Suara Korban dan Soldatenkaffee: Membantah Argumentasi Zen RS



SAYA SANGAT KAGET ketika membaca dua artikel yang ditayangkan di id.Yahoo.com—“Kartu Pos Bergambar Fasisme” (lihat http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/kartu-pos-bergambar-fasisme-120405702.html) dan “Soldatenkaffee dan Trauma Ke-Indonesia-an” (lihat http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/soldattenkafe-dan-trauma-ke-indonesia-an-114545852.html)—tulisan Zen RS. Dua tulisan dari Zen RS itu mengajukan tesis bahwa Nazi bukanlah trauma ke-Indonesia-an, melainkan trauma Eropa—dengan demikian, keberadaan Soldatenkaffee dapat dipahami semata-mata sebagai tempat yang memuat simbol-simbol Nazi tanpa perlu mengaitkan simbol-simbol tersebut dengan muatan ideologis fasisme Nazi. Justifikasi dari tesis itu adalah paparan historis di mana, melalui kajian sejarah Indonesia, trauma ke-Indonesia-an adalah fasisme berbalut Pancasila yang muncul melalui slogan “NKRI Harga Mati,” lalu tragedi 1965, tragedi Santa Cruz di Dilli, tragedi Ahmadiyah di Cikeusik, tragedi Syiah di Sampang, dst. Bagi saya, sejauh afirmasi Zen RS tentang trauma ke-Indonesia-an, saya tidak membantah—dalam tulisan ini, saya membantah afirmasi Zen RS yang hendak menjustifikasi bahwa adanya trauma ke-Indonesia-an yang khas dapat dijadikan justifikasi untuk menolak trauma Eropa akan Nazi.

            Bantahan saya terhadap tesis Zen RS menyangkut dua hal. Pertama, membaca sejarah Indonesia dapat dilepaskan dari sejarah dunia? Apakah peristiwa partikular tertentu di suatu tempat tertentu tidak mempengaruhi kondisi atau situasi di tempat lain? Kedua, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan trauma oleh Zen RS? Apakah itu hanya pengalaman personal-individual yang unik dan khas, serta tidak dapat dibagi? Apakah trauma adalah harta milik pribadi yang eksklusif, yang tidak dapat dibagi? Apakah perbedaan antara sejarah orang Eropa dan sejarah orang Indonesia meniscayakan kemustahilan membagi pengalaman pahit atau masa lalu? Lalu, apakah dengan tidak bersetujunya saya dengan pandangan Zen RS, maka saya bukanlah orang Indonesia, bukanlah orang tidak mengetahui trauma ke-Indonesia-an? Bagi saya, ketika Zen RS menuliskan “apalah artinya simbol Nazi dan gambar wajah Hitler?”—dan pada saat yang sama berbicara tentang trauma, saya menjadi ragu: apakah Zen RS memang benar-benar menghikmati apa yang disebut dengan trauma?

Tentang yang pertama, saya mulai dari ledakan Gunung Tambora pada tahun 1815. Apakah ledakan itu hanya menjadi sejarah bagi mereka yang tinggal di Sumba? Apakah ledakan itu tidak menjadi sejarah bagi mereka yang tinggal di Amerika atau Eropa? Bukankah kekalahan Napoleon Bonaparte dalam perang Waterloo sesungguhnya disebabkan oleh debu vulkanik dari ledakan Gunung Tambora? Lebih lanjut, bukankah kekalahan Napoleon dalam perang Waterloo justru mengubah konfigurasi politik di Eropa, menciutkan kekuasaan politik Prancis yang begitu besar di Eropa pasca Revolusi 1789?

            Ada dua hal yang hendak saya tunjukkan melalui ilustrasi sejarah ledakan Gunung Tambora. Pertama, secara epistemologis, ada kemungkinan bahwa peristiwa yang terjadi pada suatu tempat tertentu mempengaruhi kondisi atau situasi di tempat yang-lain. Secara epistemologis, istilah “kemungkinan” ini mengacu kepada perspektif—artinya, dapat saja lebih dari satu perspektif yang mungkin ada untuk membaca suatu peristiwa. Kedua, secara ontologis, adalah suatu keniscayaan (necessity) menyangkut adanya keterkaitan antara satu peristiwa pada suatu tempat dengan adanya perubahan kondisi atau situasi di tempat yang lain.

            Barangkali justifikasi historis-geologis yang saya ajukan dapat dibantah. Misalnya, “Ah, ilustrasi sejarah itu tidak dapat menjadi dasar untuk menyatakan ada trauma yang sama antara orang-orang di Sumbawa dan orang-orang di Eropa.” Ok, saya dapat menerima hal itu. Karena itu, saya akan ajukan peristiwa sejarah berikutnya, yaitu bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Apakah peristiwa jatuhnya bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 adalah semata-mata peristiwa partikular yang terjadi di Jepang? Peristiwa jatuhnya bom atom Hiroshima dan Nagasaki tidak dapat dipisahkan dari berkuasanya Nazi di Jerman, terbentuknya triad Jerman-Italia-Jepang dengan gagasan fasisme mereka, lalu disetujuinya pelaksanaan Manhattan Project? Di Indonesia, Perang Dunia II memungkinkan Jepang masuk ke Indonesia menggantikan Belanda. Di sini, ledakan bom atom menjadi bagian dari trauma kemanusiaan secara menyeluruh—tidak hanya bagi Jepang, namun juga bagi ahli-ahli fisika dan filsuf-filsuf sains pasca Manhattan Project untuk berbicara tentang batas moral dalam ilmu pengetahuan yang diklaim bebas nilai.

