Agar
belajar filsafat lebih menyenangkan (bukan lebih mudah), imajinasikan saja Das Sein itu pelangi; metafisika itu adalah
awan berbentuk katedral; trus epistemologi itu seperti seekor kelinci yang
berenang di sendang; lalu etika adalah “lirikan mata mu... menarik hati...”-nya
A. Rafiq. Lalu demikianlah filsafat: saat engkau mendengar “lirikan mata mu...
menarik hati...” trus melihat seekor kelinci berenang di sendang dan di atasnya
ada awan berbentuk katedral, pelangi.
seperti alif beta dan eureka. mawar melati dan segala yang mabuk cuaca. seperti kulkas, semua indah dan selamat membahasa.
Tentang Hukuman Mati
- Kalau alasan etis hukuman mati adalah demi memberi efek jera, bukankah sesungguhnya tidak ada hubungan antara deskriptif-faktual (is) dan preskriptif-normatif (ought)?
- Kalau alasan etis hukuman mati adalah karena pelaku telah membunuh banyak orang (entah langsung atau tidak—dan hal ini tentulah fakta)—bagaimana menjamin bahwa hukuman yang diberikan kepada pelaku bukan berlatarkan dendam? Apakah etis menghukum orang karena dendam?
- Kalau alasan etis hukuman mati adalah tidak salah secara etis menghukum mati orang yang bersalah—bukankah ini mengandaikan manusia tidak-dapat-salah? Benarkah manusia tidak dapat salah? Bukankah falibilitas itu merupakan “nature” manusia?
- Maka, alasan etis menolak hukuman mati—tentunya selain argumen kesucian hidup—saya pikir: manusia adalah mahluk yang-dapat-salah dan implikasinya adalah keputusan [hukuman mati] yang dihasilkan juga dapat-salah; maka: hukuman mati itu pada dasarnya (i) secara epistemis, hukuman mati meniadakan falibilitas manusia [dengan demikian: menyatakan hukuman mati adalah manusiawi sebetulnya: reductio ad absurdum], dan (ii) secara etis: membuka kemungkinan menghukum orang yang tidak bersalah.
Antara Cedera, Teman dan Hinaan
Teman saya bertanya
(bagi saya: setiap pertanyaan pastilah rumit—entah mengapa saya menyimpulkan
demikian dan saya masih saja belum dapat menjawabnya), “Bukankah berdebat tidak
sama dengan menghina? Bukankah berpendapat tidak sama dengan menghina? Jika
menghina dianggap sama dengan berpendapat dan menghina juga dianggap sebagai salah
satu metode berdebat, bukankah ada yang tidak pantas di situ? Tentu saya sadar
bahwa hinaan tidak dapat dijadikan alasan untuk mencederai orang lain. Namun,
apakah tindakan menghina itu sendiri adalah benar secara moral?”
Hari Itu Gelap dan Manusia
Lama sudah saya
tidak berkunjung ke rumah teman saya. Tiga hari lalu, saya berkunjung—kami minum
teh, hari itu sudah malam memang. Ia berkata, “Vid, bukankah dalam diri manusia
itu terkandung pengetahuan sekaligus ketidaktahuan? Tanpa manusia, tidak ada
pengetahuan dan ketidaktahuan.” Barangkali, karena melihat alis saya yang berkerut,
ia berkata [dugaan saya dengan niat menyederhanakan apa yang disampaikannya]: “Bukankah
di dalam kegelapan, sesungguhnya engkau tidak pernah menjadi orang buta?”
Menteri Susi dan "Saya juga pernah begitu."
“Barangkali bukan karena merokok dan bertato, maka mereka tidak menyukai
dia--melainkan karena mereka memang tidak suka, maka mereka lihat
merokok dan bertato itu sebagai tanda adanya kekurangberesan.” Teman
saya omong begini demi komentari pemberitaan seputar pro-kontra Menteri
Susi—lalu menambahkan, “Saya juga pernah begitu.” Setelah mendengar
teman saya, ingat kata-kata guru saya, “Dari apa yang faktual, kita
tidak dapat menyimpulkan apa yang normatif. Kesialannya di sini: justru
karena kita selalu berjumpa dengan yang faktual, tak pernah berjumpa
yang normatif.”
Yang Gawat dan Ciyus
Teman saya (ia
orang yang sangat lucu) bilang kepada saya, "Hanya hal-hal yang gawat
sajalah yang dapat membuat Anda dapat serius." Awalnya, saya merasa
seperti mendengar sebuah lelucon [bahkan saya sempat berniat meledek dengan
istilah anak-anak muda "ciyus"; namun membatalkan niatan itu], dan
melontarkan pertanyaan yang bersifat retoris: "Namun, bukankah hal-hal
serius kadang tampak seperti lelucon?" [sambil mengingat topik politik
yang hangat: pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh DPRD akan lebih Pancasila
daripada pemilihan kepala daerah secara langsung].
