Yang-Puitis dan Yang-Filosofis tentang Sampah dan Sepah
(Maaf, Saya Tidak Sempat Bicara Limbah)


… dunia tinggal satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita …
Hujan di Pagi Hari | Afrizal Malna

Fragmen sajak Malna menyiratkan kecemasan. Kecemasan akan kepunahan manusia, jika manusia tidak memperhatikan dunia sebagai satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita. Keberadaan dunia menjadi satu-satunya alasan bahwa hidup dan kehidupan manusia di masa depan akan tetap terjamin—keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia, tidak lagi semata-mata ditentukan nalar (reason), melainkan oleh dunia (world). Tanpa dunia, adakah yang disebut manusia?
Dari sudut filosofis, Greg Kennedy, penulis buku ‘An Ontology of Trash: The Disposable and Its Problematic Nature’, meriwayatkan hal serupa. Kennedy mengakui bahwa kepunahan manusia senantiasa menjadi kemungkinan (Kennedy:2007, hal.160). Di masa-masa dahulu, isyarat kepunahan manusia dikenali melalui wabah penyakit, hantaman meteor, hingga bencana alam. Singkat kata, kepunahan dinosaurus adalah isyarat kepunahan manusia. Namun, di masa sekarang, khususnya di abad ke-20, isyarat kepunahan manusia tidak lagi dikenali dalam bentuk demikian. Kepunahan manusia tidak lagi dimungkinkan oleh wabah, hantaman meteor atau bencana alam, melainkan oleh sampah (waste). Kegagalan manusia menangani sampah menjadi isyarat akan kepunahan manusia. Dan, Kennedy menegaskan satu hal bahwa hanya manusia sajalah yang menghasilkan sampah, sedangkan alam tidak (Kennedy:2007, hal.2)!
Kepunahan manusia tidak dapat dilepaskan dari kegagalan manusia menangani sampah. Bagi Kennedy, apa yang disebut sampah tak lain adalah momen ketika nalar kehilangan daya cengkram (Beck:1992, hal.6). Refleksi filosofis Kennedy tidak dapat dipisahkan dari pemikiran eksistensialis Martin Heidegger. Momen ketika nalar kehilangan daya cengkram adalah momen ketika manusia tidak lagi menjadi otentik, momen ketika manusia mengabaikan apa yang ada di sekitarnya. Dalam pemikiran Heidegger, manusia adalah Dasein, Being-in-the-world, Pengada-di-dalam-dunia. Di dalam dunia, Dasein berjumpa dengan benda-benda (Things), yang ada begitu saja, presence-at-hand (Vorhandenheit). Terhadap benda-benda, Dasein menginjeksikan nilai tertentu sehingga benda-benda tersebut memiliki kegunaan. Benda yang sudah dikerangkakan dalam suatu tujuan tertentu oleh Dasein disebut sebagai alat (Equipment/Zuhandenheit). Tindakan Dasein menginjeksikan nilai tertentu ke dalam benda-benda adalah manifestasi dari otensitas Dasein itu sendiri (Heidegger:1962, hal.95-102; Gorner: 2007, hal.4-5).
Dari perspektif Heideggerian, secara esensial, sampah dikenali sebagai momen pengosongan nilai dari benda (Kennedy:2007, hal.5). Misalnya, ketika kita membeli minuman kaleng. Minuman kaleng, bagi pembeli, bernilai karena ada minuman yang tersimpan di dalam kaleng dan rasa haus. Namun, ketika minuman dalam kaleng habis dan rasa haus terpuaskan, maka yang tinggal hanyalah kaleng tanpa nilai—dan menjadi sampah. Perubahan minuman kaleng yang bernilai menjadi kaleng yang tak bernilai mengisyarakat (i) terjadi pengosongan nilai dan (ii) nalar kehilangan daya cengkram, nalar kehilangan daya pemahaman atas suatu hal.
Manusia (atau Dasein dalam terminologi Heidegger) menjamin keotentikannya sebagai manusia melalui apa yang ia lakukan terhadap segala hal yang ia jumpai di dunia. Transformasi benda-benda (Things) menjadi alat (Equipment), melalui penginjeksian nilai ke dalam benda-benda, adalah manifestasi dari otentisitas manusia. Dalam kasus minuman kaleng, otentisitas manusia lenyap karena manusia tidak mampu mengubah kaleng tak bernilai, yang berstatus benda-benda, menjadi kaleng bernilai, yang berstatus alat, melalui tindakan menginjeksikan nilai ke dalam kaleng tak bernilai. Rute pemikiran yang demikian memperlihatkan bahwa kegagalan manusia menangani sampah adalah kegagalan manusia mengenali sampah sebagai sepah (trash). Sesungguhnya, sampah dapat juga berarti sepah, dan apa yang dimaksud dengan sepah tak lain adalah benda-benda yang tidak dipedulikan manusia, diperlakukan secara negatif dan destruktif, padahal benda-benda itu masih berguna bagi manusia, jika manusia menggunakan nalar demi mengaktualisasikan manfaat yang tersimpan di dalam benda itu (Kennedy:2007, hal.xvi).  
Kegagalan manusia menangani sampah berarti kegagalan manusia menjamin hidup dan kehidupan umat manusia di masa depan. Kennedy berharap melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin dimutakhirkan, manusia dapat mengelola sampah, mengenali sampah sebagai sepah, sehingga hidup dan kehidupan umat manusia di masa depan terjamin (Kennedy:2007, hal.185). Kesadaran ekologis, yang mewujud tampil dalam slogan ‘reduce, reuse, recyle,’ tampaknya menjadi jalan untuk membuktikan bahwa sampah memang dapat dikenali sebagai sepah. Dari titik ini, saya pikir, pernyataan puitis Malna adalah juga pernyataan filosofis. Masih dalam sajak yang sama, Malna bilang: Kita bukan pusat segala-galanya.

Televisi tanpa Janji


Tiga hari lalu, saya berjumpa teman saya. Ia bilang, "Vid, sekarang sudah susah membedakan partai politik dan televisi. Satu-satunya ruang yang tidak terkontaminasi partai politik hanya sinetron dari keluarga Punjabi." Saat itu, saya hanya tertawa saja—sebab saya pikir teman saya sedang bercanda. Namun, ketika saya menyempatkan diri menonton sinetron, saya sadar: keluarga Punjabi tidak pernah memberikan janji!

