Kadang-kadang, berjumpa teman lama itu
menyenangkan. Tiga hari lalu, saya berjumpa teman lama, dia sudah membeli tiket
konser Metallica. Sewaktu ngobrol, teman saya bilang, "Vid, gua pikir
tugas negara itu sederhana saja: lahirin grup band cadas kayak Metallica. Udah
itu aja." Saya pikir, teman saya ada benarnya.
seperti alif beta dan eureka. mawar melati dan segala yang mabuk cuaca. seperti kulkas, semua indah dan selamat membahasa.
Teh dan Niat
Sewaktu minum teh,
tiga hari lalu, teman saya (baru saja ia kembali dari luar negeri) bilang,
"Untuk bernafsu, manusia tidak perlu belajar. Namun, untuk berpikir,
manusia belajar." Saya berniat membantah, namun saya setelah saya timbang
kembali, saya batalkan niat saya.
Suara Korban dan Soldatenkaffee: Membantah Argumentasi Zen RS
SAYA SANGAT KAGET ketika membaca dua artikel yang ditayangkan di id.Yahoo.com—“Kartu
Pos Bergambar Fasisme” (lihat http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/kartu-pos-bergambar-fasisme-120405702.html)
dan “Soldatenkaffee dan Trauma Ke-Indonesia-an” (lihat http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/soldattenkafe-dan-trauma-ke-indonesia-an-114545852.html)—tulisan
Zen RS. Dua tulisan dari Zen RS itu mengajukan tesis bahwa Nazi bukanlah trauma
ke-Indonesia-an, melainkan trauma Eropa—dengan demikian, keberadaan
Soldatenkaffee dapat dipahami semata-mata sebagai tempat yang memuat
simbol-simbol Nazi tanpa perlu mengaitkan simbol-simbol tersebut dengan muatan
ideologis fasisme Nazi. Justifikasi dari tesis itu adalah paparan historis di
mana, melalui kajian sejarah Indonesia, trauma ke-Indonesia-an adalah fasisme
berbalut Pancasila yang muncul melalui slogan “NKRI Harga Mati,” lalu tragedi
1965, tragedi Santa Cruz di Dilli, tragedi Ahmadiyah di Cikeusik, tragedi Syiah
di Sampang, dst. Bagi saya, sejauh afirmasi Zen RS tentang trauma
ke-Indonesia-an, saya tidak membantah—dalam tulisan ini, saya membantah
afirmasi Zen RS yang hendak menjustifikasi bahwa adanya trauma ke-Indonesia-an
yang khas dapat dijadikan justifikasi untuk menolak trauma Eropa akan Nazi.
Bantahan saya terhadap tesis Zen RS
menyangkut dua hal. Pertama, membaca
sejarah Indonesia dapat dilepaskan dari sejarah dunia? Apakah peristiwa
partikular tertentu di suatu tempat tertentu tidak mempengaruhi kondisi atau
situasi di tempat lain? Kedua, apa
sesungguhnya yang dimaksud dengan trauma oleh Zen RS? Apakah itu hanya
pengalaman personal-individual yang unik dan khas, serta tidak dapat dibagi?
Apakah trauma adalah harta milik pribadi yang eksklusif, yang tidak dapat
dibagi? Apakah perbedaan antara sejarah orang Eropa dan sejarah orang Indonesia
meniscayakan kemustahilan membagi pengalaman pahit atau masa lalu? Lalu, apakah
dengan tidak bersetujunya saya dengan pandangan Zen RS, maka saya bukanlah
orang Indonesia, bukanlah orang tidak mengetahui trauma ke-Indonesia-an? Bagi saya, ketika Zen RS menuliskan “apalah
artinya simbol Nazi dan gambar wajah Hitler?”—dan pada saat yang sama berbicara
tentang trauma, saya menjadi ragu: apakah Zen RS memang benar-benar menghikmati
apa yang disebut dengan trauma?
