sejarah kamera saya

saya mau beli
kamera. saya mau potret jejak
1908 dan tahun tahun sebelumnya. saya mau
beli sepeda. saya mau tahu aspal
1908 tahun kemudian setelah reformasi saluran air
di depan istana. saya mau
beli celana. saya mau melihat presiden sembunyi di kamar
mandi sampul buku agama. saya mau
tidak mau beli. saya tidak mau pada mau
saya. bukan saya mau. Titik.

yang direndahkan enam tahun lalu, facebook

sumber: http://images.fineartamerica.com/


"Kalau memang tuh Kitab Suci tidak salah, mengapa kamu khawatir? Trus, kalau memang tuh Tuhan Mahamulia, mengapa pula kamu khawatir Ia bisa direndahkan?" Begitu tulis kawan saya (sejak enam tahun lalu ia putuskan tak lagi gunakan facebook dan twitter) saat mengomentari diskusi sengit pada grup whatsapp yang saya dilibatkan di dalamnya.  

Sajak Mantra

                                                 sumber gambar: wikipedia 


Mantra
--Mata Tenggala

engkau melihat aku sebagai kesia-siaan setelah matahari dan segala hal di atas bulan terpahami sebagai warna dan notasi matematika
engkau melihat aku sebagai ketiadaan setelah panca indera dan cerita cerita gila terpahami sebagai dua kutub saling menunda
engkau melihat aku sebagai tubuh setelah akal dan orang-orang tak kita kenali itu terpahami sebagai ngilu tanpa hari minggu
engkau menatap aku sebagai kamu setelah sejarah dan napasmu membiru terpahami sebagai hulu pada setiap ibu

A Mathematician’s Apology


The study of mathematics is, if an unprofitable, a perfectly harmless and innocent occupations.
G.H. Hardy (1877-1947)

A Mathematician’s Apology merupakan esai yang ditulis oleh matematikawan Oxford, Inggris, G.H. Hardy demi mempertanggungjawabkan dua hal mendasar. Pertama, posisinya sebagai matematikawan yang menulis apologia. Kedua, posisi matematika sebagai ilmu yang menempati posisi lebih utama dari filsafat, secara spesifik, metafisika, dan fisika.

Apologi pertama menyangkut posisi Hardy sebagai matematikawan yang menulis apologia. Menurut Hardy, hal ini perlu dipertanggungjawabkan karena, alih-alih menulis apologia, pekerjaan utama matematikawan adalah “membuktikan teorema-teorema yang baru, menambahkan topik baru dalam matematika, dan bukan berbicara tentang pencapaian matematikawan pada masa sebelum.” Sekiranya hal-hal itu adalah pekerjaan utama matematikawan, maka apa yang dilakukan Hardy dengan menulis apologia adalah merendahkan dirinya sendiri, menempatkan dirinya sekelas dengan apa yang disebutnya sebagai “nalar kelas-dua”, nalar yang bekerja dalam diri “orang-orang yang menghasilkan eksposisi, kritik atau apresiasi atas suatu karya seni atau pemikiran manusia.” Tentu saja, Hardy bukanlah orang dengan “nalar kelas-dua,” sebagaimana saya yang menulis kilas-pandang atas kitab A Mathematician’s Apology. Hardy adalah orang dengan “nalar kualitas-unggul”.

Sekiranya Hardy adalah orang dengan “nalar kualitas-unggul”, lantas apa alasannya sehingga ia rela menurunkan kelas menjadi “nalar kelas-dua”? Alasannya: usia. Saat menulis A Mathematician’s Apology pada 1940, tujuh tahun sebelum ia meninggal dunia pada 1 Desember 1947, Hardy menapak usia 63 tahun. Apa yang berharga di balik usia itu tidak lain adalah “kesegaran pikiran, enerji, kesabaran menanggung beban pekerjaan.” Hardy berani menegaskan demikian, “Seharusnya, tak satu matematikawan pun yang membiarkan dirinya lupa bahwa matematika, lebih dari ilmu apa pun, adalah mainan bagi orang muda.”

Matematikawan tidak dapat melawan usia tua. Bahkan, matematikawan-cum-fisikawan Isaac Newton pun punya masa keemasan. Gagasan-gagasan besarnya, yang terkenal: hukum gravitasi, lahir pada saat Newton berusia 24 tahun—dan ceritanya menjadi lain ketika Newton berusia 50 tahun. Sekiranya tak sempat menginjak usia senja, pilihan lain bagi matematikawan yang brilian adalah mati. Kolega karib Hardy, matematikawan genius dari India, Srinivasan Ramanujan, wafat pada usia 33 tahun; lainnya, Riemann wafat pada usia 40, Abel wafat pada usia 27 tahun dan Galois wafat pada usia 21 tahun. Sejauh apa pun ambisi para matematikawan, usia adalah hal yang tidak bisa dilawan.

