Grief Observed: do I have faith in You?


Kedukaan adalah sebentuk penderitaan. Kematian orang terkasih adalah hal yang mustahil terelakkan dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia tentunya ditandai oleh adanya relasi sosial yang bersifat intim, dekat, serta hangat—saya mengenalinya sebagai relasi kasih. Persoalannya, dalam situasi kedukaan, apakah kita masih dapat berbicara tentang adanya kasih yang nyata—atau malah beralih, kasih dan juga kebahagiaan tidak lain adalah ilusi (?). Dunia tidak lain adalah air mata—dan segala hal yang dikenali sebagai kebahagiaan sesungguh bersifat ideologis, atau semu. 

Dalam Grief Observed, Clive Staples Lewis (1898-1963) bersaksi tentang kedukaan atau derita. Ia mencoba mengulas pengalaman duka yang mewujud dalam perasaan hampa (emptiness) yang seakan tanpa batas. Kehampaan yang melahirkan ketakutan akan hari esok yang tidak akan pernah sama dengan hari-hari yang pernah dilewatinya di masa lalu; juga meruyaknya rasa malas akut sampai-sampai ia merasa bernafas sebagai kesesakan sekaligus sesal; hingga pada akhirnya, melahirkan gagasan dalam benak bahwa sesungguhnya diri sudah tak lagi punya alasan untuk tetap menjalani kehidupan. Kematian istrinya, Helen Joy Davidman (1915-1960), menciptakan duka mendalam dalam kehidupan Lewis—tentang kematian, Lewis menulis demikian: “Death only reveals the vacuity that was always there.” (Lewis: 1996, 28). 

13 Juli 1960, Helen Joy Davidman meninggal dunia. Tiga tahun sebelumnya, pada 1956, Lewis menikah dengan Davidman, yang kala itu sudah memiliki dua orang anak dari perkawinannya terdahulu. Pernikahan yang membawa kebahagiaan bagi kedua pribadi ini ternyata tidak bertahan lama. Penyakit lama yang diidap Davidman kembali kambuh. Kanker. Hingga akhirnya, kanker tulang merengut nyawa H—demikian Lewis menulis inisial Davidman, yang terambil dari alfabet pertama nama istrinya, dalam Grief Observed. Bagi Lewis, kanker memiliki sejarah tersendiri. Ayah dan ibu meninggal dunia karena kanker. Kini, setelah tiga tahun merasakan hangatnya kebahagiaan cinta bersama H, Lewis harus menerima kenyataan: Davidman meninggal dunia, meninggalkan Lewis dengan segala kenangan tentang H yang mustahil lenyap. Maka, apa artinya kebahagiaan sekiranya, diam-diam, kedukaan menyelinap dalam setiap senyum dan tawa yang pernah dilalui oleh sepasang pribadi ini? Apakah Kekristenan—hal yang mempertemukan Lewis dan Davidman; sebab, sebelum konversi menjadi Kristen, keduanya adalah orang-orang yang berpikiran ateis—dapat menjawab persoalan ini? Apa makna kedukaan dalam diri orang percaya? 

Talk to me about the truth of religion and I’ll listen gladly. Talk to me about the duty of religion and I’ll listen submissively. But don’t come talking to me about the consolations of religion or I shall suspect that you don’t understand.” (Lewis:1999, 25) Demikianlah Lewis menegaskan sikapnya kepada orang-orang yang berempati kepada dirinya setelah kepergian Davidman. Jawaban klise yang menyatakan bahwa ‘Davidman sudah bahagia bersama Tuhan’ bukanlah jawaban yang menenangkan batin Lewis. Ada hal yang lebih mendasar dari itu. Davidman telah meninggal dunia—dan Tuhan berada di balik semua itu. Maka Lewis pun mempertanyakan Tuhan. Masih mungkinkah kita menyatakan bahwa Tuhan itu baik dan di saat bersamaan, Ia yang adalah Mahabaik memanggil orang yang kita kasihi, mencampakkan kita dari kebahagiaan pada duka mendalam? Tidak hanya sampai di sini. Lewis melangkah lebih jauh lagi: “If it is consistent with hurting us, then He may hurt us after death as unendurably as before it.” (Lewis:1996, p.28) Benarkah Tuhan itu Mahabaik—dan sekiranya kita bertumpu pada pengalaman dan kesadaran, bukankah sesungguhnya Tuhan adalah Mahasadis?