            Terakhir, saya akan bicara tentang tsunami 2004 yang melanda Aceh. Apa yang dapat kita hikmati dari peristiwa yang sudah menjadi bagian dari sejarah Aceh, Indonesia, dan dunia ini? Apakah kita masih dapat berbicara bahwa sejarah, yang secara ontologis berakar pada peristiwa (event), dapat diisolasi mutlak tanpa memperlihatkan keterikatan dengan peristiwa lainnya? Tentunya, apa yang mengikat peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya adalah agen dalam peristiwa itu sendiri, yaitu manusia. Manusia, dalam hal ini, tidak dapat semata-mata dipandang berdasarkan ras atau warna kulit atau tampilan fisik-fisiologis lainnya. Bagi saya, secara ontologis, kemampuan manusia untuk saling berbagi inilah yang menjustifikasi mengapa kita dapat berbagi sejarah. Manusia, secara universal, adalah pelaku sejarah—dengan demikian, sejarah kemanusiaan pada tempat lain adalah sejarah kemanusiaan bagi tempat lainnya. Memposisikan pembacaan sejarah yang secara ontologis dan metodologis mengisolasi suatu peristiwa [dan tentunya ingatan tentang peristiwa] pada daerah tertentu lepas dari peristiwa lainnya, bagi saya, dalam batas-batas tertentu adalah naif. Saya ingat kata-kata sejahrawan Taufik Abdullah: “sejarah itu adalah lautan masa lalu, yang darinya kita belajar tentang diri kita, yang darinya manusia belajar tentang manusia.”

            Berikutnya, menyangkut trauma. Sejauh pembacaan saya terhadap dua artikel Zen RS, saya mencurigai gagasan Zen RS tentang trauma adalah sebagai entitas yang eksklusif, tidak dapat dibagi, hanya dimiliki secara personal-individual. Benar, trauma adalah mengacu kepada luka di masa lalu yang selalu membayangi kehidupan pada masa kini [dan tentunya juga di masa depan]. Persoalannya, bagi saya, apakah trauma itu benar-benar tidak dapat dibagi, apakah trauma hanya demi diri sendiri? Lantas, bagaimana Zen RS memahami peristiwa Human Rights Watch Group (HRWG) berbicara tentang pelanggaran HAM di Indoensia—suatu trauma ke-Indonesia-an, yang diklaim Zen—pada forum Sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, Jenewa, pada pekan lalu? Apakah trauma ke-Indonesia-an adalah semata-mata trauma ke-Indonesia-an yang tidak dapat dipahami oleh orang lain? Apakah trauma Nazi hanya semata-mata trauma Nazi yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang Indonesia? Saya pikir, di sinilah kekeliruan mendasar Zen RS: Zen RS mereduksi trauma menjadi semata-mata hak eksklusif yang tidak dapat dibagikan kepada orang lain—dan atas dasar ini juga, Zen RS dapat mengisolasi pikirannya dari trauma terhadap Nazi.

            Pada hakikatnya, trauma adalah suara korban yang tidak dapat bersuara. Trauma adalah suara korban! Korban bersuara dalam keheningan—inilah trauma. Melalui trauma, melalui suara dalam keheningan, korban yang hendak berbicara tentang dirinya, apa yang dialaminya, serta berbicara tentang harapannya di kemudian hari, yaitu apa yang dialami tidak akan terjadi lagi. Indonesia bersyukur bahwa Auschwitz tidak terjadi di Indonesia—tetapi, saya pikir hal itu tidak dapat menjustifikasi kita untuk tidak belajar dari kekelaman sejarah Eropa. Peristiwa holocaust—sebuah peristiwa yang dibantah kebenarannya oleh pemilik kafe Soldatenkaffee Henry Mulyana (lihat http://www.thejakartaglobe.com/features/bandung-cafes-nazi-kitsch-theme-sparks-some-uncomfortable-questions/)—memperlihatkan bahwa kemanusiaan (humanity) sesungguhnya bukan meletak pada rasio atau kesadaran, melainkan meletak pada relasi kita dengan orang lain, mereka yang menjadi korban, mereka yang tidak berdaya dan orang-orang yang tidak berdaya inilah yang sesungguhnya memberikan pelajaran kepada kita tentang apa artinya menjadi manusia. Bukankah trauma ke-Indonesia-an dan trauma kemanusiaan lainnya mengajarkan bahwa kita adalah manusia yang dapat saja lebih baik dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Kurang lebih, demikianlah gagasan filosofis dari filsuf Perancis Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang Yahudi yang sempat ditahan Nazi, dan hampir seluruh keluarganya tewas dalam peristiwa Shoah.

            Jika trauma bukanlah sesuatu yang eksklusif, namun sesuatu yang membutuhkan kepekaan kita untuk mendengarkan suara-suara korban—entah siapa pun dia, apakah ia orang Eropa atau tidak, Islam atau Kristen atau Budha atau Hindu atau ateis sekalipun, apakah ia berkulit coklat atau tidak, dst—lantas, mengapa kita dapat memilah dengan tegas dan begitu pasti ada yang disebut trauma ke-Indonesia-an dan ada yang disebut trauma Eropa? Bagi saya, sejarah yang lahir dari/atau menjadi trauma bukanlah sejarah yang eksklusif atau tidak dapat dibagi. Korban selalu senantiasa bersedia untuk berbagi—masalahnya, kadang kala kita tidak cukup peka untuk mendengarkan suara yang berbicara dalam keheningan.  
             

Diam-Diam


Tiga hari yang lalu, saya berdiskusi tentang Mesir dengan teman saya. Di akhir perbincangan, dia bilang, "Karena kekuasaan memungkinkan kehidupan yang lebih baik, diam-diam demokrasi berbicara tentang KAMI melalui KITA."

sajak terjemahan

Antara yang kutatap dan yang terucap
: kepada Roman Jakobson
-Octavio Paz-

1
Antara yang kutatap dan terucap,
Antara yang kutatap dan yang kudiamkan,
Antara yang kudiamkan dan yang kuidamkan,
Antara yang kuidamkan dan yang terlupakan:
puisi.
      Ia tergelincir
antara ya dan tidak,
                            mengucap
apa yang kudiamkan,
      mendiamkan
apa yang kuucapkan,
                 dan bermimpi
tentang apa yang terlupakan.
                                Puisi bukanlah mantra
ia adalah gerak.
            Puisi adalah gerak
pada mantra.
       Puisi
mengucap dan terdengar:
              ia begitu nyata.
Sesaat aku berkata
     ia begitu nyata,
puisi menjelma musnah.
                          Adakah ia abadi?

2.
Semesta akal
        dan ilusi
kata-kata:
             puisi
datang dan berkelana
         antara ada
dan ketiadaan.
        Ia menenun
dan mengungkai peta ingatan.
           Puisi,
ia-lah mata pada setiap kitab,
ia-lah kata bagi segala tatap.
Mata mengucap,
            kata-kata menatap,
melihat yang terucap.
                   Dengarkanlah
segala pertimbangan,
       lihatlah
apa yang kami ucapkan,
                         sentuhlah
peta ingatan dan cita-cita.
                Sesaat mata dipejam,
kata-kata menjelma cahaya.