G.H. Hardy (1877-1947)

Apologia kedua berkenaan dengan posisi matematika sebagai ilmu yang menempati posisi lebih utama dari filsafat qua metafisika dan fisika. Sebelum memberi pertanggungjawaban akan hal itu, Hardy terlebih dahulu menjelaskan apa yang dicari matematikawan. Bagi Hardy, tugas utama matematika adalah menemukan (i) teorema yang tidak hanya berkualitas (ii) “serius” namun juga (iii) “mendalam.” Teorema adalah pernyataan yang sudah terbukti dengan berdasarkan pada pernyataan sebelumnya. Misalnya, teorema Phytagoras sudah terbukti dengan pertanyaan menyangkut luasan bujursangkar. Kriteria “serius” menyangkut kualitas persoalan yang ditangani. Bagi Hardy, persoalan matematika “serius” lebih bernilai dari pada sekadar pemecahan masalah sebagaimana yang ditemukan dalam permainan catur. Persoalan catur memang menawarkan kepelikan tersendiri; namun hal itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan matematika—ke-“serius”-an persoalan matematika terletak pada daya kreativitas matematikawan menggunakan ide-ide dasar matematika demi menemukan realitas [matematika]. Kriteria “mendalam” mengacu kepada ke-dalam-an gagasan yang dipergunakan. Hardy memberikan ilustrasi demikian tentang hal ini: “gagasan bilangan irasional lebih mendalam dari pada integer; teorema Phytagoras, karena itu, lebih mendalam dari Euklid.”

Matematikawan menemukan teorema yang “serius” dan “mendalam” dengan menggunakan gagasan (ideas), yang mewujud sebagai angka atau bangun-ruang. Penataan gagasan-gagasan secara koheren demi membuktikan suatu teorema juga menuntut adanya keindahan pada argumen yang disajikan. Di sinilah, Hardy melihat kemiripan antara matematikawan, penyair dan musisi: ketiga mencari keindahan di mana keindahan itu lahir kecintaan pada pola. “Matematikawan, sebagaimana pelukis atau penyair, adalah pembuat pola. Sekiranya pola-pola mereka lebih permanen daripada mereka sendiri, hal itu karena pola-pola itu terbuat dari gagasan-gagasan.”

Dari pekerjaan yang dilakukan, Hardy menunjukkan kualitas yang mesti ada dalam diri setiap matematikawan. Matematikawan adalah orang yang bersedia mengembangkan nalarnya hingga mencapai kualitas unggul atau genius. Untuk itu, seorang yang bertalenta dalam bidang matematika mestilah memiliki (i) keingintahuan intelektual, hasrat menemukan kebenaran, (ii) kebanggaan akan profesi yang dipilihnya, (iii) tidak lekas berpuas diri atas apa yang telah dicapai, (iv) malu sekiranya apa yang dihasilkan tidak setara dengan talenta yang dimiliki dan (v) memiliki ambisi, entah demi reputasi, posisi, atau pundi finansial—bahkan, Hardy menyatakan: “ambisi senantiasa menjadi tenaga penggerak di balik hampir semua maha karya yang ada di dunia.” Hardy sama sekali tidak menekankan tentang motif kemanusiaan yang bekerja di dalam diri seorang matematikawan—suatu motif yang tampak nyata dalam ilmu-ilmu agama, filsafat, bahkan aktivisme sosial.

Kesadaran akan “bahan baku” dan “hasil akhir” dari matematika adalah dasar argumentasi Hardy membuktikan keunggulan matematika dari filsafat qua metafisika dan ilmu fisika. Pertama, dari sudut permanensi. Dibandingkan dengan fisika, pengetahuan matematika lebih permanen atau lebih tetap. Hal ini dikarenakan fisika masih mengandalkan observasi inderawi; ada pun matematika tidak mengandalkan observasi inderawi. Matematika memberi ruang bagi penggunaan observasi inderawi—namun, hal itu sebatas metode pengajaran, bukan substansi matematika itu sendiri. Kedua, dari sudut kegunaan. Berbeda dari filsafat, secara khusus metafisika, Hardy menilai matematika lebih berguna. Kegunaan matematika tampak dalam matematika terapan (applied mathematics); wilayah yang berbeda dari matematika murni (pure mathematics). Metafisika, bagi Hardy, tidak memiliki kegunaan praktis. Tentu saja, kita tidak perlu tahu apa itu konsep “ada” (being) atau “keberadaan” (existence) sewaktu berbelanja—namun, kita mestilah tahu berapa 100 ribu dikurangi 30 ribu sewaktu berbelanja, dan itu adalah matematika. Ketiga, ilmu lain membutuhkan matematika. Tampaknya keberhasilan ilmu-ilmu lain, semisal fisika, kimia, biologi, fisiologi, ekonomi, dst., mensyaratkan campur tangan matematika. Tanpa matematika, ilmu bersangkutan akan kehilangan kualifikasi sebagai ilmu—barangkali, dapat terkategori dalam filsafat atau agama.

Keempat, realitas matematika itu lebih nyata daripada realitas fisika. Prima facie realitas fisika lebih nyata dari realitas matematika. Namun sekiranya diperhatikan lebih cermat, kursi yang ada di hadapan kita, dari sudut pandang fisika, tidak lain adalah elektron yang mengorbit di dalam ruang hampa. Persis di saat kita menyadari hal ini, maka pengetahuan kita akan realitas fisika sebagai realitas yang terobservasi secara indrawi terguncang. Realitas fisika tidak lain adalah ketiadaan. Hal ini berbeda dari realitas matematika. Realitas matematika, menurut keyakinan Hardy, berada di luar diri—Hardy menegaskan bahwa alih-alih mengikuti pandangan ‘idealistik’, ia meyakini pandangan ‘realistik’ akan matematika.

Kelima, dari sudut ada/tidaknya kekerasan (harmness). Tidak seperti filsafat dan fisika yang berpotensi menghasilkan kekerasan—kita saksikan bagaimana filsafat Nietzsche melatari pemikiran Adolf Hitler yang berdampak pada holocaust; kita juga saksikan bagaimana formulasi fisika nuklir berdampak pada kematian jutaan orang di Hiroshima dan Nagasaki—matematika murni tidak mengandung kekerasan. Matematika murni adalah matematika yang tidak memiliki kegunaan praktis, sepenuhnya daya kreatif matematikawan untuk menemukan teorema yang “serius” dan “mendalam”. Hardy menyatakan demikian, “Matematika sejati tak menghasilkan perang.” 

