FRAGMEN KOPI

saya pikir: kita perlu kopi agar hidup tidak terlalu horor

dia pikir: kita perlu kopi karena teh punya keterbatasan

FRAGMEN SASTRA

Prosa adalah cara berhadapan dengan orang lain.

Sajak adalah cara berhadapan dengan diri sendiri.

FRAGMEN FILSAFAT

Filsafat adalah pembicaraan tentang hal-hal yang tidak penting namun sulit untuk dihentikan dan sialnya--mereka yang berlibat dalam pembicaraan malah mendapatkan pelajaran berharga dari pembicaraan tentang hal-hal yang tidak penting itu.

Orang Lain

Enrique Dussel membuka bukunya yang berjudul Philosophy of Liberation lewat kutipan personal yang menggetarkan. Demikian ia tulis: there is no peace; they even tear up the flowers. Dussel menebar ironi kehidupan ke dalam pilihan dilematis: melepas mekar bunga demi hening damai atau melupakan hening damai demi mekar bebungaan. Mendadak saya ingat ucap seorang sahabat: “Agar kita sampai pada pilihan terburuk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.”

Saya pikir—barangkali saya keliru—Dussel melihat kekerasan adalah situasi yang niscaya ada dan terjadi di dalam kehidupan. Manusia—seberapa pun kuat dan tangguh—tetap saja gagal mencegah kekerasan tampil dalam kehidupan. Kekerasan ibarat musim kemarau yang niscaya datang, segera atau tunda.

Barangkali—manusia memang mahluk paling sial di dunia. Ia hidup dalam keniscayaan sekaligus yakin akan ilusi realitas. Ia maklum bahwa kekerasan tidak dapat dielakkan sekaligus mendamba bahwa kedamaian bukan sekadar mimpi. Diam-diam—keyakinan akan kekerasan yang mutlak dan niscaya disusupi oleh kehendak untuk mencipta damai yang belum tentu pasti. Kalau memang demikian, saya mahfum bahwa apa yang disebut dengan “perang suci” adalah persetubuhan intim antara keniscayaan kekerasan dan mimpi akan kedamaian. “Perang suci” tampil dalam banyak peristiwa, mulai dari pertempuran Katolik dan Islam pada abad 11 hingga 13 Masehi dalam penentuan otoritas atas kota suci Yerusalem, konflik Bosnia di era 90-an yang menyeret Radovan Karadzic ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas sangkaan genosida hingga kejahatan kemanusiaan, aksi-aksi terorisme di New York pada 2001, di Bali pada 2002, juga Mumbai pada 2008, dan tentu masih ada dan banyak yang belum disebut bahkan dicatat.

“Perang suci” adalah ironi. Ibarat pohon, perakaran “perang suci” adalah ambisi menghadirkan buah perdamaian—namun sialnya “perang suci” tumbuh pada humus tanah kekerasan. Mulai dari ideologi politik hingga doktrin agama dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus dasar legitimasi kudus sebuah perang yang absurd. Pada “perang suci” tidak ada korban, yang ada hanya kurban. Kematian adalah pengurbanan—jalan tiba pada cita-cita. “Perang suci” adalah rute wajib penubuhan mimpi, baik bagi mereka yang tersisa atau yang sudah berkalang tanah. Dan kekalahan adalah dosa!—pengkhianatan atas cita-cita.

Pada “perang suci” pembunuhan dikenali sebagai suatu kewajaran. Di padang pertempuran, seorang pribadi mengenal pribadi lainnya melalui kacamata cita-cita: kawan atau lawan—siapa pun yang berada pada kutub lawan harus ditumpas mampus. Hanya ada satu diktum di medan perang: Setiap mereka yang lain dari saya harus tiada! Pada alam cita-cita, menggema maksim: Orang lain tak punya tempat di sini! Maka, mimpi akan damai sebetulnya mereguk ilham dari bisikan: “Tolaklah orang lain.”