Tentang yang pertama, saya mulai dari ledakan Gunung Tambora pada tahun
1815. Apakah ledakan itu hanya menjadi sejarah bagi mereka yang tinggal di
Sumba? Apakah ledakan itu tidak menjadi sejarah bagi mereka yang tinggal di
Amerika atau Eropa? Bukankah kekalahan Napoleon Bonaparte dalam perang Waterloo
sesungguhnya disebabkan oleh debu vulkanik dari ledakan Gunung Tambora? Lebih
lanjut, bukankah kekalahan Napoleon dalam perang Waterloo justru mengubah
konfigurasi politik di Eropa, menciutkan kekuasaan politik Prancis yang begitu
besar di Eropa pasca Revolusi 1789?
Ada dua hal yang hendak saya
tunjukkan melalui ilustrasi sejarah ledakan Gunung Tambora. Pertama, secara epistemologis, ada
kemungkinan bahwa peristiwa yang terjadi pada suatu tempat tertentu
mempengaruhi kondisi atau situasi di tempat yang-lain. Secara epistemologis,
istilah “kemungkinan” ini mengacu kepada perspektif—artinya, dapat saja lebih
dari satu perspektif yang mungkin ada untuk membaca suatu peristiwa. Kedua, secara ontologis, adalah suatu
keniscayaan (necessity) menyangkut
adanya keterkaitan antara satu peristiwa pada suatu tempat dengan adanya
perubahan kondisi atau situasi di tempat yang lain.
Barangkali justifikasi historis-geologis
yang saya ajukan dapat dibantah. Misalnya, “Ah, ilustrasi sejarah itu tidak
dapat menjadi dasar untuk menyatakan ada trauma yang sama antara orang-orang di
Sumbawa dan orang-orang di Eropa.” Ok, saya dapat menerima hal itu. Karena itu,
saya akan ajukan peristiwa sejarah berikutnya, yaitu bom atom Hiroshima dan
Nagasaki. Apakah peristiwa jatuhnya bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada
Agustus 1945 adalah semata-mata peristiwa partikular yang terjadi di Jepang?
Peristiwa jatuhnya bom atom Hiroshima dan Nagasaki tidak dapat dipisahkan dari
berkuasanya Nazi di Jerman, terbentuknya triad Jerman-Italia-Jepang dengan
gagasan fasisme mereka, lalu disetujuinya pelaksanaan Manhattan Project? Di
Indonesia, Perang Dunia II memungkinkan Jepang masuk ke Indonesia menggantikan
Belanda. Di sini, ledakan bom atom menjadi bagian dari trauma kemanusiaan
secara menyeluruh—tidak hanya bagi Jepang, namun juga bagi ahli-ahli fisika dan
filsuf-filsuf sains pasca Manhattan Project untuk berbicara tentang batas moral
dalam ilmu pengetahuan yang diklaim bebas nilai.
Terakhir, saya akan bicara tentang
tsunami 2004 yang melanda Aceh. Apa yang dapat kita hikmati dari peristiwa yang
sudah menjadi bagian dari sejarah Aceh, Indonesia, dan dunia ini? Apakah kita
masih dapat berbicara bahwa sejarah, yang secara ontologis berakar pada
peristiwa (event), dapat diisolasi
mutlak tanpa memperlihatkan keterikatan dengan peristiwa lainnya? Tentunya, apa
yang mengikat peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya adalah agen dalam
peristiwa itu sendiri, yaitu manusia. Manusia, dalam hal ini, tidak dapat
semata-mata dipandang berdasarkan ras atau warna kulit atau tampilan
fisik-fisiologis lainnya. Bagi saya, secara ontologis, kemampuan manusia untuk
saling berbagi inilah yang menjustifikasi mengapa kita dapat berbagi sejarah. Manusia,
secara universal, adalah pelaku sejarah—dengan demikian, sejarah kemanusiaan
pada tempat lain adalah sejarah kemanusiaan bagi tempat lainnya. Memposisikan
pembacaan sejarah yang secara ontologis dan metodologis mengisolasi suatu
peristiwa [dan tentunya ingatan tentang peristiwa] pada daerah tertentu lepas
dari peristiwa lainnya, bagi saya, dalam batas-batas tertentu adalah naif. Saya
ingat kata-kata sejahrawan Taufik Abdullah: “sejarah itu adalah lautan masa
lalu, yang darinya kita belajar tentang diri kita, yang darinya manusia belajar
tentang manusia.”
