seperti alif beta dan eureka. mawar melati dan segala yang mabuk cuaca. seperti kulkas, semua indah dan selamat membahasa.
Fragmen Berfilsafat
Teman saya (ia pengajar filsafat) bilang, "Untuk berfilsafat, engkau membutuhkan dua hal. Pertama, ketidaktahuan. Kedua, yang tidak kalah penting, daya kritis." Setelah percakapan itu, saya yakin: tidak ada yang disebut kecerdasan.
Fragmen Tiga Proposisi
1. Berpikir itu
seperti mendengarkan musik.
2. Mendengarkan
musik seperti berpikir dengan telinga.
3. Karena (1)
dan (2), Tuhan menciptakan telinga.
Fragmen Guru dan Murid
Di hadapan
Platon, Aristoteles bilang, “Hanya ada dua pilihan dalam hidup saya: menemukan
kebenaran atau mengkritik Anda.”
Fragmen Matahari dan Kiri
Ketika datang ke
rumah teman saya, putri teman saya bilang (saya pikir ia serius): "Om,
matahari itu terbit dari kiri ke kanan kan?" Setelah hening sejenak, saya
pikir dia tidak keliru.
Fragmen Pope
Teman saya bilang, "Pikiran hanya bekerja dengan satu jalan saja:
memisahkan kita dengan realitas. Kalimat ini hanya bisa kau mengerti, jika kau
paham apa yang kumaksud dengan realitas." Setelah dia selesai berkata
begitu, dalam batin saya berucap, "Aku tidak akan bertanya apa yang kau
maksud dengan realitas," kemudian saya teruskan membaca Essay on Criticism karangan Alexander
Pope yang pertama kali muncul persis tiga ratus tahun lalu.
2011
Fragmen Kebahagiaan
Teman saya (orangnya sombong dan tentunya menyebalkan) bilang, "Bahagia itu, pertama itu cerdas, kedua itu panjang usia dan ketiga--sebenarnya begini, kalau kau sudah temukan dua hal itu, kau tak perlu yang ketiga. Kau hanya perlu yang ketiga, kalau dua hal itu tak kau temukan atau kau cuma menemukan salah satu dari kedua hal itu." Karena ingin tahu, saya bertanya, "Kalau begitu, apa yang ketiga?" Sambil senyum (tentunya senyum yang menyebalkan dan melecehkan) dia bilang, "Ah, itu sudah bukan pertanyaanku lagi. Barangkali itu pertanyaan yang harus kau jawab," lalu tertawa habis-habisan.
Fiksi Angkasa
ketika filsafat menyulap fiksi jadi berita
(di angkasa)
metafora,
menyihir kamu jadi asmara.
Metafisika Api
metafisika
adalah jalan yang mengubah mawar jadi aksara. tidak mudah, tapi penuh asmara. seperti
sapardi yang bicara tentang api.
The Police dan Cerita tentang Kamu (baca: Citizen)
1.
Seorang teman
bilang (hal ini ia bilang dengan penuh percaya diri, meski—saya sempat
mencatat, dari 10 hal yang pernah ia bilang kepada saya, sekitar 6 cerita
adalah masalah pribadi, cerita ke-tujuh mistis dan tiga cerita lainnya,
mirip-mirip pernyataan filosofis, yang menurut saya lebih dekat dengan bualan;
dan ini adalah cerita ke-tujuhnya kepada saya): tanpa polisi, negara adalah
kesia-siaan belaka. Saya sempat bertanya: Mengapa? (kata seorang teman,
sebenarnya saya orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain, ada yang
bilang anti-sosial, meski belum menjadi orang psikopat). Tenang saja ia bilang:
“Cobalah kau dengar dulu lagu The Police, judulnya: Every Breath You Take,
nanti aku tafsirkan ayat-ayatnya.” Saya sempat tertawa dan saya sungguh
beruntung: ia bukan seorang yang pemarah, meski saya yakin, bagi orang yang
baru mengenalnya, ia adalah orang yang menyebalkan.
Saya
pun sengaja meluangkan waktu mendengarkan The Police: Every Breath You Take.