Between What I See and What I Say[1]
: for Roman Jakobson
-Octavio Paz-

1
Between what I see and what I say,
Between what I see and what I keep silent,
Between what I keep silent and what I dream,
Between what I dream and what I forget:
poetry
It slips
between yes and no,
                               says
what I keep silent,
   keeps silent
what I say,
   dreams
what I forget.
        It is not speech:
it is an act.
   It is an act
of speech.
      Poetry
speaks and listens:
    it is real.
And as soon as I say
       it is real,
it vanishes.
    Is it than more real?

2.
Tangible idea,
         intangible
word:
        poetry
comes and goes
between what is
and what is not.
It weaves
and unwaves reflection.
Poetry,
scatter eyes on a page,
scatter words on our eyes.
Eyes speaks,
      words looks,
looks thing.
     To hear
thoughts,
see
what we say,
       touch
the body of an idea.
      Eyes close,
the words open.


[1] Saya tidak tahu siapa yang menterjemahkan puisi Octavio Paz ini ke dalam bahasa Inggris--dan saya juga tidak tahu juga puisi ini dalam bahasa aslinya. Terjemahan puisi Octavio Paz ini saya temukan melalui mesin pencari Google.

Kebersihan dan Haydn

Tiga hari lalu, teman saya datang berkunjung ke kontrakan saya. Di tengah perbincangan, teman saya mendadak bilang, "Vid, sebenarnya 'menjaga kebersihan' atau 'merawat kebersihan' yang tepat?" Entah mengapa, saya langsung melihat kontrakan saya yang berantakan--buku-buku yang berserak, pakaian-pakaian yang belum disetrika, hingga debu yang menempel di layar komputer yang masih menyala memperdengarkan simfoni 'The Last Seven Words' gubahan Joseph Haydn.

Naskah tentang Kucing dan Kepalanya



Dia memelihara 366 ekor kucing. Seekor hidup di dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepalanya. Kucing yang hidup dalam kamarnya bebas berkeliling kamar, keluar kamar, masuk ke dalam got—sekali waktu, jika tidak ketahuan Pasukan Pengaman Presiden, kucing itu dapat meloncat masuk ke dalam kompleks Istana Negara; saya tidak tahu apa yang dilakukan kucing itu di dalam kompleks Istana Negara, tapi saya tidak berharap dan tidak pula mengimajinasikan kucing itu akan mempengaruhi keputusan politik yang akan diambil Presiden dan para pembantunya di dalam rapat kabinet, sebab kucing tidak memiliki kepentingan politik, hanya babi yang memiliki kepentingan politik (Orwell memberitahukan saya tentang hal ini).

Dia memelihara 366 ekor kucing. Seekor hidup di dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepala. Kucing-kucing dalam kepala memungkinkan dia melakukan apa saja. Misalnya, kucing dalam kepala memungkinkan dia berniat tidur—namun ketika dia sudah merebahkan diri di atas kasur, tiba-tiba muncul kucing lain yang memerintahkannya untuk membaca buku, bersamaan dengan itu muncul pula kucing yang lain pula yang memerintahkan dia untuk pergi menonton televisi (entah untuk menyaksikan apa, saya tidak tahu). Kucing lainnya pun muncul pula, kucing itu mengingatkan akan masa lalunya tentang seorang temannya yang mengkhianati kepala negara (dan saya masih terus saja berpikir—barangkali karena dia mengirimkan kucing yang ada di dalam kepalanya ke dalam kepala saya—“apakah saya adalah kucing di dalam kepalanya, sehingga dia dapat mengirimkan kucing ke dalam kepala saya?”—mungkinkah terjadi pengkhianatan kepada naskah, jika kesetiaan hanya dapat diberikan kepada teman atau lawan?); tapi, kucing yang lain lagi muncul mengiau membawakan cita-cita masa depan dalam bentuk negara atau pasar yang tersembunyi di dalam hutan-hutan (dan saya sempat berdiskusi dengan dia tentang hutan yang dapat dibaca melalui sastra dengan matematika)—tetapi, mendadak ada kucing lain, yang mengaku melalui ngiaunya dirinya lahir dari lukisan yang muncul begitu saja di lautan asam purba karena reaksi fisiko-kimiawi: “Tuhan menciptakan kematian dan manusia menciptakan kuburan,” yang membuat dia terdiam mendadak. Dia tahu bahwa kucing-kucing itu tidak dapat tinggal selamanya di dalam kepalanya.

Dia memelihara 366 ekor kucing. Seekor hidup dalam kamarnya—sisanya hidup dalam kepalanya dan kepala saya (saya tidak tahu berapa banyak kucing yang diseludupkan Sutardji ke dalam kepalanya serta kepala saya—“apakah saya adalah kucing di dalam kepalanya, sehingga dia dapat mengirimkan kucing ke dalam kepala saya?”).



Tuhan dan Cita-Cita

setelah menciptakan kuburan, manusia (masih tetap) bercita-cita menciptakan negara dan pasar. 

Yang-Puitis dan Yang-Filosofis tentang Sampah dan Sepah
(Maaf, Saya Tidak Sempat Bicara Limbah)


… dunia tinggal satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita …
Hujan di Pagi Hari | Afrizal Malna