Mata Rahasia
Mata Rahasia
hingga
ini mata
tak
lagi membaca
tetap
kutatap
tenaga
bahasa
alif
rahasia
di
dalam dada.
suara matahari
suara matahari
suara
senantiasa menjelma sebagai surat
wasiat
yang diperuntukkan kepada pembaca
oleh
mereka yang menulis kekuasaan
penuh
gementar dan nyaris tanpa harapan
sebab
teringat kesunyian masing-masing
sebagai
seribu tahun kesendirian
tengah
menanti di setiap cahaya
matahari.
Terpanah Bahasa
Terpanah Bahasa
ketika
gema keseharian
membalur
tubuh dan ingatan
masuklah
kepada sajak
sapanya
serupa kecipak
pada
bening telaga
ketika
gumam kesendirian
hanyutkan
tangan dan keinginan
masuklah
kepada sajak
bunyinya
serupa gelak
pada
wajah asmara
masuklah
kepada sajak
masuklah
kepada sajak
sebagai
kota tumpah pada dunia
sebagai
bunga tumbuh di atas tanah
sebagai
batu gelinding di tebing lembah,
sebagai
aku terpanah mata bahasa
Ironi dan Sejahtera
Ironi lahir dari keyakinan bahwa satu-satunya jalan menjadi sejahtera adalah mendirikan negara.
Ibu
Ibu
: Museum Penghancur Dokumen
Ibu.
Dalam
museum Malna dan Malna berjalan
menggunakan
tiga tanda baca sebagai pakaian
dari
arsip-arsip yang sudah dikubur tanpa upacara
kematian,
ketika surat kabar tiba di halaman
depan
dan halaman belakang sejarah
tiang
listrik. Dalam museum Malna dan Malna
dan
Malna berjalan menggunakan dua tiga atau
lebih
dari tiga tanda baca sebagai selembar daun
dan
potret selembar daun di atas 21.000
abad
dan kaki di hadapan topi yang terbuat dari bunga
dan
duri bahasa. Dalam museum Malna satu
atau
dua Malna berjalan menggunakan tiga dan
tanpa
tiga tanda baca sebagai matahari
dan
malam hari dari kerinduan video-
grafi
menuju menit 5 lalu kembali pada menit 0
dengan
mendung di punggung kerbau dan senja
sebelum
kopi yang tak pernah sama. Ibu.
Matahari
Matahari
kepada T. Alias Taib
ia
menulis matahari
sebagai
tubuh yang ia cuci
sebelum
ia langkahkan kaki
keluar
dari tempat mandi
ia
membaca matahari
sebagai
tubuh yang ia cuci
sebelum
ia langkahkan hati
pada
bening Kisah Suci
Republik
Republik
: Seminar Puisi di Selat Sunda
sebuah republik di
atas lantai dapur tanpa jembatan
melintasi bola
basket bersama tetesan bawang
putih di bawah
penggaris. gigi-gigi
mengeluarkan kamus
bahasa indonesia, serigala
satu dua tiga empat
lima hingga 12
bulan dalam topi
dan kacamata. di dapur
siapa-aku mengupas
kamus bahasa indonesia dan
tidak ada piano.
sebuah republik di lantai lebih
dari lantai dapur
tanpa piano dan
serigala kamus
bahasa indonesia satu dua
tiga empat lima
hingga 12 bulan tanpa jembatan
menggaris topi
siapa-aku dan kacamata bola basket. hari ini
tidak menangkap
matahari—dalam kamus bahasa
indonesia 2008 republik (dan republikan)
didahului reptilia dan diakhiri hutan
muda. sebuah
republik siapa-aku tidak
menangkap matahari melalui
kamus
bahasa indonesia
dan gigi-gigi di bawah
penggaris
mengeluarkan serigala satu dua
tiga empat lima
hingga 12 bulan tetesan bawang
putih. di atas
lantai dapur,
sebuah republik
tanpa daging. bola basket. Di sini.
Bahasa dan Yang Mustahil Terpahami
Bahasa—sekiranya
tidak membuktikan, paling tidak memperlihatkan—bahwa mustahil manusia hidup
sendiri. Bagaimana dengan Tuhan? Saya
tidak tahu apa-apa tentang Yang Abadi—kecuali sebagai hal yang mustahil
terpahami.
