (menurut perkiraan saya, tentunya dengan pengandaian asumtif bahwa Golkar masih merupakan Partai, bukan klub arisan para ibu-ibu dan bapak-bapak) muncul di lapis eksekutif. Komunikasi politik intensif sebagai sarana penyaluran libido kekuasaan terus menerus dilakukan Partai Demokrat demi menurunkan tensi rasionalitas Partai Golkar dari hasrat mengkudeta Komandan Yudhoyono yang tak berdaya hanya dengan 7 persen suara.

Di penghujung kekuasaan, rasionalitas Partai Demokrat sudah berganti dengan passionitas. Perolehan suara 20 persen adalah dasar yang sangat tepat untuk mencalonkan Presiden. Rasionalitas yang dipraktekkan selama lima tahun mau tak mau dibuang dahulu digantikan dengan passionitas yang menggebu-gebu. Hasrat seksualitas adalah ukuran pertama yang harus diajukan dalam setiap tawaran penggalangan konsensus koalisi. Partai Golkar menjadi korban pertama hasrat seksualitas Partai Demokrat yang tentunya tak membutuhkan pertanggungjawaban rasional dari Partai Golkar. Golkar harus menelan pil pahit kedunguan yang bersumber pada passionitas selama periode 2004-2009 hingga melupakan rasionalitas politik yang dapat mereka kantongi bila mampu menggulingkan kekuasaan politik Komandan sembari menjaga agar tak mengulangi kekeliruan Megawati selama menjabat sebagai Presiden. Menurut saya, Partai Demokrat sudah menunjukkan kapabilitas mereka sebagai politisi-politisi yang cerdas, meski tidak cadas juga (‘meski tidak cadas juga’ karena saya memang tak suka pada Partai Demokrat, dan tak suka adalah irasional, hasrat, passion).

Sedikit tambahan, passionitas, hasrat seksualitas yang bertalu-talu di jantung genital Partai Demokrat tampaknya meruntuhkan bangunan akal yang sempat mereka ujarkan kepada publik (atau apa yang mereka sampaikan hanya akal-akalan belaka?). Pada saat Pemilihan Presiden, kubu pasangan Komandan Yudhoyono dan Saudagar Jusuf “berjanji” hanya satu periode saja. Satu periode. Lima tahun. Tetapi, malah: Lanjutkan! Barangkali, gagasan seorang pemimpin harus visioner direvisi dengan menambahkan batas waktu visioner adalah lima tahun belaka atau malah dua hingga tiga bulan saja atau malah satu detik setelah diucapkan atau dituliskan atau dimateraikan, sebuah ‘janji’ langsung dinyatakan tidak berlaku. Dan bukankah partai yang mendukung pencalonan Komandan Yudhoyono dan Saudagar Jusuf pun mengetahui fakta tersebut? Dan bila mereka tetap menjalin koalisi dengan calon Nahkoda Susilo, where is the reason? It’s not about reason, it’s about: Passion, Seduction, Desire. And, coalition is all about passion! So, where is the reason? Bila saya kebetulan memahami Habermas dengan benar meski tak akurat, Habermas bakal menjawab: Pada Publik!

“Aih, sayangnya zaman kosmopolitan sekarang yang begitu mengandalkan kecepatan arus informasi sekaligus kecepatan dalam mengambil kesimpulan atau keputusan berdasarkan informasi yang diterima hanya memungkinkan pencapaian kesimpulan dengan jalan passionitas, semisal tampilan fisik, yang berarti: menyenangkan, kelihatan baik, tidak mirip teroris, santun, ganteng, tak mencurigakan, dan sebagainya tanpa memperhitungkan latar belakang rasionalitas di kepalanya.” Dan saya hanya bisa berkata: Vox Populi, Vox Dei. Hidup Demokrasi, Mampuslah Kau Golput Biadab!!! Hahahaha…





catatan akhir:
23 April 2009, menjelang pukul 04.20, di sebuah kamar kontrakan di tengah kota Jakarta, metropolitan yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Seluruh tulisan ini mengambil inspirasi dari buku Giovanna Borradori yang berjudul Filsafat Dalam Masa Teror terjemahan Alfons Taryadi (sebuah terjemahan di mana saya berpikir: editor buku tidak bekerja optimal, atau malah tidak bekerja sama sekali karena penerjemah memang meminta agar tulisannya tidak diedit sama sekali).

Gemah Ripah Loh Jinawi With Demokrasi (Eve-lotion)

Tanpa sengaja Armando, seorang jagoan dari Planet TimelessToon, menemukan esai-esai Bertrand Russell berjatuhan di halaman rumahnya yang tersembunyi di antara kardus-kardus buluk. Armando memang memiliki minat baca yang setara dengan Bruce Banner, The Incredible Hulk. Armando pun membaca satu per-satu esai salah seorang peraih Nobel di Planet Bumi--yang beberapa waktu lalu, kalau Armando tak keliru sedang senang-senangnya memperhatikan keselamatan Bumi dengan jalan merawat dan meruwat (plus memberantakkan serta meluluhlantakkan)--dan menemukan kutipan yang sulit ia mengerti namun begitu berarti. [Backsound: Tepuk tangan dan suit-suit.] "Demokrasi menemukan dasar teoritis lewat empirisme."

Armando kaget. Empirisme adalah kata klasik yang pertama sekali dia kenal setelah ayah dan ibunya beramai-ramai menempeleng kepalanya karena mengucapkan kata: Fuck You (tentu saja kepada bapak dan ibunya). "Ini adalah guru terbaik yang pernah ada, menurut Jhon Locke," tukas sang ayah sambil memukulkan punggung tangan kanan ke pipi kanan Armando. Kacamata Armando pun terhempas (sebagaimana jagoan selalu menunjukkan kelemahan) dan dari mulutnya satu gigi menari di lantai putih marmer yang mengkilap karena baru saja dibersihkan dengan pembersih nomor satu seantero galaksi semesta yang cuma satu-satunya. Dan sang ibu, tanpa tedeng aling-aling menyatakan, “Dan aku tambahkan, David Hume tidak benar. Sebab-akibat itu bukan ilusi,” sambil mengayunkan balok kayu berukuran 10 x 10 x 20 sentimeter ke punggung Armando. [Penulis: Bukankah tidak ada jagoan yang tak luput dari sisi kelam? Superman kehilangan ayah ibu, Peter Parker korban bullying, Bruce Banner kelinci percobaan ayahnya, Batman kehilangan ayah ibu karena perampok (365 cing kalau di KUHP).]

[Alur maju.] Mata Armando memicing. Seakan-akan pukulan balok kayu baru saja menghantam punggungnya. Empirisme. Pengalaman adalah dasar bagi segala-galanya. Pengalaman, yang terukur, kuantitas. Tanpa ukuran, tak ada jagoan. Armando meneteskan air mata. [Penulis: Saya juga bingung kenapa Armando meneteskan airmata. Entah kenapa begitu saja huruf-huruf itu tercetak tanpa pernah dapat saya pahami. Pembaca, maafkan saya.] Armando mengernyitkan dahi. Persamaan ruang lengkung yang membawa Einstein menemukan bahwa kelengkungan ruanglah yang menyebabkan adanya gravitasi muncul di imajinasinya. Penulis bertanya: “Armando, apa hubungan persamaan Einstein dengan demokrasi dan empirisme.” Armando tersadar dan berkata kepada Penulis: “Ceritamu makin mirip cerpen Danarto nanti. Kembali kau ke alammu sana.”

Empirisme. Pengalaman. Terukur. Kuantitas. Demokrasi. “Dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Tapi, siapakah rakyat itu? Apakah memang rakyat itu dapat dikuantitatifkan? Atau apakah rakyat itu adalah hanya konseptual belaka yang bersifat kualitatif?” Armando merenung kayak filsuf Yunani Plato yang sudah mendiang dan Akademianya dihancurkan orang-orang Romawi yang dibenci orang Galia hingga menyebabkan Uderzo mengarang komik Asterix sebagai ekspresi ‘kebencian’ terhadap kolonialisme kompeni Romawi di jazirah Eropa.