Pada akhir apologianya, dari sudut kegunaan praktis, Hardy sadar bahwa dedikasi hidup pada matematika adalah kesia-siaan. Entah disadari atau tidak, Hardy telah menyelipkan pertanyaan mendasar bagi orang-orang yang hidup di zaman kapitalisme-akhir (late capitalism): apakah pengetahuan (knowledge) atau ilmu (science) diukur semata-mata dari kegunaan praktis? Hardy—entah sebagai perwujudan sikap egoistik atau malah kerendah-hatian—menyatakan demikian: “The case for my life…is this: that I have added something to knowledge, and helped others to add more; and that these somethings have a value which differs in degree only, and not in kind, from that of the creations of the great mathematicians, or of any of the other artists, great or small, who have left some kind of memorial behind them.”

Aniaya (Violence): Momen Lenyapnya Kepekaan (Sensibility)




Sejak tragedi WTC 11 September 2001 lalu, kekerasan atas nama agama menjadi tema penting dalam diskursus di ruang publik. Lagi-lagi, dengan terjadinya peristiwa bom bunuh diri di Mapolresta Solo, Jawa Tengah, pada 5 Juni lalu, tema kekerasan atas nama agama kembali menjadi bahan diskursus di ruang publik. Bahkan, terkadang, diskursus tentang kekerasan atas nama agama, entah diniatkan atau tidak, seakan-akan terarah pada kesimpulan bahwa agama, itulah yang menjadi akar kekerasan. Artikel ini ditujukan untuk membantah kemungkinan kesimpulan seperti. Tesis yang saya ajukan dalam artikel ini adalah (i) kekerasan bukanlah gejala khas di dalam agama, namun juga gejala yang dapat ditemukan di kalangan anti-agama, (ii) dengan demikian, akar kekerasan bukanlah agama, melainkan pada bentuk cara mengada manusia (mode of being of human being) itu sendiri.

Kekerasan Ateistik
Sekiranya kita melihat fakta historis, mustahil membantah bahwa kekerasan juga dilakukan oleh kelompok anti-agama. Dalam artikel ini, pengertian anti-agama mengacu kepada orang atau kelompok yang meyakini kebenaran pandangan ateistik. Ada pun pengertian agama mengacu kepada orang atau kelompok yang meyakini kebenaran pandangan teistik. Secara historis, kekerasan ateistik dilakukan oleh Liga Ateis Militan, suatu organisasi bentukan Partai Komunis Sovyet.

Pada 1925, Partai Komunis Uni Sovyet mendukung pembentukan Liga Ateis Militan. Organisasi yang dirancang untuk melakukan propaganda anti-agama itu dikomandani oleh Yemelyan Yaroslavky (1878-1943). Kebutuhan propaganda anti-agama diperlukan karena, setelah Revolusi Oktober 1917, ternyata Bolshevik bukanlah satu-satunya kekuatan di Rusia. Selain Bolshevik, Gereja Ortodoks Rusia sebagai representasi agama masih mendapat tempat yang popular di kalangan rakyat. Liga Militan Ateis meyakini bahwa perjuangan membentuk masyarakat sosial meniscayakan perlawanan terhadap kekuatan agama. Tujuan akhir dari Liga Militan Ateis adalah memberantas peran Gereja Ortodoks Rusia, baik dalam rangkaian keyakinan ataupun praktik, dalam kehidupan publik.

Sebelum munculnya Liga Ateis Militan, Gereja Ortodoks Rusia memiliki 100 juta pengikut, sekitar 100 ribu klerus, 40 ribu paroki, 130 uskup dan lebih dari 100 biara. Setelah Liga Militan Ateis berdiri dan beroperasi di Rusia—dengan menyebarkan propaganda anti-agama, meledakkan gereja, lalu memenjarakan, mengasingkan hingga mengeksekusi pada padri Ortodoks; pada 17 Februari 1938, sebanyak 55 padri Ortodoks dieksekusi—kondisi pun mengalami perubahan. Menjelang Perang Dunia II, jumlah klerus yang ada 6.376 dan 950 paroki yang berfungsi.

Kekerasan sebagai Salah Satu Bentuk Cara Mengada Manusia
Sekiranya kekerasan adalah gejala yang tidak hanya ditemukan pada hal-hal yang berkenaan dengan agama, namun juga dapat ditemukan pada hal-hal yang anti-agama, maka kekerasan sesungguhnya dapat dipahami sebagai gejala khas dari cara mengada manusia. Gejala kekerasan itu tidak dapat kita temukan dalam kehidupan anorganik seperti batu, juga kehidupan organik seperti tumbuhan, ikan, kadal, atau juga harimau.

Dari sudut pandang Emmanuel Levinas (1906-1995), ada dua bentuk cara mengada manusia, yaitu (i) relasi kekerasan dan (ii) relasi etis. Secara sederhana, relasi kekerasan adalah relasi intersubyektivitas yang ditandai oleh perlakuan sewenang-wenang terhadap liyan atau orang lain. Adapun relasi etis adalah relasi intersubyektivitas yang ditandai oleh sikap tanggungjawab tanpa batas kepada liyan atau orang lain. Relasi kekerasan berakar pada cara pandang subyek yang bersifat epistemis dan politis, memandang orang lain semata-mata melalui abstraksi dan dalam kerangka totalitas. Cara pandang yang demikian mengabaikan keunikan liyan—pada hakikatnya, liyan senantiasa tidak terpahami oleh subyek. Relasi kekerasan berakar pada kelupaan subyek pada keberadaan liyan sebagai hal yang-konkret yang hadir di hadapan subyek. Dalam relasi kekerasan, subyek mengenali liyan melalui konsep, melalui daya kognitif; ada pun dalam relasi etis, subyek mengenali liyan melalui wajah (le visage, face), melalui kepekaan (sensibility). 

