Filsafat Melihat "Lirikan Matamu..."



Agar belajar filsafat lebih menyenangkan (bukan lebih mudah), imajinasikan saja Das Sein itu pelangi; metafisika itu adalah awan berbentuk katedral; trus epistemologi itu seperti seekor kelinci yang berenang di sendang; lalu etika adalah “lirikan mata mu... menarik hati...”-nya A. Rafiq. Lalu demikianlah filsafat: saat engkau mendengar “lirikan mata mu... menarik hati...” trus melihat seekor kelinci berenang di sendang dan di atasnya ada awan berbentuk katedral, pelangi.

Tentang Hukuman Mati


  1. Kalau alasan etis hukuman mati adalah demi memberi efek jera, bukankah sesungguhnya tidak ada hubungan antara deskriptif-faktual (is) dan preskriptif-normatif (ought)? 
  2. Kalau alasan etis hukuman mati adalah karena pelaku telah membunuh banyak orang (entah langsung atau tidak—dan hal ini tentulah fakta)—bagaimana menjamin bahwa hukuman yang diberikan kepada pelaku bukan berlatarkan dendam? Apakah etis menghukum orang karena dendam? 
  3. Kalau alasan etis hukuman mati adalah tidak salah secara etis menghukum mati orang yang bersalah—bukankah ini mengandaikan manusia tidak-dapat-salah? Benarkah manusia tidak dapat salah? Bukankah falibilitas itu merupakan “nature” manusia?
  4. Maka, alasan etis menolak hukuman mati—tentunya selain argumen kesucian hidup—saya pikir: manusia adalah mahluk yang-dapat-salah dan implikasinya adalah keputusan [hukuman mati] yang dihasilkan juga dapat-salah; maka: hukuman mati itu pada dasarnya (i) secara epistemis, hukuman mati meniadakan falibilitas manusia [dengan demikian: menyatakan hukuman mati adalah manusiawi sebetulnya: reductio ad absurdum], dan (ii) secara etis: membuka kemungkinan menghukum orang yang tidak bersalah.   

Antara Cedera, Teman dan Hinaan



Teman saya bertanya (bagi saya: setiap pertanyaan pastilah rumit—entah mengapa saya menyimpulkan demikian dan saya masih saja belum dapat menjawabnya), “Bukankah berdebat tidak sama dengan menghina? Bukankah berpendapat tidak sama dengan menghina? Jika menghina dianggap sama dengan berpendapat dan menghina juga dianggap sebagai salah satu metode berdebat, bukankah ada yang tidak pantas di situ? Tentu saya sadar bahwa hinaan tidak dapat dijadikan alasan untuk mencederai orang lain. Namun, apakah tindakan menghina itu sendiri adalah benar secara moral?”

Hari Itu Gelap dan Manusia



Lama sudah saya tidak berkunjung ke rumah teman saya. Tiga hari lalu, saya berkunjung—kami minum teh, hari itu sudah malam memang. Ia berkata, “Vid, bukankah dalam diri manusia itu terkandung pengetahuan sekaligus ketidaktahuan? Tanpa manusia, tidak ada pengetahuan dan ketidaktahuan.” Barangkali, karena melihat alis saya yang berkerut, ia berkata [dugaan saya dengan niat menyederhanakan apa yang disampaikannya]: “Bukankah di dalam kegelapan, sesungguhnya engkau tidak pernah menjadi orang buta?”

Menteri Susi dan "Saya juga pernah begitu."

“Barangkali bukan karena merokok dan bertato, maka mereka tidak menyukai dia--melainkan karena mereka memang tidak suka, maka mereka lihat merokok dan bertato itu sebagai tanda adanya kekurangberesan.” Teman saya omong begini demi komentari pemberitaan seputar pro-kontra Menteri Susi—lalu menambahkan, “Saya juga pernah begitu.” Setelah mendengar teman saya, ingat kata-kata guru saya, “Dari apa yang faktual, kita tidak dapat menyimpulkan apa yang normatif. Kesialannya di sini: justru karena kita selalu berjumpa dengan yang faktual, tak pernah berjumpa yang normatif.”

Yang Gawat dan Ciyus



Teman saya (ia orang yang sangat lucu) bilang kepada saya, "Hanya hal-hal yang gawat sajalah yang dapat membuat Anda dapat serius." Awalnya, saya merasa seperti mendengar sebuah lelucon [bahkan saya sempat berniat meledek dengan istilah anak-anak muda "ciyus"; namun membatalkan niatan itu], dan melontarkan pertanyaan yang bersifat retoris: "Namun, bukankah hal-hal serius kadang tampak seperti lelucon?" [sambil mengingat topik politik yang hangat: pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh DPRD akan lebih Pancasila daripada pemilihan kepala daerah secara langsung].