Demikianlah lirik lagu itu:
Every breath you take / Every move you
make / Every bond you break / Every step you take / I’ll be watching you
Every single day / Every word you say /
Every game you play / Every night you stay / I’ll be watching you
O can’t you see / You belong to me / How
my poor heart / Aches with every step you take
Every move you make / Every vow you
break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching
Since you’ve gone I been lost without a
trace / I dream at night / I can only see your face / I look around but it’s
you I can’t replace / I feel so cold and I long for your embrace / I keep
crying baby, baby please
Every move you make / Every vow you
break /Every smile you fake / Every claim you stake / I’ll be watching[1]
Bagi saya, yang
tak paham musik dan segala macam seni lainnya, ini tak lain lagu yang nge-beat, asik dan mantap. Teman saya
bertanya: Menurutmu lagu itu bicara tentang apa. Saya menjawab: tentang cinta
(hal ini saya ucapkan sebelum saya betul-betul mencari liriknya, lalu
menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Santai ia jawab, “Hampir semua orang
bilang begitu, dan kau tidak ada bedanya dengan orang-orang lain itu,
orang-orang yang sekadar saja, yang hanya memahami sebagai sebuah lagu pengisi
waktu luang.” Sebagai orang yang pemarah, saya lantas omong (dengan suara dan
amarah): “Okelah, meski kau orangnya tidak jelas, aku mau tahu juga, menurutmu
lagu ini bicara tentang apa.”
2.
Aku sadar
persoalan tafsir bukanlah hal yang mudah. Apalagi yang hendak ku tafsirkan
adalah hal yang berangkat dari ranah estetika, bukan hal yang berada di ranah
epistemologika. Ya, ranah estetika adalah ranah narasi, titik tolak penilaian
adalah daya pikat dan pukau narasi itu sendiri yang lebih cenderung subjektif,
bahkan personal. Kalau epistemologi, kita akan bicara tentang argumentasi,
konstruksi penalaran yang bernilai benar atau salah, mengandung kontradiktif
atau tidak, atau sejauhmana kontradiktif itu dapat dipahami sebagai paradoks.
Karena itu, saya sadar hal ini tidak mudah, dan jika kau (yang ia maksudkan di
sini adalah saya, yang lagi diliputi emosi amarah) punya pandangan berbeda,
segera ungkapkan, sebab aku akan mendengar, meski belum tentu sependapat
denganmu. Tetapi, dengan segala kerendahan hati, aku memohon maaf darimu, jika
ada penafsiranku kelewat keliru—sebab, kalau hanya keliru (ia begitu menekankan kata ini; agak heran juga aku) aku
sudah biasa dan selalu menjaga agar tidak kelewat
keliru.
Apa
yang kita bahas, meski agak susah, akan aku tempatkan dalam tema: Polisi dan
Warga Negara. Polisi adalah The Police itu sendiri dan Warga Negara adalah
’you’ dalam ’Every Breath You Take’. Dari sejarah pemikiran politik
konservatif, dalam hal ini, kata ‘konservatif’ mengacu pada arus pemikiran
arus-utama—sederhananya, aku akan membatasi, apa yang hendak kita bahas dalam
kajian ini bukan pemikiran anarkis. Namun, ‘anarkis’ yang kumaksud tidak
mengacu pada ‘anarkis’ dalam pengertian sehari-hari, yang melihat anarki
sebagai kekerasan, kebrutalan—singkatnya, kerusuhan dalam demontrasi itu aku
sebut vandalisme, anarkisme. Begini, agar lebih sederhana: dari tradisi
pemikiran politik, setidaknya ada dua dogma politik tentang manusia. Pertama,
manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang memberadabkan manusia. Kedua,
manusia pada dasarnya baik dan institusilah yang membiadabkan manusia.