Preman dan Filsafat Manusia Platon


Tujuh hari lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi (yang tidak serius) tentang Platon (dan tentu dengan pengetahuan kami yang sekadarnya). "Setahu saya, filsafat manusia Platon membagi jiwa manusia ke dalam tiga bagian, yaitu nous, thumos, dan epithumia," kata saya kepada teman saya. Teman saya menimpali, "Ya, stratatifikasi jiwa dari Platon itu menjadi stratatifikasi masyarakat, Vid. Tapi, menurut lu Vid, di zaman Platon itu preman sudah ada tidak ya? Kalau sudah ada, mereka sebenarnya berada di mana ya? Nous, thumos, atau epithumia?" Saya tiba-tiba serius mengingat-ingat apakah Werner Jaeger, ahli Yunani Kuno, pernah berbicara tentang hal itu.

Realitas dan Teman Saya


Seminggu lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi ringan saja. Di tengah diskusi, barangkali tengah mendapat inspirasi, teman saya bilang, "Vid, coba kau pikirkan: apa yang tidak indah dari realitas, mulai dari hujan hingga gempa, dari debu hingga bunga yang merekah? Bukankah apa yang tak sedap dari realitas adalah hasil karya manusia?" Saya hanya heran.

Demokrasi dan Dunia Ketiga


Tiga hari lalu, saya bertandang ke rumah teman saya. Entah mengapa, dia tiba-tiba saja berkata: "Demokrasi itu menjadi sulit, karena sesungguhnya kita tidak dapat memiliki apa yang kita sukai atau kehendak. Di dalam demokrasi, kita pada kenyataannya harus memilih demi menghalangi yang paling tidak kita sukai atau kehendaki untuk menjadi penguasa." Jujur, saya perlu waktu lama memahaminya dan berhasil memahaminya ketika ia berkata, "Setiap tempat adalah dunia ketiga."

Fragmen Hal-hal yang Berharga


Kebodohan menghasilkan banyak hal dan hal paling berharga yang dihasilkan kebodohan, hanya satu, yaitu: kecerdasan. Demikian kata teman saya, tiga tahun lalu, sewaktu diskusi ringan menanti waktu berbuka puasa.

Fragmen Berfilsafat

Tiga tahun lalu, teman saya (ia penyuka filsafat, drama dan hal-hal religius) bilang, "Kau mustahil berfilsafat seorang diri, kau membutuhkan orang lain, entah teman atau orang yang tak dikenal."

Fragmen Matematika


Teman saya (keturunan India dan ahli matematika) bilang, "Diam-diam, kita mencintai ketidakpastian, atau paling tidak merindukan ketidaktahuan." Setelah melihat kebingungan di wajah saya, ia bertanya, "Pernahkah kau menerima hadiah?" Hal ini terjadi, tiga tahun silam, dalam diskusi ringan, sewaktu perayaan ulang tahunnya.

Sajak


FIKSI 48 RINDU
  
Fiksi Angkasa

ketika filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora, menyihir kamu jadi asmara.
 
Allah dan Ibu

jika ia pikir
sajak itu angkasa
yang pisahkan penyair
dari Allah, dan Ibu
(menurutku)
ia sempurna asmara
pada amuk saya dan ombakmu. 

 Amuk Rahasia

setelah amuk di alam mata
mengucap salam ke puncak rumah
(kalbuKu pantai rahasia)
ombaknya ibu, ke teluk tubuhmu
 
1000 Tahun dan 48 Rindu

1000 tahun sudah dia mencakar rindu
jejaknya mampus di tapak hurufKu

sajak terjemahan


36
Damion Searls


Setelah Bo Juyi dan Burton Watson

Tidak juga tua, tidak juga remaja
hampir kepala empat, sebentar lagi setengah abad.
Semua biasa saja, tidak ada yang istimewa—
pekerjaan pertamaku, bernafas lalu menjadi tua.
Ya, bakat aku punya, tapi aku juga pemalas:
Jujur saja, dari pada tivi aku lebih suka jendela.
Begitu gajian, sekejap kemudian aku hidup dalam kemiskinan
nasi warteg rasanya rendang dan halte adalah keindahan.
Kamar yang sempit bukanlah masalah,
asal ada buku, gitar dan harmonika.
Buka buku, tutup. Buka lagi. Tutup. Buka lagi—tidak ada yang kubaca,
sekali waktu, kutiup harmonika. Selesai.
Lalu pagi. Naik bus lagi. Masuk telat lagi.
Sore. Waktunya pulang, membayangkan tilam lalu lelap.
Kerja itu buat kepala pening, untungnya aku tak pernah sakit
meski perut, kau sudah tahu, hanya itu alasan hidup.
Kau tahu, dari hari ke hari, hidupku begitu-begitu saja.
Membaca lagi dan lagi, sajak yang itu-itu juga, sajak yang nempel di tembok kamar—
sajak yang kutulis, kubaca sendiri, sendiri, dan berkali-kali. 
Sajak, hanya sajak yang biasa saja dan tidak ada yang istimewa. 



808 A.D.

Damion Searls


After Po Chü-i and Burton Watson

Not too old, not young anymore,
almost three dozen years gone by.
Not a failure, not a success—
my first real job, a job to grow old in.
Some potential, too lazy to use it:
I’d watch TV but I like the window more.
My money gets spent when I have it;
cheap food tastes good too, and a small room’s enough.
Even a smaller room would be fine,
a shelf of old books, guitar with no amp.
The books I just flip through and don’t worry about too much,
the guitar is for noodling around on my own.
Mornings on the bus; I get to the office late.
Evenings it’s back home, go to bed early.
Working out’s too much trouble, and my body’s all right,
some belly to keep me company.
So there you have it, day by day, month after month.
Rereading this poem taped to the wall—
that’s the only reason I wrote it.
No genius, not stupid either.


[versi asli: http://www.theparisreview.org/poetry/6058/808-ad-damion-searl]

Fragmen Bertanya


Dulu, tujuh tahun lalu, guru saya sempat berkata kepada saya, "Tanpa pikiran, kamu tidak akan pernah dapat bertanya." Sampai sekarang, saya sulit sekali membantah hal itu.