Fragmen sajak Malna menyiratkan kecemasan. Kecemasan akan kepunahan manusia, jika manusia tidak memperhatikan dunia sebagai satu-satunya alasan untuk menjelaskan keadaan kita. Keberadaan dunia menjadi satu-satunya alasan bahwa hidup dan kehidupan manusia di masa depan akan tetap terjamin—keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia, tidak lagi semata-mata ditentukan nalar (reason), melainkan oleh dunia (world). Tanpa dunia, adakah yang disebut manusia?
Dari sudut filosofis, Greg Kennedy, penulis buku ‘An Ontology of Trash: The Disposable and Its Problematic Nature’, meriwayatkan hal serupa. Kennedy mengakui bahwa kepunahan manusia senantiasa menjadi kemungkinan (Kennedy:2007, hal.160). Di masa-masa dahulu, isyarat kepunahan manusia dikenali melalui wabah penyakit, hantaman meteor, hingga bencana alam. Singkat kata, kepunahan dinosaurus adalah isyarat kepunahan manusia. Namun, di masa sekarang, khususnya di abad ke-20, isyarat kepunahan manusia tidak lagi dikenali dalam bentuk demikian. Kepunahan manusia tidak lagi dimungkinkan oleh wabah, hantaman meteor atau bencana alam, melainkan oleh sampah (waste). Kegagalan manusia menangani sampah menjadi isyarat akan kepunahan manusia. Dan, Kennedy menegaskan satu hal bahwa hanya manusia sajalah yang menghasilkan sampah, sedangkan alam tidak (Kennedy:2007, hal.2)!
Kepunahan manusia tidak dapat dilepaskan dari kegagalan manusia menangani sampah. Bagi Kennedy, apa yang disebut sampah tak lain adalah momen ketika nalar kehilangan daya cengkram (Beck:1992, hal.6). Refleksi filosofis Kennedy tidak dapat dipisahkan dari pemikiran eksistensialis Martin Heidegger. Momen ketika nalar kehilangan daya cengkram adalah momen ketika manusia tidak lagi menjadi otentik, momen ketika manusia mengabaikan apa yang ada di sekitarnya. Dalam pemikiran Heidegger, manusia adalah Dasein, Being-in-the-world, Pengada-di-dalam-dunia. Di dalam dunia, Dasein berjumpa dengan benda-benda (Things), yang ada begitu saja, presence-at-hand (Vorhandenheit). Terhadap benda-benda, Dasein menginjeksikan nilai tertentu sehingga benda-benda tersebut memiliki kegunaan. Benda yang sudah dikerangkakan dalam suatu tujuan tertentu oleh Dasein disebut sebagai alat (Equipment/Zuhandenheit). Tindakan Dasein menginjeksikan nilai tertentu ke dalam benda-benda adalah manifestasi dari otensitas Dasein itu sendiri (Heidegger:1962, hal.95-102; Gorner: 2007, hal.4-5).
Dari perspektif Heideggerian, secara esensial, sampah dikenali sebagai momen pengosongan nilai dari benda (Kennedy:2007, hal.5). Misalnya, ketika kita membeli minuman kaleng. Minuman kaleng, bagi pembeli, bernilai karena ada minuman yang tersimpan di dalam kaleng dan rasa haus. Namun, ketika minuman dalam kaleng habis dan rasa haus terpuaskan, maka yang tinggal hanyalah kaleng tanpa nilai—dan menjadi sampah. Perubahan minuman kaleng yang bernilai menjadi kaleng yang tak bernilai mengisyarakat (i) terjadi pengosongan nilai dan (ii) nalar kehilangan daya cengkram, nalar kehilangan daya pemahaman atas suatu hal.
Manusia (atau Dasein dalam terminologi Heidegger) menjamin keotentikannya sebagai manusia melalui apa yang ia lakukan terhadap segala hal yang ia jumpai di dunia. Transformasi benda-benda (Things) menjadi alat (Equipment), melalui penginjeksian nilai ke dalam benda-benda, adalah manifestasi dari otentisitas manusia. Dalam kasus minuman kaleng, otentisitas manusia lenyap karena manusia tidak mampu mengubah kaleng tak bernilai, yang berstatus benda-benda, menjadi kaleng bernilai, yang berstatus alat, melalui tindakan menginjeksikan nilai ke dalam kaleng tak bernilai. Rute pemikiran yang demikian memperlihatkan bahwa kegagalan manusia menangani sampah adalah kegagalan manusia mengenali sampah sebagai sepah (trash). Sesungguhnya, sampah dapat juga berarti sepah, dan apa yang dimaksud dengan sepah tak lain adalah benda-benda yang tidak dipedulikan manusia, diperlakukan secara negatif dan destruktif, padahal benda-benda itu masih berguna bagi manusia, jika manusia menggunakan nalar demi mengaktualisasikan manfaat yang tersimpan di dalam benda itu (Kennedy:2007, hal.xvi).  
Kegagalan manusia menangani sampah berarti kegagalan manusia menjamin hidup dan kehidupan umat manusia di masa depan. Kennedy berharap melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin dimutakhirkan, manusia dapat mengelola sampah, mengenali sampah sebagai sepah, sehingga hidup dan kehidupan umat manusia di masa depan terjamin (Kennedy:2007, hal.185). Kesadaran ekologis, yang mewujud tampil dalam slogan ‘reduce, reuse, recyle,’ tampaknya menjadi jalan untuk membuktikan bahwa sampah memang dapat dikenali sebagai sepah. Dari titik ini, saya pikir, pernyataan puitis Malna adalah juga pernyataan filosofis. Masih dalam sajak yang sama, Malna bilang: Kita bukan pusat segala-galanya.

Televisi tanpa Janji


Tiga hari lalu, saya berjumpa teman saya. Ia bilang, "Vid, sekarang sudah susah membedakan partai politik dan televisi. Satu-satunya ruang yang tidak terkontaminasi partai politik hanya sinetron dari keluarga Punjabi." Saat itu, saya hanya tertawa saja—sebab saya pikir teman saya sedang bercanda. Namun, ketika saya menyempatkan diri menonton sinetron, saya sadar: keluarga Punjabi tidak pernah memberikan janji!

Preman dan Filsafat Manusia Platon


Tujuh hari lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi (yang tidak serius) tentang Platon (dan tentu dengan pengetahuan kami yang sekadarnya). "Setahu saya, filsafat manusia Platon membagi jiwa manusia ke dalam tiga bagian, yaitu nous, thumos, dan epithumia," kata saya kepada teman saya. Teman saya menimpali, "Ya, stratatifikasi jiwa dari Platon itu menjadi stratatifikasi masyarakat, Vid. Tapi, menurut lu Vid, di zaman Platon itu preman sudah ada tidak ya? Kalau sudah ada, mereka sebenarnya berada di mana ya? Nous, thumos, atau epithumia?" Saya tiba-tiba serius mengingat-ingat apakah Werner Jaeger, ahli Yunani Kuno, pernah berbicara tentang hal itu.

Realitas dan Teman Saya


Seminggu lalu, saya berkunjung ke rumah teman saya. Kami diskusi ringan saja. Di tengah diskusi, barangkali tengah mendapat inspirasi, teman saya bilang, "Vid, coba kau pikirkan: apa yang tidak indah dari realitas, mulai dari hujan hingga gempa, dari debu hingga bunga yang merekah? Bukankah apa yang tak sedap dari realitas adalah hasil karya manusia?" Saya hanya heran.