Anarkisme yang kumaksud lebih pada hal kedua: manusia pada dasarnya baik dan
karena itu yakin bahwa kehidupan manusia akan baik tanpa institusi, tanpa
kuasa, dalam bahasa Yunaninya: an-arki. Nah, dalam penggunaan sehari-hari,
anarkisme yang sering kau dengar itu, mengasumsikan manusia pada dasarnya jahat
dan institusi, kuasa, aturan, perlu ada agar manusia lebih beradab. Jika
kembali ke awal soal, aku menempatkan kajian kita dalam posisi pemikiran
mainstream, yaitu: manusia pada dasarnya jahat dan institusi-lah yang
memberadabkan—meski, harus kutekankan: kerusuhan dalam demonstrasi itu bukanlah
anarkis, melainkan vandalisme.
Manusia dan Institusi
Kita akan
melihat relasi antara manusia dan institusi, dalam hal ini: warga negara dan
polisi. Di sini aku membatasi diri pada pemikiran filsafat politik Thomas
Hobbes untuk menjelaskan asal-usul terbentuknya negara—lalu, tanpa memberikan
referensi yang terang, kau bisa melihat beraneka pemikiran lain yang turut
mempengaruhi pemikiranku sendiri. Hobbes menyatakan, sebelum adanya institusi,
sebelum adanya negara, manusia, individu-individu hidup dalam pertempuran semua
melawan semua, bellum omnium contra omnes.
Populernya: manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Kondisi ini adalah
kondisi alamiah manusia, sebelum manusia beradab, sebelum manusia memecahkan
masalah saling memangsa satu sama lain lewat jalan membuat kontrak sosial.
Kontrak sosial inilah yang memberadabkan manusia, melalui kontrak sosial, homo homini lupus menjadi homo homini socius, manusia adalah
sahabat sesama. Perhatikan, bagaimana kontrak sosial, yang menjadi dasar
berdirinya institusi, mengubah manusia dari serigala bagi yang lain menjadi sahabat bagi yang lain.
Persoalannya,
apakah dengan adanya institusi itu, manusia akan tetap menjadi sahabat bagi
yang lain? Jawabannya: tidak, ini adalah posisi ekstrem—sedikit menyimpang,
problem kemanusiaan yang antik adalah ‘menemukan surga yang hilang’, the lost paradise, garden of Eden—jawaban tidak lebih karena menyadari: memang ada
kemungkinan semua manusia menjadi sahabat bagi yang lain; tetapi yang menjadi
persoalan adalah bagaimana jika tidak semua manusia menjadi sahabat bagi yang
lain? Inilah yang hendak dijawab. Kontrak sosial yang menghasilkan institusi,
yang menghasilkan aturan—dan aturan inilah yang memberadabkan serigala menjadi
sahabat—membutuhkan perangkat lain yang berfungsi menegakkan aturan. Dalam
politik modern, kita mengenal lembaga yudikatif—dan seturut dengan kajian kita,
kita membatasi hanya pada lembaga kepolisian. Lembaga kepolisian adalah lembaga
yang menjamin peraturan tetap tegak dan kita dapat menjadi sahabat bagi yang
lain. Karena itu, The Police bilang “I’ll be watching you.” Siapakah ‘you’? Tak
lain adalah ‘warga negara’, individu, seorang pribadi yang pada suatu saat
melorotkan martabat dari sahabat menjadi serigala. The Police berperan
memulihkan martabatnya sekaligus memulihkan keyakinan warga negara lain bahwa
institusi yang memberadabkan mereka adalah dapat diandalkan.
Sekarang,
jika kau mendengar kembali lagu The Police, inilah sesungguhnya motif
berdirinya institusi kepolisian, mengawasi dengan penuh kerinduan agar martabat
manusia sebagai sahabat tidak melorot menjadi serigala. (Sejujurnya, saya mau
bilang: “Ah, kau hanya mengada-ngada saja.” Tetapi, mendengar penjelasannya,
saya mengurungkan niat untuk membantah.)
3.
Setelah temanku
mengutarakan pandangannya, aku bertanya: “Lantas, bagaimana kau menjelaskan
kata ‘baby’? Bukankah itu berarti ‘sayang’ dan mengacu pada konteks
‘percintaan’? Ia diam sejenak lalu berkata:
4
Pertama, aku
nyatakan apa yang aku lakukan bukan ‘menjelaskan’, melainkan ‘menafsir’. Dua
hal itu berbeda—dan, maafkan aku jika enggan menjelaskan hal ini sekarang.