Inilah hakikat kedukaan. Kedukaan adalah proses. Di dalam kedukaan, gagasan orang percaya tentang Tuhan digoncang. Goncangan yang muncul dalam wujud pertanyaan-pertanyaan atau gugatan-gugatan penuh amarah terhadap Tuhan sesungguhnya adalah jalan untuk menguji iman kita. Demikianlah Lewis menyimpulkan: “Only suffering can do.” (Lewis:1996, p.38). Kedukaan sebagai proses merupakan momen restorasi iman (restoration of faith)—momen bagi orang percaya mengetahui apakah imannya adalah rumah kertas atau batu karang. Persoalannya bukan lagi tentang Tuhan itu Mahabaik atau Mahasadis—sebab Lewis sudah yakin tentang hal itu sebagaimana yang dapat ditemukan dalam karyanya Miracle juga Mere Christianity—melainkan iman seperti apakah yang kita miliki. Lewis menulis: “God has not been trying an experiment on my faith or love in order to find their quality. He already knew it. It was I didn’t… He always knew that my temple was a house of cards. His only way of making me realize the fact was to knock it down.” (Lewis:1996, 52)

Dalam kehidupan orang percaya, kedukaan atau derita adalah jalan bagi iman untuk bertumbuh menjadi lebih tangguh. Iman yang bukan lagi terbentuk dari kertas, melainkan dari karang. Iman yang tidak hanya berdiam di kawasan tentram dan aman; melainkan iman yang setia dalam hantaman gelombang badai dan hujan. Salah seorang teman saya pernah berkata demikian: “Sekiranya engkau tak dapat menerima yang paling menyakitkan dari sahabatmu atau dari kekasihmu, tentunya engkau tidak siap untuk menerima hal yang paling membahagiakan dari mereka.” Kedukaan adalah kegelapan, kedukaan adalah lorong bawah tanah, kedukaan adalah labirin yang menakutkan—maka pertanyaannya bukan tentang mengapa ada kegelapan, melainkan: apakah kegelapan ini mampu melenyapkan terang dalam hati setiap orang percaya. Do I have faith in You? Inilah pertanyaan ultima dalam pengalaman duka yang dialami orang percaya.  

heart and ity

the purpose of religion is to teach human heart. human heart is the essence of humanity.

Catatan tentang Yang-Suci atau 10+1-nya Utami




Pada situs qureta (http://www.qureta.com/post/101-langkah-beriman-tanpa-homofobia), saya membaca tulisan Ayu Utami tentang homoseksualitas dan seksualitas. Dalam tulisan itu—seturut dengan pembacaan saya—Ayu mengajukan tiga tesis, yaitu (i) kisah Sodom bukanlah kisah tentang homoseksualitas, melainkan kekerasan seksual, (ii) hubungan seks sejenis bukanlah hal yang dibenarkan dalam Alkitab dan (iii) tidak ada kemuliaan atau hal yang suci dalam hubungan seks. Terkait metode, Ayu menggunakan metode—dalam bahasa saya—“membaca teks secara teliti dan jangan buru-buru menyimpulkan.” Tulisan ini saya tujukan untuk memeriksa argumentasi-argumentasi yang disampaikan Ayu dalam “10+1 Langkah Beriman tanpa Homofobia”. 

Untuk mempertanggungjawabkan tesis pertamanya, Ayu mengulas kisah Kejadian 18 & 19 secara kritis. Dari kisah tersebut, tidak ditemukan fakta bahwa adanya pesta orgy kaum gay dan adanya lelaki yang melambai. Kejadian 18 & 19 mengisahkan tentang dua orang malaikat yang mendatangi rumah Lot; kemudian Lot meminta mereka menginap; lalu di malam hari, orang-orang Sodom menggeruduk rumah Lot meminta secara paksa agar Lot menyerahkan mereka yang menginap di rumahnya untuk dipakai atau diperkosa; Lot menanggapi dengan jalan menawarkan dua putrinya; penggeruduk rumah Lot tidak setuju, memaksa masuk ke rumah Lot; akhirnya, Lot diselamatkan dua malaikat itu—dan Sodom pun hancur. 