Fragmen Berfilsafat


Teman saya (ia pengajar filsafat) bilang, "Untuk berfilsafat, engkau membutuhkan dua hal. Pertama, ketidaktahuan. Kedua, yang tidak kalah penting, daya kritis." Setelah percakapan itu, saya yakin: tidak ada yang disebut kecerdasan.

Fragmen Tiga Proposisi



1. Berpikir itu seperti mendengarkan musik.
2. Mendengarkan musik seperti berpikir dengan telinga.
3. Karena (1) dan (2), Tuhan menciptakan telinga. 

Fragmen Guru dan Murid



Di hadapan Platon, Aristoteles bilang, “Hanya ada dua pilihan dalam hidup saya: menemukan kebenaran atau mengkritik Anda.”

Fragmen Matahari dan Kiri


 
Ketika datang ke rumah teman saya, putri teman saya bilang (saya pikir ia serius): "Om, matahari itu terbit dari kiri ke kanan kan?" Setelah hening sejenak, saya pikir dia tidak keliru.

Fragmen Pope



Teman saya bilang, "Pikiran hanya bekerja dengan satu jalan saja: memisahkan kita dengan realitas. Kalimat ini hanya bisa kau mengerti, jika kau paham apa yang kumaksud dengan realitas." Setelah dia selesai berkata begitu, dalam batin saya berucap, "Aku tidak akan bertanya apa yang kau maksud dengan realitas," kemudian saya teruskan membaca Essay on Criticism karangan Alexander Pope yang pertama kali muncul persis tiga ratus tahun lalu.

2011

Fragmen Kebahagiaan


Teman saya (orangnya sombong dan tentunya menyebalkan) bilang, "Bahagia itu, pertama itu cerdas, kedua itu panjang usia dan ketiga--sebenarnya begini, kalau kau sudah temukan dua hal itu, kau tak perlu yang ketiga. Kau hanya perlu yang ketiga, kalau dua hal itu tak kau temukan atau kau cuma menemukan salah satu dari kedua hal itu." Karena ingin tahu, saya bertanya, "Kalau begitu, apa yang ketiga?" Sambil senyum (tentunya senyum yang menyebalkan dan melecehkan) dia bilang, "Ah, itu sudah bukan pertanyaanku lagi. Barangkali itu pertanyaan yang harus kau jawab," lalu tertawa habis-habisan.

Rindu



 1000 tahun dan 48 rindu (selat Hamzah tiba di Malna)

Fiksi Angkasa


ketika filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora, menyihir kamu jadi asmara.

Metafisika Api


metafisika adalah jalan yang mengubah mawar jadi aksara. tidak mudah, tapi penuh asmara. seperti sapardi yang bicara tentang api.

Fragmen Sajak


Sajak: cara bicara hal-hal yang dekat dengan orang-orang yang (paling) jauh.

The Police dan Cerita tentang Kamu (baca: Citizen)




1.
Seorang teman bilang (hal ini ia bilang dengan penuh percaya diri, meski—saya sempat mencatat, dari 10 hal yang pernah ia bilang kepada saya, sekitar 6 cerita adalah masalah pribadi, cerita ke-tujuh mistis dan tiga cerita lainnya, mirip-mirip pernyataan filosofis, yang menurut saya lebih dekat dengan bualan; dan ini adalah cerita ke-tujuhnya kepada saya): tanpa polisi, negara adalah kesia-siaan belaka. Saya sempat bertanya: Mengapa? (kata seorang teman, sebenarnya saya orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain, ada yang bilang anti-sosial, meski belum menjadi orang psikopat). Tenang saja ia bilang: “Cobalah kau dengar dulu lagu The Police, judulnya: Every Breath You Take, nanti aku tafsirkan ayat-ayatnya.” Saya sempat tertawa dan saya sungguh beruntung: ia bukan seorang yang pemarah, meski saya yakin, bagi orang yang baru mengenalnya, ia adalah orang yang menyebalkan.
Saya pun sengaja meluangkan waktu mendengarkan The Police: Every Breath You Take. Demikianlah lirik lagu itu:
Every breath you take / Every move you make / Every bond you break / Every step you take / I’ll be watching you

Every single day / Every word you say / Every game you play / Every night you stay / I’ll be watching you

O can’t you see / You belong to me / How my poor heart / Aches with every step you take

Every move you make / Every vow you break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching

Since you’ve gone I been lost without a trace / I dream at night / I can only see your face / I look around but it’s you I can’t replace / I feel so cold and I long for your embrace / I keep crying baby, baby please

Every move you make / Every vow you break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching[1]
Bagi saya, yang tak paham musik dan segala macam seni lainnya, ini tak lain lagu yang nge-beat, asik dan mantap. Teman saya bertanya: Menurutmu lagu itu bicara tentang apa. Saya menjawab: tentang cinta (hal ini saya ucapkan sebelum saya betul-betul mencari liriknya, lalu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Santai ia jawab, “Hampir semua orang bilang begitu, dan kau tidak ada bedanya dengan orang-orang lain itu, orang-orang yang sekadar saja, yang hanya memahami sebagai sebuah lagu pengisi waktu luang.” Sebagai orang yang pemarah, saya lantas omong (dengan suara dan amarah): “Okelah, meski kau orangnya tidak jelas, aku mau tahu juga, menurutmu lagu ini bicara tentang apa.”