Kedua, aku tidak
akan secara langsung menjawab pertanyaanmu, melainkan memberimu pertanyaan,
demi menjawab pertanyaanmu sendiri: Kira-kira, menurutmu, siapakah yang
mengucapkan lirik itu: the police
atau citizen? Jika kau sudah
menemukan jawabannya, pertanyaan berikut adalah: lantas kepada siapakan lirik
itu diucapkan: kepada the police atau
citizen? Jika menurutmu yang
mengucapkan lirik itu the police,
maka yang menerimanya adalah citizen.
Jika menurutmu yang mengucapkan lirik itu the
citizen, maka yang menerima adalah the
police.
5.
(Jujur saja,
setiap kali saya bertemu dengan cerita ke-tujuh dari teman saya, selalu saja
saya merasa: ia adalah orang yang menyenangkan. Kadang saya merasa ia adalah The Police dan saya adalah Citizen; tetapi tak jarang ia menempati
diri sebagai Citizen dan saya sebagai
The Police. Dan sesungguhnya, saya
lebih menyenangi 6 ceritanya yang memuat masalah pribadinya. Semoga saja, suatu
saat, saya dapat menuliskannya dan membagikannya kepada The Police/Citizen.)
[1] Kira-kira, terjemahan bebasnya (tentunya
dengan bantuan google translator—sahabat
saya, yang tinggal di benua Amerika pernah memanfaatkan instrumen ini untuk
menerjemahkan bahasa Inggris-Amerika ke dalam bahasa Indonesia):
Tiap
kali kau menghirup nafas/Tiap kali kau bergerak/Tiap kali kau bertingkah/Gua
ngeliat elo.
Di tiap pagi/Di tiap kata/Di tiap gaya/Di
tiap malammu/Gua ngeliat elo.
Tak bisakah kau liat/Kau milikku/Dan hatiku
duka/di tiap langkahmu, aku penuh luka (bagian ini memang agak sedikit
di-Chairil Anwar-kan, barangkali karena orang Indonesia, yang senang
memperingati hari kematian, akan mengenang Chairil Anwar di hari kematiannya.)
Tiap kau bergerak/Di tiap kata terucap/Di
tiap gaya/Di tiap malammu/Hanya gue yang ngeliat elo.
Sejak kau pergi, aku sesat kehilangan
jejak/Di tiap mimpi malamku/ndilalah wajahmu yang muncul/Aku cari ke sana dan
di mari (‘di mari’ adalah frase orisinal dari Betawi)/cuma kau yang tak terganti/Aku meriang dan butuh pelukanmu/Selalu aku
menangins, memanggilmu…
Di tiap gerakmu/Di tiap kata-katamu/Di tiap
senyummu/Di tiap denyutmu/Aku ada di situ.
Fragmen Saya dan Dua Teman Saya
Teman kedua, teman pertama dan saya. Ketika teman kedua saya bicara, teman
pertama saya (dia yakin filsafat tidak pernah keliru) berkata, “Meski sulit
dimengerti, mengatakan hal-hal filosofis lebih baik daripada mengatakan hal-hal
yang tidak filosofis.” Teman kedua (dia yakin filsafat dekat berkata, ”Nah, apa
yang kau dengar tadi, itulah yang kumaksud dengan omong kosong.” Mendadak saya
menjadi orang ketiga (kalau Levinas [dia ini, filsuf yang religius, kerennya: negative-theology philosopher] akan
bilang: The Third.).
Fragmen Filsafat
Kelas filsafat. Seorang
guru (ia senang dan sudah lama mengajar filsafat) berkata, “Herakleitos
menyatakan, Anda tidak akan pernah
melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.” Ada murid (baginya, filsafat
menyebalkan dan penuh bual) bertanya, “Ah, darimana Herakleitos tahu, sungai
itu adalah sungai yang sama?” Si guru menjawab, “Karena memang tidak ada sungai
yang sama, maka Anda tidak akan pernah
melintasi sungai yang sama sebanyak dua kali.”