Barangkali Dussel keliru—dan kita dapat berkata: the Other is peace, their face are flowers. Tentunya pernyataan begitu terucap bila orang lain mendapat tempat—baik pada tatapan kasatmata dan di citacita yang kasatatma. Dan lebih dari 2.000 tahun lalu, Sokrates bicara tentang “kenalilah dirimu sendiri”. Apa yang diucapkan Sokrates adalah petikan dari kalimat yang tertera di kuil pemujaan Apollo, di Delphi, yang berbunyi: Kenalilah dirimu sendiri, engkau berada di antara binatang dan dewa. Tanpa berniat menyatakan ada yang kurang atau keliru dalam hikmat demikian, ada baiknya kita juga membacanya sebagai: Kenalilah orang lain, ia berada di antara binatang dan dewa.

FRAGMEN METAFORA

Metafora bermula dari keterbatasan dan ketakterdugaan. Ketakterdugaan adalah kata lain bagi ketakterbatasan.

FRAGMEN WARAS

Bertanya--bahkan bertanya hal paling konyol sekalipun--adalah jalan menuju waras.

Sketsa Tentang Sebuah Negeri Di Mana Mimpi Adalah Sebuah Kemustahilan

Gagasan adalah masa depan. Ia—kita maknai pun kenali sebagai mimpi. Ia—sebab gagasan tidak semata-mata ada sebagai benda mati, sebagai batu, atau sebagai peluru. Ia—gagasan adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang tumbuh. Ia—malah, bisa saja, mahluk yang berkehendak. Dan bukan pula tak mungkin kehendak dari sebuah gagasan bahkan melebihi kehendak dari orang yang melahirkan gagasan. Kadang, tanpa sadar kita mengucap: Revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Gagasan adalah masa depan. Ia adalah kehidupan sekaligus kematian.

LIMA PARAGRAF TENTANG GARUDA

-menjelang Final putaran kedua Indonesia lawan Malaysia-


Sepakbola bicara tentang rencana dan fortuna. Rencana adalah tahapan persiapan, mulai dari menggarap yang mentah hingga menjadi matang. Fortuna adalah segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Bisa saja fortuna menjelma sebagai hujan deras atau angin kencang yang menyulitkan gerak pemain atau mengubah arah lesatan bola.

Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, sepakbola masih saja bicara tentang rencana dan fortuna. Di sini, sepakbola tidak semata tampil sebagai permainan yang berlangsung dari satu peluit panjang di awal ke satu peluit panjang di akhir. Di sini, sepakbola adalah kehidupan—pada titik ekstrem, sepakbola adalah kelahiran yang berujung pada kematian demi mencapai keabadian. Di sini, sepakbola adalah sejarah.

Sebagai sejarah, sepakbola melampaui tapal batas rencana dan fortuna. Sebagai sejarah, sepakbola adalah takdir. Wujud yang paling sederhana dari takdir adalah kemenangan atau kekalahan. Menang dekat dengan gembira; kalah akrab sama derita. Di sini, sepakbola bicara tentang apa yang harus diterima, tentang apa yang tidak bisa ditolak, tentang bagaimana harus tetap berjalan tegap dan tegak!

Sepakbola tidak sekadar bicara tentang bagaimana cara menyepak yang tepat dan akurat, melainkan juga secara diam-diam bicara tentang bagaimana setiap pemain juga pendukung harus tetap mampu berjalan tegap dan tegak ketika berhadapan dengan takdir yang berwajah derita. Pada puncak ini, sepakbola bicara tentang masa depan. Sepakbola bicara tentang harapan. Dan harapan adalah nyala dalam setiap kelam.

Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, harapan tetap menyala. Di sini, sepakbola sudah menyerupai manusia. Ia tidak lagi tampil sebatas permainan atau hiburan belaka, melainkan sudah menjadi pelajaran, bahkan penghayatan. Sepakbola adalah perjalanan dari luka ke luka. Di sini, sepakbola adalah perjuangan. Selamat berjuang Garuda!!!


[Note: Penulis adalah orang yang sebal sama PSSI dan segala macam perabotannya—apalagi Nurdin Halid.]

GARUDA DAN CARA MEMBACA INDONESIA


: mengenang Emmanuel Levinas

(12 Januari 1906 – 25 Desember 1995)

Manusia membutuhkan sesuatu yang suci dalam kehidupannya. Manusia, kadang kala, mengenali kesucian sebagai cita-cita. Sesuatu yang diyakini ada, namun—sialnya—sulit untuk direngkuh. Kesucian itu—menggunakan istilah Badiou—ditopang oleh fidelity.