Demokrasi dan Dunia Ketiga


Tiga hari lalu, saya bertandang ke rumah teman saya. Entah mengapa, dia tiba-tiba saja berkata: "Demokrasi itu menjadi sulit, karena sesungguhnya kita tidak dapat memiliki apa yang kita sukai atau kehendak. Di dalam demokrasi, kita pada kenyataannya harus memilih demi menghalangi yang paling tidak kita sukai atau kehendaki untuk menjadi penguasa." Jujur, saya perlu waktu lama memahaminya dan berhasil memahaminya ketika ia berkata, "Setiap tempat adalah dunia ketiga."

Fragmen Hal-hal yang Berharga


Kebodohan menghasilkan banyak hal dan hal paling berharga yang dihasilkan kebodohan, hanya satu, yaitu: kecerdasan. Demikian kata teman saya, tiga tahun lalu, sewaktu diskusi ringan menanti waktu berbuka puasa.

Fragmen Berfilsafat

Tiga tahun lalu, teman saya (ia penyuka filsafat, drama dan hal-hal religius) bilang, "Kau mustahil berfilsafat seorang diri, kau membutuhkan orang lain, entah teman atau orang yang tak dikenal."

Fragmen Matematika


Teman saya (keturunan India dan ahli matematika) bilang, "Diam-diam, kita mencintai ketidakpastian, atau paling tidak merindukan ketidaktahuan." Setelah melihat kebingungan di wajah saya, ia bertanya, "Pernahkah kau menerima hadiah?" Hal ini terjadi, tiga tahun silam, dalam diskusi ringan, sewaktu perayaan ulang tahunnya.

Sajak


FIKSI 48 RINDU
  
Fiksi Angkasa

ketika filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora, menyihir kamu jadi asmara.
 
Allah dan Ibu

jika ia pikir
sajak itu angkasa
yang pisahkan penyair
dari Allah, dan Ibu
(menurutku)
ia sempurna asmara
pada amuk saya dan ombakmu. 

 Amuk Rahasia

setelah amuk di alam mata
mengucap salam ke puncak rumah
(kalbuKu pantai rahasia)
ombaknya ibu, ke teluk tubuhmu
 
1000 Tahun dan 48 Rindu

1000 tahun sudah dia mencakar rindu
jejaknya mampus di tapak hurufKu

sajak terjemahan


36
Damion Searls


Setelah Bo Juyi dan Burton Watson

Tidak juga tua, tidak juga remaja
hampir kepala empat, sebentar lagi setengah abad.
Semua biasa saja, tidak ada yang istimewa—
pekerjaan pertamaku, bernafas lalu menjadi tua.
Ya, bakat aku punya, tapi aku juga pemalas:
Jujur saja, dari pada tivi aku lebih suka jendela.
Begitu gajian, sekejap kemudian aku hidup dalam kemiskinan
nasi warteg rasanya rendang dan halte adalah keindahan.
Kamar yang sempit bukanlah masalah,
asal ada buku, gitar dan harmonika.
Buka buku, tutup. Buka lagi. Tutup. Buka lagi—tidak ada yang kubaca,
sekali waktu, kutiup harmonika. Selesai.
Lalu pagi. Naik bus lagi. Masuk telat lagi.
Sore. Waktunya pulang, membayangkan tilam lalu lelap.
Kerja itu buat kepala pening, untungnya aku tak pernah sakit
meski perut, kau sudah tahu, hanya itu alasan hidup.
Kau tahu, dari hari ke hari, hidupku begitu-begitu saja.
Membaca lagi dan lagi, sajak yang itu-itu juga, sajak yang nempel di tembok kamar—
sajak yang kutulis, kubaca sendiri, sendiri, dan berkali-kali. 
Sajak, hanya sajak yang biasa saja dan tidak ada yang istimewa. 



808 A.D.

Damion Searls


After Po Chü-i and Burton Watson

Not too old, not young anymore,
almost three dozen years gone by.
Not a failure, not a success—
my first real job, a job to grow old in.
Some potential, too lazy to use it:
I’d watch TV but I like the window more.
My money gets spent when I have it;
cheap food tastes good too, and a small room’s enough.
Even a smaller room would be fine,
a shelf of old books, guitar with no amp.
The books I just flip through and don’t worry about too much,
the guitar is for noodling around on my own.
Mornings on the bus; I get to the office late.
Evenings it’s back home, go to bed early.
Working out’s too much trouble, and my body’s all right,
some belly to keep me company.
So there you have it, day by day, month after month.
Rereading this poem taped to the wall—
that’s the only reason I wrote it.
No genius, not stupid either.


[versi asli: http://www.theparisreview.org/poetry/6058/808-ad-damion-searl]

Fragmen Bertanya


Dulu, tujuh tahun lalu, guru saya sempat berkata kepada saya, "Tanpa pikiran, kamu tidak akan pernah dapat bertanya." Sampai sekarang, saya sulit sekali membantah hal itu.

Fragmen Berfilsafat


Teman saya (ia pengajar filsafat) bilang, "Untuk berfilsafat, engkau membutuhkan dua hal. Pertama, ketidaktahuan. Kedua, yang tidak kalah penting, daya kritis." Setelah percakapan itu, saya yakin: tidak ada yang disebut kecerdasan.

Fragmen Tiga Proposisi



1. Berpikir itu seperti mendengarkan musik.
2. Mendengarkan musik seperti berpikir dengan telinga.
3. Karena (1) dan (2), Tuhan menciptakan telinga. 

Fragmen Guru dan Murid



Di hadapan Platon, Aristoteles bilang, “Hanya ada dua pilihan dalam hidup saya: menemukan kebenaran atau mengkritik Anda.”

Fragmen Matahari dan Kiri


 
Ketika datang ke rumah teman saya, putri teman saya bilang (saya pikir ia serius): "Om, matahari itu terbit dari kiri ke kanan kan?" Setelah hening sejenak, saya pikir dia tidak keliru.