2.
Aku sadar persoalan tafsir bukanlah hal yang mudah. Apalagi yang hendak ku tafsirkan adalah hal yang berangkat dari ranah estetika, bukan hal yang berada di ranah epistemologika. Ya, ranah estetika adalah ranah narasi, titik tolak penilaian adalah daya pikat dan pukau narasi itu sendiri yang lebih cenderung subjektif, bahkan personal. Kalau epistemologi, kita akan bicara tentang argumentasi, konstruksi penalaran yang bernilai benar atau salah, mengandung kontradiktif atau tidak, atau sejauhmana kontradiktif itu dapat dipahami sebagai paradoks. Karena itu, saya sadar hal ini tidak mudah, dan jika kau (yang ia maksudkan di sini adalah saya, yang lagi diliputi emosi amarah) punya pandangan berbeda, segera ungkapkan, sebab aku akan mendengar, meski belum tentu sependapat denganmu. Tetapi, dengan segala kerendahan hati, aku memohon maaf darimu, jika ada penafsiranku kelewat keliru—sebab, kalau hanya keliru (ia begitu menekankan kata ini; agak heran juga aku) aku sudah biasa dan selalu menjaga agar tidak kelewat keliru.
Apa yang kita bahas, meski agak susah, akan aku tempatkan dalam tema: Polisi dan Warga Negara. Polisi adalah The Police itu sendiri dan Warga Negara adalah ’you’ dalam ’Every Breath You Take’. Dari sejarah pemikiran politik konservatif, dalam hal ini, kata ‘konservatif’ mengacu pada arus pemikiran arus-utama—sederhananya, aku akan membatasi, apa yang hendak kita bahas dalam kajian ini bukan pemikiran anarkis. Namun, ‘anarkis’ yang kumaksud tidak mengacu pada ‘anarkis’ dalam pengertian sehari-hari, yang melihat anarki sebagai kekerasan, kebrutalan—singkatnya, kerusuhan dalam demontrasi itu aku sebut vandalisme, anarkisme. Begini, agar lebih sederhana: dari tradisi pemikiran politik, setidaknya ada dua dogma politik tentang manusia. Pertama, manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang memberadabkan manusia. Kedua, manusia pada dasarnya baik dan institusilah yang membiadabkan manusia. Anarkisme yang kumaksud lebih pada hal kedua: manusia pada dasarnya baik dan karena itu yakin bahwa kehidupan manusia akan baik tanpa institusi, tanpa kuasa, dalam bahasa Yunaninya: an-arki. Nah, dalam penggunaan sehari-hari, anarkisme yang sering kau dengar itu, mengasumsikan manusia pada dasarnya jahat dan institusi, kuasa, aturan, perlu ada agar manusia lebih beradab. Jika kembali ke awal soal, aku menempatkan kajian kita dalam posisi pemikiran mainstream, yaitu: manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang memberadabkan—meski, harus kutekankan: kerusuhan dalam demonstrasi itu bukanlah anarkis, melainkan vandalisme.

Manusia dan Institusi
Kita akan melihat relasi antara manusia dan institusi, dalam hal ini: warga negara dan polisi. Di sini aku membatasi diri pada pemikiran filsafat politik Thomas Hobbes untuk menjelaskan asal-usul terbentuknya negara—lalu, tanpa memberikan referensi yang terang, kau bisa melihat beraneka pemikiran lain yang turut mempengaruhi pemikiranku sendiri. Hobbes menyatakan, sebelum adanya institusi, sebelum adanya negara, manusia, individu-individu hidup dalam pertempuran semua melawan semua, bellum omnium contra omnes. Populernya: manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Kondisi ini adalah kondisi alamiah manusia, sebelum manusia beradab, sebelum manusia memecahkan masalah saling memangsa satu sama lain lewat jalan membuat kontrak sosial. Kontrak sosial inilah yang memberadabkan manusia, melalui kontrak sosial, homo homini lupus menjadi homo homini socius, manusia adalah sahabat sesama. Perhatikan, bagaimana kontrak sosial, yang menjadi dasar berdirinya institusi, mengubah manusia dari serigala bagi yang lain menjadi sahabat bagi yang lain.
Persoalannya, apakah dengan adanya institusi itu, manusia akan tetap menjadi sahabat bagi yang lain? Jawabannya: tidak, ini adalah posisi ekstrem—sedikit menyimpang, problem kemanusiaan yang antik adalah ‘menemukan surga yang hilang’, the lost paradise, garden of Eden—jawaban tidak lebih karena menyadari: memang ada kemungkinan semua manusia menjadi sahabat bagi yang lain; tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana jika tidak semua manusia menjadi sahabat bagi yang lain? Inilah yang hendak dijawab. Kontrak sosial yang menghasilkan institusi, yang menghasilkan aturan—dan aturan inilah yang memberadabkan serigala menjadi sahabat—membutuhkan perangkat lain yang berfungsi menegakkan aturan. Dalam politik modern, kita mengenal lembaga yudikatif—dan seturut dengan kajian kita, kita membatasi hanya pada lembaga kepolisian. Lembaga kepolisian adalah lembaga yang menjamin peraturan tetap tegak dan kita dapat menjadi sahabat bagi yang lain. Karena itu, The Police bilang “I’ll be watching you.” Siapakah ‘you’? Tak lain adalah ‘warga negara’, individu, seorang pribadi yang pada suatu saat melorotkan martabat dari sahabat menjadi serigala. The Police berperan memulihkan martabatnya sekaligus memulihkan keyakinan warga negara lain bahwa institusi yang memberadabkan mereka adalah dapat diandalkan.
Sekarang, jika kau mendengar kembali lagu The Police, inilah sesungguhnya motif berdirinya institusi kepolisian, mengawasi dengan penuh kerinduan agar martabat manusia sebagai sahabat tidak melorot menjadi serigala. (Sejujurnya, saya mau bilang: “Ah, kau hanya mengada-ngada saja.” Tetapi, mendengar penjelasannya, saya mengurungkan niat untuk membantah.)

3.
Setelah temanku mengutarakan pandangannya, aku bertanya: “Lantas, bagaimana kau menjelaskan kata ‘baby’? Bukankah itu berarti ‘sayang’ dan mengacu pada konteks ‘percintaan’? Ia diam sejenak lalu berkata:

4
Pertama, aku nyatakan apa yang aku lakukan bukan ‘menjelaskan’, melainkan ‘menafsir’. Dua hal itu berbeda—dan, maafkan aku jika enggan menjelaskan hal ini sekarang.
Kedua, aku tidak akan secara langsung menjawab pertanyaanmu, melainkan memberimu pertanyaan, demi menjawab pertanyaanmu sendiri: Kira-kira, menurutmu, siapakah yang mengucapkan lirik itu: the police atau citizen? Jika kau sudah menemukan jawabannya, pertanyaan berikut adalah: lantas kepada siapakan lirik itu diucapkan: kepada the police atau citizen? Jika menurutmu yang mengucapkan lirik itu the police, maka yang menerimanya adalah citizen. Jika menurutmu yang mengucapkan lirik itu the citizen, maka yang menerima adalah the police.