Namun, kesucian tidak sebatas masalah berpikir, berimajinasi akan adanya suatu entitas yang suci, suatu entitas yang memiliki daya melebihi manusia, suatu entitas yang supra-manusia. Kesucian juga mewujud pada dunia keseharian—entah dalam bentuk simbol dua dimensi atau rupa tiga dimensi. Kesucian harus membumi, harus berakar pada estetika—dalam pengertian paling sederhana dari kata ‘estetika’, yakni mampu memikat indera manusia.

Sederhananya, kesucian tidak hanya pada aras metafisika, tidak hanya pada aras epistemologik(a), tidak hanya pada aras etika, melainkan juga menyentuh pada aras estetika. Dan memang, yang paling ribet adalah mengurusi kesucian yang bermanifestasi pada aras estetika. Alasannya, sederhana saja. Kesucian pada aras estetika bergantung pada inderawi manusia—dan tentu saja pendasaran epistemologi kesucian pada aras etika berimplikasi pada pengebirian, reduksi atas gagasan kesucian itu sendiri.

Adalah lebih mudah mengidentifikasi sikap hormat atas segala manifestasi estetis dari kesucian melalui apa yang terlihat kasat mata. Misal saja, upacara bendera. Bendera merah putih dilipat dan dibawa ke tiang untuk dikibarkan dengan prosesi ritual tertentu, untuk kemudian diikuti dengan sikap hormat para peserta mengikuti naiknya bendera ke puncak tiang. Kita barangkali tidak terlalu bodoh—atau naif—untuk menyimpulkan bahwa semua peserta, dengan segala sikap yang mereka unjukkan secara kasat mata, membuktikan bahwa mereka benar-benar menghormati gagasan kesucian yang ada pada bendera dan serangkaian prosesi. Setidaknya, saya pribadi mengakui bahwa sikap hormat yang ditunjukkan peserta barangkali dituntun oleh strategi tertentu untuk menghindari sanksi. Ketakutan berhadapan dengan hukuman bisa jadi salah satu akar munculnya sikap hormat dari para peserta. Dalam situasi yang demikian, kesucian kembali ke muasalnya, yakni tidak semata berada pada aras estetika, melainkan berada pada aras metafisika.

Dalam aksentuasi yang lebih sublim, Rudolf Otto menempatkan kesucian sebagai pengalaman akan Yang Ilahi. Sebagai pengalaman akan Yang Ilahi, kesucian adalah misteri, sebuah misteri yang menggetarkan sekaligus mempesona, tremendum et fascinatum. Di sisi lain, Emmanuel Levinas—filsuf Perancis keturunan Yahudi kontemporer; ia meninggal dunia pada 25 Desember 1995—bicara tentang kesucian sebagai Yang Lain, The Other.

Kesucian sebagai Yang Lain adalah suatu infinitas, suatu transendensi yang melampaui kapasitas manusia untuk memikiran, mengimajinasikan, apalagi merengkuh. Kesucian pada diri manusia berakar pada hasrat (desire) akan metafisika, hasrat berjumpa dengan Infinitas yang memanifestasikan diri dalam rupa Wajah. Melalui Levinas, kesucian tampil lewat sisi negatif—lewat sisi yang tidak dapat direduksikan pada aspek estetika yang naif. Pada Levinas, gagasan kesucian bersanding dengan nalar kejeniusan yang sadar diri, yang sadar batas-batas permanen dalam diri manusia. Dalam situasi demikian, Levinas akan memaknai undang-undang sebagai pendasaran untuk menghadirkan kesucian pada aras estetis melalui simbol adalah manifestasi dari kenaifan, juga ambisi kekuasaan manusia yang selalu berkehendak mencengkram realitas.

Tegas, saya memang hendak mengkritik silang sengkarut persoalan pro-kontra penggunaan lambang negara sekaligus ke-Indonesia-an itu sendiri. Meski begitu, bukan berarti sikap saya adalah yang paripurna. Saya sadar bahwa pertama-tama saya berhadap-hadapan dengan orang yang berposisi pro-kontra, untuk kemudian—yang berikut paling penting—berhadapan dengan gagasan kesucian yang ada di balik lambang negara dan ke-Indonesia-an. Maka, yang menjadi pertanyaannya: apakah kita—utamanya sebagai warga negara—telah memiliki cara membaca Garuda dan Indonesia yang tepat (?) sebelum akhirnya melangkah pada pertanyaan yang berada di titik ekstrem: apakah makna yang kita dapatkan dari pembacaan Garuda dan Indonesia sudah akurat?