Berikutnya, menyangkut trauma.
Sejauh pembacaan saya terhadap dua artikel Zen RS, saya mencurigai gagasan Zen
RS tentang trauma adalah sebagai entitas yang eksklusif, tidak dapat dibagi,
hanya dimiliki secara personal-individual. Benar, trauma adalah mengacu kepada
luka di masa lalu yang selalu membayangi kehidupan pada masa kini [dan tentunya
juga di masa depan]. Persoalannya, bagi saya, apakah trauma itu benar-benar
tidak dapat dibagi, apakah trauma hanya demi diri sendiri? Lantas, bagaimana
Zen RS memahami peristiwa Human Rights Watch Group (HRWG) berbicara tentang
pelanggaran HAM di Indoensia—suatu trauma ke-Indonesia-an, yang diklaim
Zen—pada forum Sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, Jenewa,
pada pekan lalu? Apakah trauma ke-Indonesia-an adalah semata-mata trauma
ke-Indonesia-an yang tidak dapat dipahami oleh orang lain? Apakah trauma Nazi
hanya semata-mata trauma Nazi yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang
Indonesia? Saya pikir, di sinilah kekeliruan mendasar Zen RS: Zen RS mereduksi
trauma menjadi semata-mata hak eksklusif yang tidak dapat dibagikan kepada
orang lain—dan atas dasar ini juga, Zen RS dapat mengisolasi pikirannya dari
trauma terhadap Nazi.
Pada hakikatnya, trauma adalah suara
korban yang tidak dapat bersuara. Trauma adalah suara korban! Korban bersuara
dalam keheningan—inilah trauma. Melalui trauma, melalui suara dalam keheningan,
korban yang hendak berbicara tentang dirinya, apa yang dialaminya, serta
berbicara tentang harapannya di kemudian hari, yaitu apa yang dialami tidak
akan terjadi lagi. Indonesia bersyukur bahwa Auschwitz tidak terjadi di
Indonesia—tetapi, saya pikir hal itu tidak dapat menjustifikasi kita untuk
tidak belajar dari kekelaman sejarah Eropa. Peristiwa holocaust—sebuah peristiwa yang dibantah kebenarannya oleh pemilik
kafe Soldatenkaffee Henry Mulyana (lihat http://www.thejakartaglobe.com/features/bandung-cafes-nazi-kitsch-theme-sparks-some-uncomfortable-questions/)—memperlihatkan
bahwa kemanusiaan (humanity)
sesungguhnya bukan meletak pada rasio atau kesadaran, melainkan meletak pada
relasi kita dengan orang lain, mereka yang menjadi korban, mereka yang tidak
berdaya dan orang-orang yang tidak berdaya inilah yang sesungguhnya memberikan
pelajaran kepada kita tentang apa artinya menjadi manusia. Bukankah trauma
ke-Indonesia-an dan trauma kemanusiaan lainnya mengajarkan bahwa kita adalah
manusia yang dapat saja lebih baik dari apa yang telah kita lakukan di masa
lalu. Kurang lebih, demikianlah gagasan filosofis dari filsuf Perancis Emmanuel
Levinas (1906-1995), seorang Yahudi yang sempat ditahan Nazi, dan hampir
seluruh keluarganya tewas dalam peristiwa Shoah.
Jika trauma bukanlah sesuatu yang
eksklusif, namun sesuatu yang membutuhkan kepekaan kita untuk mendengarkan
suara-suara korban—entah siapa pun dia, apakah ia orang Eropa atau tidak, Islam
atau Kristen atau Budha atau Hindu atau ateis sekalipun, apakah ia berkulit
coklat atau tidak, dst—lantas, mengapa kita dapat memilah dengan tegas dan
begitu pasti ada yang disebut trauma ke-Indonesia-an dan ada yang disebut
trauma Eropa? Bagi saya, sejarah yang lahir dari/atau menjadi trauma bukanlah
sejarah yang eksklusif atau tidak dapat dibagi. Korban selalu senantiasa
bersedia untuk berbagi—masalahnya, kadang kala kita tidak cukup peka untuk
mendengarkan suara yang berbicara dalam keheningan.