Epilog

Syarat niscaya bagi adanya kekerasan adalah cara mengada manusia, secara khusus relasi intersubyektitas yang mengabaikan keberadaan liyan sebagai hal yang-konkret. Ada pun agama, ras, struktur ekonomi-politik, ambisi politik, hingga barangkali sains merupakan syarat cukup yang berfungsi menjustifikasi kekerasan, yang sialnya kadung dikenali sebagai sarana pembebasan individu ataupun kolektif demi membentuk tatanan masyarakat yang baru. Adanya kekerasan mengingatkan kita bahwa sesungguhnya manusia, diam-diam, ternyata telah kehilangan aspek mendasar dari kehidupannya di dunia, yaitu kepekaan (sensibility). 


[sumber gambar: https://thecharnelhouse.org/2013/03/01/soviet-antireligious-propaganda/]

Agama, Realisme Epistemologis dan Akal Sehat—Catatan Kecil tentang “Ahok: Politik Akal Sehat”



Barangkali sekitar tiga jam saya luangkan untuk membaca “Ahok: Politik Akal Sehat” karya Meicky Shoreamanis Panggabean. Tentunya, hal itu dimungkinkan karena gaya penulisan dan bahasa-bahasa yang dipergunakan penulis begitu sederhana, ringkas, serta mengalir. Ya.., ini memang pilihan penulis yang menetapkan target pembaca buku ini adalah siswa-siswa sekolah menengah atas. Kita boleh saja menebak-nebak apa yang ada di dalam isi kepala penulis sehingga menetapkan target demikian. Meski tergolong “ringan”—barangkali, setelah Anda membaca buku “Ahok”, Anda dapat memahami apa yang saya maksud dengan “ringan”—diam-diam, setidaknya dari sudut pandang saya, buku berbicara tentang dua tema besar, agama dan realisme di mana keduanya berujung pada akal sehat. Saya akan berbicara tentang kedua hal itu satu per-satu, kemudian hal terakhir akan menjadi kesimpulan.

Ragam kesaksian yang disampaikan penulis dalam buku “Ahok” mengarahkan pembacaan saya pada kesimpulan bahwa agama masih merupakan sumber inspirasi bagi aktivitas politik di Indonesia, tanpa terjatuh kepada gerak fundamentalisasi agama. Kejernihan agama dalam membedakan antara hitam dan putih—suatu kejernihan yang tampaknya sulit diimbangi oleh pertimbangan utilitarian yang kerap kali mewarnai proses tawar-menawar di dalam politik.

Dikisahkan, pada halaman 261-262, Ahok yang saat itu tengah mengikuti pemilihan Gubernur Bangka Belitung pada 2007 berpeluang menjadi gubernur terpilih sekiranya ia bersedia menyogok MA senilai Rp50 miliar demi memenangkan gugatan dalam pemilukada itu. Di tengah kegalauan memutuskan suap atau tidak, Ahok bertanya kepada istrinya, Veronica Tan, apakah mereka menyuap atau tidak. Terhadap pertanyaan itu, Veronika mengajukan jawaban, “Terserah lu. Lu mau jadi murid Yesus apa murid Barabas.” Dalam tradisi agama Kristen, Yesus adalah kebenaran mutlak, juga kebaikan mutlak; ada pun Barabas berada pada posisi yang berbeda. Hasilnya: Ahok mengikuti teguran Veronika.

Selain kisah di atas, yang dari sudut pandang saya menarik, pada bab kedua “Sebuah Puzzle Bernama Ahok” terdapat satu sub-bab yang ditulis sepanjang 21 halaman di bawah judul “Ahok dan Kekristenan”. Bagian itu merupakan sub-bab terpanjang kedua di dalam buku ini; sub-bab terpanjang pertama, 37 halaman, yaitu “Taat Konstitusi, Bukan Konstituen” yang ada pada bab pertama, “Mengenal Politik Akal Sehat Seorang Basuki Tjahaja Purnama (BTP)”. Entahlah, saya tidak tahu, apakah memang diam-diam, tanpa disadari, buku ini juga hendak mempromosikan bahwa agama masih dapat diselaraskan dengan politik—tentu saja penyelarasan itu terjadi melalui adanya akal sehat. Melalui akal sehat, Ahok mampu memadukan kejernihan inspirasi dari tradisi Kristen yang memberikan orientasi dalam berpolitik dengan ketajaman intuisi demi mengambil keputusan yang cepat dalam gerak politik kebijakan yang berlangsung dinamis. Akal sehat memungkinkan Ahok menempatkan secara proporsional argumen agama dan argumen nalar—dan bahkan Ahok sesungguhnya lebih mengedepankan argumen nalar di ruang publik, daripada argumen agama.