Fragmen Pope



Teman saya bilang, "Pikiran hanya bekerja dengan satu jalan saja: memisahkan kita dengan realitas. Kalimat ini hanya bisa kau mengerti, jika kau paham apa yang kumaksud dengan realitas." Setelah dia selesai berkata begitu, dalam batin saya berucap, "Aku tidak akan bertanya apa yang kau maksud dengan realitas," kemudian saya teruskan membaca Essay on Criticism karangan Alexander Pope yang pertama kali muncul persis tiga ratus tahun lalu.

2011

Fragmen Kebahagiaan


Teman saya (orangnya sombong dan tentunya menyebalkan) bilang, "Bahagia itu, pertama itu cerdas, kedua itu panjang usia dan ketiga--sebenarnya begini, kalau kau sudah temukan dua hal itu, kau tak perlu yang ketiga. Kau hanya perlu yang ketiga, kalau dua hal itu tak kau temukan atau kau cuma menemukan salah satu dari kedua hal itu." Karena ingin tahu, saya bertanya, "Kalau begitu, apa yang ketiga?" Sambil senyum (tentunya senyum yang menyebalkan dan melecehkan) dia bilang, "Ah, itu sudah bukan pertanyaanku lagi. Barangkali itu pertanyaan yang harus kau jawab," lalu tertawa habis-habisan.

Rindu



 1000 tahun dan 48 rindu (selat Hamzah tiba di Malna)

Fiksi Angkasa


ketika filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora, menyihir kamu jadi asmara.

Metafisika Api


metafisika adalah jalan yang mengubah mawar jadi aksara. tidak mudah, tapi penuh asmara. seperti sapardi yang bicara tentang api.

Fragmen Sajak


Sajak: cara bicara hal-hal yang dekat dengan orang-orang yang (paling) jauh.

The Police dan Cerita tentang Kamu (baca: Citizen)




1.
Seorang teman bilang (hal ini ia bilang dengan penuh percaya diri, meski—saya sempat mencatat, dari 10 hal yang pernah ia bilang kepada saya, sekitar 6 cerita adalah masalah pribadi, cerita ke-tujuh mistis dan tiga cerita lainnya, mirip-mirip pernyataan filosofis, yang menurut saya lebih dekat dengan bualan; dan ini adalah cerita ke-tujuhnya kepada saya): tanpa polisi, negara adalah kesia-siaan belaka. Saya sempat bertanya: Mengapa? (kata seorang teman, sebenarnya saya orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain, ada yang bilang anti-sosial, meski belum menjadi orang psikopat). Tenang saja ia bilang: “Cobalah kau dengar dulu lagu The Police, judulnya: Every Breath You Take, nanti aku tafsirkan ayat-ayatnya.” Saya sempat tertawa dan saya sungguh beruntung: ia bukan seorang yang pemarah, meski saya yakin, bagi orang yang baru mengenalnya, ia adalah orang yang menyebalkan.
Saya pun sengaja meluangkan waktu mendengarkan The Police: Every Breath You Take. Demikianlah lirik lagu itu:
Every breath you take / Every move you make / Every bond you break / Every step you take / I’ll be watching you

Every single day / Every word you say / Every game you play / Every night you stay / I’ll be watching you

O can’t you see / You belong to me / How my poor heart / Aches with every step you take

Every move you make / Every vow you break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching

Since you’ve gone I been lost without a trace / I dream at night / I can only see your face / I look around but it’s you I can’t replace / I feel so cold and I long for your embrace / I keep crying baby, baby please

Every move you make / Every vow you break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching[1]
Bagi saya, yang tak paham musik dan segala macam seni lainnya, ini tak lain lagu yang nge-beat, asik dan mantap. Teman saya bertanya: Menurutmu lagu itu bicara tentang apa. Saya menjawab: tentang cinta (hal ini saya ucapkan sebelum saya betul-betul mencari liriknya, lalu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Santai ia jawab, “Hampir semua orang bilang begitu, dan kau tidak ada bedanya dengan orang-orang lain itu, orang-orang yang sekadar saja, yang hanya memahami sebagai sebuah lagu pengisi waktu luang.” Sebagai orang yang pemarah, saya lantas omong (dengan suara dan amarah): “Okelah, meski kau orangnya tidak jelas, aku mau tahu juga, menurutmu lagu ini bicara tentang apa.”

2.
Aku sadar persoalan tafsir bukanlah hal yang mudah. Apalagi yang hendak ku tafsirkan adalah hal yang berangkat dari ranah estetika, bukan hal yang berada di ranah epistemologika. Ya, ranah estetika adalah ranah narasi, titik tolak penilaian adalah daya pikat dan pukau narasi itu sendiri yang lebih cenderung subjektif, bahkan personal. Kalau epistemologi, kita akan bicara tentang argumentasi, konstruksi penalaran yang bernilai benar atau salah, mengandung kontradiktif atau tidak, atau sejauhmana kontradiktif itu dapat dipahami sebagai paradoks. Karena itu, saya sadar hal ini tidak mudah, dan jika kau (yang ia maksudkan di sini adalah saya, yang lagi diliputi emosi amarah) punya pandangan berbeda, segera ungkapkan, sebab aku akan mendengar, meski belum tentu sependapat denganmu. Tetapi, dengan segala kerendahan hati, aku memohon maaf darimu, jika ada penafsiranku kelewat keliru—sebab, kalau hanya keliru (ia begitu menekankan kata ini; agak heran juga aku) aku sudah biasa dan selalu menjaga agar tidak kelewat keliru.
Apa yang kita bahas, meski agak susah, akan aku tempatkan dalam tema: Polisi dan Warga Negara. Polisi adalah The Police itu sendiri dan Warga Negara adalah ’you’ dalam ’Every Breath You Take’. Dari sejarah pemikiran politik konservatif, dalam hal ini, kata ‘konservatif’ mengacu pada arus pemikiran arus-utama—sederhananya, aku akan membatasi, apa yang hendak kita bahas dalam kajian ini bukan pemikiran anarkis. Namun, ‘anarkis’ yang kumaksud tidak mengacu pada ‘anarkis’ dalam pengertian sehari-hari, yang melihat anarki sebagai kekerasan, kebrutalan—singkatnya, kerusuhan dalam demontrasi itu aku sebut vandalisme, anarkisme. Begini, agar lebih sederhana: dari tradisi pemikiran politik, setidaknya ada dua dogma politik tentang manusia. Pertama, manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang memberadabkan manusia. Kedua, manusia pada dasarnya baik dan institusilah yang membiadabkan manusia. Anarkisme yang kumaksud lebih pada hal kedua: manusia pada dasarnya baik dan karena itu yakin bahwa kehidupan manusia akan baik tanpa institusi, tanpa kuasa, dalam bahasa Yunaninya: an-arki. Nah, dalam penggunaan sehari-hari, anarkisme yang sering kau dengar itu, mengasumsikan manusia pada dasarnya jahat dan institusi, kuasa, aturan, perlu ada agar manusia lebih beradab. Jika kembali ke awal soal, aku menempatkan kajian kita dalam posisi pemikiran mainstream, yaitu: manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang memberadabkan—meski, harus kutekankan: kerusuhan dalam demonstrasi itu bukanlah anarkis, melainkan vandalisme.