Diam-Diam
Tiga hari yang lalu, saya berdiskusi tentang Mesir dengan teman saya. Di akhir perbincangan, dia bilang, "Karena kekuasaan memungkinkan kehidupan yang lebih baik, diam-diam demokrasi berbicara tentang KAMI melalui KITA."
sajak terjemahan
Antara yang kutatap dan yang terucap
: kepada Roman Jakobson
-Octavio Paz-
1
Antara yang kutatap
dan terucap,
Antara yang kutatap
dan yang kudiamkan,
Antara yang
kudiamkan dan yang kuidamkan,
Antara yang
kuidamkan dan yang terlupakan:
puisi.
Ia tergelincir
antara ya dan
tidak,
mengucap
apa yang kudiamkan,
mendiamkan
apa yang kuucapkan,
dan bermimpi
tentang apa yang
terlupakan.
Puisi
bukanlah mantra
ia adalah gerak.
Puisi
adalah gerak
pada mantra.
Puisi
mengucap dan terdengar:
ia begitu nyata.
Sesaat aku berkata
ia begitu nyata,
puisi menjelma musnah.
Adakah ia abadi?
2.
Semesta akal
dan ilusi
kata-kata:
puisi
datang dan berkelana
antara ada
dan ketiadaan.
Ia menenun
dan mengungkai peta
ingatan.
Puisi,
ia-lah mata pada
setiap kitab,
ia-lah kata bagi segala
tatap.
Mata mengucap,
kata-kata
menatap,
melihat yang
terucap.
Dengarkanlah
segala pertimbangan,
lihatlah
apa yang kami
ucapkan,
sentuhlah
peta ingatan dan
cita-cita.
Sesaat mata dipejam,
kata-kata menjelma
cahaya.
Between What I See and What I Say[1]
: for Roman Jakobson
-Octavio Paz-
1
Between what I see
and what I say,
Between what I see
and what I keep silent,
Between what I keep
silent and what I dream,
Between what I
dream and what I forget:
poetry
It
slips
between yes and no,
says
what I keep silent,
keeps silent
what I say,
dreams
what I forget.
It is not speech:
it is an act.
It is an act
of speech.
Poetry
speaks and listens:
it is real.
And as soon as I
say
it
is real,
it vanishes.
Is it than more real?
2.
Tangible idea,
intangible
word:
poetry
comes and goes
between what is
and what is not.
It weaves
and unwaves reflection.
Poetry,
scatter eyes on a
page,
scatter words on
our eyes.
Eyes speaks,
words looks,
looks thing.
To hear
thoughts,
see
what we say,
touch
the body of an idea.
Eyes close,
the words open.
[1] Saya tidak tahu siapa yang menterjemahkan puisi
Octavio Paz ini ke dalam bahasa Inggris--dan saya juga tidak tahu juga puisi
ini dalam bahasa aslinya. Terjemahan puisi Octavio Paz ini saya temukan melalui
mesin pencari Google.
Kebersihan dan Haydn
Tiga hari lalu, teman saya datang berkunjung ke kontrakan saya. Di tengah perbincangan, teman saya mendadak bilang, "Vid, sebenarnya 'menjaga kebersihan' atau 'merawat kebersihan' yang tepat?" Entah mengapa, saya langsung melihat kontrakan saya yang berantakan--buku-buku yang berserak, pakaian-pakaian yang belum disetrika, hingga debu yang menempel di layar komputer yang masih menyala memperdengarkan simfoni 'The Last Seven Words' gubahan Joseph Haydn.
Naskah tentang Kucing dan Kepalanya
Dia memelihara 366
ekor kucing. Seekor hidup di dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepalanya.
Kucing yang hidup dalam kamarnya bebas berkeliling kamar, keluar kamar, masuk
ke dalam got—sekali waktu, jika tidak ketahuan Pasukan Pengaman Presiden,
kucing itu dapat meloncat masuk ke dalam kompleks Istana Negara; saya tidak
tahu apa yang dilakukan kucing itu di dalam kompleks Istana Negara, tapi saya
tidak berharap dan tidak pula mengimajinasikan kucing itu akan mempengaruhi
keputusan politik yang akan diambil Presiden dan para pembantunya di dalam rapat kabinet,
sebab kucing tidak memiliki kepentingan politik, hanya babi yang memiliki
kepentingan politik (Orwell memberitahukan saya tentang hal ini).