Mata Rahasia



Mata Rahasia


hingga ini mata
tak lagi membaca
tetap kutatap
tenaga bahasa
alif rahasia
di dalam dada.

suara matahari



suara matahari



suara senantiasa menjelma sebagai surat
wasiat yang diperuntukkan kepada pembaca
oleh mereka yang menulis kekuasaan
penuh gementar dan nyaris tanpa harapan
sebab teringat kesunyian masing-masing
sebagai seribu tahun kesendirian
tengah menanti            di setiap cahaya matahari.

Terpanah Bahasa



Terpanah Bahasa


ketika gema keseharian
membalur tubuh dan ingatan
masuklah kepada sajak
sapanya serupa kecipak
pada bening telaga

ketika gumam kesendirian
hanyutkan tangan dan keinginan
masuklah kepada sajak
bunyinya serupa gelak
pada wajah asmara

masuklah kepada sajak
masuklah kepada sajak
sebagai kota tumpah pada dunia
sebagai bunga tumbuh di atas tanah
sebagai batu gelinding di tebing lembah,

sebagai aku terpanah mata bahasa

Ironi dan Sejahtera



Ironi lahir dari keyakinan bahwa satu-satunya jalan menjadi sejahtera adalah mendirikan negara.  

Ibu



Ibu
: Museum Penghancur Dokumen



Ibu.

Dalam museum Malna dan Malna berjalan
menggunakan tiga tanda baca sebagai pakaian
dari arsip-arsip yang sudah dikubur tanpa upacara
kematian, ketika surat kabar tiba di halaman
depan dan halaman belakang sejarah
tiang listrik. Dalam museum Malna dan Malna
dan Malna berjalan menggunakan dua tiga atau
lebih dari tiga tanda baca sebagai selembar daun
dan potret selembar daun di atas 21.000
abad dan kaki di hadapan topi yang terbuat dari bunga
dan duri bahasa. Dalam museum Malna satu
atau dua Malna berjalan menggunakan tiga dan
tanpa tiga tanda baca sebagai matahari
dan malam hari dari kerinduan video-
grafi menuju menit 5 lalu kembali pada menit 0
dengan mendung di punggung kerbau dan senja
sebelum kopi yang tak pernah sama. Ibu.


Matahari

Matahari
kepada T. Alias Taib



ia menulis matahari
sebagai tubuh yang ia cuci
sebelum ia langkahkan kaki
keluar dari tempat mandi

ia membaca matahari
sebagai tubuh yang ia cuci
sebelum ia langkahkan hati
pada bening Kisah Suci


seken

memilih presiden seperti memilih barang seken, demikian kata teman saya

Republik



Republik
: Seminar Puisi di Selat Sunda

sebuah republik di atas lantai dapur tanpa jembatan
melintasi bola basket bersama tetesan bawang
putih di bawah penggaris. gigi-gigi
mengeluarkan kamus bahasa indonesia, serigala
satu dua tiga empat lima hingga 12
bulan dalam topi dan kacamata. di dapur
siapa-aku mengupas kamus bahasa indonesia dan
tidak ada piano. sebuah republik di lantai lebih
dari lantai dapur tanpa piano dan
serigala kamus bahasa indonesia satu dua
tiga empat lima hingga 12 bulan tanpa jembatan
menggaris topi siapa-aku dan kacamata bola basket. hari ini
tidak menangkap matahari—dalam kamus bahasa
indonesia 2008 republik (dan republikan)
didahului reptilia dan diakhiri hutan
muda. sebuah republik siapa-aku tidak
menangkap matahari melalui kamus
bahasa indonesia dan gigi-gigi di bawah
penggaris mengeluarkan serigala satu dua
tiga empat lima hingga 12 bulan tetesan bawang
putih. di atas lantai dapur,

sebuah republik tanpa daging. bola basket. Di sini.

Bahasa dan Yang Mustahil Terpahami



Bahasa—sekiranya tidak membuktikan, paling tidak memperlihatkan—bahwa mustahil manusia hidup sendiri. Bagaimana dengan Tuhan? Saya tidak tahu apa-apa tentang Yang Abadi—kecuali sebagai hal yang mustahil terpahami.