5.
(Jujur saja, setiap kali saya bertemu dengan cerita ke-tujuh dari teman saya, selalu saja saya merasa: ia adalah orang yang menyenangkan. Kadang saya merasa ia adalah The Police dan saya adalah Citizen; tetapi tak jarang ia menempati diri sebagai Citizen dan saya sebagai The Police. Dan sesungguhnya, saya lebih menyenangi 6 ceritanya yang memuat masalah pribadinya. Semoga saja, suatu saat, saya dapat menuliskannya dan membagikannya kepada The Police/Citizen.)




[1] Kira-kira, terjemahan bebasnya (tentunya dengan bantuan google translator—sahabat saya, yang tinggal di benua Amerika pernah memanfaatkan instrumen ini untuk menerjemahkan bahasa Inggris-Amerika ke dalam bahasa Indonesia):

Tiap kali kau menghirup nafas/Tiap kali kau bergerak/Tiap kali kau bertingkah/Gua ngeliat elo.

Di tiap pagi/Di tiap kata/Di tiap gaya/Di tiap malammu/Gua ngeliat elo.

Tak bisakah kau liat/Kau milikku/Dan hatiku duka/di tiap langkahmu, aku penuh luka (bagian ini memang agak sedikit di-Chairil Anwar-kan, barangkali karena orang Indonesia, yang senang memperingati hari kematian, akan mengenang Chairil Anwar di hari kematiannya.)

Tiap kau bergerak/Di tiap kata terucap/Di tiap gaya/Di tiap malammu/Hanya gue yang ngeliat elo.

Sejak kau pergi, aku sesat kehilangan jejak/Di tiap mimpi malamku/ndilalah wajahmu yang muncul/Aku cari ke sana dan di mari (‘di mari’ adalah frase orisinal dari Betawi)/cuma kau yang tak terganti/Aku meriang dan butuh pelukanmu/Selalu aku menangins, memanggilmu…

Di tiap gerakmu/Di tiap kata-katamu/Di tiap senyummu/Di tiap denyutmu/Aku ada di situ.  

Fragmen Saya dan Dua Teman Saya


Teman kedua, teman pertama dan saya. Ketika teman kedua saya bicara, teman pertama saya (dia yakin filsafat tidak pernah keliru) berkata, “Meski sulit dimengerti, mengatakan hal-hal filosofis lebih baik daripada mengatakan hal-hal yang tidak filosofis.” Teman kedua (dia yakin filsafat dekat berkata, ”Nah, apa yang kau dengar tadi, itulah yang kumaksud dengan omong kosong.” Mendadak saya menjadi orang ketiga (kalau Levinas [dia ini, filsuf yang religius, kerennya: negative-theology philosopher] akan bilang: The Third.).

Fragmen Filsafat


Kelas filsafat. Seorang guru (ia senang dan sudah lama mengajar filsafat) berkata, “Herakleitos menyatakan, Anda tidak akan pernah melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.” Ada murid (baginya, filsafat menyebalkan dan penuh bual) bertanya, “Ah, darimana Herakleitos tahu, sungai itu adalah sungai yang sama?” Si guru menjawab, “Karena memang tidak ada sungai yang sama, maka Anda tidak akan pernah melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.”

FRAGMEN NEGARA

Aristoteles menyimpulkan tiga syarat negara: 1) ada wilayah, 2) ada penduduk dan 3) ada konstitusi. [Kalau Anda tak percaya, silahkan baca saja bukunya yang terkutuk dan menyebalkan yang berjudul: Politics.] Tapi, Carl Schmitt bilang dengan gampang: Kalau semua orang baik, maka buat apa negara. [Bagi saya, pernyataan Carl Schmitt itu: lucu sekaligus kejam! Percayalah, hanya Jocker dalam The Dark Knight (2008) sajalah yang mampu menampilkan paduan antara badut dan pembunuh.] Teman saya, seorang yang pemalu dan luar biasa cerdas, menyukai kisah-kisah dari dunia klasik, semisal Illiad, Mahabharata (menurutnya, “…hanya buku-buku yang begitulah yang mampu merendahkan kedahsyatan pemikiran filsafat.”) bilang, “Syarat negara itu tiga: pertama, ada orang baik; kedua, ada orang jahat; terakhir: ada konstitusi yang menentukan siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku.” [Setelah dia selesai bicara, saya bilang: Kalau begitu, Negara itu hidup karena definisi? Teman saya itu tidak menjawab, dan hanya terus membaca Republic karangan Platon, khususnya buku III, yang bicara tentang musik.]

Fragmen Filsafat

Kelas filsafat. Seorang murid bertanya: “Bagaimana jika Platon dan Aristoteles keliru?” Guru sempat diam—barangkali ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang demikian setelah lebih dari 40 tahun mengajar filsafat (mungkin juga sekaligus ‘ber’-filsafat)—kemudian, setelah menarik napas yang berat, ia berkata, “Maka, kita dapat mengkritik mereka—sekalipun kita tak bisa keluar dari jalan yang sudah pernah mereka lalui.”

Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga

Ini adalah hal yang paling serius yang pernah saya buat (Anda, Pembaca, dapat juga membacanya demikian: Tulisan yang berjudul ‘Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga’ adalah tulisan singkat serius yang pernah saya buat, entah dengan susah payah atau mengada-ada), sehingga untuk memahaminya, Anda harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang cukup (meski apa yang saya maksud dengan ‘cu-kup’ masih sangat problematis) akan filsafat modern dan pasca-modern (ah, tentunya saya dan Anda tidak perlu berdebat tentang apa yang dimaksud dengan ‘pas-ca-mo-de-ren’):

Sesungguhnya, pertama-tama, filsafat bukanlah upaya mencari (dan kemudian, jika Tuhan mengizinkan—sebab, “Manusia berencana, Tuhan menentukan”—maka ‘upaya mencari’ akan berujung pada ‘menemukan’; dan, sekali lagi saya ingatkan peristiwa ‘menemukan’ hanya terjadi karena ‘Tuhan menentukan’) kebenaran, melainkan upaya menyelidiki atau memeriksa Kebenaran. (Saya harap Anda sudah paham, sebab masih ada yang mau saya sampaikan,) dan upaya menyelidiki Kebenaran hanya dapat berlangsung dalam ”Tuhan berencana, Manusia menentukan” (untuk yang terakhir ini, saya benar-benar tidak mengerti apa yang hendak saya sampaikan, dan saya pun tidak berharap ada di antara Anda, Pembaca, dapat memahami apa yang bagi saya sendiri tidak dapat saya pahami.).