Dari pelajaran sejarah peradaban Abraham Sapien (Armando: Kalau Anda, Para Pembaca Yang Terhormat, pernah menonton film Hell Boy 2, Anda pasti tahu siapa yang saya maksudkan.) pergantian kekuasaan di Planet TimelessToon terjadi berdasarkan keturunan langit. [Hah… Maksudmu?] Keturunan langit adalah keturunan dari langit. Sampai sekarang apa yang disebut langit pun tak jelas. Langit adalah apa yang kita lihat ada di atas (tentunya bila pandangan mata tak terganggu atap atau pantat). Ya, semua orang yang menjadi raja mengaku keturunan langit. Ada darah dewata dalam dirinya. Kekuasaan pun menjadi milik mereka karena mereka memiliki darah dewata yang memungkinkan mereka berbicara dalam bahasa dewata untuk meminta pertimbangan, memerintah sebagaimana dewata memerintah di swargaloka (red-pusat karantina bagi mahluk langit yang imajinatif di mata mahluk bumi semisal Abraham Sapien). Setiap kata para penguasa berdarah langit adalah titah atau sabda, kadang kala malah ngerock menjadi firman. [Backsound: Tepuk tangan + Makian + Sumpah Serapah. “Kafir-kafir…”]

Membaca rangkaian sejarah demikian, Armando merenung—lagi-lagi kayak Plato dan rekan-rekan sebelum dan sesudahnya, yang kadang kala mengesalkan Stephen Hawking juga Al-Ghazali—kekuasaan tanpa dasar kuantitatif adalah nihil. Kekuasaan kualitatif tanpa pembuktian darah si A adalah darah langit dan darah si B adalah darah sangit secara objektif dan, menggunakan istilah Philosophical Doctor Effendi Ghazali, “ilmiah” adalah kedunguan, kebebalan, atau ketololan. Kekuasaan darah dewata pun berakhir setelah Revolusi Perancis berhasil memenggal kepala raja mereka. Peristiwa yang menggegerkan sejarah Eropa hingga, barangkali Inggris pun terkencing-kencing, namun berhasil meredam gejolak heroisme-pembebasan-indivualisme-romantik-revolusioner-massif, karena hingga millennium ketiga: GOD (STILL) SAVE THE QUEEN. Ah, Fredi yang ketiban sial sebab aroma gerakan pembebasan hanya menyelamatkan Elton John hingga berhasil menikah secara resmi sebagai pasangan homoseksual paling anyar pada masanya.

“Kalau kuasa hanya didasarkan pada kualitas, tanpa basis kuantitas, semua omong kosong. Kurang lebih itulah yang ingin aku katakan kepadamu,” Bertrand Russell mendadak ngomong di depang {Penulis: Saya hanya mencoba menulis dengan dialek Sulawesi. Inspirasinya dari tulisan seorang teman yang menganalisa tulisan seorang saudagar dari Sulawesi yang menjadi orang nomor dua (tetapi masih perlu dibuktikan apakah tulisan di dunia saiber itu merupakan tulisan orang nomor dua yang bersangkutan, hingga saya sendiri pun sulit menuliskan apa sebenarnya yang hendak saya sampaikan sedemikian rupa) , anehnya tak tahu pula soal tata bahasa yang baik dan benar.} Armando.

Empirisme, landasan teoritis demokrasi. Kekuasaan demokrasi berujung pada pelajaran matematika. Berhitung. Apa yang dihitung adalah suara dari person-person yang masuk dalam Daftar Pencarian Torang, yang bila disingkat menjadi DPT, yang bila dipanjangkan secara etis dan elegan dan sopan menjadi: Daftar Pemilih Tetap (Armando: Apakah arti Pemilih Tetap? Apakah sekali milih Partai Jing, maka akan tetap memilih Partai Jing?) Kuantitas. Sampai pada kesimpulan ini, Armando pun menangis. Mata Armando menjadi semacam mata air yang mengeluarkan air di mana air yang keluar dari mata air tersebut dikenal sebagai air mata. Demokrasi adalah tak lebih dari hitungan. “Kalau begitu, buat apa bicara hak, buat apa bicara hak, buat apa bicara hak [“Armando, mengapa sampai tiga kali?”]

Oh, itu hanya buat menambah intensitas saja hingga semakin meningkat. Biasanya di sajak dikenal sebagai teknik pengulangan, repitisi, agar intensitas makna yang hendak disampaikan semakin dalam. Aku lanjutkan lagi,

Hak dalam demokrasi tak lebih dari perhitungan angka. Jangan pernah bicara akan kualitas. Apa yang disebut kualitas adalah kenaifan. Mau golongan putih sampai 90 persen juga tidak ngaruh. Soal ketidakpercayaan publik adalah omong kualitas. Pemerintah bisa saja tidak dipercaya, tetapi kekuasaan sekarang bukan lagi kualitas, melainkan kuantitas. Sekali lagi, demokrasi bukan bicara kualitas. Kuantitas. Kuantitas. Kuantitas. Kuantitas.”

Armando pun keluar dari kardus-kardus buluk dan berjalan-jalan di jalanan utama sambil mendengar kasak-kusuk-kesek-kisik-kosok warga mengenai kisruh DPT. “Kalau memang kuantitas yang diperlukan, maka kita hanya perlu bagaimana cara berhitung yang tepat. Mengapa menghitung saja bisa loncat hingga 3 jutaan di Jakarta, bahkan puluhan juta kalau ditotal? Kalau tak lulus berhitung bagaimana bisa Gemah Ripah Loh Jinawi? Demokrasi itu penting karena mengajarkan kita persoalan berhitung, dan berhitung, dan berhitung [Aha, ini teknik pengulangan, repetisi. Benarkan Armando?] dan tak perlu baca-tulis.”



Note: Semua yang terucap dalam tulisan ini adalah ucapan Armando, jagoan di Planet TimelessToon. Saya, sebagai penulis, tentu saja akan mengadukan Armando ke Polsek Saiber karena dia telah memanfaatkan saya, menipu saya, 378 itu namanya.

Gemah Ripah Loh Jinawi With Demokrasi (?)

“Demokrasi menemukan dasar teoritis melalui empirisme.” Begitulah Bertrand Russell bicara. Saya tidak tahu persis bagaimana kutipan pastinya. Setidaknya kutipan itulah yang dipergunakan Giovanna Borradori yang telah dialihbahasakan Alfons Taryadi dalam buku Filsafat Dalam Masa Teror terbitan Kompas pada 2005.

Buku Filsafat Dalam Masa Teror punya latar belakang kerangka penghancuran Twin Tower pada 11 September 2001. Dan buku susunan Giovanna ditujukan untuk merangkum pandangan dua filsuf kontemporer Eropa, Habermas dari Jerman dan Derrida dari Perancis, untuk menanggapi sekaligus mengambil peran menjawab tantangan zaman secara filosofis.

Melalui karangan bebas ini saya tak hendak menyajikan ulasan yang mendalam tentang terorisme atau pun tentang buku Giovanna yang belum selesai saya baca. Apa yang saya tuliskan adalah petualangan menjelajah kutipan Bertrand Russell yang dipergunakan untuk menganalisa kontekstualisasi demokrasi di indonesia.

*

Problematisasi persoalan bermula dari kutipan Bertrand Russell yang menyatakan demokrasi menemukan pendasaran teoritis pada empirisme. Apa yang disampaikan Russell begitu mempesona, bagi saya. Legitimasi kekuasaan bukan lagi bersandarkan titah para dewa yang entah berada di mana dan entah bagaimana pula publik mendapatkannya serta mempertanggungjawabkannya, melainkan bersandarkan pada ukuran objektif yang bisa diklarifikasi, verifikasi, bahkan, pada titik paling ekstrem digugat. Legitimasi ‘fiktif’ kekuasaan yang bersumber dari sabda dewata yang pemalu berpindah ke level ‘fakta’ yang bersumber pada rekaman objektif atas segala data yang diperoleh. Perhitungan suara, kertas suara, kotak suara, contrengan atau malah coretan pada kertas suara adalah bukti bahwasanya pandangan empirisme yang dideklarasikan Jhon Stuart Mill dari Inggris ambil andil dalam mendasarkan sebuah kebenaran teoritis bagi ‘budaya ilmiah politik’ demokrasi.

Kebenaran koherensi a la kaum rasionalis semisal Descartes tak berlaku di ranah demokrasi. Kebenaran koherensi tak menjamin keabsahan kekuasaan yang dihasilkan oleh industri demokrasi. Kebenaran koherensi yang berpijak pada logika silogisme Aristotelian harus gugur dengan pola pikir induktif, yang juga digagas Aritoteles untuk kemudian diradikalkan sebagai paradigma baru oleh Fancis Bacon pada pengakhiran Abad Pertengahan untuk kemudian diaksentuasikan secara baru oleh Jhon Stuart Mill. Paham kebenaran yang ditawarkan Empirisme, kebenaran korespondensi, adalah basis utama yang memampukan industri demokrasi menghasilkan produk kekuasaan yang absah. Kebenaran kekuasaan teosentrisme yang berlandaskan kebenaran koherensi digugat oleh empirisme. Kebenaran kekuasaan hanya ada apabila kebenaran dimaksud adalah empirik, berlandaskan pengalaman inderawi.