Sepintas, argumentasi pertama Ayu sound. Konklusi kisah Sodom bukanlah kisah homoseksualitas, melainkan kekerasan seksual ditopang oleh evidensi (i) orang-orang Sodom mau memperkosa dua orang yang menginap di rumah Lot dan (ii) dua orang yang menginap itu adalah orang baru atau asing. Bukankah tindakan memperkosa dapat digolongkan tindakan kekerasan seksual? Tentu saja hal ini dapat dengan mudah dibuktikan: apakah ada orang yang setuju diperkosa? Sejauh tindakan persetubuhan dilakukan tanpa persetujuan salah satu pihak, maka itu adalah kekerasan seksual.
Persoalan dalam argumentasi pertama Ayu persis pada premis (ii). Premis (ii) merupakan reduksi atas kisah Kejadian 18 & 19. Sekiranya konsisten membaca narasi, maka dua orang yang menginap di rumah Lot dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama, tentu saja sebagai orang asing atau baru, orang tanpa patron, orang yang lemah sehingga dapat diperlakukan secara semena-mena. Inilah sudut pandang, dalam istilah saya, warga Sodom. Ada pun sudut pandang kedua adalah dua orang yang menginap di rumah Lot itu adalah malaikat, sebagai hal yang mulia, sebagai hal yang suci—dan Ayu terang menuliskan “dua malaikat yang tampak sebagai manusia”. Inilah sudut pandang “Lot”. 

Kepada pembaca, dalam tulisannya, Ayu tidak mengulas keberadaan sudut pandang “Lot”. Demi mendapatkan penjelasan atas fenomena penggerudukan rumah Lot dan sikap Lot menawarkan dua putrinya kepada mereka, Ayu beralih pada “teks-teks lainnya yang mengisahkan praktik pemerkosaan atau pembunuhan terhadap orang yang tak punya patron.” Namun apakah alasan itu dapat dipergunakan untuk menyangkal adanya sudut pandang “Lot” atau memutuskan lebih memilih sudut pandang “warga Sodom” daripada “Lot” pada dasarnya tidak begitu terang dalam tulisan Ayu. Dengan demikian, satu pertanyaan yang penting, apakah Ayu menyadari adanya sudut pandang “Lot”—dan apa jadinya sekiranya Ayu mengulas kisah Sodom dari sudut pandang itu? Di sisi lain, kesadaran akan adanya dua sudut pandang berbeda, sudut pandang “Lot” dan sudut pandang “warga Gomora”, tentu berdampak pada pemaparan tentang mengapa memilih sudut pandang “warga Gomora” daripada “Lot” menjadi lebih terang. Tentunya, hal ini mengandaikan saya tidak keliru memahami tulisan Ayu.  

Sekiranya kita menggunakan sudut pandang “Lot” yang mengakui ada yang suci, yang mulia, maka konklusi yang dihasilkan tentu berbeda. Evidensi (i) orang-orang Sodom mau memperkosa dua orang yang menginap di rumah Lot dan (ii) dua orang yang menginap itu adalah malaikat yang tampak sebagai manusia akan menghasilkan kesimpulan (iii) kisah Sodom adalah kisah orang-orang Sodom yang mau menodai hal yang suci—entah dalam bentuk kekerasan seksual atau apa pun. Bukankah karena ada yang suci dalam diri setiap manusia, maka penghargaan terhadap manusia menjadi penting? Atau, semata-mata karena manusia, melalui proses evolusi-biologis tertentu sehingga hadir di dunia—tentunya dengan dilengkapi oleh perangkat kesadaran yang disebut rasio [meski tidak terlalu jelas apakah rasio ini adalah hasil evolusi materi atau malah hal lain di luar materi]—maka manusia mestilah dihargai? 