Metafora
“Sungguh, adalah
suatu kehebatan bila mampu menggunakan secara tepat bentuk-bentuk puitis
sebagaimana juga meramu dan menemukan kata-kata yang asing. Namun hal paling
maut sejauh ini adalah menjadi empu metafora. Itulah satu-satunya hal yang
tidak dapat dipelajari dari orang lain; dan itu jugalah tanda kejeniusan, sebab
metafora yang baik mengimplikasikan adanya kemampuan mempersepsi kesamaan dalam
ketidaksamaan secara intuitif.”
Ricoeur, Paul, The Rule of Metaphor: the creation of
meaning in language (diterjemahkan Robert Czerny, Kathleen McLaughlin, dan
John Costello, SJ), London: Routledge, 2003, p.25
Mekanisme Ilmiah Malna: Tubuh Kata Benda dan Kata Kerja
Mekanisme Ilmiah Malna: Tubuh Kata Benda dan Kata Kerja
—catatan atas pembacaan Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing dan beberapa
sajak lainnya—
: A. Malna
Dari
dunia bahasa aku meminjam tubuh sekaligus mekanisme ilmiah di dalamnya. Tidak
ada kebebasan dalam kata meminjam.
Tetapi, apakah benar aku meminjam—bukankah
lebih masuk akal bila tubuhku dipinjamkan
dunia bahasa? Mengapa dunia bahasa perlu melakukan hal itu? Apakah dunia
bahasa tidak bebas seperti tubuh aku—atau: aku dan dunia bahasa saling bertarung
merebut tubuh (entah tubuh apa dan siapa).
Dunia
bahasa dan aku atau aku dan dunia bahasa melihat tubuh itu. Di dalamnya kata
benda dan kata kerja berinteraksi menghasilkan hal-hal yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Kata benda dan kata kerja dapat menghasilkan bayi sejarah
dan leukimia—tentang kematian, kami saling berpandangan: apakah kata benda dan
kata kerja dalam tubuh-tubuh itu mampu mengenalkan mereka pada kematian?
Kami
melihat mereka atau mereka melihat kami—kami tidak bisa memastikan apakah mereka melihat kami, ya kami yang lagi
memperebutkan tubuh-tubuh mereka. Kami saling menatap dan bertanya, aku dan
dunia bahasa atau dunia bahasa dan aku. “Mengapa kita memperebutkan tubuh-tubuh
itu? Bukankah itu tubuh-tubuh yang cacat dan akan menyesatkan kita”—dunia
bahasa menambahkan, “juga menyesatkan mereka sendiri.”
Tubuh
dapat menelan daging memahat batu dan menggali tanah. Tubuh juga dapat tafakur menemukan
kata benda dan kata kerja—saat tafakur menemukan kata benda dan kata kerja tubuh
bertanya: “Apakah benar ada aku dan dunia bahasa? Bukankah aku berada di taman
terkutuk yang paling indah? Apakah aku dan dunia bahasa dapat menelan daging
memahat batu dan menggali tanah?”
Tubuh
dapat merasai panasnya matahari keringnya sungai dan sakitnya sendiri. Tubuh melahirkan
kata benda dan kata kerja yang bertanya: “Apakah aku dan dunia bahasa dapat
merasakan apa yang tubuh rasakan? Apakah mereka punya tubuh seperti Malna, tubuh yang mampu merasai panasnya
matahari, merasai keringnya sungai, merasai sakitnya sendiri?” Tubuh tidak
pernah mendengar aku dan dunia bahasa memberikan jawaban secara langsung,
secara langsung—sekiranya aku dan dunia bahasa tidak ada, buat apa tubuh kata
benda dan kata kerja bertanya: “Mereka sedang melakukan apa sekarang?”
Sejarah Yang Ini atau Yang Itu
Selalu ada sejarah
di balik suatu perayaan hari ini atau hari itu. Namun, persoalannya: jika
sejarah adalah kontinjensi, bukankah masih dimungkinkan ada cara lain dalam
membaca lahirnya peringatan hari ini atau hari itu? Lainnya: jika sejarah
adalah keniscayaan, bukankah tak ada lagi pembeda gerak-gerik kupu-kupu, pada
saat kapan gerhana terjadi, dan apa yang sebaiknya saya lakukan, yang ini atau
yang itu.
Sajak tentang Yang Tak Terelakkan
Meski ada yang tak
terelakkan, sajak seperti bunga (matahari). Ia senantiasa mencari matahari dan
tak pernah pulah ia khawatir pada entah di suatu masa dirinya akan layu. Meski
ada yang tak terelakkan, sajak seperti bunga—hidup untuk hari ini bukanlah hal
yang paling hina. Ia adalah matahari—suatu ketika, barangkali kita pernah
mengganggapnya sebagai kesialan.
Pagi dan Sudut Pandang Yang Lain
Saat paling mujarab
menulis puisi adalah pagi hari—pagi hari adalah saat kita melihat kenyataan
dengan sudut pandang yang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)