[Setelah selesai menuliskan tulisan singkat serius ini, saya kembali membaca dan melakukan perubahan dan perbaikan di sana-sini—namun (saya bersyukur sekaligus menyayangkan), saya tidak dapat memberikan kepada Sidang Pembaca (saya harap Anda paham mengapa para penulis, entah karena kesantunan atau kebiasaan—sejujurnya, saya selalu curiga dengan ‘kesantunan’ dan ‘kebiasaan’—selalu menggunakan frasa ‘Sidang Pembaca’ dalam pengantar tulisan. Ah, tepat sekali jawaban Anda, ‘Sidang Pembaca’ adalah frasa yang menunjukkan otoritas penilaian atas kualitas suatu tulisan adalah ‘Pembaca’, tentunya setelah melalui proses-‘Sidang’.) tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu. Tapi, percayalah, Sidang Pembaca yang terhormat, Anda dapat mengetahui tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu—hanya saja…, ah, lebih baik tak saya beritahukan apa alasannya. Semoga Anda, Sidang Pembaca yang terhormat, dapat memahaminya. Terima kasih.]

Satu Paragraf tentang Kepergian Franky

Barangkali, kedekatanku secara emosional dengan Franky diperantarai oleh Gus Dur. Pernah suatu ketika, Franky mengisi acara peringatan wafatnya Gus Dur. Dari panggung yang berada di tengah Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Franky mengajak semua orang yang hadir dalam peringatan bernyanyi, “Gus Dur-ku sayang, pahlawanku.” Bagiku, lirik yang tampak biasa tampil sebagai sesuatu yang tak biasa. Franky berhasil menempatkan metafora ‘pahlawan’ yang ia sematkan ke sosok Gus Dur menjadi ‘sahabat’. Ia mampu menempatkan Gus Dur sebagai sosok yang jauh—bukankah ‘pahlawan’ identik dengan hal ideal?—sekaligus dekat, bukankah sahabat adalah orang yang menghabiskan hidupnya dengan selalu berada di dekat kita?

Kabar kematian Franky mengejutkanku. Di tengah ungu duka, siapa pun paham—ucapan “Selamat jalan...” adalah puisi panjang dan begitu mendalam.

Ecce Nietzsche

Fatum. Takdir. Chairil—seorang temanku yang berkepala botak dan menyimpan jendela sekolah yang rusak, lampu disko, kitab suci, tanda seru, gonggong anjing, hingga kabar duka dalam tengkorak plontos itu suka memanggil dia dengan sebutan: Anwar—menulis: nasib adalah kesunyian masing-masing.

Fatum. Takdir. Nietzsche—seorang temanku, selalu saja beku mendiam setiap kali ia mendengar nama itu. “Amor fati.” Puncak filsafat, demikian dia bicara, adalah ketidakpastian—paling tidak, adanya secercah kesadaran akan ketidakpastian. Ketika aku bertanya: apakah itu keraguan. Dia hanya menggelengkan kepala. Sampai sekarang aku tidak tahu apa makna gelengan kepala itu. Apakah hendak berkata, “Bukan itu,” atau “Engkau tidak akan mengerti,” atau “Usaha mencari penjelasan adalah sia-sia,” atau…,—tetap saja aku tak bisa menjawab.

Fatum. Takdir. Seorang temanku yang lain—meski ia tak pernah menyebutkan nama dirinya, persahabatan kami tetap berlangsung hangat tanpa beban kecurigaan—bilang, “Agar kita sampai pada situasi buruk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.” Aku mendengar kalimat itu sebagai kesempurnaan. Hingga, suatu ketika ia menambahkan kalimat lain atas kalimat yang pernah ia ucapkan kepadaku di masa lalu: “Keputusan, barangkali, juga… pikiran, kita, manusia, itu persiapan, ya persiapan untuk menghadapi sesuatu, hmmm…, atau tepatnya situasi, situasi yang buruk.” Ia menarik nafas panjang dengan susah payah, “Tragedi,” sambil menutup mata seakan hendak tidur. Setelah itu, percakapan antara aku dan dia berlangsung dalam hening kenangan dan airmata.

Fatum. Takdir. “Nasib adalah kesunyian masing-masing—barangkali, sebuah kesia-siaan yang berakar pada tragedi.” Aku hanya menatap sepi jalanan kota, lampu jalan yang menyala malas, dan seekor kucing dengan mata menantang!

FRAGMEN KOPI

saya pikir: kita perlu kopi agar hidup tidak terlalu horor

dia pikir: kita perlu kopi karena teh punya keterbatasan

FRAGMEN SASTRA

Prosa adalah cara berhadapan dengan orang lain.

Sajak adalah cara berhadapan dengan diri sendiri.

FRAGMEN FILSAFAT

Filsafat adalah pembicaraan tentang hal-hal yang tidak penting namun sulit untuk dihentikan dan sialnya--mereka yang berlibat dalam pembicaraan malah mendapatkan pelajaran berharga dari pembicaraan tentang hal-hal yang tidak penting itu.

Orang Lain

Enrique Dussel membuka bukunya yang berjudul Philosophy of Liberation lewat kutipan personal yang menggetarkan. Demikian ia tulis: there is no peace; they even tear up the flowers. Dussel menebar ironi kehidupan ke dalam pilihan dilematis: melepas mekar bunga demi hening damai atau melupakan hening damai demi mekar bebungaan. Mendadak saya ingat ucap seorang sahabat: “Agar kita sampai pada pilihan terburuk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.”

Saya pikir—barangkali saya keliru—Dussel melihat kekerasan adalah situasi yang niscaya ada dan terjadi di dalam kehidupan. Manusia—seberapa pun kuat dan tangguh—tetap saja gagal mencegah kekerasan tampil dalam kehidupan. Kekerasan ibarat musim kemarau yang niscaya datang, segera atau tunda.