FRAGMEN NEGARA
Aristoteles menyimpulkan tiga syarat negara: 1) ada wilayah, 2) ada penduduk dan 3) ada konstitusi. [Kalau Anda tak percaya, silahkan baca saja bukunya yang terkutuk dan menyebalkan yang berjudul: Politics.] Tapi, Carl Schmitt bilang dengan gampang: Kalau semua orang baik, maka buat apa negara. [Bagi saya, pernyataan Carl Schmitt itu: lucu sekaligus kejam! Percayalah, hanya Jocker dalam The Dark Knight (2008) sajalah yang mampu menampilkan paduan antara badut dan pembunuh.] Teman saya, seorang yang pemalu dan luar biasa cerdas, menyukai kisah-kisah dari dunia klasik, semisal Illiad, Mahabharata (menurutnya, “…hanya buku-buku yang begitulah yang mampu merendahkan kedahsyatan pemikiran filsafat.”) bilang, “Syarat negara itu tiga: pertama, ada orang baik; kedua, ada orang jahat; terakhir: ada konstitusi yang menentukan siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku.” [Setelah dia selesai bicara, saya bilang: Kalau begitu, Negara itu hidup karena definisi? Teman saya itu tidak menjawab, dan hanya terus membaca Republic karangan Platon, khususnya buku III, yang bicara tentang musik.]
Fragmen Filsafat
Kelas filsafat. Seorang murid bertanya: “Bagaimana jika Platon dan Aristoteles keliru?” Guru sempat diam—barangkali ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang demikian setelah lebih dari 40 tahun mengajar filsafat (mungkin juga sekaligus ‘ber’-filsafat)—kemudian, setelah menarik napas yang berat, ia berkata, “Maka, kita dapat mengkritik mereka—sekalipun kita tak bisa keluar dari jalan yang sudah pernah mereka lalui.”
Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga
Ini adalah hal yang paling serius yang pernah saya buat (Anda, Pembaca, dapat juga membacanya demikian: Tulisan yang berjudul ‘Saya dan Filsafat tentang Anda yang Paham karena Semoga’ adalah tulisan singkat serius yang pernah saya buat, entah dengan susah payah atau mengada-ada), sehingga untuk memahaminya, Anda harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang cukup (meski apa yang saya maksud dengan ‘cu-kup’ masih sangat problematis) akan filsafat modern dan pasca-modern (ah, tentunya saya dan Anda tidak perlu berdebat tentang apa yang dimaksud dengan ‘pas-ca-mo-de-ren’):
Sesungguhnya, pertama-tama, filsafat bukanlah upaya mencari (dan kemudian, jika Tuhan mengizinkan—sebab, “Manusia berencana, Tuhan menentukan”—maka ‘upaya mencari’ akan berujung pada ‘menemukan’; dan, sekali lagi saya ingatkan peristiwa ‘menemukan’ hanya terjadi karena ‘Tuhan menentukan’) kebenaran, melainkan upaya menyelidiki atau memeriksa Kebenaran. (Saya harap Anda sudah paham, sebab masih ada yang mau saya sampaikan,) dan upaya menyelidiki Kebenaran hanya dapat berlangsung dalam ”Tuhan berencana, Manusia menentukan” (untuk yang terakhir ini, saya benar-benar tidak mengerti apa yang hendak saya sampaikan, dan saya pun tidak berharap ada di antara Anda, Pembaca, dapat memahami apa yang bagi saya sendiri tidak dapat saya pahami.).
[Setelah selesai menuliskan tulisan singkat serius ini, saya kembali membaca dan melakukan perubahan dan perbaikan di sana-sini—namun (saya bersyukur sekaligus menyayangkan), saya tidak dapat memberikan kepada Sidang Pembaca (saya harap Anda paham mengapa para penulis, entah karena kesantunan atau kebiasaan—sejujurnya, saya selalu curiga dengan ‘kesantunan’ dan ‘kebiasaan’—selalu menggunakan frasa ‘Sidang Pembaca’ dalam pengantar tulisan. Ah, tepat sekali jawaban Anda, ‘Sidang Pembaca’ adalah frasa yang menunjukkan otoritas penilaian atas kualitas suatu tulisan adalah ‘Pembaca’, tentunya setelah melalui proses-‘Sidang’.) tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu. Tapi, percayalah, Sidang Pembaca yang terhormat, Anda dapat mengetahui tulisan hasil perubahan dan perbaikan itu—hanya saja…, ah, lebih baik tak saya beritahukan apa alasannya. Semoga Anda, Sidang Pembaca yang terhormat, dapat memahaminya. Terima kasih.]