Hal berikutnya adalah realisme, tepatnya realisme epistemologis. Secara filosofis, realisme epistemologis berisi dua keyakinan pokok, yaitu (i) realitas eksis di luar pikiran dan (ii) realitas itu dapat diketahui oleh pikiran melalui model tertentu. Dalam buku “Ahok”, dua tokoh menyinggung perihal sikap realisme ini, yaitu Seno Gumira Ajidarma dan B. Herry Priyono. Titik tolak pembahasan adalah keputusan Ahok memilih jalur partai daripada jalur independen. Realitas politik tidak semata-mata ditopang oleh pengutamaan nilai-nilai etis, sebagaimana yang diyakini oleh para moralis politik—namun juga ditopang oleh pertimbangan situasional demi mencapai tujuan, sebagaimana yang diyakini oleh para realis politik. Sederhananya, politik senantiasa berada dalam tegangan—pada satu kutub terinspirasi pada keluhuran cita-cita masyarakat beradab dan adil, pada kutub lainnya ambisi meraih kekuasaan. Persis di tengah tegangan keluhuran cita-cita dan geliat situasi politik yang mendadak berubah total—partai-partai mendadak bersedia mendukung Ahok tanpa syarat, Ahok memutuskan memilih jalur partai sebagai jalan mendapatkan tiket dalam kontestasi pemilihan Gubernur DKI yang akan datang. Ajidarma menyimpulkan: Ahok adalah seorang realis. 

Dari sudut pandang saya, realisme epistemologis memungkinkan kita mengenali Ahok dan mendukung Ahok secara wajar. Realisme epistemologis, mengutip istilah Priyono, mampu membebaskan pendukung Ahok dari sikap karikatural. Sikap karikatural berarti melihat Ahok sepenuhnya tanpa kelemahan, tanpa sisi gelap—Ahok kerap dikenali sebagai jawaban mutlak tidak hanya bagi persoalan Jakarta, namun juga persoalan Indonesia. Hal inilah yang disebut Ajidarma sebagai sikap utopis, sikap yang menempatkan realitas tidak lagi di luar pikiran, melainkan menempatkan realitas itu di dalam pikiran. Hasilnya: dukungan terhadap Ahok tidak lain adalah ekspresi dari kecintaan pada diri sendiri—barangkali inilah yang kita namakan lovers. Konsekuensinya: setiap kritik yang diajukan terhadap Ahok, sejauh menyangkut kebijakan politik yang diambilnya, akan dipandang sebagai gugatan terhadap diri atau personalitas pendukung bersangkutan. Persis di sini terjadi tragedi, tawaran politik akal sehat dari Ahok justru menjadi pepesan kosong di kepala para pendukungnya.

Terakhir, semoga saya tidak keliru dalam mengambil kesimpulan, politik akal sehat ditopang oleh dua pilar, yaitu (1) kejernihan dalam memilah hitam dan putih yang terekspresi dalam prinsip “Ketaatan pada konstitusi, bukan konstituen”—dan hal ini memiliki akar pada nilai dan tradisi agama, sekaligus (2) sikap realisme epistemologis, yang terekspresi dalam kalimat “walau disalah-pahami, biar sejarah yang akan membuktikan”.



sejarah dan suara

teman saya, ia sering mendengarkan rekaman-rekaman presiden-presiden di republik ini beri komentar ke saya, "Vid, suara Jokowi itu keknya kurang ngebass." teman saya, dari komentar-komentar yang diucapkan, menumbuhkan keyakinan dalam diri saya: sejarah tidak sepenuhnya ilmiah dan alamiah.

yang kedua setelah mengapa

sewaktu mengajar topik manusia dari sudut pandang Biblika, seorang mahasiswa bertanya, "pak, mengapa Tuhan menempatkan pohon pengetahuan baik dan buruk di tengah taman Eden?" kepada dosen. dosen itu sempat terdiam--agak lama. lalu--entah apa yang terjadi dalam dirinya, barangkali hanya Sang Pencipta Taman Eden saja yang tahu--dosen itu bilang, "saya punya dua jawaban. jawaban yang pertama, itu pasti menyebalkan. dan jawaban yang kedua tidak. mau tahu jawaban yang pertama?" tentu saja semua mahasiswa--karena hal ini berkenaan dengan Tuhan, siapa sih yang tidak pernah punya masalah sama Tuhan(?)--setuju mendengar jawaban pertama.

"mengapa Tuhan menciptakan pohon pengetahuan baik dan buruk, jawaban pertamanya: mengapa tidak?" dosen itu sedikit tersenyum--dan kami pun tertawa. tentu saja itu jawaban yang menyebalkan; namun juga menyenangkan. dan kami pun tidak mau tahu lagi tentang jawaban yang kedua. entah apa jawabannya.

keraguan teman yang sakti

Dalam obrolan di grup whatsapp, seorang teman menulis demikian: "Bukankah ketakutan kita terhadap komunisme, pelarangan terhadap Marxisme-Leninisme, adalah bentuk keraguan kita terhadap kesaktian Pancasila?"

Grief Observed: do I have faith in You?


Kedukaan adalah sebentuk penderitaan. Kematian orang terkasih adalah hal yang mustahil terelakkan dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia tentunya ditandai oleh adanya relasi sosial yang bersifat intim, dekat, serta hangat—saya mengenalinya sebagai relasi kasih. Persoalannya, dalam situasi kedukaan, apakah kita masih dapat berbicara tentang adanya kasih yang nyata—atau malah beralih, kasih dan juga kebahagiaan tidak lain adalah ilusi (?). Dunia tidak lain adalah air mata—dan segala hal yang dikenali sebagai kebahagiaan sesungguh bersifat ideologis, atau semu. 