Dia memelihara 366
ekor kucing. Seekor hidup di dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepala.
Kucing-kucing dalam kepala memungkinkan dia melakukan apa saja. Misalnya,
kucing dalam kepala memungkinkan dia berniat tidur—namun ketika dia sudah
merebahkan diri di atas kasur, tiba-tiba muncul kucing lain yang
memerintahkannya untuk membaca buku, bersamaan dengan itu muncul pula kucing
yang lain pula yang memerintahkan dia untuk pergi menonton televisi (entah
untuk menyaksikan apa, saya tidak tahu). Kucing lainnya pun muncul pula, kucing
itu mengingatkan akan masa lalunya tentang seorang temannya yang mengkhianati
kepala negara (dan saya masih terus saja berpikir—barangkali karena dia
mengirimkan kucing yang ada di dalam kepalanya ke dalam kepala saya—“apakah
saya adalah kucing di dalam kepalanya, sehingga dia dapat mengirimkan kucing ke
dalam kepala saya?”—mungkinkah terjadi pengkhianatan kepada naskah, jika
kesetiaan hanya dapat diberikan kepada teman atau lawan?); tapi, kucing yang
lain lagi muncul mengiau membawakan cita-cita masa depan dalam bentuk negara
atau pasar yang tersembunyi di dalam hutan-hutan (dan saya sempat berdiskusi
dengan dia tentang hutan yang dapat dibaca melalui sastra dengan
matematika)—tetapi, mendadak ada kucing lain, yang mengaku melalui ngiaunya
dirinya lahir dari lukisan yang muncul begitu saja di lautan asam purba karena
reaksi fisiko-kimiawi: “Tuhan menciptakan kematian dan manusia menciptakan
kuburan,” yang membuat dia terdiam mendadak. Dia tahu bahwa kucing-kucing itu
tidak dapat tinggal selamanya di dalam kepalanya.
Dia memelihara 366
ekor kucing. Seekor hidup dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepalanya dan
kepala saya (saya tidak tahu berapa banyak kucing yang diseludupkan Sutardji ke
dalam kepalanya serta kepala saya—“apakah saya adalah kucing di dalam
kepalanya, sehingga dia dapat mengirimkan kucing ke dalam kepala saya?”).
Tuhan dan Cita-Cita
setelah menciptakan kuburan, manusia (masih tetap) bercita-cita menciptakan negara dan pasar.
Yang-Puitis dan Yang-Filosofis tentang Sampah dan Sepah
(Maaf, Saya Tidak Sempat Bicara Limbah)
… dunia tinggal satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita …
Hujan di Pagi Hari | Afrizal Malna
Fragmen sajak Malna menyiratkan
kecemasan. Kecemasan akan kepunahan manusia, jika manusia tidak memperhatikan dunia sebagai satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita. Keberadaan
dunia menjadi satu-satunya alasan bahwa hidup dan kehidupan manusia di masa
depan akan tetap terjamin—keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia, tidak
lagi semata-mata ditentukan nalar (reason), melainkan oleh dunia (world). Tanpa dunia,
adakah yang disebut manusia?
Dari sudut filosofis, Greg Kennedy,
penulis buku ‘An Ontology of Trash: The Disposable and Its Problematic
Nature’, meriwayatkan hal serupa. Kennedy mengakui bahwa kepunahan manusia
senantiasa menjadi kemungkinan (Kennedy:2007, hal.160). Di masa-masa dahulu,
isyarat kepunahan manusia dikenali melalui wabah penyakit, hantaman meteor,
hingga bencana alam. Singkat kata, kepunahan dinosaurus adalah isyarat
kepunahan manusia. Namun, di masa sekarang, khususnya di abad ke-20, isyarat
kepunahan manusia tidak lagi dikenali dalam bentuk demikian. Kepunahan manusia
tidak lagi dimungkinkan oleh wabah, hantaman meteor atau bencana alam,
melainkan oleh sampah (waste). Kegagalan
manusia menangani sampah menjadi isyarat akan kepunahan manusia. Dan, Kennedy
menegaskan satu hal bahwa hanya manusia sajalah yang menghasilkan sampah,
sedangkan alam tidak (Kennedy:2007, hal.2)!