Manusia dan Institusi
Kita akan melihat relasi antara manusia dan institusi, dalam hal ini: warga negara dan polisi. Di sini aku membatasi diri pada pemikiran filsafat politik Thomas Hobbes untuk menjelaskan asal-usul terbentuknya negara—lalu, tanpa memberikan referensi yang terang, kau bisa melihat beraneka pemikiran lain yang turut mempengaruhi pemikiranku sendiri. Hobbes menyatakan, sebelum adanya institusi, sebelum adanya negara, manusia, individu-individu hidup dalam pertempuran semua melawan semua, bellum omnium contra omnes. Populernya: manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Kondisi ini adalah kondisi alamiah manusia, sebelum manusia beradab, sebelum manusia memecahkan masalah saling memangsa satu sama lain lewat jalan membuat kontrak sosial. Kontrak sosial inilah yang memberadabkan manusia, melalui kontrak sosial, homo homini lupus menjadi homo homini socius, manusia adalah sahabat sesama. Perhatikan, bagaimana kontrak sosial, yang menjadi dasar berdirinya institusi, mengubah manusia dari serigala bagi yang lain menjadi sahabat bagi yang lain.
Persoalannya, apakah dengan adanya institusi itu, manusia akan tetap menjadi sahabat bagi yang lain? Jawabannya: tidak, ini adalah posisi ekstrem—sedikit menyimpang, problem kemanusiaan yang antik adalah ‘menemukan surga yang hilang’, the lost paradise, garden of Eden—jawaban tidak lebih karena menyadari: memang ada kemungkinan semua manusia menjadi sahabat bagi yang lain; tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana jika tidak semua manusia menjadi sahabat bagi yang lain? Inilah yang hendak dijawab. Kontrak sosial yang menghasilkan institusi, yang menghasilkan aturan—dan aturan inilah yang memberadabkan serigala menjadi sahabat—membutuhkan perangkat lain yang berfungsi menegakkan aturan. Dalam politik modern, kita mengenal lembaga yudikatif—dan seturut dengan kajian kita, kita membatasi hanya pada lembaga kepolisian. Lembaga kepolisian adalah lembaga yang menjamin peraturan tetap tegak dan kita dapat menjadi sahabat bagi yang lain. Karena itu, The Police bilang “I’ll be watching you.” Siapakah ‘you’? Tak lain adalah ‘warga negara’, individu, seorang pribadi yang pada suatu saat melorotkan martabat dari sahabat menjadi serigala. The Police berperan memulihkan martabatnya sekaligus memulihkan keyakinan warga negara lain bahwa institusi yang memberadabkan mereka adalah dapat diandalkan.
Sekarang, jika kau mendengar kembali lagu The Police, inilah sesungguhnya motif berdirinya institusi kepolisian, mengawasi dengan penuh kerinduan agar martabat manusia sebagai sahabat tidak melorot menjadi serigala. (Sejujurnya, saya mau bilang: “Ah, kau hanya mengada-ngada saja.” Tetapi, mendengar penjelasannya, saya mengurungkan niat untuk membantah.)

3.
Setelah temanku mengutarakan pandangannya, aku bertanya: “Lantas, bagaimana kau menjelaskan kata ‘baby’? Bukankah itu berarti ‘sayang’ dan mengacu pada konteks ‘percintaan’? Ia diam sejenak lalu berkata:

4
Pertama, aku nyatakan apa yang aku lakukan bukan ‘menjelaskan’, melainkan ‘menafsir’. Dua hal itu berbeda—dan, maafkan aku jika enggan menjelaskan hal ini sekarang.
Kedua, aku tidak akan secara langsung menjawab pertanyaanmu, melainkan memberimu pertanyaan, demi menjawab pertanyaanmu sendiri: Kira-kira, menurutmu, siapakah yang mengucapkan lirik itu: the police atau citizen? Jika kau sudah menemukan jawabannya, pertanyaan berikut adalah: lantas kepada siapakan lirik itu diucapkan: kepada the police atau citizen? Jika menurutmu yang mengucapkan lirik itu the police, maka yang menerimanya adalah citizen. Jika menurutmu yang mengucapkan lirik itu the citizen, maka yang menerima adalah the police.

5.
(Jujur saja, setiap kali saya bertemu dengan cerita ke-tujuh dari teman saya, selalu saja saya merasa: ia adalah orang yang menyenangkan. Kadang saya merasa ia adalah The Police dan saya adalah Citizen; tetapi tak jarang ia menempati diri sebagai Citizen dan saya sebagai The Police. Dan sesungguhnya, saya lebih menyenangi 6 ceritanya yang memuat masalah pribadinya. Semoga saja, suatu saat, saya dapat menuliskannya dan membagikannya kepada The Police/Citizen.)




[1] Kira-kira, terjemahan bebasnya (tentunya dengan bantuan google translator—sahabat saya, yang tinggal di benua Amerika pernah memanfaatkan instrumen ini untuk menerjemahkan bahasa Inggris-Amerika ke dalam bahasa Indonesia):

Tiap kali kau menghirup nafas/Tiap kali kau bergerak/Tiap kali kau bertingkah/Gua ngeliat elo.

Di tiap pagi/Di tiap kata/Di tiap gaya/Di tiap malammu/Gua ngeliat elo.

Tak bisakah kau liat/Kau milikku/Dan hatiku duka/di tiap langkahmu, aku penuh luka (bagian ini memang agak sedikit di-Chairil Anwar-kan, barangkali karena orang Indonesia, yang senang memperingati hari kematian, akan mengenang Chairil Anwar di hari kematiannya.)