Barangkali—manusia memang mahluk paling sial di dunia. Ia hidup dalam keniscayaan sekaligus yakin akan ilusi realitas. Ia maklum bahwa kekerasan tidak dapat dielakkan sekaligus mendamba bahwa kedamaian bukan sekadar mimpi. Diam-diam—keyakinan akan kekerasan yang mutlak dan niscaya disusupi oleh kehendak untuk mencipta damai yang belum tentu pasti. Kalau memang demikian, saya mahfum bahwa apa yang disebut dengan “perang suci” adalah persetubuhan intim antara keniscayaan kekerasan dan mimpi akan kedamaian. “Perang suci” tampil dalam banyak peristiwa, mulai dari pertempuran Katolik dan Islam pada abad 11 hingga 13 Masehi dalam penentuan otoritas atas kota suci Yerusalem, konflik Bosnia di era 90-an yang menyeret Radovan Karadzic ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas sangkaan genosida hingga kejahatan kemanusiaan, aksi-aksi terorisme di New York pada 2001, di Bali pada 2002, juga Mumbai pada 2008, dan tentu masih ada dan banyak yang belum disebut bahkan dicatat.

“Perang suci” adalah ironi. Ibarat pohon, perakaran “perang suci” adalah ambisi menghadirkan buah perdamaian—namun sialnya “perang suci” tumbuh pada humus tanah kekerasan. Mulai dari ideologi politik hingga doktrin agama dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus dasar legitimasi kudus sebuah perang yang absurd. Pada “perang suci” tidak ada korban, yang ada hanya kurban. Kematian adalah pengurbanan—jalan tiba pada cita-cita. “Perang suci” adalah rute wajib penubuhan mimpi, baik bagi mereka yang tersisa atau yang sudah berkalang tanah. Dan kekalahan adalah dosa!—pengkhianatan atas cita-cita.

Pada “perang suci” pembunuhan dikenali sebagai suatu kewajaran. Di padang pertempuran, seorang pribadi mengenal pribadi lainnya melalui kacamata cita-cita: kawan atau lawan—siapa pun yang berada pada kutub lawan harus ditumpas mampus. Hanya ada satu diktum di medan perang: Setiap mereka yang lain dari saya harus tiada! Pada alam cita-cita, menggema maksim: Orang lain tak punya tempat di sini! Maka, mimpi akan damai sebetulnya mereguk ilham dari bisikan: “Tolaklah orang lain.”

Barangkali Dussel keliru—dan kita dapat berkata: the Other is peace, their face are flowers. Tentunya pernyataan begitu terucap bila orang lain mendapat tempat—baik pada tatapan kasatmata dan di citacita yang kasatatma. Dan lebih dari 2.000 tahun lalu, Sokrates bicara tentang “kenalilah dirimu sendiri”. Apa yang diucapkan Sokrates adalah petikan dari kalimat yang tertera di kuil pemujaan Apollo, di Delphi, yang berbunyi: Kenalilah dirimu sendiri, engkau berada di antara binatang dan dewa. Tanpa berniat menyatakan ada yang kurang atau keliru dalam hikmat demikian, ada baiknya kita juga membacanya sebagai: Kenalilah orang lain, ia berada di antara binatang dan dewa.

FRAGMEN METAFORA

Metafora bermula dari keterbatasan dan ketakterdugaan. Ketakterdugaan adalah kata lain bagi ketakterbatasan.

FRAGMEN WARAS

Bertanya--bahkan bertanya hal paling konyol sekalipun--adalah jalan menuju waras.

Sketsa Tentang Sebuah Negeri Di Mana Mimpi Adalah Sebuah Kemustahilan

Gagasan adalah masa depan. Ia—kita maknai pun kenali sebagai mimpi. Ia—sebab gagasan tidak semata-mata ada sebagai benda mati, sebagai batu, atau sebagai peluru. Ia—gagasan adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang tumbuh. Ia—malah, bisa saja, mahluk yang berkehendak. Dan bukan pula tak mungkin kehendak dari sebuah gagasan bahkan melebihi kehendak dari orang yang melahirkan gagasan. Kadang, tanpa sadar kita mengucap: Revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Gagasan adalah masa depan. Ia adalah kehidupan sekaligus kematian.

LIMA PARAGRAF TENTANG GARUDA

-menjelang Final putaran kedua Indonesia lawan Malaysia-


Sepakbola bicara tentang rencana dan fortuna. Rencana adalah tahapan persiapan, mulai dari menggarap yang mentah hingga menjadi matang. Fortuna adalah segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Bisa saja fortuna menjelma sebagai hujan deras atau angin kencang yang menyulitkan gerak pemain atau mengubah arah lesatan bola.

Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, sepakbola masih saja bicara tentang rencana dan fortuna. Di sini, sepakbola tidak semata tampil sebagai permainan yang berlangsung dari satu peluit panjang di awal ke satu peluit panjang di akhir. Di sini, sepakbola adalah kehidupan—pada titik ekstrem, sepakbola adalah kelahiran yang berujung pada kematian demi mencapai keabadian. Di sini, sepakbola adalah sejarah.

Sebagai sejarah, sepakbola melampaui tapal batas rencana dan fortuna. Sebagai sejarah, sepakbola adalah takdir. Wujud yang paling sederhana dari takdir adalah kemenangan atau kekalahan. Menang dekat dengan gembira; kalah akrab sama derita. Di sini, sepakbola bicara tentang apa yang harus diterima, tentang apa yang tidak bisa ditolak, tentang bagaimana harus tetap berjalan tegap dan tegak!

Sepakbola tidak sekadar bicara tentang bagaimana cara menyepak yang tepat dan akurat, melainkan juga secara diam-diam bicara tentang bagaimana setiap pemain juga pendukung harus tetap mampu berjalan tegap dan tegak ketika berhadapan dengan takdir yang berwajah derita. Pada puncak ini, sepakbola bicara tentang masa depan. Sepakbola bicara tentang harapan. Dan harapan adalah nyala dalam setiap kelam.

Setelah Indonesia takluk 3 – 0 dari Malaysia, harapan tetap menyala. Di sini, sepakbola sudah menyerupai manusia. Ia tidak lagi tampil sebatas permainan atau hiburan belaka, melainkan sudah menjadi pelajaran, bahkan penghayatan. Sepakbola adalah perjalanan dari luka ke luka. Di sini, sepakbola adalah perjuangan. Selamat berjuang Garuda!!!