Satu Paragraf tentang Kepergian Franky
Barangkali, kedekatanku secara emosional dengan Franky diperantarai oleh Gus Dur. Pernah suatu ketika, Franky mengisi acara peringatan wafatnya Gus Dur. Dari panggung yang berada di tengah Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Franky mengajak semua orang yang hadir dalam peringatan bernyanyi, “Gus Dur-ku sayang, pahlawanku.” Bagiku, lirik yang tampak biasa tampil sebagai sesuatu yang tak biasa. Franky berhasil menempatkan metafora ‘pahlawan’ yang ia sematkan ke sosok Gus Dur menjadi ‘sahabat’. Ia mampu menempatkan Gus Dur sebagai sosok yang jauh—bukankah ‘pahlawan’ identik dengan hal ideal?—sekaligus dekat, bukankah sahabat adalah orang yang menghabiskan hidupnya dengan selalu berada di dekat kita?
Kabar kematian Franky mengejutkanku. Di tengah ungu duka, siapa pun paham—ucapan “Selamat jalan...” adalah puisi panjang dan begitu mendalam.
Ecce Nietzsche
Fatum. Takdir. Chairil—seorang temanku yang berkepala botak dan menyimpan jendela sekolah yang rusak, lampu disko, kitab suci, tanda seru, gonggong anjing, hingga kabar duka dalam tengkorak plontos itu suka memanggil dia dengan sebutan: Anwar—menulis: nasib adalah kesunyian masing-masing.
Fatum. Takdir. Nietzsche—seorang temanku, selalu saja beku mendiam setiap kali ia mendengar nama itu. “Amor fati.” Puncak filsafat, demikian dia bicara, adalah ketidakpastian—paling tidak, adanya secercah kesadaran akan ketidakpastian. Ketika aku bertanya: apakah itu keraguan. Dia hanya menggelengkan kepala. Sampai sekarang aku tidak tahu apa makna gelengan kepala itu. Apakah hendak berkata, “Bukan itu,” atau “Engkau tidak akan mengerti,” atau “Usaha mencari penjelasan adalah sia-sia,” atau…,—tetap saja aku tak bisa menjawab.
Fatum. Takdir. Seorang temanku yang lain—meski ia tak pernah menyebutkan nama dirinya, persahabatan kami tetap berlangsung hangat tanpa beban kecurigaan—bilang, “Agar kita sampai pada situasi buruk yang tak terelakkan, biarkanlah itu menjadi tugas takdir.” Aku mendengar kalimat itu sebagai kesempurnaan. Hingga, suatu ketika ia menambahkan kalimat lain atas kalimat yang pernah ia ucapkan kepadaku di masa lalu: “Keputusan, barangkali, juga… pikiran, kita, manusia, itu persiapan, ya persiapan untuk menghadapi sesuatu, hmmm…, atau tepatnya situasi, situasi yang buruk.” Ia menarik nafas panjang dengan susah payah, “Tragedi,” sambil menutup mata seakan hendak tidur. Setelah itu, percakapan antara aku dan dia berlangsung dalam hening kenangan dan airmata.
Fatum. Takdir. “Nasib adalah kesunyian masing-masing—barangkali, sebuah kesia-siaan yang berakar pada tragedi.” Aku hanya menatap sepi jalanan kota, lampu jalan yang menyala malas, dan seekor kucing dengan mata menantang!
FRAGMEN KOPI
saya pikir: kita perlu kopi agar hidup tidak terlalu horor
dia pikir: kita perlu kopi karena teh punya keterbatasan
dia pikir: kita perlu kopi karena teh punya keterbatasan
Subscribe to:
Posts (Atom)