Desember 2010

FRAGMEN FILSAFAT

Filsafat adalah sebutan untuk segala hal spekulatif. Segala hal spekulatif tumbuh dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan berakar pada keingintahuan. Keheningan adalah spekulasi sekaligus keingintahuan atas filsafat.

FRAGMEN HOROR

: Emmanuel Levinas

Horor adalah situasi di mana manusia kehilangan kebodohan.

FRAGMEN TOLOL

Kepada Platon, seorang budak omong: "Aku cuma punya dua hal, otot dan ketololan. Otot, kau sudah tahu apa gunanya. Kalau ketololan, itulah yang kupakai buat memahami pikiran kau."

FRAGMEN TANGGAL KELAHIRAN

-kepada tanggal kelahiran setiap orang-

kebahagiaan yang datang diam-diam dan menakutkan adalah tanggal kelahiran. setiap kali ia datang, ia dirayakan sekaligus pula dipertanyakan.

Mula Harahap, Selamat Jalan

Dia memang seorang pria tua yang aneh. Setidaknya, menurutku. Sebagai lelaki tua dengan rambut uban gondrong nyaris seleher, ia seperti seorang seniman. Tapi, kalau melihat cara berpakaian yang rapih dan bertata, cukup sulit juga saya meyakini dia sebagai seorang seniman. Pada dirinya, kesenimanan dan kecendikiawanan menyatu. Dia: Mula Harahap.
Perkenalan aku terhadap Mula Harahap bermula dari tampilan fisiknya yang sangat mengganggu pikiran saya. Ia bisa hadir sebagai seorang seniman, bisa pula hadir sebagai seorang intelektual; meski aku tidak tahu siapa ia sebenarnya. Dalam pikiranku muncul pertanyaan, “Siapa orang ini?” Sesungguhnya pula, aku tak menaruh niat besar untuk mengenali sosok ganjil Mula Harahap.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mula Harahap terhadap aku. Tetapi, yang jelas perkenalan kami berawal dari pertanyaan sederhananya kepadaku di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang, Jakarta Pusat. Saat itu, ketika menunggu kebaktian dimulai, aku asyik membaca Anak Bajang Menggiring Angin. Kurasa sekitar 10 menit aku membaca buku karangan Sindhunata, aku menutup buku dan memasukkan ke dalam tas. Mendadak, ada tangan yang memegang bahuku dari belakang. “Baca buku apa?” tanyanya ketika aku menoleh untuk mengetahui siapa yang menyentuh bahuku serta bertanya apa maksudnya menyentuh bahuku. “Oh, ini...,” ujarku sambil mengeluarkan buku yang kubaca tadi. “Anak Bajang Menggiring Angin,” tambahku pula. Dia menggangguk. Tak lama kemudian, kebaktian pun berlangsung.
Usai kebaktian, kami berjabat tangan dan berjalan beriringan keluar dari gereja. Pada saat itulah kami berdialog lebih banyak. Aku mengenalkan diri dan ia pun mengenalkan diri. Sebuah perkenalan yang egalitarian, setidaknya menurutku. Dalam perbincangan kami menuju halaman gereja, Mula bercerita bahwa ia pernah aktif di Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) PGI, kalau aku tak salah ingat akan informasi ini. “Dulu, Teguh Karya pun aktif di bagian teater di situ. Sudah lama sekali,” ucap Mula Harahap.
Perkenalan kami memang singkat, saling memperkenalkan diri, memberitahukan sekilas tentang masa lalu dan kegiatan yang tengah ditekuni sekarang. Selebihnya, aku lebih suka berdiam, memandang dari kejauhan sosok ganjil Mula Harahap. Satu hal yang cukup mengesankan, seusai kebaktian, Mula Harahap sering berdiri di dekat pos keamanan GKI Kwitang, sambil menghisap rokok Gudang Garam Filter (kalau aku tak silap). Ia berdiri, senyum dan selalu menyapa orang yang ia kenal, lalu bersalaman.
Lama berselang, aku mencari tahu siapa sebenarnya sosok ganjil Mula Harahap. Dan, aku pun tahu bahwa ia tergolong tokoh dalam dunia buku di Indonesia. 'Tokoh'—setidaknya, bagiku—adalah pemberi tanda bagi orang-orang tertentu yang memiliki keteguhan komitmen akan apa yang akan ia lakukan untuk mengisi kehidupannya yang sementara di Bumi.
Kamis (15/09), aku sedang membuka laman facebook dan menemukan status Ompu Datu Rasta Sipelebegu a.k.a Saut Situmorang yang menyatakan duka atas kepergian Mula Harahap. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengenal siapa sesungguhnya Mula Harahap. Tetapi, entah kenapa aku bisa merasa dekat, akrab dan sangat kehilangan saat mengetahui kabar kepergian dia. Di saat aku menulis tulisan ini, aku ingat akan matanya. Mata yang memancarkan keramahan sekaligus ketegasan!—dan selebihnya, adalah senyuman. Mula Harahap, selamat jalan.