[Note: Penulis adalah orang yang sebal sama PSSI dan segala macam perabotannya—apalagi Nurdin Halid.]

GARUDA DAN CARA MEMBACA INDONESIA


: mengenang Emmanuel Levinas

(12 Januari 1906 – 25 Desember 1995)

Manusia membutuhkan sesuatu yang suci dalam kehidupannya. Manusia, kadang kala, mengenali kesucian sebagai cita-cita. Sesuatu yang diyakini ada, namun—sialnya—sulit untuk direngkuh. Kesucian itu—menggunakan istilah Badiou—ditopang oleh fidelity.

Namun, kesucian tidak sebatas masalah berpikir, berimajinasi akan adanya suatu entitas yang suci, suatu entitas yang memiliki daya melebihi manusia, suatu entitas yang supra-manusia. Kesucian juga mewujud pada dunia keseharian—entah dalam bentuk simbol dua dimensi atau rupa tiga dimensi. Kesucian harus membumi, harus berakar pada estetika—dalam pengertian paling sederhana dari kata ‘estetika’, yakni mampu memikat indera manusia.

Sederhananya, kesucian tidak hanya pada aras metafisika, tidak hanya pada aras epistemologik(a), tidak hanya pada aras etika, melainkan juga menyentuh pada aras estetika. Dan memang, yang paling ribet adalah mengurusi kesucian yang bermanifestasi pada aras estetika. Alasannya, sederhana saja. Kesucian pada aras estetika bergantung pada inderawi manusia—dan tentu saja pendasaran epistemologi kesucian pada aras etika berimplikasi pada pengebirian, reduksi atas gagasan kesucian itu sendiri.

Adalah lebih mudah mengidentifikasi sikap hormat atas segala manifestasi estetis dari kesucian melalui apa yang terlihat kasat mata. Misal saja, upacara bendera. Bendera merah putih dilipat dan dibawa ke tiang untuk dikibarkan dengan prosesi ritual tertentu, untuk kemudian diikuti dengan sikap hormat para peserta mengikuti naiknya bendera ke puncak tiang. Kita barangkali tidak terlalu bodoh—atau naif—untuk menyimpulkan bahwa semua peserta, dengan segala sikap yang mereka unjukkan secara kasat mata, membuktikan bahwa mereka benar-benar menghormati gagasan kesucian yang ada pada bendera dan serangkaian prosesi. Setidaknya, saya pribadi mengakui bahwa sikap hormat yang ditunjukkan peserta barangkali dituntun oleh strategi tertentu untuk menghindari sanksi. Ketakutan berhadapan dengan hukuman bisa jadi salah satu akar munculnya sikap hormat dari para peserta. Dalam situasi yang demikian, kesucian kembali ke muasalnya, yakni tidak semata berada pada aras estetika, melainkan berada pada aras metafisika.

Dalam aksentuasi yang lebih sublim, Rudolf Otto menempatkan kesucian sebagai pengalaman akan Yang Ilahi. Sebagai pengalaman akan Yang Ilahi, kesucian adalah misteri, sebuah misteri yang menggetarkan sekaligus mempesona, tremendum et fascinatum. Di sisi lain, Emmanuel Levinas—filsuf Perancis keturunan Yahudi kontemporer; ia meninggal dunia pada 25 Desember 1995—bicara tentang kesucian sebagai Yang Lain, The Other.

Kesucian sebagai Yang Lain adalah suatu infinitas, suatu transendensi yang melampaui kapasitas manusia untuk memikiran, mengimajinasikan, apalagi merengkuh. Kesucian pada diri manusia berakar pada hasrat (desire) akan metafisika, hasrat berjumpa dengan Infinitas yang memanifestasikan diri dalam rupa Wajah. Melalui Levinas, kesucian tampil lewat sisi negatif—lewat sisi yang tidak dapat direduksikan pada aspek estetika yang naif. Pada Levinas, gagasan kesucian bersanding dengan nalar kejeniusan yang sadar diri, yang sadar batas-batas permanen dalam diri manusia. Dalam situasi demikian, Levinas akan memaknai undang-undang sebagai pendasaran untuk menghadirkan kesucian pada aras estetis melalui simbol adalah manifestasi dari kenaifan, juga ambisi kekuasaan manusia yang selalu berkehendak mencengkram realitas.

Tegas, saya memang hendak mengkritik silang sengkarut persoalan pro-kontra penggunaan lambang negara sekaligus ke-Indonesia-an itu sendiri. Meski begitu, bukan berarti sikap saya adalah yang paripurna. Saya sadar bahwa pertama-tama saya berhadap-hadapan dengan orang yang berposisi pro-kontra, untuk kemudian—yang berikut paling penting—berhadapan dengan gagasan kesucian yang ada di balik lambang negara dan ke-Indonesia-an. Maka, yang menjadi pertanyaannya: apakah kita—utamanya sebagai warga negara—telah memiliki cara membaca Garuda dan Indonesia yang tepat (?) sebelum akhirnya melangkah pada pertanyaan yang berada di titik ekstrem: apakah makna yang kita dapatkan dari pembacaan Garuda dan Indonesia sudah akurat?

Desember 2010

FRAGMEN FILSAFAT

Filsafat adalah sebutan untuk segala hal spekulatif. Segala hal spekulatif tumbuh dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan berakar pada keingintahuan. Keheningan adalah spekulasi sekaligus keingintahuan atas filsafat.

FRAGMEN HOROR

: Emmanuel Levinas

Horor adalah situasi di mana manusia kehilangan kebodohan.

FRAGMEN TOLOL

Kepada Platon, seorang budak omong: "Aku cuma punya dua hal, otot dan ketololan. Otot, kau sudah tahu apa gunanya. Kalau ketololan, itulah yang kupakai buat memahami pikiran kau."

FRAGMEN TANGGAL KELAHIRAN

-kepada tanggal kelahiran setiap orang-

kebahagiaan yang datang diam-diam dan menakutkan adalah tanggal kelahiran. setiap kali ia datang, ia dirayakan sekaligus pula dipertanyakan.