Kepunahan
manusia tidak dapat dilepaskan dari kegagalan manusia menangani sampah. Bagi
Kennedy, apa yang disebut sampah tak lain adalah momen ketika nalar kehilangan
daya cengkram (Beck:1992, hal.6). Refleksi filosofis Kennedy tidak dapat
dipisahkan dari pemikiran eksistensialis Martin Heidegger. Momen ketika nalar
kehilangan daya cengkram adalah momen ketika manusia tidak lagi menjadi
otentik, momen ketika manusia mengabaikan apa yang ada di sekitarnya. Dalam
pemikiran Heidegger, manusia adalah Dasein,
Being-in-the-world,
Pengada-di-dalam-dunia. Di dalam dunia, Dasein
berjumpa dengan benda-benda (Things),
yang ada begitu saja, presence-at-hand
(Vorhandenheit). Terhadap
benda-benda, Dasein menginjeksikan
nilai tertentu sehingga benda-benda tersebut memiliki kegunaan. Benda yang
sudah dikerangkakan dalam suatu tujuan tertentu oleh Dasein disebut sebagai
alat (Equipment/Zuhandenheit). Tindakan Dasein
menginjeksikan nilai tertentu ke dalam benda-benda adalah manifestasi dari
otensitas Dasein itu sendiri
(Heidegger:1962, hal.95-102; Gorner: 2007, hal.4-5).
Dari
perspektif Heideggerian, secara esensial, sampah dikenali sebagai momen
pengosongan nilai dari benda
(Kennedy:2007, hal.5). Misalnya, ketika kita membeli minuman kaleng. Minuman kaleng, bagi pembeli, bernilai
karena ada minuman yang tersimpan di dalam kaleng dan rasa haus. Namun, ketika
minuman dalam kaleng habis dan rasa haus terpuaskan, maka yang tinggal hanyalah
kaleng tanpa nilai—dan menjadi sampah. Perubahan minuman kaleng yang bernilai
menjadi kaleng yang tak bernilai mengisyarakat (i) terjadi pengosongan nilai
dan (ii) nalar kehilangan daya cengkram, nalar kehilangan daya pemahaman atas
suatu hal.
Manusia (atau Dasein dalam terminologi Heidegger) menjamin keotentikannya sebagai
manusia melalui apa yang ia lakukan terhadap segala hal yang ia jumpai di
dunia. Transformasi benda-benda (Things)
menjadi alat (Equipment), melalui
penginjeksian nilai ke dalam benda-benda, adalah manifestasi dari otentisitas
manusia. Dalam kasus minuman kaleng, otentisitas manusia lenyap karena manusia
tidak mampu mengubah kaleng tak bernilai, yang berstatus benda-benda, menjadi
kaleng bernilai, yang berstatus alat, melalui tindakan menginjeksikan nilai ke
dalam kaleng tak bernilai. Rute pemikiran yang demikian memperlihatkan bahwa
kegagalan manusia menangani sampah adalah kegagalan manusia mengenali sampah
sebagai sepah (trash). Sesungguhnya,
sampah dapat juga berarti sepah, dan apa yang dimaksud dengan sepah tak lain
adalah benda-benda yang tidak dipedulikan manusia, diperlakukan secara negatif
dan destruktif, padahal benda-benda itu masih berguna bagi manusia, jika
manusia menggunakan nalar demi mengaktualisasikan manfaat yang tersimpan di
dalam benda itu (Kennedy:2007, hal.xvi).
Kegagalan
manusia menangani sampah berarti kegagalan manusia menjamin hidup dan kehidupan
umat manusia di masa depan. Kennedy berharap melalui ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semakin dimutakhirkan, manusia dapat mengelola sampah, mengenali
sampah sebagai sepah, sehingga hidup dan kehidupan umat manusia di masa depan
terjamin (Kennedy:2007, hal.185). Kesadaran ekologis, yang mewujud tampil dalam
slogan ‘reduce, reuse, recyle,’ tampaknya menjadi jalan untuk membuktikan bahwa
sampah memang dapat dikenali sebagai sepah. Dari titik ini, saya pikir,
pernyataan puitis Malna adalah juga pernyataan filosofis. Masih dalam sajak yang sama, Malna bilang: Kita bukan pusat segala-galanya.