FRAGMEN SASTRA

§1. Sastra. Sastra adalah cara untuk mengenali kehidupan melalui terjun langsung dalam kehidupan itu sendiri. Di dalam sastra, sebuah latihan dapat berujung pada kematian. Dan hanya mereka yang mampu bangkit kembali dari kematian itu sajalah yang layak disebut sastrawan. Pada puncak ini, siapa saja adalah sastrawan!

FRAGMEN MAKNA

§1. Makna. Persoalan pe-Makna-an berlangsung di antara dua kutub ekstrim, yaitu antara kutub sakralitas dan anarkisitas makna.

Sakralitas makna adalah humus bagi mekarnya dogmatisme. Ketika dogmatisme merebak, kontras dikotomi a la hitam-putih menyala, benar-salah merajalela, otoritarianisme mulai mencengkram kehidupan, di mana dampak paling ekstrim adalah matinya teks, yang bisa dibaca sebagai matinya manusia disebabkan kemungkinan akan adanya potensialitas makna lain di luar makna yang sudah disakralkan diabaikan, dibuang, dimusnahkan. Ketika pengabaian, pembuangan, pemusnahan metafisis berlangsung, ketika itu pulalah kekerasan memanifestasikan dirinya lewat penyeragaman akal dan cara pandang.

Anarkisitas makna adalah humus bagi mekarnya relativisme. Ketika relativisme merebak, kontras dikotomi a la hitam-putih hilang arwah berganti warni warna pelangi, semua hal ada benar, demokrasi gelap mata lenyap nyawa, di mana dampak paling ekstrim adalah hilangnya teks, yang bisa dibaca sebagai ketiadaan manusia disebabkan realitas hilang fondasi metafisisnya. Atau dengan kata lain, makna menjadi sesuatu yang tak bermakna, nihil, tiada, sia-sia. Ketika benih-benih kenihilan, ketiadaan, kesia-siaan lahir pada aras metafisis, ketika itu pulalah manusia harus bersedia menerima bahwa hakikat dirinya identik dengan batu dan burung hantu.

Selbstbewusstsein Sastra



§1. Apologia. Apa yang hendak saya sampaikan berangkat dari segala keterbatasan saya. Pemahaman, sebagaimana yang tercermin dalam skema struktur pemikiran termaktub—dengan segala kelemahan dan kekurangan—mendapat inspirasi dari pemikiran Hegellian. Sialnya, saya tidak terlalu memahami secara detail pemikiran tersebut. Sepenuhnya, inspirasi pemikiran Hegel termaksud berasal dari pengajaran Frederick Coplestone tentang Hegel dalam buku History of Philosophy-Vol.VII. Saya sadar ada kelemahan yang pasti dapat ditemukan bila teks saya diselidiki lebih mendalam.