Menyikapi Pemilu yang tengah terjadi di indonesia, kebenaran empirik mendapat tantangan dari suatu hal yang irasional, yakni kepercayaan. Saya sempat menyaksikan di kawasan Kuningan Timur, Jakarta Selatan, dari 300 pemilih yang terdaftar, tak sampai 100 pemilih yang menyontreng. Bahkan di jalan-jalan ibukota saya sempat melihat jari-jari dari perempuan dan lelaki yang saya perkirakan cukup umur menyontreng tak saya temukan tinta di jari mereka. Perkiraan saya, 10 dari 10 orang yang saya lihat di jalan tidak menyontreng. Bahkan di salah satu jaringan komunitas dunia maya, ada teman yang menyatakan bahwa kepercayaan dia terhadap para caleg sudah tak ada lagi.

Adanya kasus ketidakpercayaan, yang saya temui terjadi dalam bentuk simbolisasi banyaknya kertas suara tersia (barangkali ada yang tidak hadir karena sudah meninggal dunia, tetapi berapa persenkah itu?), memindahkan persoalan kredibilitas kuantitatif pada kredibilitas kualitatif. Kredibilitas kualitatif sempat diajukan Arif Budiman dengan mempopulerkan slogan ‘Golongan Putih’. Persoalan kualitatif yang bersumber pada lema ‘kepercayaan’ menjadi tandingan atas ‘kebenaran’. Kekuasaan tidak lagi semata-mata persoalan ‘kebenaran’ objektif korespondensial, melainkan menyangkut persoalan ‘kepercayaan’ subjektif-rasional. Sayangnya, ‘kepercayaan’ subjektif-rasional tak cukup kuat menggagalkan ‘kebenaran’ objektif korespondensial sebagaimana ‘kebenaran’ objektif korespondensial mengalahkan kebenaran yang digagas berdasarkan logika silogisme Aristotelian dalam sistem teokrasi.

Meninjau kembali demokrasi di indonesia dengan kompleksitas hubungan antara ketidapercayaan terhadap pelaku (yang secara tidak langsung dengan sendirinya menusuk pada ketidakpercayaan terhadap sistem demokrasi) semisal partai dan para caleg sekaligus keengganan (elit) kekuasaan untuk menghapus kebenaran korespondensial empirik yang diperoleh melalui sistem demokrasi melahirkan eksistensialitas absurd a la Camudian. Proyeksi harapan sebagaimana yang dicita-citakan dalam idealisasi ‘satu menit di bilik suara menentukan 5 tahun masa depan indonesia’ sudah tak ada beda dengan bualan besar tong kosong yang nyaring berbunyi.

Krisis dan kegilaan demokrasi tadi hendak dipecahkan para intelektual terkemuka indonesia dengan mengajukan penggunaan hati nurani sebagai pengendali keliaran hajat politik menjadi banal. Syafei Maarif setidaknya berupaya menggaungkan hal tersebut. Apa yang hendak dilakukan Buya Maarif saya tafsir sebagai upaya membumikan spiritualitas transendental keberagamaan dalam kehidupan politik bernegara yang semakin dangkal dan tak berbudi. Apakah cara ini terbukti efektif? atau malah mencoba menghidupkan romantisme yang telah ada dan berlalu dalam sistem teokrasi yang ternyata diam-diam dipergunakan penguasa, para raja atau sultan, untuk menyelipkan pisau ke jantung para kawulanya? atau malah masih sebuah langkah persiapan untuk membangun sintesa yang lebih komprehensif setelah periode sekularisasi negara yang secara praktis menghancurkan aspek transendental dan imanen dalam sebuah otoritas? atau memang kita tak perlu berkomentar lebih banyak, sebab pada akhirnya: perkara masa depan sudah selesai didefenisikan oleh Albert Camus: tidak ada hari esok alias tidak ada yang namanya harapan; dengan kata lain: terimalah kondisi bahwa sampai kapan pun tidak ada kondisi yang disebut sebagai ‘sejahtera,’ ‘gemah ripah loh jinawi’.


April 2009
SETIDAKNYA ADA 63 (BAHKAN BISA SAJA LEBIH) CARA PAKAI KAMPANYE YANG DAPAT SAJA LEBIH TEPAT

1. DON'T DISTURB! SEDANG KAMPANYE.
2. YANG TIDAK BERKAMPANYE DILARANG MASUK!
3. SELAMAT KAMPANYE HIDUP BARU.
4. TAK ADA ROTAN, KAMPANYE PUN JADI.
5. HATI-HATI, JALUR BUSKAMPANYE
6. DILARANG KAMPANYE DI TEMBOK INI (SELAIN ANJING!)
7. DILARANG KAMPANYE DI DEPAN PINTU (UNTUK KELUAR MASUK MOBIL)
8. "JANGAN TANYAKAN APA YANG KAMPANYE BERIKAN KEPADAMU, TETAPI TANYAKAN APA KAU BERIKAN KEPADA KAMPANYE."
9. JANGAN ADA KAMPANYE DI ANTARA KITA
10. SUDAH JATUH DITIMPA KAMPANYE PULA
11. HARAP TENANG! ADA KAMPANYE AKHIR SEKOLAH.
12. KAMPANYE BOLEH LANGSUNG
13. 200 METER LAGI, RUMAH SAKIT KAMPANYE.
14. HUJAN DI MALAM KAMPANYE
15. BAGAI KAMPANYE DI MUSIM HUJAN
16. DEMI KAMPANYE AKU RELA MATI!
17. KAMPANYE DI DEPAN MATA TAK KELIHATAN, KAMPANYE DI UJUNG LAUTAN PUN TAK KELIHATAN.
18. SEPERTI KAMPANYE DIBELAH DUA
19. PERTUMBUHAN SEKTOR KAMPANYE MENINGKAT 20 PERSEN
20. "APA YANG NYATA DAPAT DIKAMPANYEKAN, APA YANG DAPAT DIKAMPANYEKAN NYATA."
21. "SAYA KAMPANYE, SAYA ADA."
22. KAMPANYE YANG ADIL DAN BERADAB
23. TOLONG, TOLONG, ADA KAMPANYE!!! KEJAR!!!
24. KAMPANYE, SELERAKU
25. DAUN DI ATAS KAMPANYE
26. SEPERTI KAMPANYE DI UJUNG TANDUK
27." BILA TIBA KAMPANYEKU/KUMAU TAK SEORANGKAN MENGGANGGU"
28. KAMPANYE PASTI BERLALU
29. "KAMPANYE INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA/SEPERTI KATA YANG TAK SEMPAT DIUCAPKAN/KAYU KEPADA API YANG MENJADIKANNYA ABU"
30. SEPERTI KAMPANYE DI DAUN TALAS
31. ADA ASAP, ADA KAMPANYE
32. KAMPANYE SETENGAH TIANG
33. DIRGAHAYU KAMPANYE KE-17
34. SIAPAKAH GUBERNUR PROVINSI SUMATERA KAMPANYE?
35. M-01 JURUSAN KAMPANYE MELAYU-PASAR SENEN
36. JIKA KAMPANYE BERLANJUT, HUBUNGI DOKTER
37. KAMPANYE DAPAT MENYEBABKAN IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN KANKER
39. KAMPANYE 1 KILO=Rp2.000,-
40. KAMPANYE-KAMPANYE KACA
41. KAMPANYE 200.9 FM RADIONYA PENUH TIPU, TIPU, DAN TIPU.
42. AKU INI BINATANG KAMPANYE
43. HATIKU BERKAMPANYEAN SAAT MENANTI KEDATANGANMU, KEKASIH.
44. JANGAN LUPA KAMPANYE SEBELUM MAKAN
45. SELAMAT KAMPANYE. SEMOGA MIMPI INDAH SAYANG.
46. BERIKAN KAMPANYE TERBAIK BAGI SI BUAH HATI.
47. UNTUK KAMPANYE, JANGAN COBA-COBA.
48. ORANG PINTAR MINUM TOLAK KAMPANYE.
49. FAKULTAS ILMU KAMPANYE UNIVERSITAS INDONESIA
50. KAMPANYE DASAR I (4 SKS)
51. KAMPANYE DUDUK DI SEBELAH KIRI
52. DI HADAPANKAMPANYE, AKU BERSIMPUH.
53. RANCANGAN KAMPANYE-KAMPANYE ANTIPORNOGRAFI
54. KAMPANYE TETANGGA MEMANG LEBIH INDAH.
55. DI KAMPANYE KITA JAYA
56. INVESTOR KAMPANYE MEMBELI SAHAM BUMN DENGAN SESUKA HATINYA
57. "PADUKA KAMPANYE YANG MULIA MEMASUKI RUANGAN. HADIRIN DIPERSILAHKAN BERDIRI."
58. AKU KAMPANYE KEPADAMU.
59. BURSA KAMPANYE JAKARTA LESU TERKENA DAMPAK KRISIS GLOBAL
60. MENTERI KOORDINATOR KAMPANYE, HUKUM DAN KEAMANAN
61. SELESAI KAMPANYE, HARAP CUCI PIRING SENDIRI.
62. WARUNG MAKAN SEDERHANA, SEDIA: PECEL KAMPANYE, KAMPANYE GORENG, ES TEH KAMPANYE, DLL
63. "MAAF BU, SUAMI ANDA MENDERITA KAMPANYE STADIUM LIMA. TABAH BU."