Metafora



“Sungguh, adalah suatu kehebatan bila mampu menggunakan secara tepat bentuk-bentuk puitis sebagaimana juga meramu dan menemukan kata-kata yang asing. Namun hal paling maut sejauh ini adalah menjadi empu metafora. Itulah satu-satunya hal yang tidak dapat dipelajari dari orang lain; dan itu jugalah tanda kejeniusan, sebab metafora yang baik mengimplikasikan adanya kemampuan mempersepsi kesamaan dalam ketidaksamaan secara intuitif.”  

Ricoeur, Paul, The Rule of Metaphor: the creation of meaning in language (diterjemahkan Robert Czerny, Kathleen McLaughlin, dan John Costello, SJ), London: Routledge, 2003, p.25

Mekanisme Ilmiah Malna: Tubuh Kata Benda dan Kata Kerja



Mekanisme Ilmiah Malna: Tubuh Kata Benda dan Kata Kerja
—catatan atas pembacaan Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing dan beberapa sajak lainnya—
: A. Malna



Dari dunia bahasa aku meminjam tubuh sekaligus mekanisme ilmiah di dalamnya. Tidak ada kebebasan dalam kata meminjam. Tetapi, apakah benar aku meminjam—bukankah lebih masuk akal bila tubuhku dipinjamkan dunia bahasa? Mengapa dunia bahasa perlu melakukan hal itu? Apakah dunia bahasa tidak bebas seperti tubuh aku—atau: aku dan dunia bahasa saling bertarung merebut tubuh (entah tubuh apa dan siapa).

Dunia bahasa dan aku atau aku dan dunia bahasa melihat tubuh itu. Di dalamnya kata benda dan kata kerja berinteraksi menghasilkan hal-hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kata benda dan kata kerja dapat menghasilkan bayi sejarah dan leukimia—tentang kematian, kami saling berpandangan: apakah kata benda dan kata kerja dalam tubuh-tubuh itu mampu mengenalkan mereka pada kematian?
Kami melihat mereka atau mereka melihat kami—kami tidak bisa memastikan apakah mereka melihat kami, ya kami yang lagi memperebutkan tubuh-tubuh mereka. Kami saling menatap dan bertanya, aku dan dunia bahasa atau dunia bahasa dan aku. “Mengapa kita memperebutkan tubuh-tubuh itu? Bukankah itu tubuh-tubuh yang cacat dan akan menyesatkan kita”—dunia bahasa menambahkan, “juga menyesatkan mereka sendiri.”

Tubuh dapat menelan daging memahat batu dan menggali tanah. Tubuh juga dapat tafakur menemukan kata benda dan kata kerja—saat tafakur menemukan kata benda dan kata kerja tubuh bertanya: “Apakah benar ada aku dan dunia bahasa? Bukankah aku berada di taman terkutuk yang paling indah? Apakah aku dan dunia bahasa dapat menelan daging memahat batu dan menggali tanah?”
Tubuh dapat merasai panasnya matahari keringnya sungai dan sakitnya sendiri. Tubuh melahirkan kata benda dan kata kerja yang bertanya: “Apakah aku dan dunia bahasa dapat merasakan apa yang tubuh rasakan? Apakah mereka punya tubuh seperti Malna, tubuh yang mampu merasai panasnya matahari, merasai keringnya sungai, merasai sakitnya sendiri?” Tubuh tidak pernah mendengar aku dan dunia bahasa memberikan jawaban secara langsung, secara langsung—sekiranya aku dan dunia bahasa tidak ada, buat apa tubuh kata benda dan kata kerja bertanya: “Mereka sedang melakukan apa sekarang?”

Sejarah Yang Ini atau Yang Itu



Selalu ada sejarah di balik suatu perayaan hari ini atau hari itu. Namun, persoalannya: jika sejarah adalah kontinjensi, bukankah masih dimungkinkan ada cara lain dalam membaca lahirnya peringatan hari ini atau hari itu? Lainnya: jika sejarah adalah keniscayaan, bukankah tak ada lagi pembeda gerak-gerik kupu-kupu, pada saat kapan gerhana terjadi, dan apa yang sebaiknya saya lakukan, yang ini atau yang itu.

Sajak tentang Yang Tak Terelakkan



Meski ada yang tak terelakkan, sajak seperti bunga (matahari). Ia senantiasa mencari matahari dan tak pernah pulah ia khawatir pada entah di suatu masa dirinya akan layu. Meski ada yang tak terelakkan, sajak seperti bunga—hidup untuk hari ini bukanlah hal yang paling hina. Ia adalah matahari—suatu ketika, barangkali kita pernah mengganggapnya sebagai kesialan.

Pagi dan Sudut Pandang Yang Lain


Saat paling mujarab menulis puisi adalah pagi hari—pagi hari adalah saat kita melihat kenyataan dengan sudut pandang yang lain.