Dalam Grief Observed, Clive Staples Lewis (1898-1963) bersaksi tentang kedukaan atau derita. Ia mencoba mengulas pengalaman duka yang mewujud dalam perasaan hampa (emptiness) yang seakan tanpa batas. Kehampaan yang melahirkan ketakutan akan hari esok yang tidak akan pernah sama dengan hari-hari yang pernah dilewatinya di masa lalu; juga meruyaknya rasa malas akut sampai-sampai ia merasa bernafas sebagai kesesakan sekaligus sesal; hingga pada akhirnya, melahirkan gagasan dalam benak bahwa sesungguhnya diri sudah tak lagi punya alasan untuk tetap menjalani kehidupan. Kematian istrinya, Helen Joy Davidman (1915-1960), menciptakan duka mendalam dalam kehidupan Lewis—tentang kematian, Lewis menulis demikian: “Death only reveals the vacuity that was always there.” (Lewis: 1996, 28). 

13 Juli 1960, Helen Joy Davidman meninggal dunia. Tiga tahun sebelumnya, pada 1956, Lewis menikah dengan Davidman, yang kala itu sudah memiliki dua orang anak dari perkawinannya terdahulu. Pernikahan yang membawa kebahagiaan bagi kedua pribadi ini ternyata tidak bertahan lama. Penyakit lama yang diidap Davidman kembali kambuh. Kanker. Hingga akhirnya, kanker tulang merengut nyawa H—demikian Lewis menulis inisial Davidman, yang terambil dari alfabet pertama nama istrinya, dalam Grief Observed. Bagi Lewis, kanker memiliki sejarah tersendiri. Ayah dan ibu meninggal dunia karena kanker. Kini, setelah tiga tahun merasakan hangatnya kebahagiaan cinta bersama H, Lewis harus menerima kenyataan: Davidman meninggal dunia, meninggalkan Lewis dengan segala kenangan tentang H yang mustahil lenyap. Maka, apa artinya kebahagiaan sekiranya, diam-diam, kedukaan menyelinap dalam setiap senyum dan tawa yang pernah dilalui oleh sepasang pribadi ini? Apakah Kekristenan—hal yang mempertemukan Lewis dan Davidman; sebab, sebelum konversi menjadi Kristen, keduanya adalah orang-orang yang berpikiran ateis—dapat menjawab persoalan ini? Apa makna kedukaan dalam diri orang percaya? 

“Talk to me about the truth of religion and I’ll listen gladly. Talk to me about the duty of religion and I’ll listen submissively. But don’t come talking to me about the consolations of religion or I shall suspect that you don’t understand.” (Lewis:1999, 25) Demikianlah Lewis menegaskan sikapnya kepada orang-orang yang berempati kepada dirinya setelah kepergian Davidman. Jawaban klise yang menyatakan bahwa ‘Davidman sudah bahagia bersama Tuhan’ bukanlah jawaban yang menenangkan batin Lewis. Ada hal yang lebih mendasar dari itu. Davidman telah meninggal dunia—dan Tuhan berada di balik semua itu. Maka Lewis pun mempertanyakan Tuhan. Masih mungkinkah kita menyatakan bahwa Tuhan itu baik dan di saat bersamaan, Ia yang adalah Mahabaik memanggil orang yang kita kasihi, mencampakkan kita dari kebahagiaan pada duka mendalam? Tidak hanya sampai di sini. Lewis melangkah lebih jauh lagi: “If it is consistent with hurting us, then He may hurt us after death as unendurably as before it.” (Lewis:1996, p.28) Benarkah Tuhan itu Mahabaik—dan sekiranya kita bertumpu pada pengalaman dan kesadaran, bukankah sesungguhnya Tuhan adalah Mahasadis?

Inilah hakikat kedukaan. Kedukaan adalah proses. Di dalam kedukaan, gagasan orang percaya tentang Tuhan digoncang. Goncangan yang muncul dalam wujud pertanyaan-pertanyaan atau gugatan-gugatan penuh amarah terhadap Tuhan sesungguhnya adalah jalan untuk menguji iman kita. Demikianlah Lewis menyimpulkan: “Only suffering can do.” (Lewis:1996, p.38). Kedukaan sebagai proses merupakan momen restorasi iman (restoration of faith)—momen bagi orang percaya mengetahui apakah imannya adalah rumah kertas atau batu karang. Persoalannya bukan lagi tentang Tuhan itu Mahabaik atau Mahasadis—sebab Lewis sudah yakin tentang hal itu sebagaimana yang dapat ditemukan dalam karyanya Miracle juga Mere Christianity—melainkan iman seperti apakah yang kita miliki. Lewis menulis: “God has not been trying an experiment on my faith or love in order to find their quality. He already knew it. It was I didn’t… He always knew that my temple was a house of cards. His only way of making me realize the fact was to knock it down.” (Lewis:1996, 52)

Dalam kehidupan orang percaya, kedukaan atau derita adalah jalan bagi iman untuk bertumbuh menjadi lebih tangguh. Iman yang bukan lagi terbentuk dari kertas, melainkan dari karang. Iman yang tidak hanya berdiam di kawasan tentram dan aman; melainkan iman yang setia dalam hantaman gelombang badai dan hujan. Salah seorang teman saya pernah berkata demikian: “Sekiranya engkau tak dapat menerima yang paling menyakitkan dari sahabatmu atau dari kekasihmu, tentunya engkau tidak siap untuk menerima hal yang paling membahagiakan dari mereka.” Kedukaan adalah kegelapan, kedukaan adalah lorong bawah tanah, kedukaan adalah labirin yang menakutkan—maka pertanyaannya bukan tentang mengapa ada kegelapan, melainkan: apakah kegelapan ini mampu melenyapkan terang dalam hati setiap orang percaya. Do I have faith in You? Inilah pertanyaan ultima dalam pengalaman duka yang dialami orang percaya.  

heart and ity

the purpose of religion is to teach human heart. human heart is the essence of humanity.