Tiap kau bergerak/Di tiap kata terucap/Di tiap gaya/Di tiap malammu/Hanya gue yang ngeliat elo.

Sejak kau pergi, aku sesat kehilangan jejak/Di tiap mimpi malamku/ndilalah wajahmu yang muncul/Aku cari ke sana dan di mari (‘di mari’ adalah frase orisinal dari Betawi)/cuma kau yang tak terganti/Aku meriang dan butuh pelukanmu/Selalu aku menangins, memanggilmu…

Di tiap gerakmu/Di tiap kata-katamu/Di tiap senyummu/Di tiap denyutmu/Aku ada di situ.  

Fragmen Saya dan Dua Teman Saya


Teman kedua, teman pertama dan saya. Ketika teman kedua saya bicara, teman pertama saya (dia yakin filsafat tidak pernah keliru) berkata, “Meski sulit dimengerti, mengatakan hal-hal filosofis lebih baik daripada mengatakan hal-hal yang tidak filosofis.” Teman kedua (dia yakin filsafat dekat berkata, ”Nah, apa yang kau dengar tadi, itulah yang kumaksud dengan omong kosong.” Mendadak saya menjadi orang ketiga (kalau Levinas [dia ini, filsuf yang religius, kerennya: negative-theology philosopher] akan bilang: The Third.).

Fragmen Filsafat


Kelas filsafat. Seorang guru (ia senang dan sudah lama mengajar filsafat) berkata, “Herakleitos menyatakan, Anda tidak akan pernah melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.” Ada murid (baginya, filsafat menyebalkan dan penuh bual) bertanya, “Ah, darimana Herakleitos tahu, sungai itu adalah sungai yang sama?” Si guru menjawab, “Karena memang tidak ada sungai yang sama, maka Anda tidak akan pernah melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.”

FRAGMEN NEGARA

Aristoteles menyimpulkan tiga syarat negara: 1) ada wilayah, 2) ada penduduk dan 3) ada konstitusi. [Kalau Anda tak percaya, silahkan baca saja bukunya yang terkutuk dan menyebalkan yang berjudul: Politics.] Tapi, Carl Schmitt bilang dengan gampang: Kalau semua orang baik, maka buat apa negara. [Bagi saya, pernyataan Carl Schmitt itu: lucu sekaligus kejam! Percayalah, hanya Jocker dalam The Dark Knight (2008) sajalah yang mampu menampilkan paduan antara badut dan pembunuh.] Teman saya, seorang yang pemalu dan luar biasa cerdas, menyukai kisah-kisah dari dunia klasik, semisal Illiad, Mahabharata (menurutnya, “…hanya buku-buku yang begitulah yang mampu merendahkan kedahsyatan pemikiran filsafat.”) bilang, “Syarat negara itu tiga: pertama, ada orang baik; kedua, ada orang jahat; terakhir: ada konstitusi yang menentukan siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku.” [Setelah dia selesai bicara, saya bilang: Kalau begitu, Negara itu hidup karena definisi? Teman saya itu tidak menjawab, dan hanya terus membaca Republic karangan Platon, khususnya buku III, yang bicara tentang musik.]

Fragmen Filsafat

Kelas filsafat. Seorang murid bertanya: “Bagaimana jika Platon dan Aristoteles keliru?” Guru sempat diam—barangkali ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang demikian setelah lebih dari 40 tahun mengajar filsafat (mungkin juga sekaligus ‘ber’-filsafat)—kemudian, setelah menarik napas yang berat, ia berkata, “Maka, kita dapat mengkritik mereka—sekalipun kita tak bisa keluar dari jalan yang sudah pernah mereka lalui.”

Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga

Ini adalah hal yang paling serius yang pernah saya buat (Anda, Pembaca, dapat juga membacanya demikian: Tulisan yang berjudul ‘Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga’ adalah tulisan singkat serius yang pernah saya buat, entah dengan susah payah atau mengada-ada), sehingga untuk memahaminya, Anda harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang cukup (meski apa yang saya maksud dengan ‘cu-kup’ masih sangat problematis) akan filsafat modern dan pasca-modern (ah, tentunya saya dan Anda tidak perlu berdebat tentang apa yang dimaksud dengan ‘pas-ca-mo-de-ren’):

Sesungguhnya, pertama-tama, filsafat bukanlah upaya mencari (dan kemudian, jika Tuhan mengizinkan—sebab, “Manusia berencana, Tuhan menentukan”—maka ‘upaya mencari’ akan berujung pada ‘menemukan’; dan, sekali lagi saya ingatkan peristiwa ‘menemukan’ hanya terjadi karena ‘Tuhan menentukan’) kebenaran, melainkan upaya menyelidiki atau memeriksa Kebenaran. (Saya harap Anda sudah paham, sebab masih ada yang mau saya sampaikan,) dan upaya menyelidiki Kebenaran hanya dapat berlangsung dalam ”Tuhan berencana, Manusia menentukan” (untuk yang terakhir ini, saya benar-benar tidak mengerti apa yang hendak saya sampaikan, dan saya pun tidak berharap ada di antara Anda, Pembaca, dapat memahami apa yang bagi saya sendiri tidak dapat saya pahami.).

[Setelah selesai menuliskan tulisan singkat serius ini, saya kembali membaca dan melakukan perubahan dan perbaikan di sana-sini—namun (saya bersyukur sekaligus menyayangkan), saya tidak dapat memberikan kepada Sidang Pembaca (saya harap Anda paham mengapa para penulis, entah karena kesantunan atau kebiasaan—sejujurnya, saya selalu curiga dengan ‘kesantunan’ dan ‘kebiasaan’—selalu menggunakan frasa ‘Sidang Pembaca’ dalam pengantar tulisan. Ah, tepat sekali jawaban Anda, ‘Sidang Pembaca’ adalah frasa yang menunjukkan otoritas penilaian atas kualitas suatu tulisan adalah ‘Pembaca’, tentunya setelah melalui proses-‘Sidang’.) tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu. Tapi, percayalah, Sidang Pembaca yang terhormat, Anda dapat mengetahui tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu—hanya saja…, ah, lebih baik tak saya beritahukan apa alasannya. Semoga Anda, Sidang Pembaca yang terhormat, dapat memahaminya. Terima kasih.]