§2. Problematisasi. Ada dua alasan—setidaknya yang saya sadari—mengapa saya memilih Hegel. Pertama, ketakterdugaan yang saya alami saat membaca teks Coplestone. Ketika membaca teks dia mendadak—dan entah mengapa—saya berpikir bahwa apa yang disampaikan Hegel tampaknya dapat diterapkan di bidang sastra. Saat itu, percikan inspirasi tadi saya anggap sebagai penyedap hati yang sedang suntuk menghadapi teks rumit pemikiran Hegel yang sudah disederhanakan oleh Coplestone. Kedua, keheranan saya yang muncul saat membaca pemikiran Sapardi Djoko Damono (SDD) yang menyoal peran sastrawan dan fungsi sastra dalam masyarakat sejak dulu hingga nanti yang dituang SDD dalam buku Politik Ideologi dan Sastra Hibrida terbitan Pustaka Firdaus pada 1999; kerumitan SDD masih ditambah lagi oleh wawasan problematika sastra yang dijabarkan Radhar Panca Dahana (RPD) dalam buku Kebenaran dan Dusta Dalam Sastra terbitan Indonesiatera pada 2001, khususnya menyangkut peran sastra dalam masyarakat (atau bagi personal).

SDD menilai posisi sastrawan dan fungsi sastra dari waktu ke waktu mengalami perubahan; begitu juga RPD menilai posisi sastra dan fungsi sastra juga mengalami perubahan. Keduanya sampai pada konklusi nyaris mirip (menurut saya) di mana SDD berpendapat ‘aksara tetap bertahan’ (SDD, 1999, hal.142); RPD berpendapat ‘proses manusia menemukan dirinya sendiri, menyempurnakan pemahamannya atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya’ (RPD, 2001 hal. xiii). Persoalannya: mengapa bisa demikian?

Bagi saya, eksplisitasi atas pertanyaan tadi tidak jelas. Saya sempat pikir, barangkali ketidakjelian saya membaca akar ketidakjelasan eksplisitasi yang saya alami. Harus saya akui bahwa dalam setiap tulisan yang saya baca pada SDD dan RPD ada kelebat postulat ‘dengan segala kerumitannya, di dalam sastra senantiasa ada perubahan sekaligus yang tetap.’ Lantas, pertanyaannya: apa yang berubah? dan apa yang tetap? Di sinilah saya (masih) mencoba memberanikan diri untuk melihat problematika itu dan menelisik jawaban atas hal tersebut melalui pandangan Hegel. Barangkali upaya saya merupakan sesuatu yang cacat, keterlaluan, dan tak otentik.


§3. Kebebasan (Freedom) dan Kedirian (Selfhood). Upaya menjadi bebas sejalan dengan upaya menjadi diri sendiri. Setiap orang punya potensi menjadi diri sendiri atau tidak. Orang yang tidak menjadi diri sendiri berarti orang yang tidak menggangap dirinya orang [dan bagi orang lain, ia pun sudah dianggap bukan orang lagi]. Implikasinya, ia telah menurunkan derajat kemanusiaannya menjadi setingkat hewan.

Dalam skenario pemikiran Hegel, kebebasan merupakan suatu kualitas yang membedakan hewan dan manusia. Hewan semata-mata bertindak atas tuntutan deterministik jasmani; manusia mampu mengeliminir tuntutan deterministik jasmani dalam bertindak. Gejala puasa dalam kehidupan umat beragama pertanda determinasi jasmani-biologis tidak sepenuhnya menentukan arah tindakan manusia. Singkatnya, hewan tidak bebas, manusia bebas.

Di sisi lain, kedirian muncul dari peristiwa pengenalan (recognition) diri (self) melalui keberadaan yang-lain (others). Sialnya, peristiwa pengenalan diri terjadi dalam situasi yang tak setimbang. Peristiwa pengenalan diri sejalan dengan subordinasi kekuasaan. Subordinasi self atas others menghasilkan situasi yang tak setimbang. Self yang mengenali others melalui subordinasi menempatkan self pada posisi Tuan (Master) dan others sebagai Budak (Slave).

Sialnya, pemosisian Tuan-Budak berimplikasi pada penurunan derajat others ke tingkat hewan. Alasannya, Budak kehilangan kodrat manusia, yakni kebebasan. Pengenalan Tuan atas Budak menempatkan Budak setara dengan benda-benda, bahkan hewan, yang dapat dikendalikan seturut dengan kehendak Tuan.

[Spekulasi saya:] Kebebasan adalah dimensi internal individu untuk mengenali dirinya; ada pun kedirian adalah dimensi eksternal individu untuk mengenal dirinya. Melalui kebebasan, individu mengenali dirinya melalui dirinya sendiri; ada pun kedirian menyangkut kapabilitas individu mengenali dirinya melalui orang lain.