Argumentasi pertama Ayu merupakan jalan bagi argumentasi kedua. Di bagian kedua, Ayu mencoba menjawab pertanyaan tentang hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan. Dari argumentasi pertama, dengan sudut pandang “warga Sodom”, Ayu mendapatkan kualifikasi tanpa kekerasan merupakan variabel bagi hubungan seks yang dibenarkan Tuhan. Lalu dengan menghadirkan evidensi kisah Lot dan dua anak perempuannya, Yehuda dan Tamar, Boas dan Rut, serta Onan dan Tamar—Ayu menambahkan variabel dari hubungan seks yang benar adalah (i) demi meneruskan keturunan atau prokreasi, (ii) tidak egois. Dengan demikian, Ayu menemukan bahwa hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan adalah hubungan seks (i) demi berketurunan, (ii) tanpa kekerasan, dan (iii) egois. Konklusi ini selanjutnya menjadi dasar demi menyimpulkan: hubungan seks sejenis bukanlah hal yang dibenarkan dalam Alkitab. 

Bagi saya, ada yang menarik dari argumentasi kedua Ayu. Pencarian akan hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan ditempatkan dalam kerangka menginferensikan status benar-tidaknya homoseksualitas. Ayu mencari jalan memutar melalui kisah Lot dan dua anaknya, Yehuda dan Tamar, Boas dan Rut, serta Onan dan Tamar—padahal, masih dalam Alkitab, kitab Imamat 18 & 20 memberikan sikap yang lugas bagi kasus homoseksualitas. Tentu Ayu punya pertimbangan sendiri tentang hal ini—dan saya pikir upaya Ayu untuk membaca hubungan seks melalui kisah-kisah tersebut juga menantang pikiran. 

Di sisi lain, sekali lagi, argumentasi kedua Ayu itu masih dalam bayang-bayang sudut pandang “warga Sodom”. Sekiranya sudut pandang “Lot” dipertimbangkan, maka hubungan seks yang dibenarkan pada dasarnya adalah yang tidak menodai kesucian, yang juga mencakup alasan prokreasi, tanpa kekerasan, dan tidak egois. Lantas, apakah orang yang menodai kesucian itu akan dihukum Tuhan, seperti yang dialami oleh Onan? Sejujurnya, saya tidak tahu; sekiranya hukuman itu ada, maka itu adalah bagian Tuhan, hak Tuhan—dalam pandangan saya, bukan manusia. 

Tesis argumentasi ketiga Ayu adalah tidak ada yang suci dalam hubungan seks. Kali ini, Ayu tidak mendasarkannya pada kisah-kisah dari Alkitab. Ayu menggunakan evidensi dari apa yang terjadi saat hubungan seks berlangsung. Karena yang terjadi dalam hubungan seks adalah “memandangi pasangan dengan bernafsu, gairah untuk menguasai atau dikuasasi, tindakan menjilat-jilat, menggigit-menghisap, meremas, mengucapkan kata-kata tak pantas”, maka hubungan seks itu tidak mengenal ada hal yang suci atau mulia. Saya cukup dapat meragukan konstruksi argumentasi ketiga ini. 

Dari sudut pandang saya, konstruksi argumentasi ketiga Ayu adalah demikian: “Karena (i) sudut pandang “warga Sodom” yang tidak mengakui adanya yang suci dan (ii) yang terjadi dalam hubungan seks adalah memandangi pasangan dengan bernafsu, gairah untuk menguasai atau dikuasasi, tindakan menjilat-jilat, menggigit-menghisap, meremas, mengucapkan kata-kata tak pantas, maka tidak ada yang mulia dalam hubungan seks.” Karena itu, pola argumentasi ketiga dari Ayu mengandung kesesatan atau bengkok (fallacy), yaitu begging the question. Dalam argumentasi ketiga, apa yang hendak dibuktikan dalam konklusi sudah terkandung dalam premis. Dalam permodelan sederhana, argumentasi Ayu dapat dituliskan dalam bentuk demikian: Karena ngebut-ngebutan penuh resiko, maka ngebut-ngebutan itu berbahaya—tentu saja, kesimpulan ngebut-ngebutan itu berbahaya sudah terkandung dalam premis ngebut-ngebutan itu penuh resiko; bagaimana mungkin hal berbahaya tak mengandung resiko? Tentunya, sekiranya tidak ada yang suci dalam hubungan seks, kita tak perlu membawa-bawa Tuhan. Dus, beranikah kita menarik implikasi radikal dari konstruksi argumentasi Ayu—sebagaimana pernyataan Ayu: “Memang butuh keberanian bagi orang beriman untuk mengakui bahwa hubungan seks yang ia lakukan bukan sesuatu yang suci-mulia”—memang dibutuhkan keberanian untuk menyatakan tidak ada yang suci di dunia, entah itu cinta atau malaikat atau Tuhan atau tulisan atau manusia. 