CUACA AFORISMA

Tua dan berjanggut. Dia duduk di sebuah taman kota negeri tropika. Masa cuaca yang selalu mendung dan guyub gelisah. Antara merah Romeo atau hitam Hamlet. Antara nyanyian api atau ranjau epidemi. Antara desah nafas dan mata yang menatap suram senja, dari sebuah taman kota negeri tropika.

Di batin bergejolak Miami serta sengkarut legam kisah PKI. Nostalgia maestro seni Mooi Indie hingga pelajaran dari Stanislavsky. Atau denyut jantung Gatholoco bersama senandung damai Sang Gandhi. Tua dan berjanggut. Rengut kening dengan kepala yang merunduk. Ia hanyut pada arus amarah Nazi hingga rintih pedih di metropol Mumbai. “Yunani.” Ia menggumam. Membisikkan sesuatu kepada senja dan mendung cuaca.

Senja dan mendung adalah waktu. Tiba-tiba, dia ingat secuil sajak dari penyair berkepala kayu. Sebuah kata selalu mengandaikan cita-cita. Sosok mahluk yang berasal dari masa depan dengan takdir kembali ke masa depan. Di saat lampu jalanan pelan menyala, seekor anjing menyulap lahir menjadi ular sebelum hadir sebagai naga. Tak ada yang bisa luput dari legenda. Si tua dan berjanggut masih membaca malam dalam senyap dan khidmat.

Tua dan berjanggut. Ia memandang masa lalu. Pada tiap angka di penggalan takwin, misteri adalah nyawa yang tak bisa dibantah. Dia menoleh pada masa depan. Bagi tiap cita-cita, Bumi adalah sejarah. Serangkaian peristiwa hidup di antara niscaya, rencana, dan tak sengaja. Hari ini adalah pidato Camus yang gemetar mendendangkan syair: Tidak ada hari esok; atau malah sapaan api dari Chairil: Sekali berarti sudah itu mati. Pada sebuah taman kota di negeri tropika, si tua dan berjanggut menggigil dalam dekap purnama Desember yang pertama. Hanya keraguan yang menggembalakan dirinya untuk sampai pada suara: ilusi dan kekal adalah senyawa.

*

Dari pinggir sebuah taman kota negeri tropika, hanya aku yang senyum melihat dia tak berdaya. Si tua dan berjanggut lelap dalam cuaca aforisma yang mentah.

11 Desember 2008

KALIGRAFI TUBUH PUTU

Lantas, apa yang istimewa dari lukisan Putu? Begitulah pertanyaan yang muncul di dalam benak saya saat menyaksikan ragam karya lukisan dan instalasi Putu Sutawijaya yang dipamerkan di Galeri Nasional. Saya membaca pengantar dari kurator Jim Supangkat yang berintikan ‘tubuh’. Putu mengeksplorasi tubuh, tubuh yang hidup dalam buana tari Sanghyang. Tubuh dan tarian. Barangkali, karena kemampuan kecerdasan saya tidak lumayan, saya menderita kebingungan. Apa hubungan ‘tubuh’—dalam konteks filsafat kontemporer mendapat begitu banyak beban makna, mulai dari tubuh alami, tubuh konstruksi sosial, hingga tubuh sebagai kapital—bila dielaborasi dengan tarian kuno Sanghyang yang tak pernah saya lihat? Jim Supangkat hanya memberikan bantuan: tubuh dalam lukisan Putu mengadopsi kelihaian tubuh saat penari Sanghyang mengalami trance; trance mengakibatkan penari berada dalam keadaan tidak sadar. Karena trance, penari Sanghyang pun mampu menggerakkan tubuh di luar batas gerakan yang dapat ia lakukan dalam keadaan sadar. “Selain kesadaran alam sadar, ternyata tubuh pun hidup dalam tatanan kesadaran alam tidak sadar. Tubuh…”

Sedikit saya paham yang hendak disampaikan Jim, meski tak sampai mendalam. Barangkali, hanya kulit permukaan. Tak lebih. Dan berbekal sangu dari Jim, saya menjelajah bentala “Legacy of Sagacity.”

*

Di depan lukisan ‘Tangga Penuh Misteri’ saya termangu. Aku tak paham maksud Jim. Aku pun tak paham maksud Putu dalam lukisan itu. O-…, sebelum lupa: Putu Sutawijaya pada 27 November nanti resmi menapak usia tigapuluhdelapan tahun. Aku melangkah, menuju pigura lainnya dan masih mendapati perasaan yang serupa. Tak paham maksud Jim, tak paham maksud Putu. “Ah, daripada pusing memikirkan maksud mereka, lebih baik aku nikmati saja warna dan gambar yang ada dalam pigura. Tak usahlah bersusah-susah mencari makna.” Lalu, aku menarik nafas panjang, meredakan otot tegang di leher dan di pundak.

*

‘MATAHARI KE MATAHATI’. Saya termangu di depan lukisan Putu. Saya melihat ada yang tak wajar dalam lukisan Putu. Saya perhatikan, garisan kuas yang membentuk figur tubuh tampaknya model goresan yang tak asing. Saya merasa akrab dengan model goresan begitu. “Aih, kaligrafi.” Saya teringat Festival Kota Tua yang digelar di Taman Fatahillah, daerah Kota, Jakarta Barat, pada 22 November lalu. Ada stand VOC Galangan yang menawarkan kaligrafi huruf Cina. Saya sempat melihat mereka mempertunjukkan kepiawaian menggores kuas di atas kertas. Citra goresan yang saya amati di stand VOC Galangan ada kemiripan dengan goresan kuas yang saya amati pada lukisan Putu. Ah, saya pun sadar. Kaligrafi. “Tinta Cina.” Lukisan tinta Cina. Pada lukisan Putu, saya menghirup aroma kaligrafi dan lukisan tinta Cina. ‘MATAHARI KE MATAHATI’.

*

Di depan ‘JUMPING II’ aku kembali termangu. Mengingat Jim, mengingat Putu. Di depan instalasi satu sosok tubuh yang bertumpu pada dua tangan. Sosok yang hendak mencoba kayang (atau malah sudah selesai kayang dan hendak kembali dalam posisi normal?). Ah, memang deskripsi dengan kata-kata sukar juga. Seimbang dan takseimbang.

*

Aku membaca harian ibukota. Kompas, 23 November 2008. Putu mengaku bahwa idiom lukisannya berfungsi menyampaikan irama gerak kepada publik. “Irama gerak. Kaligrafi. Lukisan tinta Cina di atas kertas.” Menurut aku, Putu memadukan teknik kaligrafi dan lukisan tinta Cina di atas kertas menjadi di atas kanvas dengan mengadopsi aksara tubuh dalam tarian Sanghyang.

*

Lantas, apa yang bersembunyi dan menari di dalam kaligrafi? … tubuh?

November 2008

I-Klan

I-Klan!!!

Read in order to live.

Gustave Flaubert

(1821 – 1880)


GENERASI X. Gen-X.


*


DALAM KHAZANAH CARTESIAN, X adalah aksis. Sahabat dari Y, koordinat. Hasilnya, posisi.


CARTESIAN adalah terobosan mutakhir filsuf modern asal Perancis René Descates awal abad 17 Al-Masih. Disebut terobosan karena gagasan orisinil Descartes berhasil mengelaborasi ilmu aljabar dengan ilmu geometri. Bila aljabar dianggap mental dan geometri dianggap tubuh, maka sintesa Descartes sukses menubuhkan yang mental atau yang mental menubuh.