Televisi tanpa Janji
Tiga hari lalu, saya berjumpa teman saya. Ia bilang, "Vid, sekarang sudah susah membedakan partai politik dan televisi. Satu-satunya ruang yang tidak terkontaminasi partai politik hanya sinetron dari keluarga Punjabi." Saat itu, saya hanya tertawa saja—sebab saya pikir teman saya sedang bercanda. Namun, ketika saya menyempatkan diri menonton sinetron, saya sadar: keluarga Punjabi tidak pernah memberikan janji!
Preman dan Filsafat Manusia Platon
Tujuh
hari lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi (yang
tidak serius) tentang Platon (dan tentu dengan pengetahuan kami yang
sekadarnya). "Setahu saya, filsafat manusia Platon membagi jiwa manusia
ke dalam tiga bagian, yaitu nous, thumos, dan epithumia," kata saya
kepada teman saya. Teman saya menimpali, "Ya, stratatifikasi jiwa dari
Platon itu menjadi stratatifikasi masyarakat, Vid. Tapi, menurut lu Vid,
di zaman Platon itu preman sudah ada tidak ya? Kalau sudah ada, mereka
sebenarnya berada di mana ya? Nous, thumos, atau epithumia?" Saya
tiba-tiba serius mengingat-ingat apakah Werner Jaeger, ahli Yunani Kuno,
pernah berbicara tentang hal itu.
Realitas dan Teman Saya
Seminggu lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi ringan saja. Di tengah diskusi, barangkali tengah mendapat inspirasi, teman saya bilang, "Vid, coba kau pikirkan: apa yang tidak indah dari realitas, mulai dari hujan hingga gempa, dari debu hingga bunga yang merekah? Bukankah apa yang tak sedap dari realitas adalah hasil karya manusia?" Saya hanya heran.
Demokrasi dan Dunia Ketiga
Tiga hari lalu, saya bertandang ke rumah teman saya. Entah mengapa, dia tiba-tiba saja berkata: "Demokrasi itu menjadi sulit, karena sesungguhnya kita tidak dapat memiliki apa yang kita sukai atau kehendak. Di dalam demokrasi, kita pada kenyataannya harus memilih demi menghalangi yang paling tidak kita sukai atau kehendaki untuk menjadi penguasa." Jujur, saya perlu waktu lama memahaminya dan berhasil memahaminya ketika ia berkata, "Setiap tempat adalah dunia ketiga."
Fragmen Hal-hal yang Berharga
Kebodohan menghasilkan banyak hal dan hal paling berharga yang dihasilkan kebodohan, hanya satu, yaitu: kecerdasan. Demikian kata teman saya, tiga tahun lalu, sewaktu diskusi ringan menanti waktu berbuka puasa.
Fragmen Berfilsafat
Tiga tahun lalu, teman saya (ia penyuka filsafat, drama dan hal-hal religius) bilang, "Kau mustahil berfilsafat seorang diri, kau membutuhkan orang lain, entah teman atau orang yang tak dikenal."
Fragmen Matematika
Teman saya (keturunan India dan ahli matematika) bilang, "Diam-diam, kita mencintai ketidakpastian, atau paling tidak merindukan ketidaktahuan." Setelah melihat kebingungan di wajah saya, ia bertanya, "Pernahkah kau menerima hadiah?" Hal ini terjadi, tiga tahun silam, dalam diskusi ringan, sewaktu perayaan ulang tahunnya.
Sajak
FIKSI 48 RINDU
Fiksi Angkasa
ketika
filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora,
menyihir kamu jadi asmara.
Allah dan Ibu
jika ia pikir
sajak itu
angkasa
yang pisahkan
penyair
dari Allah, dan
Ibu
(menurutku)
ia sempurna
asmara
pada amuk saya
dan ombakmu.