Beranikah? Saya pribadi, sebagaimana ternyatakan dalam tulisan ini, mengakui ada hal yang suci. Levinas melalui pemikirannya tentang yang-etis menyatakan bahwa hal yang suci itu, sejatinya, berdiam (dwelling) dalam manusia. Sebagai manusia, saya tak punya kuasa untuk menghilangkannya—dan semoga saya juga tak kuasa untuk mengabaikannya.  

Cheers...

There will always be conditional truth until you find unconditional love. Demikian kata teman saya. Cheers...

Catatan tentang 9 Juli lalu


Mengapa saya berpartisipasi dalam pemilihan umum?
Pembenaran (justification) atas tindakan memilih.
Karena justifikasi terbentuknya negara Indonesia adalah demi mewujudkan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa Indonesia dan saya adalah warga negara Indonesia, suka atau tidak suka, menjadi bagian dari proses perwujudan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa Indonesia dan, dalam sistem demokrasi, pemilihan presiden dan wakil presiden secara berkala merupakan salah satu jalan mewujudkan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa Indonesia, maka saya memutuskan ikut serta dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada 9 Juli mendatang.

Mengapa saya memilih calon tertentu?
Pembenaran (justification) atas calon yang saya pilih.
Karena perwujudan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa Indonesia mensyaratkan adanya orang-orang tertentu, dalam hal ini presiden dan wakil presiden, dengan kualitas-kualitas tertentu di mana kualitas-kualitas ini tidak hanya dapat dipergunakan untuk menyeleksi calon yang akan saya pilih pada pemilihan presiden dan wakil presiden pada 9 Juli mendatang, namun dapat juga dipergunakan untuk menyeleksi calon yang akan saya pilih pada pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2019, 2024, dst., maka keputusan untuk memilih calon tertentu sebaiknya bertumpu pada kriteria-kriteria yang dapat berlaku secara universal, tidak hanya pada saat ini, namun juga pada saat yang akan datang.

Kualitas-kualitas itu adalah (1) tidak bernafsu pada kekuasaan, (2) telah terbukti dan teruji pada perkara-perkara kecil, dan (3) memiliki habitus yang baik [B. Herry Priyono tentang “Paradoks Kepemimpinan” pada kolom Opini Kompas (1/7/2014)]

Mengapa saya mengkritik calon terpilih?
Pembenaran (justification) atas kritik terhadap pemerintah yang terpilih.
Karena (1) saya adalah warga negara Indonesia, suka atau tidak suka, menjadi bagian dari perwujudan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa dan (2) saya menyeleksi calon pemimpin berdasarkan kualitas-kualitas yang memang dibutuhkan untuk mewujudkan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa, maka—entah yang terpilih adalah calon yang saya pilih atau tidak—saya dapat mengkritik presiden dan wakil presiden terpilih sejauh mereka telah menyimpang dari kualitas-kualitas yang dibutuhkan untuk mewujudkan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa dan menyimpang dari upaya perwujudan kebaikan-bersama/kemaslahatan-bersama bagi bangsa.

Filsafat Melihat "Lirikan Matamu..."



Agar belajar filsafat lebih menyenangkan (bukan lebih mudah), imajinasikan saja Das Sein itu pelangi; metafisika itu adalah awan berbentuk katedral; trus epistemologi itu seperti seekor kelinci yang berenang di sendang; lalu etika adalah “lirikan mata mu... menarik hati...”-nya A. Rafiq. Lalu demikianlah filsafat: saat engkau mendengar “lirikan mata mu... menarik hati...” trus melihat seekor kelinci berenang di sendang dan di atasnya ada awan berbentuk katedral, pelangi.