COGITO ERGO SUM. Selain grafik Cartesian yang mencemaskan bagi anak-anak sekolahan yang tidak menyenangi matematika (bahkan, kalau bisa, membunuh pelajaran matematika dari kurikulum pendidikan nasional yang menggemaskan), Descartes juga meninggalkan artefak kebudayaan berupa slogan: Saya berpikir, maka saya ada. Saya, dalam bahasa Inggris adalah I, I think therefore I exist. Kali ini, orang Indonesia lebih beruntung. Chairil Anwar, penyair ekspresionis berjuluk ‘binatang jalang’ meneriakkan: Aku. Bagi orang Indonesia, ada dua pilihan. Pertama: Saya berpikir, maka saya ada; atau, kedua: Aku berpikir, maka aku ada.


BERPIKIR, MAKA ADA. Bila ‘berpikir’ dianggap mental dan ‘ada’ dianggap tubuh, maka yang mental menubuh. ‘Berpikir’ adalah syarat mutlak bagi ‘ada’. Mental adalah syarat mutlak bagi tubuh. Tidak ada tubuh tanpa mental. Tapi, ada tubuh yang punya sakit mental. Atau, sakit mental yang menubuh. Apakah sakit mental membutuhkan tubuh? Atau tubuh malah membutuhkan sakit mental? Descartes tak bicara soal sakit mental. Dia hanya memproklamasikan: Rasionalisme! Dasar segala kebenaran adalah rasio, cogito.


*


DALAM KHAZANAH BARTHESIAN, X adalah tanda. Barthes bukanlah Fabian Barthes, penjaga gawang Perancis berkepala botak. Sekadar informasi yang tak begitu penting, kapten kesebelasan Perancis yang sudah pensiun Le Blanc selalu mencium kepala botak Barthes sebelum pertandingan dimulai. Barthes bukanlah Fabian Barthes, melainkan Roland Gérard Barhtes, kritikus sastra Perancis abad 20 Al-Masih. Barthes, campuran antara cerutu dengan bakteri Mycrobacterium tuberculosis penyebab penyakit te-be-se.


BAGI BARTHES, tanda hidup di dalam masyarakat. Kebudayaan masyarakat menentukan makna tanda. Budaya Cartesian memandang X sebagai aksis. Budaya Barthes bisa memandang beda. X tidak hanya aksis, melainkan bisa saja nonsens, persimpangan, abjad Latin ke-23, bisa pula berarti 10, atau malah berarti: ?, atau malah ¿.


PENULIS SUDAH MATI. Salah satu judul esai Barthes: The Death of Author. Di sini, orang Indonesia tak boleh keliru, apalagi mengeluh. Bahasa Indonesia memang kalah canggih (atau malah sebenarnya karena kurang digali) untuk menjajaki pikiran Barthes (kalau sempat, mampirlah ke kedai wikipedia, baca sedikit artikel Barthes. Ini sekadar anjuran, bukan suruhan apalagi perintah komandan.). Dalam pikiran Barthes, Author tidak hidup sendirian. Author hidup bersama Scriptor. The Death of Author seiring dengan The Resurrection of Scriptor.


AUTHOR DAN SCRIPTOR. Aku mengajukan alihbahasa Author menjadi Penulis, dan Scriptor sebagai Penyalin. Bagi Barthes, Penulis dan Penyalin adalah konsep yang merujuk pada dua cara berpikir yang dipergunakan pengarang ketika menulis teks. Penulis adalah mereka yang memiliki sekaligus menggunakan kemampuan imajinasi orisinal untuk menghasilkan karya sastra. Penyalin adalah mereka memiliki kemampuan mengkombinasikan beragam teks yang sudah ada (exist, dalam bahasa Inggris) untuk menghasilkan karya sastra.


PENULIS DAN PENYALIN ADALAH MENTAL. Hasil tulisan, tubuh. Pada ranah tulisan, Barthes membedakan dua jenis teks, teks-membaca dan teks-menulis. Teks-membaca atau readerly text adalah teks yang menempatkan pembaca sebagai konsumen pasif. Teks-menulis atau writerly text adalah teks yang menempatkan pembaca sebagai konsumen aktif sekaligus produsen pereproduksi teks-menulis. Teks-menulis menghasilkan pembaca yang berstatus produsen teks karena teks-menulis mendorong pembaca memproduksi maknanya sendiri atas teks yang dibaca dengan jalan menulis. Menurut aku, novel Tuan dan Nona Kosong karya penyalin Hudan Hidayat dan Mariana Amiruddin adalah teks-menulis.


X ADALAH TEKS-MENULIS. Makna dari tanda ‘X’ ditentukan oleh kreatifitas pembaca. Penulis sudah mati, Penyalin telah bangkit. Bila pikiran diibaratkan negara, maka ada dua partai berkuasa di dalam pikiran, partai Penulis dan partai Penyalin. Dan Barthes adalah juru kampanye utama dari partai Penyalin yang ada di dalam pikiran manusia. Apakah usaha Barthes berhasil? Saya tidak tahu. Tetapi, saya yakin, Dora bakal menjawab keyakinan penuh percaya diri: “Berhasil! Berhasil! Berhasil!”


X ADALAH TEKS-MEMBACA. Makna dari tanda ‘X’ ditentukan oleh imajinasi orisinal Penulis. Pembaca tak perlu bersusah payah menggali makna teks. Tidak ada pertarungan partai Penulis dengan Penyalin dalam pikiran pembaca. Di hadapan teks-membaca, pembaca sepenuhnya pembaca. Pembaca dalam konteks perekonomian (bisa saja ditambahkan predikat ‘kapitalis’, ‘sosialis’, atau ‘komunis’) adalah konsumen. Konsumen bagi teks-membaca adalah mereka yang berduit sekaligus melek huruf. Teks-membaca ibarat kosmetika telepon genggam dalam peradaban kosmopolitan. Teks-membaca punya kodrat, mengutip kata-kata Tardji (kalau tak keliru), ibarat tissue. Sekali pakai langsung dibuang. Kalau begitu, ingat-ingatlah Chairil Anwar kembali. “Sekali berarti, sudah itu mati.” Kira-kira, termasuk jenis yang manakah teks “Sekali berarti, sudah itu mati”? Apakah teks-membaca atau teks-menulis?


PEMBACA. Ada pembaca kreatif, ada pembaca konservatif. Pembaca ideal adalah pembaca kreatif. ‘Sampan’ tidak dipahami sebagai sampan, melainkan kapal-induk. ‘Kapal-induk’ tidak dipahami sebagai kapal-induk, melainkan bajak laut. Di hadapan pembaca, teks dapat menjadi teks-membaca atau teks-menulis. Penulis sudah mati. Penyalin bangkit. Pembaca harus selalu menghadirkan teks sebagai teks-menulis. Kreatifisme harus diselamatkan, konsevatifisme harus dibasmi. Maka, pikiran mendominasi tubuh. Pikiran menentukan tubuh. Agak nyamber dikit ke Foucault, Michel Foucault, makna adalah diskursus. Diskursus, pertarungan wacana! Yang-menang menguasai yang-kalah.


BARTHES DAN CARTES. Kedua, dengan bahasa personalnya sendiri, menyuarakan makna: Mental yang menubuh. Tidak ada teks yang tak bertubuh. Setiap buku adalah netral selama tak ada pembacaan. Setiap buku adalah netral selama tidak ada kerugian atau keuntungan. Makna buku, maksud saya tubuh juga, ditentukan pembacaan sekaligus pembelian. Makna adalah peristiwa transaksi yang menyejarah. Indonesia berasal dari dua kata, Indo dan Nesia. Indo berarti India, Nesia berarti kepulauan. Indonesia, kepulauan di India. Kalau begitu, apa makna Indonesia? Barthes dan Cartes barangkali tidak bisa menjawab. Tapi, mereka bisa memberikan dimana jawabannya berada. Bagi Barthes, makna Indonesia bergantung pada pikiran pembaca yang bisa memandang teks ‘Indonesia’ sebagai teks-membaca atau teks-menulis. Cartes, menjawab Indonesia(n) think therefore Indonesia(n) exist. Apakah Indonesia hanya mental tanpa tubuh? Aih, sekarang, saya lagi tak mau masuk dalam transaksi nasionalisme.


*


IKLAN, I-KLAN. Iklan, teks-membaca. I-klan, teks-menulis.