Amuk Rahasia
setelah amuk di
alam mata
mengucap salam
ke puncak rumah
(kalbuKu pantai
rahasia)
ombaknya ibu, ke
teluk tubuhmu
1000 Tahun dan 48 Rindu
1000 tahun sudah
dia mencakar rindu
jejaknya mampus
di tapak hurufKu
sajak terjemahan
36
Damion Searls
Setelah Bo Juyi dan Burton Watson
Tidak juga tua, tidak juga remaja
hampir kepala empat, sebentar lagi
setengah abad.
Semua biasa saja, tidak ada yang
istimewa—
pekerjaan pertamaku, bernafas lalu
menjadi tua.
Ya,
bakat aku punya, tapi aku juga pemalas:
Jujur saja, dari pada tivi aku
lebih suka jendela.
Begitu gajian, sekejap kemudian aku
hidup dalam kemiskinan
nasi warteg rasanya rendang dan
halte adalah keindahan.
Kamar yang sempit bukanlah masalah,
asal ada buku, gitar dan harmonika.
Buka buku, tutup. Buka lagi. Tutup.
Buka lagi—tidak ada yang kubaca,
sekali waktu, kutiup harmonika.
Selesai.
Lalu pagi. Naik bus lagi. Masuk
telat lagi.
Sore. Waktunya pulang, membayangkan
tilam lalu lelap.
Kerja itu buat kepala pening,
untungnya aku tak pernah sakit
meski perut, kau sudah tahu, hanya
itu alasan hidup.
Kau tahu, dari hari ke hari,
hidupku begitu-begitu saja.
Membaca lagi dan lagi, sajak yang
itu-itu juga, sajak yang nempel di
tembok kamar—
sajak yang kutulis, kubaca sendiri, sendiri, dan berkali-kali.
Sajak, hanya sajak yang biasa saja dan tidak ada yang istimewa.
sajak yang kutulis, kubaca sendiri, sendiri, dan berkali-kali.
Sajak, hanya sajak yang biasa saja dan tidak ada yang istimewa.
808 A.D.
Damion Searls
After Po Chü-i and Burton Watson
Not too old, not young anymore,
almost three dozen years gone by.
Not a failure, not a success—
my first real job, a job to grow old in.
Some potential, too lazy to use it:
I’d watch TV but I like the window more.
My money gets spent when I have it;
cheap food tastes good too, and a small room’s enough.
Even a smaller room would be fine,
a shelf of old books, guitar with no amp.
The books I just flip through and don’t worry about too much,
the guitar is for noodling around on my own.
Mornings on the bus; I get to the office late.
Evenings it’s back home, go to bed early.
Working out’s too much trouble, and my body’s all right,
some belly to keep me company.
So there you have it, day by day, month after month.
Rereading this poem taped to the wall—
that’s the only reason I wrote it.
No genius, not stupid either.
almost three dozen years gone by.
Not a failure, not a success—
my first real job, a job to grow old in.
Some potential, too lazy to use it:
I’d watch TV but I like the window more.
My money gets spent when I have it;
cheap food tastes good too, and a small room’s enough.
Even a smaller room would be fine,
a shelf of old books, guitar with no amp.
The books I just flip through and don’t worry about too much,
the guitar is for noodling around on my own.
Mornings on the bus; I get to the office late.
Evenings it’s back home, go to bed early.
Working out’s too much trouble, and my body’s all right,
some belly to keep me company.
So there you have it, day by day, month after month.
Rereading this poem taped to the wall—
that’s the only reason I wrote it.
No genius, not stupid either.
[versi asli: http://www.theparisreview.org/poetry/6058/808-ad-damion-searl]
Fragmen Bertanya
Dulu, tujuh tahun lalu, guru saya sempat berkata kepada saya, "Tanpa pikiran, kamu tidak akan pernah dapat bertanya." Sampai sekarang, saya sulit sekali membantah hal itu.
Fragmen Berfilsafat
Teman saya (ia pengajar filsafat) bilang, "Untuk berfilsafat, engkau membutuhkan dua hal. Pertama, ketidaktahuan. Kedua, yang tidak kalah penting, daya kritis." Setelah percakapan itu, saya yakin: tidak ada yang disebut kecerdasan.
Subscribe to:
Posts (Atom)