Tentang Hukuman Mati


  1. Kalau alasan etis hukuman mati adalah demi memberi efek jera, bukankah sesungguhnya tidak ada hubungan antara deskriptif-faktual (is) dan preskriptif-normatif (ought)? 
  2. Kalau alasan etis hukuman mati adalah karena pelaku telah membunuh banyak orang (entah langsung atau tidak—dan hal ini tentulah fakta)—bagaimana menjamin bahwa hukuman yang diberikan kepada pelaku bukan berlatarkan dendam? Apakah etis menghukum orang karena dendam? 
  3. Kalau alasan etis hukuman mati adalah tidak salah secara etis menghukum mati orang yang bersalah—bukankah ini mengandaikan manusia tidak-dapat-salah? Benarkah manusia tidak dapat salah? Bukankah falibilitas itu merupakan “nature” manusia?
  4. Maka, alasan etis menolak hukuman mati—tentunya selain argumen kesucian hidup—saya pikir: manusia adalah mahluk yang-dapat-salah dan implikasinya adalah keputusan [hukuman mati] yang dihasilkan juga dapat-salah; maka: hukuman mati itu pada dasarnya (i) secara epistemis, hukuman mati meniadakan falibilitas manusia [dengan demikian: menyatakan hukuman mati adalah manusiawi sebetulnya: reductio ad absurdum], dan (ii) secara etis: membuka kemungkinan menghukum orang yang tidak bersalah.   

Antara Cedera, Teman dan Hinaan



Teman saya bertanya (bagi saya: setiap pertanyaan pastilah rumit—entah mengapa saya menyimpulkan demikian dan saya masih saja belum dapat menjawabnya), “Bukankah berdebat tidak sama dengan menghina? Bukankah berpendapat tidak sama dengan menghina? Jika menghina dianggap sama dengan berpendapat dan menghina juga dianggap sebagai salah satu metode berdebat, bukankah ada yang tidak pantas di situ? Tentu saya sadar bahwa hinaan tidak dapat dijadikan alasan untuk mencederai orang lain. Namun, apakah tindakan menghina itu sendiri adalah benar secara moral?”

Hari Itu Gelap dan Manusia



Lama sudah saya tidak berkunjung ke rumah teman saya. Tiga hari lalu, saya berkunjung—kami minum teh, hari itu sudah malam memang. Ia berkata, “Vid, bukankah dalam diri manusia itu terkandung pengetahuan sekaligus ketidaktahuan? Tanpa manusia, tidak ada pengetahuan dan ketidaktahuan.” Barangkali, karena melihat alis saya yang berkerut, ia berkata [dugaan saya dengan niat menyederhanakan apa yang disampaikannya]: “Bukankah di dalam kegelapan, sesungguhnya engkau tidak pernah menjadi orang buta?”

Menteri Susi dan "Saya juga pernah begitu."

“Barangkali bukan karena merokok dan bertato, maka mereka tidak menyukai dia--melainkan karena mereka memang tidak suka, maka mereka lihat merokok dan bertato itu sebagai tanda adanya kekurangberesan.” Teman saya omong begini demi komentari pemberitaan seputar pro-kontra Menteri Susi—lalu menambahkan, “Saya juga pernah begitu.” Setelah mendengar teman saya, ingat kata-kata guru saya, “Dari apa yang faktual, kita tidak dapat menyimpulkan apa yang normatif. Kesialannya di sini: justru karena kita selalu berjumpa dengan yang faktual, tak pernah berjumpa yang normatif.”

Yang Gawat dan Ciyus



Teman saya (ia orang yang sangat lucu) bilang kepada saya, "Hanya hal-hal yang gawat sajalah yang dapat membuat Anda dapat serius." Awalnya, saya merasa seperti mendengar sebuah lelucon [bahkan saya sempat berniat meledek dengan istilah anak-anak muda "ciyus"; namun membatalkan niatan itu], dan melontarkan pertanyaan yang bersifat retoris: "Namun, bukankah hal-hal serius kadang tampak seperti lelucon?" [sambil mengingat topik politik yang hangat: pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh DPRD akan lebih Pancasila daripada pemilihan kepala daerah secara langsung].