I-KLAN! Klaim personal: Tak ada iklan, tanpa saya. Iklan adalah saya. Aku adalah iklan. Iklan adalah aku-dan-keturunanku. Pertarungan iklan adalah pertarungan aku dengan aku dengan aku dengan aku dengan aku. Istilah ngetrendnya: Tak ada kecap nomor 2! Kecap bicara soal cita rasa. Lidah yang beda hendak diringkus dalam citarasa kecap nomor 1. Kodrat perbedaan diakui sekaligus dienyahkan. Maka, kekuasaan tidak mengenal kamu.


TIDAK ADA KAMU DI DALAM I-KLAN. I-klan tidak memberi ruang bagi kamu. I-klan justru memaksa kamu untuk menjadi aku, atau berpihak kepada aku. Selama kamu tetap kamu, kamu berada dibawah kekuasaan aku. Selama kamu menjadi aku atau berpihak kepada aku, kamu menguasai mereka. Kodrat perbedaan diakui sekaligus dikuasai.


I-KLAN, teks-tertulis di dalam cogito pembaca. Pertempuran iklan antara aku dengan aku dengan aku dengan aku dengan aku yang sesungguhnya berlangsung di dalam pikiran pembaca. Penguasaan atas peta politik kekuasaan pikiran pembaca adalah pertarungan partai Penulis dengan partai Penyalin. Kemenangan partai Penulis, berarti kemenangan aku. Kemenangan partai Penyalin, berarti kemenangan aku. Tetapi, di luar aku, tidak ada aku. Di luar aku, ada aku, Cartes dan Barthes. Bila aku memutuskan berpihak kepada aku, aku bukan lagi aku, melainkan aku. Sebagai teks-membaca, i(-)klan ‘cobloslah saya’ mengandung pesan tunggal: Cobloslah saya. Politik selalu antara aku dengan aku, dan aku memutuskan untuk menjadi aku, atau tetap aku.


I-KLAN ADALAH DOMINASI AKU ATAS KAMU. Bila kamu tidak menjadi atau berpihak kepada aku, I-klan bakal mencampakkan kamu. Disini, yang mental tak lagi hanya menubuh, melainkan sudah menentukan tubuh. Di luar aku, kamu menjadi Generasi X! Gen X.


*


GENERASI X. Gen-X. Generasi yang hidup karena membaca. Aih, agak pedih juga mendengarnya. Mimpi sekaligus tragedi!


*


KARENA MEMBACA, kita hidup. Karena hidup, kita bermasalah. Masalah hidup. Hidup ada sebelum membaca ada. Hidup dan membaca ada sebelum saya ada. Karena saya ada, hidup menentukan saya membaca dan hidup. Bukankah ‘hidup’ menjadi sesuatu yang aneh ketika diulang berkali-kali? Hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup. Aih, sebelum saya mengalami serangan jantung, ada baiknya saya pamit, undur diri dari hadapan Anda yang hidup. Thanks to Cartes. Thanks to Barthes. Thanks to Gustave.


November 2008

TENTANG ADONIS



“I live between the fire and the plague

with my language—with this mute universe”

The Fall (Adonis)


Aku hidup di antara api dan epidemi

bersama gelisah bunyi—di dalam dunia sunyi

Takluk (Adonis)


ADONIS adalah Ali Ahmad Said. Lahir pada 1930 di Qassabin, Siria. Bila ditilik dari sudut etimologi, Adon berasal dari bahasa Semit, adon, yang bermakna “Raja”. Sebelum memulai kuliah umum di ruang blackbox theatre Salihara pada 3 November 2008, ada narasi yang bercerita tentang musabab sempat mengungkapkan bahwa alasan Ali Ahmad Said menggunakan nama pena: Adonis. Diceritakan bahwa penggunaan nama tersebut dikarenakan Ali Ahmad Said merasa bahwa ‘kegagalan’ puisinya lolos seleksi bersumber pada namanya; itulah yang menyebabkan ia menggunakan nama pena: Adonis. Ternyata, strateginya berhasil. Bentala internasional mengenal Ali Ahmad Said sebagai Adonis, Adonis of Syria, Raja dari Siria.


Pada kuliah umum di blackbox theatre Salihara, peraih gelar Philosophical Doctor dari St. Joseph University, Beirut, Lebanon, pada 1973 ini memaparkan makalah bertajuk “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama”. Di dalam makalahnya, Adonis mengajukan tesis: “Puisi dan kebenaran puisi sepenuhnya berlawanan/bertolak belakang dengan agama dan kebenaran agama.” Bila tesis tersebut dikembalikan kepada judul makalah, hasilnya: kontradiksi. Bagaimana mungkin ‘yang bertolak belakang’ (pada tesis) bersanding dengan ‘dan’ (pada judul)?


Lepas dari kontradiksi antara judul dengan tesis, artikel ini saja tujukan untuk membahas (1) dimensi logika dari judul makalah, dan (2) dimensi kronologis penempatan frase. Penjernihan atas kontradiksi antara tesis dengan judul akan saya bahas pada bagian yang terpisah dari tulisan ini, disebabkan penjelasan terkait kontradiksi tersebut mengacu pada pola pikir dialektis yang dimajukan Adonis sebagai kerangka utama penyusunan makalah tersebut.


*


Makna “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” tentu beda dengan makna “Kebenaran Puisi atau Kebenaran Agama”. Pada yang kedua, variabel ‘atau’ menghadirkan situasional memilih. Situasional memilih berarti memilih salah satu dari antara dua pilihan yang tersedia. Tindakan memilih yang-satu diikuti dengan tindakan mengenyahkan yang-lain. Memilih “Kebenaran Puisi” berarti menendang “Kebenaran Agama”, memilih “Kebenaran Agama” berarti mencampakkan “Kebenaran Puisi”. Secara tidak langsung tindakan memilih yang-satu dapat berarti bahwa yang-satu itulah yang benar, sedangkan yang-lain adalah salah. Namun, kesimpulan yang begitu tidaklah selalu benar, menurut saya. Adalah lebih tepat bila dinyatakan bahwa tindakan memilih yang-satu tidak ditujukan untuk menyalahkan yang-lain; meski selalu ada kecenderungan rasional untuk menyatakan bahwa ketika yang-satu dipilih, maka yang-lain adalah salah.

Apa yang saya maksudkan tak jauh beda ketika kita diperhadapkan pada pilihan mengunjungi teman yang sedang sakit atau pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis. Dalam situasional memilih tersebut, andaikan kita memutuskan untuk pergi mengunjungi teman yang sedang sakit, bukanlah berarti pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis adalah salah; begitu pula sebaliknya. Melalui perumpamaan ini pulalah saya menegaskan bahwa asumsi yang saya atas permasalahan “Kebenaran Puisi atau Kebenaran Agama” adalah pengosongan makna dari “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama” sebagai pilihan disetarakan dengan “mengunjungi teman yang sakit” dan “pergi ke Salihara untuk mendengarkan kuliah umum Adonis”.


Asumsi pengosongan makna saya tujukan untuk melihat permasalahan variabel ‘atau’ dalam kepenuhan ‘atau’ itu sendiri sebagai simbolisasi dari suatu situasional memilih. Seturut dengan ilmu logika, asumsi pengosongan yang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa tindakan memilih yang-satu tidak selalu berarti menyalahkan yang-lain. Dalam ilmu logika, variabel ‘atau’ yang menghubungkan dua entitas hanya menghasilkan konklusi yang bernilai salah apabila entitas pertama, atau katakanlah “Kebenaran Puisi”, bernilai salah, dan entitas kedua, atau katakanlah “Kebenaran Agama”, bernilai salah juga. Namun, apabila entitas pertama bernilai benar dan entitas kedua bernilai benar, maka konklusi antara kedua entitas tersebut yang dihubungkan dengan variabel ‘atau” adalah benar. Bila entitas pertama bernilai salah/benar dan entitas kedua bernilai benar/salah, maka konklusi antara kedua entitas tersebut yang dihubungkan oleh variabel ‘atau’ adalah benar. Pola baku penalaran logika ‘atau’ sbb:



Entitas Pertama (P)

Entitas Kedua (P)

Atau (P V Q)

Nilai

Benar

Benar

Benar

Benar

Salah

Benar

Salah

Benar

Benar

Salah

Salah

Salah

Tabel 1. Logika ‘Atau’


Bila variabel ‘atau’ menghadirkan situasional memilih, variabel ‘dan’ pada “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” menghadirkan situasional keterikatan. “Kebenaran Puisi” sejalan dengan “Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi” memiliki keterikatan dengan “Kebenaran Agama”. Memilih “Kebenaran Puisi” berarti pula mengikutsertakan “Kebenaran Agama”. Memilih “Kebenaran Puisi” tidak dapat mengenyahkan “Kebenaran Agama”; begitu pula sebaliknya. Situasional “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” muncul dalam perumpamaan sepakbola Inggris yang dikenal dengan slogan “kick and rush”. “Kick” punya keterikatan intrinsik dengan “Rush”; antara “menendang” dilanjutkan dengan “melesat”. Asumsi pada logika variabel ‘dan’ sebangun dengan asumsi pada logika variabel ‘atau’, yakni pengosongan makna. Dalam ilmu logika, pola baku variabel ‘dan’ sbb:



Entitas Pertama (P)

Entitas Kedua (P)

Dan (P Λ Q)

Nilai

Benar

Benar

Benar

Benar

Salah

Salah

Salah

Benar

Salah

Salah

Salah

Salah

Tabel 2. Logika ‘Dan’


*


Disamping pemilihan diksi-logis, ada juga permasalahan menarik yang bisa diambil dari penjudulan “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama”. “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama” tentu bisa saja dianggap sama dan sebangun dengan frase “Kebenaran Agama dan Kebenaran Puisi”. Namun, anggapan sama dan sebangun tersebut, tidak sepenuhnya tepat. Anggapan tersebut, menurut saya, melalaikan keberadaan unsur prioritas primair secara kronologis. Dari sisi penempatan, “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama”; bukan sebaliknya. Lantas, bagaimana Adonis mempertanggungjawabkan untaian kronologis: “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama”?


Penjabaran pertanggungjawaban Adonis atas untaian kronologis “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama” bersumber dari analisa historis dia atas perkembangan puisi dan perkembangan agama di dunia Arab. Selanjutnya, Adonis mengelaborasi pendekatan historis dengan ‘teori pengetahuan’-nya yang berpijak pada gagasan penyair sufi asal Afghanistan Jallaludin Rumi.


Dari riset historis, Adonis menemukan bukti bahwa tradisi puisi lebih dahulu ada di dunia Arab sebelum agama. Agama di dunia Arab, khususnya Islam, menurut Adonis, berasal dari tradisi bangsa Ibrani, yakni Ibrahim dengan kitab Talmud. Akulturasi kultural mempertemukan Arab dengan Ibrani hingga melahirkan Islam. Problematisasi historis tersebut, menurut saya, dibahas Adonis untuk membuktikan bahwa sebelum kehadiran Islam di dunia Arab, dunia Arab sendiri sebenarnya sudah ‘mengenali’ wajah Tuhan. Wajah Tuhan sebelum munculnya Islam dikenal lewat puisi-puisi para penyair Arab sebelum kemunculan Islam. Puisi-puisi penyair Arab pada masa tersebut merupakan representasi dari ‘dialog’ penyair dengan Yang Gaib.


Jabaran historis tadi dielaborasi Adonis dengan gagasan Jallaludin Rumi tentang asas pengetahuan indrawi dan spiritual, yakni tajjalî (manifestasi). Dalam makalahnya, Adonis menuliskan:

“[Tajjalî] adalah gambaran-gambaran dari kebenaran yang sinarnya terus memancar kepada cermin hati dan indrawi, selanjutnya dipantulkan kepada cermin nalar, sehingga lahir dari keduanya “pengetahuan rasa” (al-ma’rifah al-dzawqiyah), yakni pengetahuan yang memberikan keyakinan (al-ma’rifah al-yaqîniyah) yang diperoleh secara langsung tanpa perantara. Dengan ungkapan lain, pengetahuan bagi Rumi adalah penyingkapan terhadap hakikat dengan terlepasnya hijab-hijab hati, indra dan akal, sehingga cahaya kegaiban terpancar.”


Dari sudut pandang demikian, maka puisi yang dimaksud oleh Adonis mengacu pada pengetahuan rasa, yang oleh kalangan sufi disebut sebagai “alam rasa” (‘alam al-adzwaq). Puisi yang dihasilkan para penyair Arab sebelum kemunculan Islam sesungguhnya berkenaan dengan upaya penyingkapan manifestasi dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci. Dan agama, seturut dengan konteks pembicaraan Adonis: Islam, menempati posisi yang sama dengan puisi secara historis, yakni sebagai pengetahuan rasa yang memberikan keyakinan (al-ma’rifah al-yaqîniyah) melalui penyingkapan manifestasi dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci. Terkait dengan status kebenaran dari puisi dan agama, Adonis menegaskan: “Pengetahuan [rasa] tidak akan salah karena kesalahan hanya lahir dari kebenaran teoritis dan abstrak semata.


Maka teranglah bahwa “Kebenaran Puisi” mendahului “Kebenaran Agama” dikarenakan Adonis mempertimbangkan faktor historis puisi dan agama di dunia Arab, yang selanjutnya dielaborasi dengan ‘teori pengetahuan’ Jallaludin Rumi, dimana hanya pengetahuan rasa (al-ma’rifah al-dzawqiyah) sajalah yang memampukan manusia mencapai kebenaran mutlak (absolute truth). Secara implisit, menurut saya, Adonis hendak menyampaikan pesan: Puisi dan Agama adalah wahana untuk menggapai kebenaran mutlak, kebenaran yang bersumber dari Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci! (Dan, secara implisit juga, Adonis berharap kebenaran mutlak tersebut tidak dipahami sebagai kebenaran tunggal; sebab kebenaran tunggal dapat berujung pada kekerasan yang-satu terhadap yang-lain!)


*


Saya pikir, “Kebenaran Puisi” dan “Kebenaran Agama” dapat disejajarkan dengan api dan epidemi yang sama-sama menghadirkan gelisah bunyi bagi aku yang berdiam di dalam dunia sunyi, sebagaimana petikan sajak Adonis yang bertajuk ‘Takluk’ pada bagian pembuka risalah ini. Sebab, bukankah memikul puisi dan agama adalah sama-sama menyakitkan, juga menggelisahkan? Tidakkah sejarah para nabi pun melukiskan betapa jalan pengharapan menuju Yang Gaib, Yang Tak Kelihatan, Yang Sakral, Yang Suci adalah juga via dolorosa, jalan derita sekaligus siksa? Demikianlah, dari jarak sekitar 10 meter saya mendengar Adonis, Raja dari Siria, berujar: “Saya mengkritik Islam karena saya mencintai Islam.” Cinta bukan selalu berarti bahagia; Cinta juga bisa bermakna airmata.


November 2008


Sumber Utama:

Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama, Adonis, 2008

MUHAMMAD YUNUS:

“[Poverty-free world] would be a world that we could all be proud to live in.”