Catatan tentang Yang-Suci atau 10+1-nya Utami




Pada situs qureta (http://www.qureta.com/post/101-langkah-beriman-tanpa-homofobia), saya membaca tulisan Ayu Utami tentang homoseksualitas dan seksualitas. Dalam tulisan itu—seturut dengan pembacaan saya—Ayu mengajukan tiga tesis, yaitu (i) kisah Sodom bukanlah kisah tentang homoseksualitas, melainkan kekerasan seksual, (ii) hubungan seks sejenis bukanlah hal yang dibenarkan dalam Alkitab dan (iii) tidak ada kemuliaan atau hal yang suci dalam hubungan seks. Terkait metode, Ayu menggunakan metode—dalam bahasa saya—“membaca teks secara teliti dan jangan buru-buru menyimpulkan.” Tulisan ini saya tujukan untuk memeriksa argumentasi-argumentasi yang disampaikan Ayu dalam “10+1 Langkah Beriman tanpa Homofobia”. 

Untuk mempertanggungjawabkan tesis pertamanya, Ayu mengulas kisah Kejadian 18 & 19 secara kritis. Dari kisah tersebut, tidak ditemukan fakta bahwa adanya pesta orgy kaum gay dan adanya lelaki yang melambai. Kejadian 18 & 19 mengisahkan tentang dua orang malaikat yang mendatangi rumah Lot; kemudian Lot meminta mereka menginap; lalu di malam hari, orang-orang Sodom menggeruduk rumah Lot meminta secara paksa agar Lot menyerahkan mereka yang menginap di rumahnya untuk dipakai atau diperkosa; Lot menanggapi dengan jalan menawarkan dua putrinya; penggeruduk rumah Lot tidak setuju, memaksa masuk ke rumah Lot; akhirnya, Lot diselamatkan dua malaikat itu—dan Sodom pun hancur. 

Sepintas, argumentasi pertama Ayu sound. Konklusi kisah Sodom bukanlah kisah homoseksualitas, melainkan kekerasan seksual ditopang oleh evidensi (i) orang-orang Sodom mau memperkosa dua orang yang menginap di rumah Lot dan (ii) dua orang yang menginap itu adalah orang baru atau asing. Bukankah tindakan memperkosa dapat digolongkan tindakan kekerasan seksual? Tentu saja hal ini dapat dengan mudah dibuktikan: apakah ada orang yang setuju diperkosa? Sejauh tindakan persetubuhan dilakukan tanpa persetujuan salah satu pihak, maka itu adalah kekerasan seksual.
Persoalan dalam argumentasi pertama Ayu persis pada premis (ii). Premis (ii) merupakan reduksi atas kisah Kejadian 18 & 19. Sekiranya konsisten membaca narasi, maka dua orang yang menginap di rumah Lot dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama, tentu saja sebagai orang asing atau baru, orang tanpa patron, orang yang lemah sehingga dapat diperlakukan secara semena-mena. Inilah sudut pandang, dalam istilah saya, warga Sodom. Ada pun sudut pandang kedua adalah dua orang yang menginap di rumah Lot itu adalah malaikat, sebagai hal yang mulia, sebagai hal yang suci—dan Ayu terang menuliskan “dua malaikat yang tampak sebagai manusia”. Inilah sudut pandang “Lot”. 

Kepada pembaca, dalam tulisannya, Ayu tidak mengulas keberadaan sudut pandang “Lot”. Demi mendapatkan penjelasan atas fenomena penggerudukan rumah Lot dan sikap Lot menawarkan dua putrinya kepada mereka, Ayu beralih pada “teks-teks lainnya yang mengisahkan praktik pemerkosaan atau pembunuhan terhadap orang yang tak punya patron.” Namun apakah alasan itu dapat dipergunakan untuk menyangkal adanya sudut pandang “Lot” atau memutuskan lebih memilih sudut pandang “warga Sodom” daripada “Lot” pada dasarnya tidak begitu terang dalam tulisan Ayu. Dengan demikian, satu pertanyaan yang penting, apakah Ayu menyadari adanya sudut pandang “Lot”—dan apa jadinya sekiranya Ayu mengulas kisah Sodom dari sudut pandang itu? Di sisi lain, kesadaran akan adanya dua sudut pandang berbeda, sudut pandang “Lot” dan sudut pandang “warga Gomora”, tentu berdampak pada pemaparan tentang mengapa memilih sudut pandang “warga Gomora” daripada “Lot” menjadi lebih terang. Tentunya, hal ini mengandaikan saya tidak keliru memahami tulisan Ayu.  

Sekiranya kita menggunakan sudut pandang “Lot” yang mengakui ada yang suci, yang mulia, maka konklusi yang dihasilkan tentu berbeda. Evidensi (i) orang-orang Sodom mau memperkosa dua orang yang menginap di rumah Lot dan (ii) dua orang yang menginap itu adalah malaikat yang tampak sebagai manusia akan menghasilkan kesimpulan (iii) kisah Sodom adalah kisah orang-orang Sodom yang mau menodai hal yang suci—entah dalam bentuk kekerasan seksual atau apa pun. Bukankah karena ada yang suci dalam diri setiap manusia, maka penghargaan terhadap manusia menjadi penting? Atau, semata-mata karena manusia, melalui proses evolusi-biologis tertentu sehingga hadir di dunia—tentunya dengan dilengkapi oleh perangkat kesadaran yang disebut rasio [meski tidak terlalu jelas apakah rasio ini adalah hasil evolusi materi atau malah hal lain di luar materi]—maka manusia mestilah dihargai? 