Mata Rahasia



Mata Rahasia


hingga ini mata
tak lagi membaca
tetap kutatap
tenaga bahasa
alif rahasia
di dalam dada.

suara matahari



suara matahari



suara senantiasa menjelma sebagai surat
wasiat yang diperuntukkan kepada pembaca
oleh mereka yang menulis kekuasaan
penuh gementar dan nyaris tanpa harapan
sebab teringat kesunyian masing-masing
sebagai seribu tahun kesendirian
tengah menanti            di setiap cahaya matahari.

Terpanah Bahasa



Terpanah Bahasa


ketika gema keseharian
membalur tubuh dan ingatan
masuklah kepada sajak
sapanya serupa kecipak
pada bening telaga

ketika gumam kesendirian
hanyutkan tangan dan keinginan
masuklah kepada sajak
bunyinya serupa gelak
pada wajah asmara

masuklah kepada sajak
masuklah kepada sajak
sebagai kota tumpah pada dunia
sebagai bunga tumbuh di atas tanah
sebagai batu gelinding di tebing lembah,

sebagai aku terpanah mata bahasa

Ironi dan Sejahtera



Ironi lahir dari keyakinan bahwa satu-satunya jalan menjadi sejahtera adalah mendirikan negara.  

Ibu



Ibu
: Museum Penghancur Dokumen



Ibu.

Dalam museum Malna dan Malna berjalan
menggunakan tiga tanda baca sebagai pakaian
dari arsip-arsip yang sudah dikubur tanpa upacara
kematian, ketika surat kabar tiba di halaman
depan dan halaman belakang sejarah
tiang listrik. Dalam museum Malna dan Malna
dan Malna berjalan menggunakan dua tiga atau
lebih dari tiga tanda baca sebagai selembar daun
dan potret selembar daun di atas 21.000
abad dan kaki di hadapan topi yang terbuat dari bunga
dan duri bahasa. Dalam museum Malna satu
atau dua Malna berjalan menggunakan tiga dan
tanpa tiga tanda baca sebagai matahari
dan malam hari dari kerinduan video-
grafi menuju menit 5 lalu kembali pada menit 0
dengan mendung di punggung kerbau dan senja
sebelum kopi yang tak pernah sama. Ibu.


Matahari

Matahari
kepada T. Alias Taib



ia menulis matahari
sebagai tubuh yang ia cuci
sebelum ia langkahkan kaki
keluar dari tempat mandi

ia membaca matahari
sebagai tubuh yang ia cuci
sebelum ia langkahkan hati
pada bening Kisah Suci


seken

memilih presiden seperti memilih barang seken, demikian kata teman saya

Republik



Republik
: Seminar Puisi di Selat Sunda

sebuah republik di atas lantai dapur tanpa jembatan
melintasi bola basket bersama tetesan bawang
putih di bawah penggaris. gigi-gigi
mengeluarkan kamus bahasa indonesia, serigala
satu dua tiga empat lima hingga 12
bulan dalam topi dan kacamata. di dapur
siapa-aku mengupas kamus bahasa indonesia dan
tidak ada piano. sebuah republik di lantai lebih
dari lantai dapur tanpa piano dan
serigala kamus bahasa indonesia satu dua
tiga empat lima hingga 12 bulan tanpa jembatan
menggaris topi siapa-aku dan kacamata bola basket. hari ini
tidak menangkap matahari—dalam kamus bahasa
indonesia 2008 republik (dan republikan)
didahului reptilia dan diakhiri hutan
muda. sebuah republik siapa-aku tidak
menangkap matahari melalui kamus
bahasa indonesia dan gigi-gigi di bawah
penggaris mengeluarkan serigala satu dua
tiga empat lima hingga 12 bulan tetesan bawang
putih. di atas lantai dapur,

sebuah republik tanpa daging. bola basket. Di sini.

Bahasa dan Yang Mustahil Terpahami



Bahasa—sekiranya tidak membuktikan, paling tidak memperlihatkan—bahwa mustahil manusia hidup sendiri. Bagaimana dengan Tuhan? Saya tidak tahu apa-apa tentang Yang Abadi—kecuali sebagai hal yang mustahil terpahami.