§4. Sastra. Sastra dalam konteks ini merupakan sarana mencapai (sekaligus mengekspresikan) kebebasan dan kedirian individu. Sastra adalah hasil daya kreasi pikiran manusia. Menyitir RPD, sastra dalam konteks yang lebih luas dikenali sebagai bagian dari ‘kesenian’ yang hidup bersama ‘elemen-elemen utama kehidupan lainnya, seperti sains, militer, ekonomi, politik atau agama’ (RPD, 2001, hal. 174). Di sini, sastra dikenali sebagai An Other.

Sastra adalah yang-lain bagi diri. Melalui sastra, diri mengenali dirinya sendiri untuk kemudian mencoba membangun dirinya sendiri dengan potensi kebebasan yang dapat diaktualkan seoptimal-optimalnya. Di sini, sastra berperan mengintrodusir nilai bagi diri, yang bisa saja pembaca, untuk kemudian—jika beruntung, dapat menjadi pengkarya.


§5. others-Others. others-Others adalah penanda untuk melihat sebuah evolusi, ziarah gagasan, kehidupan wacana. Sebutan lain untuk mengenali kekacauan pertarungan kuasa antara elemen-elemen kehidupan—misalnya cerita SDD yang mengungkapkan bahwa pada masa dahulu sastra menempati posisi sentral dalam kehidupan masyarakat karena berperan dalam ritual keagamaan. Di kemudian hari, transformasi masyarakat menempatkan sastra berada di posisi terpinggirkan pada sebuah peradaban industrial (SDD, 1999, hal.69-82). SDD juga membuka peluang untuk mengenali karya sastra sebagai ‘komoditi’ (SDD, 1999, hal.140) sebagai dampak dari perkembangan masyarakat kontemporer.


§6. Politik. Politik adalah An Other.


§7. Negara. Negara adalah An Other.


§8. Hegemoni dan Rebellion. Hegemoni (saya sedikit banyak mengambil dari pemikiran Gramschi atas konsep ini) berkaitan dengan persoalan introdusir nilai yang bersumber dari pihak tertentu yang dominan atas pihak yang lain yang tidak dominan.

Persoalannya, introdusir nilai memiliki potensi pemaksaan suatu nilai. RPD mengisyaratkan sastra (seni dalam konteks yang lebih luas) adalah sastra ketika ia tidak memiliki beban untuk mendesakkan nilainya sendiri (RPD, 2001, hal.xii). Meski begitu, secara implisit saya menilai [pada pemikiran RPD] kompetisi estetik atas sastra tidak dihilangkan, melainkan berpindah ke pundak pembaca untuk secara kreatif menentukan kualitas ‘besar’ suatu karya sastra.

[Bukankah dengan demikian, hegemoni—dalam pengertian yang bebas dan semena-mena—sesungguhnya tengah terjadi? Barangkali saja ini pertanyaan dadakan yang muncul secara tiba-tiba tanpa adanya penyelesaian yang tuntas.]

Rebellion adalah ombak penolakan atas segala hal yang sudah kadung baku, beku dan kaku. Sastra yang kehilangan hakekat, entah sebagai sarana mengenali diri atau manifestasi upaya manusia menundukkan semesta melalui bahasa (RPD, 2001, hal.95) barangkali memang perlu didobrak. Alasannya: kebakuan, kebekuan dan kekakuan pertanda mulai berkurangnya kebebasan, yang berujung pada mengkerutnya kreatifitas. Saya mengenali hal ini sebagai demistifikasi.


§9. Yang berubah dan yang tetap. Yang berubah barangkali An Other. Yang tetap: kehendak bebas dan menjadi diri sendiri.


§10. Apakah sastra berhubungan dengan negara? Saya pikir ya dan tidak. Ya, sebab medium perhubungan antara sastra dan negara adalah diri; atau dengan kata lain, sepanjang diri ada, maka problem hubungan antara sastra dan negara masih tetap dapat dipersoalkan. Tidak, sebab kreatifitas [mungkin] tidak membutuhkan negara. Barangkali saja, apa yang kita kenali atau identifikasi sebagai negara sesungguhnya adalah setan-setan yang menghambat laju kreatifitas dalam diri warga.