“… freedom is freedom from poverty.”
Gayatri Spivak


JUDUL artikel ini berasal dari halaman terakhir, halaman 262, buku “Banker For The Poor” karangan Muhammad Yunus terbitan PublicAffairs, Amerika Serikat, pada tahun 2003. Kutipan aslinya: “That would be a world that we could all be proud to live in.” “That” mengacu pada cita-cita Muhammad Yunus, Poverty-free World, Bumi tanpa Kemiskinan.
Saya tidak tahu pasti, apakah ada penelitian atau perhitungan ekonomi yang berupaya menjawab berapa besar sebenarnya uang yang dibutuhkan untuk mengentaskan kemiskinan di dunia? Lantas, apakah jumlah uang tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah uang yang beredar di dunia? Atau, apakah jumlah uang tersebut lebih besar atau lebih kecil dari harta global di dunia ini? Apa yang saya maksudkan dengan ‘harta global’ adalah jumlah total uang, yang beredar dan tak beredar, dari seluruh negara yang ada di Bumi.
Bisa saja pertanyaan imajinatif yang saya lontarkan punya makna mengada-ngada. Justru pertanyaan imajinatif saya lahir dari fakta aktual yang dialami Muhammad Yunus pada tahun 1976. Ketika itu, Muhammad Yunus, pengajar di Departemen Ekonomi Univesitas Chittaggong, menerima laporan dari muridnya Maimuna Begum. Laporan tersebut memuat data jumlah uang pinjaman yang dibutuhkan oleh 42 jiwa warga perkampungan Jobra di Banglades sebagai modal untuk membuka usaha mandiri. Membaca data yang dikumpulkan Maimuna dalam tempo satu minggu, Yunus kaget: “Ya Tuhan, ya Tuhan. Segala derita mereka hanya karena uang yang tak lebih dari 27 dollar (My God, my God. All this misery in the all these families all for of the lack of twenty-seven dollar!)!”
“Mereka” yang dimaksud dalam konteks percakapan Yunus dengan Maimuna adalah perempuan dari keluarga miskin yang membutuhkan modal awal untuk memulai usaha mandiri membuat kursi bambu sederhana dengan jalan meminjam uang ke para lintah darat (tentunya dengan bunga yang tinggi). “Derita” yang dimaksud dalam konteks percakapan Yunus dengan Maimuna adalah segala dampak negatif yang dialami para perempuan pengrajin kursi bambu sederhana akibat pilihan meminjam uang dari lintah darat. Pinjaman yang berasal dari lintah darat tentunya bukanlah pinjaman yang menyehatkan, melainkan menyakitkan sekaligus menjerat. Sekali masuk, barangkali hanya kematian saja yang bisa membebaskan. “27 dollar” dalam konteks percakapan Yunus dengan Maemunah mengacu pada jumlah total uang pinjaman “mereka”.
Kembali berimajinasi, andaikanlah 27 dollar yang dimaksud dalam konteks peristiwa tadi berlangsung dalam kurs 1 dollar = Rp10.000. Maka, jumlah total dana pinjaman yang dibutuhkan 42 jiwa di perkampungan Jobra, Banglades, kurang dari Rp270 ribu. Dan apabila imajinasi kembali diliarkan, saya pikir tak ada kelirunya bila membayangkan jumlah uang tersebut nyaris mendekati dana kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan pemerintah Indonesia, dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dana BLT yang dibagikan setiap tiga bulan sekali berjumlah Rp300 ribu. Aih, imajinasi memang benar-benar mengejutkan.
Terlepas dari pengandaian imajinatif tadi, apa yang dialami Yunus dan diceritakan dalam “Banker For The Poor” merefleksikan bahwa kemiskinan bisa punah dari muka Bumi. Meski tidak terlampau akurat, saya mencoba menghadirkan perhitungan deduktif untuk menganalisa probabilitas memunahkan kemiskinan. Diperkirakan jumlah penduduk Bumi saat ini mencapai 6 miliar jiwa. Dan bila diandaikan seluruhnya adalah orang miskin, dengan asumsi setiap 42 jiwa membutuhkan dana 27 dollar, maka jumlah dana yang dibutuhkan untuk mengentaskan kemiskinan mencapai 3,8 triliun dollar. Lantas, kira-kira, apakah harta dunia mencapai angka tersebut? Kalau harta dunia tidak mencapai angka tersebut, tampaknya umat manusia di Bumi memang, mau tak mau, harus menerima kemiskinan sebagai kodrat Bumi. Tapi, kalau memang harta dunia melampaui angka tersebut, maka kemiskinan bisa saja berasal dari limbah perilaku manusia. Maka wajarlah muncul pepatah, “Bumi yang kita huni mampu memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, namun tidak dapat memuaskan nafsu serakah dari hanya satu orang manusia.”

Oktober 2008
CITY OF SEN
Menyingkap Bentala Visi Amartya Kumar Sen Lewat Identitas dan Kekerasan*

Sejak peristiwa tragis 11 September 2001, peledakan menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, yang diperkirakan merenggut 2.800 nyawa manusia, sepertinya horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas. Dengan identitas, personal/komunal/global mampu memformulasikan suatu laku kekerasan untuk menghancurkan orang-orang lain yang berada di luar identitas-nya. Penalaran demikian melahirkan konklusi: Kebiadaban berakar pada Identitas! dan Identitas ada pada personal/komunal/global!
Bila konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’, tampaknya salah satu solusi menjawab horor peradaban kontemporer adalah menghilangkan identitas. Lantas, muncul pertanyaan apakah itu mungkin? Apakah mungkin bagi manusia, personal/komunal/global, hidup tanpa adanya identitas? Kalau mungkin, bagaimana pula cara personal/komunal/global mengenali dirinya sendiri? Atau malah, personal/komunal/global memang tak perlu mengenali dirinya sendiri? Fenomena pertanyaan demikian bisa memunculkan pertanyaan lain pada level ‘metafisika’. Kalau memang ‘Saya adalah Saya’ tidak diperbolehkan atau tidak boleh ada atau tidak ada, lalu dengan cara apa saya harus mendefenisikan diri? Mungkinkah saya menghilangkan saya?
Bila diteliti lebih lanjut, formulasi pertanyaan ‘metafisika’ “mungkinkah saya menghilangkan saya” selaras dengan metode skeptisisme yang dilakoni filsuf Perancis René Descartes pada abad 17 Al Masih. Bila segala hal saya ragukan, maka saya yang meragukan adalah satu-satunya keniscayaan! Bila saya yang meragukan adalah satu-satunya keniscayaan, maka saya tidak mungkin tidak ada. Cogito ergo sum. Saya berpikir, maka saya ada. Maka, ‘saya menghilangkan saya’ cuma bisa terjadi bila saya tidak berpikir. Bersandar pada penalaran Descartes, pertanyaan “mungkinkah saya menghilangkan saya” pun terjawab. Ketika saya bertanya (berpikir) “mungkinkah saya menghilangkan saya”, maka seketika jawabannya pun muncul: saya tidak mungkin menghilangkan saya!
Berpijak pada tesis prinsip rasionalitas Descartes, muncul jawaban saya tidak bisa menghilangkan saya. Saya adalah kepastian-pertama. Kalau begitu, saya dan identitas adalah keniscayaan. Lantas, bagaimana dengan konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’? Kalau memang saya dan identitas adalah keniscayaan, maka ‘kebiadaban’ yang berakar pada identitas pun bisa berhakikat niscaya. Benarkah demikian? Jika memang benar demikian, sangat tepat sekali bila dikatakan “horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas”. Dan semenjak identitas adalah keniscayaan bagi personal/komunal/global, maka segala laku kekerasan adalah kewajaran dalam sejarah peradaban manusia, mulai dari masa lalu hingga masa menjelang. Atau dengan kata lain, hanya ketololanlah yang memampukan manusia untuk berharap pada suatu masa perdamaian mewujud di planet Bumi. Karena itu, manusia pun menjadi mahluk paling tragis. Di satu sisi manusia memiliki harapan akan adanya perdamaian (dengan konsekuensi melakukan kerja perwujudan perdamaian yang dipandu cahaya pengharapan), sedang di sisi lain manusia wajib berhadapan dengan keniscayaan untuk menghancurkan, membantai, dan memusnahkan manusia yang lain. Maka, yang disebut manusia adalah campuran dari rasionalitas tolol dengan rasionalitas horor.
Namun, benarkah hakikat kebiadaban pun adalah keniscayaan? Ada baiknya kita kembali meneliti konklusi ‘kebiadaban berakar pada identitas’. Jika identitas adalah keniscayaan, apakah memang kebiadaban juga keniscayaan? Jika kebiadaban pun ternyata adalah keniscayaan, tak bisa dipungkiri lagi, manusia memang mahluk yang paling menderita di semesta jagat raya. Manusia harus ikhlas menerima kodrat sebagai mahluk tolol sekaligus horor. Tetapi, bagaimana bila kebiadaban bukan keniscayaan? Kebiadaban bukan keniscayaan mengandung pemaknaan bahwasanya kebiadaban adalah probabilitas, kemungkinan. Seturut dengan metode skeptisisme yang dilakoni Descartes, bisa dilakukan pengujian hipotetik lewat pengajuan pertanyaan: mungkinkah kebiadaban dihilangkan? Jawaban yang muncul adalah bisa ya, bisa pula tidak. Maka, menjadi teranglah bahwasanya hakikat dari kebiadaban bukanlah keniscayaan, melainkan probabilitas, potensialitas. Kebiadaban bisa ada, bisa pula tidak; dan ada atau tidak adanya kebiadaban sangat bergantung pada identitas yang beresensikan keniscayaan. Di sini, Amartya Kumar Sen, lewat bukunya yang bertajuk ‘Identity and Violence: The Illusion of Destiny’ menyibak tabir kemungkinan yang terkandung di dalam keniscayaan-identitas untuk menihilkan kekerasan, kebiadaban manusia yang satu terhadap manusia yang lain; sekaligus memampuskan klaim ‘horor peradaban kontemporer bisa diringkus dalam satu kata: Identitas’. Dan itulah cita-cita CITY OF SEN—barangkali bisa menggelincir jadi CITIZEN—sebuah tatanan dunia baru bagi peradaban manusia. Tatanan dunia yang membebaskan manusia untuk memilih dan menetapkan identitas, tanpa harus menghadirkan teror kekerasan bagi manusia lain di semesta jagat raya.

September 2008

* Identitas dan Kekerasan, fragmen dari judul buku Amartya Kumar Sen ‘Identity and Violence: The Illusion of Destiny’, yang dialihbahasakan ke dalam bahasa indonesia menjadi ‘Kekerasan dan Ilusi Identitas’.