Argumentasi pertama Ayu merupakan jalan bagi argumentasi kedua. Di bagian kedua, Ayu mencoba menjawab pertanyaan tentang hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan. Dari argumentasi pertama, dengan sudut pandang “warga Sodom”, Ayu mendapatkan kualifikasi tanpa kekerasan merupakan variabel bagi hubungan seks yang dibenarkan Tuhan. Lalu dengan menghadirkan evidensi kisah Lot dan dua anak perempuannya, Yehuda dan Tamar, Boas dan Rut, serta Onan dan Tamar—Ayu menambahkan variabel dari hubungan seks yang benar adalah (i) demi meneruskan keturunan atau prokreasi, (ii) tidak egois. Dengan demikian, Ayu menemukan bahwa hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan adalah hubungan seks (i) demi berketurunan, (ii) tanpa kekerasan, dan (iii) egois. Konklusi ini selanjutnya menjadi dasar demi menyimpulkan: hubungan seks sejenis bukanlah hal yang dibenarkan dalam Alkitab. 

Bagi saya, ada yang menarik dari argumentasi kedua Ayu. Pencarian akan hubungan seks yang benar di hadapan Tuhan ditempatkan dalam kerangka menginferensikan status benar-tidaknya homoseksualitas. Ayu mencari jalan memutar melalui kisah Lot dan dua anaknya, Yehuda dan Tamar, Boas dan Rut, serta Onan dan Tamar—padahal, masih dalam Alkitab, kitab Imamat 18 & 20 memberikan sikap yang lugas bagi kasus homoseksualitas. Tentu Ayu punya pertimbangan sendiri tentang hal ini—dan saya pikir upaya Ayu untuk membaca hubungan seks melalui kisah-kisah tersebut juga menantang pikiran. 

Di sisi lain, sekali lagi, argumentasi kedua Ayu itu masih dalam bayang-bayang sudut pandang “warga Sodom”. Sekiranya sudut pandang “Lot” dipertimbangkan, maka hubungan seks yang dibenarkan pada dasarnya adalah yang tidak menodai kesucian, yang juga mencakup alasan prokreasi, tanpa kekerasan, dan tidak egois. Lantas, apakah orang yang menodai kesucian itu akan dihukum Tuhan, seperti yang dialami oleh Onan? Sejujurnya, saya tidak tahu; sekiranya hukuman itu ada, maka itu adalah bagian Tuhan, hak Tuhan—dalam pandangan saya, bukan manusia. 

Tesis argumentasi ketiga Ayu adalah tidak ada yang suci dalam hubungan seks. Kali ini, Ayu tidak mendasarkannya pada kisah-kisah dari Alkitab. Ayu menggunakan evidensi dari apa yang terjadi saat hubungan seks berlangsung. Karena yang terjadi dalam hubungan seks adalah “memandangi pasangan dengan bernafsu, gairah untuk menguasai atau dikuasasi, tindakan menjilat-jilat, menggigit-menghisap, meremas, mengucapkan kata-kata tak pantas”, maka hubungan seks itu tidak mengenal ada hal yang suci atau mulia. Saya cukup dapat meragukan konstruksi argumentasi ketiga ini. 

Dari sudut pandang saya, konstruksi argumentasi ketiga Ayu adalah demikian: “Karena (i) sudut pandang “warga Sodom” yang tidak mengakui adanya yang suci dan (ii) yang terjadi dalam hubungan seks adalah memandangi pasangan dengan bernafsu, gairah untuk menguasai atau dikuasasi, tindakan menjilat-jilat, menggigit-menghisap, meremas, mengucapkan kata-kata tak pantas, maka tidak ada yang mulia dalam hubungan seks.” Karena itu, pola argumentasi ketiga dari Ayu mengandung kesesatan atau bengkok (fallacy), yaitu begging the question. Dalam argumentasi ketiga, apa yang hendak dibuktikan dalam konklusi sudah terkandung dalam premis. Dalam permodelan sederhana, argumentasi Ayu dapat dituliskan dalam bentuk demikian: Karena ngebut-ngebutan penuh resiko, maka ngebut-ngebutan itu berbahaya—tentu saja, kesimpulan ngebut-ngebutan itu berbahaya sudah terkandung dalam premis ngebut-ngebutan itu penuh resiko; bagaimana mungkin hal berbahaya tak mengandung resiko? Tentunya, sekiranya tidak ada yang suci dalam hubungan seks, kita tak perlu membawa-bawa Tuhan. Dus, beranikah kita menarik implikasi radikal dari konstruksi argumentasi Ayu—sebagaimana pernyataan Ayu: “Memang butuh keberanian bagi orang beriman untuk mengakui bahwa hubungan seks yang ia lakukan bukan sesuatu yang suci-mulia”—memang dibutuhkan keberanian untuk menyatakan tidak ada yang suci di dunia, entah itu cinta atau malaikat atau Tuhan atau tulisan atau manusia. 

Beranikah? Saya pribadi, sebagaimana ternyatakan dalam tulisan ini, mengakui ada hal yang suci. Levinas melalui pemikirannya tentang yang-etis menyatakan bahwa hal yang suci itu, sejatinya, berdiam (dwelling) dalam manusia. Sebagai manusia, saya tak punya kuasa untuk menghilangkannya—dan semoga saya juga tak kuasa untuk mengabaikannya.